• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil observasi di laboratorium greenhouse Siswadhi Soeparjo pada bulan April-Juni 2014 menunjukkan suhu harian berkisar antara 23.3°C hingga 40.1°C dengan suhu tertinggi pada pukul 12.00. Kelembaban udara berkisar mulai 52% hingga 95%. Sedangkan untuk radiasi matahari sebesar 5.5 W m-2 hingga dengan radiasi tertinggi mencapai 208.7 W m-2 pada pukul 12.00. Dari pengukuran tersebut dapat disimpulkan bahwa kondisi lingkungan greenhouse relatif bersuhu cukup tinggi untuk budidaya sawi. Suhu yang ideal untuk tanaman sawi adalah 15°C-21°C pada malam hari dan 27°C-32°C pada siang hari (Francisca 2009).

Pengaruh Jenis dan Level Bunyi terhadap Daya Berkecambah

Pemaparan musik klasik pada berbagai level bunyi pada Gambar 9a terlihat bahwa level bunyi 70-75 dB dan 80-85 dB menghasilkan daya berkecambah yang tertinggi sebesar 100% pada jam ke-36, sedangkan yang terendah terdapat pada benih sawi tanpa perlakuan (kontrol) sebesar 90% pada waktu yang sama. Grafik perlakuan pada Gambar 9a memperlihatkan bahwa laju perkecambahan untuk semua level bunyi pada jam ke-6 hingga jam ke-18 lebih cepat antara 70-90%, jika dibandingkan dengan paparan bunyi noise dan campuran. Hal ini sesuai dengan penelitian Creath et al. (2004), bunyi musik klasik mempercepat daya perkecambahan. Pemaparan bunyi campuran pada Gambar 9b terlihat bahwa level bunyi 70-75 dB menghasilkan daya berkecambah tertinggi sebesar 100% pada akhir pengamatan dan level bunyi 90-95 dB menghasilkan daya berkecambah terendah sebesar 85%. Bunyi jenis bising lalu lintas dan mesin industri (noise) yang dipaparkan pada perlakuan berikutnya didapatkan level bunyi 70-75 dB dan 80-85 dB menghasilkan daya berkecambah tertinggi sebesar 95%.

Dari ketiga perlakuan yang telah disebutkan terdapat korelasi yaitu level bunyi rendah menghasilkan daya berkecambah tertinggi benih sawi hijau jika dibandingkan dengan level bunyi diatasnya, sedangkan tanaman kontrol yang tidak terpapar bunyi cenderung lebih lambat daya berkecambahnya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Creath et al. (2004) yang melakukan penelitian dengan objek biji okra dan zucchini yang dipaparkan bunyi burung dan musik dapat mempercepat proses perkecambahan secara signifikan jika dibandingkan dengan bunyi noise dan tanpa paparan bunyi. Penelitian serupa juga telah dilakukan oleh Suwardi (2010) yang melakukan penelitian stimulus bunyi dengan variasi frekuensi 1-15 kHz dengan objek biji kedelai, yang mana pada penelitian tersebut didapatkan frekuensi 10 kHz merupakan frekuensi yang paling optimal untuk mempercepat proses perkecambahan biji kedelai.

Perlakuan stimulasi bunyi terhadap perkecambahan biji sawi hijau secara umum memberikan pengaruh, namun tidak signifikan. Pada jam ke 6 hingga jam ke 12 belum ada perbedaan yang signifikan dari ketiga perlakuan dengan tanaman kontrol. Perbedaan yang signifikan terjadi pada pengamatan jam ke 18, dari grafik di Gambar 10 terlihat bahwa pemaparan musik klasik meningkatkan daya berkecambah lebih baik dibandingkan dengan paparan noise dan campuran. Mareza et al. (2009) menyatakan bahwa pemaparan bunyi dapat merangsang aktivitas enzim pada kotiledon benih sehingga berkecambah lebih cepat, selain itu

17 dugaan lain mengindikasikan terjadi peningkatan vigor benih yang dapat meningkatkan daya berkecambah suatu tanaman. Rambatan energi yang menyertai getaran bunyi sangat mempengaruhi berbagai proses yang berlangsung dalam sel benih terkait dengan fisiologisnya. Penelitian yang telah dilakukan oleh Wang et al. (2003) menyatakan bahwa paparan bunyi dengan frekuensi 0.4 kHz pada level bunyi 106 dB meningkatkan indeks perkecambahan, aktifitas pertumbuhan akar dan penetrabilitas membran sel.

