• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Kulit Daging Buah Kopi Fermentasi (Dengan Mikroorganisme Lokal) Dalam Pakan Terhadap Kondisi Dan Perkiraan Bobot Kerbau Murrah Jantan (Bubalus bubalis)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pemanfaatan Kulit Daging Buah Kopi Fermentasi (Dengan Mikroorganisme Lokal) Dalam Pakan Terhadap Kondisi Dan Perkiraan Bobot Kerbau Murrah Jantan (Bubalus bubalis)"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN KULIT DAGING BUAH KOPI FERMENTASI

(DENGAN MIKROORGANISME LOKAL) DALAM PAKAN

TERHADAP KONDISI DAN PERKIRAAN BOBOT

KERBAU MURRAH JANTAN (

Bubalus bubalis

)

SKRIPSI

ENOS SEMBIRING 080306051

PROGRAM STUDI PETERNAKAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PEMANFAATAN KULIT DAGING BUAH KOPI FERMENTASI

(DENGAN MIKROORGANISME LOKAL) DALAM PAKAN

TERHADAP KONDISI DAN PERKIRAAN BOBOT

KERBAU MURRAH JANTAN (

Bubalus bubalis

)

SKRIPSI

Oleh :

ENOS SEMBIRING 080306051/ PETERNAKAN

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Melaksanakan Penelitian Di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan

PROGRAM STUDI PETERNAKAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Judul Penelitian : Pemanfaatan Kulit Daging Buah Kopi Fermentasi (Dengan Mikroorganisme Lokal) Dalam Pakan Terhadap Kondisi Dan Perkiraan Bobot Kerbau Murrah Jantan

(Bubalus bubalis) Nama : Enos Sembiring

Nim : 080306051

Program Studi : Peternakan

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

Ir. Iskandar Sembiring, MM Prof. Dr .Ir. Hasnudi, MS

Ketua Anggota

Diketahui Oleh :

Dr. Ir. Ma’ruf Tafsin, M.Si Ketua Program Studi Peternakan

(4)

ABSTRAK

ENOS SEMBIRING, 2013.”Pemanfaatan Kulit Daging Buah Kopi Fermentasi (Dengan Mikroorganisme Lokal) dalam Pakan terhadap Kondisi dan Perkiraan Bobot Kerbau Murrah Jantan”. Dibimbing oleh ISKANDAR SEMBIRING dan HASNUDI.

Kulit daging buah kopi fermentasi dengan mikroorganisme lokal dapat meningkatkan kandungan protein pakan yang berimplikasi pada peningkatan kualitas pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kulit daging buah kopi yang difermentasi dengan Mikroorganisme lokal dalam pakan terhadap kondisi dan perkiraan bobot kerbau murrah jantan (Bubalus bubalis). Penelitian dilaksanakan di Balai Pembibitan Ternak Unggul Babi dan Kerbau di desa Silangit Kecamatan Siborong-borong Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara pada bulan April – September 2012. Rancangan penelitian yang digunakan adalah bujur sangkar latin (RBSL) yang terdiri dari 4 perlakuan. Perlakuan terdiri atas P0 (20% kulit kopi tanpa fermentasi); P1 (10% kulit kopi fermentasi); P2 (20% kulit kopi fermentasi) dan P3 (30% kulit kopi fermentasi).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan berbagai level kulit kopi fermentasi dengan mikroorganisme lokal berbeda nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan, kondisi tubuh berdasarkan tonjolan tulang rusuk dan tonjolan tulang pinggul. Lingkar dada dan panjang tubuh sangat signifikan (P<0,01) terhadap perkiraan bobot kerbau murrah. Dapat disimpulkan bahwa kulit daging buah kopi yang telah difermentasi dapat digunakan sebagai pakan kerbau murrah.

(5)

ABSTRACT

ENOS SEMBIRING, 2013. "Utilization of Fermented pod coffee (with Local Microorganisms) in Feed to Condition and Weight Estimate of Murrah Buffalo Bulls". Supervised by ISKANDAR SEMBIRING and HASNUDI.

Fermented pod coffee with local microorganisms can increasing the protein of feed on the implications of improved feed quality. This study aimed to determine the effects of fermented pod coffee with local microorganisms in feed to condition and estimate weight of murrah buffalo bulls (Bubalus bubalis). The research was conducted at the Balai Pembibitan Ternak Unggul Babi dan Kerbau in Silangit village, Siborong-borong Subdistrict at North Tapanuli District, North Sumatra Province on April-September 2012. This research used Latin square design (RBSL) were consist of 4 treatments. The treatments were P0 (20% unfermented pod coffee), P1 (10% fermented pod coffee), P2 (20% fermented pod coffee) and P3 (30% fermented pod coffee).

The results showed that the usage of various level fermented pod coffee with local microorganisms gived significantly different effect (P <0.05) on feed intake, body condition based on bony ribs and hip bones. Chest circumference and body length were significantly (P <0.01) to the weight estimate of Murrah buffaloes. It can be concluded that fermented pod coffee can be used as feed of Murrah buffalo.

Keywords: fermented pod coffee, local microorganisms, body condition, Weights

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kabanjahe pada tanggal 20 April 1989 dari ayah

Sastra Sembiring dan ibu Karonda Br Tinambunan. Penulis merupakan anak kedua

dari 3 bersaudara.

Tahun 2007 penulis lulus dari SMA Dharma Pancasila dan pada tahun

2008 masuk ke Fakultas Pertanian USU melalui jalur Seleksi Nasional Masuk

Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Penulis memilih Program Studi Peternakan.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota Himpunan

Mahasiswa Muslim Peternakan (HIMIP), menjabat sebagai anggota pudekdok

PORSENI IMAPET 2011. Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

di Desa Munte Kecamatan Munte Kabupaten Karo mulai 20 Juni sampai dengan

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang

telah memberikan rahmat serta karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini. Adapun judul skripsi saya adalah “Pemanfaatan Kulit Kopi Fermentasi

dengan Mikroorganisme Lokal Dalam Pakan Terhadap Penilaian Kondisi Dan

Perkiraan Berat Kerbau Murrah Jantan (Bubalus bubalis)”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua atas doa,

semangat dan pengorbanan materil maupun moril yang telah diberikan selama ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Iskandar Sembiring selaku

ketua komisi pembimbing dan Bapak Hasnudi selaku anggota komisi pembimbing

yang telah membimbing dan memberikan berbagai masukan berharga kepada

penulis dari mulai menetapkan judul, melakukan penelitian, sampai pada seminar

hasil. Di samping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua

civitas akademika di Program Studi Peternakan, serta semua rekan mahasiswa

yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna

kesempurnaan skripsi ini, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penelitian dan

(8)

DAFTAR ISI

Kebutuhan Nutrisi Ternak Kerbau ... 8

Pakan ... 9

Hijauan ... 9

Konsentrat ... 11

Bahan Pakan Penyusun Konsentrat ... 11

Kulit Daging Buah Kopi ... 11

Fermentasi Dengan Mikroorganisme Lokal ... 17

Inokulan Cair ... 17

Konsumsi ... 19

Pengukuran Tubuh Ternak ... 19

Penilaian Kondisi Tubuh ... 20

Perkiraan Berat Kerbau Murrah ... 22

(9)

Bahan dan Alat Penelitian ... 23

Bahan ... 23

Alat ... 23

Metode Penelitian ... 24

Parameter Pengamatan ... 25

Konsumsi ... 25

Penilaian Kondisi Tubuh ... 25

Tonjolan Tulang Rusuk Dan Tulang Pinggul ... 25

Perkiraan Berat ... 25

Lingkar Dada ... 25

Panjang Tubuh... 25

Pelaksanaan Penelitian ... 26

HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan ... 28

Penilaian Kondisi Tubuh ... 30

Tonjolan Tulang rusuk ... 30

Tonjolan Tulang Pinggul ... 33

Perkiraan Bobot Kerbau Murrah ... 36

Rekapitulasi Hasil Peneitian ... 39

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 41

Saran ... 41

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(10)

DAFTAR TABEL

No Hal

1. Populasi kerbau Indonesia 2005-2011 ... 6

2. Komposisi Nilai Nutrisi Rumput Raja ... 10

3. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan ... 15

4. Diskripsi Skor Kondisi Tubuh Kerbau ... 22

5. Rataan Konsumsi Pakan Kerbau Murrah Selama Penelitian ... 28

6. Analisis Keragaman Konsumsi Pakan Kerbau Murrah ... 29

7. Notasi Tukey Taraf 5% Konsumsi Pakan Terhadap Perlakuan ... 16

8. Rataan Penilaian Kondisi Tubuh Kerbau Murrah Berdasarkan Tonjolan Tulang Rusuk Selama Penelitian ... 31

9. Analisis Keragaman Kondisi Tubuh Kerbau Murrah Berdasarkan Tonjolan Tulang Rusuk Selama Penelitian ... 31

10.Notasi Tukey Taraf 5% Penilaian Kondisi Tubuh Kerbau Murrah Berdasarkan Tonjolan Tulang Rusuk Terhadap Perlakuan. ... 32

11.Rataan Penilaian Kondisi Tubuh Kerbau Murrah Berdasarkan Tonjolan Tulang Pinggul Selama Penelitian ... 33

12.Analisis Keragaman Penilaian Kondisi Tubuh Kerbau Murrah Berdasarkan Tonjolan Tulang Pinggul Selama Penelitian ... 34

13.Notasi Tukey Taraf 5% Penilaian Kondisi Tubuh Kerbau Murrah Berdasarkan Tonjolan Tulang Pinggul Terhadap Perlakuan ... 34

14. Ukuran lingkar dada dan panjang tubuh serta bobot badan kerbau Murrah selama penelitian ... 37

15. Analisis Regresi Linier Berganda Perkiraan Berat Kerbau Murrah ... 38

16. Rekapitulasi Hasil Penelitian ... 39

(11)

DAFTAR GAMBAR

No Hal 1. Kerangka Pemikiran ... 4

(12)

ABSTRAK

ENOS SEMBIRING, 2013.”Pemanfaatan Kulit Daging Buah Kopi Fermentasi (Dengan Mikroorganisme Lokal) dalam Pakan terhadap Kondisi dan Perkiraan Bobot Kerbau Murrah Jantan”. Dibimbing oleh ISKANDAR SEMBIRING dan HASNUDI.

