PEMANFAATAN KULIT DAGING BUAH KOPI YANG DIAMONIASI PADA PAKAN DOMBA TERHADAP POPULASI MIKROBA,
KONSENTRASI VFA DAN NH3 DOMBA LOKAL JANTAN LEPAS SAPIH
CHRISTINE ADELIANA S 060306033
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PEMANFAATAN KULIT DAGING BUAH KOPI YANG DIAMONIASI PADA PAKAN DOMBA TERHADAP POPULASI MIKROBA,
KONSENTRASI VFA DAN NH3 DOMBA LOKAL JANTAN LEPAS SAPIH
SKRIPSI
Oleh:
CHRISTINE ADELIANA S 060306033
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PEMANFAATAN KULIT DAGING BUAH KOPI YANG DIAMONIASI PADA PAKAN DOMBA TERHADAP POPULASI MIKROBA,
KONSENTRASI VFA DAN NH3DOMBA LOKAL JANTAN LEPAS SAPIH
SKRIPSI
Oleh :
CHRISTINE ADELIANA S 060306033
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapat Gelar Sarjana di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011
Judul : Pemanfaatan Kulit Daging Buah Kopi Yang Diamoniasi
Pada Pakan Domba terhadap Populasi Mikroba, konsentrasi VFA dan NH3 domba lokal jantan lepas sapih
Nama : Christine Adeliana S NIM : 060306033
Departemen : Peternakan
Program studi : Ilmu Produksi Ternak
Disetujui oleh
Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Hasnudi, MS Ir. Edhy Mirwandhono, MSi
Ketua Anggota
Mengetahui,
ABSTRAK
CHRISTINE ADELIANA S: Pemanfaatan kulit daging buah kopi yang diamoniasi pada pakan domba terhadap populasi mikroba, konsentrasi VFA dan NH3 domba lokal jantan lepas sapih. Dibawah bimbingan HASNUDI selaku ketua
dan EDHY MIRWANDHONO selaku anggota komisi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan amoniasi kulit daging buah kopi terhadap populasi bakteri, populasi protozoa, konsentrasi VFA dan NH3 domba.Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak
Departemen Peternakan, Laboratorium Mikrobiologi Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara serta Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Perah, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor selama 3 (tiga) bulan penelitian dimulai bulan 20 Agustus 2010 sampai 19 November 2010. Metode penelitian ini menggunakan 20 ekor domba lokal jantan dengan rataan bobot badan awal 13.80 ± 1.27 kg dan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan konsentrat yang digunakan adalah kulit daging buah kopi yang tidak diamoniasi dan yang diamoniasi dengan level pemberian sebagai berikut, P0 (Pemberian konsentrat kulit daging buah kopi yang tidak diamoniasi sebesar 30%), P1 (Pemberian konsentrat menggunakan kulit daging buah kopi diamoniasi dengan level 15%), P2 (Pemberian konsentrat menggunakan kulit daging buah kopi diamoniasi dengan level 30%), P3 (Pemberian konsentrat menggunakan kulit daging buah kopi diamoniasi dengan level 45%). .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian konsentrat dengan level 30% tidak diamoniasi, 15%, 30% dan 45% yang diamoniasi berpengaruh tidak nyata terhadap parameter populasi bakteri dan konsentrasi VFA sedangkan berpengaruh nyata terhadap parameter populasi protozoa serta berpengaruh sangat nyata terhadap parameter konsentrasi NH3.
ABSTRACT
CHRISTINE ADELIANA S: Utilization of diamonized coffee flesh pod in the sheep ration on the microbial population, the concentration of VFA and NH3 in the local sheep. Under the guidance of HASNUDI as chairman and EDHY MIRWANDHONO as commission member.
The purpose of this research is to find out about the utilization diamonized coffee flesh pod the population microbia, the concentration of VFA and NH3 on sheep.The research was done in Laboratory of Animal Biology Departement
Animal Husbandry, Laboratory of Microbiology Departement Hama dan Penyakit
Tumbuhan, Faculty of Agriculture, North Sumatera University also laboratory of animal nutrition dairy sicence Departement Nutrition and Feed Technology, Faculty of Animal Husbandry, Bogor Agricultural University =for 3 months from 20 August 2010 to 19 November 2010.The research methodology used 20 male sheep with average weight of 1, 27 kilograms and the method of complete random planning (RAL) which consist of 4 treatments and 5 repetition.The level of the concentrate which was given to diamonized coffee flesh pod is P0 (the concentrate given on non-diamonized coffee flesh pod is 30%), P1 (the concentrate given on diamonized coffee flesh pod is 15%), P2 (the concentrate given on diamonized coffee flesh pod is 30%), P3 (the concentrate given on diamonized coffee flesh pod is 45%).
The result of the research shows that the contentrate on the level of 30% (non-diamonized), 15%, 30%, and 45% (diamonized) has no significant effect of the bacteria population, and the VFA concentration while it has significant effect on the population protozoa also significant different effect on the concentration NH3.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 04 Oktober 1988 dari Ayah
Suyadi dan Ibu Alm. D. Br. Tambunan. Penulis merupakan putri pertama dari tiga
bersaudara.
Tahun 2006 penulis lulus dari SMU Negeri 17 Medan dan pada tahun
2006 masuk ke Fakultas Pertanian USU melalui jalur tertulis Seleksi Penerimaan
Mahasiswa Baru. Penulis memilih program studi Produksi Ternak, Departemen
Peternakan.
Selama mengikuti perkulihan, pernah menjabat pengurus anggota
Himpunan Mahasiswa Muslim Peternakan Periode 2006-2008, menjabat
Bendahara Himpunan Mahasiswa Muslim Peternakan Periode 2008-2009.
Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di UD. Simas,
Sumatera Utara, pada bulan Juni sampai Juli 2009 dan melaksanakan penelitian di
Laboratorium Biologi Ternak Departemen Peternakan, Laboratorium Hama dan
Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan serta
Laboratorium Nutrisi Ternak Perah Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi
Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor dimulai Bulan September
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha
Kuasa, atas segala rahmat dan karuniaNya yang telah memberikan kesehatan dan
yang senantiasa menjaga dan melindungi penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Skripsi yang berjudul “ Pemanfaatan Kulit Daging Buah Kopi
Yang Diamoniasi Pada Pakan domba terhadap populasi mikroba, konsentrasi
VFA dan NH3 domba lokal jantan lepas sapih”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
Bapak Prof. Dr. Ir. Hasnudi, MS dan Bapak Ir. Edhy Mirwandhono, MSi selaku
ketua dan anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan memberi
berbagai masukan berharga kepada penulis mulai dari menetapkan judul dan
menyelesaikan skripsi ini.
Di samping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua staf
pengajar dan pegawai di Program Studi Ilmu Produksi Ternak Departemen, serta
rekan mahasiswa yang tak dapat disebutkan satu per satu di sini yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini
bermanfaat.
Medan, Juni 2011
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 3
Kegunaan Penelitian ... 3
Hipotesa Penelitian ... 4
TINJAUAN PUSTAKA Kulit Daging Buah Kopi ... 5
Amoniasi ... 8
Hijauan ... 9
Ransum Domba ... 11
Bungkil Inti Sawit ... 11
Dedak Padi ... 12
Onggok ... 12
Molases ... 13
Urea ... 13
Ultra Mineral ... 14
Garam ... 14
Sistem Pencernaan Ruminansia ... 14
Ekosistem Rumen ... 15
Peran Mikroba Rumen ... 16
Volatyle Fattty Acid (VFA) ... 18
Amonia (NH3) ... 19
Ternak Domba ... 21
METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 23
Bahan dan Alat Penelitian ... 23
Metode Penelitian... ... 24
Parameter Penelitian ... 25
Populasi Bakteri ... 25
Populasi Protozoa ... 26
Konsentrasi VFA ... 26
Konsentrasi NH3 ... 27
Mencari data yang hilang ... 27
Pelaksanaan Penelitian ... 27
Pengacakan domba ... 27
Pemberian pakan dan minum ... 27
Pemberian obat-obatan ... 28
Pengambilan cairan rumen ... 28
Menghitung populasi protozoa ... 28
Menghitung populasi bakteri... 29
Untuk analisa VFA dan NH3 ... 29
Pengukuran konsentrasi NH3 ... 30
Pengukuran konsentrasi VFA ... 31
HASIL DAN PEMBAHASAN Konsentrasi VFA ... 32
Konsentrasi NH3 ... 34
Populasi Bakteri ... 37
Populasi Protozoa ... 39
Rekapitulasi penelitian ... 42
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 43
Saran ... 43 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
No Hal
.
