• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Fitokimia Teh Hitam dan Teh Hijau

Komposisi kimia dari setiap daun teh beda. Perbedaan komposisi kimia menimbulkan perbedaan sifat dan susunan kimia yang spesifik pada daun teh, sehingga untuk melihat perbedaan tersebut dilakukan analisis fitokimia pada teh hitam dan teh hijau. Analisis fitokimia teh hitam dan teh hijau dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Kandungan fitokimia teh hitam dan teh hijau (% berat kering)

Sampel Theaflavin Thearubigin EGCG

Teh hitam 1,14± 0,07 13,10± 0,79 0,37±0,05

Teh hijau - - 4,50±0,22

Berdasarkan kandungan fitokimia (Tabel 4) menunjukkan bahwa teh hitam mempunyai kandungan theaflavin yaitu 1,14% dan thearubigin 13,10%. Kandungan theaflavin dan thearubigin merupakan zat yang bisa dijadikan standar untuk menentukan kualitas dari daun teh. Theaflavin merupakan hasil oksidasi dari katekin yang terjadi selama proses oksidasi enzimatis. Dalam seduhan teh hitam, theaflavin memberikan warna merah kekuningan, sedangkan thearubigin memberi warna merah kecoklatan. Kafein bersama dengan theaflavin memberikan rasa segar dalam hal rasa,.

Theaflavin memiliki struktur kimia yang terdiri atas empat senyawa utama, yaitu theaflavin (TF1), theaflavin-3-falat (TF2A), theaflavin-3’-galat (TF2B) dan theaflavin-3,3’-digalat (TF3). Penelitian yang dilakukan oleh Honda dan Hara (1993) tentang efek antidiabetik dari theaflavin dan katekin menyatakan bahwa mekanisme antidiabetik terjadi karena adanya penghambatan glukosa dalam usus.

Hasil analisis kandungan EGCG, teh hijau yang dibuat secara non oksidasi enzimatis menunjukkan kandungan EGCG yang lebih tinggi, yaitu 4,50%, sedangkan kandungan EGCG teh hitam hanya 0,37%. Hal ini terjadi karena adanya proses oksidasi enzimatis yang terjadi pada teh hitam. Proses oksidasi enzimatis dimulai pada awal penggulungan daun teh yang merupakan oksidasi senyawa polifenol oksidase, terutama epigalokatekin dan galat yang menghasilkan quinon- quinon yang berkondensasi lebih lanjut menjadi bisflavanol, theaflavin

dan thearubigin. Saat terjadi proses kondensasi dan polimerisasi terbentuk substansi – substansi yang tidak larut. Secara skematis proses oksidasi enzimatis dapat dilihat pada Gambar 8 (PPTK 2008).

Gambar 8 Skema oksidasi enzimatis teh hitam (PPTK 2008)

Pengolahan teh hijau di Indonesia merupakan serangkaian proses fisik dan mekanis tanpa atau sedikit proses oksidasi enzimatis terhadap pucuk teh dengan menggunakan sistem steaming. Oleh karena itu tidak dilakukan pengujian kadar theaflavin dan thearubigin pada teh hijau karena diasumsikan tidak terjadi proses oksidasi enzimatis (PPTK 2008).

Pada penelitian ini menggunakan dosis 20 gram teh yang diseduh dengan air panas (70-80 0C) sebanyak 200 ml. Filtratnya dicekokkan ke tikus 1 ml/100 g berat badan. Berdasarkan hasil analisis fitokimia ini, maka dapat dihitung jumlah konsumsi (intik) EGCG, theaflavin dan thearubigin. Menurut perhitungan yang dilakukan oleh Ritonga (2010) menyatakan bahwa, dosis filtrat yang dicekokkan ke tikus (1 ml/100 g BB tikus) setara dengan EGCG untuk teh hijau 44,47 mg/kg BB, untuk teh hitam EGCG 0,36 mg/kg BB, theaflavin 11,19 mg/kg BB dan thearubigin 134,4 mg/kg BB.