a) b)

c)

Gambar 9 Pengaruh jenis dan level bunyi terhadap daya berkecambah. a)musik klasik; b)campuran (m.klasik+noise); c)noise

Pengamatan pada jam ke 30 di Gambar 10 memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaan antara paparan bunyi noise dan campuran terhadap tanaman kontrol, pada jam tersebut perkecambahan mencapai 80% sedangkan paparan musik klasik menghasilkan daya perkecambahan hingga 95%. Penelitian yang telah dilakukan oleh Sumardi et al. (2005) menyatakan bahwa penerapan teknologi gelombang bunyi pada tanaman padi mampu mempercepat pertumbuhan bibit, memperbanyak dan memperpanjang akar bibit padi, serta memperbanyak anakan bibit padi pada proses persemaian. Secara umum pada perlakuan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa bunyi dapat meningkatkan daya perkecambahan biji sawi hijau. Khusus untuk paparan bunyi noise ternyata tidak memberikan dampak negatif terhadap daya berkecambah benih sawi hijau. Hal ini ditunjukkan dengan daya

0 20 40 60 80 100 0 6 12 18 24 30 36 42 D a y a b e rk e c a m b a h ( % ) Jam ke 0 20 40 60 80 1 00 0 6 12 18 24 30 36 42 D a y a b e rk e c a m b a h ( % ) Jam ke 0 20 40 60 80 100 0 6 12 18 24 30 36 42 D a y a b e rk e c a m b a h ( % ) Jam ke 70-75dB 80-85dB 90-95dB Kontr ol

18

bekecambah yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa perlakuan, bahkan memberikan dampak positif terhadap daya berkecambah benih sawi hijau.

Gambar 10 Pengaruh jenis bunyi terhadap daya berkecambah

Pengaruh Jenis dan Level Bunyi terhadap Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang paling sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan. Hal ini dilakukan karena tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan yang paling mudah dilihat sebagai parameter pengaruh lingkungan. Sitompul et al. (1995) menyatakan bahwa tinggi tanaman sensitif terhadap faktor lingkungan.

Tabel 2 Pengaruh paparan jenis dan level bunyi terhadap tinggi tanaman sawi hijau Jenis Bunyi Level Bunyi (dB) Tinggi tanaman (mm) 4 HSS 14 HSS 28 HSS 34 HSS 40 HSS 46 HSS Musik Klasik 70-75 18.3abc 58.1a 77.5ab 127.4a 178.0a 295.6ab 80-85 15.5bcd 56.1ab 77.5ab 121.1a 168.7ab 288.3a 90-95 16.9bc 56.2ab 66.0bcd 108.8bcd 148.7cd 269.3cd Noise 70-75 16.5 bcd 48.5cd 78.5ab 118.7abc 151.9bcd 271.4cd 80-85 19.1ab 54.0abc 82.0a 132.8a 159.7abcd 299.1abc 90-95 23.0a 54.2abc 74.5abc 127.3a 165.3abc 302.6a M.Klasik + Noise 70-75 12.1cd 49.6bcd 77.0ab 115.7abcd 166.0abc 218.4e 80-85 15.1bcd 47.1cd 58.7d 100.7cd 149.0cd 281.2abcd 90-95 15.7bcd 49.7bcd 63.5cd 106.7bcd 168.1abc 273.9bcd Kontrol 14.2cd 45.8d 61.9cd 99.0d 145.8d 260.3d Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang

tidak berbeda nyata pada uji DMRT pada taraf P<0,05; HSS=Hari Setelah Semai Perlakuan paparan bunyi dengan level yang berbeda berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada jenis bunyi musik klasik (Tabel 2). Pada Gambar 11a dapat dilihat bahwa pada awal pertumbuhan antara 4 hari setelah semai (HSS) hingga 28 HSS, level bunyi 70-75 dB memberikan pertambahan tinggi tanaman

0 2 0 4 0 6 0 8 0 100 0 6 12 18 24 30 36 42 D a y a b e rk e c a m b a h ( % ) Jam ke

