Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 136 Perusahaan Manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia.Sampel yang digunakan adalah sebanyak 70 Perusahaan Manufaktur. Pengambilan sampel ini didapatkan sebagai berikut:
Tabel 1 Pengambilan Sampel
Perusahaan yang menjadi populasi 136 Perusahaan
Perusahaan yang baru melakukan IPO antara tahun 2011, 2012 atau 2013
Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan keuangan lengkap
(18 Perusahaan) (6 Perusahaan)
Perusahaan yang mengalami kerugian (42 Perusahaan)
Perusahaan yang menjadi sampel 70 Perusahaan
Sumber: Data Sekunder Diolah, 2015.
Dari 70 perusahaan manufaktur yang diambil sebagai sampel kemudian masing-masing perusahaan diteliti sebanyak 3 tahun. Maka jumlah sampelnya akan dikalian dengan jumlah tahun penelitian (70 x 3) sehingga hasilnya akan terdapat 210 sampel.
Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif dalam penelitian yang mencakup nilai minimum, maksimum, dan rata-rata disajikan pada tabel dibawah ini:
Tabel 2 Statistik Deskriptif
Minimal Maksimal Rata-Rata
Perataan Laba -9,78 8,24 0,75
Jumlah Dewan Komisaris Independen 1 7 3,01
Jumlah Komite Audit 2 5 2,71
Kepemilikan Asing 0 0,93 0,34
Kepemilikan Manajerial 0 0,32 0,03
Kepemilikan Institusional 0 0,90 0,02
Sumber: Data Sekunder Diolah, 2015.
Berdasarkan tabel 2 terlihat bahwa angka perataan laba minimal yakni sebesar -9,78 dimana nilai ini berarti koefisien variasi selisih laba bersih lebih kecil jika dibandingkan dengan koefisien variasi selisih penjualan bersih, nilai ini terdapat pada PT Indorama Synthetics Tbk.Angka maksimal perataan laba yang menunjukkan sebesar 8,24 mengartikan bahwa setiap kenaikan penjualan sebesar 1 satuan maka akan juga memicu naiknya laba sebesar 8,24 satuan, angka perataan laba ini terdapat pada PT Merck Tbk.Rata-rata perataan laba menunjukkan angka 0,75 yang berarti bahwa setiap kenaikan penjualan sebesar 1 satuan juga membuat laba naik sebesar 0,75 satuan. Jumlah dewan komisaris independen minimal yang dimiliki oleh perusahaan manufaktur adalah sebanyak 1 orang, dimana jumlah minimal ini dimiliki oleh PT Tempo Scan Pacific Tbk.
Jumlah dewan komisaris independen maksimal yang dimiliki adalah 7 orang, yang dimiliki oleh PT Astra International Tbk. Untuk jumlah komite audit maksimal dimiliki oleh PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk yakni sebanyak 5 orang dan terdapat perusahaan manufaktur yang hanya memiliki komite audit minimal sebesar 2 orang yakni pada PT Asiaplast Industries Tbk. Menurut pedoman Good Corporate Governance, jumlah dewan komisaris independen dan jumlah komite
berlaku. Jumlah dewan komisaris independen dan jumlah komite audit minimal yang harus dimiliki oleh perusahaan yakni sebanyak 3 orang.Berdasarkan hasil diatas didapatkan bahwa masih terdapat perusahaan yang belum memenuhi aturan jumlah dewan komisaris independen dan jumlah komite audit minimal yang harus dimiliki oleh perusahaan.
Kepemilikan asing maksimal yang dimiliki adalah sebanyak 93%, dimana kepemilikan ini dimiliki oleh PT Darya-Varia Laboratoria Tbk dan jumlah minimalnya sebesar 0% dimiliki oleh PT Berlina Tbk. Sedangkan rata-rata kepemilikan asing yang sebesar 34%, dimiliki oleh PT Kabelindo Murni Tbk.
Terdapat pula perusahaan manufaktur yang tidak memiliki kepemilikan manajerial seperti pada PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk, namun terdapat pula perusahaan manufaktur yang memiliki 32% kepemilikan seperti terdapat pada PT Lionmesh Prima Tbk. Untuk rata-rata kepemilikan manajerial dalam perusahaan manufaktur yakni sebesar 3%, dimana jumlah kepemilikan ini dimiliki oleh PT Siantar Top Tbk. Kepemilikan institusional minimal adalah sebesar 0%
yang salah satunya dimiliki oleh PT Sepatu Bata Tbk dan jumlah maksimal sebesar 90% dimiliki oleh PT Kimia Farma Tbk, serta rata-rata untuk kepemilikan institusional sebesar 2%. Sedangkan kualitas auditor diukur berdasarkan KAPnya, apakah merupakan KAP Big Four atau KAP NonBig Four.Sebanyak 51,43% atau 108 sampel yang menggunakan KAP Big Four dan sebanyak 102 sampel yang menggunakan KAP Non Big Four.