Epigalokatekin dan galat

ortoquinon

bisflavanol

theaflavin

thearubigin

Analisis Proksimat Teh Hitam, Teh Hijau dan Teh Daun Murbei Analisis proksimat dilakukan untuk mengetahui kandungan dan komposisi zat gizi yang terdapat dalam teh hitam, teh hijau dan teh daun murbei. Metode pemanasan langsung digunakan untuk menentukan kadar air dan kadar abu, reaksi hidrolisis untuk menetapkan serat kasar, ekstraksi soklet untuk mengukur kadar lemak, metode Kjeldahl untuk menentukan kadar protein. Penentuan kadar karbohidrat by difference dengan cara 100% dikurangi kadar air, abu, protein dan lemak. Hasil analisis terhadap komposisi zat gizi teh hitam, teh hijau dan teh daun murbei disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5 Analisis proksimat teh hitam, teh hijau dan teh daun murbei

Komposisi (%) Teh Hitam Teh Hijau Teh Daun Murbei

Kadar Air* 1,84±0,48 1,17±0,10 2,37±0,32 Kadar Protein 19,72±0,06 25,94±0,30 26,86±0,21 Kadar Lemak 2,88±0,05 4,53±0,06 4,15±0,04 Kadar Abu 5,68±0,12 5,22±0,06 6,41±0,04 Kadar Karbohidrat 69,88±0,43 63,14±0,28 60,21±0,25 *)berat basah Kadar Air

Hasil analisis kadar air teh hitam, teh hijau dan teh daun murbei menunjukkan kadar air teh daun murbei paling tinggi, yaitu 2,37% bk, sedangkan kadar air teh hitam dan teh hijau, yaitu 1,84% bk dan 1,17%bk. Bila dibandingkan dengan SNI teh hitam (SNI 01-1902-2000), ketiga jenis teh memenuhi persyaratan SNI teh yang mensyaratkan kadar air maksimal adalah 8%.

Kadar Protein

Hasil analisis menunjukkan teh daun murbei memiliki kandungan protein yang paling tinggi, yaitu 26,86% bk dibanding dengan teh hitam dan teh hijau, yaitu 19,72% bk dan 25,94% bk. Daun teh mengandung protein yang berperan dalam pembentukan aroma terutama pada teh hitam. Perubahan utama selama pelayuan adalah hidrolisis protein menjadi asam – asam amino. Asam amino bersama karbohidrat dan katekin akan membentuk senyawa aromatis asam amino. Seluruh protein dan asam amino bebas berkisar antara 1,4 – 5% bk daun (PPTK

2008). Berdasarkan Cabrera et al. (2006) kandungan protein teh hijau sebesar 15 – 20% bk.

Kadar Lemak

Hasil analisis menunjukkan teh hijau memiliki kandungan lemak paling tinggi, yaitu 4,53% bk dibanding teh daun murbei dan teh hitam, yaitu 2,88% bk dan 4,15% bk. Hampir semua bahan pangan mengandung lemak dan minyak. Dalam tanaman, lemak disintesis dari suatu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak yang terbentuk dari kelanjutan oksidasi karbohidrat dalam proses respirasi. Proses pembentukan lemak dalam tanaman dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu pembentukan gliserol, pembentukan molekul asam lemak, kemudian kondensasi asam lemak dengan gliserol membentuk lemak. Pada daun teh kandungan lemak lebih tinggi pada daun yang lebih tua (Rohdiana 2009).

Kadar Abu

Pengukuran kadar abu dilakukan untuk mengetahui kandungan mineral yang terdapat pada teh. Kadar abu (Tabel 4) menunjukkan teh daun murbei mempunyai kadar abu yang paling tinggi, yaitu 6,41% bk dibandingkan dengan teh hitam dan teh hijau masing-masing yaitu 5,68% bk dan 5,22% bk. Berdasarkan SNI teh hitam (SNI 01-1902-2000) kadar abu miniman untuk teh 4% dan maksimal 8%, maka ketiga jenis teh telah memenuhi persyaratan SNI untuk kadar abu.

Karbohidrat

Hasil analisis karbohidrat by difference menunjukan teh hitam memiliki kandungan teh paling tinggi, yaitu 69,88% bk dibandingkan teh hijau dan teh daun murbei, yaitu 63,14% bk dan 60,21% bk. Daun teh mengandung karbohidrat baik dalam bentuk sederhana maupun kompleks. Kelompok karbohidrat yang perannya sangat penting yaitu pektin.