1. Kandungan zat makanan kulit buah kopi berdasarkan pengolahan ... 6
2. Kandungan zat gizi kulit kopi ... 8
3. Komposisi nutrisi rumput lapangan ... 10
4. Kebutuhan harian zat-zat makanan untuk ternak domba ... 11
5. Kandungan nilai gizi bungkil inti sawit ... 12
6. Kandungan nilai gizi dedak padi ... 12
7. Kandungan nilai gizi onggok ... 13
8. Kandungan nilai gizi molases ... 13
9. Rataan konsentrasi VolatyleFattyAcid (VFA) ... 32
10. Analisa keragaman konsentrasi VFA ... 33
11. Rataan konsentrasi NH3 ... 35
12. Analisa keragaman konsentrasi NH3 ... 36
13. Uji Duncan 0.01% konsentrasi NH3... 36
14. Rataan populasi bakteri (107) ... 37
15. Analisa keragaman populasi bakteri (107) ... 38
16. Rataan populasi protozoa (105) ... 40
17. Analisa keragaman populasi bakteri (105) ... 41
18. Uji Duncan 0.01% Populasi Protozoa ... 41
ABSTRAK
CHRISTINE ADELIANA S: Pemanfaatan kulit daging buah kopi yang diamoniasi pada pakan domba terhadap populasi mikroba, konsentrasi VFA dan NH3 domba lokal jantan lepas sapih. Dibawah bimbingan HASNUDI selaku ketua
dan EDHY MIRWANDHONO selaku anggota komisi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan amoniasi kulit daging buah kopi terhadap populasi bakteri, populasi protozoa, konsentrasi VFA dan NH3 domba.Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak
Departemen Peternakan, Laboratorium Mikrobiologi Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara serta Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Perah, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor selama 3 (tiga) bulan penelitian dimulai bulan 20 Agustus 2010 sampai 19 November 2010. Metode penelitian ini menggunakan 20 ekor domba lokal jantan dengan rataan bobot badan awal 13.80 ± 1.27 kg dan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan konsentrat yang digunakan adalah kulit daging buah kopi yang tidak diamoniasi dan yang diamoniasi dengan level pemberian sebagai berikut, P0 (Pemberian konsentrat kulit daging buah kopi yang tidak diamoniasi sebesar 30%), P1 (Pemberian konsentrat menggunakan kulit daging buah kopi diamoniasi dengan level 15%), P2 (Pemberian konsentrat menggunakan kulit daging buah kopi diamoniasi dengan level 30%), P3 (Pemberian konsentrat menggunakan kulit daging buah kopi diamoniasi dengan level 45%). .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian konsentrat dengan level 30% tidak diamoniasi, 15%, 30% dan 45% yang diamoniasi berpengaruh tidak nyata terhadap parameter populasi bakteri dan konsentrasi VFA sedangkan berpengaruh nyata terhadap parameter populasi protozoa serta berpengaruh sangat nyata terhadap parameter konsentrasi NH3.
ABSTRACT
CHRISTINE ADELIANA S: Utilization of diamonized coffee flesh pod in the sheep ration on the microbial population, the concentration of VFA and NH3 in the local sheep. Under the guidance of HASNUDI as chairman and EDHY MIRWANDHONO as commission member.
The purpose of this research is to find out about the utilization diamonized coffee flesh pod the population microbia, the concentration of VFA and NH3 on sheep.The research was done in Laboratory of Animal Biology Departement
Animal Husbandry, Laboratory of Microbiology Departement Hama dan Penyakit
Tumbuhan, Faculty of Agriculture, North Sumatera University also laboratory of animal nutrition dairy sicence Departement Nutrition and Feed Technology, Faculty of Animal Husbandry, Bogor Agricultural University =for 3 months from 20 August 2010 to 19 November 2010.The research methodology used 20 male sheep with average weight of 1, 27 kilograms and the method of complete random planning (RAL) which consist of 4 treatments and 5 repetition.The level of the concentrate which was given to diamonized coffee flesh pod is P0 (the concentrate given on non-diamonized coffee flesh pod is 30%), P1 (the concentrate given on diamonized coffee flesh pod is 15%), P2 (the concentrate given on diamonized coffee flesh pod is 30%), P3 (the concentrate given on diamonized coffee flesh pod is 45%).
The result of the research shows that the contentrate on the level of 30% (non-diamonized), 15%, 30%, and 45% (diamonized) has no significant effect of the bacteria population, and the VFA concentration while it has significant effect on the population protozoa also significant different effect on the concentration NH3.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap
produktivitas ternak. Apabila kekurangan pakan, baik secara kualitas maupun
kuantitas dapat menyebabkan rendahnya produksi ternak yang dihasilkan. Hal ini
disebabkan oleh banyaknya alternatif bahan pakan yang kualitas dan kuantitasnya
belum jelas. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha-usaha untuk mencari suatu
bahan pakan alternatif yang berpotensi baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Untuk mengatasi permasalahan di atas maka dilakukan upaya mencari
pakan alternatif yang potensial, murah, mudah diperoleh dan tidak bersaing
dengan manusia. Hasil sampingan perkebunan merupakan bahan yang paling
mudah untuk diperoleh, sebab hasil sampingannya tersedia dan melimpah untuk
jangka waktu yang lama. Selain itu kandungan nutrisinya masih tinggi dan dapat
memenuhi kebutuhan pokok ternak dan untuk meningkatkan produksinya. Ada
berbagai limbah perkebunan seperti pelepah sawit, bungkil inti sawit, kulit kakao,
kulit kopi dan lain-lainnya yang bisa dijadikan sebagai pakan alternatif dan
sampai saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Penggunaannya dalam
pakan domba akan memberikan makna ganda yakni menambah variasi persediaan
pakan dan mengurangi pencemaraan lingkungan.
Salah satu bahan pakan alternatif yang dapat digunakan sebagai bahan
pakan untuk ruminansia adalah kulit buah kopi. Kulit daging kopi buah dapat di
peroleh di Kabupaten Humbang Hasundutan (Dolok Sanggul, Pollung, Lintong
dan hanya digunakan sebagai pupuk organik saja. Kulit daging buah kopi ini
masih mengandung nutrisi yang sangat potensial untuk digunakan sebagai pakan
ternak ruminansia seperti domba.
Berdasarkan publikasi oleh Loka Penelitian Domba Galang Sumatera
Utara, Perkebunan kopi di Nasional mencapai 1.310.000 ha dengan produksi
686.768 ton/tahun. Limbah kulit daging buah kopi adalah 40-45% sebanyak
752,6-846,7 ton/hari. Nilai nutrisi kulit kopi adalah PK 10,4%, SK 17,2%, EM
14,34 MJ/Kg. Dilihat dari kandungan serat kasar beserta zat-zat makanan yang
terdapat di dalamnya, kulit buah kopi mempunyai potensi untuk dijadikan bahan
pakan ternak ruminan, namun pemanfaatan kulit buah kopi mempunyai faktor
pembatas karena mengandung tanin, kafein dan lignin. Berdasarkan publikasi dari
Institusi Fakultas Peternakan Undip (2005), Salah satu kendala pemanfaatan kulit
kopi sebagai pakan ternak adalah kandungan serat kasarnya yang tinggi (33,14%),
sehingga tingkat kecernaannya sangat rendah. Bukan hanya itu, amoniasi kulit
kopi juga dapat meningkatkan kadar protein serta menghilangkan aflatoksin.
Menurut publikasi dari Institusi Fakultas Peternakan Padjadjaran oleh
Novi Mayasari, I Nyoman P. Aryantha, Ana Rochana T, dan Tidi Dhalika, Untuk
menurunkan faktor pembatas itu, diperlukan pengolahan lebih lanjut, salah
satunya menerapkan proses amoniasi dengan urea agar tingkat kecernaan kulit
kopi bisa ditingkatkan. Material baru produk amoniasi umumnya memiliki
kualitas yang lebih baik daripada asalnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan
pengujian terhadap kulit buah kopi produk amoniasi dalam ransum ternak
Dengan Pemanfaatan Amoniasi Kulit Daging Buah Kopi Sebagai Ransum
ternak ruminan yang menjadi sumber protein dan serat diharapkan dapat
meningkatkan konsentrasi VFA (volatyle fatty acid) dan NH3 (amonia) yang
merupakan indikasi adanya penambahan populasi mikroba rumen. Sehubungan
dengan hal diatas maka saya mengajukan penelitian dengan judul “ Pemanfaatan
Kulit Daging Buah Kopi Pada Ransum Terhadap Populasi Mikroba, VFA Dan
NH3 (In Vitro) Domba Jantan Lokal Lepas Sapih”.
Tujuan Penelitian
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan amoniasi kulit daging
buah kopi terhadap populasi bakteri, populasi protozoa, konsentrasi VFA dan NH3
domba.
Kegunaan Penelitian
1. Sebagai bahan informasi bagi peternak domba serta masyarakat pada
umumnya, mengenai pemanfaatan penggunaan kulit kopi yang diamoniasi
terhadap domba jantan lepas sapih ditinjau dari Populasi Mikroba,
konsentrasi VFA Dan NH3 (In Vitro).
2. Sebagai bahan perbandingan untuk penelitian mahasiswa selanjutnya
mengenai kulit kopi.
3. Sebagai bahan penulisan skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk
menempuh ujian sarjana di Departemen Peternakan pada Fakultas
Hipotesa Penelitian
Pemanfaatan amoniasi kulit daging buah kopi pada ransum domba jantan
lepas sapih berpengaruh positif terhadap populasi bakteri, protozoa, konsentrasi
TINJAUAN PUSTAKA
Kulit Daging Buah Kopi Kulit kopi terdiri dari:
1. Lapisan bagian luar tipis yakni yang disebut ”Exocarp”; lapisan ini kalau
sudah masak berwarna merah.
2. Daging buah; daging buah ini mengandung serabut yang bila sudah masak
berlendir dan rasanya manis, maka sering disukai binatang kera atau
musang. Daging buah ini disebut ”Mesocarp”.
3. Kulit tanduk atau kulit dalam; kulit tanduk ini merupakan lapisan tanduk
yang menjadi batas kulit dan biji yang keadaannya agak keras. Kulit ini
disebut ”Endocarp”.
Gambar kulit daging buah kopi
(AAK, 1988).