Uji Crosstab
Uji crosstab merupakan pengujian yang dilakukan untuk melihat seberapa besar hubungan antar kelompok data. Berikut merupakan hasil uji crosstab:
Tabel 3Pengujian Crosstab
Variabel Contingency Coefficient Jumlah Dewan Komisaris Independen 0.691
Jumlah Komite Audit 0.688
Berdasarkan hasil pengujian crosstab diatas maka didapatkan hasil bahwa seluruh variabel dalam penelitian ini yakni jumlah dewan komisaris independen, jumlah komite audit, kualitas auditor, kepemilikan asing, kepemilikan manajerial, dan kepemilikan institusional hubungannya cukup kuat untuk saling terkait dengan indeks eckel. Nilai ini berada pada interval antara 0,5 hingga kurang dari 0,8 yang menandakan bahwa hubungannya cukup erat atau cenderung erat.
Dimana nilai yang terbesar adalah 1 yang menandakan hubungannya sangat erat.
Uji Normalitas
Pengujian normalitas dilakukan terhadap data sampel.Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan Kormogorof-Smirnov.Berdasarkan hasil pengujian, data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data yang tidak berdistribusi normal. Hal ini terlihat dari nilai signifikansi Indeks Eckel, jumlah dewan komisaris independen, jumlah komite audit, kepemilikan asing, kepemilikan manajerial, dan kepemilikan institusional yang sebesar 0.000, dimana nilai ini lebih kecil daripada alpha sebesar 0.05. Sehingga untuk pengujian hipotesisnya akan menggunakan pengujian Mann Whitney U.
Pengujian Hipotesis
Hasil pengujian hipotesis dan rata-rata perataan laba berdasarkan tinggi rendahnya jumlah dewan komisaris independen, jumlah komite audit, kualitas auditor dan struktur kepemilikan disajikan dalam tabel 3 dan 4 dibawah ini:
Tabel 4 Hasil Pengujian Penelitian Variabel Asymp. Sig. (2-tailed)
(Mann-Whitney U Test) Kesimpulan Jumlah Dewan Komisaris Independen 0.111 H1 Ditolak
Jumlah Komite Audit 0.392 H2 Ditolak
Kualitas Auditor 0.479 H3 Ditolak
Kepemilikan Asing 0.568 H4 Ditolak
Kepemilikan Manajerial 0.337 H5 Ditolak
Kepemilikan Institusional 0.009 H6 Diterima
Sumber: Data Sekunder Diolah, 2015.
Tabel 5 Rata-rata Perataan Laba Berdasarkan Tinggi Rendahnya Jumlah Dewan Komisaris Independen, Jumlah Komite Audit, Kualitas
Auditor dan Struktur Kepemilikan
Variabel
Rata-Rata Perataan Laba
Jumlah Dewan Komisaris Independen Tinggi 0.76 116 Perusahaan Rendah 0.74 94 Perusahaan
Jumlah Komite Audit Tinggi 0.74 182 Perusahaan
Rendah 0.86 28 Perusahaan
Kualitas Auditor Big Four 0.73 108 Perusahaan
Non Big Four 0.78 102 Perusahaan
Kepemilikan Asing Tinggi 0.80 107 Perusahaan
Rendah 0.70 103 Perusahaan Kepemilikan Manajerial Tinggi 0.73 37 Perusahaan Rendah 0.76 173 Perusahaan Kepemilikan Institusional Tinggi 2.16 18 Perusahaan Rendah 0.62 192 Perusahaan
Sumber: Data Sekunder Diolah, 2015.
Pembahasan
Perbedaan Perataan Laba Berdasarkan Jumlah Dewan Komisaris Independen
Berdasarkan tabel 4, signifikansi jumlah dewan komisaris independen menunjukkan angka 0.111, dimana nilai ini lebih besar jika dibandingkan dengan alpha yang sebesar 0.05.Sehingga H1 ditolak dan dapat disimpulkan bahwa perataan laba pada perusahaan dengan jumlah dewan komisaris independen yang tinggi tidak lebih kecil dibandingkan perataan laba pada perusahaan dengan jumlah dewan komisaris independen yang rendah.