Senyawa pektin dapat menentukan sifat kimia dari teh hitam. Pertama, pektin akan terurai menjadi asam pektat dan metil akohol dengan bantuan enzim pektin metil esterase. Metil alkohol nantinya akan menguap dan sebagian akan berubah menjadi ester – ester dengan asam organik yang menghasilkan aroma khas. Kedua, asam pektan dalam suasana asam akan membentuk gel yang mempertahankan bentuk keriting dari daum teh setelah digiling. Selanjutnya gel akan membentuk lapisan di permukaan teh, yang akan ikut mengendalikan proses oksimatis. Pada tahapan pengeringan lapisan gel akan mengering membentuk lapisan mengkilat yang disebut dengan istilah bloom dari teh (Rohdiana 2009).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ama (2008) daun murbei segar memiliki kandungan karbohidrat lebih rendah dibandingkan ekstrak daun murbei. Daun muda segar memiliki kandungan karbohidrat sebesar 12,16% bk sedangkan kandungan karbohidrat dauntua, yaitu 14,75% bk.

Tes Toleransi Glukosa

Tes toleransi glukosa dilakukan pada tikus normal (n=3) untuk semua perlakuan. Hasil uji toleransi glukosa secara oral menunjukkan terjadi peningkatan kadar glukosa darah tikus setelah 30 menit pemberian glukosa, kemudian pada menit ke–60 terjadi penurunan kadar glukosa tetapi naik lagi pada menit ke–90. Setelah 120 menit terjadi kembali penurunan kadar glukosa darah (Tabel 6 dan Gambar 9). Hal ini diduga karena lamanya waktu puasa mengakibatkan kondisi hipoglikemia berat pada tikus percobaan, sehingga glikogen hati telah habis digunakan. Pemberian glukosa secara oral tidak mencukupi untuk menaikkan kadar glukosa dalam waktu yang lama (hanya sesaat), sehingga pada menit ke-60 kadar glukosa darah turun. Penggunaan glikogen otot diduga dapat menaikkan kadar glukosa darah pada menit ke-90. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Hayes (2001) bahwa pada metode toleransi glukosa terjadi peningkatan kadar glukosa darah mulai menit ke – 30 sampai pada menit ke – 90, dan pada menit ke – 120 kadar glukosa darah kembali normal.

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa jenis perlakuan tidak berpengaruh nyata (p>0,05), sedangkan waktu berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kadar glukosa darah pada tes toleransi glukosa secara oral (Lampiran 4). Hal ini karena pola grafik kadar glukosa darah pada semua tikus perlakuan serupa dan penggunaan glukosa hanya akan menaikkan kadar glukosa darah sesaat. Apabila pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu kadar glukosa plasma tidak normal, yaitu terletak antara lebih besar dari 140 mg/dl tetapi kurang dari 200 mg/dl maka harus dilakukan pemeriksaan tes toleransi glukosa secara oral untuk meyakinkan apakah penyakit DM atau bukan.

Tabel 6 Rata – rata kadar glukosa darah berdasarkan test toleransi glukosa secara oral

Ket : Kontrol = yang diberi glukosa dan tanpa cekok teh

Teh hitam = yang diberi glukosa dan cekok teh hitam 1 ml/ 100 g BB Teh hijau = yang diberi glukosa dan cekok teh 1 hijau ml/ 100 g BB

Teh daun murbei = yang diberi glukosa dan cekok teh daun murbei 1 ml/ 100 g BB Teh hitam + TDM = yang diberi glukosa dan cekok teh teh hitam + TDM 1 ml/ 100 g BB Teh hijau + TDM = yang diberi glukosa dan cekok teh teh hijau + TDM 1 ml/ 100 g

*)

