Keadaan Umum di dalam Kandang
Suhu dalam kandang selama penelitian berkisar antara 24,43-33,57OC. Suhu dalam kandang selama penelitian cukup optimal untuk pertumbuhan ayam. Keadaan ini dilihat dari normalnya pertumbuhan bobot badan pada ayam broiler starter yaitu pada umur tiga minggu pertambahan bobot badannya mencapai rata-rata 722,69 g/ekor. Pertambahan bobot badan tersebut berada di atas pertambahan bobot badan ayam broiler strainCobb menurut Annisa (2003), yaitu 719,8 g/ekor.
Suhu dan kelembaban pada Tabel 5 didapat dari hasil pengukuran menggunakan hygrotermometer yang digantung dengan ketinggian 1,5 meter dari lantai kandang.
Umumnya ayam broiler pada umur satu minggu memerlukan suhu yang lebih tinggi yaitu 32-35 OC, sedangkan umur 2-3 minggu ayam broiler akan tumbuh dengan optimal pada suhu 20-27 OC (Amrullah, 2004). Ayam yang mengalami cekaman dingin atau cekaman panas dapat dilihat dari tingkah lakunya. Ayam yang mengalami cekaman dingin akan sering bergerombol dan berdiam diri di bawah pemanas untuk menjaga agar suhu tubuhnya tetap hangat sedangkan ayam yang mengalami cekaman panas akan sering minum daripada mengkonsumsi ransum dengan tujuan untuk menurunkan suhu tubuhnya (Wahju, 2004). Selain itu, ayam yang mengalami cekaman panas akan sering mengalami gejala panting yaitu ayam terlihat terengah-engah dan merentangkan sayapnya. Cara ini dilakukan sebagai usaha pengeluaran panas melalui evaporasi. Tillman et al. (1991) mengemukakan, bahwa dalam keadaan suhu lingkungan yang tinggi, maka ternak unggas akan meningkatkan pengeluaran panas tubuhnya agar tetap dalam keadaan seimbang
Tabel 5. Rataan Suhu dan Kelembaban Selama Tiga Minggu Penelitian
Minggu Suhu (OC) Kelembaban (%)
04:30 12:00 16:00 04:30 12:00 16:00
1 24,43 33,57 29,57 65,57 44,43 50,00
2 26,43 31,00 27,43 63,43 50,29 59,00
dengan produksi panasnya. Ayam akan berusaha melepaskan panas dari tubuhnya dengan melakukan gerakan dan sikap memperluas permukaan badan dengan meregangkan sayap agar aliran udara di antara bulu-bulu menjadi lancar.
Gejala panting tersebut jelas terlihat pada saat suhu lingkungan sangat tinggi dan pada ayam berumur tiga minggu, yaitu saat pertumbuhan bulu dari ayam tersebut sudah hampir sempurna (Wahju, 2004). Oleh karena itu pada minggu ketiga penelitian semawar yang digunakan sebagai pemanas dimatikan untuk menurunkan suhu lingkungan sehingga cekaman panas pada ternak berkurang. Keadaan lain yang terjadi apabila suhu lingkungan sangat tinggi adalah sekam yang cepat basah. Ayam akan sering minum apabila suhu tubuhnya tinggi (Amrullah, 2004), konsumsi air minum yang tinggi menyebabkan kadar air feses menjadi tinggi pula. Sehingga sekam yang digunakan sebagai litter menjadi basah dan pada akhirnya kadar amonia di dalam kandang menjadi meningkat. Permasalahan ini bisa ditanggulangi dengan cara membuka sebagian tirai untuk memperlancar aliran udara. Chamruspollert et al.
(2004) menambahkan, bahwa semakin tinggi suhu disekitar tubuh ternak maka akan meningkatkan kebutuhan metionin tubuh, namun hal ini akan terjadi apabila arginin dalam keadaan berlebih. Suplementasi metionin cair dalam air minum diharapkan dapat mengurangi stres pada ayam broiler starter.
