PDIH Universitas Jayabaya Jakarta
Jl. Pulomas Selatan Kav. No.23, Kayu Putih, Kec. Pulo Gadung, Jakarta Timur
Email: [email protected]
ABSTRAK
Peradilan Syariat Islam di Aceh dilaksanakan oleh Mahkamah Syariah. Dalam Qanun No. 6 Tahun 2014 diuraikan ketentuan pemidanaan bagi anak yang melakukan atau diduga melakukan Jarimah, sehingga diketahui adanya penegakan hukum Jinayah yang melibatkan anak sebagai pelaku di Mahkamah Syariah Aceh. Permasalahan yaitu bagaimana penegakan hukum Jinayah berdasarkan Qonun Aceh No. 6 Tahun 2014 untuk pelaku anak di wilayah hukum Mahkamah Syariah Aceh? Proses peradilan pidana anak pada prinsipnya berupaya untuk melindungi kepentingan terbaik bagi anak bukan pada penghukuman, melainkan perbaikan kondisi, pemeliharaan dan perlindungan anak. Secara normatif UUSPA merefleksikan keadilan restoratif sebagai suatu usaha untuk mencari penyelesaian konflik secara damai di luar pengadilan. Terkait diversi, tujuannya untuk menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dapat dihindari sehingga harapannya anak tersebut dapat kembali berinteraksi di lingkungan sosialnya dengan normal. Dipandang urgen peran pemerintah daerah dalam peningkatan pemberdayaan dan penguatan kapasitas dan
140
kompetensi para penegak hukum di Provinsi Aceh dalam penanganan perkara anak.
Kata kunci: diversi, anak, mahkamah Syariah
ABSTRACT
The Islamic Sharia Court in Aceh is implemented by the Sharia Court. In Qanun No. 6 of 2014 outlines the provisions on criminal punishment for children who commit or are suspected of committing Jarimah, so that Jinayah law enforcement involves children as perpetrators in the Aceh Syariah Court. The problem is how to enforce Jinayah law based on Aceh Qonun No. 6 of 2014 for child offenders in the jurisdiction of the Aceh Syariah Court? The juvenile justice process in principle seeks to protect the best interests of the child not on punishment, but on improving the condition, care and protection of children. Normally UUSPA reflects restorative justice as an effort to find a peaceful solution to the conflict outside the court. Related to diversion, the aim is to keep children away from the judicial process so that stigmatization of children in conflict with the law can be avoided so that the child hopes to be able to interact in his normal social environment. Looked at the urgency of the role of local government in increasing empowerment and strengthening the capacity and competence of law enforcement in Aceh Province in handling child cases.
Keywords: diversion, children, syar’iyah court
A. Pendahuluan
Hukum Jinayat diberlakukan melalui Qanun Aceh No. 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat yang dibuat oleh Persetujuan Bersama Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dan Gubernur Aceh. Pada konsideran dapat dilihat dasar filosofis dan sosiologis pembentukannya, yakni Al-Quran dan Al-Hadist
Pelaksanaan Diversi Pada Sistem Peradilan Pidana Anak Di
Mahkamah Syariah– Tumbur Palti D. Hutapea
adalah dasar utama agama Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam dan telah menjadi keyakinan serta pegangan hidup masyarakat Aceh.1
Dalam rangka pelaksanaan Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (Memorandum of Understanding between The Government of Republic of Indonesia and the Free Aceh Movement) di Helsinki tanggal 1 Agustus 2005, Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka menegaskan komitmen mereka untuk menyelesaikan konflik Aceh secara damai, menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua, dan para pihak bertekad untuk menciptakan kondisi sehingga Pemerintahan Rakyat Aceh dapat diwujudkan melalui suatu proses yang demokratis dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia Aceh sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki Keistimewaan dan Otonomi khusus, salah satunya kewenangan untuk melaksanakan Syariat Islam, dengan menjunjung tinggi keadilan, kemaslahatan dan kepastian hukum. Landasan yuridisnya adalah berdasarkan amanah Pasal 125 Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, hukum Jinayat (hukum Pidana) merupakan bagian dari Syariat Islam yang dilaksanakan di Aceh.2