Rata – rata selama 16 hari perlakuan dengan n=3 Kelompok perlakuan

Rata - rata glukosa darah tikus (mg/dl) sebelum dan setelah pemberian glukosa

0 menit* 30 menit* 60 menit* 90 menit* 120 menit* 150 menit*

Kontrol 70,00±12,12 95,33±11,55 70,33±6,35 85,00±10,39 81,67±17,50 72,67±10,97

Teh hitam 78,33±2,52 103,33±13,05 73,33±2,31 84,00±14,11 81,67±4,62 76,33±5,51

Teh hijau 77,00±7,00 111,67±9,50 66,67±5,03 89,00±11,14 82,00±4,36 77,33±11,24

Teh daun murbei 64,67±10,07 106,67±5,03 65,67±9,07 81,67±4,62 95,00±17,09 75,00±6,56 Teh hitam + TDM 58,00±4,58 103,67±7,64 62,33±9,50 82,33±4,04 97,00±33,15 67,67±2,31 Teh hijau + TDM 66,67±8,62 104,67±12,66 65,33±5,77 80,67±15,04 79,00±0,00 74,33±8,08

Ket : Kontrol = yang diberi glukosa dan tanpa cekok teh

Teh hitam = yang diberi glukosa dan cekok teh hitam 1 ml/ 100 g BB Teh hijau = yang diberi glukosa dan cekok teh 1 hijau ml/ 100 g BB

Teh daun murbei = yang diberi glukosa dan cekok teh daun murbei 1 ml/ 100 g BB Teh hitam + TDM = yang diberi glukosa dan cekok teh teh hitam + TDM 1 ml/ 100 g BB Teh hijau + TDM = yang diberi glukosa dan cekok teh teh hijau + TDM 1 ml/ 100 g BB Gambar 9 Grafik rata – rata kadar glukosa darah hasil uji tes toleransi glukosa

Sesuai dengan kesepakan WHO maka tes toleransi glukosa oral harus dilakukan dengan beban 75 gram setelah berpuasa minimal 10 jam. Penilaian terhadap hasil tes toleransi glukosa tersebut adalah sebagai berikut : a) toleransi glokosa normal apabila < 140 mg/dl; b) toleransi glukosa terganggu apabila kadar glukosa terukur adalah > 140 mg/dl tetapi < 200 mg/dl; c) toleransi glukosa lebih dari 200 mg/dl disebut diabetes melitus.

Hasil uji beda (Lampiran 4) menunjukkan kadar glukosa darah pada menit ke-30 berbeda nyata (p<0,05) dengan kadar glukosa darah pada waktu pengukuran lainnya. Hal ini disebabkan oleh pemberian glukosa secara oral dapat menaikkan kadar glukosa darah dalam waktu sesaat. Pengaturan kadar glukosa yang stabil dalam darah adalah mekanisme hemeostatik yang merupakan kesatuan proses ikut berperannya hati, jaringan ekstra hepatik dan beberapa hormon. Kemampuan tubuh dalam memanfaatkan glukosa dapat ditentukan dengan mengukur toleransi glukosa yang dapat ditunjukkan dengan bentuk kurva glukosa darah setelah pemberian glukosa (Suharmiati 2003).

! " # # !# $ ! % ! " # % !

Bentuk kurva glukosa darah yang dihasilkan ditentukan oleh : 1) kapasitas tubuh mensekresi insulin yang cukup; 2) ketersediaan faktor – faktor zat gizi lain yang dibutuhkan untuk pengikatan insulin yang cukup; 3) tingkat katabolisme insulin; 4) ada atau tidaknya antagonis insulin; dan 5) adanya/terbebasnya faktor – faktor penghambat regulasi (counterregulator) seperti glukogon, yang akan menghambat penurunan glukosa darah kalau kerja insulin sudah selesai. Gangguan – gangguan dalam lintasan kerja insulin, dari proses sintesisnya sampai terikat (bereaksi) dan terdegradasinya akan mengubah toleransi glukosa (Linder 1992). DM ditandai dengan berkurangnya toleransi tubuh terhadap glukosa yang disebabkan berkurangnya sekresi insulin. Hal ini dimanifestasikan dengan kadar glukosa darah yang semakin meningkat (hiperglikemia) disertai glikosuria dan perubahan pada metabolisme lemak (Suharmiati 2003).

Induksi Aloksan dan Konfirmasi Kondisi Diabetes pada Tikus

Hewan model diabetes melitus dapat dipersiapkan dengan menggunakan bahan kimia diabetogenik, yaitu aloksan, dengan dosis tertentu aloksan dapat menyebabkan kerusakan selektif terhadap sel-sel pankreas, sehingga menghasilkan keadaan hiperglikemia permanen yang merupakan salah satu ciri DM tipe-1. Pada penelitian ini digunakan aloksan dengan dosis tungal sebanyak 125 mg/kg berat badan.