Pada tabel 5 menunjukkan jumlah rata-rata perataan laba untuk jumlah dewan komisaris independen yang tinggi yakni sebesar 0,76 dan rata-rata perataan laba untuk jumlah dewan komisaris yang rendah adalah sebesar 0,74.Meskipun terdapat selisih sebesar 0,02 namun nilai ini kurang signifikan sehingga perusahaan dengan jumlah dewan komisaris yang tinggi dan yang rendah kemungkinan akan tetap melakukan tindakan perataan laba.Perataan laba yang terjadi dapat diakibatkan karena masih ada perusahaan yang tidak memenuhi aturan dari Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance yang mengharuskan minimal jumlah dewan komisaris independen adalah sebanyak 3
orang.Hal tersebut dapat terlihat dari jumlah minimal dewan komisaris independen yang dimiliki oleh perusahaan hanya sebanyak 1 orang.Sehingga hal ini dapat membuat pengawasan yang dilakukan terhadap tindakan manajemen serta laporan keuangan menjadi tidak ketat, dan membuat tindakan perataan laba terjadi pada perusahaan. Hal lain yang dapat memunculkan tindakan perataan laba adalah karena dewan komisaris independen tersebut tidak kompeten dalam menjalankan tugasnya, seperti tidak mengetahui dengan pasti kegiatan bisnis yang dijalankan oleh perusahaan maupun mereka tidak memiliki dasar pengetahuan mengenai bisnis.Hal ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh putri (2012) bahwa jumlah dewan komisaris yang tinggi bahkan rendah tetap akan membuat manajemen melakukan tindakan perataan laba karena keadaan monitoring yang lemah dari dewan komisaris independen yang memungkinkan manajemen melakukan tindakan tersebut.
Sebagai contoh pada PT Astra Otoparts Tbk memiliki jumlah dewan komisaris independen yang tinggi yakni 6 orang, memiliki angka perataan laba sebesar -1,70.Sedangkan pada PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk memiliki jumlah dewan komisaris independen yang rendah yakni 2 orang, memiliki angka perataan laba yang tidak jauh berbeda yakni -1,75.
Perbedaan Perataan Laba Berdasarkan Jumlah Komite Audit
Berdasarkan tabel 4 nilai signifikansi sebesar 0,392 lebih besar dibandingkan dengan alpha 0,05, yang berarti H2 ditolak atauperataan laba pada perusahaan dengan jumlah komite audit yang tinggi tidak lebih kecil dibandingkan perataan laba pada perusahaan dengan jumlah komite audit yang rendah.
Hasil ini juga dapat dibuktikan dari nilai rata-rata perataan laba untuk jumlah komite audit yang tinggi yaitu sebesar 0,74 dan untuk jumlah komite audit yang rendah yakni sebesar 0,86.Meskipun terdapat selisih 0,12 namun tidak signifikan dan tidak dapat membuktikan jika perataan laba pada perusahaan dengan jumlah komite audit yang tinggi lebih kecil dibandingkan perusahaan dengan jumlah komite audit yang rendah.Sama halnya dengan jumlah dewan komisaris independen, pada jumlah komite audit juga masih terdapat perusahaan
Governanceyang mensyaratkan minimal komite audit adalah sebanyak 3 orang.Hal ini memicu terjadinya tindakan perataan laba yang dilakukan oleh manajemen karena kurang ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh komite audit. Tanggung jawab komite audit untuk mengawasi laporan keuangan, mengawasi audit eksternal, dan mengamati sistem pengendalian internal yang tidak efektif ini membuat manajemen bebas untuk memberikan informasi mengenai laba yang bukan sebenarnya atau asimetri informasi yang menyebabkan terjadinya tindakan perataan laba (Aji, 2012).Penolakan hipotesis ini dimungkinkan juga karena jumlah perusahaan yang dibedakan berdaasarkan kategori tinggi rendah selisihnya terpaut jauh, sehingga memungkinkan mempengaruhi hasil penelitian ini.Hasil ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Guna dan Herawaty (2010) yang mengatakan bahwa tindakan perataan laba dapat terjadi pada perusahaan yang memiliki jumlah komite audit yang banyak dan dapat terjadi pula pada perusahaan yang memiliki jumlah komite audit sedikit.