Pemanfaatan limbah sebagai bahan pakan ternak merupakan alternatif
dalam meningkatkan ketersediaan bahan baku penyusun ransum. Limbah
konvensional yang sering digunakan dalam penyusunan ransum sebagian besar
berasal dari limbah dan pencarian bahan pakan yang belum lazim digunakan.
Setelah kopi dipanen, kulitnya dikupas. Kemudian, bijinya dijemur. Biasanya,
kulit kopi kecoklatan yang dipisahkan dari biji-biji kopi tersebut akan dibuang
begitu saja. Atau, paling tidak kulit kopi yang dipisahkan dari biji itu tadi
dikumpulkan. Lalu, dibiarkan hingga busuk. Selanjutnya, ditaruh di sekeliling
pohon kopi. Maksudnya, sebagai pengganti pupuk yang bertujuan untuk
menyuburkan tanaman. Umumnya, hal seperti itulah yang sering dilakukan petani
kopi.
Kulit buah kopi merupakan limbah dari pengolahan buah kopi untuk
mendapatkan biji kopi yang selanjutnya digiling menjadi bubuk kopi. Kandungan
zat makanan kulit buah kopi dipengaruhi oleh metode pengolahannya apakah
secara basah atau kering seperti terlihat pada tabel. Kandungan zat makanan kulit
buah kopi berdasarkan metode pengolahan. Pada metode pengolahan basah, buah
kopi ditempatkan pada tanki mesin pengupas lalu disiram dengan air, mesin
pengupas bekerja memisahkan biji dari kulit buah. Sedangkan pengolahan kering
lebih sederhana, biasanya buah kopi dibiarkan mongering pada batangnya
sebelum dipanen. Selanjutnya langsung dipisahkan biji dan kulit buah kopi
dengan menggunakan mesin.
Tabel 1. Kandungan zat makanan kulit buah kopi berdasarkan metode pengolahan
Metode pengolahan
BK (%) % Bahan Kering
PK SK Abu LK BETN
Basah 23 12.8 24.1 9.5 2.8 50.8
Kering 90 9.7 32.6 7.3 1.8 48.6
Menurut data statistik (BPS, 2003), produksi biji kopi di Indonesia
mencapai 611.100 ton dan menghasilkan kulit kopi sebesar 1.000.000 ton. Jika
tidak dimanfaatkan akan menimbulkan pencemaraan yang serius. Pengolahan cara
kimia dengan amoniak (NH3) disebut sebagai amoniasi. Keuntungan pengolahan
ini, selain meningkatkan daya cerna juga sekaligus meningkatkan kadar protein,
dapat menghilangkan aflatoksin dan pelaksanaannya sangat mudah.
Kelemahannya pengolahan ini utamanya untuk pakan ruminansia. Amoniak dapat
menyebabkan perubahan komposisi dan struktur dinding sel sehingga
membebaskan ikatan antara lignin dengan selulosa dan hemiselulosa dan
memudahkan pencernaan oleh selulase mikroorganisme. Amoniak akan terserap
dan berikatan dengan gugus asetil dari bahan pakan, kemudian membentuk garam
amonium asetat yang pada akhirnya terhitung sebagai protein bahan. Struktur
dinding sel kulit kopi menjadi lebih amorf dan tidak berdebu, sehingga menjadi
lebih mudah di tangani. Dalam keadaan tertutup (plastik belum dibuka/bongkar),
bahan pakan yang diamoniasi dapat tahan lama.
Kulit kopi mempunyai kandungan BK=91.77, PK=11.18, LK=2.5,
SK=21.74 dan TDN=57.20% (Amonimus, 2005). Namun demikian kulit kopi
hanya sebagian kecil dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia dan sebagian
besar lainnya dibuang atau dibenamkan dalam tanah untuk digunakan sebagai
Tabel 2. Kandungan zat gizi kulit kopi
Zat Nutrisi Kandungan (%) Kandungan (%) Tanpa diamoniasi Setelah diamoniasi
Bahan Kering 90.52 94.85
Lemak Kasar 1.31 1.93
Serat Kasar 34.11 27.52
Protein Kasar 6.27 8.67
Abu 7.54 8.47
Kadar Air 9.48 5.15
Hasil Analisa Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Departemen Peternakan FP USU (2010)
Amoniasi
Amoniasi merupakan proses perlakuan terhadap bahan pakan limbah
perkebunan dengan menambahkan bahan kimia berupa kaustik soda, sodium
hidroksi atau urea. Umumnya masyarakat lebih banyak menggunakan urea ini
sebagai bahan kimia yang digunakan karena lebih mudah untuk memperolehnya.
Dibanding cara pengolahan kimia yang lain (NaOH), amoniasi
mempunyai beberapa keuntungan, antara lain : 1). Sederhana cara pengerjaannya
dan tidak berbahaya; 2). Lebih murah dan mudah dikerjakan dibanding dengan
NaOH; 3). Cukup efektif untuk menghilangkan aflaktosin khususnya pada jerami;
4). Meningkatkan kandungan protein kasar; 5). Tidak menimbulkan polusi dalam
tanah. (Sugeng, 1995).
Satu-satunya sumber NH3 yang murah dan mudah diperoleh adalah urea.
Urea yang banyak beredar untuk pupuk tanaman pangan adalah dalam bentuk :
Urea dengan rumus molekul CO (NH2)2 banyak digunakan dalam ransum
ternak ruminansia karena mudah diperoleh, harga murah dan sedikit keracunan
yang diakibatkannya dibanding biuret. Secara fisik urea berbentuk kristal padat
berwarna putih dan higroskopis. Urea mengandung nitrogen sebanyak 42 – 45%
atau setara dengan potein kasar antara 262 – 281% (Belasco, 1945).
Urea yang ditambahkan dalam ransum ruminansia dengan kadar yang
berbeda-beda ternyata dirombak menjadi protein oleh mikroorganisme rumen.
Sejumlah protein dan urea dalam ransum nampaknya mempertinggi daya cerna
sellulosa dalam hijauan (Anggorodi, 1979).
Dari hasil percobaan Chuzaemi (1987) dengan level urea yang lebih tinggi
yaitu 6 dan 8% secara in vivo selain dapat meningkatkan kecernaan bahan
kering dan bahan organik juga energinya. Energi tercerna (De) meningkat dari
6,07 MJ menjadi 8,32 dan 9,54 MJ.
Hijauan
Pada umunya makanan domba berasal dari hiajaun yang terdiri dari
berbagai rumput dan daun-daunan. Hijauan merupakan bahan makanan yang
kandungan serat kasarnya relative tinggi yang termasuk kelompok bahan makanan
hijauan segar yaitu hay dan silase. Ternak domba merupakan hewan yang
memerlukan hijauan dalam jumlah yang besar kurang lebih 90% (Sugeng, 1995).
Konsumsi hijauan pakan dapat ditingkatkan dengan pemberian pakan
secara “ad libitum”. Peningkatan konsumsi akibat meningkatnya tingkat
pemberian pakan disebabkan oleh semakin besarnya peluang untuk memilik
(seleksi terhadap pakan yang diberikan. Bagian daun tanaman hijauan tropis
dan domba yang diberi hijauan pakan potongan memilih bagian daun yang
umumnya lebih tinggi kecernaannya dibandingkan batang. Pemilihan daun
dibandingkan batang mungkin terutama disebabkan oleh perbedaan sifat fisik dari
tanaman tersebut. Daun yang berbulu mungkin tidak akan dikonsumsi yang
berarti bahwa pemilihan terjadi bukan hanya karena faktor gizi, tetapi juga
dipengaruhi perbedaan tekstur yang mempengaruhi palatabilitas
(Woozicka-Tomaszewska, et al., 1993).
Hijauan pakan ternak merupakan makanan utama bagi ternak ruminansia
dan berfungsi tidak saja sebagai pengisi perut, tetapi juga sumber gizi, yaitu
protein, sumber tenaga vitamin dan mineral. Untuk dapat mencapai tingkat
produksi domba yang tertinggi maka usaha perbaikan kearah penyediaan,
pengadaan dan nilai makanan hijauan haruslah itingkatkan, misalnya dengan
memasukkan beberapa jenis hijauan dari luar negri. Rumput lapangan merupakan
salah satu jenis rumput yang telah lama dikenal oleh petani peternak dan
disenangi domba. Namun pemberian rumput lapangan sebagai sumber hijauan
untuk domba tidak dapat meningkatkan produksi dan hanya menyokong
kebutuhan zat-zat makanan untuk memenuhi kebutuhan pokok (Obst, dkk., 1978).
Tabel 3. Komposisi nutrisi rumput lapangan
Uraian Jumlah
Bahan kering (%) 27,91
Protein kasar (%) 10,62
Lemak kasar (%) 8,33
Serat kasar (%) 23,25
BETN (%) 47,56
Kadar abu (%) 9,98
Energi (Kg.Cal) 4,32
Ransum Domba
Ransum adalah bahan makanan yang diberikan kepada ternak selama 24
jam. Ransum terdiri dari bermacam-macam hijauan dan bermacam-macam bahan
selain hijauan makanan ternak. Ransum yang diberikan kepada ternak hendaknya
dapat memenuhi beberapa persayaratan berikut.
a. Mengandung gizi yang lengkap, protein, karbohidrate, vitamin dan
mineral. Makin banyak ragam bahan makin baik.
b. Digemari oleh ternak. Ternak suka melahapnya. Untuk ini ransum
hendaknya sesuai dengan selera ternak atau mempunyai cita rasa yang
sesuai dengan lidah ternak.
c. Mudah dicerna, tidak menimbulkan sakit atau gangguan yang lain.
d. Sesuai dengan tujuan pemeliharaan.
e. Harganya murah dan terdapat di daerah setempat.