Kelembaban dalam kandang selama penelitian berkisar antara 44,43-65,57%. Hal ini menunjukkan, bahwa kelembaban dalam kandang selama penelitian baik untuk pertumbuhan ayam. Keadaan ini sesuai dengan rekomendasi yang dikemukakan oleh Appleby et al. (2004), bahwa kelembaban yang baik untuk pertumbuhan optimal ayam broiler berkisar antara 50-60%. Kelembabam kandang yang tinggi menunjukan kadar uap air di udara semakin meningkat, peristiwa ini akan menghambat sirkulasi udara di dalam kandang, dimana udara yang akan masuk atau keluar terhalang oleh butiran-butiaran uap air. Sirkulasi atau kecepatan aliran udara yang kurang baik akan menghambat pertumbuhan ternak. Menurut Lott et al. (1998); May et al. (2000), kecepatan aliran udara akan mempengaruhi pertambahan bobot badan, konsumsi ransum dan konversi ransum. Menurut Yahav et al. (2004) ayam broiler akan tumbuh optimal pada kecepatan aliran udara 2,0 m/s, sedangkan kecepatan aliran udara 0,8 dan 1,5 m/s kurang baik untuk pertumbuhan ayam broiler.
Konsumsi Air Minum
Air merupakan suatu zat makanan yang sangat penting, namun peranannya berbeda dengan peranan zat-zat makanan pada umumnya. Air tidak menyuplai energi untuk pertumbuhan, untuk pemeliharaan atau untuk kerja fisik tubuh, tetapi air mempunyai peranan penting dalam reaksi-reaksi biologis dan dalam mengatur temperatur tubuh (Sutardi,1980). Pada keadaan temperatur kandang yang tinggi ayam broiler akan mengkonsumsi air lebih banyak lagi (May et al., 1997). Hal ini bertujuan untuk menyerap panas yang dihasilkan dari reaksi kimia dalam proses metabolisme (Tillman et al., 1991; Amrullah, 2004; Wahju, 2004). Semakin besar bobot badan atau umur ternak maka semakin tinggi panas yang dihasilkan, untuk itu konsumsi air yang digunakan untuk menyerap panas semakin tinggi (Wahju, 2004). Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan selama tiga minggu pada Gambar 2. 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1 2 3 M0 M1 M2
Gambar 2. Grafik Rataan Konsumsi Air Minum Ayam Broiler Selama Tiga Minggu Penelitian
Gambar 2 memperlihatkan konsumsi air minum setiap minggu meningkat dengan semakin bertambahnya umur dan besar tubuh ayam. Seperti yang ditulis oleh Brake et al. (1992); Beker dan Teeter (1994); National Research Council (1994) bahwa pada ayam broiler konsumsi air minum erat hubungannya dengan bobot badan, semakin besar ukuran tubuh ternak maka kebutuhan air minum akan meningkat. Minggu kedua perlakuan rata-rata air minum meningkat sekitar 123,53% dari minggu pertama dan pada minggu ketiga konsumsi meningkat sekitar 69,67 % dari minggu kedua. Hal ini karena dengan semakin bertambahnya umur dan besar
minggu ke konsumsi air minum (ml)
tubuh ayam maka panas yang dihasilkan dari reaksi kimia dalam proses metabolisme semakin tinggi, untuk itu ternak membutuhkan air minum yang lebih banyak lagi. Menurut Tillman et al. (1991) air dapat menyerap lebih baik dibandingkan dengan medium lainnya, dapat menyerap sejumlah panas dengan kenaikan temperatur yang sangat sedikit.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi konsumsi air minum adalah suhu di dalam kandang. Semakin tinggi suhu di dalam kandang maka suhu tubuh ayam broiler akan meningkat. Peningkatan suhu tubuh inilah yang mengakibatkan proses evaporasi semakin meningkat dengan tujuan panas dalam tubuh akan keluar melalui penguapan (Piliang dan Djojosoebagio, 2006). Evaporasi yang tinggi mengakibatkan cairan dalam tubuh berkurang sehingga ayam akan berusaha menyeimbangkan persentase cairan tubuh dengan cara meningkatkan konsumsi air minum dan menurunkan konsumsi ransum.