Contohnya terlihat pada PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk memiliki jumlah komite audit yang tinggi yakni sebesar 4 orang, memiliki angka perataan laba sebesar 0,28. Sedangkan pada PT Unggul Indah Cahaya Tbk yang memiliki 2 orang komite audit atau masuk dalam kategori rendah, memiliki angka perataan laba yang tidak jauh berbeda dengan jumlah komite audit yang tinggi yakni sebesar 0,29.
Perbedaan Perataan Laba Berdasarkan Kualitas Auditor
Tabel 4 menyatakan bahwa nilai Asymp Sig dari penelitian sebesar 0,479 lebih besar jika dibandingkan dengan alpha 0,05 sehingga hal ini mengartikan bahwa H3 ditolak atauperataan laba pada perusahaan yang menggunakan KAP Big Four tidak lebih kecil dibandingkan perataan laba pada perusahaan yang menggunakan KAP Non Big Four.
Hal ini juga dapat dibuktikan dengan angka rata-rata perataan laba pada perusahaan yang menggunakan KAP Big Four yakni sebesar 0,73.Sedangkan untuk angka rata-rata perataan laba perusahaan yang menggunakan KAP Non Big Four adalah sebesar 0,78.Meskipun terdapat selisih namun nilainya tidak
Four tidak lebih kecil dibandingkan dengan KAP Non Big Four.Hal ini dikarenakan tugas auditor bukanlah untuk mendeteksi tindakan perataan laba tetapi untuk mengevaluasi kewajaran dari laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen, sehingga meskipun auditornya berasal dari KAP Big Four dengan sumber daya yang kompeten dan memiliki pengalaman yang banyak ataupun berasal dari KAP Non Big Four tindakan perataan laba tetap akan dilakukan oleh pihak manajemen. Hasil ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Rohaeni dan Aryati (2012) yang menyatakan bahwa kualitas auditor tidak mengurangi tindakan perataan laba yang dilakukan oleh manajemen, karena laporan keuangan perusahaan yang melakukan perataan laba juga akan terlihat wajar sehingga auditor tidak dapat mendeteksi keberadaan perataan laba.
Bukti lain ditunjukkan pada PT Trias Sentosa Tbk yang menggunakan KAP Big Four, memiliki angka perataan laba sebesar -9,42. Sedangkan pada PT Budi Acid Jaya Tbk yang menggunakan KAP Non Big Four, memiliki angka perataan laba sebesar -9,41 dimana angka ini hampir sama dengan angka perataan laba milik PT Kimia Farma Tbk.
Perbedaan Perataan Laba Berdasarkan Kepemilikan Asing
Berdasarkan tabel 4, membuktikan bahwa H4 ditolak atau dengan kata lain perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan asing yang tinggi tidak lebih kecil dibandingkan perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan asing yang rendah. Hasil ini dapat dilihat berdasarkan nilai signifikansi sebesar 0,568 yang lebih besar jika dibandingkan dengan alpha 0,05.
Dalam tabel 5 juga didapatkan hasil bahwa rata-rata perataan laba antara perusahaan dengan kepemilikan asing yang tinggi dan rendah memiliki nilai yang tidak jauh berbeda yakni 0,80 untuk kepemilikan asing yang tinggi dan 0,70 untuk kepemilikan asing yang rendah.Angka ini menunjukkan selisih yang tidak signifikan sehingga terbukti meskipun perusahaan memiliki kepemilikan asing yang tinggi maupun rendah, tindakan perataan laba tetap akan terjadi.Hal ini dimungkinkan karena sedikitnya jumlah kepemilikan saham yang rata-rata dimiliki oleh pihak asing, sehingga membuat para investor asing ini cenderung kurang ketat dalam memonitor tindakan yang dilakukan oleh manajemen dan
menyebabkan kurang ketatnya monitoring yang dilakukan oleh pihak asing adalah karena investor asing hanya mementingkan keuntungan yang didapatkannya tanpa mencari tahu kebenaran informasi mengenai laba yang dilaporkan oleh manajemen. Hasil ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Verawati (2012) bahwa kepemilikan asing yang dimiliki dalam perusahaan tidak dapat dijadikan patokan suatu perusahaan tidak melakukan perataan laba.
Sebagai bukti PT Gajah Tunggal Tbk memiliki kepemilikan asing yang tergolong tinggi yakni 59,70%, memiliki angka perataan laba sebesar -9,53.
