• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Iklim Makro

Berdasarkan data iklim makro dari Stasiun Meteorologi Balai Penelitian

Bioteknologi (Balitbio) Pacet Jawa Barat (107° 00’ BT, 6° 44’ LS, 1120-1200

m dpl.), selama penelitian berlangsung (Mei – Agustus 2004) mempunyai suhu udara

rata-rata 21,9 °C, curah hujan 319,5 mm, dan rata-rata RH 50%. Intensitas radiasi

total 5.193, 38 W m-2 (Zainal, 2004). Dengan tipe iklim Cs menurut Koppen, tipe A

menurut Schmidt dan Ferguson dan tipe B2 menurut Oldeman.

Pengurangan Intensitas Radiasi Surya

Peubah pertumbuhan tanaman pada perlakuan tingkat intensitas ini meliputi

ILD, LDS, berat kering tanaman, CGR, dan NAR.

Tabel 1 memperlihatkan, terdapat perbedaan antara tanaman yang mendapat

perlakuan intensitas dengan tanaman kontrol (intensitas 100%), pada peubah LDS

dan berat kering tanaman pada umur tanaman 55 hst. Diantara perlakuan intensitas,

terdapat perbedaan antara tingkat intensitas pada peubah LDS pada 55 hst dan berat

kering tanaman pada 55 dan 70 hst. Semakin rendah intensitas radiasi yang diterima

oleh tanaman (intensitas 75%, 55%, dan 25%) akan berakibat peningkatan luas daun

spesifik serta penurunan berat kering tanaman. Perlakuan tingkat intensitas tidak

Tabel 1. ILD, LDS dan Berat Kering Tanaman pada Berbagai Tingkat Intensitas Radiasi Surya

Intensitas Radiasi Surya

Komponen Umur 100%

(hst) (Kontrol) 75% 55% 25%

ILD 55 1,77a 2,07a 2,10a 2,85a

70 1,82a 2,42a 2,57a 3,37a

LDS (cm2g-1) 55 1,07a 1,46a 1,73ab 2,45b

70 1,67a 1,88a 2,05a 2,48a

BK Tanaman (g tan-1) 55 64,48bc 82,96c 68,63b 48,99a

70 76,12ab 90,35b 87,55ab 64,25a

Keterangan :

· Bilangan-bilangan pada sesama baris yang ditandai huruf sama berarti tidak berbeda nyata menurut uji Tukey pada taraf 5%

Pada 55 hst perlakuan intensitas 25% mempunyai luas daun spesifik lebih

besar (2,45 cm2 g-1) dari pada perlakuan intensitas 75% (1,46 cm2 g-1) dan intensitas

100% (1,07 cm2 g-1). Jika dibandingkan dengan tanaman kontrol (1,07 cm2 g-1),

perlakuan intensitas 75% dan 55% tidak memberikan perbedaan hasil yang nyata.

Perlakuan tingkat intensitas mempengaruhi berat kering tanaman. Dengan

semakin kecilnya intensitas radiasi yang diterima menyebabkan penurunan berat

kering tanaman. Pada Tabel 1 di atas tampak bahwa saat tanaman berumur 55 hst

perlakuan intensitas 75% (82,96 g) dan intensitas 55% (68,63 g) nyata lebih tinggi

dari berat kering tanaman yang mendapat perlakuan intensitas 25% (48,99 g). Berat

kering tanaman yang mendapat perlakuan intensitas 25% (64,48 g) berbeda nyata

dengan tanaman kontrol (76,12 g).

Pada saat tanaman berumur 70 hst perlakuan intensitas 75% mempunyai berat

kering tanaman tertinggi (90,35 g) diikuti perlakuan intensitas 25% (64,25 g) tetapi

tidak berbeda nyata dengan perlakuan intensitas 55% (87,55 g). Jika dibandingkan

intensitas yang dicobakan tidak menghasilkan berat kering tanaman yang berbeda

(Tabel 1).

Tabel 2 memperlihatkan, terdapat perbedaan antara tanaman yang mendapat

perlakuan intensitas 25% dengan tanaman kontrol (intensitas 100%), pada peubah

CGR dan NAR pada umur tanaman 70 hst. Diantara perlakuan intensitas, terdapat

perbedaan antara tingkat intensitas pada peubah CGR pada umur tanaman 55 dan 70

hst dan NAR pada 70 hst. Semakin rendah intensitas radiasi yang diterima oleh

tanaman (intensitas 75%, 55%, dan 25%) akan berakibat penurunan nilai CGR dan

NAR.