Selama penelitian ayam tidak mengalami cekaman panas. Hal ini ditunjukan oleh normalnya perbandingan antara konsumsi air minum dan konsumsi ransum yaitu 1:2,13. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Ensminger et al. (1990); Brake
et al. (1992), bahwa pada umumnya ayam mengkonsumsi air minum dua kali dari bobot pakan yang dikonsumsi. Faktor bentuk tempat air minum juga mempengaruhi konsumsi air minum. Menurut May et al. (1997), dengan suhu kandang yang sama ayam akan lebih banyak minum jika menggunakan tempat air minum berbentuk bell drinker dari pada berbentuk nipple drinker. Selama tiga minggu penelitian tempat air minum yang digunakan berbentuk bell drinker.
Tabel 6. Konsumsi Air Minum Selama Tiga Minggu Penelitian (ml) Suplementasi Metionin Cair Ransum
Rataan
R1 R2 R3
M0 2323,37 2189,65 2308,00 2273,67 ± 73,17 M1 2449,70 2194,96 2311,34 2318,67 ± 127,53 M2 2366,94 2230,21 2474,02 2357,06 ± 122,21 Ket : M0: Suplementasi 0% metionin
M1: Suplementasi 0,05% metionin M2: Suplementasi 0,10% metionin R1: Ransum dari pabrik 1
R2: Ransum dari pabrik 2 R3: Ransum dari pabrik 3
Berdasarkan hasil sidik ragam (ANOVA), pemberian metionin cair dalam air minum tidak mempengaruhi konsumsi air minum. Menurut Wahju (2004), ada banyak faktor yang mempengaruhi konsumsi air minum pada ternak antara lain adalah tingkat garam natrium dan kalium dalam ransum, enzim-enzim, bau air, makanan tambahan pelengkap, temperatur air, penyakit, jenis bahan makanan, kelembaban, angin, komposisi pakan, umur, jenis kelamin dan jenis tempat air minum. Penambahan metionin cair dalam air minum tidak menambah tingkat kesukaan ternak terhadap air minum yang disediakan.
Tabel 7. pH Air Minum Selama Tiga Minggu Penelitian Suplementasi Metionin Cair Ransum Rataan R1 R2 R3 M0 6,78 ± 0,22 6,88 ± 0,16 6,64 ± 0,26 6,77 ± 0,20 M1 3,11 ± 0,08 3,13 ± 0,06 3,09 ± 0,03 3,11 ± 0,04 M2 2,98 ±0,10 2,89 ± 0,09 3,02 ± 0,16 2,96 ± 0,09 Ket : M0: Suplementasi 0% metionin
M1: Suplementasi 0,05% metionin M2: Suplementasi 0,10% metionin R1: Ransum dari pabrik 1
R2: Ransum dari pabrik 2 R3: Ransum dari pabrik 3
Chamruspollert et al. (2004) menambahkan, bahwa semakin tinggi suhu disekitar tubuh ternak, maka kebutuhan metionin akan semakin meningkat. Penambahan metionin cair dalam air minum akan membantu asupan metionin pada saat suhu lingkungan tinggi atau pada saat ayam mengalami stres panas. Pada saat konsumsi ransum menurun akibat stres panas (Sutardi, 1980), ayam akan tetap mendapat asupan asam amino dari air minum yang dikonsumsi. Penambahan metionin cair dalam air minum juga dapat memperbaiki kualitas air yang akan digunakan untuk air minum pada ternak. Hal ini ditunjukan oleh hasil pengukuran pH air minum setelah ditambahkan metionin cair dalam air minum. Tabel 7 menunjukan, bahwa pH air yang ditambah 0,05% metionin cair mencapai rataan 3,11 dan air minum yang ditambah 0,10% metionin cair dalam air minum pHnya mencapai rataan 2,96, sedangkan air yang tidak ditambah metionin cair menunjukan pH yang netral yaitu 6,77. Menurut Appleby et al. (2004), ayam broiler tidak suka terhadap air minum dengan pH yang rendah, namun selama tiga minggu penelitian
konsumsi air minum tidak berbeda nyata. Ayam yang diberi metionin cair dalam air minum tetap mengkonsumsi air minum sama banyaknya dengan ayam yang tidak diberi metionin cair dalam air minum walaupun pH air minum yang dihasilkan memiliki pH yang rendah.
