• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberian ransum berbasis karbohidrat sebagai sumber energi akan menghasilkan panas di dalam tubuh yang lebih tinggi dibanding dengan ransum berbasis lemak sebagai sumber energi, hal ini dikarenakan karbohidrat tergolong sumber energi yang mudah digunakan akan tetapi tidak sebaik lemak dari nilai energi metabolis per satuan unit.

Suhu dan Kelembaban Lingkungan Pemeliharaan

Proses pemeliharaan ayam dilakukan selama penelitian yang dimulai pada tanggal 31 Oktober 2011, rataan suhu lingkungan kandang selama proses pemeliharaan disajikan pada Gambar 14.

Gambar 14 Rataan suhu (oC) kandang penelitian ( ) dan referensi Ross ( )

Nilai rataan suhu lingkungan kandang selama proses pemeliharaan berkisar 25 – 30 oC, nilai rataan suhu pada pagi hari 25.67 ± 0.67 oC, nilai rataan suhu pada siang hari 32.66 ± 1.8 oC dan dimalam hari sebesar 26.47 ± 0.94 oC. Nilai kelembaban lingkungan bekisar 65 – 85% selama proses pemeliharaan, tertinggi terjadi pada pagi hari 88.21 ± 3.37% dan terendah pada siang hari 57.76 ± 8.05%. Besarnya variasi kelembaban pada siang hari disebabkan oleh terjadinya hujan disaat siang hari selama proses pemeliharaan, dimana setelah hujan terjadi maka nilai kelembaban lingkungan cenderung meningkat (Gambar 15).

40

Gambar 15 Nilai suhu siang hari (oC) kandang penelitian ( ) dan referensi Ross

( )

Suhu tubuh ayam sekitar 41 oC dengan suhu nyaman lingkungan pemeliharaan berkisar pada 30 oC dengan kelembaban lingkungan sebesar 60 – 70% (Ross 2009) dan suhu nyaman pemeliharaan ayam akan menurun seiring dengan bertambahnya umur ayam seperti tertera pada Gambar 14 dan 15. Pertambahan umur ayam akan menyebabkan proses metabolisme dalam tubuh meningkat yang berdampak pada bertambahnya panas yang dihasilkan selama proses metabolisme zat-zat makanan, sehingga membutuhkan suhu lingkungan yang lebih rendah agar proses pelepasan panas yang dihasilkan selama proses metabolisme bisa ikut meningkat dan ayam terhindar dari stres yang bisa mengganggu produktivitas dan bahkan menyebabkan kematian.

Rataan suhu selama penelitian (Gambar 14) berada di atas suhu ideal yang disarankan oleh Ross (2009) dan semakin besar variasinya seiring dengan bertambahnya usia ayam. Variasi suhu ideal dengan suhu lingkungan selama proses pemeliharaan terlihat lebih besar pada siang hari (Gambar 15). Dengan demikian penambahan vitamin E dan C melalui air minum sudah tepat dilakukan pada jam 09.00 – 15.00 WIB, dengan tujuan untuk menanggulangi stres selama proses pemeliharaan yang diakibatkan oleh variasi suhu tersebut. Gejala stres dimulai dengan penurunan pembentukan vitamin C dalam tubuh, kemudian penurunan konsumsi ransum, panting, gangguan proses metabolisme sampai

41

dengan kematian pada ternak. Salah satu gangguan metabolisme yang terjadi ialah adanya serangkaian kerusakan sel-sel tubuh yang diakibat oleh adanya reaksi radikal bebas (MDA) dalam tubuh. Dampak dari pemberian vitamin E dan C ini terlihat dari nilai MDA hati (Tabel 7) dan nilai MDA karkas (Tabel 8) yang lebih rendah ketika diberi suplementasi dibandingkan tidak diberi suplementasi vitamin melalui air minum.Vitamin E dan C berperan sebagai antioksidan yang menetralisir MDA di dalam tubuh (Gambar 9)

Variasi suhu lingkungan dengan suhu ideal (Gambar 14 dan 15) menyebabkan energi untuk produksi digunakan untuk homeostasis, yang dimulai dengan menurunnya konsumsi ransum, menurunnya laju aliran darah dan berkurangnya energi yang dimetabolisme (Mckee et al. 1997). Kondisi yang tidak nyaman ini untuk ayam menyebabkan laju pernafasan meningkat, keseimbangan asam basa darah berubah, lebih rentan terhadap serangan bakteri patogen, metabolisme nutrisi terganggu, pertumbuhan terhambat dan dapat menyebabkan kematian (Sugito et al. 2007; Mashaly et al. 2004; Borges et al. 2003a; Borges et al. 2003b; Mckee et al. 1997).