(Lubis, 1998).
Tabel 4. Kebutuhan harian zat-zat makanan untuk ternak domba
BB Kg
BK Energi Protein
Ca (g)
P (g)
Kg % BB ME
(Mcal)
TDN (Kg)
Total
(g) DD
5 0.14 - 0.6 0.61 51 41 1.91 1.4
10 0.25 2.5 1.01 1.28 81 68 2.3 1.6
15 0.36 2.4 1.37 0.38 115 92 2.8 1.9
20 0.51 2.6 1.8 0.5 150 120 3.4 2.3
25 0.62 2.5 1.91 0.53 160 128 4.1 2.8
30 0.81 2.7 2.44 0.67 204 163 4.8 2.3
Sumber : NRC (1995)
Bungkil Inti Sawit
Menurut Devendra (1997) protein bungkil inti sawit lebih rendah dari pada
protein. Kandungan asam amino esensialnya cukup lengkap, imbangan kalsium
fospor cukup lengkap.
Tabel 5. Kandungan nilai gizi bungkil inti sawit
Uraian Kandungan (%)
Berat Kering 92.6a
Protein Kasar 15.4a
Lemak Kasar 2.4 a
Serat Kasar 16.9a
TDN 72b
Sumber : a. Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Departemen Peternakan FP USU (2005)
b. Laboraotrium Ilmu Makanan Ternak IPB Bogor (2008)
Dedak Padi
Dedak padi merupakan hasil ikutan dalam proses pengolahan gabah
menjadi beras yang mengandung bagian luar yang tebal, tetapi bercampur dengan
bagian penutup beras. Hal ini yang mempemngaruhi tinggi atau rendahnya serat
kasar dedak. Bila dilihat dari pengolahan gabah menjadi beras dapat digantikan
serat kasarnya tinggi (Rasyaf, 1992).
Tabel 6. Kandungan nilai gizi dedak padi
Uraian Kandungan (%)
Berat Kering 91.86
Protein Kasar 10.54
Lemak Kasar 12.44
Serat Kasar 14.97
Sumber : Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Departemen Peternakan FP USU (2005)
Onggok
Pengolahan ubi kayu menjadi tepung tapioca dihasilkan limbah yang
disebut onggok. Ketersediaan onggok sangat bergantung pada jumlah varietas dan
mutu ubi kayu yang diolah menjadi tapioka, ekstraksi pati tapioka Moertinah
(1984) melaporkan bahwa dalam pengolahan ubi kayu menghasilkan 15-20 % dan
Tabel 7. Kandungan nilai gizi onggok
Uraian Kandungan (%)
Berat Kering 81.7
Protein Kasar 0.6
Lemak Kasar 0.4
Serat Kasar 12
TDN 76 Sumber : Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Departemen Peternakan FP USU (2000)
Molases
Molases merupakan hasil sampingan pengolahan tebu menjadi gula.
Bentuk fisiknya berupa cairan yang kental dan berwarna hitam. Kandungan
karbohidrat, protein dan mineral yang cukup tinggi, sehingga bisa dijadikan pakan
ternak walaupun sifatnya sebagai pakan pendukung. Kelebihan molasses terletak
pada aroma dan rasanya, sehingga bila dicampur pada pakan ternak bisa
memperbaiki aroma dan rasa ransum (Widayati dan Widalestari, 1996).
Tabel 8. Kandungan nilai gizi molasses
Uraian Kandungan (%)
Berat Kering 67.5
Protein Kasar 3-4
Lemak Kasar 0.08
Serat Kasar 0.38
TDN 81 Sumber : Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Departemen Peternakan FP USU (2000)
Urea
Murtidjo (1990) menyatakan bahwa pemberian Nitrogen Non Protein
(NPN) pada makanan domba dalam batas tertentu, seperti penggunaan urea cukup
Urea CO(NH2)2 bila diberikan kepada ruminansia melengkapi sebagian
dari protein oleh mikroorganisme dalam rumen. Untuk itu diperlukan sumber
energi seperti jagung dan molasses (anggorodi, 1990). Basri (1990) menyatakan
bahwa selain meningkatkan kualitas hijauan, urea juga dapat sebagai pengganti
protein butir-butiran. Urea dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein
dan pertumbuhan produksi ternak ruminansia.
Ultra Mineral
Mineral adalah zat organik, yang dibutuhkan dalam jumlah yang kecil,
namun berperan penting agar proses fisiologis dapat berlangsung dengan baik.
Mineral digunakan sebagai kerangka pembentukan tulang, gigi, pembentukan
darah, pembentukan darah, pembentukan jaringan tubuh serta diperlukan sebagai
komponen enzim yang berperan dalam proses metabolisme didalam sel.
Penambahan mineral dalam pakan ternak dapat dilakukan untuk mencegah
kekurangan mineral dalam pakan (Setiadi dan Inouno, 1991).
Garam
Garam atau biasanya dikenal dengan NaCl merangsang sekresi saliva.
Terlalu banyak garam akan menyebabkan retensi air sehingga menimbulkan
udema. Defisiensi garam lebih sering terdapat pada hewan herbivora dari pada
hewan lainnya. Ini disebabkan hijauan dan butiran mengandung sedikit garam.
Gejala defisiensi garam adalah nafsu makan hilang, bulu kotor, makan tanah,
keadaan badan tidak sehat, produksi mundur sehingga menurunkan bobot badan
(Anggorodi, 1990).
Perkembangan sistem pencernaan ternak domba mengalami tiga fase
perubahan. Fase pertama, pada waktu domba dilahirkan sampai dengan umur
tiga minggu yang disebut non ruminansia karena pada tahapan ini fungsi
system pencernaan sama dengan pencernaan mamalia lain. Fase kedua mulai
umur 3-8 minggu disebut fase transisi yaitu perubahan dari tahap non ruminansia
menjadi ruminansia yang ditandai dengan perkembangan rumen. Tahap ketiga
fase ruminansia dewasa yaitu setelah umur domba lebih dari 8 minggu
(Van Soest, dkk., 1983)
Proses utama dari pencernaan adalah secara mekanik, enzimatik atau pun
mikrobial. Proses mekanik terdiri dari mastikasi atau penguyahan dalam mulut
dan gerakan-gerakan saluran pencernaan yang di hasilkan oleh kontraksi otot
sepanjang usus. Pencernaan secara enzimatik atau kimiawi di lakukan oleh enzim
yang di hasilkan oleh sel-sel dalam tubuh hewan dan yang berupa getah-getah
pencernaan (Tillman et al., 1991).
Frandson (1992) menyatakan bagian-bagian system pencernaan adalah
mulut, farinks, oesophagus (pada ruminansia merupakan perut depan atau
forestomach), perut glandular, usus halus, usus besar serta glandula aksesoris yang
terdiri dari glandula saliva, hati dan pankreas.
Ekosistem Rumen
Rumen merupakan tabung besar dengan berbagai kantong yang
menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Kerja ekstansif
bakteri dan mikroba terhadap zat-zat makanan menghasilkan pelepasan produk
akhir yang dapat diasimilasi. Papaila berkembang dengan baik sehingga luas
yang diproduksi, 85% diabsorbsi melalui epitelium yang berada pada dinding
retikulo-rumen (Blakely and Bade, 1982).
Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dan mikroorganisme yang paling
sesuai dan dapat hidup dapat ditemukan didalamnya. Tekanan osmos pada rumen
mirip dengan tekanan aliran darah. Temperatur dalam rumen adalah 38-42ºC, pH
dipertahankan dengan adanya absorbsi asamlemak dan amonia. Saliva yang
masuk kedalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mmpertahankan
pH tetap pada 6,8. Hal ini disebabakan oleh tingginya kadar ion HCO3 dan PO4
(Arora, 1995).
Cairan rumen segar didapat dengan memeras isi rumen. Cairan
ditempatkan ke dalam termoa yang telah dipanaskan terlebih dahulu dengan suhu
39ºC. Cairan rumen ditambahkan gas CO2 supaya kondisi anaerob sampai
dilakukan inokulasi (Afdal dan Erwan, 2007).
Peran Mikroba Rumen
Kelompok utama mikroba yang berperan dalam pencernaan ruminanasia
terdiri dari bakteri, protozoa, dan jamur yang jumlah dan komposisinya bervariasi
tergantung pada pakan yang dikonsumsi ternak (Preston dan Leng, 1987).
Mikroba rumen berpengaruh sangat besar terhadap status nutrisi ternak
ruminansia karena selain mencerna pakan juga merupakan sumber zat nutrisi
utama yaitu protein. Bakteri rumen banyak jenisnya dan populasinya berkisar
antara109 -1012 sel /ml isi rumen (Stewart, 1991). Menurut Baldwin dan Allison
(1983) lebih kurang 80% bakteri rumen membutuhkan amonia untuk proses
Kondisi lingkungan rumen yang kondusif akan mendukung pertumbuhan
mikroba yang maksimal terutama bakteri pencerna serat (bakteri selulolitik)
sehingga meningkatkan kecernaan ransum dan pada akhirnya akan meningkatkan
(konsumsi bahan kering, bahan organik dan zat nutrien lainnya), disamping laju
pengosongan isi rumen lebih cepat berlangsung.
