JUSTICE SYSTEM IN JINAYAT CASES IN THE SYAR’IYAH COURT
B. Hasil dan Pembahasan
2. Poin-Poin Penting dalam UU SPPA
UU Pengadilan Anak sebelumnya dianggap kurang memberikan keadilan bagi anak serta proses peradilan yang tidak sesuai dengan hak-hak anak. Disamping itu tingkat tindak pidana yang dilakukan oleh anak masih tinggi dengan angka residivis anak yang tidak mengalami penurunan. Dan lebih jauh lagi, pendekatan pengadilan anak dirasa terlalu legalistik serta pengadilan lebih banyak menggunakan pendekatan pemenjaraan daripada sanksi lain bagi anak,
88
akibatnya UU Pengadilan Anak tersebut harus diperbaiki dengan UU SPPA. UU SPPA memuat beberapa perubahan penting, di antaranya:2
1. Filosofi SPPA dari keadilan retributif ke keadilan restoratif (Pasal 1 butir 6, Pasal 5 & UU SPPA).
2. Cakupan anak dari yang hanya mengatur anak pelaku, menjadi mengatur anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang meliputi anak sebagai pelaku, korban dan saksi tindak pidana (Pasal 1 butir 3, 4 & 5 UU SPPA). 3. Usia pertanggungjawaban pidana anak naik dari 8 - 18
tahun menjadi 12 - 18 tahun dan tidak dibatasi oleh status perkawinan seseorang (Pasal 21, 69, dan 82 UU SPPA). 4. Penghilangan kategori anak pidana, anak negara dan anak
sipil.
5. Diversi dalam proses peradilan (Pasal 1 butir 7 UU SPPA)
6. Penegasan hak anak pelaku, korban dan saksi (Pasal 3, 4 dan 90 UU SPPA).
7. Pembatasan upaya perampasan kemerdekaan sebagai measure of the last resort, dengan jangka waktu yang lebih singkat dan batasan usia 14 tahun (Pasal 32 UU SPPA).
8. Penguatan peran petugas kemasyarakatan dan pekerja sosial (Pasal 1 butir 13 & 14, Pasal 63 & 66 UU SPPA).
2 Supriyadi W. Eddyono, Kertas kerja I/2014: Prospek
Implementasi Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia, (Jakarta: ICJR,
Implementasi Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Dalam Perkara Jinayat Di Mahkamah Syar’iyah - Nurhadi
9. Kewajiban bantuan hukum (Pasal 1 butir 19 Penjelasan Pasal 18 UU SPPA).
10. Penempatan anak sebagai pelaku pada LPAS (Lembaga Penempatan Anak Sementara), LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), maupun LPKS (Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial) (Pasal 33 UU & 81 UU SPPA).
11. Pemidanaan dan Saksi (Pasal 71 & 89 UU SPPA).
12. Penempatan anak sebagai korban di lembaga-lembaga terkait, seperti LPKS (Pasal 1 butir 22 UU SPPA).
3. Perkara-Perkara Jinayat Yang
Mengimplementasikan UU SPPA
Sebagaimana telah diketahui bahwa syari'at Islam mencakup seluruh aspek hukum, baik dalam aspek hukum publik maupun privat. Oleh karena itu, kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Syar'iyah yang ditetapkan dalam Qanun No. 10 Tahun 2002 tentang Peradilan Syari'at Islam, mencakup seluruh aspek hukum yang memerlukan penyelesaiannya melalui lembaga peradilan. Pokok pikiran tersebut antara lain termaktub dalam penjelasan umum angka 4 dan Pasal 49 dan penjelasan Qanun tersebut.
Kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Syar'iyah adalah memeriksa, memutus dan menyelesaikan
perkara-90
perkara pada tingkat pertama dalam bidang ahwal syakhshiyah, mu'amalah dan jinayah. Bidang ahwal al-syakhshiyah meliputi hal-hal yang diatur dalam Pasal 49 UU No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, dan perubahan kedua dengan UU No. 50 Tahun 2009, kecuali wakaf, hibah dan shadaqah. Bidang mu'amalah meliputi hukum kebendaan dan perikatan, seperti: jual beli, hutang piutang, qiradh (permodalan), musaaqah, muzara'ah, mukhabarah (bagi hasil pertanian), wakalah (kuasa), syirkah (perkongsian), 'ariyah (pinjam meminjam), hajru (penyitaan harta), syuf’ah (hak langgeh) dan rahnun (gadai), ihyaul mawat (pembukaan lahan), ma'din (tambang), luqathah (barang ternuan), perbankan, ijarah (sewa-menyewa), takaful (penjaminan), perburuhan, harta rampasan, waqaf, hibah, shadagah dan hadiah. Bidang jinayah adalah: 1. Hudud, yang meliputi : zina, menuduh berzina (qadzaf), mencuri, merampok, minuman keras dan napza, murtad, pemberontakan (bughah). 2. Qishash/diyat, yang meliputi: pembunuhan, penganiayaan. 3. Ta'zir, yaitu hukuman terhadap pelanggaran Syari'at selain hudud dan qishash/diyat, seperti; judi, khalwat, meninggalkan shalat fardhu dan puasa ramadhan, penipuan, pemalsuan dan lain-lain.
Kewenangan Mahkamah Syar’iyah dalam perkara jinayat yang sudah diatur dalam berbagai Qanun, di antaranya:
Implementasi Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Dalam Perkara Jinayat Di Mahkamah Syar’iyah - Nurhadi
1. Berdasarkan Qanun No. 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, yaitu:
(1) Khamar (Minuman Keras) (Pasal 15 s/d Pasal 17). (2) Maisir (Perjudian) (Pasal 18 s/d Pasal 22).
(3) Khalwat (Mesum) (Pasal 23 s/d Pasal 24).
(4) Ikhtilath (perbuatan bermesraan) (Pasal 25 s/d Pasal 32).
(5) Zina (Pasal 33 s/d Pasal 35).
(6) Pelecehan seksual (Pasal 46 s/d Pasal 47). (7) Pemerkosaan (Pasal 48 s/d Pasal 50).
(8) Qadzaf (Menuduh seseorang melakukan (Pasal 57). (9) Liwath (Homoseks) (Pasal 63).
(10) Musahaqah (Lesbian) (Pasal 64).
2. Berdasarkan Qanun No. 11 Tahun 2002 tentang Pelaksaan Syari’at Islam bidang Aqidah, Ibadah dan Syi’ar Islam, yaitu:
(1) Menyebarkan paham atau aliran sesat (Pasal 20 ayat 1).
(2) Tidak melaksanakan shalat jum’at tiga kali berturut-turut (Pasal 21 ayat 1).
(3) Perusahaan pengangkutan umum yang tidak memberikesempatan dan fasilitas kepada pengguna jasa untuk melaksanakan shalat fardhu (Pasal 21 ayat 2).
(4) Menyediakan fasilitas/peluang kepada orang muslim untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadhan (Pasal 22 ayat 1).
(5) Makan atau minum di tempat/di depan umum pada siang hari bulan Ramadhan (Pasal 22 ayat 2).
(6) Tidak berbusana Islami (Pasal 23).
3. Berdasarkan Qanun No. 7 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Zakat, yaitu:
(1) Orang yang tidak membayar zakat (Pasal 37).
(2) Orang yang membuat surat palsu atau memalsukan surat Badan Baitul Mal (Pasal 38).
92
(4) Petugas Baitul Mal yang menyalurkan zakat kepada orang yang tidak berhak (Pasal 40).