Stabilitas Vitamin C dalam Air

Vitamin C (ascorbic acid) termasuk vitamin larut air yang hanya dibutuhkan ayam broiler pada kondisi stres, pada kondisi normal tubuh bisa memproduksi vitamin C. Suplementasi vitamin C bisa dilakukan melalui ransum atau melalui air minum untuk memudahkan aplikasi di lapangan. Vitamin C terdiri dari berbagai macam bentuk sediaan, seperti vitamin C kristal, vitamin C coated (ethyl cellusoe) dan vitamin C monophosphate. Masing-masing jenis vitamin C tersebut memiliki kandungan bahan aktif, stabilitas dan aplikasi yang berbeda. Vitamin C kristal tergolong yang paling tidak stabil, paling tinggi kandungan bahan aktifnya, ekonomis harganya dan memiliki tingkat kelarutan yang paling baik.

Hasil uji coba stabilitas vitamin C di dalam air minum (galon isi ulang) (Gambar 16) pada suhu 25 oC menunjukkan bahwa sampai dengan 3 jam masih memiliki potensi sebesar 82.58%, hal ini penting untuk menentukan efektifitas dosis dan lama pemberian vitamin melalui air minum. Dengan kondisi tersebut maka setelah 3 jam pemberian vitamin C perlu dikoreksi dengan cara

42

menambahkan dosis ekstra atau mengganti dengan yang baru. Vitamin C memiliki stabilitas yang lebih rendah dibandingkan dengan vitamin E dan jenis vitamin lainnya (Coelho 1994), terutama ketika berhubungan dengan mikro mineral. Faktor yang menyebabkan stabilitas vitamin C dalam air rendah ialah pH dan mineral seperti besi dan perunggu yang bisa merangsang terjadinya oksidasi (kerusakan) vitamin C. Stabilitas ini ditunjukkan oleh nilai konsentrasi vitamin C yang tetap tinggi di dalam air.

Gambar 16 Stabilitas vitamin C dalam air

Energi Metabolis, Retensi Nitrogen dan Retensi Lemak

Energi merupakan parameter kehidupan dan proses metabolisme nutrisi dalam tubuh yang akan menggerakkan sel, jaringan dan organ-organ vital ayam broiler. Energi merupakan salah satu dasar dalam penyusunan ransum yang akan diikuti dengan perhitungan pemenuhan kebutuhan asam amino, asam lemak, vitamin dan mineral agar ransum menjadi seimbang sesuai dengan kebutuhan. Konsumsi energi akan linier dengan jumlah kandungan energi ransum tercerna yang dapat dikonversi dari karbohidrat, lemak dan protein dikalikan dengan jumlah ransum yang dikonsumsi oleh ternak.

Hasil uji EMSn ransum pada ayam broiler menunjukkan bahwa ransum berbasis karbohidrat (PC) memiliki nilai standar deviasi 23.84 kkal/kg yang lebih besar dibanding ransum berbasis lemak (PL) 19.62 kkal/kg (Tabel 4), namun nilai

43

rataan energi metabolis ransum PC (2887.01 kkal/kg) lebih kecil dibanding ransum PL (3091.61 kkal/kg).