Populasi protozoa, salah satu jenis mikroba yang hidup di dalam rumen,
berkisar antara 105-106sel/ml cairan rumen (Ogimoto & Imai, 1981), dan sangat
tergantung pada jenis ransum yang dikonsumsi. Protozoa biasanya memberikan
kontribusi sekitar 40% dari total nitrogen mikroba rumen. Walaupun populasinya
hanya setengah dari populasi bakteri yang ada dalam rumen, tetapi biomassanya
jauh lebih besar yaitu mencapai 50% dari total biomassa seluruh mikroba rumen
(Jouany, 1991).
Adanya mikroba dan aktifitas fermentasi di dalam rumen merupakan
salah satu karakteristik yang membedakan sistem pencernaan ternak ruminansia
dengan ternak lain. Mikroba tersebut sangat berperan dalam mendgradasi pakan
yang masuk ke dalam rumen menjadi produk-produk sederhana yang dapat
dimanfaatkan oleh mikroba maupun induk semang dimana aktifitas mikroba
tersebut sangat tergantung pada ketersediaan nitrogen dan energi
(Offer dan Robert, 1996).
Kualitas pakan yang rendah seperti yang umum terjadi di daerah tropis
menyebabkan kebutuhan protein untuk ternak ruminansia sebagian besar dipasok
oleh protein mikroba rumen. Soetanto (1994) menyebutkan hampir sekitar 70 %
Mikroba rumen membantu ternak ruminansia dalam mencerna pakan yang
mengandung serat tinggi menjadi asam lemak terbang (Volatyle Fatty Acids =
VFA’s) yaitu asam asetat, asam propionat, asam butirat, asam valerat serta asam
isobutirat dan asam isovalerat. VFA’s diserap melalui dinding rumen dan
dimanfaatkan sumber energi oleh ternak. Sedangkan produk metabolis yang tidak
dimanfaatkan oleh ternak pada umumnya berupa gas akan dikeluarkan dari rumen
melalui proses eruktasi (Barry et al., 1977). Namun, yang lebih penting ialah
mikroba rumen itu sendiri, karena biomas mikroba yang meninggalkan rumen
merupakan pasokan protein bagi ternak ruminansia. Sauvant et al, (1995)
menyebutkan bahwa 2/3 –3/4 bagian dari protein yang diabsorbsi oleh ternak
ruminansia berasal dari protein mikroba.
Produk akhir fermentasi protein akan digunakan untuk pertumbuhan
mikroba itu sendiri dan dapat digunakan untuk mensintesis protein sel mikroba
rumen sebagai pasokan utama protein bagi ternak ruminansia. Menurut Arora
(1995) sekitar 47% sampai 71% dari nitrogen yang ada di dalam rumen berada
dalam bentuk protein mikroba.
Volatyle Fatty Acid (VFA)
VFA merupakan produk akhir fermentasi karbohidrat dan merupakan
sumber energi utama ruminansia asal rumen. Peningkatan jumlah VFA
menunjukkan mudah atau tidaknya pakan tersebut difermentasi oleh mikroba
rumen. Produksi VFA di dalam cairan rumen dapat digunakan sebagai tolak ukur
fermentabilitas pakan (Hartati, 1998). Komposisi VFA didalam rumen berubah
pemberian pakan, serta pengolahan. Produksi VFA yang tinggi merupakan
kecukupan energi bagi ternak (Sakinah,2005).
Kisaran produk VFA cairan rumen normal yang mendukung pertumbuhan
mikroba adalah adalah 80 sampai 160 mM. Produksi VFA total menunjukkan
jumlah pakan (terutama karbohidrat yang merupakan prekusor produksi VFA total
yang difermentasikan oleh mikroba rumen (Sutardi, 1980). Sakinah (2005)
menambahkan, semakin sedikit produksi VFA yang dihasilkan maka semakin
sedikit pula protein dan karbohidrat yang mudah larut. Penurunan VFA diduga
berhubungan dengan kecernaan zat makanan, dimana VFA tersebut digunakan
sebagai sumber energi mikroba untuk mensintesis protein mikroba dan digunakan
untuk pertumbuhan sel tubuhnya.
Arora (1995), menyatakan bahwa sumber protein yang utama bagi ternak
ruminansia berasal dari protein mikrobia rumen, dan protein pakan yang lolos dari
degradasi di dalam rumen. Kebutuhan protein untuk hidup pokok pada ternak
ruminansia dapat dipenuhi melalui optimasi sintesis protein mikrobia di dalam
rumen tetapi pada kondisi fisiologis tertentu memerlukan tambahan protein dari
pakan.
Amonia (NH3)
Protein bahan makanan yang masuk ke dalam rumen pada awalnya akan
mengalami proteolisis oleh enzim-enzim protease menjadi peptida, lalu dihidrolisa
menjadi asam amino yang kemudian secara cepat dideaminasi menjadi amonia.
Keduanya akan digunakan oleh mikroba rumen dalam pembentukan protein
mikroba. Umumnya proporsi protein yang didegradasi dalam rumen sekitar
ransum yang tinggi dan proteinnya mudah didegradasi akan menghasilkan
konsentrasi NH3 di dalam rumen (McDonald et al.,2002). Selain itu, tingkat
hidrolisis protein bergantung kepada daya larutnya yang akan mempengaruhi
kadar NH3. Gula terlarut yang tersedia di dalam rumen dipergunakan oleh mikroba
untuk menghabiskan amonia (Arora, 1995). Jika pakan defisien protein atau tinggi
kandungan protein yang lolos degradasi, maka konsentrasi NH3 rumen akan
rendah (lebih rendah dari 50 mg/l atau 3,57 mM) dan pertumbuhan organisme
rumen akan lambat (Satter dan Slyter, 1974). Sebaliknya, jika degradasi protein
lebih cepat daripada sintesis protein mikroba, maka NH3 akan terakumulasi dan
melebihi konsentrasi optimumnya. Sutardi (1980) menyatakan kadar amonia yang
dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan mikroba rumen yang maksimal
berkisar antara 4-12 mM.
Peningkatan jumlah karbohidrat yang mudah difermentasi akan
mengurangi produksi amonia, karena terjadi kenaikan penggunaan amonia untuk
pertumbuhan protein mikroba. Kondisi yang ideal adalah sumber energi tersebut
dapat difermentasi sama cepatnya dengan pembentukan NH3 sehingga pada saat
NH3 terbentuk terdapat produksi fermentasi asal karbohidrat yang akan digunakan
sebagai sumber dan kerangka karbon dari asam amino protein mikroba telah
tersedia (Ranjhan, 1977, disitasi Astriana, D, 2009).
Amonia oleh mikroba rumen digunakan sebagai sumber nitrogen dalam
mensintesis tubuhnya, sehingga kecukupan amonia mutlak diperlukan bagi
perkembangan mikroba rumen. Peningkatan populasi mikroba sangat
menguntungkan bagi hewan ternak, selain meningkatkan kecernaan pakan dalam
mengalir ke usus. Produksi amonia yang dapat memenuhi kebutuhan tidak akan
merugikan sintesis mikroba rumen, sebaliknya jika produksi amonia rendah akan
mempengaruhi produksi sintesis mikroba rumen. Sutardi (1977) menyatakan
amonia dalam rumen diproduksi terus-menerus walaupun sudah terjadi akumulasi
dan agar NH3 dapat dimanfaatkan oleh mikroba penggunaannya perlu disertai
dengan sumber energi yang mudah difermentasi.
Ternak Domba
Domba dan kambing pada hakekatnya merupakan dua genus dari bovidae
yang berdekatan. Namun demikian ada perbedaan yang mencolok yakni domba
dan kambing tidak dapat di kawin silangkan, hal ini berkaitan dengan domba yang
memiliki kelenjar yang terdapat di bawah yang terbuka serta mengecilkan sekresi
yang ada kalanya berlebihan, sehingga domba sering mengeluiarkan air mata.
Disamping itu juga terdapat kelenjar dicelah-celah kukunya yang menghasilkan
sekresi yang bersifat minyak serta memiliki bau yang khas. Kelenjar ini memberi
petunjuk bagi domba yang tersesat dari kawanannya. Ciri khas yang lain dari
domba adalah tanduknyayang berpenampang segitiga yang tumbuh melilit seperti
spiral (Murtidjo, 1992).
Akan tetapi domba yang kiat sekarang merupakan hasil domestikasi
manusia yang sejarahnya diturunkan dari tiga jenis domba liar, yakni:
1. Mouflon (Ovis Musimon), merupakan jenis domba liar yang berasal dari
Eropah Selatan dan Asia Kecil.
2. Argoli (Ovis Ammon), merupakan jenis domba liar yang berasal dari Asia
Tengah dan memiliki tubuh besar yang mencapai tinggi 1,20 meter.
(Sugeng, 1992).
Domba sudah sejak lama diternakkan orang. Semua jenis domba memiliki
karakteristik yang sama. Semua adalah golongan atau kerajaan (kingdom) hewan
yang termasuk Phylum : Chordata, Kelas : Mamalia, Ordo : Artiodactyla, Famili :
Bovidae, Genus : Ovis aries (Blackely dan Bade, 1998).
Menurut Sodiq dan Abidin (2002), beberapa kelebihan domba yang dapat
diperoleh, antara lain :
- Reproduksinya efisien, yang dapat ditingkatkan dengan jalan usaha
perbaikan tatalaksana pemeliharaan.
- Pada waktu laktasi, penggunaan energi untuk produksi air susu dapat lebih
efisien dibandingkan dengan ternak lain.