Dosis aloksan optimum yang dapat menghasilkan kondisi hiperglikemia permanen tergantung dari jenis, umur dan kondisi hewan percobaan. Ama (2009) menunjukkan bahwa induksi aloksan dengan dosis 125 mg/dl, setelah tiga hari dilakukan pengukuran kadar glukosa darah terjadi peningkatan sebesar 386% dari kadar glukosa awal sebelum diinduksi aloksan dengan jumlah tikus yang mengalami hiperglikemia permanen lebih dari 90%.

Pada penelitian ini digunakan dosis 125 mg/dl dan pada dosis tersebut, setelah dua hari tikus yang mengalami peningkatan kadar glukosa darah di atas 200 mg/dl ditetapkan sebagai sampel tikus diabetes (Gambar 10). Hal ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan Ritonga (2010) yang menunjukkan adanya kerusakan pada pulau langerhans pankreas tikus yang diinduksi dengan aloksan bila dibandingkan dengan yang tidak diinduksi aloksan (Gambar 11 dan

12). Oleh karena sanga DM yang relatif keci dari 200 mg/dl diguna tikus setelah diinduks mg/dl.

Ket : Kontrol normal= ti Kontrol negatif =d Teh hitam = diindu Teh hijau = diinduk Teh daun murbei = Teh hitam + TDM Teh hijau + TDM = Gambar 10 Kada

Gambar 11. Fotomikog 50µm

ngat sulit mendapatkan variasi kadar glukosa da cil, maka semua tikus DM dengan kadar glukos gunakan dalam penelitian ini. Rata-rata kadar nduksi aloksan adalah berkisar antara 224 mg

tidak diinduksi aloksan dan tanpa cekok teh diinduksi aloksan dan tanpa cekok teh

duksi aloksan dan cekok teh hitam 1 ml/ 100 g BB duksi aloksan dan cekok teh 1 hijau ml/ 100 g BB

i = diinduksi aloksan dan cekok teh daun murbei 1 ml/ 1 M = diinduksi aloksan dan cekok teh teh hitam + TDM = diinduksi aloksan dan cekok teh teh hijau + TDM 1 adar glukosa darah tikus sebelum dan sesudah i

ikograf jaringan pankreas tikus normal, Pewar m. Pulau Langerhans : ( ), Sel-sel asinar : (a)

&

! " #$ ! " #$

a darah antar tikus lukosa darah lebih dar glukosa darah g/dl sampai 408

/ 100 g BB 1 ml/ 100 g BB 1 ml/ 100 g BB h induksi aloksan

arnaan HE, skala (a)

Gambar 12. Fotomikog 50 µm Kerusakan pul tergantung pada tingg dosis aloksan maka Perubahan morfologi induksi aloksan) diant Langerhans, mengeci kongesti, hemoragi, pe (kematian sel). Perubah Perubahan b diabetes. DM ditanda berat badan (Hartono tinggi tidak dapat dim dan terjadi perasaan la energi, tubuh harus penurunan berat bada Pengukuran ransum tikus dilakuka badan tikus diabetes

ikograf jaringan pankreas tikus diabetes, Pewar m. Pulau Langerhans : ( ), Sel-sel asinar : (a) pulau Langerhans pankreas pada tikus diabete ggi rendahnya dosis aloksan yang diberikan. ka semakin tinggi laju kerusakan pulau lange gis jaringan pankreas tikus diabetes eksper diantaranya adalah berkurangnya kepadatan strom

cilnya inti sel (piknosis) pada sel-sel asinar, , pecahnya sejumlah inti sel (karyoreksis),

ahan Berat Badan dan Jumlah Konsumsi Ran n berat badan merupakan salah satu ciri um

ndai dengan poliurea, polidipsia, poliphagia ono 2006). Pada penderita diabetes, kadar glukos

dimanfaatkan sebagai sumber energi sel, sehingga n lapar yang berlebih (poliphagia). Untuk meme

us memecah lemak atau protein, akibatny dan.

