• Tidak ada hasil yang ditemukan

RIWAYAT HIDUP

PENDAHULUAN Latar Belakang

Dewasa ini telah terjadi perubahan gaya hidup pada masyarakat. Salah satu diantaranya adalah pergeseran pola makan. Ada kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi makanan cepat saji atau fast food. Komposisi makanan cepat saji tersebut pada umumnya banyak mengandung karbohidrat dan lemak. Hasil studi yang dilakukan oleh Nuryati (2009) menunjukkan bahwa pria dengan umur > 45 tahun berisiko 12,7 kali lebih tinggi terkena diabetes melitus (status gizi obes) dibanding umur < 45 tahun, sedangkan wanita dengan umur > 45 tahun berisiko 13,0 kali lebih tinggi terkena diabetes melitus (status gizi obes) dibanding umur < 45 tahun.

Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang berdampak pada produktivitas dan dapat menurunkan mutu sumber daya manusia. Sejalan dengan perubahan gaya hidup, penderita DM di Indonesia diperkirakan semakin meningkat, terutama pada kelompok umur dewasa ke atas pada seluruh status sosial ekonomi (Dirjen Bina Kesmas Depkes RI 2003). Tidak seperti penyakit lain yang biasanya menunjukkan gejala penyakit yang khas dan mudah dikenali, penyakit ini agak berbeda. Lebih dari 50% penderita tidak menyadari sudah mengidap penyakit DM. Bila tidak ditangani lebih dini dan tidak dilakukan pengobatan, maka timbul berbagai macam komplikasi kronis yang sering berakibat fatal seperti penyakit jantung, ginjal, kebutaan, impotensia dan koma diabetik yang dapat menyebabkan kematian.

Menurut data National Diabetes Information Clearinghouse (2005), angka kejadian DM di Amerika Serikat mencapai 20,8 juta jiwa atau sekitar 7 persen dari seluruh populasi dan yang terdiagnosa sebanyak 14,6 juta jiwa. Menurut survei yang dilakukan oleh WHO, Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk indonesia pada tahun 1995 yaitu 4,5 juta pengidap DM, maka pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 12,4 juta penderita. Berdasarkan data Depkes (2005), jumlah pasien DM rawat inap maupun rawat jalan di rumah sakit menempati urutan pertama dari seluruh penyakit endokrin. Mengingat besarnya masalah ini, telah dibentuk

direktorat baru di Departemen Kesehatan untuk menangani penyakit tidak menular. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional 2007, memperlihatkan bahwa proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 42 persen menjadi 60 persen. Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 45 – 54 tahun menurut tipe daerah, DM menempati posisi kedua untuk wilayah perkotaan yaitu sebesar 14,7%, sedangkan untuk wilayah pedesaan menempati posisi kelima yaitu sebesar 5,8%.

DM yang tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan berbagai penyakit menahun. Langkah pertama yang harus dilakukan dalam pengelolaan DM dapat dengan perencanaan diet dan kegiatan jasmani (Ristanti 2009). Bahan alami yang telah banyak diteliti untuk mengendalikan DM adalah daun teh. Teh merupakan salah satu minuman yang terpopuler di dunia karena selain nikmat juga memberikan manfaat bagi kesehatan. Kandungan polifenol dalam teh hijau mampu menangkal radikal bebas dalam tubuh. Menurut Song et al. (2003) polifenol terutama epigalokatekin galat (EGCG) dapat melindungi kerusakan sel

pankreas dari pengaruh oksidasi. Kobayashi et al. (2000) dan Maeda et al. (2005) melakukan penelitian dengan pemberian teh hijau secara oral,

menemukan bahwa pemberian teh hijau dapat menekan kadar gula darah. EGCG pada teh hijau bekerja dengan cara menghambat transport sodium glukosa pada mukosa.