4. Berdasarkan Qanun No. 10 Tahun 2007 tentang Baitul Mal, yaitu:
(1) Muzakki yang tidak menunaikan zakat melalui Baitul Mal setempat (Pasal 50);
(2) Membuat surat palsu atau memalsukan surat Baitul Mal (Pasal 51);
(3) Penggelapan zakat, atau harta agama lainnya (Pasal 52);
(4) Melakukan jarimah penyelewengan pengelolaan zakat dan harta agama (Pasal 53).
5. Berdasarkan Qanun No. 11 Tahun 2008 tentang Perlindungan Anak, yaitu: Wali yang mengabaikan kewajiban terhadap anak asuhnya (Pasal 58).
Sebagaimana telah diketahui SPPA adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana. Dengan demikian, SPPA adalah hukum acara pidana yang terkait dengan ABH, baik anak sebagai pelaku, korban, maupun saksi, terutama anak sebagai pelaku, yang mana hukum materilnya berasal dari berbagai UU yang berlaku, untuk Pengadilan Negeri, sedangkan untuk Mahkamah Syar’iyah yang hukum materilnya berasal dari berbagai Qanun yang berlaku. Meskipun demikian, terdapat beberapa jarimah yang tidak dapat diterapkan UU SPPA kecuali hanya dalam proses persidangan, yaitu jarimah yang diancam dengan hudud, yaitu jarimah khamar, zina, dan qadzaf.
Implementasi Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Dalam Perkara Jinayat Di Mahkamah Syar’iyah - Nurhadi
Berikut ini tata cara penerapan UU SPPA dalam perkara-perkara jinayat:
1. Jarimah Maisir, Khalwat, dan Ikhtilath.
Dalam jarimah maisir, khalwat, dan ikhtilath wajib diupayakan diversi karena ancamannya kurang dari 84 (delapan puluh empat) kali cambuk atau denda 840 gram emas murni atau penjara 84 bulan dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana, karena dalam jarimah maisir, khalwat, dan ikhtilath tidak ada korban, maka diversi tidak harus mendapatkan persetujuan korban dan/atau keluarga anak korban serta kesediaan anak dan keluarganya. dan sanksi yang dapat dijatuhkan adalah salah satu sanksi yang telah ditentukan dalam Pasal 38 Pergub Hukum Acara Jinayat berdasarkan kemaslahatan yang terbaik untuk anak.
2. Jarimah Pelecehan Seksual
Dalam jarimah pelecahan seksual wajib diupayakan diversi karena ancamannya kurang dari 84 (delapan puluh empat) kali cambuk dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana, karena tidak ada korban, maka diversi harus mendapatkan persetujuan korban dan/atau keluarga anak korban serta kesediaan anak dan keluarganya. Namun, apabila korbannya anak (Pasal 47 Qanun Hukum Jinayat), maka perkara ini tidak dapat diupayakan diversi
94
karena ancamannya lebih dari 84 (delapan puluh empat) kali cambuk.
3. Jarimah Perkosaan, Liwath (Homoseks), dan Musahaqah (Lesbian)
Dalam jarimah perkosaan, liwath, dan musahaqah tidak dapat diupayakan diversi, karena ancamannya lebih dari 84 (delapan puluh empat) kali cambuk.
4. Jarimah yang diatur selain dalam Qanun Jinayat
Dalam jarimah-jarimah yang diatur dalam Qanun Pelaksaan Syari’at Islam bidang Aqidah, Ibadah dan Syi’ar Islam, Qanun Pengelolaan Zakat, Qanun Baitul Mal, Qanun Baitul Mal, dan Qanun Perlindungan Anak, karena rata-rata ancaman pidananya di bawah 12 (dua belas) kali cambuk, atau ancamannya kurang dari 84 (delapan puluh empat) kali cambuk dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana, karena tidak ada korban, maka diversi harus mendapatkan persetujuan korban dan/atau keluarga anak korban serta kesediaan anak dan keluarganya.
4. Problematika Implementasi UU SPPA dalam Perkara