1 Konsideran Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.
142
Pada pembentukan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 dibentuklah Mahkamah Syar’iah yang mengganti fungsi dari Pengadilan Agama sebagai Pengadilan Khusus, Mahkamah Syariah dijadikan sebagai peradilan Syariat Islam dengan kewenangan absolut meliputi seluruh aspek Syariat Islam, yang pengaturannya ditetapkan dalam bentuk Qanun.3 Dalam Penjelasan Qanun dimaksud dijelaskan bahwa masyarakat Aceh dalam perjalanan panjang sejarahnya dikenal sebagai masyarakat yang sangat dekat bahkan fanatik terhadap ajaran Islam, sehingga Islam menjadi identitas budaya dan kesadaran jati diri. Masyarakat Aceh menyatukan ajaran agama ke dalam adat istiadat dan hukum adat sedemikian rupa sehingga menyatu dan terbaur, yang dalam pepatah adat dinyatakan dengan ungkapan Hukom ngoen adat lage dzat ngoen sifeut (Hubungan syariat dengan adat adalah ibarat hubungan suatu zat (benda) dengan sifatnya, yaitu melekat dan tidak dapat dipisahkan).4
Dalam lingkungan pengadilan agama terdapat peradilan Syariat Islam di Aceh yang dilakukan oleh Mahkamah Syariah. Peradilan Syariat Islam di Aceh (Mahkamah Syariah) merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan agama sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan
3 Sitti Mawar dan Azwir, Implementasi Qanun Nomor 6 Tahun 2014
tentang Hukum Jinayat dalam Kasus Pidana Anak-Anak, Jurnal
LEGITIMASI, Vol. VII No. 2, Juli-Desembar 2018, hlm. 308.
4 Penjelasan Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.
Pelaksanaan Diversi Pada Sistem Peradilan Pidana Anak Di
Mahkamah Syariah– Tumbur Palti D. Hutapea
peradilan agama, dan merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan umum sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan peradilan umum.5 Pada Qanun No. 6 tahun 2014 diuraikan ketentuan pemidanaan bagi anak di bawah umur atau belum mencapai batasan umur yang melakukan atau diduga melakukan Jarimah. Dengan demikian menarik untuk mengetahui penegakan hukum Jinayah yang melibatkan anak sebagai pelaku di Mahkamah Syariah Aceh.
Selanjutnya yang menjadi permasalahan dalam kajian ini yaitu: Bagaimana penegakan hukum Jinayah berdasarkan Qonun Aceh No. 6 Tahun 2014 untuk pelaku anak di wilayah hukum Mahkamah Syariah Aceh? Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui, menganalisis dan menjawab masalah tentang penegakan hukum Jinayah berdasarkan Qonun Aceh No. 6 Tahun 2014 untuk pelaku anak di wilayah hukum Mahkamah Syariah Aceh. Permasalahan yang dirumuskan di atas, akan dijawab atau dipecahkan dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dimana hukum dilihat sebagai norma (das sollen). Dalam membahas permasalahan kajian ini menggunakan bahan-bahan hukum baik hukum yang tertulis maupun hukum yang tidak tertulis atau bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder.
5 Yusrizal, Sulaiman, Muklis, Kewenangan Mahkamah Syariat di
Aceh sebagai Pengadilan Khusus, (Kanun Jurnal Ilmu Hukum No. 53, Th.
144
B. Pembahasan
Salah satu kekhususan yang diberikan negara kepada Provinsi Aceh adalah hak dan peluang untuk membentuk Mahkamah Syariah sebagai Peradilan Syariat Islam. The Syariah Courts on the other hand deal mainly with Islamic family law and some criminal offences relating to the practice of Islam, and have jurisdiction only over Muslims.6 Pengertian tersebut secara tegas mengungkapkan bahwa di sisi lain Pengadilan Syariah berhubungan dengan urusan hukum keluarga Islam beserta beberapa pelanggaran kriminal yang dikenal dalam Islam, dan hanya memiliki yurisdiksi bagi Muslim.