n berat badan tikus dilakukan setiap dua hari kukan setiap hari. Hasil pengamatan menunjukka

tes yang diberi teh hitam dan teh daun mur

arnaan HE, Skala (a)

betes eksperimental n. Semakin tinggi gerhans pankreas. perimental (akibat troma pada pulau r, terdapat edema, ), hingga nekrosa

ansum Tikus umum penderita

ia dan penurunan lukosa darah yang hingga tubuh lemah menuhi kebutuhan nya akan terjadi hari sekali dan sisa ukkan bahwa berat urbei mengalami

penurunan berat badan pada akhir pemeliharaan selama 16 hari, sedangkan kelompok tikus normal, kontrol negatif, teh hijau dan campuran teh hitam + TDM serta campuran teh hijau + TDM mengalami peningkatan berat badan (Tabel 7).

Tabel 7 Perubahan berat badan dan jumlah ransum yang dikonsumsi tikus Perlakuan Ransum yang dikonsumsi

(gram)*

Selisih Berat Badan (gram)**

Kontrol Normal 167,25±27,29 +35,43±9,94

Kontrol Negatif 173,27±11,50 +25,53±7,80

Teh Hitam 179,22±18,40 -0,03±33,65

Teh Hijau 161,85±24,56 +33,80±32,40

Teh Daun Murbei 149,78±38,48 -1,47±34,59

Teh Hitam+TDM 145,16±5,34 +3,93±14,81

Teh Hijau+TDM 245,88±35,81 +43,2±41,57

Ket : Kontrol normal= tidak diinduksi aloksan dan tanpa cekok teh Kontrol negatif =diinduksi aloksan dan tanpa cekok teh

Teh hitam = diinduksi aloksan dan cekok teh hitam 1 ml/ 100 g BB Teh hijau = diinduksi aloksan dan cekok teh 1 hijau ml/ 100 g BB

Teh daun murbei = diinduksi aloksan dan cekok teh daun murbei 1 ml/ 100 g BB Teh hitam + TDM = diinduksi aloksan dan cekok teh teh hitam + TDM 1 ml/ 100 g BB Teh hijau + TDM = diinduksi aloksan dan cekok teh teh hijau + TDM 1 ml/ 100 g BB

*)

Rata – rata selama 16 hari pengamatan dengan n=3.

**)

Berat badan hari ke 16 dikurangi dengan berat badan hari ke 0

Kelompok tikus yang mendapatkan perlakuan campuran teh hijau + TDM mengalami peningkatan berat badan paling besar, yaitu 43,20 g dibandingkan dengan pelakuan lainnya. Hal ini sejalan dengan banyaknya ransum yang dikonsumsi selama 16 hari pengamatan. Pada penelitian ini ditunjukkan bahwa peningkatan berat badan pada tikus diabetes tanpa perlakuan/kontrol negatif (25,53 g) lebih kecil dibanding tikus normal (35,43 g).

Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa ransum yang dikonsumsi oleh tikus diabetes yang diberi teh daun murbei dan campuran teh hitam + teh daun murbei adalah relatif lebih sedikit masing-masing, 149,78 g dan 145,16 g dibandingkan perlakuan lainnya. Apabila dihubungkan dengan berat badan, kelompok tikus diabetes yang diberi teh daun murbei mengalami penurunan berat badan, sedangkan tikus yang diberi campuran teh hitam + TDM justru mengalami peningkatan berat badan. Tikus diabetes yang beri teh hijau juga mengalami peningkatan berat badan pada akhir pengamatan dan ransum yang dikonsumsi jumlahnya (161,85 g) hampir sama dengan jumlah ransum yang dikonsumsi oleh

tikus normal (167,25 g). Hal ini sejalan dengan penelitian yang lakukan oleh Widowati (2007) yang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan berat badan pada tikus diabetes yang diberi perlakuan beras fungsional dengan perlakuan ekstrak teh hijau selama 36 hari pengamatan, diduga bahwa ekstrak teh hijau dapat menghambat laju penurunan berat badan pada individu yang menderita DM.