- Daya adaptasi ternak domba terhadap lingkungan yang keras cukup tinggi,
sehingga dapat mengkonsumsi lebih banyak jenis pakan hijauan.
- Domba memiliki daya seleksi yang lebih efektif dalam kondisi
penggembalaan dibandingkan dengan jenis ternak lain.
- Domba lebih tahan terhadap beberapa penyakit, terutama Tryponoso
miosis dibandingkan dengan ternak lain.
Populasi domba di Indonesia pada tahun 2008 sebanyak 9,605,338 ekor
dan angka sementara populasi domba tahun 2009 sebanyak 10,471,991 ekor, di
Sumatera Utara pada tahun 2008 sebanyak 268,291 ekor dan angka sementara
populasi domba tahun 2009 sebanyak 268,479 ekor
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak, Departemen
Peternakan dan Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Ilmu Hama Dan
Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, serta
Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Perah, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian
Bogor, selama 3 (tiga) bulan penelitian dimulai bulan 20 Agustus 2010 sampai 19
November 2010.
Bahan dan Alat Penelitian Bahan
Adapun domba yang digunakan adalah domba lokal jantan lepas sapih:
sebanyak 20 ekor, Hijauan (rumput lapangan), Konsentrat sesuai formula yang
diberikan 3.5% dari bobot badan yang terdiri dari: kulit daging buah kopi yang
tanpa diamoniasi, kulit daging buah kopi yang telah di amoniasi, bungkil inti
sawit, lumpur sawit, dedak padi, onggok, molases, garam, urea dan ultra mineral.
Cairan rumen. Aquadest, Asam borat berindikator, Larutan Na2CO3 jenuh,
Larutan H2SO4 0,005 N, Larutan HCL 0,5 N, Larutan H2SO4, larutan H2SO4, Es
batu, Vaselin, Larutan NaOH 0,5 N, Larutan indikator PP (Phenol Phtalein),
Alkohol 96%, Media agar Na,Obat-obatan seperti: obat cacing (Kalbazen), anti
diberikan untuk menjaga daya tahan tubuh domba, air minum, desinfektan
(Rodalon),
Alat
Kandang terdiri dari: kandang individu 20 unit beserta perlengkapannya,
Ember sebanyak: 20 buah tempat pakan dan 20 buah tempat minum, Timbangan
untuk menimbang bobot hidup berkapasitas 50 Kg dengan kepekaan 50 gr,
Timbangan berkapasitas 2 Kg dengan kepekaan 10 gr untuk menimbang pakan,
Terpal plastik untuk menjemur bahan pakan, Alat penerangan, Goni plastik, Alat
tulis, Sapu dan sekop untuk membersihkan kandang, Pisau, Sarung tangan, Kain
muslim, Termos, Corong, Pipet tetes, Shakerbath, Haemocytometer, Mikroskop,
Cawan petridisk. Inkubator, Tabung reaksi, Laminator, Gelas ukur, Spidol, Hand
counter, Tabung plastik, Indikator pH, Cool bag, Freezer, Cawan conway, Labu
erlenmeyer, Beker glass, Cover glass, Pipet serologi volume 25 ml, Seperangkat
alat destilasi, Kompor gas, Panci press cooker, Pipet volumetrik 5 ml, Pipet
serologi 5 ml, Pipet serologi 1 ml, Magnetic stirrer, Colony counter.
Metode Penelitian
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan perlakuan yaitu:
P0 = Pemberian konsentrat yang menggunakan kulit kopi tanpa diamoniasi
dengan level sebesar 15 % + rumput lapangan
P1 = Pemberian konsentrat yang menggunakan kulit kopi diamoniasi
dengan level sebesar 15 % + rumput lapangan
P2 = Pemberian konsentrat yang menggunakan kulit kopi diamoniasi
P3 = Pemberian konsentrat yang menggunakan kulit kopi diamoniasi
dengan level sebesar 45 % + rumput lapangan
Ulangan yang didapat berasal dari rumus :
T (n-1) ≥ 15
4(n-1) ≥ 15
4n-4 ≥ 15
4n ≥ 19
n ≥ 5
Model Linear yang digunakan untuk Rancangan Acak Lengkap (RAL) adalah :
Yij = µ + αi + ij + ∑ ij
Dimana : Yij = Respon atau nilai pengamatan dari perlakuan ke-i dan
ulangan ke-j
µ = Nilai tengah umum
αi = Pengaruh blok ke-i
ij = Pengaruhblok ke-j
∑ ij = Pengaruh galat (Experimental error) perlakuan ke-i
ulangan ke-j
(Hanafiah, 2003).
Denah Pemeliharaan yang dilaksanakan sebagai berikut :
R13 R02 R33 R31 R05
R11 R25 R01 R32 R21
R15 R22 R35 R24 R12
Parameter Penelitian 1. Populasi Bakteri
Jumlah populasi bakteri (sel bakteri/ml) = jumlah bakteri dalam cawan
petridisk × 105
2. Populasi Protozoa
Jumlah populasi protozoa (sel protozoa/ml) = A + B + C + D + E × 2.000
Ket: A = Jumlah populasi di kotak besar A
B = Jumlah populasi di kotak besar B
C = Jumlah populasi di kotak besar C
D = Jumlah populasi di kotak besar D
E = Jumlah populasi di kotak besar E
3. Konsentrasi VFA
Dilanjutkan dengan pelaksanaan in vitrio mengikuti metode Tilley
dan Terry (1963) dan dilakukan perhitungan konsentrasi VFA total yang
diukur dengan metode penyulingan uap. Adapun konsentrasi VFA dapat
diukur dengan rumus sebagai berikut (Anonim, 1966):
VFA (mM/1000ml) = (b – s) x N HCl x 1000/5
Ket. : N = Normalitas HCl (0,416)
b = Volume yitrasi blanko (5 ml NaOH)
4. Konsentrasi NH3
Peubah yang kedua dengan menghitung konsentrasi N-NH3 ditentukan
dengan teknik Mikro Difusi Conway dengan rumus sebagai berikut
(Anonim, 1966) :
N- NH3 (mM) = (ml titrasi x N H2SO4 x 1000)
Mencari Data Hilang
Apabila data yang digunakan terjadi kehilangan atau missing data maka
data yang sudah ada di masukkan ke dalam rumus ;
(Y x T) + (X x P) – (T x P) (T-1) x (P-1) Ket :
Y = Jumlah ulangan yang hilang X = Jumlah perlakuan yang hilang
T = Perlakuan
P = Ulangan
Pelaksanaan Penelitian Persiapan kandang
Kandang dipersiapkan dengan tipe kandang individu, kemudian di
fumigasi dengan desinfektan. Kandang dan semua peralatan yang digunakan
seperti tempat pakan dan tempat minum dibersihkan dengan larutan desinfektan.
Pengacakan Domba
Domba yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 20 ekor.
Penempatan domba dengan system acak yang tidak membedakan bobot badan
domba. Sebelumnya dilakukan penimbangan bobot badan domba.
Pakan yang diberikan adalah pakan dalam bentuk tepung tanpa hijauan
dimana semua bahan pakan yang digunakan dijadikan dalam bentuk seperti
konsentrat. Pakan diberikan pada pagi hari pada pukul 08.00 WIB dan pada sore
hari pukul 16.00 WIB. Sisa pakan ditimbang pada waktu pagi hari keesokan
harinya sesaat sebelum ternak diberi makan kembali untuk mengetahui konsumsi
ternak tersebut. Sebelum dilaksanakan penelitian diberikan waktu untuk
beradaptasi selama 2 minggu sedikit demi sedikit. Pemberian air minum diberikan
secara ad libitum, air diganti setiap harinya dan tempatnya dicuci bersih.
Pemberian Obat-Obatan
Ternak domba pertama masuk kandang diberikan obat cacing selama
adaptasi dengan adaptasi dengan dosis 1cc/5Kg bobot badan. Sedangkan
obat-obatan yang lainya diberikan berdasarkan kebutuhan bila ternak sakit.
Pengambilan Cairan Rumen
- Disiapkan domba ditempat pemotongan lalu domba tersebut dipotong
- Setelah itu, organ rumennya diambil dan dibelah secara vertikal dengan
pisau/gunting
- Diaduk isi rumen lalu diremas-remas dengan tangan menggunakan sarung
tangan
- Kemudian isi rumen disaring dengan kain muslim
- Diperas isi rumen secara merata dan dimasukkan ke dalam termos hingga
penuh benar dengan mengunakan corong, lalu ditutup rapat
Menghitung Populasi Protozoa
- Dicampur dengan alkohol 96% sebanyak 2.5 ml kemudian diaduk rata
dengan shakerbath
- Di ambil 1 tetes cairan tersebut di atas haemocytometer
- Di amati di bawah mikroskop
- Dihitung populasi protozoa dengan menggunakan hand counter.
Menghitung Populasi Bakteri - Dipanaskan media agar Na
- Distrerilkan cawan petridis
- Dipersiapkan inkubator untuk proses inkubasi
- Diambil 1 ml cairan rumen yang berasal dari termos ke dalam tabung
reaksi
- Ditambahkan aquadest sebanyak 9 ml ke dalam tabung reaksi tersebut
kemudian dikocok untuk melakukan pengenceran
- Diambil 1 ml dari pengenceran pertama kemudian ditambahkan dengan
aquadest sebanyak 9 ml, dilakukan pengenceran sampai 5 kali
- Dimasukkan media agar Na kedalam cawan petridisk dan dimasukkan ke
dalam inkubator selama 15 menit
- Dari proses pengenceran tersebut, diambil 1 tetes dan ditanamkan ke
dalam cawan petridisk tersebut
- Setelah bakterinya ditanam didalam cawan petridisk, dibungkus
menggunakkan plastik dan dimasukkan kedalam laminator.