Secara normatif, pada Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, khususnya dalam Pasal 128 ayat (2) yang menyebutkan bahwa ”Mahkamah Syariah merupakan pengadilan bagi setiap orang yang beragama Islam dan berada di Aceh.”7 Syariat Islam yang ditulis dan diberlakukan di Aceh harus bersifat kaffah yang ditegakkan di atas tiga prinsip utama: (1) berpegang kepada Al-qur’an dan Sunnah secara penuh; (2) melakukan pemahaman dan penalaran atas ketentuan Al-qur’an dan Sunnah tersebut
6 Mohd Roslan Mohd Nor,et.al, From Undang-undang Melaka to
federal constitution: the dynamics of multicultural Malaysia, Nor et al.
SpringerPlus (2016) 5:1683, page 6 https://doi.org/10.1186/s40064-016-3360-
7 Efa Laela Fakhiriah dan Yusrizal, Kewenangan Mahkamah Syariah
di Aceh Dihubungkan dengan Sistem Peradilan di Indonesia, Jurnal Ilmu
Pelaksanaan Diversi Pada Sistem Peradilan Pidana Anak Di
Mahkamah Syariah– Tumbur Palti D. Hutapea
berdasarkan metode ilmiah guna memenuhi kebutuhan masyarakat Aceh masa kini dalam bingkai NKRI, serta (3) berorientasi ke depan untuk mengantisipasi kebutuhan umat yang muncul karena pembangunan dan kemajuan di abad ke dua puluh satu miladiah atau kelima belas hijriyah.8 Singkatnya, Mahkamah Syariah sebagai Peradilan Syariat Islam yang diberlakukan dan diterapkan di Aceh pada prinsipnya dengan berpegang pada Al-qur’an dan Sunnah. Dilihat dari perspektif dogmatis, “for Islam, …the believers merge in one community, the ‘Umma’. God is its legislator and dictated his will in the Coran, which is fnal and eternal. There is no room for a law other than the Sharia.”9 Perspektif tersebut menunjukkan bahwa Umat Islam sebagai komunitas religinya sangat menjunjung ucapan Tuhan melalui kehendakNya dalam Al quran, yang final dan abadi, lebih lanjut tidak ada ruang untuk hukum selain Syariah.
Sebagaimana diketahui, sistem peradilan pidana anak adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani proses pidana yang berdasarkan pada asas yaitu: perlindungan, keadilan, non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, penghargaan
8 Abubakar, Al Yasa’, Kajian Undang-undang Pemerintahan Aceh
dan Esay Tentang Perempuan, Perkawinan dan Perwalian Anak, (Banda
Aceh: Dinas Syariah Provinsi NAD, 2007), hlm. 17.
9 A.V.M. Struycken, State Nationality and Religious Family Law:
Some Notes, Netherlands International Law Review, Published online: 30
146
terhadap anak, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak, proporsional, perampasan kemerdekaan dan pemidanaan sebagai upaya terakhir dan penghindaran balasan.10 Pada awalnya perlindungan terhadap anak yang diduga melakukan tindak pidana atau pelanggaran hukum seringkali bersifat sangat represif sebagaimana sistem peradilan pidana umum (yang diberlakukan untuk orang dewasa atau cakap hukum). Proses peradilan pidana anak seringkali kehilangan esensinya sebagai mekanisme yang harus berakhir dengan upaya untuk melindungi kepentingan terbaik bagi anak (The best interest of child). Proses peradilan pidana anak seringkali menampilkan dirinya sebagai mekanisme yang hanya berorientasi pada penegakan hukum secara formal dan tidak berorientasi pada kepentingan anak.11 Penanganan perkara pidana terhadap anak tentunya berbeda dengan penanganan perkara terhadap usia dewasa. Penanganan terhadap anak tersebut bersifat khusus karena itu diatur dalam peraturan tersendiri yang diatur secara khusus. Mengapa? Karena anak adalah masa depan bangsa dan negara dan anak bukan miniatur orang dewasa. Oleh sebab itu diperlukan perlindungan dan rehabilitasi pelaku anak sebagai
