• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE JINAYAH INVESTIGATION PROBLEM IN ACEH

MOHD. DIN

C. Hasil dan Pembahasan

Tata kelola pemerintahan memerlukan bebeberapa agenda untuk menuju pemerintahan yang baik (good governance), salah satu agenda tersebut adalah agenda hukum, termasuk di dalamnya penegakan hukum. Hukum merupakan faktor penting dalam penegakan good governence. Kekurangan

1 Mukti Fajar ND, Yulianto Ahmad, Dualisme Penelitian Hukum:

Problematika Penyidikan Perkara Jinayah Di Aceh – Mohd. Din

atau kelemahan sistim hukum akan berpengaruh besar terhadap kinerja pemerintahan secara keseluruhan. Disentralisasi sebagai salah satu prinsif di dalam tata kelola pemerintaha yang baik memerlukan dasar pijakan berupa aturan hukum yang menjadi pegangan bagi apratur pemerintahan, termasuk aparatur penegak hukum, menuju kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan akhir dari Negara Republik Indonesia.

Provensi Aceh, melalui beberapa perundang-undangan, dan terakhir dengan undang-undang Nomor 11 tahun 2006, telah diberikan otonomi khusus. salah satu dari kekhususan itu adalah Pelaksanaan syariat Islam. untuk pelaksanaan syariat Islam ini telah ditetapkan beberapa Qanun jinayah2 (Qanun-qanun syariat yang memuat ketentuan pidana) dan proses peradilannya dilakukan di dalam Sistem Peradilan Pidana (Sistem peradilan Jinayah) yang salah satu sub-sistemnya berbeda dengan sub-sistem peradilan pidana pada umumnya, yaitu adanya lembaga yang dikenal dengan Wilayatul Hisbah (WH) dan di dalamnya terdapatan PPNS

Istilah Sistem Peradilan Jinayah digunakan hanya sekadar mengganti istilah Sistem Peradilan Pidana3. Sistem Peradilan Pidana yang dalam bahasa Inggrisnya disebut Criminal Justice System adalah suatu sistem berprosesnya suatu peradilan pidana, masing-masing komponen fungsi yang

2 Mohd. Din. Stimulasi Pembangunan Hukum Pidana Nasional,

Dari Aceh Untuk Idonesia. UNPAD Press. Bandung. 2009. hlm. 9.

3 Mohd. Din. “Sistem Peradilan Jinayah Aceh”. Mondial, vol. 13 No. 22 Edisi Juli_Desember 2010. hal. 93-105.

128

terdiri dari kepolisian sebagai penyidik, kejaksaan sebagai penuntut umum, pengadilan sebagai pihak yang mengadili dan lembaga pemasyarakatan yang berfungsi untuk memasyarakatkan kembali para narapidana, yang bekerja secara bersama-sama, terpadu di dalam usaha untuk mencapai tujuan bersama, yaitu untuk menanggulangi kejahatan.

Dalam Sistem Peradilan Pidana, terdapat beberapa institusi penegak hukum yang ikut mengambil peran dalam menjunjung dan menegakkan hukum, di antaranya adalah institusi Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan. Keempat sub-sistem itu pun seharusnya dapat bekerja sama dan berkoordinasi dengan baik untuk mencapai tujuan dalam sistem ini, yaitu menanggulangi kejahatan atau mengendalikan terjadinya kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi yang dapat diterima masyarakat4. Tugas sistem peradilan pidana ini memang sangat luas karena di dalamnya termasuk: (a) mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan, (b) menyelesaikan kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana, serta (c) berusaha agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi perbuatannya.5

4 Norval Morris, “Introduction”, dalam Criminal Justice in Asia,

Quest for an Integrated Approach, (Newyork : UNAFEI, 1982), hal. 5.