Kulit daging buah kopi fermentasi dengan mikroorganisme lokal dapat meningkatkan kandungan protein pakan yang berimplikasi pada peningkatan kualitas pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kulit daging buah kopi yang difermentasi dengan Mikroorganisme lokal dalam pakan terhadap kondisi dan perkiraan bobot kerbau murrah jantan (Bubalus bubalis). Penelitian dilaksanakan di Balai Pembibitan Ternak Unggul Babi dan Kerbau di desa Silangit Kecamatan Siborong-borong Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara pada bulan April – September 2012. Rancangan penelitian yang digunakan adalah bujur sangkar latin (RBSL) yang terdiri dari 4 perlakuan. Perlakuan terdiri atas P0 (20% kulit kopi tanpa fermentasi); P1 (10% kulit kopi fermentasi); P2 (20% kulit kopi fermentasi) dan P3 (30% kulit kopi fermentasi).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan berbagai level kulit kopi fermentasi dengan mikroorganisme lokal berbeda nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan, kondisi tubuh berdasarkan tonjolan tulang rusuk dan tonjolan tulang pinggul. Lingkar dada dan panjang tubuh sangat signifikan (P<0,01) terhadap perkiraan bobot kerbau murrah. Dapat disimpulkan bahwa kulit daging buah kopi yang telah difermentasi dapat digunakan sebagai pakan kerbau murrah.

(13)

ABSTRACT

ENOS SEMBIRING, 2013. "Utilization of Fermented pod coffee (with Local Microorganisms) in Feed to Condition and Weight Estimate of Murrah Buffalo Bulls". Supervised by ISKANDAR SEMBIRING and HASNUDI.

Fermented pod coffee with local microorganisms can increasing the protein of feed on the implications of improved feed quality. This study aimed to determine the effects of fermented pod coffee with local microorganisms in feed to condition and estimate weight of murrah buffalo bulls (Bubalus bubalis). The research was conducted at the Balai Pembibitan Ternak Unggul Babi dan Kerbau in Silangit village, Siborong-borong Subdistrict at North Tapanuli District, North Sumatra Province on April-September 2012. This research used Latin square design (RBSL) were consist of 4 treatments. The treatments were P0 (20% unfermented pod coffee), P1 (10% fermented pod coffee), P2 (20% fermented pod coffee) and P3 (30% fermented pod coffee).

The results showed that the usage of various level fermented pod coffee with local microorganisms gived significantly different effect (P <0.05) on feed intake, body condition based on bony ribs and hip bones. Chest circumference and body length were significantly (P <0.01) to the weight estimate of Murrah buffaloes. It can be concluded that fermented pod coffee can be used as feed of Murrah buffalo.

Keywords: fermented pod coffee, local microorganisms, body condition, Weights

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Daging dan susu adalah dua komoditas yang selama ini memberi andil

pada perbaikan gizi masyarakat, khususnya kebutuhan protein hewani. Protein

hewani sangat dibutuhkan dalam pembangunan manusia Indonesia, karena erat

hubungannya dengan kesehatan fisik dan perkembangan kecerdasan manusia.

Daging asal ruminansia besar paling banyak disumbangkan oleh sapi potong,

diikuti oleh kerbau dan sapi perah (sapi jantan dan betina afkir). Secara umum

daging tersebut walaupun berasal dari ketiga jenis ternak yang berbeda, di pasar

hanya dikenal sebagai daging sapi, sementara untuk susu hanya didominasi oleh

susu sapi sedangkan untuk susu kerbau dan kambing hanya sebagian kecil saja

karena produksinya yang sedikit.

Ternak kerbau berfungsi multiguna yaitu sebagai penghasil daging, susu

dan kerja. Kerbau merupakan salah satu ternak ruminansia besar yang memiliki

keunggulan tersendiri untuk dikembangkan di Indonesia. Beberapa keunggulan

dari ternak kerbau adalah dapat bertahan hidup dengan pakan berkualitas rendah,

mampu hidup dikawasan yang relatif sulit, kemampuan mencerna hijauan lebih

baik daripada sapi. Hal tersebut disebabkan secara keseluruhan baik mikroba

maupun cairan rumen kerbau lebih mampu mencerna berbagai pakan dengan

kandungan serat kasar tinggi (Reksohadiprojo, 1984).

Kerbau Murrah adalah salah satu bangsa kerbau yang diternakkan di

Indonesia, khususnya di daerah sekitar Medan Sumatera Utara oleh para pekerja

perkebunan dan bekas pekerja perkebunan yang didatangkan dari India selama

(15)

dengan pungung pendek dan luas. Ekor mempunyai bulu kipas berwarna putih,

tanduk melingkar dalam bentuk spiral serta warna tubuh pada umumnya hitam.

Dengan pemeliharaan yang intensif, pertambahan bobot badan dapat mencapai

1kg/hari dan calving interval dapat mencapai 13 bulan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pengelolaan

ternak adalah faktor pakan, dimana pakan ini berasal dari hijauan yang jumlahnya

terbatas pada saat-saat tertentu, serta hasil samping pertanian dan perkebunan.

Untuk menanggulagi keterbatasan tersebut dilakukanlah metode pengawetan dan

fermentasi. Kulit kopi merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah

pakan. Menurut data Deptan (2011), produksi kopi nasional mencapai sekitar 687

ribu ton per tahun, dengan jenis yang umum dijumpai adalah arabika dan robusta.

40-45% dari buah kopi adalah kulit daging buah yang berpotensi sebagai pakan

alternatif ternak. Karena kadar air kulit daging buah kopi cukup tinggi (53%),

maka produk ini mudah rusak, sedangkan bila diberikan dalam bentuk segar

kurang disukai ternak. Teknologi fermentasi dapat mengatasi kendala tersebut,

sehingga meningkatkan manfaatnya sebagai pakan ternak.

Kurangnya minat peternak memilih kerbau sebagai ternak peliharaannya

disebabkan oleh kurangnya informasi mengenai ternak kerbau sehingga peternak

tidak begitu tahu potensi yang dimiliki ternak kerbau. Berbeda dengan sapi yang

penyebarannya ada dimana-mana di seluruh dunia. Kerbau biasanya dipelihara

dalam jumlah yang kecil oleh peternak kecil atau peternak miskin didaerah-daerah

tertentu (Williamson, 1993). Dengan jumlah yang kecil tersebut, penimbangan

dirasa cara yang kurang efektif untuk mengetahui berat badan ternak kerbau,

(16)

dikandang. Cara lain yang dapat dilakukan peternak untuk mengetahui berat badan

kerbau adalah dengan menggunakan metode pengukuran. Cara ini cukup efektif

dan biayanya relatif lebih murah.

Kerangka Pemikiran

Penelitian ini diawali oleh kerangka pemikiran terkait tingginya kebutuhan

daging yang tidak diimbangi dengan produksi daging dalam negeri. Kerbau,

khususnya kerbau murrah sebagai salah satu pemasok daging di Indonesia kurang

diketahui potensinya. Hanya sedikit informasi mengenai potensi yang dimiliki oleh

ternak tersebut, sehingga tidak banyak peternak yang berminat untuk

memeliharanya, akibatnya populasi kerbau sangat sedikit. Dengan jumlah yang

sedikit tersebut, berimbas pada kelengkapan peralatan kandang, yaitu timbangan.

Tidak disetiap kandang tersedia timbangan, timbangan dirasa terlalu mahal sebagai

alat untuk mengetahui berat badan ternak. Peternak harus mengeluarkan biaya

lebih untuk menyediakan timbangan dikandang. Cara lain yang dapat dilakukan

untuk mengetahui berat badan ternak adalah melalui pengukuran. Cara ini cukup

efektif dan biayanya relatif lebih murah.

Ketersediaan pakan merupakan salah satu pendukung dalam usaha

peternakan. Hasil samping pertanian seperti kulit kopi dapat dimanfaatkan sebagai

(17)

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian kulit

daging buah kopi yang difermentasi dengan mikroorganisme lokal dalam pakan

terhadap kondisi dan perkiraan bobot kerbau Murrah.

Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai bahan referensi bagi

peternak kerbau dalam upaya pengembangan serta untuk menduga berat badan

kerbau Murrah, sebagai bahan informasi bagi para peternak dalam menggunakan

hasil samping kopi sebagai bahan pakan untuk ternak. Bahan informasi bagi para

peneliti, kalangan akademis atau instansi yang berhubungan dengan peternakan.

Hipotesa Penelitian

Pemberian kulit daging buah kopi yang difermentasi dengan

mikroorganisme lokal dalam pakan berpengaruh positif terhadap kondisi tubuh

kerbau Murrah. Bobot badan kerbau Murrah dapat diduga berdasarkan ukuran

lingkar dada dan panjang tubuh.

(18)

TINJAUAN PUSTAKA

Potensi Ternak Kerbau

Semua jenis kerbau memiliki beberapa karakteristik yang sama, adapun

klasifikasi ilmiah kerbau sebagai berikut : Kerajaan : Animalia; Filum : Chordata;

Kelas : Mammalia; Ordo : Artiodactyla; Famili : Bovidae; Upafamili : Bovinae;

Genus : Bubalus; Spesies : Bubalus bubalis (Susilorini, et al., 2010).