Total Volume Air Minum dan Volume Urin Tikus

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa banyaknya volume air minum linier dengan banyaknya urin yang dikeluarkan. Tikus yang diberi teh hijau + TDM paling banyak minum air (758,33 ml) selama 16 hari pengamatan (Tabel 8), sehingga volume urin yang dikeluarkan tikus yang diberi teh hijau + TDM juga paling banyak (284,67 ml). Hal ini sejalan hasil pengukuran kadar glukosa darah yang menunjukkan bahwa perlakuan teh hijau + TDM memiliki kadar glukosa darah (Gambar 13) yang masih tinggi (348,00 mg/dl) setelah 16 hari pengamatan. Tabel 8 Volume air minum dan volume urin selama 16 hari pengamatan

Perlakuan Volume Air Minum (ml)* Volume Urin (ml)*

Kontrol normal 245,17±86,37 8,07±2,60

Kontrol negatif 319,17±46,81 14,93±9,50

Teh hitam 746,83±275,25 189,03±237,09

Teh hijau 291,33±66,51 25,43±5,32

Teh daun murbei 296,83±87,69 41,63±63,92

Teh hitam+TDM 411,33±146,85 74,43±64,47

Teh hijau+TDM 788,33±647,60 284,67±285,99

Ket : Kontrol normal= tidak diinduksi aloksan dan tanpa cekok teh Kontrol negatif =diinduksi aloksan dan tanpa cekok teh

Teh hitam = diinduksi aloksan dan cekok teh hitam 1 ml/ 100 g BB Teh hijau = diinduksi aloksan dan cekok teh 1 hijau ml/ 100 g BB

Teh daun murbei = diinduksi aloksan dan cekok teh daun murbei 1 ml/ 100 g BB Teh hitam + TDM = diinduksi aloksan dan cekok teh teh hitam + TDM 1 ml/ 100 g BB Teh hijau + TDM = diinduksi aloksan dan cekok teh teh hijau + TDM 1 ml/ 100 g BB

*)

Rata – rata selama 16 hari pengamatan dengan n=3

DM ditandai dengan poliurea, polidipsia, poliphagia dan penurunan berat badan serta lemah (Hartono 2006). Bila kadar glukosa darah naik di atas 180 mg/dl, maka ginjal tidak mampu menahan sehingga sebagian glukosa dibuang melalui urin, sehingga kadar glukosa urin tinggi. Kadar glukosa urin yang tinggi dapat menarik banyak air akibat daya osmotik gula tersebut. Akibat penarikan air yang terlalu banyak, maka volume urin berlebih. Oleh karena itu penderia DM

sering kencing (poliurea). Keadaan tersebut akan mengganggu neraca air dalam tubuh, yang akhirnya dimanifestasikan oleh rasa haus secara terus – menerus (polidipsia).

Kadar Glukosa Darah Tikus Diabetes

Pemberian seduhan teh pada tikus dilakukan dengan menggunakan sonde. Penentuan dosis seduhan teh yang digunakan didasarkan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Damayanthi et al. (2008) yaitu 1 ml/hari/100 gram BB. Penentuan lamanya perlakuan didasarkan pada penelitian Damayanthi

et al. (2008) yang menggunakan 5 waktu pengukuran, yaitu pada hari ke-0, 4, 8, 12 dan 16. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa penurunan kadar glukosa darah dari hari ke-0 sampai hari ke-4 hasilnya belum nyata, sedangkan penurunan kadar glukosa darah dari baseline (hari ke-0) sampai hari ke-8, 12, dan 16 dengan uji statistik menunjukkan perbedaan yang nyata. Oleh karena itu pada penelitian ini menggunakan 3 waktu pengukuran yaitu 0 hari, 8 hari dan 16 hari.

Hasil pengujian kadar glukosa darah selama 16 hari pemberian seduhan teh terhadap kadar glukosa darah tikus yang diinduksi dengan aloksan menunujukkan bahwa terjadinya penurunan kadar glukosa darah pada hari ke-16 dibandingkan dengan hari ke-0. Penurunan kadar glukosa darah terjadi pada tikus yang mendapat perlakuan teh hitam, teh hijau, teh daun murbei dan campuran teh hitam + TDM (Gambar 13), sedangkan pada tikus dengan perlakuan campuran teh hijau + TDM justru terjadi peningkatan kadar glukosa darah pada hari ke 8 perlakuan. Bila dibandingkan dengan hari ke – 0, kadar glukosa darah tikus dengan perlakuan teh daun murbei mengalami peningkatan sebesar 2,67 mg/dl.

Dokumen terkait