19 yang lebih tinggi jika dibandingkan level bunyi 80-85 dB dan 90-95 dB. Usia tanaman 28 HSS hingga 46 HSS pertambahan tinggi tanaman terendah didapatkan pada level bunyi yang 90-95 dB dan pertambahan tinggi tanaman tertinggi didapatkan pada level bunyi 70-75 dB. Dari data tersebut terdapat korelasi bahwa pada paparan musik klasik, semakin rendah level bunyi menghasilkan tinggi tanaman tertinggi.

a) b)

c)

Gambar 11 Grafik pengaruh jenis dan level bunyi terhadap tinggi tanaman. a)musik klasik; b)noise; c)m.klasik+noise

Analisa statistik (Tabel 2) menunjukkan bahwa pada paparan bunyi noise

pada Gambar 11b terhadap tanaman sawi berpengaruh nyata pada pertambahan tinggi tanaman, khususnya pada 4 HSS dan 46 HSS. Secara umum level bunyi 90-95 dB justru memberikan pertambahan tinggi yang lebih baik jika dibandingkan dengan paparan musik klasik yang memberikan peningkatan pertambahan tinggi pada level bunyi 70-75 dB. Hal yang berbeda berlaku pada perlakuan paparan bunyi campuran (musik klasik dan noise) yang secara umum level bunyi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman (Gambar 11c).

0 50 100 150 200 250 300 350 0 10 20 30 40 50 T in g g i t a n a m a n s a w i ( m m ) Hari 0 50 100 150 200 250 300 350 0 10 20 30 40 50 T in g g i t a n a m a n s a w i (m m ) Hari 0 50 100 150 200 250 300 350 0 10 20 30 40 50 T in g g i t a n a m a n s a w i (m m ) Hari 70-75dB 80-85dB 90-95dB kontr ol Fase

Perkecambahan Pembesaran Fase Perkecambahan Fase Pembesaran Fase

Fase

20

Perlakuan stimulasi bunyi terhadap tanaman sawi hijau berpengaruh nyata terhadap peningkatan tinggi tanaman. Pada tahap perlakuan ini paparan musik klasik memberikan peningkatan pertambahan tinggi tanaman yang paling baik dibandingkan dengan paparan bunyi noise ataupun campuran. Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Iriani et al. (2005), yang mana stimulasi musik klasik menggunakan sonic bloom dapat meningkatkan tinggi tanaman tembakau hingga 30% di Kabupaten Kendal. Namun hasil dari perlakuan ini tidak sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Utami et al. (2012) yang melakukan penelitian pengaruh musik klasik, pop, dan hard rock terhadap tinggi tanaman cabe keriting justru hasil pertambahan tinggi terbaik pada paparan musik

hard rock.

Pada Gambar 12 terlihat bahwa paparan musik klasik menghasilkan peningkatan tinggi tanaman terbaik sejak awal tanam hingga umur panen pada 46 setelah semai (HSS). Proses transplanting yang dilakukan pada hari ke 15 menyebabkan penurunan tinggi tanaman, hal ini disebabkan pada proses ini batang bibit harus ditanam seluruhnya hingga batas percabangan. Tujuan dari pembenaman batang hingga batas percabangan untuk memperkuat tegakan tanaman pada proses pertumbuhan. Kondisi abnormal terlihat pada pengamatan hari ke 42, di mana laju peningkatan tinggi tanaman lebih tinggi dari biasanya. Hal ini disebabkan pada hari ke 42 hingga hari ke 46 cuaca di lokasi penelitian berkondisi hujan, sehingga menurunkan suhu siang hari menjadi 27°C-30°C dari awalnya 32°C-40°C. Kondisi tersebut menyebabkan sawi tumbuh dengan optimal, di mana Francisca (2009) meneliti bahwa sawi hijau tumbuh optimal pada suhu 27°C-32°C pada siang hari.

Gambar 12 Pengaruh jenis bunyi terhadap tinggi tanaman

Paparan bunyi noise ternyata tidak berdampak negatif terhadap tinggi tanaman. Pada Tabel 2 dan Gambar 12 paparan bunyi noise justru memberikan hasil terbaik. Pemberian bunyi campuran juga menghasilkan hasil lebih baik jika dibandingkan tanaman tanpa perlakuan. Dapat disimpulkan dari perlakuan ini bahwa bunyi noise memberikan pengaruh yang positif terhadap pertambahan tinggi sawi hijau, sehingga tidak diperlukan stimulasi musik klasik tambahan.