Tabel 4 Nilai energi metabolis semu terkoreksi nitrogen (EMSn), retensi nitrogen dan retensi lemak ayam broiler umur 33 hari

Peubah Ransum

PC PL

EMSn (kkal/kg) 2887.01 ± 23.84 3091.61 ± 19.62

Retensi Nitrogen (%) 80.57 ± 1.78 83.16 ± 3.26

Retensi Lemak (%) 79.05 ± 2.01 89.01 ± 1.75

Keterangan : PC = ransum berbasis karbohidrat; PL = ransum berbasis lemak

Hasil ini menunjukkan bahwa ransum berbasis karbohidrat kurang adaptif bagi ayam ketika terjadi variasi suhu dan kelembaban lingkungan yang disebabkan oleh tinggi panas yang dihasilkan selama proses metabolisme (heat increment) dan cepatnya laju metabolisme dalam tubuh yang berdampak pada terjadinya peningkatan konsumsi ransum agar kebutuhan energi tercukupi. Plavik et al. (1997) melaporkan bahwa penampilan ayam yang dipelihara pada suhu 20

o

C yang diberikan karbohidrat dan lemak sebagai sumber energi tidak berbeda, termasuk persentase kandungan lemak abdominal dan otot dada, namun suhu selama penelitian ini berlangsung berkisar diatas 25 oC dan berada diatas suhu nyaman untuk ayam (Gambar 15) sehingga tingkat stres lingkungan berpengaruh terhadap kemampuan metabolisme energi. Latshaw dan Moritz (2009) mengemukakan bahwa proses metabolisme akan menghasilkan panas (heat increment) sehingga akan berdampak pada kemampuan ayam dalam metabolisme sejumlah nutrien menjadi energi dalam tubuh.

Nilai rataan retensi nitrogen ransum PC (80.57%) lebih rendah dibanding ransum PL (83.16%) dengan nilai standar deviasi ransum PC yang lebih baik dibanding ransum PL (1.78% berbanding 3.26%). Nitrogen yang diretensi oleh ayam berasal dari proses metabolisme asam amino yang bergantung pada konsumsi asam amino, kualitas sumber asam amino dan umur ayam. Jika terjadi kekurangan energi maka sebagian asam amino tersebut akan dikonversi menjadi energi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Nitrogen yang diretensi akan digunakan oleh tubuh untuk membangun jaringan tubuh, sintesis protein daging, proses regenerasi sel-sel dan proses pembentukan enzim-enzim yang akan berperan dalam metabolisme didalam tubuh.

44

Retensi lemak ransum PL (89.01 ± 1.75%) lebih baik dan lebih tidak bervariasi dibanding ransum PC (79.05 ± 2.01) yang mengindikasikan bahwa sebagian lemak digunakan oleh tubuh ayam untuk memenuhi kebutuhan energinya, dengan cara merubah trigliserida menjadi asam lemak bebas yang siap digunakan dalam proses pembentukan ATP. Lemak yang diserap akan digunakan sebagai bahan pembetukan komponen sel membran, prekursor pembentukan hormon, pelarut dan pembawa vitamin (vitamin A, D, E dan K) dan sebagai sumber steroid yang akan dimanfaatkan dalam proses metabolisme. Faktor yang mempengaruhi retensi lemak ialah jumlah lemak yang dikonsumsi, kualitas lemak dalam ransum, jumlah lemak teroksidasi, dan tingkat stres ternak

Profil Darah Ayam Broiler

Darah merupakan komponen ayam broiler yang terdiri dari plasma darah dan sel-sel darah. Komposisi dan volume darah ayam tergantung dari nutrisi yang diberikan, tingkatan stres, aktivitas tubuh, jenis kelamin dan interaksi dengan lingkungan sekitar. Pemeriksaan status darah ayam broiler merupakan salah satu usaha untuk mengetahui ada atau tidaknya stres dan penyakit, mendapatkan gambar fisiologis, mendeteksi adanya kelainan dan untuk mengetahui terjadinya proses metabolisme nutrisi.

Komponen Darah

Hasil pengujian profil komponen darah ayam broiler disajikan pada Tabel 5. Uji statistik profil darah ayam broiler menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P > 0.05). Kandungan hemoglobin, hematokrit dan eritrosit cenderung menurun akibat perlakuan jenis ransum dan suplementasi vitamin E dan C melalui air minum.