Berdasarkan penelitian Damayanthi et al. (2008) pemberian teh hijau menunjukkan secara ilmiah adanya indikasi bahwa secara in vivo mampu mengendalikan kadar glukosa darah pada tikus DM, namun hasil penelitian tersebut sangat terbatas, karena hanya dilakukan pada teh hijau. Penelitian terbaru oleh Cameron et al. (2008) tentang manfaat teh hitam untuk mengendalikan DM, menunjukkan bahwa theaflavin dan thearubigin dari teh hitam dapat meniru kerja insulin dalam mengendalikan DM. Terdapat tiga jenis theaflavin yang diidentifikasi meniru kerja insulin tersebut yaitu theaflavin 3-o-galat, theaflavin 3'-o-galat, theaflavin 3,3'di-o-galat.

Penelitian dengan menggunakan tikus diabetes yang diinduksi dengan

streptozotocin (STZ) diindikasi bahwa theaflavin dapat mencegah kehilangan -limposit dari toksisitas STZ (Gomes et al. 1995). Penelitian lain yang dilakukan

oleh Anderson & Polansky (2002), theaflavin dapat meningkatkan aktivitas insulin secara in vitro pada percobaan sel lemak epididymal. Meskipun mekanisme antihiperglikemik dari theaflavin belum jelas, aktivitas antihipeglikemik dari theflavin tidak diragukan (Wang & Li 2006).

Menurut Bambang (2006) teh hijau Indonesia merupakan produk yang unik karena diolah dari pucuk teh Camelia. sinensis var. assamica. Dibandingkan

dengan teh hijau Cina, teh hijau Indonesia berbeda bahan bakunya (C. sinensis var. sinensis). Karena perbedaan bahan baku ini, maka secara khusus

teh hijau Indonesia diduga lebih potensial menjadi minuman fungsional. Teh hijau Indonesia yang terbuat dar C. sinensis var. assamica memiliki kandungan katekin yang lebih tinggi yaitu 11,60% daripada sencha (teh hijau Jepang) yang hanya 5,06%.

Bahan alami lainnya yang dikembangkan sebagai minuman fungsional yang mempunyai khasiat antihiperglikemik adalah daun murbei. Daun murbei telah diketahui merupakan ramuan kuno obat tradisional Cina untuk mengobati pengidap penyakit DM. Menurut Asano et al. (2001) penelitian pada daun murbei (Morus alba) telah berhasil mengisolasi sekitar limabelas polyhydroxylated

alkaloids, salah satunya yaitu 1-Deoxynojirimycin (DNJ) yang mempunyai potensi berfungsi menghambat -glucosidase. Alpha-glucosidase merupakan enzim yang mengkatalisis hidrolisis ikatan pada maltose untuk menghasilkan dua molekul. Penelitian yang dilakukan oleh Damayanthi, et al. (2008) pemberian teh daun murbei dan campuran teh hijau dan teh daun murbei menunjukkan bahwa pada hari keempat pengamatan terjadi penurunan kadar glukosa pada tikus DM. Hasil penelitian Ama (2009) menunjukkan bahawa ekstrak daun murbei dapat menurunkan kadar glukosa darah dan berpengaruh nyata (p<0,05) dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus yang diinduksi dengan aloksan.

Berdasarkan informasi di atas, walaupun telah banyak penelitian tentang teh hijau dan teh hitam dalam pengendalian diabetes, tetapi penelitian tersebut menggunakan teh dengan varietas yang berbeda dengan yang digunakan di Indonesia, sedangkan penelitian menggunakan varietas yang dikembangkan di Indonesia masih terbatas. Oleh karena itu, sebagai lanjutan dari penelitian yang telah dilakukan oleh Damayanthi et al. (2008), maka penelitian ini diuji cobakan

seduhan teh hitam, teh hijau, teh daun murbei dan campuran teh hitam + TDM serta campuran teh hijau + TDM.

Tujuan Tujuan Umum

Secara umum tujuan penelitian ini untuk melihat efektifitas teh hitam, teh hijau, teh daun murbei dan campurannya dalam pengendalian kadar glukosa darah dalam rangka pencegahan penyakit DM.