Konsumsi Ransum
Konsumsi ransum merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ayam broiler. Berangkat dari pemahaman seorang peternak mengenai fenomena bahwa ayam broiler lahap makan (Amrullah, 2004). Ayam broiler dapat tumbuh hingga mencapai bobot badan tertentu sejalan dengan jumlah ransum yang dikonsumsi. Makin sedikit jumlah ransum yang dikonsumsi maka semakin rendah pertambahan bobot badan dari ayam broiler tersebut, dengan demikian gangguan terhadap konsumsi ransum yang terjadi sehari saja sudah dapat menghambat pertumbuhan. 0 100 200 300 400 500 600 700 1 2 3 M0 M1 M2
Gambar 3. Grafik Rataan Konsumsi Ransum Ayam Broiler Selama Tiga Minggu Penelitian
Konsumsi ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor. Wahju (2004) menjelaskan, secara umum konsumsi meningkat dengan meningkatnya umur dan bobot badan ayam karena ayam yang berbobot badan besar mempunyai kemampuan menampung makanan lebih banyak. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan selama tiga minggu pada Gambar 3.
minggu ke konsumsi ransum (g)
Gambar 3 memperlihatkan, bahwa konsumsi ransum setiap minggu meningkat dengan semakin bertambahnya umur dan besar tubuh ayam. Minggu kedua perlakuan rata-rata konsumsi ransum meningkat sekitar 162,84% dan pada minggu ketiga konsumsi meningkat sekitar 69,57%. Hal ini karena ayam lebih banyak membutuhkan zat-zat makanan yang dikonsumsi untuk hidup pokok dan pertumbuhan. Menurut Brake et al. (1992); Vandegrift et al. (2003), konsumsi ransum meningkat dengan semakin bertambahnya umur ayam.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi konsumsi ransum adalah suhu di dalam kandang. Semakin tinggi suhu di dalam kandang maka suhu tubuh ayam broiler akan meningkat, respon ternak terhadap suhu tubuh yang tinggi adalah mengurangi konsumsi ransum dan menambah konsumsi air minum sehingga produksi panas menjadi berkurang. Respon inilah yang mengakibatkan perbandingan antara konsumsi ransum dan konsumsi air minum semakin besar. Ransum yang dikonsumsi akan dirombak oleh tubuh dan perombakannya membutuhkan energi. Energi tersebut nantinya akan menghasilkan panas tubuh. Semakin banyak ransum yang dikonsumsi maka produksi panas akan semakin tinggi (Amrullah, 2004). Selama tiga minggu penelitian ayam tidak mengalami cekaman panas. Hal ini ditunjukan oleh normalnya perbandingan antara konsumsi air minum dan konsumsi ransum yaitu 1:2,13. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Ensminger et al. (1990); Brake et al. (1992), bahwa pada umumnya ayam mengkonsumsi air minum dua kali dari bobot pakan yang dikonsumsi.
Berdasarkan hasil sidik ragam (ANOVA), pemberian 0,05% dan 0,10% metionin cair dalam air minum tidak mempengaruhi konsumsi ransum. Hal ini terkait dengan nutrien yang terkandung didalam ransum. Pemberian metionin cair dalam air minum tidak mempengaruhi konsentrasi asam amino dalam plasma darah ayam broiler, sehingga konsumsinya hampir sama dengan ayam broiler tanpa penambahan metionin cair dalam air minum. Menurut Sutardi (1980), selera makan atau konsumsi ransum akan meningkat jika pola konsentrasi asam amino plasma darah sesuai dengan pola yang dibutuhkan oleh tubuh.