Hemoglobin merupakan sel darah merah yang mengandung komponen mineral besi (Fe) yang befungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru menuju semua jaringan tubuh. Setelah sampai di jaringan, oksigen dibebaskan untuk diberikan kepada sel, sedangkan karbon dioksida yang dihasilkan oleh sel akan berdifusi ke dalam darah dan dibawa kembali ke paru-paru untuk dibuang pada saat terjadi pernafasan (Frandson 1992). Jumlah hemoglobin dalam tubuh terkait dengan jumlah ketersediaan cadangan besi dalam bentuk ikatan ferritin dan

45

hemosderin yang sebagian besar berada dihati, limpa dan sumsum tulang belakang (Piliang & Djojosoebagio 2006b). Nilai hemoglobin normal untuk ayam broiler berkisar 7.0 – 13.0 (Bounous & Stedman, 2000) dan hasil pada Tabel 5 tergolong normal. Da silva et al. (2009) mengemukakan bahwa penambahan vitamin E pada ayam broiler akan menurunkan konsentrasi hemoglobin dan hematokrit namun masih dalam kisaran normal, karena stres pada ayam berkurang ketika diberikan tambahan vitamin E.

Tabel 5 Profil komponen darah ayam broiler umur 33 hari

Peubah Vitamin Rataan

Ransum 0 1 Hemoglobin PC 10.33 ± 0.51 9.70 ± 0.67 10.01 ± 0.64 (g/dl) PL 9.58 ± 0.63 9.75 ± 0.73 9.66 ± 0.49 Rataan 9.95 ± 0.67 9.73 ± 0.50 Hematokrit PC 34.25 ± 1.50 32.00 ± 1.41 33.13 ± 1.81 (%) PL 32.00 ± 2.16 32.50 ± 1.29 32.25 ± 1.67 Rataan 33.13 ± 2.10 32.25 ± 1.28 Eritrosit PC 2.55 ± 0.06 2.45 ± 0.13 2.50 ± 0.11 ( x 106) PL 2.48 ± 0.26 2.48 ± 0.13 2.48 ± 0.19 Rataan 2.51 ± 0.18 2.46 ± 0.12

Keterangan : PC = ransum berbasi karbohidrat, PL = ransum berbasis lemak, 0 = tanpa suplemetasi vitamin E dan C melalui air minum, 1 = suplementasi vitamin E dan C melalui air minum

Hematokrit merupakan salah satu uji untuk mengetahui rasio sel darah merah dalam darah dibanding dengan komponen darah lainnya. Bounous dan Stedman (2000) mengemukakan bahwa kisaran nilai hematokrit normal ayam broiler ialah 22.0 – 35.0, sedangkan untuk eritrosit berkisar 2.5 – 3.5, sehingga nilai hematokrit dan eritrosit pada Tabel 5 tergolong normal. Peningkatan nilai hematokrit akan menyebabkan viskositas darah ikut meningkat dan jika viskositas berlebihan akan menghambat peredaran darah dan distribusi oksigen didalam tubuh yang berpeluang terjadinya hipoksemia (keadaan oksigen darah yang menurun). Hipoksemia dapat terjadi ketika nilai hematokrit dan hemoglobin diatas standar normal sehingga eritrosit menjadi lebih besar dan kaku (Tarmudji 2005). Eritrosit berperan dalam mengangkut hemoglobin yang mendistribusikan oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Selain itu kandungan karbonik anhidrase pada eritrosit sangat penting dalam mengkatalis reaksi antara karbondioksida dengan air (Guyton 1997).

46

Kimia Darah

Hasil uji statistik untuk kimia darah menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P > 0.05) baik untuk perlakuan ransum atau suplementasi vitamin melalui air minum, kecuali untuk komponen total cholesterol (P < 0.01) dan HDL kolesterol (P < 0.05) berbeda akibat adanya perlakuan ransum (Tabel 6).