5 Mardjono Reksodiputro, Kriminologi dan Sistem Peradilan

Pidana. Kumpulan Karangan Buku Kedua, (Jakarta : Pusat Pelayanan

Problematika Penyidikan Perkara Jinayah Di Aceh – Mohd. Din

Pada prinsipnya Sistem Peradilan Jinayah adalah sama dengan Sistem Peradilan Pidana, kecuali pemeriksaan sidang pengadilan yang dilakukan di lingkungan peradilan Agama yang di Aceh dikenal dengan Mahkamah Syar’iyah. Sedangkan penyidikan dan penuntutan tetap berada di tangan kepolisian dan kejaksaan. Begitu juga dengan eksekusi. Namun pada penyidikan dan eksekusi terdapat adanya WH.

Peralihan fungsi Pengadilan Agama, semula dilakukan melalui Keppres No. 11 tahun 2003. Kepres ini telah mengesahkan Mahkamah Syar’iyah (MS) langsung menggantikan fungsi dan wewenang Pengadilan Agama yang ada di Aceh. Sementara Mahkamah Syar’iyah Provinsi menggantikan fungsi Pengadilan Tinggi Agama. Berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. B2/2/449/2003, ada 19 Pengadilan Agama yang diresmikan menjadi Mahkamah Syar’iyah. Masing-masing di Banda Aceh, Jantho, Sigli, Lhoksukon, Lhokseumawe, Calang, Meulaboh, Kutacane, Tapaktuan, Bireun, Pidie, Kualasimpang, Sinabang, Singkil, Meureudu, Langsa, Takengon, Sabang dan Blangkejeren.6

Pengalihan fungsi dan wewenang pengadilan itu sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Berdasarkan Undang-Undang ini, MS dijadikan sebagai peradilan syariat Islam

6 Pelaksanaan Mahkamah Syari'ah di Aceh Masih Terganjal.

130

dengan kompetensi absolut meliputi seluruh aspek syariat Islam, yang pengaturannya dibuat dalam bentuk qanun. Kemudian, dengan lahirnya Undang-undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, ketentuan mengenai Sistem Peradilan Jinayah terdapat di dalam BAB XVIII Mahkamah Syar’iyah, BAB XXVI Kepolisian, dan BAB XXVII Kejaksaan.

Terkait dengan kewenangan Wilayatul Hisbah, maka Pasal 133 Undang-undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh menyatakan “Tugas penyelidikan dan penyidikan untuk penegakan syari’at Islam yang menjadi kewenangan Mahkamah Syar’iyah sepanjang mengenai jinayah dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil.” Pasal ini berkaitan erat dengan Pasal 244 dan 245 yang berisi tentang ketentuan bahwa dalam menegakkan Qanun Syar’iyah, Gubernur, bupati/walikota dapat membentuk unit Polisi Wilayatul Hisbah sebagai bagian dari Satuan Polisi Pamong Praja, dan Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dapat diangkat sebagai Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) serta penegasan bahwa Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas qanun dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut umum sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Ketentuan tersebut menunjukkan penyelidikan dan penyidikan akan dilakukan oleh pejabat kepolisan Negara Republik Indonesia dan pejabat PPNS. Tugas penegakan

Problematika Penyidikan Perkara Jinayah Di Aceh – Mohd. Din

qanun untuk penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat, akan dilaksanakan oleh Satpol PP, sedangkan tugas menegakkan qanun Syar’iyah dalam pelaksanaan syari’at Islam dapat membentuk unit Polisi WH sebagai bagian dari Satuan Polisi Pamong Praja. Mengenai tata cara pengangkatan, persyaratan dan pendidikan PPNS, begitu pula tata cara pembentukan dan penyusunan organisasi Satpol PP termasuk unit WH akan diatur dengan qanun.

Pemberian kewenangan kepada PPNS dan Satpol PP untuk menegakkan dan menyidik pelanggaran atas perundang-undangan, seperti qanun Aceh di bidang syariat Islam, bukanlah suatu yang khusus untuk Aceh saja, tetapi merupakan aturan yang berlaku secara nasional, yang diberikan kepada PPNS di setiap Provinsi untuk menegakan PERDA di daerah mereka masing-masing. Namun penguatan lembaga PPNS untuk penegakan syariat Islam dalam hal ini WH sangat diperlukan karena hukum yang akan berlaku di Aceh nanti relatif akan berbeda dengan aturan yang ada dalam hukum pidana materil dan formil yang berlaku secara nasional. Dengan demikian tugas penegakan hukum yang berdasar syariat Islam, yang merupakan hukum lokal akan membebani anggota kepolisian yang bertugas di Aceh kalau mereka tidak dibekali secara memadai tentang hukum yang berlaku di Aceh.