Tabel 8. Konsumsi Ransum Selama Tiga Minggu Penelitian (gram) Suplementasi Metionin Cair Ransum
Rataan
R1 R2 R3
M0 1076,20 1080,28 1129,77 1095,42 ± 29,82 M1 1091,27 1026,56 1104,34 1074,06 ± 41,65 M2 1087,19 1061,55 1134,43 1094,39 ± 36,97 Ket : M0: Suplementasi 0% metionin
M1: Suplementasi 0,05% metionin M2: Suplementasi 0,10% metionin R1: Ransum dari pabrik 1
R2: Ransum dari pabrik 2 R3: Ransum dari pabrik 3
Pola asam amino plasma darah mendekati pola asam amino dari zat makanan yang diserap oleh tubuh (Schwab et al., 2003; Corzo et al., 2005). Kadar asam amino plasma darah dipertahankan secara homeostatik. Ransum yang kekurangan asam amino esensial tertentu menyebabkan asam amino lain dideaminasikan, lalu dioksidasikan menjadi energi dan pada akhirnya akan diekskresikan (Sutardi, 1980). Proses perombakan asam amino diatas merupakan beban berat, menuntut banyak energi yang mengakibatkan suhu tubuh semakin meningkat. Maka, reaksi homeostatik tubuh terhadap peningkatan suhu tersebut adalah dengan cara mengurangi konsumsi ransum yang pola asam aminonya tidak seimbang. Selain itu kekurangan metionin juga akan menurunkan penggunaan ransum dan menurunkan sistem kekebalan tubuh ayam broiler (Zhang dan Guo, 2008).
Asam amino yang tidak dideaminasikan akan ditransfer menuju jaringan-jaringan tubuh seperti jantung, hati, mukosa intestinal dan otot skeletal. Jaringan-jaringan tersebut memiliki kapasitas untuk merubah kembali metionin cair (MHA) menjadi L-metionin melalui proses transaminasi (Wang et al., 2001). Metionin sintetis yang ditambahkan ke dalam ransum akan diserap oleh dinding usus kemudian dimetabolis menjadi L-metionin (Martı´n-Venegas et al., 2006). Semakin tinggi asam amino yang dimetabolis atau diretensi maka nilai hayati dari protein akan semakin tinggi dan ransum semakin efisien untuk pembentukan jaringan-jaringan tubuh (Sutardi, 1980).
Pola asam amino plasma darah yang tidak sesuai dengan kebutuhan ternak akan direspon oleh bagian-bagian otak seperti lobus pyriform dan amygdaloid
(Sutardi, 1980). Kedua bagian otak tersebut mempengaruhi pusat lapar dan pusat kenyang untuk mengubah selera makan. Lobus pyriform mampu menurunkan konsumsi makanan bila hewan diberi makanan yang defisien asam amino esensial, sedangkan daerah amygdaloid mampu menurunkan konsumsi makanan yang komposisi asam aminonya tidak seimbang.
Pertambahan Bobot Badan
Bobot badan ayam yang dipelihara turut menentukan keberhasilan dari usaha ayam broiler karena nilai penjualan diukur berdasarkan berat ayam yang dihasilkan. Pertumbuhan ayam yang diperoleh dari penimbangan bobot badan mingguan sejak DOC sampai minggu ketiga dari masing-masing perlakuan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 9.
Berdasarkan hasil sidik ragam (ANOVA), pemberian metionin cair dalam air minum tidak mempengaruhi pertambahan bobot badan. Hal ini terkait dengan nutrien yang terkandung di dalam ransum. Pemberian 0,05% dan 0,10% metionin cair dalam air minum tidak mempengaruhi pola konsentrasi asam amino plasma darah. Konsentrasi asam amino plasma darah tidak berubah setelah ternak diberi metionin cair dalam air minum sebanyak 0,05% dan 0,10%.