Tabel 2. CGR dan NAR pada Berbagai Tingkat Intensitas Radiasi Surya

Intensitas Radiasi Surya

Komponen Umur 100%

(hst) (Kontrol) 75% 55% 25%

CGR (g m-2 hari-1) 55 6,56ab 6,61b 6,47ab 2,47a

70 9,31bc 10,84c 7,3b 4,73a

NAR (g m-2 daun hari-1) 55 0,47a 0,47a 0,28a 0,19a

70 0,71bc 0,75c 0,42b 0,19a

Keterangan :

· Bilangan-bilangan pada sesama baris yang ditandai huruf sama berarti tidak berbeda nyata menurut uji Tukey pada taraf 5%

Pada 55 hst perlakuan intensitas 75% mempunyai CGR lebih tinggi

(6,61 g m-2 hari-1) dari pada perlakuan intensitas 25% (2,47 g m-2 hari-1). Pada 70 hst

tanaman dengan perlakuan intensitas 75% (10,84 g m-2 hari-1) dan intensitas 55%

(7,3 g m-2 hari-1) nyata mempunyai CGR lebih tinggi dari tanaman yang mendapat

Pada NAR tampak bahwa saat tanaman berumur 70 hst perlakuan intensitas

75% (0,75 g m-2 daun hari-1) dan intensitas 55% (0,42 g m-2 daun hari-1) nyata lebih

tinggi dari tanaman yang mendapat perlakuan intensitas 25% (0,19 g m-2 daun hari-1).

Periode Pengurangan Intensitas

Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa perlakuan periode pengurangan

intensitas selama pertumbuhan akan berakibat peningkatan ILD dibandingkan dengan

pengurangan intensitas pada fase awal atau akhir pertumbuhan baik pada umur

tanaman 55 hst maupun 70 hst. Pada umur tanaman 70 hst pengurangan intensitas

selama pertumbuhan nyata menghasilkan ILD yang yang lebih besar bila

dibandingkan dengan tanaman kontrol (intensitas 100%).

Ketebalan daun diukur melalui pengamatan LDS. Dari analisis ragam

menunjukkan bahwa pada umur tanaman 55 hst pengurangan intensitas tidak

berpengaruh nyata terhadap LDS. Pada umur tanaman 70 hst pengaruh nyata

diperlihatkan pada pengurangan intensitas selama pertumbuhan dan awal

pertumbuhan. Hasil uji Tukey pada Tabel 3. memperlihatkan bahwa LDS terbesar

dicapai pada pengurangan intensitas selama pertumbuhan (2,55 cm2 g-1) yang tidak

berbeda nyata dengan pengurangan intensitas akhir pertumbuhan (2,04 cm2 g-1),

tetapi lebih besar dari pada pengurangan intensitas awal pertumbuhan (1,71 cm2 g-1).

Jika dibandingkan dengan LDS pada tanaman kontrol, pengurangan intensitas selama

Tabel 3. ILD, LDS dan Berat Kering Tanaman pada Berbagai Periode Pengurangan Intensitas

Periode Pengurangan Intensitas

Tanpa Pengurangan Komponen Umur (hst) (Kontrol) Selama Pertumbuhan Fase Awal Pertumbuhan Fase Akhir Pertumbuhan

ILD 55 1,77ab 2,86b 2,03a 2,14a

70 1,82a 3,38b 2,36a 2,63a

LDS (cm2 g-1) 55 1,07a 2,17a 1,61a 1,85a

70 1,67a 2,55b 1,71a 2,04ab

BK Tanaman (g tan-1) 55 64,48ab 62,58a 74,44b 63,56a

70 76,12ab 74,62a 90,08b 77,44ab

Keterangan :

· Bilangan-bilangan pada sesama baris yang ditandai huruf sama berarti tidak berbeda nyata menurut uji Tukey pada taraf 5%

Perlakuan periode pengurangan intensitas mempengaruhi berat kering

tanaman. Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa perlakuan periode pengurangan

intensitas selama pertumbuhan akan berakibat penurunan berat kering tanaman

dibandingkan dengan pengurangan pada fase awal baik pada umur tanaman 55 hst

maupun 70 hst. Jika dibandingkan dengan berat kering tanaman pada tanaman

kontrol, taraf-taraf tingkat pengurangan intensitas tidak menghasilkan berat kering

tanaman yang berbeda (Tabel 3).

Hasil analisis ragam memperlihatkan tanaman yang mendapat pengurangan

intensitas selama pertumbuhan, mempunyai CGR dan NAR yang lebih kecil

dibandingkan dengan tanaman yang mendapat pengurangan pada awal pertumbuhan.

