Konsentrasi VFA
Proses degradasi karbohidrat dalam rumen terjadi melalui dua tahap yaitu pemecahan karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana dan pemecahan gula sederhana menjadi asam asetat, asam propionat, asam butirat, CO2 dan CH4
(McDonald et al., 2002).
Asam lemak mudah terbang atau Volatile Fatty Acids (VFA) merupakan produk utama fermentasi mikroba rumen. Produksi VFA mencerminkan fermentabilitas pakan dan merupakan sumber energi utama bagi ternak. VFA merupakan produk akhir dari fermentasi nutrien, khususnya protein dan karbohidrat (Van Houtert, 1993). Rataan produksi Volatyle Fatty Acid (VFA) cairan rumen yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Rataan konsentrasi Volatyle Fatty Acid (VFA-mM) Perlakua n Ulangan Rataan Sd 1 2 3 4 5 P0 81.43 105.23 120.26 102.73 142.81 110.49 22.76 P1 165.36 177.89 171.63 95.21 147.82 151.58 33.45 P2 159.10 154.09 114.00 125.28 100.22 130.54 25.45 P3 95.21 85.19 78.92 171.63 107.00 107.59 37.34 Rataan 125.28 130.60 121.20 123.71 124.46 125.05
Dari Tabel 9, dapat dilihat bahwa rataan konsentrasi VFA yang dihasilkan dari semua perlakuan berkisar antara 107.59-151.58 mM. Hasil ini masih dalam keadaan normal yang mendukung pertumbuhan mikroba. Kisaran produk VFA cairan rumen normal yang mendukung pertumbuhan mikroba adalah 80-160 mM (Sutardi,1980).
Pada perlakuan P3 (konsentrat yang mengandung kulit daging buah kopi yang diamoniasi sebesar 45%), rataan konsentrasi VFA yang terendah yaitu 107.59 mM. Sedangkan rataan yang tertinggi pada P1 (konsentrat yang mengandung kulit daging buah kopi yang diamoniasi 15%) yaitu 151.58 mM. Analisis keragaman konsentrasi VFA dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10. Analisis keragaman konsentrasi VFA
SK DB JK KT Fhitung Ftabel 5% 1% Perlakuan 3 6254.26 2084.75 2.27tn 3.24 5.29 Galat 16 14717.51 919.84 Total 19 20971.77 FK 312752.55 KK 24.25
Ket : tn = tidak nyata
Hasil analisis keragaman pada Tabel 10, menunjukkan pengaruh yang tidak nyata (P>0.05) terhadap konsentrasi VFA. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kulit daging buah kopi yang diamoniasi dengan urea pada pakan domba tidak mempengaruhi ekosistem rumen dari sudut metabolisme rumen. Pertumbuhan metabolisme rumen sangat dipengaruhi oleh pakan yang diberikan. Faktor yang mempengaruhi populasi mikroba rumen secara umum ditentukan oleh tipe makanan yang dikonsumsi ternak (Arora,1995).
Menurut Arora (1989), bahwa peranan VFA sangat penting sebagai sumber energi. VFA merupakan sumber kerangka karbon untuk pembentukan protein mikroba. Produksi VFA total dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, sifat karbohidrat, laju makanan meninggalkan rumen dan frekuensi pemberian pakan (Sutardi, 1977). Proses fermentasi karbohidrat oleh mikroba rumen menghasilkan energi yang berupa asam-asam lemak atsiri (VFA) antara lain yang utama yaitu asetat, butirat dan propionat. Pakan baik berupa konsentrat maupun
hijauan (rumput dan leguminosa) akan mengalami proses fermentasi oleh mikroba rumen. Hasil utama pencernaan karbohidrat dalam rumen adalah VFA terutama
asam asetat (C2), propionat (C3), butirat (C4), laktat dan format (Parakkasi, 1999). Produksi yang terpenting dan potensial sebagai sumber energi
karbon untuk pertumbuhan bagi mikroba adalah asam asetat, propionat dan butirat (Hvelplund, 1991). Menurut Steward (1991) VFA akan diabsorbsi melalui dinding rumen dan masuk ke sistem peredaran darah yang kemudian VFA akan dioksidasi di dalam hati yang selanjutnya akan mensuplai sebagian besar kebutuhan energi dari ternak yang bersangkutan.
Konsentrasi NH3
Amonia (NH3) merupakan produk utama dari proses deaminasi asam
amino dan kucukupannya dalam rumen untuk memasok sebagian besar N untuk pertumbuhan mikroba merupakan prioritas utama dalam mengoptimalkan fermentasi hijauan (Leng, 1990).