- Dibiarkan sampai bakterinya tumbuh selama 4 hari. Setelah bakterinya
Untuk analisa VFA dan NH3
- Setelah Isi Rumen Di saring dengan kain muslim
- Diambil 10 ml cairan rumen dimasukkan ke dalam tabung plastik
- Ditambahkan 1 tetes H2SO4 sebanyak 1 tetes kemudian diukur dengan
kertas indikator pH hingga pH nya menjadi asam
- Ditutup rapat tabung plastiknya.
- Dipersiapkan termos pendingin yang telah diisi es batu
- Dimasukkan tabung plastik tersebut ke dalam cool bag
- Setelah di laboratorium tabung plastik tersebut dimasukkan ke dalam
frezeer
- Diambil tabung plastik dari dalam freezer dan dilakukan towing sebelum
menganalisa VFA dan NH3
Pengukuran Konsentrasi NH3
- Diolesi dengan vaselin Bibir cawan Conway dan tutupnya
- Di ambil 1,0 ml cairan rumen kemudian di tempatkan pada salah satu
ujung alur cawan Conway
- Di tempatkan pada salah satu ujung cawan Conway bersebelahan dengan
cairan rumen larutan Na2CO3 jenuh sebanyak 1,0 ml
- Di tempatkan dalam cawan kecil yang terletak di tengah cawan Conway
larutan asam borat berindikator sebanyak 1,0 ml
- Di tutup rapat hingga kedap udara Cawan Conway yang sudah di olesi
vaselin, larutan Na2CO3 di campur dengan cairan rumen hingga merata
dengan cara menggoyang-goyangkan dan memiringkan cawan tersebut
- Setelah 24 jam suhu kamar di buka, asam borat berindikator di titrasi
dengan H2SO4 0,005 N sampai terjadi perubahan warna dari biru menjadi
merah.
Pengukuran Konsentrasi VFA
- Diisi presscooker dengan aquadest sampai tanda MAX
- Kemudian pastikan air dari kran mengalir yang berfungsi sebagai
pendingin
- Di nyalakan kompor gas, sehingga aquadest yang ada dalam panic
presscooker tersebut mendidih dan menghasilkan uap yang akan masuk ke
tabung-tabung destilasi, dimana hal ini menandakan bahwa kita bisa
memulai analisis VFA
- Di ambil cairan rumen sebanyak 5 ml, kemudian di masukkan ke dalam
tabung destilasi
- Di tempatkan Erlenmeyer yang berisi 5 ml NaOH 0,5 N dbawah selang
tampungan
- Ditambahkan 1 ml H2SO4 15% ke dalam tabung destilasi yang sudah ada
larutan sampel, kemudian segera tutup penutup kacanya
- Dibilas dengan aquadest secukupnya
- Uap air panas mendesak VFA dan akn terkondensasi dalam pendingin
- Di tampung air yang terbentuk dalam labu Erlenmeyer yang berisi 5 ml
NaOH 0,5 N sampai mencapai 300 ml
- Ditambah Indikator PP (Phenol Pthalin) sebanyak 2-3 tetes dan di titrasi
dengan HCl 0,5 N sampai warna titrat berubah dari merah menjadi merah
- Catatan : HCl 0,5 N sebagai titrat harus di standarisasi sehingga didapat
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konsentrasi VFA
Proses degradasi karbohidrat dalam rumen terjadi melalui dua tahap yaitu
pemecahan karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana dan pemecahan gula
sederhana menjadi asam asetat, asam propionat, asam butirat, CO2 dan CH4
(McDonald et al., 2002).
Asam lemak mudah terbang atau Volatile Fatty Acids (VFA) merupakan
produk utama fermentasi mikroba rumen. Produksi VFA mencerminkan
fermentabilitas pakan dan merupakan sumber energi utama bagi ternak. VFA
merupakan produk akhir dari fermentasi nutrien, khususnya protein dan
karbohidrat (Van Houtert, 1993). Rataan produksi Volatyle Fatty Acid (VFA)
[image:46.595.113.519.464.567.2]cairan rumen yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Rataan konsentrasi Volatyle Fatty Acid (VFA-mM)
Perlakua n
Ulangan
Rataan Sd 1 2 3 4 5
P0 81.43 105.23 120.26 102.73 142.81 110.49 22.76 P1 165.36 177.89 171.63 95.21 147.82 151.58 33.45 P2 159.10 154.09 114.00 125.28 100.22 130.54 25.45
P3 95.21 85.19 78.92 171.63 107.00 107.59 37.34
Rataan 125.28 130.60 121.20 123.71 124.46 125.05
Dari Tabel 9, dapat dilihat bahwa rataan konsentrasi VFA yang dihasilkan
dari semua perlakuan berkisar antara 107.59-151.58 mM. Hasil ini masih dalam
keadaan normal yang mendukung pertumbuhan mikroba. Kisaran produk VFA
cairan rumen normal yang mendukung pertumbuhan mikroba adalah 80-160 mM
Pada perlakuan P3 (konsentrat yang mengandung kulit daging buah kopi
yang diamoniasi sebesar 45%), rataan konsentrasi VFA yang terendah yaitu
107.59 mM. Sedangkan rataan yang tertinggi pada P1 (konsentrat yang
mengandung kulit daging buah kopi yang diamoniasi 15%) yaitu 151.58 mM.
Analisis keragaman konsentrasi VFA dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10. Analisis keragaman konsentrasi VFA
SK DB JK KT Fhitung Ftabel
5% 1%
Perlakuan 3 6254.26 2084.75 2.27tn 3.24 5.29
Galat 16 14717.51 919.84
Total 19 20971.77
FK 312752.55
KK 24.25
Ket : tn = tidak nyata
Hasil analisis keragaman pada Tabel 10, menunjukkan pengaruh yang
tidak nyata (P>0.05) terhadap konsentrasi VFA. Hal ini menunjukkan bahwa
pemberian kulit daging buah kopi yang diamoniasi dengan urea pada pakan
domba tidak mempengaruhi ekosistem rumen dari sudut metabolisme rumen.
Pertumbuhan metabolisme rumen sangat dipengaruhi oleh pakan yang diberikan.
Faktor yang mempengaruhi populasi mikroba rumen secara umum ditentukan oleh
tipe makanan yang dikonsumsi ternak (Arora,1995).
Menurut Arora (1989), bahwa peranan VFA sangat penting sebagai
sumber energi. VFA merupakan sumber kerangka karbon untuk pembentukan
protein mikroba. Produksi VFA total dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain,
sifat karbohidrat, laju makanan meninggalkan rumen dan frekuensi pemberian
pakan (Sutardi, 1977). Proses fermentasi karbohidrat oleh mikroba rumen
menghasilkan energi yang berupa asam-asam lemak atsiri (VFA) antara lain yang
hijauan (rumput dan leguminosa) akan mengalami proses fermentasi oleh mikroba
rumen. Hasil utama pencernaan karbohidrat dalam rumen adalah VFA terutama
asam asetat (C2), propionat (C3), butirat (C4), laktat dan format
(Parakkasi, 1999). Produksi yang terpenting dan potensial sebagai sumber energi
karbon untuk pertumbuhan bagi mikroba adalah asam asetat, propionat dan butirat
(Hvelplund, 1991). Menurut Steward (1991) VFA akan diabsorbsi melalui
dinding rumen dan masuk ke sistem peredaran darah yang kemudian VFA akan
dioksidasi di dalam hati yang selanjutnya akan mensuplai sebagian besar
kebutuhan energi dari ternak yang bersangkutan.
Konsentrasi NH3
Amonia (NH3) merupakan produk utama dari proses deaminasi asam
amino dan kucukupannya dalam rumen untuk memasok sebagian besar N untuk
pertumbuhan mikroba merupakan prioritas utama dalam mengoptimalkan
fermentasi hijauan (Leng, 1990).
Konsentrasi amonia dalam rumen ikut menentukan metabolisme mikroba
yang pada gilirannya akan mempengaruhi hasil fermentasi bahan organik pakan
(Haryanto, 1994). Konsentrasi amonia menggambarkan kecepatan pencernaan
sumber nitrogen. Konsentrasi amonia ditentukan oleh tingkat protein pakan yang
dikonsumsi, derajat degradabilitasnya, lama dalam rumen dan pH rumen.
Amonia erat kaitannya dengan sintesis protein mikroba rumen, karena
mikroba rumen memanfaatkan amonia sebagai sumber N utama untuk sintesi
protein mikroba rumen. Dengan demikian, kadar NH3 merupakan salah satu
indikator untuk mengetahui fermentabilitas pakan yang berhubungan dengan
amonia didalam rumen merupakan suatu kebesaran yang sangat penting untuk
dikendalikan karena sangat menentukan optimasi pertumbuhan mikroba rumen.