Jika dibandingkan dengan CGR dan NAR pada perlakuan kontrol maka perlakuan

pengurangan intensitas, baik selama pertumbuhan, awal pertumbuhan, maupun akhir

pertumbuhan tidak memberikan nilai yang berbeda nyata dengan perlakuan kontrol

Tabel 4. CGR dan NAR pada Berbagai Periode Pengurangan Intensitas

Periode Pengurangan Intensitas

Tanpa Pengurangan Komponen Umur (HST) (Kontrol) Selama Pertumbuhan Fase Awal Pertumbuhan Fase Akhir Pertumbuhan

CGR (g m-2 hari-1) 55 6,56ab 3,39a 7,58b 6,35ab

70 9,31ab 6,31a 7,67b 6,84ab

NAR (g m-2daun hari-1) 55 0,47ab 0,19a 0,52b 0,28a

70 0,52ab 0,38a 0,71b 0,47ab

Keterangan :

· Bilangan-bilangan pada sesama baris yang ditandai huruf sama berarti tidak berbeda nyata menurut uji Tukey pada taraf 5%

Efisiensi Pembentukan Umbi (EPU)

Efisiensi pembentukan umbi ditandai oleh seberapa kuat pengaruh berat

kering tanaman terhadap berat kering umbi. Plot antara berat kering tanaman (BKT)

dengan berat kering umbi (BKU) disajikan pada Gambar 6 dan 7. Berdasarkan plot

tersebut ada kecenderungan bahwa hubungan antara berat kering umbi dengan berat

kering tanaman membentuk pola hubungan linier.

Gambar 6. Hubungan Berat Kering Tanaman dengan Berat Kering Umbi pada Intensitas 100%, dan 75%. Inte ns ita s 1 0 0 % B e r a t K e rin g T a n a m a n ( g /ta n ) 1 2 0 1 0 0 8 0 6 0 4 0 2 0 B e ra t K e rin g U m b i ( g /ta n ) 1 2 0 1 0 0 8 0 6 0 4 0 2 0 0 Inte nsita s 7 5 % B e r a t K e rin g T a n a m a n (g /ta n ) 1 2 0 1 1 0 1 0 0 9 0 8 0 7 0 6 0 5 0 B e ra t K e ri n g U m b i ( g /ta n ) 1 1 0 1 0 0 9 0 8 0 7 0 6 0 5 0 4 0 Inte ns ita s 5 5 % B e ra t K e ring T a n a m a n (g/ta n) 140 120 100 80 60 40 B e ra t K e rin g U m b i ( g /ta n ) 120 100 80 60 40 20 Inte ns i ta s 2 5 % B e ra t K e ring T a na m a n (g/ta n) 110 100 90 80 70 60 50 40 30 B e ra t K e ri n g U m b i ( g /ta n ) 90 80 70 60 50 40 30 20 Y = -5,350 + 0,927x R2 = 96,6% EPU = 0,927 EPU = 0,824 Y = 9,207 + 0,673x R2 = 85,0% Y = 7,616 + 0,646x R2 = 78,7%

Gambar 7. Hubungan Berat Kering Tanaman dengan Berat Kering Umbi pada Intensitas 55% dan 25%.

Hasil analisis regresi menunjukkan hubungan linier antara berat kering

tanaman dengan berat kering umbi pada intensitas 100%, 75%, 55%, dan 25%

berturut-turut mengikuti persamaan y = -5,350 + 0,927x ; y = 0,803 + 0,824x ;

y = 9,207 + 0,673x ; y = 7,616 + 0,646x dengan koefisien determinasi sebesar

96,6% ; 77,9% ; 85,0% ; 78,7%. Persamaan ini menunjukkan nilai EPU pada

intensitas 100%, 75%, 55%, dan 25% sebesar 0,927; 0,824; 0,673; 0,646. Dari nilai

EPU dapat dilihat, setiap 1 gram penambahan berat kering tanaman mampu

meningkatkan 0,927 gram berat kering umbi pada intensitas 100%, 0,824 gram berat

kering umbi pada intensitas 75%, 0,673 gram berat kering umbi pada intensitas 55%,

dan 0,646 gram berat kering umbi pada intensitas 25%.