Kerbau adalah ternak asli daerah panas dan lembab, khususnya

di daerah belahan utara tropika. Ternak kerbau sangat menyukai air.

Sisa – sisa fosil kerbau yang sekarang masih tersimpan di India (Lembah Hindus)

menunjukkan bahwa kerbau telah ada sejak zaman Pliocene. Kerbau lumpur

domestikasi tampaknya berasal dari daratan China. Kerbau termasuk familia

Bovidae dan sejarah mencatat telah diternakkan di India, Malaysia dan Mesir.

Ternak ini berfungsi triguna : perah, daging dan ternak kerja. Kemampuannya

yang menonjol adalah dapat memanfaatkan tanaman yang terkasar dan

merubahnya menjadi produk ternak (Reksohadiprodjo, 1984).

Dibandingkan dengan sapi, kerbau mempunyai sistem pencernaan yang

lebih efisien dalam mencerna pakan kualitas rendah. Pada daerah kering dimana

ternak sapi kondisi tubuhnya sudah memprihatinkan (kurus), kondisi tubuh kerbau

masih cukup baik (Bamualim, et al., 2006).

Terdapat dua bangsa kerbau lokal yang ada di Indonesia, yaitu kerbau

lumpur atau rawa (swamp buffalo) berjumlah sekitar 95% dan sisanya dalam

jumlah kecil (sekitar 2%) adalah kerbau sungai (reverine buffalo) terdapat

di Sumatera Utara. Secara umum kerbau sungai memiliki warna kulit normal

(19)

Kerbau sudah dapat dikawinkan pada umur 15 sampai 18 bulan, dan pada

umur 28 bulan sudah beranak pertama dan selanjutnya beranak setiap tahun.

Dengan demikian, pada umur 3 tahun 4 bulan, kerbau betina dapat beranak dua

kali. Dalam waktu 25 tahun, seekor kerbau betina mampu melahirkan anak 20

ekor, calving interval kerbau dapat mencapai 13 bulan dengan sistem

pemeliharaan intensif, sedangkan dengan sistem pemeliharaan secara gembala

calving interval dapat lebih dari 24 bulan. Selain menghasilkan daging dan susu,

kerbau juga menghasilkan kulit, tulang, dan tanduk yang dapat digunakan untuk

keperluan industri sepatu, kerajinan, tas, ukiran, dll. Kotoran kerbau dapat

dimanfaatkan untuk pupuk pertanian. Setiap ekor kerbau dewasa dapat

menghasilkan 3,2 hingga 4 ton pupuk per tahun. Produk olahan susu kerbau yaitu

keju mozarela, dadih, yogurt dan lain sebagainya.

Tabel 1. Populasi Kerbau Indonesia (ribu ekor) pada 2005-2011.

Provinsi Tahun Banten 153,004 151,976 153,204 123,143 NTT 150,405 150,357 150,038 NTB 141,511

Sumbe

* = BPS Sumatera Utara (2013).

Kerbau Murrah

Kerbau Murrah adalah kerbau sungai yang sangat penting dan sangat

efisien dalam menghasilkan susu. Kerbau Murrah dipelihara terutama untuk

(20)

dipelihara oleh masyarakat keturunan India di daerah Sumatera Utara sebagai

penghasil susu (Diwyanto dan Subandrio, 1995).

Ciri-ciri umum kerbau Murrah menurut Mason (1974) adalah berwarna

hitam dengan muka bercak putih pada muka, mempunyai ujung ekor berwarna

putih dan tanduk yang pendek. Fahimuddin (1975) menyatakan bahwa warna

coklat atau bhurra merupakan variasi lain dari warna kerbau Murrah yang terdapat

dalam jumlah kecil. Warna coklat ditemukan sebanyak 30% dalam populasi

kerbau Murrah dan diduga bersifat resesif (Mason, 1974).

Fahimuddin (1975) menyatakan bahwa bentuk tanduk adalah karakteristik

yang paling spesifik pada kerbau Murrah. Tanduk tumbuh ke arah belakang dan ke

atas lalu membentuk lingkaran memutar ke dalam dengan bentuk spiral. Kepala

kerbau Murrah betina biasanya kecil dan lebih terbentuk daripada kerbau jantan.

Dahi luas dan agak menonjol, muka memiliki tanda putih di dahi dan lubang

hidung terpisah jauh. Telinga kerbau Murrah kecil, tipis dan tergantung. Mason

(1974) menambahkan bahwa bagian kaki belakang dan pinggang kerbau Murrah

lebih besar dibandingkan bagian depannya. Pinggul kerbau Murrah luas dan

tertutup halus. Ambing berkembang baik pada kerbau betina. Kerbau Murrah

memiliki puting yang panjang, terpisah simetris dan baik. Secara umum puting

bagian belakang lebih panjang daripada puting bagian depan.

Mason (1974) menyatakan bahwa kerbau Murrah jantan dewasa memiliki

berat badan 450-800 kg dan kerbau betina sekitar 350-700 kg. Kerbau Murrah

jantan dan betina memiliki tinggi pundak sekitar 142 cm dan 133 cm dengan

panjang badan 151 cm pada jantan dan 149 cm pada betina. Tinggi pundak kerbau

(21)

142,2 cm dan 132,2 cm dengan panjang badan 149,8 cm dan 147,2 cm. Ukuran

lingkar dada kerbau Murrah jantan dan betina menurut Fahimudin (1975)

berturut-turut adalah 220,7 cm dan 218,4 cm. Mason (1974) menyatakan ukuran lingkar

dada yang lebih besar yaitu 223 cm dan 220 cm. Puslitbang Peternakan (2006)

melaporkan bahwa bobot badan kerbau Murrah betina pada umur 2,5-4 tahun

mencapai 407 kg sedangkan jantan mencapai 507 kg. Helberg dan Lind (2003)

menyatakan bahwa rata-rata produksi susu kerbau Murrah selama 294 hari

laktasi adalah 1.764 kg per laktasi.

Kebutuhan Dan Jenis Pakan Kerbau

Kebutuhan Nutrisi Ternak Kerbau

Kebutuhan ternak akan zat makanan terdiri dari kebutuhan hidup pokok

dan kebutuhan untuk produksi. Kebutuhan hidup pokok pengertiannya sederhana

yaitu untuk mempertahankan hidup. Ternak yang memperoleh makanan hanya

sekedar cukup untuk memenuhi hidup pokok, bobot badan ternak tersebut tidak

akan naik dan turun. Tetapi jika ternak tersebut memperoleh lebih dari kebutuhan

hidup pokoknya maka sebagian dari kelebihan makanan itu akan dapat dirubah

menjadi bentuk produksi misalnya air susu, pertumbuhan dan reproduksi ini

disebut kebutuhan produksi (Tillman, et al., 1991).

Kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan dicerminkan oleh

kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat

tergantung jenis ternak, umur, fase, (pertumbuhan, dewasa, bunting dan

menyusui), kondisi tubuh (normal atau sakit) dan lingkungan tempat hidupnya

(temperatur, kelembapan dan nisbi udara) serta berat badannya

(22)

Pakan

Hartadi, et al., (1986) menyatakan pakan adalah suatu bahan yang dimakan

h e w a n y a n g m e n g a n d u n g e n e r g i d a n z a t - z a t g i z i ( a t a u k e d u a n y a )

di dalam bahan tersebut. Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh

seekor hewan yang mampu menyajikan unsur hara atau nutrien yang penting untuk

perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi dan produksi. Bahan

pakan dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu konsentrat dan bahan berserat.

Konsentrat serta bahan berserat merupakan komponen atau penyusun ransum

(Blakely dan Bade, 1994).

Pakan merupakan bahan pakan ternak yang berupa bahan kering dan air.

Bahan pakan ini harus diberikan pada ternak sebagai kebutuhan hidup pokok dan

produksi. Dengan adanya pakan maka proses pertumbuhan, reproduksi dan

produksi akan berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, pakan harus terdiri dari

zat-zat pakan yang dibutuhkan ternak berupa protein, lemak, karbohidrat, mineral,

vitamin dan air (Setiawan dan Arsa, 2005).

Alat pencernaan hewan ruminansia terbagi atas empat bagian, yakni rumen,

retikulum, omasum dan abomasum. Dengan alat ini ternak mampu menampung

jumlah pakan yang lebih besar seperti hijauan dan pakan penguat. Pada umumnya

bahan pakan hijauan diberikan dalam jumlah 10% dari berat badan dan pakan

penguat cukup 1% dari berat badan (Aritonang, 1993).

Hijauan

Hijauan pakan merupakan makanan dasar yang terdiri dari hijauan pakan

yang dapat berupa rumput lapangan, limbah hasil pertanian, rumput jenis unggul

(23)

merupakan makanan utama bagi ternak ruminansia dan berfungsi tidak saja

sebagai pengisi perut, tetapi juga sumber gizi yaitu protein, sumber tenaga, vitamin

dan mineral (Murtidjo, 1993).

Pemberian hijauan dalam keadaan segar, umumnya lebih disukai ternak

ruminansia, dibandingkan pemberian dalam keadaan layu atau kering. Namun ada

beberapa jenis hijauan yang dalam keadaan segar masih mengandung racun yang

bisa membahayakan kehidupan ternak ruminansia, misalnya daun singkong dan

gliricidae. Karenanya, pakan berupa hijauan tersebut harus dilayukan terlebih

dahulu selama 2-3 jam dibawah terik matahari. Bisa juga diinapkan selama

semalam sebelum diberikan kepada ternak (Sodiq dan Abidin, 2002).