0 50 100 150 200 250 300 350 0 10 20 30 40 50 T in g g i ta n a m a n s a w i (m m ) Har i

M usik M .klasik+noise Noise kontr oll

Fase

21

Pengaruh Jenis dan Level Bunyi terhadap Luas Daun

Pengukuran luas daun merupakan salah satu parameter morfologi yang umum digunakan untuk menentukan baik tidaknya pertumbuhan suatu tanaman. Pengukuran dimulai pada 28 HSS saat daun ruas ke-4 telah membuka sempurna. Perlakuan paparan bunyi dengan level yang berbeda berpengaruh nyata terhadap luas daun pada ketiga jenis bunyi yang dipaparkan. Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa level bunyi 80-85 dB memberikan pertambahan luas daun yang lebih tinggi. Hal tersebut berlaku pada ketiga jenis bunyi, musik klasik, noise dan campuran.

Perlakuan pemaparan bunyi memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan luas daun jika dibandingkan tanaman kontrol. Pengecualian terdapat pada perlakuan musik klasik pada level 90-95 dB yang menghasilkan peningkatan luas daun paling sedikit jika dibandingkan dengan perlakuan bunyi noise pada level sedang 80-85 dB. Hasil dari penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Susanti (2013) yang menunjukkan bahwa bunyi gamelan jawa pada range frekuensi 3-6 kHz dapat meningkatkan panjang dan lebar daun tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.). Hasil penelitian serupa juga dinyatakan oleh Sigh et al. (2013) di mana bunyi musik klasik selama 3 jam meningkatkan indeks luas daun kacang-kacangan.

Tabel 3 Pengaruh paparan jenis dan level bunyi terhadap luas daun sawi hijau. Jenis

Bunyi Bunyi (dB) Level Luas Daun (cm 2) 28 HSS 32 HSS 36 HSS 40 HSS 46 HSS Musik Klasik 70-75 8.59ab 15.46a 22.48bc 33.19ab 72.88abc 80-85 7.93abc 15.34a 22.87abc 32.94ab 77.41ab 90-95 6.39abcd 11.14bc 18.88cd 27.76b 42.19cd Noise 70-75 9.04 a 16.76a 27.11a 30.45ab 66.31bcd 80-85 8.55ab 15.32a 23.45ab 32.14ab 81.27a 90-95 7.15abcd 14.16ab 21.55bc 30.41ab 68.55bc M.Klasik + Noise 70-75 8.36ab 15.93a 24.15ab 32.85ab 59.90d 80-85 4.99d 9.91c 16.07d 31.19ab 73.14abc 90-95 8.08abc 15.06a 23.98ab 35.53a 70.40abc Kontrol 5.96cd 10.19c 20.26bcd 28.49b 55.05d Keterangan: angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang

tidak berbeda nyata pada uji DMRT pada taraf P<0,05; HSS=Hari Setelah Semai Grafik pada Gambar 13 menunjukkan bahwa laju peningkatan luas daun relatif stabil mulai pengamatan di hari ke-28 hingga hari ke-42. Pengamatan pada hari ke-42 menunjukkan bahwa terjadi lonjakan peningkatan luas daun sawi hijau yang cepat. Hal ini disebabkan pada hari ke-42 hingga hari ke-46 cuaca di lokasi penelitian berkondisi hujan, sehingga menurunkan suhu siang hari menjadi 27°C-30°C dari awalnya 32°C-40°C. Kondisi tersebut menyebabkan sawi tumbuh dengan optimal, di mana Francisca (2009) meneliti bahwa sawi hijau tumbuh optimal pada suhu 27°C-32°C pada siang hari.

22

a) b)

c)

Gambar 13 Grafik pengaruh jenis dan level bunyi terhadap luas daun. a)musik klasik; b)noise; c)m.klasik+noise

Grafik yang ditampilkan pada Gambar 14 terlihat bahwa paparan bunyi

noise menghasilkan luas daun tertinggi sebesar 72 cm2, sedangkan tanaman kontrol menghasilkan luas daun terendah yaitu 55.1 cm2. Iriani et al. (2005) menyatakan bahwa terdapat peningkatan luas daun tembakau yang diberi perlakuan sonic bloom sebesar 3.28%. Laju peningkatan luas daun sawi hijau mulai pengamatan hari ke-28 hingga hari ke-42 relatif stabil untuk semua perlakuan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, perubahan iklim curah hujan yang tinggi pada hari ke-42 mengakibatkan peningkatan luas daun yang cukup tinggi. Suhu yang lebih rendah membuat sawi hijau tumbuh lebih optimal.