Tabel 5. Berat Umbi pada Berbagai Tingkat dan Periode Pengurangan Intensitas

Perlakuan Berat Umbi (g tan-1)

Intensitas 100% 660.00c

Intensitas 75% Selama Pertumbuhan Fase Awal Pertumbuhan Fase Akhir Pertumbuhan Intensitas 55%

Selama Pertumbuhan Fase Awal Pertumbuhan Fase Akhir Pertumbuhan Intensitas 25% Selama Pertumbuhan 391.67abc 593.33c 411.83bc 316.67ab 419.00bc 355.83abc 172.00a EPU = 0,673 EPU = 0,646

Fase Awal Pertumbuhan Fase Akhir Pertumbuhan

329.33ab 301.67ab Keterangan :

· Bilangan-bilangan pada sesama kolom yang ditandai huruf sama berarti tidak berbeda nyata menurut uji Tukey pada taraf 5%

Perlakuan pengurangan intensitas mempengaruhi berat umbi total per

tanaman. Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa perlakuan intensitas 75% baik

pada fase awal pertumbuhan, fase akhir pertumbuhan maupun selama pertumbuhan

tidak menurunkan berat umbi total per tanaman, demikian pula dengan intensitas

55%, pada fase awal dan fase akhir pertumbuhan tidak menurunkan berat umbi total

per tanaman, namun pada intensitas 55% selama pertumbuhan dan intensitas 25%

pada fase awal, fase akhir maupun selama pertumbuhan akan menurunkan berat umbi

total per tanaman (Tabel 5).

Pembahasan

Adanya penerimaan intensitas yang lebih rendah tidak memperlihatkan

perbedaan yang nyata pada indeks luas daun (ILD). Namun demikian ada

kecenderungan bahwa perlakuan tingkat intensitas 55% dan 25% baik pada 55 hst

maupun 70 hst pada umumnya mempunyai ILD yang lebih tinggi daripada perlakuan

intensitas 75%. Perlakuan periode pengurangan intensitas memberikan perbedaan

Kecenderungan ini disebabkan karena helaian daun yang bertambah lebar dan tipis,

seperti ditunjukkan oleh peningkatan nilai LDS pada Tabel 1. Pada tabel tersebut

terlihat, tanaman yang menerima intensitas rendah akan menghasilkan nilai LDS

tinggi, yang berarti ketebalan daun semakin tipis. Hal yang sama juga dilaporkan oleh

Suryanto (2003) pada perlakuan intensitas sekitar 50% dengan berbagai saat

intensitas umumnya mempunyai ILD dan LDS yang lebih tinggi daripada perlakuan

intensitas 70%, demikian pula pada perlakuan intensitas 30% umumnya mempunyai

ILD dan LDS lebih tinggi daripada intensitas 50%. Ditambahkan oleh Suryanto

(2003) adanya kecenderungan peningkatan ILD dan LDS pada tanaman yang

mendapat intensitas rendah akan menurunkan kandungan klorofil dan kerapatan

stomata. Fenomena ini juga dilaporkan oleh Koesmaryono et al. (1998), bahwa pemberian intensitas 25% pada tanaman kedelai ternyata menurunkan kerapatan

stomata dan tahanan stomata daun serta mempunyai daun yang tipis atau nilai LDS

yang tinggi, dibanding dengan tanaman yang mendapat pencahayaan penuh (100%).

Menurut Fitter dan Hay (1991) hal ini terjadi karena pengurangan lapisan palisade

daun, dari dua atau tiga sel menjadi satu sel. Ditambahkan oleh Lawlor (1993)

tanaman yang ternaungi akan mengurangi ketebalan jaringan palisade dan mesofil

pada sejumlah lapisan sel. Sel mesofil menjadi kecil dan dinding sel menjadi lebih

tipis serta ruang udara antar sel menjadi lebih rapat.

Peubah Crop Growth Rate (CGR) digunakan untuk mengetahui kecepatan tumbuh tanaman pada periode tertentu selama pertumbuhannya per satuan luas lahan.

Kecepatan tumbuh tanaman sangat dipengaruhi oleh perubahan faktor lingkungan.

tingkat intensitas seperti ditunjukkan pengamatan 55 hst dan 70 hst. Pada pengamatan

tersebut tampak pula bahwa intensitas 25% mempunyai CGR paling rendah. Pada

perlakuan periode pengurangan, pengurangan intensitas selama pertumbuhan akan

memberikan nilai CGR yang rendah. Pola yang hampir sama dengan CGR terjadi

pada NAR, dimana hasilnya akan turun bila pengurangan intensitas diberikan selama

pertumbuhan serta intensitas yang diterima rendah. Kejadian ini juga dilaporkan oleh