10 Pasal 1 Angka 1 dan Pasal 2 Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
11 Koesna Adi, Kebijakan Kriminal dalam Sistem Pidana yang
Berorientasi pada Kepentingan Terbaik Anak, Pidato Pengukuhan Guru
Besar Fakultas Hukum Brawijaya, Malang. Lihat dalam Mimi, Unbanunaek, Dkk. Diversi Perlindungan Hukum Anak yang Bermasalah
dalam Sistem Peradilan Pidana Anak, Jurnal MMH, Jilid 43 Nomor 2, April
Pelaksanaan Diversi Pada Sistem Peradilan Pidana Anak Di
Mahkamah Syariah– Tumbur Palti D. Hutapea
pribadi yang masih mempunyai sejumlah keterbatasan dibanding dengan orang dewasa.12 Dalam menangani anak yang berkonflik dengan hukum, senantiasa harus memperhatikan kondisi anak yang berbeda dengan orang dewasa. Sifat dasar anak sebagai pribadi yang masih labil, masa depan anak sebagai aset bangsa, dan kedudukan anak di masyarakat yang masih membutuhkan perlindungan dapat dijadikan dasar untuk mencari suatu solusi alternatif bagaimana menghidarkan anak dari suatu sistem peradilan pidana formal, penempatan anak dalam penjara, dan stigmatisasi terhadap kedudukan anak sebagai narapidana.13 Perlu adanya paradigma dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum, antara lain didasarkan pada peran dan tugas masyarakat, pemerintah dan lembaga negara lainnya yang berkewajiban dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan anak serta memberikan perlindungan khusus kepada anak serta memberikan perlindungan khusus kepada anak yang berhadapan dengan hukum.14 Anak memerlukan perlindungan dari negara dan masyarakat dalam jangka waktu ke depan yang masih panjang. Terhadap anak yang terlanjur menjadi pelaku
12 Zuhrah, Sistem Peradilan Pidana Anak antara Undang-Undang
dan Qanun Jinayat, https://ms-aceh.go.id/berita-artikel-galeri/artikel/2895- dra-hj-zuhrah,-m-h-sistem-peradilan-pidana-anak-antara-undang-undang-dan-qanun-jinayat.html, diakses tanggal 4 Oktober 2019.
13 Sri Rahayu, Diversi sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara
Tindak Pidana yang Dilakukan Anak dalam Perspektif Sistem Peradilan Pidana Anak, Jurnal Ilmu Hukum Tahun 2015, hlm 133.
14 Penjelasan Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
148
tindak pidana, diperlukan strategi untuk pemulihannya (Bio Psikososial Spritual). Dan anak tetap mempunyai hak-haknya yaitu hak hidup, hak tumbuh kembang, perlindungan dan hak untuk berpartisipasi.15 Berarti juga menghindarkan penggunaan sanksi pidana yang semata-mata bersifat menghukum, tetapi juga memperhatikan pada pertimbangan keadaan-keadaan pribadinya.16 Hukum positif yang digunakan untuk mengadili anak sudah jelas bertentangan dengan hak asasi manusia, bertentangan dengan konstitusi dasar, dan sangat membahayakan masa depan anak. Dalam perlindungan anak dikenal 4 prinsip dasar, yaitu: non diskriminasi; kepentingan terbaik bagi anak; kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang; penghargaan terhadap pendapat anak. Dengan demikian, dalam perspektif perlindungan anak, tidak ada pemidanaan terhadap anak dan tidak ada penjara bagi anak. Apapun alasannya, seperti apapun tindakan yang dilakukan oleh anak. Proses pemidanaan, apalagi pemenjaraan, hanya untuk orang dewasa.17 Secara eksplist menunjukkan sangat beralasan kepentingan anak harus diberikan perhatian penuh terutama ketika berhadapan dengan hukum.
15 Zuhrah, Op.Cit.
16 Setya Wahyudi, Implementasi Ide Diversi dalam Pembaharuan
Sistem Peradilan Pidana Anak Indonesia, (Yogyakarta: Genta Publishing,
2011), hlm. 2.