Konsentrasi amonia dalam rumen ikut menentukan metabolisme mikroba yang pada gilirannya akan mempengaruhi hasil fermentasi bahan organik pakan (Haryanto, 1994). Konsentrasi amonia menggambarkan kecepatan pencernaan sumber nitrogen. Konsentrasi amonia ditentukan oleh tingkat protein pakan yang dikonsumsi, derajat degradabilitasnya, lama dalam rumen dan pH rumen.
Amonia erat kaitannya dengan sintesis protein mikroba rumen, karena mikroba rumen memanfaatkan amonia sebagai sumber N utama untuk sintesi protein mikroba rumen. Dengan demikian, kadar NH3 merupakan salah satu
indikator untuk mengetahui fermentabilitas pakan yang berhubungan dengan kecernaan protein pakan, aktivitas dan populasi mikroba rumen. Konsentrasi
amonia didalam rumen merupakan suatu kebesaran yang sangat penting untuk dikendalikan karena sangat menentukan optimasi pertumbuhan mikroba rumen. Rataan konsentrasi amonia (NH3), dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11.Rataan konsentrasi amonia (NH3-mM)
Perlakuan Ulangan Rataan Sd
1 2 3 4 5 P0 10.33 11.15 11.33 8.97 10.15 10.39 0.94 P1 6.55 5.55 4.78 5.37 5.90 5.63 0.65 P2 10.62 8.14 7.20 7.43 8.50 8.38 1.36 P3 15.75 11.21 9.68 5.84 10.69 10.63 3.55 Rataan 10.81 9.01 8.25 6.90 8.81 8.76
Dari Tabel 11, Dapat dilihat bahwa rataan konsentrasi NH3 bekisar antara
5.63-10.63 mM. Rataan NH3 yang tertinggi pada perlakuan P3 (konsentrat yang
mengandung kulit daging buah kopi diamoniasi sebesar 45%) yaitu 10.63 mM, Sedangkan yang terendah pada perlakuan P1 (konsentrat yang mengandung kulit daging buah kopi yang diamoniasi sebesar 15%) yaitu 5.63 mM. Nilai tersebut masih optimal untuk pertumbuhan mikroba rumen. Menurut Sutardi (1979) kadar amonia yang dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan mikroba rumen antara 4-12 mM, Menurut Agustin et al. (1991) konsentrasi NH3 cairan rumen yang
optimal adalah 8 mM.
Konsentrat yang mengandung kulit daging buah kopi yang diamoniasi mengandung urea yang cukup tinggi. Urea merupakan sumber NPN yang dapat meningkatkan produksi amonia sehingga pada perlakuan P3 konsentrasi NH3 yang
dihasilkan tinggi. Analisis keragaman konsentrasi NH3 dapat dilihat pada Tabel
Tabel 12. Analisis keragaman konsentrasi NH3 SK DB JK KT Fhitung Ftabel 5% 1% Perlakuan 3 80.49 26.83 6.81** 3.24 5.29 Galat 16 63.04 3.94 Total 19 143.53 FK 1533.70 KK 22.67
Ket : ** = sangat berbeda nyata
Hasil analisis keragaman pada Tabel 12 menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan menggunakan kulit daging buah kopi tanpa diamoniasi dan kulit daging buah kopi yang diamoniasi dalam pakan domba lokal jantan lepas sapih memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata terhadap konsentrasi NH3.
Dapat disimpulkan bahwa rataan konsentrasi NH3 menurun dari perlakuan P0 ke
P1 sedangkan pada populasi bakteri yang dari P0 ke P1 meningkat. Hal ini menandakan bahwa bakteri dalam rumen mempergunakan nitrogen (NH3) untuk
sintesis protein. Menurut Baldwin dan Allison (1983) lebih kurang 80% bakteri rumen membutuhkan amonia untuk proses pertumbuhannya.
Rataan konsentrasi NH3 P0 ke P1 menurun seiring dengan penurunan
populasi protozoa. Protozoa berperan penting dalam daur ulang N, penurunan protozoa di dalam rumen menyebabkan konsentrasi NH3 menurun
(Erwanto, 1993). Kemudian dilanjutkan dengan uji duncan 0.01% konsentrasi NH3 yang dapatdilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Uji duncan 0.01% konsentrasi NH3
Perlakuan Rataan Notasi
P0 10.39 C
P1 5.63 A
P2 8.38 B
Dari Tabel diatas 13. Didapat bahwa penelitian dengan menggunakan kulit daging buah kopi dalam pakan domba terhadap konsentrasi NH3 pada P2 dan P1,
notasinya berbeda. Sedangkan pada P3 dan P0, notasinya sama.