Sedangkan PT Multistrada Arah Sarana Tbk yang memiliki kepemilikan asing sebesar 31% dan tergolong kategori rendah, memiliki angka perataan laba sebesar -9,55.
Perbedaan Perataan Laba Berdasarkan Kepemilikan Manajerial
Tabel 4 menyatakan bahwa H5 ditolak atau dengan kata lain perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan manajerial yang tinggi tidak lebih kecil dibandingkan perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan manajerial yang rendah. Ini dapat terlihat berdasarkan nilai Asymp Sig sebesar 0,337 yang lebih besar dibandingkan dengan alpha 0,05.
Untuk rata-rata perataan laba perusahaan dengan kepemilikan manajerial yang tinggi yakni sebesar 0,73 dan untuk rata-rata perataan laba perusahaan dengan kepemilikan manajerial yang rendah yaitu sebesar 0,76. Selisih ini tidak menunjukkan nilai yang signifikan sehingga meskipun perusahaan memiliki kepemilikan manajerial yang tinggi maupun rendah tetapi perataan laba tetap akan terjadi di perusahaan. Hal ini dimungkinkan karena dengan kepemilikan yang dimiliki oleh manajer, maka manajer tentu akan memiliki keinginan untuk mendapat keuntungan yang lebih besar atas saham yang dimilikinya sehingga salah satu cara yang ditempuh manajer adalah dengan melakukan perataan laba.
Selain itu dengan kepemilikan manajerial yang dimiliki tentu manajer juga akanaktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan (Aji, 2012). Hasil ini juga mengindikasikan bahwa meskipun manajer memiliki kepemilikan yang tinggi maupun rendah dalam perusahaan namun masalah agensi akan tetap terjadi karena tujuan manajer adalah ingin meningkatkan keuntungan pribadinya
2011).Tidak terdapatnya perbedaan ini juga dimungkinkan karena rata-rata kepemilikan manajerial yang dimiliki oleh perusahaan jumlahnya kecil yakni sebesar 3%, sehingga hal ini belum cukup untuk membuat manajer memiliki tujuan yang selaras dengan pemilik. Hal lain yang dapat mempengaruhi hasil penelitian ini adalah karena jumlah perusahaan yang dibedakan ini selisihnya cukup jauh, sehingga mempengaruhi hasil penelitian ini. Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Guna dan Herawaty (2010).
Bukti lainnya yakni pada PT Betonjaya Manunggal Tbk yang memiliki kepemilikan manajerial yang tinggi yakni 9,58%, memiliki angka perataan laba sebesar -0,14.Sedangkan PT Alumindo Light Metal Industry Tbk yang memiliki kepemilikan manajerial yang rendah yakni 1,6%, memiliki angka perataan laba yang tidak jauh berbeda yakni sebesar -0,16.
Perbedaan Perataan Laba Berdasarkan Kepemilikan Institusional
Berdasarkan tabel 4, nilai signifikansi dari penelitian ini lebih kecil dibandingkan dengan alpha 0,05 sehingga H6 diterima. Atau dengan kata lain perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan institusional yang tinggi lebih kecil dibandingkan perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan institusional yang rendah.
Berdasarkan rata-rata perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan institusional yang tinggi menunjukkan angka 2,16 dan yang rendah menunjukkan angka 0,62 dimana kedua nilai ini menunjukkan selisih atau perbedaan yang signifikan. Sehingga terbukti jika perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan institusional yang tinggi lebih kecil dibandingkan pada perusahaan dengan kepemilikan institusional yang rendah.Hal ini mengindikasikan bahwa investor institusional yang memiliki saham tinggi cenderung lebih aktif memberikan tekanan pada manajemen karena mereka tidak ingin dirugikan atas investasi yang mereka lakukan.Kepemilikian institusional yang tinggi juga menjadikan investor institusional ingin mendapatkan deviden yang tinggi dari laba yang didapatkan oleh perusahaan, sehingga mereka cenderung lebih teliti dalam melihat informasi laba yang dilaporkan manajemen.Ketelitian dan monitoring ketat dari investor institusional ini menyebabkan manajemen
terbukti melakukan perataan laba maka investor institusional tentunya akanmenjual saham yang mereka miliki.Hasil ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Iqbal dan Fachriyah (2007), serta Suryani (2010) menyatakan kepemilikan institusional yang tinggi berpengaruh terhadap perataan laba.