Tujuan Khusus

1. Menganalisis kandungan fitokimia (theaflavin, thearubigin dan EGCG) dari teh hitam dan teh hijau

2. Menganalisis kandungan air, protein, lemak dan karbohidrat dari teh hitam, teh hijau dan teh daun murbei.

3. Menganalisis perubahan kadar glukosa darah melalui uji toleransi glukosa selama pengamatan 150 menit.

4. Membandingkan pengaruh pemberian seduhan dari teh hitam, teh hijau, teh daun murbei dan campurannya terhadap kadar glukosa darah tikus diabetes selama 16 hari pengamatan.

5. Menganalisis perubahan hemoglobin glikosilat darah tikus yang diinduksi dengan aloksan kemudian diberi seduhan dari teh hitam, teh hijau, teh daun murbei dan campurannya.

6. Menganalisis kadar insulin pada serum darah tikus yang diinduksi dengan aloksan kemudian diberi seduhan dari teh hitam, teh hijau, teh daun murbei dan campurannya.

Manfaat

1. Memperoleh perbandingan mengenai efektivitas dari teh hitam, teh hijau, teh daun murbei dan campurannya dalam mengendalikan kadar glukosa darah sebagai dasar penerapannya pada penderita diabetes.

2. Memberikan informasi ilmiah mengenai pengaruh dari pemberian seduhan dari teh hitam, teh hijau, teh daun murbei dan campurannya terhadap perubahan hemoglobin glikosilat, toleransi glukosa dan kadar insulin darah.

Hipotesis

1. Pemberian seduhan teh hitam, teh hijau, teh daun murbei dan campurannya memberikan pengaruh dalam penurunan kadar glukosa darah.

2. Pemberian seduhan dari teh hitam, teh hijau, teh daun murbei dan campurannya memberikan pengaruh pada kadar hemoglobin glikosilat dan kadar insulin pada tikus yang telah diinduksi dengan aloksan.

TINJAUAN PUSTAKA

Teh

Teh merupakan salah satu minuman terpopuler di dunia karena selain nikmat juga bermanfaat untuk kesehatan. Kombinasi antara kenikmatan dan kesehatan menjadikan teh memiliki daya saing kuat dibandingkan minuman kesegaran lainnya (Suprihatini 2007).

Perbedaan kelompok dan penamaan teh dilakukan berdasarkan cara pengolahan sebelum dan sesudah dipetik dari pohon, yaitu 1) teh hitam (black tea), yaitu teh yang dalam pengolahannya melalui proses fermentasi penuh. Sering juga dikenal dengan nama teh merah;2) teh oolong, teh ini dalam pengolahannya melalui setengah proses fermentasi; 3) teh hijau, teh ini dalam pengolahannya tidak melalui proses fermentasi, setelah daun teh dipetik langsung diolah; 4) teh putih, teh ini dalam pengolahannya tidak melalui proses oksidasi. Saat di pohon, daun teh juga terlindung dari sinar matahari agar tidak menghasilkan klorofil atau zat hijau daun, karena diproduksi lebih sedikit, sehingga harganya lebih mahal (Anonim 2008a).

Diantara keempat jenis teh di atas, ada dua bentuk teh yang paling banyak dikonsumsi, yakni teh hitam dan teh hijau. Teh hitam paling banyak dikonsumsi yaitu 69% dari total konsumsi teh dunia. Teh hijau mengandung epikatekin sebagai komponen polifenol utama yang memiliki aroma khas teh hijau, sedangkan pada teh hitam selain mengandung katekin, juga mengandung theaflavin (TF) dan thearubigin (TR) sebagai hasil dari proses oksidasi enzimatik yang juga merupakan suatu antioksidan kuat yang memiliki manfaat khusus bagi kesehatan (Suprihatini 2007; Silalahi 2006).