Paparan bunyi noise ternyata tidak berdampak negatif terhadap dimensi luas daun. Pada Tabel 3 dan Gambar 13 paparan bunyi noise justru memberikan hasil terbaik terutama pada level bunyi 80-85 dB. Pemberian bunyi campuran juga menghasilkan hasil lebih baik jika dibandingkan tanaman tanpa perlakuan. Dapat disimpulkan dari perlakuan ini bahwa bunyi noise memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan dimensi daun sawi hijau, sehingga tidak diperlukan stimulasi musik klasik tambahan.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 26 30 34 38 42 46 50 L u a s d a u n ( c m 2 ) Har i ke 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 26 30 34 38 42 46 50 L u a s d a u n ( c m 2 ) Har i ke 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 2 6 3 0 34 38 42 46 50 Lu as d au n sa w i (c m 2 ) Har i ke 70 -7 5dB 8 0-85d B 9 0-95 dB kont r o l

23

Gambar 14 Pengaruh jenis bunyi terhadap luas daun

Pengaruh Jenis dan Level Bunyi terhadap Tingkat Kehijaun Daun

Klorofil meter (SPAD) merupakan alat yang dapat digunakan untuk memonitor warna daun dan jumlah klorofil. Klorofil meter menggunakan spektrum warna yang dipantulkan oleh daun. Nilai SPAD berkorelasi tinggi dengan kandungan ekstrak klorofil telah dilaporkan untuk beberapa spesies tanaman (Handoyo 2010). Salah satu pendekatan untuk mengetahui jumlah klorofil daun adalah dengan mengukur tingkat kehijauan. Daun yang lebih hijau diduga memiliki kandungan klorofil yang tinggi.

Perlakuan paparan jenis dan level bunyi melalui analisa sidik ragam (ANOVA) tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan klorofil daun yang direpresentasikan indeks SPAD (Gambar 15). Namun secara umum level bunyi yang lebih rendah meningkatkan nilai indeks kehijauan daun jika dibandingkan dengan tanaman kontrol. Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Hou et al. (1999), di mana paparan bunyi 0.08-2 kHz, dan level bunyi 100 dB selama 180 menit dapat meningkatkan kadar klorofil pada daun bayam dan tomat. Penelitian serupa juga telah dilakukan oleh Fan et al. (2010) yang menyatakan teknologi plant acoustic frequency technology (PAFT) dengan paparan frekuensi 0.08 hingga 2 kHz pada level bunyi 100 dB selama 180 menit setiap hari dapat meningkatkan kandungan klorofil daun dan jumlah bunga pada tanaman mentimun dan paprika.

Pengukuran indeks kehijauan daun pada penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan yang dapat dikemukakan. Pertama, level bunyi 70-75 dB cenderung menghasilkan kadar kehijauan daun yang lebih tinggi. Kedua, sawi hijau yang tidak terpapar bunyi menghasilkan indeks hijau daun yang paling rendah jika dibandingkan dengan sawi yang terpapar bunyi dengan jenis apapun. Kesimpulan khusus terkait perlakuan ini adalah paparan bunyi noise ternyata menghasilkan indeks hijau daun yang lebih tinggi jika dibandingkan sawi kontrol.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 26 30 34 38 42 46 50 L u a s d a u n sa w i (c m 2 ) Har i ke

24

Pencampuran bunyi noise dengan musik klasik dapat meningkatkan indeks kehijaun daun.