Ternak ruminansia mengkonsumsi hijauan sebanyak 10% dari bobot

badannya setiap hari dan konsentrat sekitar 1,5-2% dari jumlah tersebut termasuk

suplementasi vitamin dan mineral. Oleh karena itu, hijauan dan sejenisnya

terutama rumput dari berbagai spesies merupakan sumber energi utama ternak

ruminansia (Pilliang, 1997).

Tabel 2. Komposisi Nilai Nutrisi Rumput Raja

Kandungan nutrisi Jumlah

Bahan kering (%) 21.2

Protein kasar (%) 13.5

Lemak kasar (%) 3.5

Serat kasar (%) 34.1

TDN (%) 54

Abu (%) 18.6

Kalsium (%) 0.37

(24)

Konsentrat

Konsentrat adalah bahan pakan yang digunakan bersama bahan pakan lain

untuk meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan pakan dan dimaksudkan

untuk dicampur sebagai suplemen atau bahan pelengkap (Hartadi, et al., 1980).

Keuntungan yang diperoleh dari pemberian pakan penguat adalah adanya

kecenderungan mikroorganisme rumen memanfaatkan pakan penguat terlebih

dahulu sebagai sumber energi dan selanjutnya dapat memanfaatkan pakan kasar

yang ada di rumen (Murtijo, 1993).

Bahan Pakan Penyusun Konsentrat

Kulit Daging Buah Kopi

Kulit kopi terdiri dari lapisan bagian luar tipis yakni yang disebut exocarp,

lapisan ini kalau sudah masak berwarna merah. Daging buah, daging buah ini

mengandung serabut yang bila sudah masak berlendir dan rasanya manis, maka

sering disukai binatang kera atau musang. Daging buah ini disebut mesocarp.

Kulit tanduk atau kulit dalam, kulit tanduk ini merupakan lapisan tanduk yang

menjadi batas kulit dan biji yang keadaannya agak keras. Kulit ini disebut

(25)

Gambar 2. kulit daging buah kopi

(AAK, 2008).

Produksi kopi nasional mencapai sekitar 687 ribu ton per tahun, dengan

jenis yang umum dijumpai adalah arabika dan robusta. 40-45% dari buah kopi

adalah kulit daging buah yang berpotensi sebagai pakan alternatif ternak . Karena

kadar air kulit daging buah kopi cukup tinggi (53%) (Deptan 2011).

Menurut Zainuddin dan Murtisari (1995) kulit buah kopi ini cukup

potensial untuk digunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia. Kandungan zat

nutrisi yang terdapat pada kulit buah kopi seperti; protein kasar sebesar 10,4%,

serat kasar sebesar 17,2% dan energi metabolis 14,34 MJ/kg, relatif sebanding

dengan zat nutrisi rumput. Dengan kandungan zat nutrisi tersebut, maka limbah

pengolahan kopi diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup pokok,

sehingga untuk pertumbuhan. bunting dan laktasi diperlukan pakan tambahan

untuk memenuhi kebutuhan protein dan energi. Secara rinci kandungan nutrisinya

dapat dilihat pada Tabel 3.

Onggok

Dalam pengolahan ubi kayu menjadi tepung tapioka dihasilkan limbah yang

disebut onggok. Ketersediaan onggok sangat bergantung pada jumlah varietas dan

(26)

penanganannya. Jumlah onggok yang dihasilkan sebesar 50% dari ubi kayu yang

diolah. Moertinah (1984) menyatakan bahwa dalam pengolahan ubi kayu

menghsilkan 15 - 20% pati, 5-20 % onggok kering sedangkan onggok basah yang

dihasilkan 70-79%. Secara rinci kandungan nutrisinya dapat dilihat pada Tabel 3.

Dedak Padi

Dedak padi merupakan hasil ikutan dalam proses pengolahan gabah

menjadi beras yang mengandung bagian luar yang tebal, tetapi bercampur dengan

bagian penutup beras. Hal ini yang mempengaruhi tinggi atau rendahnya serat

kasar dedak. Bila dilihat dari pengolahan gabah menjadi beras dapat digantikan

serat kasarnya tinggi (Rasyaf, 1992). Secara rinci kandungan nutrisinya dapat

dilihat pada Tabel 3.

Bungkil Inti Sawit

Menurut Davendra (1997) protein bungkil inti sawit lebih rendah dari pada

bungkil yang lain. Namun demikian masih dapat dijadikan sebagai sumber protein.

Kandungan asam amino esensialnya cukup lengkap, imbangan kalsium fospor

cukup lengkap.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ransum yang komponen utamanya bungkil

inti sawit dapat diperbaiki daya cernanya, serat kasarnya dan palatabilitasnya

dengan menggunakan molasses. Menurut Silitonga (1993) menyatakan bahwa

semakin tinggi persentase bungkil inti sawit dalam ransum maka kenaikan berat

badan perhari semakin besar, namun demikian pemberian yang optimal dari

bungkil sawit ialah 1.5% dari berat badan ternak. Secara rinci kandungan

(27)

Tongkol Jagung

Seiring dengan kebutuhan jagung yang cukup tinggi, maka akan bertambah

pula limbah yang dihasilkan dari industri pangan dan pakan berbahan baku jagung.

Limbah yang dihasilkan diantaranya adalah tongkol jagung yang biasanya tidak

dipergunakan lagi ataupun nilai ekonominya sangat rendah. Umumnya tongkol

jagung dipergunakan sebagai pakan ternak ruminansia, di daerah pedesaan tongkol

jagung ini juga dapat dimanfaatkan sebagai obat diare (Suprapto dan Rasyid,

2002). Secara rinci kandungan nutrisinya dapat dilihat pada Tabel 3.

Molases

Molases merupakan hasil sampingan pengolahan tebu menjadi gula. Bentuk

fisiknya berupa cairan yang kental dan berwarna cokelat kehitaman. Kandungan

karbohidrat, protein dan mineral yang cukup tinggi, sehingga bisa dijadikan pakan

ternak walaupun sifatnya sebagai pakan pendukung. Kelebihan molases terletak

pada aroma dan rasanya, sehingga bila dicampur pada pakan ternak bisa

memperbaiki aroma dan rasa ransum (Widayati dan Widalestari, 1996). Menurut

Rangkuti, et al., (1985) molases juga mengandung vitamin B kompleks dan

unsur-unsur mikro yang penting bagi ternak seperti kobalt, boron, iodium, tembaga,

mangan dan seng, sedangkan kelemahannya ialah kadar kaliumnya yang tinggi

yang dapat menyebabkan diare jika dikonsumsi banyak. Secara rinci kandungan

(28)

Tabel 3. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Kulit daging buah kopi tanpa

fermentasi 56,79a 11,9a 30,4a 4,25a 50,67a

Sumber : a = Laboratorium Nutrisi Loka Penelitian Sapi Potong (2011) b = Moertinah (1984)

c = Hartadi, et al., (1986).

d = Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Departemen Peternakan FP USU (2005).

Ultra Mineral

Mineral adalah zat organik, yang dibutuhkan dalam jumlah yang kecil,

namun berperan penting agar proses fisiologis dapat berlangsung dengan baik.

Mineral digunakan sebagai kerangka pembentukan tulang, gigi, pembentukan

darah, pembentukan jaringan tubuh serta diperlukan sebagai komponen enzim

yang berperan dalam proses metabolisme didalam sel. Penambahan mineral dalam

pakan ternak dapat dilakukan untuk mencegah kekurangan mineral dalam pakan

(Setiadi dan Inouno, 1991).

Urea

Urea adalah merupakan senyawa kimia yang mengandung 40 – 45%

nitrogen. Mikroorganisme yang terdapat dalam saluran pencernaan ternak dapat

mengkombinasikan N dalam urea dengan C, H2 dan O2 yang terdapat dalam

karbohidrat dan membentuk asam amino. Oleh karena itu urea dapat digunakan

(29)

Garam

Semua herbivora akan suka memakan garam apabila disediakan dalam

bentuk jilatan (lick) atau dalam bentuk halus dalam tempat mineral. Oleh karena

hewan suka akan garam maka biasanya garam dipakai sebagai campuran fosfor

atau mineral mikro dan senyawa lain misalnya obat parasit (Tillman, et al., 1991).

Na dan Cl untuk memenuhi kebutuhan produksi optimum termasuk untuk

unggas. Hampir semua bahan makanan nabati (khususnya hijauan tropis)

mengandung Na dan Cl relatif lebih kecil dibanding bahan makanan hewani

(Parakkasi, 1999).

Fermentasi

Fermentasi adalah segala macam proses metabolis dengan bantuan dari

enzim mikrobia (jasad renik) untuk melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisa dan

reaksi kimia lainnya, sehingga terjadi perubahan kimia pada suatu substrat organik

dengan menghasilkan produk tertentu. Fermentasi merupakan proses biokomia

yang dapat menyebabkan perubahan sifat bahan pangan sebagai akibat dari

pemecahan kandungan bahan tersebut (Winarno, et al., 1980).

Selama proses fermentasi terjadi, bermacam-macam perubahan komposisi

kimia. Kandungan asam amino, karbohidrat, pH, kelembaban, aroma serta

perubahan nilai gizi yang mencakup terjadinya peningkatan protein dan penurunan

s e r a t k a s a r . S e m u a n y a m e n g a l a m i p e r u b a h a n a k i b a t a k t i v i t a s d a n

perkembangbiakan mikroorganisme selama fermentasi. Melalui fermentasi terjadi

pemecahan substrat oleh enzim-enzim tertentu terhadap bahan yang tidak dapat

(30)

proses fermentasi terjadi pertumbuhan kapang, selain dihasilkan enzim juga

dihasilkan protein ekstraselluler dan protein hasil metabolisme kapang sehingga

terjadi peningkatan kadar protein (Sembiring, 2006).