Pengaturan mengenai penyikikan terdapat di dalam Pasal 6 Qanun no 7 tahun 2013 tentang hukum acara jinayah “Penyelidik merupakan Pejabat Polri dan PPNS yang telah

132

diberi wewenang oleh Undang-Undang dan/atau Qanun untuk melakukan penyelidikan. Ketentuan ini pada prinsipnya sama dengan ketentuan di dalam KUHAP.

WH sebagai garda terdepan di dalam pelaksanaan syariat Islam yang fungsinya melekat pada fungsi kepolisian sangat menetukan di dalam berhasil atau tidaknya Provinsi Aceh di dalam mengawal pelaksanaan Syariat Islam sebagai salah satu kekhususan di dalam Otonomi Khusus untuk Aceh. Perberdayaan lembaga ini harus didukung oleh segenap sub-sistem di dalam pembangunan hukum yang terdiri dari materi hukum, lembaga dan budaya hukum.

Dikaitkan dengan kerangka pembangnan hukum tersebut, maka upaya yang dilakukan sehubungan dengan pemberian otonomi khusus bagi Aceh dengan salah satu kekhususannya pelaksanaan syariat Islam. penetapan qanun adalah merupakan salah satu unsur dari pembangunan hukum,yaitu materi hukum. Salah satu unsur lain yang harus diperhatikan adalah pembanguan aparatur hukum. “Hakekat pembangunan hukum adalah pembangunan terhadap komponen-komponen sistemnya secara utuh dan menyeluruh”.7 Pembangunan Hukum bukan hanya diartikan sebagai pembangunan materi hukum semata, seperti yang dikemukakan Gunther Teubner:

“Legal development is not identified exclusively with the unfolding of norms, principles, and basic concepts of law.

7 Lili Rasjidi dan I.B. Wyasa Putra.. Hukum Sebagai Suatu

Problematika Penyidikan Perkara Jinayah Di Aceh – Mohd. Din

Rather, it is determined by the dynamic interplay of social forces, institutional constraints, organizational structures, and last but not least – conceptual potentials”8

Setiap sistem hukum mempunyai tiga unsur yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi antara satu sama lain. Ketiga unsur tersebut adalah substansi hukum, struktur hukum dan budaya hukum. Unsur-unsur ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Lawrence M. Friedman, mengibaratkan unsur subtansi, struktur dan budaya hukum seperti mesin.9 [1] Substansi adalah apa yang dihasilkan atau dikerjakan oleh mesin. Budaya hukum adalah apa saja atau siapa saja yang memutuskan untuk menghidupkan atau mematikan mesin itu serta memutuskan bagaimana mesin itu digunakan. Struktur sistem hukum berkaitan dengan hal penegakan hukum (legal enforcement), yaitu bagaimana substansi hukum itu ditegakkan dan dipertahankan. Struktur sistem hukum berpaut dengan sistem peradilan yang diwujudkan melalui aparatur hukum seperti hakim, jaksa, advokat, jurusita, polisi dan termasuk juga susunan peradilan serta kewenangan atau jurisdiksinya.

8 Gunther Teubner, “Substantive and Reflexive Elements in Modern Law”, Law and Society Reviem, Vol. 17, No. 2 1983. h. 247. Dalam Abdul Gani Abdullah .”Kebijakan Pembangunan Hukum Nasional” Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI. Jakarta. 2005. Hal. 3.

9 Lawrence M. Friedman, American Law, W.W. Norton & Company, New York-London, 1984, hl. 5-7.

134

Aparatur hukum merupakan komponen the structure of legal system.