17 Yusi Amdani, Konsep Restorative Justice dalam Penyelesaian
Perkara Tindak Pidana Pencurian oleh Anak Berbasis Hukum Islam dan Adat Aceh, Jurnal Al-'Adalah Vol.XIII, No. 1, Juni 2016, hlm. 62
Pelaksanaan Diversi Pada Sistem Peradilan Pidana Anak Di
Mahkamah Syariah– Tumbur Palti D. Hutapea
Salah satu pembaruan sistem peradilan pidana anak dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) adalah diadakannya lembaga diversi. Abintoro Prakoso berpandangan bahwa pembaharuan sistem peradilan pidana anak bertujuan untuk melindungi dan mengayomi anak yang berhadapan dengan hukum agar dapat menyongsong masa depannya yang masih panjang serta memberi kesempatan kepada anak agar melalui pembinaan akan memperoleh jati dirinya untuk menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab dan berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Di samping itu, tujuan lainnya adalah untuk mewujudkan hukum yang secara komprehensif melindungi anak yang berhadapan dengan hukum, dan terwujudnya peradilan yang benar-benar menjamin perlindungan kepentingan terbaik anak (the best interest of child) yang berhadapan dengan hukum.18
Terdapat beberapa ketentuan perundang-undangan yang bersifat khusus mengenai penanganan anak yang berhadapan hukum, antara lain sebagai berikut:
1. Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, sebelumnya Undang Undang RI Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.
18 Abintoro Prakoso, Pembaharuan Sistem Peradilan Pidana Anak, (Surabaya: Laksbang Grafika, 2013), hlm. 158-159.
150
2. Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
3. Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dan Penanganan Anak yang Belum Berumur 12 (dua belas) Tahun.
5. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.
6. Peraturan Jaksa Agung No. 06/A/J.A/04/2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi.
Sebagaimana diketahui bahwa UU SPPA secara yuridis merubah paradigma dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum. Sistem Peradilan Pidana Anak merupakan keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum mulai tahap penyidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana. Substansi yang paling mendasar dalam Undang-Undang ini adalah pengaturan secara tegas mengenai keadilan restoratif
Pelaksanaan Diversi Pada Sistem Peradilan Pidana Anak Di
Mahkamah Syariah– Tumbur Palti D. Hutapea
dan proses diversi.19 Diversi mempunyai prinsip utama yaitu sebagai tindakan persuasif atau pendekatan dan pemberian kesempatan kepada pelaku untuk berubah dan mengajak pelaku untuk bertanggung jawab terhadap perbuatan yang dilakukannya.20
Keadilan restoratif berpijak pada hubungan yang manusiawi antara korban dan pelanggar dan fokusnya pada dampak yang ditimbulkan oleh kejahatan pada semua pihak, bukan hanya pada korban, tetapi juga pada masyarakat dan pelanggar sendiri. Oleh sebab itu, dalam pemidanaan yang bersendikan pada perspektif keadilan restoratif, ada empat unsur yang memainkan peranan yaitu korban kejahatan, masyarakat, negara dan pelanggar. Penyelesaian konflik melalui mediasi antara korban dan pelaku telah melahirkan sikap kreatif, yaitu meminta pelaku secara personal mempertanggung jawabkan tindakannya dengan menghadapi korban dan membuat kesepakatan mempromosikan keterlibatan masyarakat dan korban secara aktif dalam proses peradilan dan mempertinggi kualitas keadilan yang dirasakan baik oleh pelaku maupun korban. Jadi, elemen-elemen keadilan restoratif dalam pemidanaan adalah konsensasi, mediasi, rekonsiliasi, penyembuhan dan pemaafan.21 Dengan demikian,
19 Sitti Mawar dan Azwir, Op.Cit. hlm. 309-310.
20 Marlina, Peradilan Pidana Anak di Indonesia: Perkembangan
Konsep Diversi dan Restoratif Justice, (Bandung: Refika Aditama, 2012),
hlm. 22.