Katekin yang mendominasi ±20% berat kering teh merupakan substansi utama yang menyebabkan teh memenuhi persyaratan sebagai minuman

fungsional. Senyawa ini dikandung lebih banyak pada pucuk tanaman teh

Camelia sinensis varietas assamica dibandingkan varietas sinensis. Teh hitam lebih sedikit mengandung katekin daripada teh hijau karena dalam proses pengolahannya sengaja mengoksidasi katekin untuk memperbaiki warna, rasa, dan aromanya. Karena kondisi tanah dan iklim lingkungannya, hampir 100% tanaman teh di Indonesia adalah C. sinensis varietas assamica . Pucuk teh yang dihasilkan

tanaman tersebut 80% diolah menjadi teh hitam, sedangkan sisanya diolah menjadi teh hijau (Bambang 2006).

Teh Hitam

Berdasarkan sistem pengolahannya, teh hitam di Indonesia dapat dibagi menjadi dua, yaitu 1) sistem ortodoks terdiri atas ortodoks murni dan ortodoks rotorvane; 2) sistem baru, seperti crushing, tearing and curling (CTC). Pengolahan teh CTC di Indonesia mulai dicoba di Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung sejak awal 1984. Perbedaan teh hitam ortodoks dan CTC dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbedaan Teh Hitam Ortodoks dan CTC

Uraian Ortodoks CTC Bentuk Cita rasa Penyajian Kebutuhan penyeduhan Agak pipih Kuat Lambat 400-500 cangkir/kg teh Butiran Kurang Cepat 800-1000 cangkir/kg teh Sumber : PPTK (2008)

Mesin giling yang digunakan dalam pembuatan teh merupakan gabungan sistem giling CTC Kenya dan India Utara (Doars). Pada proses oksidasi enzimatis dipakai continuous fermenting machine, sedangkan pengeringan teh pada umumnya menggunakan fluid bed dryer 6 section. Pengolahan teh hitam secara CTC meliputi pelayuan, pengayakan pucuk layu, penggilingan persiapan, penggilingan CTC, oksidasi, pengeringan dan sortasi kering (Gambar 1).

Jumlah substansi theaflavin dan thearubigin yang dihasilkan selama proses oksidasi akan menentukan sifat air seduhan yang sering digambarkan oleh tea taster sebagai colour, strength, quality dan briskness. Komposisi terbaik antara theaflavin dengan thearubigin teh hasil olahan orthodoks adalah 1/10 sampai 1/12. Teh akan kehilangan briskness dan strength pada komposisi ratio theaflavin dengan thearubigin lebih besar atau sama dengan 1/20. Selama proses ini berlangsung terjadi perubahan warna dari hijau ke coklat dan kemudian menjadi hitam. Perubahan warna ini dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan tingkat oksidasi polifenol yang optimun (Tadjudin 2007).

Gambar 1. Diagram Alir Proses Pengolahan Teh Hitam CTC(PPTK 2008) Terdapat tiga jenis theaflavinyang diidentifikasi yaitu theaflavin 3-o-galat, theaflavin 3'-o-galat, theaflavin 3,3'di-o-galat. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa katekin dan theaflavin memiliki aktivitas menangkal radikal bebas secara

in vitro dan in vivo. Kehadiran theaflavin dalam teh hitam memiliki potensi antioksidan yang sedikitnya sama dengan katekin yang ada dalam teh hijau dan konversi dari katekin menjadi theaflavin selama fermentasi dalam pembuatan teh hitam, tidak merubah secara signifikan aktivitas radikal bebasnya (Leung et al. 2001).

BAHAN BAKU

PELAYUAN

PENGAYAKAN PUCUK LAYU

PENGGILINGAN PERSIAPAN PENGGILINGAN CTC OKSIDASI PENGERINGAN SORTASI KERING PENGEMASAN

Gamba

Konsumsi teh resiko penyakit jantu konsumsi satu sampa hari akan menguran komsumsi kafein (Ga Diantara sekia dipublikasikan adalah tekanan darah tinggi hitam yang sangat pen (Suprihatini 2007). menunjukkan bahwa melitus. Zat aktif y thearubigin dapat men Teh Hijau