Tabel 9. Pertambahan Bobot Badan Selama Tiga Minggu Penelitian (gram) Suplementasi Metionin Cair Ransum Rataan R1 R2 R3 M0 737,83 ± 8,09 689,50 ± 6,62 755,80 ± 2,16 727,71 ± 34,29 M1 708,33 ± 11,08 676,48 ± 12,04 729,70 ± 2,97 704,83 ± 26,78 M2 708,88 ± 4,82 742,28 ± 6,48 755,40 ± 2,48 735,52 ± 23,99 Ket : M0: Suplementasi 0% metionin
M1: Suplementasi 0,05% metionin M2: Suplementasi 0,10% metionin R1: Ransum dari pabrik 1
R2: Ransum dari pabrik 2 R3: Ransum dari pabrik 3
Menurut Sutardi (1980), segala sesuatu yang menyebabkan penyimpangan pola konsentrasi asam amino akan menurunkan selera makan dan penyusutan bobot hidup. Sehingga apabila penambahan metionin cair dalam air minum tidak mempengaruhi konsentrasi asam amino plasma darah maka konsumsi ransum dan
bobot badan pun tidak akan berubah atau konsumsi dan bobot badannya akan sama pada ternak yang air minumnya tidak ditambahkan metionin cair.
Dahiya et al. (2007) menyatakan, bahwa penambahan 0,8% metionin sintetis dalam ransum dapat menurunkan populasi E.coli dan Streptococcus. Penambahan yang relatif tinggi juga akan mengurangi populasi C.perfringens. Mikroorganisme tersebut akan mempengaruhi bobot badan ternak apabila berada di dalam saluran pencernaan dalam jumlah yang banyak (Wahju, 2004).
Konversi Ransum
Semakin kecil konversi ransum mencerminkan zat makanan yang dikonsumsi semakin efisien dan semakin sesuai dengan kebutuhan ternak tersebut (Titus dan Fritz, 1971; Wahju, 2004). Rataan konversi ransum selama tiga minggu pemeliharaan dapat dilihat pada Tabel 10.
Berdasarkan hasil sidik ragam (ANOVA), pemberian metionin cair dalam air minum tidak mempengaruhi konversi ransum. Efisiensi ransum tidak berubah pada saat ternak diberi metionin cair dalam air minum. Konversi ransum merupakan perbandingan antara konsumsi ransum dengan pertambahan bobot badan yang dihasilkan. Jadi yang mempengaruhi konversi ransum adalah banyaknya ransum yang dikonsumsi untuk menghasilkan pertambahan bobot badan. Semakin kecil konversi ransum maka ransum yang digunakan semakin efisien untuk menghasilkan bobot badan.
Tabel 10. Konversi Ransum Selama Tiga Minggu Penelitian
Suplementasi Metionin Cair Ransum Rataan
R1 R2 R3
M0 1,46 1,57 1,49 1,51 ± 0,06
M1 1,54 1,52 1,51 1,52 ± 0,01
M2 1,53 1,43 1,50 1,49 ± 0,05
Ket : M0: Suplementasi 0% metionin M1: Suplementasi 0,05% metionin M2: Suplementasi 0,10% metionin R1: Ransum dari pabrik 1
R2: Ransum dari pabrik 2 R3: Ransum dari pabrik 3
Metionin cair memiliki efisiensi yang sama dengan metionin bentuk serbuk jika digunakan pada ransum unggas (Schwab et al., 2003). Namun metionin sintetis yang baik untuk digunakan pada ransum ternak ruminansia adalah metionin cair, menurut Sutardi (1980) metionin cair ternyata lebih tahan terhadap degradasi oleh mikroba rumen. Enzim detiometilase mikroba yang bertugas mencopot gugus metil tio (-S-CH3) sedikit banyak tertipu oleh tidak adanya gugus amino, sehingga banyak yang lolos dari perombakan dalam rumen. Bagian yang lolos itu akan sampai ke usus dan diserap disana, ini merupakan sumber tambahan bagi nutrisi protein selain dari protein mikroba. Namun hal ini tidak terjadi pada unggas karena di dalam saluran pencernaan unggas tidak terdapat mikroba yang dapat mendegradasi metionin, sehingga baik metionin cair maupun metionin serbuk mempunyai efisiensi yang sama bagi ternak unggas.