Gambar 15 Pengaruh jenis dan level bunyi terhadap indeks kehijauan daun (SPAD)

Pengaruh Jenis dan Level Bunyi Terhadap Dimensi Bukaan Stomata

Analisa stomata menunjukkan bahwa paparan bunyi musik klasik, noise dan campuran memberikan pengaruh yang nyata pada lebar bukaan stomata (Gambar 16) jika dibandingkan dengan yang tidak terpapar bunyi (kontrol). Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Kadarisman et al. (2011), bahwa bunyi serangga seperti garengpung, belalang, jangkrik, dan orong-orong dapat mensti-mulus stomata untuk membuka lebih lebar pada tiga jenis tanaman kacang. Pada Gambar 16 pemberian bunyi noise pada level bunyi rendah (70-75 dB) meningkatkan rata-rata lebar bukaan stomata paling besar yakni 12295.34 nm. Disisi lain, sawi yang tidak terpapar bunyi menghasilkan rata-rata lebar bukaan stomata paling kecil yakni 4510.61 nm. Penelitian lainnya yang telah dilakukan oleh Carlson (2013), dijelaskan bahwa bunyi yang dihasilkan dari sonic bloom

dengan frekuensi 3-5 kHz selama 3 jam dapat meningkatkan bukaan stomata, sehingga CO2 dapat masuk lebih banyak melalui stomata dan meningkatkan laju fotosintesis.

Gambar 16 Pengaruh jenis dan level bunyi terhadap lebar bukaan stomata

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

M usik klasik M .klasik + Noise Noise

In d e k s S P A D Jenis bunyi 70 -75dB 80 -85dB 90 -95dB Kontr ol 0 2 00 0 4 00 0 6 00 0 8 00 0 1 00 00 1 20 00 1 40 00

M .Klasik Noise M .Klasik+No ise

Le b ar b u ka an s to m at a (n m ) Je nis b un yi 70 -75 dB 80 -85d B 90-9 5d B ko nt r ol

25 Pembukaan stomata yang distimulasi frekuensi akustik dapat meningkatkan tekanan osmotik pada protoplasma sel penjaga, di mana sel penjaga akan menggembung dan stomata akan membuka lebih lebar. Dengan pembukaan stomata, maka transpirasi akan berlangsung. Akar tanaman akan menyerap larutan di dalam tanah untuk menjaga turgor sel tanaman. Oksigen akan terevaporasi pada saat stomata membuka, sementara gas CO2 akan masuk ke dalam sel daun (Radwan 2007).

Hasil pengujian menunjukkan paparan bunyi dengan berbagai jenis dan level tidak berpengaruh nyata terhadap panjang bukaan stomata (Gambar 17). Hal ini disebabkan panjang stomata bagian dalam merupakan ujung dari sel penjaga yang ukuranya tidak banyak berubah meskipun terjadi perubahan lebar bukaan stomata.

Gambar 17 Pengaruh jenis dan level bunyi terhadap panjang stomata bagian dalam

Paparan bunyi noise ternyata memberikan pengaruh positif terhadap lebar bukaan stomata. Pada Gambar 16 paparan bunyi noise pada level 70-75 dB memberikan hasil lebar bukaan stomata tertinggi. Pemberian bunyi campuran juga menghasilkan lebar bukaan stomata lebih tinggi jika dibandingkan sawi hijau tanpa perlakuan. Dapat disimpulkan dari perlakuan ini bahwa bunyi noise

memberikan pengaruh yang positif terhadap lebar bukaan stomata sawi hijau, sehingga tidak diperlukan stimulasi musik klasik tambahan.

Hubungan Bukaan Stomata dengan Tinggi Tanaman, Luas Daun, Berat Basah dan Indeks SPAD

Pengaruh lebar bukaan stomata terhadap berbagai variabel peubah yakni tinggi tanaman, luas daun, indeks SPAD dan berat basah, tidak menunjukkan korelasi yang erat. Hal ini ditunjukkan pada Gambar 18, di mana nilai R2 dari masing-masing grafik sangat kecil dibawah 0.5. Secara umum dari penelitian ini belum dapat disimpulkan bahwa lebar bukaan stomata linier dengan variabel peubah yang diamati. Penelitian yang telah dilakukan oleh Pujiwati et al. (2014) menunjukkan bahwa lebar bukaan stomata daun kentang tidak berkorelasi dengan produktivitas kentang yang dihasilkan, hal tersebut ditunjukkan dengan nilai R2 sebesar 0.0236. Hal tersebut bertolakbelakang dengan penelitian yang telah