Populasi Bakteri
Bakteri rumen dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat utama yang digunakan, karena sulit mengklasifikasikan berdasarkan morfologinya. Kebalikannya protozoa diklasifikasikan berdasarkan morfologinya sebab mudah dilihat berdasarkan penyebaran silianya. Beberapa jenis bakteri yang dilaporkan oleh Hungate (1966) adalah : (a) bakteri pencerna selulosa (Bakteroidessuccinogenes, Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus,
Butyrifibriofibrisolvens), (b) bakteri pencerna hemiselulosa (Butyrivibrio fibrisolvens, Bakteroides ruminocola, Ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna pati (Bakteroides ammylophilus, Streptococcus bovis, Succinnimonas amylolytica, (d) bakteri pencerna gula (Triponema bryantii, Lactobasilus ruminus), (e) bakteri pencerna protein (Clostridium sporogenus, Bacillus licheniformis). Rataan populasi bakteri dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Rataan populasi bakteri (107-sel/ml)
Perlakuan Ulangan Rataan Sd
1 2 3 4 5 P0 0.04 0.02 0.79 1.22 0.08 0.43 0.55 P1 1.20 0.85 0.54 1.04 1.07 0.94 0.26 P2 0.52 0.39 0.21 0.77 1.26 0.63 0.41 P3 0.87 0.31 0.16 0.08 0.53 0.39 0.32 Rataan 0.66 0.39 0.43 0.78 0.74 0.60
Dari Tabel 14 diatas, Dapat dilihat bahwa rataan populasi bakteri yang tertinggi terdapat pada perlakuan P1 (konsentrat yang mengandung kulit daging
buah kopi yang diamoniasi sebesar 15%) yaitu sebesar 0.94×107 sel/ml isi rumen, sedangkan yang terendah pada perlakuan P3 (konsentrat yang mengandung kulit daging buah kopi tanpa amoniasi sebesar 45%) yaitu sebesar 0.39×107 sel/ml isi rumen. Disini dapat dilihat bahwa dari perlakuan P0 ke P1 mengalami peningkatan. Meskipun tidak dalam kisaran populasi bakteri dalam rumen. Hal ini disebabkan karena ada kaitannya antara populasi bakteri dengan populasi protozoa, dimana pada kondisi ini protozoa memangsa bakteri sebagai sumber energi dalam hidupnya sehingga populasi bakteri berkurang hingga setengahnya, hal ini juga sesuai dengan pernyataan Sembiring (2010),yang menyatakan bahwa protozoa memangsa bakteri yang justru sangat bermanfaat dalam mencerna serat kasar, sehingga jumlah bakteri berkurang sampai setengahnya. Sehingga pada kondisi ini lebih baik dilakukan defaunasi pada rumen untuk mengurangi jumlah protozoa. Bakteri rumen banyak jenisnya dan populasinya berkisar antara 109-1012 sel /ml isi rumen (Stewart, 1991). Analisis keragaman populasi bakteri dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Analisis keragaman populasi bakteri
SK DB JK KT Fhitung Ftabel 5% 1% Perlakuan 3 0.95 0.32 2.00tn 3.24 5.29 Galat 16 2.53 0.16 Total 19 3.47 FK 7.14 KK 66.51
Ket : tn = tidak nyata
Hasil analisis keragaman pada Tabel 15. menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari F tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan mengunakkan kulit daging buah kopi yang tidak diamoniasi dengan level 30%
dan kulit daging buah kopi yang diamoniasi dengan level 15%, 30%, dan 45% dalam pakan domba lokal jantan memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap populasi bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian daging buah kopi yang diamoniasi pada pakan domba tidak mempengaruhi populasi bakteri dalam rumen domba. Perkembangan populasi mikroba rumen terutama bakteri rumen akan dibatasi oleh kadar amonia, karena sangat diperlukan oleh bakteri sebagai sumber N untuk membangun selnya dan sifat predasi dari protozoa. Kecukupan ketersediaan amonia sebagai sumber N dan VFA yang merupakan sumber bahan baku utama yang dibutuhkan untuk proses sintesis protein mikroba yang berguna bagi induk semang (Preston dan Leng, 1987). Protein mikroba merupakan sumber protein yang utama bagi ternak ruminansia. Produksi protein mikroba dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan karbohidrat mudah dicerna dalam rumen seperti tetes, pati, glukosa, fruktosa dan sukrosa (Hungate, 1966).
Populasi Protozoa
Sebagian besar protozoa yang terdapat di dalam rumen adalah cilliata
meskipun flagellata juga banyak dijumpai. Cilliata ini merupakan non pathogen dan Anaerobicmichroorganism.
Sejak pertama kali ditemukan oleh Gruby and Delafond (1843), telah banyak dilakukan penelitian tentang taksonomi, fisiologi dan nutrisi cilliata. Seperti halnya bakteri, cilliata juga mampu memfermentasi hampir seluruh komponen tanaman yang terdapat didalam rumen seperti: selulosa, hemiselulosa, fruktosan, pektin, pati, gula terlarut dan lemak.