Fermentasi Dengan Mikroorganisme Lokal

Pembuatan kulit kopi fermentasi dengan mikroorganisme lokal

menggunakan beberapa bahan antara lain : kulit kopi, inokulen cair, dedak halus

dan bahan yang akan difermentasi. Alat yang digunakan yaitu plastik untuk alas

fermentasi. Kulit kopi diserakkan di atas alas, kemudian disiram dengan inokulan

cair secara merata selanjutnya seluruh material disiram dengan dedak halus sampai

merata dengan cara membalik-balik dengan sekop, kemudian ditutup dengan tikar

bekas/selimut/sabuk kelapa bekas agar panas yang terbentuk tersimpan baik dan

mempercepat proses fermentasi. Fermentasi dilakukan selama 5 hari, kulit kopi

yang sudah lembek lalu dikeringkan.

Pengeringan dilakukan dengan tahapan tertentu dimana dimaksudkan agar

mikroorganisme yang berkembang biak menjadi dorman. Pakan yang berisi

mikroorganisme dorman diharapkan berfungsi menjadi probiotik. Pertama

dilakukan pengeringan di dalam ruangan sampai kebasahan bahan berkurang.

Selanjutnya dikeringkan di udara terbuka namun dibawah naungan pepohonan.

Demikian diteruskan sampai bahan kering.

Inokulan Cair

Inokulan cair merupakan salah satu cara pengembangbiakan

mikroorganisme yang akan mampu mendegradasi bahan organik. Bahan pembuat

(31)

Mikroorganisme lokal dalam inokulan cair ini adalah Saccharomyces yang

berasal dari ragi tape, Rhizopus dari ragi tempe dan Lactobacillus dari yoghurt.

Mikroorganisme ini mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

a. Sifat amilolitik, mikroorganisme yaitu Saccharomyces akan menghasilkan

enzim amilase yang berperan dalam mengubah karbohidrat menjadi

volatile fatty acids yang kemudian akan menjadi asam amino.

b. Sifat proteolitik, mikroorganisme yaitu Rhizopus akan mengeluarkan enzim

protease yang dapat merombak protein menjadi polipeptida, lalu menjadi

peptida sederhana dan akhirnya menjadi asam amino bebas, CO2 dan air.

c. Sifat lipolitik, mikroorganisme yaitu Lactobacillus akan menghasilkan

enzim lipase yang berperan dalam perombakan lemak.

Pembuatan inokulan cair menggunakan beberapa bahan antara lain air

sumur, air tebu, ragi tape, ragi tempe dan yoghurt. Semuanya dimasukkan ke

galon, lubangnya ditutup dengan kantung plastik ukuran 1 kg dan dibiarkan selama

3 hari. Guna ditutup dengan kantong plastik adalah untuk mendapatkan indikasi

apakah mikroorganisme yang akan diaktifkan bekerja, bila kantung plastik

menggelembung, berarti terjadi reaksi positif dari mikroorganisme dalam tahapan

(32)

Konsumsi

Konsumsi adalah kemampuan untuk menghabiskan sejumlah ransum yang

diberikan. Konsumsi ransum dapat dihitung dengan pengurangan jumlah ransum

yang diberikan dengan sisa dan hamburan. Konsumsi ransum dipengaruhi oleh

kesehatan ternak, palatabilitas, mutu ransum dan tata cara pemberian

(Anggorodi, 1995).

Konsumsi pakan menurut Lubis (1992), dipengaruhi oleh beberapa hal

diantaranya 1) Faktor pakan, meliputi daya cerna dan palatabilitas dan 2) faktor

ternak yang meliputi bangsa, jenis kelamin, umur dan kondisi kesehatan ternak.

Fungsi pakan antara lain sebagai pengisi lambung, perangsang dinding saluran

pencernaan dan menguatkan pembentukan enzim, apabila ternak kekurangan

pakan menyebabkan ternak merasa tidak kenyang.

Konsumsi ransum dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah

palatabilitas ransum, bentuk fisik ransum, bobot badan, jenis kelamin, temperatur

lingkungan, keseimbangan hormonal dan fase pertumbuhan (Piliang, 2000).

Faktor-faktor yang mempengaruhi palatabilitas pakan yaitu faktor fisik dan

kimiawi pakan yang akan berpengaruh terhadap fisiologis ternak dalam ransangan

penglihatan, penciuman, dan rasa dalam mengkonsumsi pakan (Church ,1986).

Pengukuran Tubuh Ternak

Pengukuran tubuh ternak harus benar-benar memperhatikan posisi ternak.

Ternak sebaiknya berdiri pada tempat yang datar, keempat kakinya benar-benar

harus berpijak tegak dan sejajar. Menurut Santosa (2001), pengukuran ukuran

tubuh ternak dapat dipergunakan untuk menduga bobot badan seekor ternak sapi

(33)

yang digunakan untuk menduga bobot tubuh biasanya panjang badan dan lingkar

dada.

Mengukur bagian vital ternak dengan menggunakan pita meter kain dan

tongkat ukur. Bagian vital tersebut antara lain : panjang tubuh, diukur dengan cara

menarik garis horisontal dari tepi depan sendi bahu sampai tepi bungkul tulang

duduk. Tinggi gumba diukur dari bagian tertinggi bagian gumba ke tanah sesuai

dengan garis lurus. Tinggi kemudi, diukur dari titik tertinggi tulang kemudi sampai

ke tanah sesuai garis lurus. Lingkar dada diukur mengikuti lingkaran dada/ tubuh

tepat di belakang bahu melewati gumba. Lebar dada, diukur dengan menarik garis

horisontal antara tepi luar sendi bahu kanan dan kiri kaki depan. Lebar kemudi,

d i u k u r d e n g a n m e n a r i k g a r i s h o r i s o n t a l d a r i t e p i l u a r s e n d i p a h a

kaki kanan dan kiri kaki belakang.

Penilaian Kondisi Tubuh

Suatu sistem penilaian secara umum yang telah dikembangkan untuk

menduga rataan kondisi sapi dalam suatu pemeliharaan merupakan definisi skor

kondisi tubuh menurut Encinias dan Lardy (2000). Sistem ini membantu peternak

dalam penilaian suatu kondisi ternak dengan mengevaluasi nilai perlemakan serta

penonjolan kerangka. Skor kondisi tubuh merupakan metode penilaian secara

visual yang mempertimbangkan frame size atau bentuk tubuh (Phillips, 2001).

Perguruan tinggi Pertanian Scotlandia Timur adalah pelopor pembuatan

sistem scoring (Rutter, et al., 2000). Kondisi tubuh dinilai dari satu (sangat kurus)

sampai lima (sangat gemuk). Penggunaan metode ini pertama kali dikemukakan

tahun 1917 digunakan untuk memprediksi rasio antara nilai lemak dan bukan

(34)

1976 dibagi menjadi lima kategori dengan mempertimbangkan metode palpasi

pada spinous processus dan pangkal ekor sangat berhasil diterapkan pada domba.

Pembagian lima point kategori skor kondisi pada umumnya berdasarkan nilai

perlemakan dan perdagingan sapi.

Skor kondisi tubuh dapat menentukan hubungan antara penampilan

produksi dan reproduksi dengan manajemen pakan yang telah diterapkan. Sapi

yang memiliki skor kondisi yang bagus menunjukkan jumlah perlemakan dan

perototan yang lebih besar karena merupakan refleksi dari pakan yang baik

(Neumann dan Lusby, 1986). Kondisi tubuh juga sangat menentukan hasil

potongan komersial, karkas dan penampilan sapi. Sapi dengan kondisi yang lebih

gemuk akan menghasilkan potongan karkas yang lebih besar. Sapi kurus dapat

diperbaiki nilai produktivitasnya dengan meningkatkan kualitas pakan

(Apple, 1999). Penilaian produktivitas dan laju pertumbuhan hanya dengan ukuran

bobot badan kurang akurat dalam memberikan informasi bobot badan yang

sebenarnya dikarenakan adanya perbedaan isi perut

(Neumann dan Lusby, 1986).

Keuntungan dari penggunaan skor kondisi tubuh menurut Rutter, et al.,

(2000) adalah mudah untuk dipelajari, cepat, sederhana, murah, tidak memerlukan

peralatan khusus dan cukup akurat untuk beberapa situasi manajemen dan

(35)

Tabel 4. Diskripsi Skor Kondisi Tubuh Kerbau

Skor Kategori Deskripsi

1 Sangat Kurus Tulang pinggul, pangkal ekor dan tulang rusuk secara visual terlihat jelas.

2 Kurus Tulang rusuk dapat diidentifikasi bila disentuh, mulai sedikit tidak jelas.

Pangkal ekor, tulang pinggul dan panggul mulai tertutupi lemak.

3 Sedang Tulang rusuk dapat dirasakan dengan tekanan tangan.

Pangkal ekor dan tulang pinggul mulai tertutupi lemak dan dapatdengan mudah dirasakan

4 Gemuk Tulang rusuk tidak bisa dirasakan dengan tekanan tangan.

Lipatan lemak mulai berkembang diatas tulang rusuk dan pinggul ternak.

5 Sangat Gemuk Struktur tulang tidak lagi nyata dan ternak menunjukkan penampilan yang sintal dan membulat.

Tulang pinggul, pangkal ekor, tulang rusuk dan paha dipenuhi dengan lipatan lemak.

Sumber: Rutter, et al., (2000).