21 Eva Achjani Zulva, Keadilan Restoratif di Indonesia (Studi
152
keadilan restoratif (diversi) pada prinsipnya dimaksudkan sebagai upaya untuk menghindarkan dan menjauhkan anak dari proses peradilan, penahanan dan pemenjaraan, perampasan kemerdekaan dan pemidanaan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir, serta menghindarkan stigmatisasi terhadap anak.22
Pada asasnya lembaga diversi merupakan representasi dari pendekatan restorative justice dalam sistem peradilan pidana anak. Pendekatan restorative justice memiliki kekuatan yang mampu memulihkan hubungan antar pihak yang menjadi pelaku dan yang menjadi korban. Juga mencegah adanya permusuhan lebih mendalam antar pihak dan mendorong rekonsiliasi antara pihak pelaku dan korban secara sukarela. Kekuatan lain adalah mendorong adanya partisipasi warga masyarakat lainna misalnya anggota keluarga atau tetangga serta menekankan pentingnya peran korban dalam suatu proses menuju keadilan.23 Menurut Pasal 6 UUSPA, tujuan Diversi yaitu (1) Mencapai perdamaian antara korban dan anak; (2) menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan; (3) menghindarkan Anak dari perampasan kemerdekaan; (4) Mendorong masyarakat untuk berpartisipasi; dan (5) Menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak. Dengan
Praktek Penegakan Hukum Pidana), Disertasi Program Doktor Ilmu
Hukum Fakultas Hukum UI, hlm. 1.
22 Sitti Mawar dan Azwir, Op.Cit. hlm.310.
23 Siswanto Sunarso, Viktimologi dalam Sistem Peradilan Pidana, (Jakarta: Sinar Grafika), hlm. 157.
Pelaksanaan Diversi Pada Sistem Peradilan Pidana Anak Di
Mahkamah Syariah– Tumbur Palti D. Hutapea
demikian, tujuan sistem peradilan pidana anak bukanlah pada penghukuman, melainkan perbaikan kondisi, pemeliharaan dan perlindungan anak serta pencegahan pengurangan tindakan pengadilan yang konstruktif.24 Pada kenyataannya, sistem peradilan pidana anak dalam UUSPA tampak belum sepenuhnya merefleksikan sistem peradilan restoratif yang bersifat komprehensif. Penerapan pendekatan keadilan restoratif dalam UUSPA cenderung memfokuskan pada program diversi, yakni ―pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana (Pasal 1 Angka 7). Dengan kata lain, UU ini masih memahami keadilan restoratif sebagai suatu usaha untuk mencari penyelesaian konflik secara damai di luar pengadilan. Padahal diversi itu sendiri hanyalah salah satu program dalam sistem peradilan restoratif.25 Oleh karena itu, secara implisit diketahui bahwa UUSPA sebenarnya bertujuan atau berusaha untuk mencari penyelesaian konflik secara damai di luar pengadilan melalui diversi.
Pada penjelasan UU No. 3 Tahun 2006 diuraikan bahwa Mahkamah Syariah memiliki kekuasaan untuk melaksanakan wewenang Peradilan Agama dan juga memiliki kekuasaan untuk melaksanakan sebagian wewenang Peradilan Umum.
24 Dwidja Prayitna, Wajah Hukum Pidana: Asas Perkembangan
Konsep Diversi dan Restoratif Justice, (Bekasi: Gramata Publishing), hlm.
308.
25 Hasbi Hasan, Penerapan Keadilan Restoratif Justice dalam Sistem
Peradilan Pidana Anak di Indonesia, Jurnal Hukum dan Peradilan, Vol.2
154
Pasal 66 pada Qanun No. 6 tahun 2014 mengatur apabila anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun melakukan atau diduga melakukan Jarimah, maka anak tersebut dilakukan pemeriksaan berpedoman kepada peraturan perundang-undangan. Lebih lanjut Pasal 67 ayat (1) pada pokoknya menyebutkan apabila anak yang telah mencapai umur 12 (dua belas) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum menikah melakukan Jarimah, maka terhadap anak tersebut dapat dikenakan ‘Uqubat paling banyak 1/3 (satu per tiga) dari ‘Uqubat yang telah ditentukan bagi orang dewasa dan/atau dikembalikan kepada orangtuanya/walinya atau ditempatkan di tempat yang disediakan oleh Pemerintah Aceh atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Lebih lanjut, pemberlakuan Qanun No. 6 Tahun 2014 dipandang turut mempengaruhi sistem peradilan pidana anak di Aceh, dimana sebelumnya perkara anak yang berkonflik dengan hukum diperiksa dan diadili oleh pengadilan negeri, namun saat ini dalam hal perkara anak yang berkonflik