Tabel 6 Hasil Uji kimia darah ayam broiler

Peubah Vitamin Rataan

Ransum 0 1 Trigliserida PC 125.50 ± 57.25 132.50 ± 45.48 129.00 ± 48.01 (mg/dl) PL 141.75 ± 22.49 102.75 ± 36.73 122.25 ± 35.06 Rataan 133.63 ± 41.19 117.63 ± 41.44 Total kolesterol PC 150.00 ± 9.35 133.00 ± 14.54 141.50 ± 14.51A (mg/dl) PL 107.75 ± 16.88 103.00 ± 8.04 105.38 ± 12.50B Rataan 128.88 ± 21.87 118.00 ± 19.38 HDL kolesterol PC 77.75 ± 13.05 68.00 ± 13.09 72 88 ± 13.17a (mg/dl) PL 60.75 ± 7.14 55.25 ± 8.50 58.00 ± 7.84b Rataan 69.25 ± 12.28 61.63 ± 12.28 LDL kolesterol PC 31.75 ± 10.90 28.25 ± 6.95 30.00 ± 8.67 (mg/dl) PL 21.75 ± 5.74 24.25 ± 6.50 23.00 ± 5.83 Rataan 26.75 ± 9.68 26.25 ± 6.58 SGPT (ALT) PC 12.00 ± 2.83 12.25 ± 4.03 12.13 ± 3.23 (U/L) PL 11.50 ± 2.38 9.00 ± 0.82 10.25 ± 2.12 Rataan 11.75 ± 2.43 10.63 ± 3.20

Keterangan : PC = ransum berbasi karbohidrat, PL = ransum berbasis lemak, 0 = tanpa suplemetasi vitamin E dan C melalui air minum, 1 = suplementasi vitamin E dan C melalui air minum. Superskrip dengan huruf kecil menunjukkan perbedaan yang nyata (P < 0.05) dan superskrip dengan huruf besar menunjukkan perbedaaan yang sangat nyata (P < 0.01).

Pemberian ransum berbasis lemak nyata menurunkan (P < 0.01) nilai total kolesterol dari 141.50 menjadi 105.38 mg/dl (penurunan sebesar 36.12 mg/dl atau 25.47%) dan HDL cholesterol dalam darah dari 72.88 menjadi 58.00 mg/dl (penurunan sebesar 14.88 mg/dl atau 20.42%). Hasil ini menunjukkan bahwa pakan berbasis lemak akan meningkatkan kebutuhan garam empedu yang berperan dalam proses emulsifikasi lemak menjadi bentuk micell yang larut dalam air agar lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh. Garam empedu dihasilkan dari hasil konversi dan reabsorbsi kolesterol yang diangkut oleh HDL dari jaringan perifer atau darah ke dalam hati yang akan diekskresikan kedalam

47

kantung empedu dan duodenum (Muchtadi etal. 1993), sehingga kandungan total kolesterol dan HDL kolesterol darah menurun.

Sumber energi pakan berbasis lemak menyebabkan pemanfaatan gliserol

dan asam lemak melalui proses β-oksidasi asam lemak dalam mitokondria

menjadi lebih intensif untuk memenuhi kebutuhan energi sel, jaringan dan tubuh ayam broiler. Gliserol dan asam lemak didapatkan dari proses pemecahan trigliserida dalam pakan secara lipolisis. β-oksidasi adalah proses perubahan asam lemak bebas menjadi molekul asetil KoA sehingga bisa digunakan dalam siklus trycarboxylic acid (TCA) untuk menghasilkan energi jika diperlukan oleh tubuh, kelebihan asetil KoA akan dimanfaatkan dalam sintesis lemak tubuh. Salah satu

proses β-oksidasi asam lemak yang terjadi ialah proses oksidasi asam lemak jenis

palmitat (C 16 : 0) yang banyak terdapat dalam crude palm oil (CPO) yang digunakan dalam penelitian ini.

Manfaat dari pemberian CPO ialah ketersediaan beta carotene yang tinggi, kandungan energi yang tinggi dan ketersediaan di lokal yang cukup banyak. Namun dari itu penggunaan CPO dapat merangsang terjadinya reaksi radikal bebas yang berlebihan dikarena komposisi asam lemak yang terkandung didalam nya. Dauqan et al. (2011) menyatakan bahwa CPO mengandung asam lemak jenuh (SFA) yeng terdiri dari asam kapilat (C 8: 0) 0.034%, asam laurat (C 12: 0) 0.173%, asam miristat (C 14: 0) 0.961%, asam palmitat (C 16: 0) 42.465% dan asam stearat (C 18: 0) 0.395; asam lemak tidak jenuh dengan satu ikatan rangkap (MUFA) yang terdiri dari asam oleat (C 18: 1) 44.616%; dan asam lemak tidak jenuh dengan banyak ikatan rangkap (PUFA) yang terdiri dari dari asam linoleat (C 18: 2) 10.372% dan asam linolenat (C 18: 3) 0.257%. Ketersediaan MUFA dan PUFA yang tinggi dibanding SFA pada pakan PL menyebabkan kandungan cholesterol (Herman 1991) darah lebih rendah dibanding pakan PC (Tabel 6)