Perkiraan Berat Kerbau Murrah

Bobot badan sapi merupakan salah satu indikator produktivitas ternak yang

dapat diduga berdasarkan linear tubuh sapi meliputi lingkar dada, panjang badan

(36)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Balai Pembibitan Ternak Unggul Babi dan

Kerbau di desa Silangit Kecamatan Siborong-borong Kabupaten Tapanuli Utara,

Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan selama 120 hari dimulai bulan April

sampai dengan Agustus 2012.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah 4 ekor ternak Kerbau

Murrah jantan berumur 1 tahun hingga 1 tahun 3 bulan sebagai objek yang akan

diteliti, hijauan, konsentrat yang terdiri dari kulit daging buah kopi, onggok, dedak

padi, bungkil inti sawit, tongkol jagung, molases, urea, garam, mineral mix dan

kapur sebagai bahan pakan. Air tebu, ragi tempe, ragi tape dan youghurt sebagai

bahan fermentator pembuatan inokulan cair serta obat-obatan seperti obat cacing

wormzol, vitamin B-Kompleks dan air minum.

Alat

Kandang individu 4 unit beserta perlengkapannya. Tempat pakan sebagai

wadah pakan. Ember 8 buah sebagai wadah/tempat air minum dan konsentrat.

Lesung sebagai alat untuk menggiling kulit kopi. Timbangan kapasitas 500 kg

sebagai alat penimbang bobot badan sapi. Timbangan dengan kapasitas 10 kg

sebagai alat penimbang bahan pakan. Terpal sebagai tempat fermentasi kulit kopi.

alat kebersihan (sapu lidi, ember, karung goni plastik, sekop), alat tulis, kalkulator

(37)

selama proses fermentasi. Pita ukur sebagai alat untuk mengukur panjang tubuh,

lingkar dada dan tinggi pinggul ternak kerbau. Kamera sebagai alat dokumentasi.

Penggaris untuk mengukur tonjolan tulang pinggul.

Metode Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan

bujur sangkar latin 4 perlakuan x 4 ulangan. Perlakuan yang diteliti adalah :

P0 = Hijauan + konsentrat dengan kulit daging buah kopi tanpa fermentasi 20%

P1 = Hijauan + konsentrat dengan kulit daging buah kopi fermentasi 10%

P2 = Hijauan + konsentrat dengan kulit daging buah kopi fermentasi 20%

P3 = Hijauan + konsentrat dengan kulit daging buah kopi fermentasi 30%

K1 = Kerbau pertama

K2 = Kerbau kedua

K3 = Kerbau ketiga

K4 = Kerbau keempat

Sehingga kombinasi perlakuan yang dihasilkan adalah sebagai berikut :

K1P0 K2P1 K3P2 K4P3

K1P1 K2P0 K3P3 K4P2

K1P3 K2P2 K3P1 K4P0

(38)

Model matematika yang digunakan menurut Sastrosupadi (2000) adalah : Yijk + μ + Ti + Bj + Kk + € ijk

Dimana :

Yijk = hasil pengamatan dari perlakuan ke-i, baris ke-j dan kolom ke-k Ti = pengaruh perlakuan ke-i

Bj= pengaruh perlakuan ke-j Kk = pengaruh perlakuan ke-k

μ = nilai tengah umum

€ ijk= pengaruh galat karena perlakuan ke-i, baris ke-j dan kolom ke-k

Parameter Pengamatan

Konsumsi

Konsumsi Pakan dihitung berdasarkan jumlah pakan yang diberikan

dikurangi dengan sisa pakan dan pakan terbuang selama 4 bulan penelitian.

Penilaian Kondisi Tubuh

Tonjolan Tulang Rusuk dan Tulang Pinggul

Tonjolan tulang rusuk diukur melalui pengamatan terhadap tampilan

kondisi tubuh ternak kerbau. Tonjolan tulang pinggul diukur menggunakan

penggaris.

Perkiraan Berat

Lingkar Dada

Lingkar dada diukur mengikuti lingkaran dada / tubuh tepat di belakang

bahu melewati gumba dengan menggunakan pita ukur.

Panjang Tubuh

Panjang tubuh diukur dengan cara menarik garis horisontal dari tepi depan

(39)

Pelaksanaan penelitian

1. Pengolahan Kulit Daging Buah Kopi

2. Penyusunan Ransum

Ransum disusun sesuai dengan kebutuhan formula susunan ransum.

Pencampuran ransum dilakukan secara sederhana (manual) dengan cara

mencampurkan terlebih dahulu bahan yang jumlahnya lebih sedikit, sedangkan

pencampuran mineral mix dilakukan setelah bahan lainnya selesai dicampur.

3. Persiapan Kandang

Kandang diperbaiki dan semua perlatan yang digunakan seperti tempat

pakan dan tempat minum dibersihkan dengan menggunakan desinfektan.

4. Pengacakan Kerbau Murrah

Kerbau yang digunakan selama penelitian adalah 4 ekor. Penempatan

Kerbau dilakukan dengan sistem pengacakan dengan tidak membedakan bobot

badan. Sebelumnya dilakuan penimbangan bobot badan awal kerbau.

5. Pemberian Pakan dan Minum

Pakan yang digunakan adalah hijauan yang diberikan secara ad-libitum

yang berupa rumput raja dan konsentrat 2 % dari bobot badan. Terlebih dahulu

pakan ditimbang kemudian sisa pakan yang diberikan ditimbang keesokan harinya

untuk mengetahui konsumsi ternak tersebut.

Sebelum dilaksanakan penelitian diberi waktu beradaptasi selama 1 (satu)

minggu dengan memberikan pakan percobaan sedikit demi sedikit. Periode ini

(40)

Pemberian pakan dilakukan pada pagi hari pukul 07.00 WIB dan sore hari

pada pukul 16.00 WIB. Pemberian air minum secara ad libitum. Air diganti setiap

hari dan tempatnya dicuci dengan air bersih.

6. Pemberian Obat-obatan

Ternak kerbau sebelum masuk kandang penelitian terlebih dahulu

diberikan obat cacing selama adaptasi, sedangkan obat lainnya diberikan apabila

ternak sakit dan disesuaikan.

7. Pengambilan data dan analisa data

Langkah-langkah pengambilan data dan analisa data:

• Dilakukan penimbangan bobot badan awal kerbau.

• Dilakukan pengukuran yaitu data dari hasil variabel penelitian yang terdiri dari

bobot badan awal kerbau dan bobot akhir kerbau, panjang tubuh awal kerbau

dan panjang tubuh akhir kerbau, lebar dada awal kerbau dan lebar dada akhir

kerbau, panjang tonjolan tulang pinggul awal kerbau dan panjang tonjolan

tulang pinggul akhir kerbau.

• Data konsumsi dan penilaian kondisi tubuh dianalisis dengan menggunakan

analisis ragam. Data Perkiraan berat badan dianalisis menggunakan Software

(41)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi Pakan

Konsumsi pakan adalah kemampuan ternak dalam menghabiskan sejumlah

pakan yang diberikan. Konsumsi pakan dapat dihitung dengan pengurangan

jumlah pakan yang diberikan dengan sisa pakan yang ada. Adapun pakan yang

diberikan selama penelitian adalah hijuan dan konsentrat. Rataan konsumsi pakan

kerbau murrah setiap perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rataan Konsumsi Pakan (Hijauan + Konsentrat) Kerbau Murrah Selama Penelitian(kg/ekor/hari)

Perlakuan Kolom Total Rataan

K1 K2 K3 K4

P0 5,26 5,77 8,19 6,81 26,03 6,51a

P1 6,16 6,06 8,26 7,75 28,23 7,06b

P2 7,83 7,39 6,59 5,91 27,73 6,93ab

P3 7,42 7,49 7,29 5,28 27,48 6,87ab

Total 26,68 26,70 30,33 25,76 109,48 27,37

Rataan 6,67 6,68 7,58 6,44 27,37 6,84

Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat rataan konsumsi pakan kerbau murrah

dalam bahan kering sebesar 6,84 kg/ekor/hari. Rataan konsumsi pakan tertinggi

terdapat pada perlakuan P1 (Pakan dengan kulit kopi fermentasi dengan

Mikroorganisme Lokal sebanyak 10%) sebesar 7,06 kg/ekor/hari, sedangkan

rataan konsumsi pakan terendah terdapat pada perlakuan P0 (Pakan dengan kulit

(42)

Tabel 6. Analisis Keragaman Konsumsi Pakan (Hijauan + Konsentrat) Kerbau

Keterangan : ** = sangat nyata * = nyata

Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa pemberian 20% kulit kopi

tanpa fermentasi dan berbagai level (10%, 20%, 30%) penggunaan kulit kopi yang

difermentasi dengan mikroorganisme lokal dalam konsentrat memberikan

pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan kerbau murrah

dalam bahan kering.

Perlakuan pakan terhadap konsumsi bahan kering diuji dengan uji Tukey

secara ringkas dapat dijelaskan pada Tabel 7.

Tabel 7. Notasi Tukey Taraf 5% Konsumsi Pakan Terhadap Perlakuan

Perlakuan Rataan Notasi

P0 6,51 a

P1 7,06 b

P2 6,93 ab

P3 6,87 ab

Berdasarkan Tabel 7 terlihat bahwa konsumsi pada perlakuan P0

memberikan nilai rataan yang berbeda dengan perlakuan P1, namun memberikan

(43)

konsumsi tertinggi terdapat pada perlakuan P1 yaitu sebesar 7,06, namun

memberikan nilai rataan yang tidak berbeda terhadap perlakuan P2 dan P3. Namun

demikian, semua perlakuan fermentasi yang digunakan menghasilkan rataan yang

lebih besar dari perlakuan P0 (Pakan dengan kulit kopi tanpa fermentasi sebanyak

20%).

Palatabilitas dari pakan yang berbeda serta bobot badan Kerbau Murrah

yang tidak seragam memberikan pengaruh terhadap tingkat konsumsi pakan.

Sesuai dengan pernyataan Piliang (2000) yang menyatakan bahwa konsumsi

ransum dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah palatabilitas ransum,

bentuk fisik ransum, bobot badan, jenis kelamin, temperatur lingkungan.