Kualitas teh hi pengolahan teh hijau pelayuan untuk meng tidak teroksidasi. Pro 80-100 0C selama 5 m teh hijau yang dihasil

bar 2. Struktur kimia Theaflavin dan Thearubig (Mukhtar & Ahmad 2008)

eh hitam 3 gelas per hari dihubungkan deng ntung koroner dan meningkatkan status anti pai enam gelas per hari. Konsumsi maksimal d angi beberapa resiko yang berhubungan de

ardner 2007).

kian banyak manfaat teh bagi kesehatan, yang lah manfaatnya untuk mencegah dan mengen gi dan kesehatan jantung. Manfaat teh lainnya penting untuk mengendalikan diabetes belum b ). Studi yang dilakukan oleh Cameron

a teh hitam dapat digunakan untuk mengend yang terkandung dalam teh hitam berupa

eniru kerja insulin.

hijau ditentukan oleh kualitas kandungan kate au yang paling menentukan kandungan kateki ngaktivasi enzim polifenol oksidase, sehingga s

roses pelayuan dengan cara steaming (pemb menit) memberikan kandungan katekin yang l silkan (Gambar 3).

igin

ngan pengurangan ntioksidan dengan l delapan gelas per dengan kelebihan ng paling banyak endalikan kanker, ya khususnya teh banyak diketahui n et al. (2008) ndalikan diabetes theaflavin dan

tekin. Pada proses kin adalah proses a senyawa katekin berian uap panas g lebih tinggi pada

Gambar 3 Proses pengolahan teh hijau berkatekin tinggi (Damayanthi et al. 2008; PPTK 2008)

Ekstrak daun teh hijau (green tea extract/GTE) mengandung sejumlah kompenen termasuk katekin, saponin dan flavanoid. Katekin dapat mengurangi tekanan darah, oksidasi selular dan mutasi, kadar glukosa darah dan absorpsi kolesterol. Saponin dan flavanoid juga memiliki manfaat kesehatan. Oleh karena itu, konsumsi GTE akan mencegah atau menunda onset dari penyakit seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes dan kanker (Shirai & Suzuki 2004). Menurut Polychronopoulus et al. (2008) konsumsi teh dihubungkan dengan pengurangan tingkat glukosa darah dari glukosa darah setelah puasa hanya pada pada orang tua (usia lanjut) yang tidak obes.

Efek kesehatan dari teh hijau terutama dikaitkan dengan kandungan polifenol. Teh hijau merupakan sumber yang kaya akan polifenol terutama flavanol dan flavonol, yang setara 30% dari berat daun kering. Katekin merupakan bentuk utama dari flavanol yang terdiri dari epigalokatekin galat (EGCG), epigalokatekin (EGC), epikatekin galat (ECG) dan epikatekin (EC) (Gambar 4). Beberapa penelitian yang terbaru menyatakan bahwa efek dari teh hijau sebagian besar dikaitkan dengan katekin, yaitu EGCG. Penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa penggunaan EGCG mempunyai potensi efek antiobesitas pada tikus percobaan yang obes karena pola makan, yang merupakan dampak langsung dari EGCG pada jaringan adipose (Wolfram et al. 2006).

Studi yang dilakukan oleh Waltner-Lat et al. (2002) menunjukkan bukti in vitro bahwa EGCG menurunkan produksi glukosa dari H4IIE sel hepatoma tikus. Pada penelitian ini diperlihatkan bahwa EGCG menyerupai insulin yaitu meningkatkan fosfolirasi tirosin dari reseptor insulin dan substrat reseptor insulin dan mengurangi ekspresi gen dari enzim glukonegenik PEPCK (phosphoenolpyruvate carboxykinase). Jika efek ini relevan untuk pengamatan

in vivo, maka EGCG memiliki potensi untuk digunakan sebagai antidiabetes. Potenza et al. (2007) EGCG, polifenol teh hijau dapat meningkatkan fungsi

endotelial dan sensitivitas insulin, mengurangi tekanan darah. Penelitian yang dilakukan Collins et al. (2007) menyatakan bahwa EGCG menekan glukoneogenesis hepatik melalui 5’-AMP-activated Protein Kinase (AMPK) dengan memblokade aktivitas AMPK.