Proses metabolisme lemak selain menghasilkan energi juga akan menghasilkan trigliserida, kolesterol dan fospolipid yang akan masuk dalam siklus cylomicron untuk menjadi molekul komplek yang siap untuk di distribusikan ke seluruh jaringan tubuh melalui pembuluh darah. Bentuk molekul yang lazim dikenal ialah bentuk lipoprotein yang disintesis di dalam hati yang berasal dari lemak endogenous dan apoprotein. Selain itu hati mampu melakukan proses

48

sintesis lemak baru yang berasal dari glukosa atau asam amino jika diperlukan dan hati aktif mesintesis garam empedu untuk proses emulsifikasi lemak agar lebih mudah di cerna oleh lipase sebelum diserap tubuh.

Bentuk lipoprotein yang dihasilkan oleh hati terdiri dari VLDL, IDL, LDL dan HDL seperti disajikan pada Gambar 17. Masing-masing jenis lipoprotein tersebut memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan struktur dan komposisi komponen pendukungnya. VLDL berperan dalam distribusi trigliserida, LDL sebagai turunan dari VLDL berperan dalam distribusi kolesterol dan HDL berperan dalam distribusi fospolipida dan kolesterol ester dari jaringan perifer kembali ke hati (Piliang & Djojosoebagio 2002). Rasio HDL dengan LDL kolesterol pada penelitian ini berkisar 2.28 – 2.79, dimana ransum lemak dan suplementasi vitamin E dan C melalui air minum dapat menurunkan rasio HDL dengan LDL kolesterol.

49

SGPT adalah ukuran nekrosis hepatoseluler yang paling spesifik dan paling luas ditemukan. SGOT bekerja serupa tetapi kurang spesifik (Sujono 2002) karena jaringan hati menghasilkan enzim glutamat piruvat transmirase (GPT) yang akan mudah keluar sel masuk ke pembuluh darah melebihi keadaan normal ketika terjadi kerusakan sel-sel hati dan berkonjugasi positif dengan bobot relatif organ hati. Hasil uji nilai SGPT pada Tabel 6 terlihat bahwa nilai tersebut masih berada dalam kisaran kandungan SGPT ayam broiler yang normal 9.5 – 14.3 U/L (Apata 2011) sehingga bisa disimpulkan kerusakan sel-sel hati pada penelitian ini masih belum terjadi, hasil ini akan ditunjang oleh nilai MDA hati (Tabel 7). MDA merupakan hasil lipid peroksidasi yang mengawali serangkaian peristiwa yang berakibat peningkatan pemanfaatan LDL oleh makrofag dan terbentuknya sel bursa pertanda kerusakan dini lesi aterosklerosis pada intima arteri. Reaksi peroksidasi lipid akan berdampak negatif yang akan merangsang stres oksidatif yang bisa menyebabkan ekstra stres pada ayam selain adanya stres dari lingkungan selama proses pemeliharaan. Dengan demikian kosumsi lemak sebagai sumber energi menjadi kurang menguntungkan jika tidak disiasati dengan baik.

Profile Organ Hati dan Kualitas Karkas Ayam Broiler

Nilai malonaldehid (MDA) dan bobot relatif organ hati ayam broiler tidak berbeda nyata (P > 0.05) yang disajikan pada Tabel 7. Nilai MDA merupakan salah satu ciri kerusakan organ hati yang berkorelasi positif dengan nilai SGPT (Tabel 6). MDA adalah senyawa yang terbentuk akibat adanya reaksi senyawa peroksida lipid dengan PUFA yang banyak terkandung pada jaringan hati. Suplementasi vitamin E dan C melalui air minum bisa menurunkan level MDA pada hati karena vitamin E dan C berperan dalam menangkal reaksi radikal bebas yang disebabkan oleh peroksidasi lemak agar kerusakan sel-sel hati bisa lebih tereliminasi.