0 50 0 0 1 0 00 0 1 5 00 0 2 0 00 0 2 5 00 0

M .Klasik No ise M .Klasik+No ise

Pa nj an g si si d al am s to m at a (n m ) Jen is b u nyi 7 0-7 5 dB 80 -8 5 dB 90 -9 5 dB ko nt r o l

26

dilakukan oleh Kadarisman et al. (2011) menyatakan bahwa membukanya stomata dapat menyebabkan O2 terdifusi keluar dan CO2 masuk ke dalam sel menjadi proses fotosintesis. Dari proses fotosintesis tersebut secara langsung akan berpengaruh terhadap proses respirasi, di mana bahan utama proses respirasi adalah karbohidrat yang dihasilkan proses fotosintesis. Proses respirasi inilah yang dapat menghasilkan energi dalam bentuk ATP (Adenosin Tri Phospate).

a) b)

c) d)

Gambar 18 Grafik hubungan bukaan stomata dengan beberapa variabel ukur tanaman sawi; a)tinggi tanaman, b)luas daun, c)indeks SPAD, d)berat basah

Kelemahan dari penelitian ini adalah sampel stomata masih kurang, sehingga diperlukan lebih banyak data atau sampel stomata yang diamati. Pengambilan sampel stomata dalam penelitian ini hanya dilakukan sekali pada saat tanaman berusia 40 hari, sehingga belum dapat dikatakan merepresentasikan hubungan lebar bukaan dengan variabel ukur secara menyeluruh. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan mengukur stomata lebih dari sekali ukur, misalnya dilakukan pengukuran setiap interval 10 hari. Diduga, dengan solusi tersebut akan menghasilkan korelasi semakin erat dan linieritas antara bukaan stomata dengan variabel peubah semakin tinggi. Menurut Carlson (2013) frekuensi akustik dapat merangsang pembukaan stomata sehingga dapat mengakibatkan proses transpirasi

120 130 140 150 160 170 180 0 2500 5000 7500 10000 12500 T in g g i ta n a m a n s a w i (m m )

Lebar bukaan stomata (nm)

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 0 2500 5000 7500 10000 12500 L u a s d a u n s a w i (c m 2 )

Lebar bukaan stomata (nm)

25 30 35 40 45 50 0 2500 5000 7500 10000 12500 In d e k s S P A D

Lebar bukaan stomata (nm)

0 5 10 15 20 25 0 2500 5000 7500 10000 12500 B e r a t b a s a h s a w i (g )

27 terus berlangsung, selain itu memperpanjang masa penyerapan unsur hara sebagai penyeimbang transpirasi, sekaligus energi yang dihasilkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman semakin besar. Lawlor (2002) menyatakan bahwa penurunan konduktansi stomata secara perlahan akan menurunkan konsentrasi CO2 dan dengan sendirinya akan menurunkan laju fotosintesis. Solusi yang mungkin dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai korelasi adalah dengan menggunakan pupuk daun pada saat perlakuan paparan bunyi. Menurut Yulianto (2008a), penambahan pupuk daun berupa nutrisi rumput laut pada saat pemaparan bunyi menggunakan teknologi sonic bloom dapat meningkatkan produktivitas cabai merah.

Pengaruh Jenis dan Level Bunyi terhadap Produktivitas Tanaman

Pemaparan bunyi dengan jenis musik klasik, noise dan campuran berpengaruh nyata dalam meningkatkan berat biomassa sawi hijau dibandingkan dengan tanaman kontrol. Pada Gambar 19, pemaparan bunyi musik klasik dengan level 70-75 dB menghasilkan pertambahan berat biomassa tertinggi dengan rata-rata 22.56 gram tiap tanaman. Tanaman kontrol menghasilkan rata-rataan berat basah sawi sebesar 14.67 gram tiap tanaman. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Iriani et al. (2005) yang menyatakan penerapan

sonic bloom mampu meningkatkan produksi tembakau sebesar 31.9% atau sebesar 581 kg/ha yaitu dari 1822 kg/ha menjadi 2403 kg/ha. Hasil serupa juga dinyatakan oleh Lirong et al. (2010) yang melakukan penelitian menggunakan stimulus bunyi alam (nature sound) dengan frekuensi 40-2000 Hz selama 3 jam mulai pukul 09.00 pada tanaman strowberi, dapat meningkatkan jumlah produksi buah sebesar 16.6% dan total biomassa hingga 50%.

Dokumen terkait