Selanjutnya menurut Curch (1986) palatabilitas pakan dipengaruhi oleh faktor fisik

dan kimiawi pakan yang akan berpengaruh terhadap fisiologis ternak dalam

ransangan penglihatan, penciuman dan rasa dalam mengkonsumsi pakan.

Penilaian Kondisi Tubuh

Tonjolan Tulang Rusuk

Tonjolan tulang rusuk diukur melalui pengamatan terhadap tampilan

tulang rusuk yang membayang pada ternak kerbau murrah lalu ditampilkan dalam

bentuk skor yang dinotasikan kedalam bentuk angka 1,2,3,4 dan 5. Rataan skor

kerbau murrah berdasarkan tonjolan tulang rusuk setiap perlakuan selama

(44)

Tabel 8. Rataan Penilaian Kondisi Tubuh Kerbau Murrah Berdasarkan Tonjolan Tulang Rusuk Selama Penelitian

Perlakuan Kolom Total Rataan

K1 K2 K3 K4

Berdasarkan hasil penelitian yang dapat dilihat pada Tabel 8 rataan skor

kerbau murrah sebesar 3,34. Rataan skor tertinggi terdapat pada perlakuan P1

(Pakan dengan kulit kopi fermentasi dengan MOL sebanyak 10%) sebesar 3,50,

sedangkan rataan skor terendah terdapat pada perlakuan P0 (Pakan dengan kulit

kopi tanpa fermentasi sebanyak 20%) sebesar 3,06.

Tabel 9. Analisis Keragaman Kondisi Tubuh Kerbau Murrah Berdasarkan Tonjolan Tulang Rusuk Selama Penelitian

SK DB JK KT Fhitung Ftabel

Keterangan: ** = sangat nyata * = nyata

Secara statistik dapat diketahui bahwa pemberian 20% kulit kopi tanpa

(45)

difermentasi dengan mikro organisme lokal dalam konsentrat memberikan

pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap penilaian kondisi tubuh

berdasarkan tonjolan tulang rusuk.

Perlakuan pakan terhadap penilaian kondisi tubuh kerbau murrah

berdasarkan tonjolan tulang rusuk diuji dengan uji Tukey secara ringkas dapat

dijelaskan pada Tabel 10.

Tabel 10. Notasi Tukey taraf 5% penilaian kondisi tubuh kerbau murrah berdasarkan tonjolan tulang rusuk terhadap perlakuan.

Perlakuan Rataan Notasi

P0 3,06 a

P1 3,50 b

P2 3,44 b

P3 3,38 ab

Keterangan : Superskrip dengan huruf berbeda pada notasi menunjukkan perbedaan yang berbeda nyata pada level (P<0,05)

Berdasarkan Tabel 10 terlihat bahwa penilaian kondisi tubuh kerbau

murrah berdasarkan tonjolan tulang rusuk pada perlakuan P0 memberikan nilai

rataan yang berbeda dengan perlakuan P1 dan P2, namun memberikan nilai rataan

yang tidak berbeda dengan perlakuan P3. Pada perlakuan fermentasi penilaian

kondisi tubuh kerbau murrah berdasarkan tonjolan tulang rusuk tertinggi terdapat

pada perlakuan P1 yaitu sebesar 3,50, namun memberikan nilai rataan yang tidak

berbeda terhadap perlakuan P2 dan P3. Namun demikian, semua perlakuan

fermentasi yang digunakan menghasilkan rataan yang lebih besar dari perlakuan P0

(Pakan dengan kulit kopi tanpa fermentasi sebanyak 20%). .

Penilaian kondisi tubuh dapat menentukan hubungan antara penampilan

produksi dengan manajemen pakan yang telah diterapkan, semakin baik kondisi

(46)

didalam pakan serta sistem manajemen (pengelolaan) yang diterapkan. Hal ini

sesuai dengan pernyataan Neumann dan Lusby (1986) yang menyatakan bahwa

ternak ruminansia yang memiliki skor kondisi yang bagus menunjukkan jumlah

perlemakan dan perototan yang lebih besar karena merupakan refleksi dari pakan

yang baik. Selanjutnya Apple (1999) menyatakan bahwa ternak kurus dapat

diperbaiki nilai produktivitasnya dengan meningkatkan kualitas pakan.

Tonjolan Tulang Pinggul

Tonjolan tulang pinggul diukur melalui pengukuran terhadap tulang

pinggul yang menonjol pada ternak kerbau murrah lalu ditampilkan dalam bentuk

skor yang dinotasikan kedalam bentuk angka 1,2,3,4 dan 5. Rataan skor kerbau

murrah berdasarkan tonjolan tulang pinggul setiap perlakuan selama penelitian

dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Rataan Penilaian Kondisi Tubuh Kerbau Murrah Berdasarkan Tonjolan Tulang Pinggul Selama Penelitian.

Perlakuan Kolom Total Rataan

K1 K2 K3 K4

P0 2,0 3,0 4,0 3,0 12,0 3,0a

P1 3,0 2,75 4,0 4,0 13,75 3,44b

P2 4,0 3,25 3,0 3,0 13,25 3,31ab

P3 3,0 4,0 3,75 2,25 13,0 3,25ab

Total 12 13 14,75 12,25 52 13

Rataan 3,0 3,25 3,68 3,06 13 3,25

Berdasarkan hasil penelitian yang dapat dilihat pada Tabel 11 rataan skor

kerbau murrah sebesar 3,25. Rataan skor tertinggi terdapat pada perlakuan P1

(47)

sedangkan rataan skor terendah terdapat pada perlakuan P0 (Pakan dengan kulit

kopi tanpa fermentasi sebanyak 20%) sebesar 3,0.

Tabel 12. Analisis Keragaman Penilaian Kondisi Tubuh Kerbau Murrah Berdasarkan Tonjolan Tulang Pinggul Selama Penelitian

SK DB JK KT Fhitung Ftabel

Keterangan: ** = sangat nyata * = nyata

Secara statistik dapat diketahui bahwa pemberian 20% kulit kopi tanpa

fermentasi dan berbagai level (10%, 20%, 30%) penggunaan kulit kopi yang

difermentasi dengan mikro organisme lokal dalam konsentrat memberikan

pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap penilaian kondisi tubuh

berdasarkan tonjolan tulang pinggul.

Perlakuan pakan terhadap penilaian kondisi tubuh kerbau murrah

berdasarkan tonjolan tulang rusuk diuji dengan uji Tukey secara ringkas dapat

dijelaskan pada Tabel 13.

Tabel 13. Notasi Tukey taraf 5% penilaian kondisi tubuh kerbau murrah berdasarkan tonjolan tulang pinggul terhadap perlakuan.

Perlakuan Rataan Notasi

P0 3,0 a

P1 3,44 b

P2 3,31 ab

P3 3,25 ab

(48)

Berdasarkan Tabel 13 terlihat bahwa penilaian kondisi tubuh kerbau

murrah berdasarkan tonjolan tulang pinggul pada perlakuan P0 memberikan nilai

rataan yang berbeda dengan perlakuan P1, namun memberikan nilai rataan yang

tidak berbeda dengan perlakuan P2 dan P3. Pada perlakuan fermentasi penilaian

kondisi tubuh kerbau murrah berdasarkan tonjolan tulang pinggul tertinggi

terdapat pada perlakuan P1 yaitu sebesar 3,44, namun memberikan nilai rataan

yang tidak berbeda terhadap perlakuan P2 dan P3. Namun demikian, semua

perlakuan fermentasi yang digunakan menghasilkan rataan yang lebih besar dari

perlakuan P0 (Pakan dengan kulit kopi tanpa fermentasi sebanyak 20%).

Dari hasil penelitian diketahui bahwa pemberian 20% kulit kopi tanpa

fermentasi dan berbagai level (10%, 20%, 30%) penggunaan kulit kopi yang

difermentasi dengan mikro organisme lokal dalam konsentrat memberikan

pengaruh yang berbeda nyata terhadap penilaian kondisi tubuh kerbau murrah

berdasarkan tonjolan tulang rusuk dan tonjolan tulang pinggul, hal ini disebabkan

oleh hubungan antara tingkat konsumsi dan pertambahan bobot badan yang

berbanding lurus. Thalib et al., (2001) menyatakan bahwa pertambahan bobot

tubuh ternak sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan, maksudnya

penilaian pertambahan bobot tubuh ternak sebanding dengan ransum yang

dikonsumsi. Penilaian kondisi tubuh kerbau murrah memiliki kaitan yang sangat

erat dengan pertambahan bobot badan, kerbau murrah yang semakin berat akan

memperlihatkan kondisi yang semakin gemuk, terlihat dari jumlah tulang rusuk

yang membayang dan tonjolan tulang pinggul yang semakin berkurang. Hal

tersebut sesuai dengan pernyataan Nielsen (2002) bahwa bobot badan memiliki

(49)

Kondisi tubuh ternak yang berbeda-beda menunjukkan bobot badan yang

cenderung berbeda-beda pula. Sesuai dengan pendapat Parakkasi (1999) bahwa

bobot badan dewasa ternak yang berbeda-beda akan berbeda-beda pula dalam

tingkat kegemukannya pada umur dan makanan yang sama. Perbedaan bobot

badan tersebut dikarenakan adanya perbedaan pertambahan bobot badan harian,

rataan pakan yang dikonsumsi masing-masing individu. Hal tersebut menurut

Blakely dan Bade (1994) bisa juga disebabkan karena adanya perbedaan efisiensi

dalam pemanfaatan nutrien pakan oleh tubuh ternak. Ternak yang memiliki bobot

badan lebih berat maka menunjukkan bahwa efisiensi pemanfaatan pakannya lebih

besar sehingga dapat menghasilkan nilai produktivitas yang lebih baik.