Bobot relatif organ hati ayam broiler yang diberikan ransum berbasis lemak (PL) relatif lebih kecil dibanding ransum berbasis karbohidrat (PC). Hal ini disebabkan kinerja hati dalam melakukan fungsi kerja berbanding terbalik dengan kandungan lemak ransum dimana ransum PL memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi dibanding ransum PC. Suplementasi vitamin melalui air minum

50

menyebabkan organ hati menjadi lebih berat karena vitamin E tergolong vitamin larut lemak yang erat kaitannya dengan metabolisme lemak dan organ hati.

Tabel 7 Nilai malonaldehid (MDA) dan bobot relatif organ hati ayam broiler

Peubah Vitamin Rataan

Ransum 0 1 MDA PC 859.73 ± 92.34 655.59 ± 83.79 757.66 ± 136.27 (x106) PL 752.64 ± 180.51 706.08 ± 188.58 729.36 ± 172.70 Rataan 806.18 ± 144.56 680.83 ± 137.76 Bobot Hati PC 2.69 ± 0.26 2.91 ± 0.55 2.80 ± 0.41 (%) PL 2.43 ± 0.13 2.56 ± 0.32 2.50 ± 0.24 Rataan 2.56 ± 0.24 2.73 ± 0.46

Keterangan : PC = ransum berbasi karbohidrat, PL = ransum berbasis lemak, 0 = tanpa suplemetasi vitamin E dan C melalui air minum, 1 = suplementasi vitamin E dan C melalui air minum

Tabel 8 Persentase dan kualitas karkas ayam broiler

Peubah Vitamin Rataan

Ransum 0 1 Karkas PC 67.13 ± 1.31 67.03 ± 2.67 67.08 ± 1.05 (%) PL 65.27 ± 1.90 67.66 ± 1.38 66.47 ± 2.00 Rataan 66.20 ± 1.81 67.35 ± 2.00 Lemak abdominal PC 0.77 ± 0.08 0.94 ± 0.50 0.86 ± 0.35 (%) PL 0.56 ± 0.22 0.89 ± 0.47 0.72 ± 0.38 Rataan 0.67 ± 0.19 0.92 ± 0.45

Kolesterol daging ayam PC 47.56 ± 11.73 58.11 ± 4.17 52.84 ± 9.91

(mg/100g) PL 61.34 ± 6.56 60.92 ± 11.40 61.13 ± 8.61

Rataan 54.45 ± 11.47 59.51 ± 8.09

MDA daging PC 0.07 ± 0.08 0.04 ± 0.02 0.06 ± 0.06

(mg/kg) PL 0.13 ± 0.18 0.09 ± 0.04 0.11 ± 0.12

Rataan 0.10 ± 0.13 0.07 ± 0.04

Keterangan : PC = ransum berbasi karbohidrat, PL = ransum berbasis lemak, 0 = tanpa suplemetasi vitamin E dan C melalui air minum, 1 = suplementasi vitamin E dan C melalui air minum

Persentase dan kualitas karkas ayam broiler tidak berbeda nyata (P > 0.05) dan disajikan pada Tabel 8. Pakan berbasis lemak (PL) memiliki kecenderungan persentase karkas yang lebih kecil, kandungan lemak abdominal yang lebih kecil, kandungan kolesterol karkas yang lebih tinggi sehingga kandungan MDA dagingnya menjadi lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena pakan berbasis lemak

51

(PL) akan menghasilkan deposit cadangan asam lemak dan biosíntesis lemak daging yang lebih tinggi dibanding dengan pakan berbasis karbohidrat (PC).

Suplementasi vitamin E dan C melalui air minum memiliki kecenderungan meningkatkan persentase karkas, kandungan lemak abdominal, kolesterol karkas, namun menurunkan nilai MDA daging. Hal ini menunjukkan bahwa metabolisme vitamin E sangat erat kaitannya dengan biosíntesis asam lemak dan lemak daging. Adanya sejumlah vitamin E yang dideposisi pada bagian membran daging ikut membantu mencegah kerusakan daging ayam akibat adanya reaksi dari peroksidasi lipid sehingga nilai MDA daging ayam yang disuplementasi vitamin menjadi lebih rendah.