[image:49.595.112.518.187.296.2]Rataan konsentrasi amonia (NH3), dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11.Rataan konsentrasi amonia (NH3-mM)
Perlakuan Ulangan Rataan Sd
1 2 3 4 5
P0 10.33 11.15 11.33 8.97 10.15 10.39 0.94
P1 6.55 5.55 4.78 5.37 5.90 5.63 0.65
P2 10.62 8.14 7.20 7.43 8.50 8.38 1.36
P3 15.75 11.21 9.68 5.84 10.69 10.63 3.55
Rataan 10.81 9.01 8.25 6.90 8.81 8.76
Dari Tabel 11, Dapat dilihat bahwa rataan konsentrasi NH3 bekisar antara
5.63-10.63 mM. Rataan NH3 yang tertinggi pada perlakuan P3 (konsentrat yang
mengandung kulit daging buah kopi diamoniasi sebesar 45%) yaitu 10.63 mM,
Sedangkan yang terendah pada perlakuan P1 (konsentrat yang mengandung kulit
daging buah kopi yang diamoniasi sebesar 15%) yaitu 5.63 mM. Nilai tersebut
masih optimal untuk pertumbuhan mikroba rumen. Menurut Sutardi (1979) kadar
amonia yang dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan mikroba rumen antara
4-12 mM, Menurut Agustin et al. (1991) konsentrasi NH3 cairan rumen yang
optimal adalah 8 mM.
Konsentrat yang mengandung kulit daging buah kopi yang diamoniasi
mengandung urea yang cukup tinggi. Urea merupakan sumber NPN yang dapat
meningkatkan produksi amonia sehingga pada perlakuan P3 konsentrasi NH3 yang
dihasilkan tinggi. Analisis keragaman konsentrasi NH3 dapat dilihat pada Tabel
Tabel 12. Analisis keragaman konsentrasi NH3
SK DB JK KT Fhitung Ftabel
5% 1%
Perlakuan 3 80.49 26.83 6.81** 3.24 5.29
Galat 16 63.04 3.94
Total 19 143.53
FK 1533.70
KK 22.67
Ket : ** = sangat berbeda nyata
Hasil analisis keragaman pada Tabel 12 menunjukkan bahwa pemberian
pakan dengan menggunakan kulit daging buah kopi tanpa diamoniasi dan kulit
daging buah kopi yang diamoniasi dalam pakan domba lokal jantan lepas sapih
memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata terhadap konsentrasi NH3.
Dapat disimpulkan bahwa rataan konsentrasi NH3 menurun dari perlakuan P0 ke
P1 sedangkan pada populasi bakteri yang dari P0 ke P1 meningkat. Hal ini
menandakan bahwa bakteri dalam rumen mempergunakan nitrogen (NH3) untuk
sintesis protein. Menurut Baldwin dan Allison (1983) lebih kurang 80% bakteri
rumen membutuhkan amonia untuk proses pertumbuhannya.
Rataan konsentrasi NH3 P0 ke P1 menurun seiring dengan penurunan
populasi protozoa. Protozoa berperan penting dalam daur ulang N, penurunan
protozoa di dalam rumen menyebabkan konsentrasi NH3 menurun
(Erwanto, 1993). Kemudian dilanjutkan dengan uji duncan 0.01% konsentrasi
[image:50.595.113.511.663.744.2]NH3 yang dapatdilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Uji duncan 0.01% konsentrasi NH3
Perlakuan Rataan Notasi
P0 10.39 C
P1 5.63 A
P2 8.38 B
Dari Tabel diatas 13. Didapat bahwa penelitian dengan menggunakan kulit
daging buah kopi dalam pakan domba terhadap konsentrasi NH3 pada P2 dan P1,
notasinya berbeda. Sedangkan pada P3 dan P0, notasinya sama.
Populasi Bakteri
Bakteri rumen dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat utama yang
digunakan, karena sulit mengklasifikasikan berdasarkan morfologinya.
Kebalikannya protozoa diklasifikasikan berdasarkan morfologinya sebab mudah
dilihat berdasarkan penyebaran silianya. Beberapa jenis bakteri yang dilaporkan
oleh Hungate (1966) adalah : (a) bakteri pencerna selulosa
(Bakteroidessuccinogenes, Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus,
Butyrifibriofibrisolvens), (b) bakteri pencerna hemiselulosa (Butyrivibrio
fibrisolvens, Bakteroides ruminocola, Ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna pati
(Bakteroides ammylophilus, Streptococcus bovis, Succinnimonas amylolytica,
(d) bakteri pencerna gula (Triponema bryantii, Lactobasilus ruminus), (e) bakteri
pencerna protein (Clostridium sporogenus, Bacillus licheniformis). Rataan
[image:51.595.111.519.559.673.2]populasi bakteri dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Rataan populasi bakteri (107-sel/ml)
Perlakuan Ulangan Rataan Sd
1 2 3 4 5
P0 0.04 0.02 0.79 1.22 0.08 0.43 0.55
P1 1.20 0.85 0.54 1.04 1.07 0.94 0.26
P2 0.52 0.39 0.21 0.77 1.26 0.63 0.41
P3 0.87 0.31 0.16 0.08 0.53 0.39 0.32
Rataan 0.66 0.39 0.43 0.78 0.74 0.60
Dari Tabel 14 diatas, Dapat dilihat bahwa rataan populasi bakteri yang
buah kopi yang diamoniasi sebesar 15%) yaitu sebesar 0.94×107 sel/ml isi rumen,
sedangkan yang terendah pada perlakuan P3 (konsentrat yang mengandung kulit
daging buah kopi tanpa amoniasi sebesar 45%) yaitu sebesar 0.39×107 sel/ml isi
rumen. Disini dapat dilihat bahwa dari perlakuan P0 ke P1 mengalami
peningkatan. Meskipun tidak dalam kisaran populasi bakteri dalam rumen. Hal ini
disebabkan karena ada kaitannya antara populasi bakteri dengan populasi
protozoa, dimana pada kondisi ini protozoa memangsa bakteri sebagai sumber
energi dalam hidupnya sehingga populasi bakteri berkurang hingga setengahnya,
hal ini juga sesuai dengan pernyataan Sembiring (2010),yang menyatakan bahwa
protozoa memangsa bakteri yang justru sangat bermanfaat dalam mencerna serat
kasar, sehingga jumlah bakteri berkurang sampai setengahnya. Sehingga pada
kondisi ini lebih baik dilakukan defaunasi pada rumen untuk mengurangi jumlah
protozoa. Bakteri rumen banyak jenisnya dan populasinya berkisar antara 109-1012
sel /ml isi rumen (Stewart, 1991). Analisis keragaman populasi bakteri dapat
[image:52.595.111.516.516.651.2]dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Analisis keragaman populasi bakteri
SK DB JK KT Fhitung Ftabel
5% 1%
Perlakuan 3 0.95 0.32 2.00tn 3.24 5.29
Galat 16 2.53 0.16
Total 19 3.47
FK 7.14
KK 66.51
Ket : tn = tidak nyata
Hasil analisis keragaman pada Tabel 15. menunjukkan bahwa F hitung
lebih kecil dari F tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan
dan kulit daging buah kopi yang diamoniasi dengan level 15%, 30%, dan 45%
dalam pakan domba lokal jantan memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata
terhadap populasi bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian daging buah
kopi yang diamoniasi pada pakan domba tidak mempengaruhi populasi bakteri
dalam rumen domba. Perkembangan populasi mikroba rumen terutama bakteri
rumen akan dibatasi oleh kadar amonia, karena sangat diperlukan oleh bakteri
sebagai sumber N untuk membangun selnya dan sifat predasi dari protozoa.
Kecukupan ketersediaan amonia sebagai sumber N dan VFA yang merupakan
sumber bahan baku utama yang dibutuhkan untuk proses sintesis protein mikroba
yang berguna bagi induk semang (Preston dan Leng, 1987). Protein mikroba
merupakan sumber protein yang utama bagi ternak ruminansia. Produksi protein
mikroba dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan karbohidrat mudah
dicerna dalam rumen seperti tetes, pati, glukosa, fruktosa dan sukrosa
(Hungate, 1966).
Populasi Protozoa
Sebagian besar protozoa yang terdapat di dalam rumen adalah cilliata
meskipun flagellata juga banyak dijumpai. Cilliata ini merupakan non pathogen
dan Anaerobicmichroorganism.
Sejak pertama kali ditemukan oleh Gruby and Delafond (1843), telah
banyak dilakukan penelitian tentang taksonomi, fisiologi dan nutrisi cilliata.
Seperti halnya bakteri, cilliata juga mampu memfermentasi hampir seluruh
komponen tanaman yang terdapat didalam rumen seperti: selulosa, hemiselulosa,
Protozoa rumen diklasifikasikan menurut morfologinya yaitu: Holotrichs
yang mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat yang
fermentabel, sedangkan Oligotrichs yang mempunyai silia sekitar mulut
umumnya merombak karbohidrat yang lebih sulit dicerna (Arora, 1989). Rataan
[image:54.595.113.522.243.344.2]populasi protozoa selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Rataan populasi protozoa (105-sel/ml)
Perlakuan Ulangan Rataan sd
1 2 3 4 5
P0 2.74 2.06 2.12 2.66 3.04 2.52 0.42
P1 2.40 1.88 2.08 2.28 2.10 2.15 0.20
P2 2.70 2.16 2.40 2.08 2.02 2.27 0.28
P3 2.88 3.06 2.48 2.52 2.83 2.75 0.25
Rataan 2.68 2.29 2.27 2.39 2.50 2.42
Dari Tabel 16. Diatas dapat dilihat bahwa rataan populasi protozoa yang
terendah pada perlakuan P1 (konsentrat yang mengandung kulit daging buah kopi
tanpa amoniasi sebesar 15%) yaitu sebesar 2.15×105 sel/ml isi rumen, sedangkan