Perkiraan Bobot Kerbau Murrah

Pengujian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perkiraan bobot

kerbau murrah di Balai Pembibitan Ternak Unggul Babi dan Kerbau di desa

Silangit Kecamatan Siborong-borong Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara

digunakan analisis regresi linier berganda, dimana yang menjadi variabel bebas

(independent) adalah lingkar dada (X1), dan panjang tubuh (X2). Sedangkan yang

menjadi variabel terikat/tidak bebas (dependent) adalah berat badan (Y). Ukuran

lingkar dada dan panjang tubuh serta bobot badan kerbau Murrah selama

(50)
(51)

42 209.95 102 78

Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, maka untuk melihat faktor-faktor

yang mempengaruhi perkiraan bobot kerbau murrah dengan menggunakan analisis

regresi linear berganda alat bantu Software Statistical Package for Sosial Sciences

(SPSS 16) dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 15. Analisis Regresi Linier Berganda Perkiraan Berat Kerbau Murrah

Variabel Koefisien Regresi Signifikan

(Constant) 0,11 0,975

Lingkar Dada (X1) 1,021 0,001

(52)

Dari Tabel 1 diperoleh nilai Sig. = 0,001 untuk X1 dan X2 yang berarti

kriteria signifikan (<0,01), dengan demikian model persamaan regresi berdasarkan

data penelitian adalah sangat signifikan, selain itu tingkat korelasi antara lingkar

dada dan panjang tubuh terhadap bobot badan mencapai 98% serta tingkat

kesalahan hanya mencapai 5%. Jadi lingkar dada dan panjang tubuh dapat

dijadikan parameter untuk menduga bobot badan kerbau murrah di Balai

Pembibitan Ternak Unggul Babi dan Kerbau di desa Silangit Kecamatan

Siborong-borong Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara dengan rumus

sebagai berikut:

Y = 0,11 + 1,021 X1 + 1,385 X2

Keterengan : Y = Berat Badan X1 = Lingkar Dada X2 = Panjang Tubuh

Berdasarkan rumus yang diperoleh, bobot badan kerbau Murrah yang

diperoleh dengan menggunakan rumus dapat dilihat pada lampiran 24.

Rekapitulasi Hasil Penelitian

Rekapitulasi hasil penelitian dari penggunaaan berbagai level kulit kopi

yang difermentasi dengan mikro organisme lokal dalam konsentrat terhadap

penilaian kondisi dan perkiraan berat kerbau murrah dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Rekapitulasi Hasil Penelitian

Parameter

Perlakuan Konsumsi Pakan Penilaian Kondisi Tubuh

(kg/ekor/hari) Tonjolan Tulang Rusuk Tonjolan tulang Pinggul

P0 6,51a 3,06a 3,0a

P1 7,06b 3,50b 3,44b

P2 6,93ab 3,44b 3,31ab

(53)

Berdasarkan hasil rekapitulasi pada Tabel 16 diperoleh bahwa penggunaan

berbagai level kulit daging buah kopi yang difermentasi dengan mikro organisme

lokal dalam pakan memberikan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi, penilaian

kondisi tubuh kerbau murrah berdasarkan tonjolan tulang rusuk dan tonjolan

tulang pinggul dengan rataan konsumsi tertinggi terdapat pada perlakuan P1

sebesar 7,06 kg/ekor/hari dan rataan konsumsi terendah terdapat pada perlakuan P0

sebesar 6,51 kg/ekor/hari. Rataan skor tertinggi terdapat pada perlakuan P1 yaitu

3,5 dan rataan skor terendah terdapat pada P0 yaitu 3,063 berdasarkan tonjolan

tulang rusuk. Rataan skor tertinggi terdapat pada perlakuan P1 yaitu 3,438 dan

rataan skor terendah terdapat pada P0 yaitu 3 berdasarkan tonjolan tulang pinggul.

Tabel. 17. Rekapitulasi Hasil Penelitian Terhadap Perkiraan Berat Kerbau Murrah

Variabel Singnifikan Keterangan

Lingkar Dada (X1) 0,001 Berpengaruh sangat nyata

Panjang Tubuh (X2) 0,001 Berpengaruh sangat nyata

Variabel lingkar dada dan panjang tubuh memberi pengaruh yang sangat

nyata terhadap perkiraan berat kerbau murrah di Balai Pembibitan Ternak Unggul

Babi dan Kerbau di desa Silangit Kecamatan Siborong-borong Kabupaten

(54)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kulit daging buah kopi yang difermentasi dengan mikroorganisme lokal

mampu meningkatkan kondisi dan bobot badan kerbau Murrah. Pendugaan bobot

badan kerbau Murrah yang mudah, murah dan cukup akurat dapat dilakukan

dengan menggunakan lingkar dada dan panjang tubuh, persamaan yang

menggambarkan hubungan antara lingkar dada dan panjang tubuh terhadap bobot

badan adalah

Y = 0,110 + 1,021 X1 + 1,385 X2

Saran

Kulit daging buah kopi yang fermentasi dengan mikroorganisme lokal

(55)

DAFTAR PUSTAKA

AAK., 2008. Budidaya Tanaman Kopi. Kanisius, Yogyakarta.

Anggorodi, R. 1995. Ilmu Ternak Unggas. Gramedia. Jakarta.

Apple, JK, JC Davis, J. Stephenson, JE Hankins, JR Davis, and SL Beaty. 1999. 1999. Influence of body condition score on carcass characteristics and subprimal yield from cull beef cows. J. Anim. J. Anim. Sci. Sci. 77:2660–2669.

Aritonang, D., 1993. Perencanaan dan Pengelolaan Usaha. Penebar Swadaya. Jakarta.

Badan Pusat Statistik., 2013. Populasi Ternak Besar 2011. BPS Sumatera Utara, Medan.

Bamualim, A., Wirdahayati, dan M. Ali. 2006. Profil Peternakan Sapi dan Kerbau di Sumatera Barat. Balai pengkajian dan Teknologi Pertanian Sumatera Barat, Sumatera Barat.

Blakely, J. dan D. H. Bade. 1994. Ilmu Peternakan Cetakan ke -4. Gadjah Mada University Press,Yogyakarta. ( Diterjemahkan oleh B.Srigandono).

Church, D. C. and W.G.Pond. 1980. Basic Animal Nutrition and Feeding. 3rd ed Jhon Willey and Sons, New York.

Cockrill, W. R. 1974. The husbandry and health of the domestic buffalo. FAO, Rome, Italy.

Davendra, C., 1997. Utilization of Feedingstuffs from the Oil Palm. Feedingstuffs for Livestock In South East Asia, Serdang Selangor, Malaysia.

(56)

Encinias, A. M. and G. Lardy. 2000. Body condition scoring I: managing your cow herd through body condition scoring. Ext. Publ. AS-1026. North Dakota State University.

Fahimuddin, M. 1975. Domestic Water Buffalo. Oxford and IBH Publishing Co, New Delhi.

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo dan S. Lebdosukojo. 1980. Tabel-tabel dan Komposisi Bahan Makanan Ternak untuk Indonesia. International Feedstuffs Institute Utah Agricultural Experiment Station Utah State University, Logan.

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo dan A. D. Tillman. 1986. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia Cetakan ke -2. Gadjah Mada University Press,Yogyakarta.

Helberg, M. S. dan O. Lind. 2003. Buffalo Milk Production – Chapter 5: Milk

Production of The Buffal

[01-03-2007].

Hendrawan, H., Salim R., Irawan R. Dan Aminudin. 2002. Silase Rumput Lapang. Teknologi Sapi Perah di Indonesia. Penerbit Dairy Technology Improvement Project in Indonesia. Jawa Barat.

Kadarsih, S. 2003. Peranan ukuran tubuh terhadap bobot badan sapi Bali di provinsi Bengkulu. Jurnal penelitian UNIB, IX (1) : 45 – 48.

Kartadisastra, H.R., 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia. Kanisius, Yogyakarta.

Laboratorium Ilmu Pakan Ternak, 2005. Departemen Peternakan FP USU, Medan.

Laboratorium IP2TP Sei Putih, 1997. Galang.

Laboratorium Nutrisi Loka Penelitian Sapi Potong, 2011.

Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembangunan, Jakarta.

Gambar

Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Tabel 1. Populasi Kerbau Indonesia (ribu ekor) pada 2005-2011.
Tabel 2. Komposisi Nilai Nutrisi Rumput Raja
Gambar 2. kulit daging buah kopi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian kulit daging buah kopi fermentasi MOL sebagai ransum dalam bentuk pelet terhadap kelinci peranakan rex jantan lepas

Memanfaatkan limbah pengolahan buah kopi, yaitu kulit daging buah kopi yang difermentasi sebagai bahan pakan campuran pembuatan ransum pelet sebagai pakan alternatif serta

Judul : Pemanfaatan Kulit Daging Buah Kopi yang Diamoniasi pada Pakan Domba terhadap Performans Domba Lokal Jantan Lepas Sapih.. Nama :

Sifat fisik daging kambing lokal jantan (daya ikat air, susut masak, keempukan dan pH daging) dengan pemberian pakan berbasis kulit buah kakao fermentasi.

Hal ini menunjukan bahwa pemberian kulit daging buah kopi fermentasi MOL yang dicampur dengan pakan basal dalam bentuk pelet tidak berpengaruh nyata terhadap

Hal ini menunjukan bahwa pemberian kulit daging buah kopi fermentasi MOL yang dicampur dengan pakan basal dalam bentuk pelet tidak berpengaruh nyata terhadap

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian kulit daging buah kopi fermentasi MOL sebagai ransum dalam bentuk pelet terhadap kelinci peranakan rex jantan lepas

Keuntungan yang diperoleh dari pemberian hijauan bersama pakan penguat adalah adanya kecenderungan mikroorganisme rumen memanfaatkan pakan penguat terlebih dahulu sebagai