Protozoa rumen diklasifikasikan menurut morfologinya yaitu: Holotrichs yang mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat yang fermentabel, sedangkan Oligotrichs yang mempunyai silia sekitar mulut umumnya merombak karbohidrat yang lebih sulit dicerna (Arora, 1989). Rataan populasi protozoa selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Rataan populasi protozoa (105-sel/ml)
Perlakuan Ulangan Rataan sd
1 2 3 4 5 P0 2.74 2.06 2.12 2.66 3.04 2.52 0.42 P1 2.40 1.88 2.08 2.28 2.10 2.15 0.20 P2 2.70 2.16 2.40 2.08 2.02 2.27 0.28 P3 2.88 3.06 2.48 2.52 2.83 2.75 0.25 Rataan 2.68 2.29 2.27 2.39 2.50 2.42
Dari Tabel 16. Diatas dapat dilihat bahwa rataan populasi protozoa yang terendah pada perlakuan P1 (konsentrat yang mengandung kulit daging buah kopi tanpa amoniasi sebesar 15%) yaitu sebesar 2.15×105 sel/ml isi rumen, sedangkan yang tertinggi pada perlakuan P3 (konsentrat yang mengandung kulit daging buah kopi yang diamoniasi sebesar 45%) yaitu sebesar 2.75×105 sel/ml isi rumen. Populasi protozoa, salah satu jenis mikroba yang hidup di dalam rumen, berkisar antara 105-106 sel/ml cairan rumen (Ogimoto & Imai, 1981), dan sangat tergantung pada jenis ransum yang dikonsumsi. Protozoa biasanya memberikan kontribusi sekitar 40% dari total nitrogen mikroba rumen. Walaupun populasinya hanya setengah dari populasi bakteri yang ada dalam rumen, tetapi biomassanya jauh lebih besar yaitu mencapai 50% dari total biomassa seluruh mikroba rumen (Jouany, 1991). Analisis keragaman populasi protozoa dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Analisis keragaman populasi protozoa (105) SK DB JK KT Fhitung Ftabel 5% 1% Perlakuan 3 1.09 0.36 4.08* 3.24 5.29 Galat 16 1.43 0.09 Total 19 2.52 FK 117.56 KK 12.32
Ket : * = berbeda nyata
Hasil analisis keragaman pada Tabel 17. menunjukkan bahwa pemberian pakan mengunakkan kulit daging buah kopi yang tidak diamoniasi dengan level 30% dan kulit daging buah kopi yang diamoniasi dengan level 15%, 30%, dan 45% dalam pakan domba lokal jantan memberikan pengaruh yang nyata terhadap populasi protozoa. Hal ini menandakan bahwa pemberian kulit daging buah kopi yang diamoniasi pada pakan domba mempengaruhi populasi protozoa dalam rumen domba. Telah banyak bukti yang menunjukkan bahwa interaksi antara protozoa dan bakteri didalam rumen lebih bersifat kompetitif. Kemudian dilanjutkan dengan uju duncan 0.01% populasi protozoa yang dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Uji duncan 0.01% populasi protozoa
Dari Tabel diatas 18. Didapat bahwa penelitian dengan menggunakan kulit daging buah kopi dalam pakan domba terhadap populasi protozoa pada P0, P1, P2 dan P3 notasinya berbeda.
Perlakuan Rataan Notasi
P0 2.52 c
P1 2.15 a
P2 2.27 b
Rekapitulasi Hasil Penelitian
Rekapitulasi hasil penelitian ini adalah gabungan dari beberapa parameter seperti konsentrasi VFA, konsentrasi NH3, populasi bakteri dan
populasi protozoa untuk mengetahui pengaruh pemberian kulit daging buah kopi yang tidak diamoniasi dan diamoniasi dengan pemberian level yang berbeda. Tabel 19. Rekapitulasi Hasil Penelitian
Parameter Perlakuan
P0 P1 P2 P3 Konsentrasi VFA (mM) 110.49tn 151.58tn 130.54tn 107.59tn Konsentrasi NH3 (mM) 10.39C 5.36A 8.38B 10.63C
Populasi bakteri (×107sel/ml) 0.43tn 0.94tn 0.63tn 0.39tn Populasi protozoa (×105 sel/ml) 2.52c 2.15a 2.27b 2.75d Ket: tn = tidak nyata
Huruf berbeda menyatakan perbedaan nyata pada baris
Dari hasil rekapitulasi pada Tabel 19. diatas, menunjukkan bahwa perlakuan P0, P1, P2 dan P3 pada domba lokal jantan lepas sapih yang diberikan konsentrat mengandung kulit daging buah kopi yang tidak diamoniasi dan yang diamoniasi mamberikan pengaruh yang nyata pada konsentrasi NH3 dan populasi
protozoa sedangkan pada konsentrasi VFA dan populasi bakteri memberikan pengaruh yang tidak nyata.