WH yang diadopsi dari istilah penegakan hukum Islam diharapkan akan dapat menjalankan fungsinya dengan ideal. Kewenangan peradilan (al-qadha) dalam sistem pemerintah Islam, terbagi ke dalam tiga wilayah, yaitu wilayah mazhalim, wilayah qadha, dan wilayah hisbah. Wilayah Mazalim adalah lembaga peradilan yang menangani kasus kezaliman para penguasa dan keluarganya terhadap hak-hak rakyat.10 wilayah qadha secara harfiah berarti kekuasaan peradilan/kehakiman.11

Dalam fiqih Islam, wilayah al-qada adalah salah satu bentuk dari lembaga peradilan dengan kekuasaan menyelesaikan berbagai kasus. Sedangkan Wilayah Hisbah diangkat oleh Sulthan (Pemerintah) khusus menangani masalah moral dan kesusilaan.12 Dengan demikian WH merupakan salah satu sub-sistem di antara sub-sub-sistem lainnya, yaitu wilayah mazhalim dan wilayah qadha.

WH bukanlah lembaga baru dalam negara Islam. Sejak masa Rasulullah SAW, tradisi Hisbah telah dipraktekkan oleh

10 Abdul Azis Dahlan dkk, Ensiklopedi Hukum Islam, Iktiar Baru Van Hoove, 1996, hal 1941

11 Ibid, hal 1943

12Bernard Lewis, The Middle East: A Brief History of The Last

2000 Years, New York: Scribner, 1995, hal. 66, Ross E. Dunn, The Adventure of Ibn Batutah, a Muslim Traveller of The Fourteenth Century,California: University of California Press, 1986, hal. 188,

Al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyah, Mesir: Dar al-Fikr, TT, hal. 240, dalam Iin Solikhin, Wilayah Hisbah dalam Tinjauan Historis Pemerintahan Islam , Ibda`, Vol. 3, No. 1, Jan-Jun 2005, hal. 33-44

Problematika Penyidikan Perkara Jinayah Di Aceh – Mohd. Din

Rasul dan diikuti oleh para sahabat. “Tradisi hisbah diletakkan langsung oleh Rasulullah SAW, beliau sendiri yang menjadi Muhtasib pertama dalam Islam. Sering kali beliau masuk kepasar Madinah untuk mengawasi aktivitas jual beli. Rasulullah SAW juga mendelegasikan tugas tersebut kepada sahabat, sehingga pendelegasian tersebutlah menjadi cikal bakal dari lahirnya Wilayatul Hisbah”.13

Hasil penelitian tentang WH dalam Tesis yang berjudul “Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Wilayatul Hisbah di dalam Penegakkan Hukum di Provinsi Aceh” di bawah bimbingan penulis antara lain menyebutkan bahwa “Berdasarkan sejarah pembentukan Wilayatul Hisbah, maka pembentukan WIlayatul Hisbah tidak boleh parsial, Karena Wilayatul Hisbah merupakan pelengkap dan bagian dari Wilayatul Mazhalim dan Wilayatul Qadha.”14 dan penelitian “Pelaksanaan Kebijakan Penegakan Qanun Oleh Sat Pol Pp dan Wilayatul Hisbah”. Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM. Provinsi Aceh. 2010. antara lain ditemukan bahwa organisasi Wilayatul Hisbah dan Satpol PP di beberapa daerah Kabpaten Kota di Aceh tidak seragam, ada yang berada di bawah Dinas syari’ah dan ada yang digabungkan dengan Satpol PP. yang merupakan salah satu kendala bagi WH tidak

13 Hafas Furqani, Beberapa Catatan Tentang Waliyatul Hisbah, www.acehinstitute.org/opini, download Tanggal 21 februari 2008.

14 Akhyar Saputra. ”Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Wilayatul Hisbah di dalam penegakkan Hukum di Provinsi Aceh”. Tesis. Magister Ilmu Hukum, UNSYIAH. 2011. hal 121.