Penampilan Ayam Broiler

Penampilan ayam broiler yang meliputi konsumsi air minum , konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum (Tabel 9) dilakukan pencatatan dan analisa untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perlakuan.

Tabel 9 Penampilan ayam broiler (8 – 28 hari)

Peubah Vitamin Rataan

Ransum 0 1 Konsumsi air minum PC 4481.43 ± 240.87 4721.61 ± 197.61 4601.52 ± 241.00 (ml/ekor) PL 4660.86 ± 207.61 4612.88 ± 93.88 4636.87 ± 151.35 Rataan 4571.15 ± 229.21 4667.25 ± 154.57 Konsumsi ransum PC 1836.68 ± 31.08D 1955.88 ± 71.67A 1916.28 ± 99.28 (g/ekor) PL 1952.41 ± 43.77B 1922.16 ± 46.53C 1937.28 ± 44.84 Rataan 1894.54 ± 71.14b 1959.02 ± 68.43a Pertambahan PC 1187.11 ± 28.23 1239.85 ± 55.62 1213.84 ± 49.62 Bobot badan PL 1231.68 ± 18.45 1251.73 ± 21.44 1241.70 ± 21.39 (g/ekor) Rataan 1209.40 ± 32.48 1245.79 ± 39.53 Konversi ransum PC 1.439 ± 0.03B 1.494 ± 0.01D 1.466 ± 0.03 PL 1.475 ± 0.02C 1.431 ± 0.01A 1.453 ± 0.03 Rataan 1.457 ± 0.03 1.462 ± 0.03

Keterangan : PC = ransum berbasi karbohidrat, PL = ransum berbasis lemak, 0 = tanpa suplementasi vitamin E dan C melalui air minum, 1 = suplementasi vitamin E dan C melalui air minum. Superskrip dengan huruf kecil menunjukkan perbedaan yang nyata (P < 0.05) dan superskrip dengan huruf besar menunjukkan perbedaaan yang sangat nyata (P < 0.01)

52

Konsumsi air minum

Minum merupakan salah satu paramater kesehatan ayam broiler karena air memiliki banyak fungsi seperti pelarut vitamin, komponen pengisi sel dan jaringan tubuh, termoregulasi tubuh dan pelarut penting dalam proses metabolisme tubuh. Uji statistik menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap total konsumsi air minum selama 21 hari penelitian (Tabel 9) namun berkorelasi positif dengan konsumsi pakan selama penelitian. Ross (2009) menyarankan konsumsi air minum pada suhu pemeliharaan 21 oC sebesar 1.6 – 1.8 kali konsumsi pakan, sedangkan nilai konsumsi air minum selama penelitian dengan suhu 25 – 30 oC menjadi sebesar 2.3 – 2.4 kali konsumsi pakan. Hal ini normal mengingat suhu lingkungan yang lebih tinggi akan menyebabkan ayam lebih banyak untuk mengkonsumsi air minum membantu melepaskan panas tubuhnya sebagai usaha untuk menyeimbangkan suhu tubuh dengan suhu lingkungan.

Umur ayam, status kesehatan ayam, tingkat produktivitas ayam, jumlah tempat air minum, jenis tempat air minum dan kualitas air minum adalah faktor- faktor yang mempengaruhi konsumsi air minum selain suhu lingkungan dan juga konsumsi ransum. Jumlah konsumsi air minum ini akan berdampak pada fungsi air sebagai pelarut beberapa jenis vitamin larut air, pelarut zat-zat nutrisi penting, penyusun struktur jaringan tubuh, termoregulator dan sebagai penanda ketika terjadi gangguan proses metabolisme atau kesehatan pada ayam.

Konsumsi ransum

Konsumsi ransum merupakan usaha ayam untuk memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi selama proses pertumbuhan. Hasil uji statistik konsumsi pakan pada Tabel 9 berbeda nyata (P < 0.01) dengan nilai terbesar pada R2 (1955.88 ± 71.67 g/ekor) yang diikuti oleh R3 (1952.41 ± 43.7 g/ekor), R4 (1922.16 ± 46.53

g/ekor) dan R1 (1836.68 ± 31.08 g/ekor) secara berturut-turut. Hal ini mengindikasikan bahwa adanya sumber energi pakan yang berbeda dan

Dokumen terkait