Gambar 4 Stuktur Kimia Polifenol Teh Hijau (Kobayashi et al. 2000) Dosis Teh

Bahan alami yang telah banyak diteliti untuk mengendalikan DM adalah daun teh. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan teh dalam bentuk seduhan, ekstrak maupun zat aktif misalnya epigalokatekin galat (EGCG).

Pemberian polifenol teh hijau (500 mg/kg berat badan) pada tikus normal meningkatkan toleransi glukosa secara signifikan pada menit ke 60. polifenol teh hijau juga ditemukan mengurangi level serum glukosa pada tikus diabetes melitus yang diinduksi oleh aloksan dengan signifikan pada level dosis 100 mg/kg berat badan. Selanjutnya pemberian setiap hari selama 15 hari dari ekstrak 50, 100 mg/kg berat badan menghasilkan 29-44% pengurangan dari peningkatan level serum glukosa yang disebabkan oleh pemberian aloksan (Sabu et al. 2002).

Studi yang dilakukan oleh Shokrzadeh et al. (2006) menunjukkan bahwa dengan pemberian 450 mg/kg ekstrak daun teh hijau encer menunjukkan efek

yang kuat dalam menurunkan kadar glukosa darah setelah pemberian secara oral pada tikus. Pemberian EGCG 200 mg/kg BB/hari dapat meningkatkan sensitivitas insulin (Potenza et al. 2007).

Damayanthi et al. (2008) dalam studinya menggunakan dosis seduhan teh hijau dan teh daun murbei dengan berat masing – masing 20 g serta campuran teh hijau + teh daun murbei (1:1), diseduh dengan air panas 70-80 0C selama 15 menit. Hasil dari studi tersebut menunjukkan bahwa teh hijau, teh daun murbei dan campurannya dapat mengendalikan kadar glukosa darah tikus DM secara in vivo. Studi yang dilakukan Widowati (2007) menunjukkan bahwa suhu ekstraksi berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan teh, sehingga kondisi ekstraksi yang dipilih adalah suhu 85 0C, perbandingan teh dengan air 10:100 b/v dan waktu ekstraksi 8 menit. Hal ini karena pada kondisi ekstrasi tersebut memiliki aktivitas antioksidan yang sama dengan trolox 9,42 mM.

Murbei

Murbei (Morus alba L.) termasuk dalam famili moraceae, dan berasal dari Cina. Tanaman murbei tumbuh baik pada ketinggian lebih dari 100 m dpl. dan memerlukan cukup sinar matahari. Tumbuhan yang sudah dibudidayakan ini menyukai daerah-daerah yang cukup basa seperti lereng gunung dan tanah yang berdrainase baik. Tanaman ini kadang ditemukan tumbuh liar. Murbei dikenal dengan nama yang berbeda-beda, seperti besaran (Indonesia); murbai, besaran (Jawa); kerta, kitau (Sumatera); sangye (China); may mon, dau tam (Vietnam);

morus leaf, morus bark, morus fruit, mulberry leaf, mulberry bark, mulberry twigs, white mulberry, mulberry (Inggris) (Dalimartha 2000).

Tanaman murbei dengan nama latin Morus alba L dikenal sebagai pakan ulat sutera dalam aktivitas persuteraan alam. Daun murbei juga merupakan ramuan kuno obat tradisional Cina untuk mengobati berbagai penyakit, salah satunya diabetes melitus. Menurut penelitian Kim et al. (2006) pemberian ekstrak daun murbei pada tikus DM, secara nyata dapat menurunkan kadar glukosa darah. Penurunan kadar glukosa darah pada tikus DM yang diberi ekstrak daun murbei lebih baik daripada glibenclamide (obat anti diabetes).