136

dapat bekerja secara optimal dan masih terdapat oknum Satpol PP dan WH yang tidak profesional di dalam melaksanakan tugasnya.15 disertasi Kebijakan Pidana Qanun Nangroe Aceh Darussalam dalam Sistem Hukum Pidana Nasional. Kemudian pada Acara Kegiatan Bimbingan Teknis Qanun Jinayat Dan Acara Jinayat Bagi Instansi Terkait Tanggal 24 S/D 27 Juni 2019 Di Hotel Bayu Hill Takengon Kabupaten Aceh, terungkap bahwa tidak semua kabupaten kota di Aceh memiliki PPNS terkait dengan penegakan Qanun jinayah, di samping juga di Kabupaten kota yang sudah memiliki PPNS juga jumlahnya masih terbatas.

Dari uraia di atas, maka terkait dengan sumber daya manusia atau kelembagaan masih dirasakan memberi pengaruh besar di dalam pelaksanaan Qanun Jinayah, baik terkait kwalitas maupun kuantitas.

D. Kesimpulan

Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam penyidikan perkara jinayah meliputi semua komponen hukum atau system hukum, yaitu materi hukum yang mendasari berjalannya system peradilan menyangkut dengan keberadaan PPNS yang menjadi penyidik, struktur atau kelembagaan yang

15 Mohd. Din dkk. “Pelaksanaan Kebijakan Penegakan Qanun Oleh Sat Pol Pp Dan Wilayatul Hisbah”. Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM. Provinsi Aceh. 2010. hal. 60.

Problematika Penyidikan Perkara Jinayah Di Aceh – Mohd. Din

berisi sumber daya manusia yang terbatas, serta budaya masyarakat.

E. Daftar Pustaka

Abdul Azis Dahlan dkk, Ensiklopedi Hukum Islam, Iktiar Baru Van Hoove, 1996,

Akhyar Saputra. ”Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Wilayatul Hisbah di dalam penegakkan Hukum di Provinsi Aceh”. Tesis. Magister Ilmu Hukum, UNSYIAH. 2011.

Bernard Lewis, The Middle East: A Brief History of The Last 2000 Years, New York: Scribner, 1995, hal. 66, Ross E. Dunn, The Adventure of Ibn Batutah, a Muslim Traveller of The Fourteenth Century,California: University of California Press, 1986, hal. 188, Al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyah, Mesir: Dar al-Fikr, TT, hal. 240, dalam Iin Solikhin, Wilayah Hisbah dalam Tinjauan Historis Pemerintahan Islam , Ibda`, Vol. 3, No. 1, Jan-Jun 2005. Gunther Teubner, “Substantive and Reflexive Elements in Modern Law”, Law and Society Reviem, Vol. 17, No. 2 1983. h. 247. Dalam Abdul Gani Abdullah .”Kebijakan Pembangunan Hukum Nasional” Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI. Jakarta. 2005.

Hafas Furqani, Beberapa Catatan Tentang Waliyatul Hisbah, www.acehinstitute.org/opini, download Tanggal 21 februari 2008.

Lili Rasjidi dan I.B. Wyasa Putra.. Hukum Sebagai Suatu Sistem, Mandar Maju, Bandung. 2003.

Lawrence M. Friedman, American Law, W.W. Norton & Company, New York-London, 1984.

138

Mardjono Reksodiputro, Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana. Kumpulan Karangan Buku Kedua, (Jakarta : Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum, 1994).

Mohd. Din. Stimulasi Pembangunan Hukum Pidana Nasional, Dari Aceh Untuk Idonesia. UNPAD Press. Bandung. 2009.

Mohd. Din. “Sistem Peradilan Jinayah Aceh”. Mondial, vol. 13 No. 22 Edisi Juli_Desember 2010.

Mohd. Din dkk. “Pelaksanaan Kebijakan Penegakan Qanun Oleh Sat Pol Pp Dan Wilayatul Hisbah”. Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM. Provinsi Aceh. 2010. Mukti Fajar ND, Yulianto Ahmad, Dualisme Penelitian

Hukum: Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Jakarta, 2010.

Norval Morris, “Introduction”, dalam Criminal Justice in Asia, Quest for an Integrated Approach, (Newyork : UNAFEI, 1982),

PELAKSANAAN DIVERSI PADA SISTEM