Suryanto (2003) bahwa CGR dan NAR menurun sejalan dengan rendahnya tingkat

intensitas pada tanaman kentang. Salisbury dan Ross (1992) menjelaskan intensitas

radiasi matahari yang rendah mengakibatkan kandungan klorofil daun berkurang dan

selanjutnya menurunkan laju fotosintesis dan akumulasi fotosintat pada organ

penyimpan. Keadaan ini terlihat pula dari berat kering total tanaman yang rendah

pada semua perlakuan pengurangan intensitas (Tabel 1 dan 3). Larcher (1980)

menyebutkan, sebagai tanaman C3 tanaman masih mampu melakukan fotosintesis

optimal pada tingkat cahaya 30 – 50%, namun bila intensitas yang diterima semakin

rendah maka akan mengganggu proses fotosintesis dan translokasi fotosintat.

Pengaruh rendahnya intensitas pada akhirnya sangat mempengaruhi berat kering total

tanaman, seperti perlakuan intensitas 25% yang umumnya mempunyai berat kering

total tanaman terendah. Keadaan ini akhirnya akan menurunkan pula berat umbi total

per tanaman.

Kuantitas hasil, yakni berat umbi per tanaman pada percobaan menunjukkan,

bila penerimaan intensitas semakin rendah dan semakin lama periode pengurangan

maka akan menurunkan berat umbi total per tanaman (Tabel 5). Adanya pengurangan

stomata berkurang dan selanjutnya menghambat laju fotosintesis, seperti ditunjukkan

dengan nilai CGR dan NAR yang rendah (Tabel 2 dan 4). Hal serupa dilaporkan oleh

Suryanto (2003) pada penerimaan intensitas sekitar 70% tidak menurunkan berat

umbi total, namun pada intensitas 50 dan 30% apalagi terjadi sepanjang fase

pertumbuhan tanaman akan menurunkan berat umbi total sekitar 46%. Hal yang sama

juga dilaporkan Koesmaryono et al. (1998) pada tanaman kedelai dengan tingkat intensitas 25%, dimana jumlah stomata, kandungan N dan ketebalan daunnya akan

berkurang dan selanjutnya menghambat laju fotosintesis tanaman. Terhambatnya laju

fotosintesis akan menurunkan laju translokasi fotosintat pada sink organ dalam hal ini

umbi tanaman kentang. Keadaan seperti ini dikemukakan juga oleh Mills (2001)

bahwa pembentukan umbi sangat dipengaruhi intensitas radiasi matahari, suhu dan

kelembaban. Bila intensitas radiasi rendah maka kandungan klorofil daun berkurang

yang mengakibatkan translokasi asimilat ke bagian umbi terganggu dan akhirnya

umbi yang terbentuk cenderung kecil. Menurut Suryanto (2003) menurunnya hasil

umbi dapat diatasi dengan cara penambahan magnesium dalam bentuk pupuk. Pada

intensitas 100% dan 70%, pemberian 50 dan 100 Mg kg per ha dapat meningkatkan

berat umbi total sampai 62%, namun bila intensitas kurang sampai 50% pemberian

Mg tidak mampu lagi meningkatkan berat umbi. Ditambahkan oleh Suwandi et al. (1996), pemberian magnesium sebanyak 25 kg per hektar pada tanaman tomat yang

ditanam pada musim penghujan atau pada intensitas radiasi yang relatif rendah

mampu meningkatkan hasil buah serta mutu buah tomat, sedangkan pada tanaman

kentang penggunaan 50 kg Mg per hektar, memberikan hasil umbi yang lebih baik

menurut Suntoro (2000) pemupukan Mg dalam bentuk dolomit dengan dosisi 425 kg

per hektar, mampu meningkatkan hasil biji sebesar 6,51%.

Hubungan berat kering tanaman dengan berat kering umbi antara tanaman

kontrol dengan perlakuan intensitas mempunyai Efisiensi Pembentukan Umbi (EPU)

yang lebih rendah daripada kontrol. Diantara tanaman yang mendapat perlakuan

intensitas, nilai EPU semakin kecil seiring dengan rendahnya penerimaan intensitas

(Gambar 6 dan 7). Suryanto (2003) menjelaskan bahwa nilai EPU akan semakin

menurun dengan semakin berkurangnya intensitas radiasi yang dapat mengakibatkan

menurunnya laju fotosintesis tanaman. Terhambatnya laju fotosintesis akan

menurunkan laju translokasi fotosintat pada sink organ dalam hal ini umbi. Pada

tanaman kentang, umbi merupakan 80% bagian berat kering tanaman

Dokumen terkait