Studi yang dilakukan oleh Zhong et al. (2006) terhadap campuran ekstrak teh hijau (0.1 g), teh hitam (0.1 g), dan teh daun murbei (1.0 g), menemukan komponen 1-deoxynojirimycin (DNJ) 5 mg, Epikatekin galat 100 mg, epigalokatekin galat 300 mg, dan theaflavin 100 mg. Senyawa DNJ merupakan zat aktif yang dari daun murbei. Epikatekin galat dan epigalokatekin galat merupakan polifenol yang terdapat dalam teh hijau, sedangkan theaflavin merupakan kandungan yang berasal dari teh hitam.

Penemuan tentang senyawa (DNJ) yang berhasil diisolasi dari tanaman murbei dan ditemukan tepatnya terkandung di dalam getahnya. Senyawa acarbose

yang mirip dengan glukosa dapat menghambat aktivitas - glukosidase dengan cara mengintervensi proses hidrolisis karbohidrat sehingga menghambat penyerapan glukosa dan monosakarida – monosakarida lainnya. Senyawa

acarbose dan DNJ, keduanya mempunyai mekanisme kerja yang sama dalam menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes yaitu menghambat aktivitas enzim - glukosidase yang berfungsi memecah senyawa polisakarida menjadi monomer – monomer glukosa (Sofian 2005).

Diabetes Mellitus

Kelainan yang disebabkan oleh defisiensi insulin disebut diabetes melitus (Ganong 2002). Menurut Dallimunthe (2004) penyakit DM telah diketahui sejak ribuan tahun sebelum masehi. Ebers Papyurus menuliskan bahwa di Mesir sekitar tahun 1550 Sebelum Masehi ditemukan suatu penyakit yang ditandai dengan banyak kencing. Sebagian besar kasus DM disebabkan oleh rusaknya sel pankreas sehingga produksi insulin menjadi terhambat atau tidak ada sama sekali. Beberapa ahli berpendapat bahwa dengan meningkatnya umur, maka intoleransi terhadap glukosa juga meningkat.

Intoleransi glukosa pada usia lanjut berkaitan dengan obesitas, aktivitas fisik yang kurang, berkurangnya massa otot, penyakit penyerta, penggunaan obat – obatan, sehingga terjadi penurunan sekresi insulin dan resistensi insulin (Misnadiarly 2006). DM merupakan penyakit yang diturunkan atau diwariskan, bukan ditularkan. Para ahli kesehatan juga menyebutkan DM merupakan penyakit yang terpaut kromosom seks atau kelamin. Faktor herediter sering kali pula

penyebab timbulnya DM melalui peningkatan kerentanan sel – sel terhadap penghancuran oleh virus atau mempermudah perkembangan antibodi autoimun melawan sel – sel , sehingga mengarah pada penghancuran sel – sel .

Gejala klinis DM meliputi gejala – gejala pada stadium kompensasi dan dekompensasi pankreas, serta gejala – gejala kronik lainnya. Gejala – gejala pada stadium kompensasi, misalnya polifagia, poliuria, polidipsia dan penurunan berat badan. Adanya gejala klinis hiperglikemia dan glukosuria akan menyebabkan tekanan osmotik di dalam tubuli ginjal naik dan menghambat rearbsorsi air sehingga menyebabkan poliuria dan akibat adanya poliuria akan terus menerus menyebabkan dehidrasi tingkat jaringan. Penderita DM tidak dapat menggunakan glukosa dalam darah dan akan menggunakan lemak tubuhnya untuk mengganti energi atau makanan bagi sel, sehingga terjadi ketonemia dan ketonuria dan tubuh terlihat kurus. Adanya badan – badan keton di dalam darah akan menimbulkan terjadinya asidosis, sehingga frekuensi nafas meningkat dan penderita mengalami koma (Ressang 1984).

Cara umum yang digunakan untuk mendiagnosa penyakit DM didasarkan pada berbagai tes kimiawi terhadap urin dan darah (Guyton & John 1997). Pemeriksaan glukosa urin melalui tes sederhana atau kuantitatif laboratorium, dapat digunakan untuk menentukan jumlah glukosa yang hilang dalam urin.

American Diabetes Association (ADA) menggunakan tiga standar untuk

Dokumen terkait