Bukti lain ditunjukan PT Kimia Farma Tbk yang memiliki kepemilikan institusional tinggi yakni sebesar 90%, memiliki angka perataan laba sebesar 1,23.Sedangkan PT Indal Aluminium Industry Tbk yang tidak memiliki kepemilikan institusional atau digolongkan dalam kategori rendah, memiliki angka perataan laba lebih rendah yakni sebesar -6,66.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan Mann-Whitney U Test seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penelitian ini menunjukkan beberapa hal diantaranya:
1) Perataan laba pada perusahaan dengan jumlah dewan komisaris independen yang tinggi tidak lebih kecil dibandingkan perataan laba pada perusahaan dengan jumlah dewan komisaris independen yang rendah. Hal ini dimungkinkan karena masih terdapat perusahaan yang tidak memenuhi aturan jumlah dewan komisaris independen dariGood Corporate Governance, sehingga membuat pengawasan yang dilakukan menjadi tidak ketat. Hal ini sependapat dengan penelitian putri (2012).
2) Perataan laba pada perusahaan dengan jumlah komite audit yang tinggi tidak lebih kecil dibandingkan perataan laba pada perusahaan dengan jumlah komite audit yang rendah. Hal ini juga dimungkinkan karena masih terdapat perusahaan yang belum memenuhi aturan dari Good Corporate Governance sehingga memicu terjadinya tindakan perataan laba karena kurang ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh komite audit. Hasil ini sependapat dengan penelitian Guna dan Herawaty (2010).
3) Perataan laba pada perusahaan yang menggunakan KAP Big Four tidak lebih kecil dibandingkan perataan laba pada perusahaan yang menggunakan KAP Non Big Four. Hal ini dikarenakan tugas auditor bukan untuk mendeteksi perataan laba, sehingga penggunaan KAP Big
Four dan Non Big Four tetap akan membuat perataan laba terjadi. Hasil ini sependapat dengan penelitian Rohaeni dan Aryati (2012).
4) Perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan asing yang tinggi tidak lebih kecil dibandingkan perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan asing yang rendah. Hal ini dimungkinkan karena sedikitnya jumlah kepemilikan saham yang rata-rata dimiliki oleh pihak asing, sehingga membuat para investor asing cenderung kurang ketat dalam memonitor tindakan yang dilakukan oleh manajemen. Hasil ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Verawati (2012).
5) Perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan manajerial yang tinggi tidak lebih kecil dibandingkan perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan manajerial yang rendah. Hal ini dimungkinkan karena dengan kepemilikan yang dimiliki oleh manajer, maka manajer memiliki keinginan untuk mendapat keuntungan lebih besar atas saham yang dimilikinya sehingga melakukan perataan laba. Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Guna dan Herawaty (2010).
6) Perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan institusional yang tinggi lebih kecil dibandingkan perataan laba pada perusahaan dengan kepemilikan institusional yang rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa investor institusional yang memiliki saham tinggi cenderung lebih aktif memberikan tekanan pada manajemen serta cenderung lebih teliti dalam melihat informasi laba yang dilaporkan manajemen, sehingga menyebabkan manajemen mengurangi motivasinya untuk melakukan perataan laba. Hasil ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Iqbal dan Fachriyah (2007), serta Suryani (2010).
Implikasi
1) Bagi perusahaan diharapkan agar lebih memperhatikan aturan yang disyaratkan oleh Good Corporate Governance mengenai jumlah dewan komisaris independen dan jumlah komite audit minimal dalam perusahaan.
Hal ini dimaksudkan agar pengawasan yang dilakukan oleh dewan komisaris independen dan komite audit lebih ketat dalam perusahaan.
2) Bagi investor apabila ingin berinvestasi pada perusahaan manufaktur, maka sebaiknya memilih untuk berinvestasi di perusahaan manufaktur yang memiliki kepemilikan institusional yang tinggi. Karena dari hasil penelitian, perusahaan dengan institusional yang tinggi terbukti mengurangi motivasi manajemen untuk melakukan tindakan perataan laba.
Keterbatasan dan Saran Penelitian
1) Kepemilikan asing hanya diidentifikasi berdasarkan nama institusinya saja, sehingga dimungkinkan jumlah kepemilikannya kurang tepat.
Sehingga untuk penelitian-penelitian selanjutnya diharapkan dapat pula menambahkan kepemilikan asing yang berasal dari perseorangan agar jumlah kepemilikannya lebih tepat.