PLANTING MATERIAL OF SHALLOT RESPONS ON SOME GROWING MEDIA
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data iklim yang diambil dari Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika Dramaga menunjukkan bahwa selama penelitian (Maret–Agustus 2014) rata-rata curah hujan di luar rumah kaca sebesar 343.47 mm bulan-1, rata-rata intensitas cahaya matahari sebesar 308.37 kal cm-2 hari-1, suhu rata-rata 26 0C serta kelembaban rata-rata 83.83% (Lampiran 3).
Persiapan percobaan dilakukan selama Maret 2014 pada curah hujan tergolong sedang yaitu 281.4 mm bulan-1. Curah hujan meningkat pada saat dilakukan penyemaian umbi selama April 2014 yaitu sebesar 510.9 mm bulan-1. Kemudian menurun pada bulan pertama dan kedua setelah pindah tanam yaitu sebesar 296.4 mm bulan-1 dan 84.7 mm bulan-1. Bulan ketiga setelah pindah tanam, tanaman bawang merah memasuki fase pematangan umbi. Curah hujan yang semakin meningkat yaitu 349.0 mm bulan-1 sehingga mempengaruhi fase pematangan umbi sehingga umur panen menjadi lebih lama.
Suhu rata-rata di dalam rumah kaca selama penelitian (Maret-Agustus 2014) yaitu sebesar 29.41 0C dengan kelembaban rata-rata 81.17% (Lampiran 4). Suhu di dalam rumah kaca lebih tinggi 11.6% daripada suhu di luar rumah kaca.
Kelembaban dan Intensitas cahaya di dalam rumah kaca 3.17% dan hampir 50% lebih rendah daripada kelembaban dan intensitas cahaya di luar rumah kaca.
Gambar 7. a) Tunas yang dihasilkan 4 minggu setelah semai, b) Tunas yang telah dipisahkan.
Umbi mulai bertunas pada lima hari setelah semai. Tunas tumbuh baik selama di persemaian hingga pindah tanam. Satu umbi rata-rata menghasilkan empat tunas. Setiap tunas rata-rata memiliki 3-4 daun dengan tinggi rata-rata 28 cm. Pertumbuhan awal tanaman di lapangan cukup baik meskipun beberapa tanaman yang berasal dari umbi dan tunas terserang penyakit layu Fusarium dari minggu kedua hingga minggu keenam setelah tanam. Semua tanaman asal umbi dapat dipanen, sedangkan tanaman asal tunas yang dapat dipanen rata-rata 73.3% dari jumlah tanaman dalam setiap petak percobaan.
Hasil analisis media tanam yang dilakukan di Laboratorium Tanah Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Institut Pertanian Bogor menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sifat fisik dan kimia pada ketiga media tanam yang digunakan (Lampiran 4). Perbedaan sifat kimia meliputi parameter pH, C-organik, N- total, kandungan unsur P dan K. Perbedaan sifat fisik media meliputi parameter bulkdensity, porositas dan permeabilitas.
Kepadatan media ditunjukkan dengan hasil bulkdensity. Penurunan bulkdensity atau bobot isi akan menurunkan kepadatan media yang diikuti dengan semakin mudahnya meneruskan air dan penetrasi akar pada media tanam. Porositas dan permeabilitas mempengaruhi drainase, aerase dan daya pegang air.
Pertumbuhan Tanaman
Pengamatan 15 HST menunjukkan tinggi tanaman asal umbi lebih tinggi tetapi tidak berbeda nyata dengan tinggi tanaman asal tunas (Tabel 1). Tinggi tanaman asal umbi pada pengamatan 30 dan 45 HST lebih tinggi dan berbeda nyata dengan tinggi tanaman asal tunas. Diduga tanaman asal tunas masih mengalami stress akibat pindah tanam pada awal pengamatan. Akar tanaman masih menyesuaikan dengan media tanamnya yang baru sehingga untuk pertambahan tinggi cenderung lebih lambat daripada tanaman asal umbi. Namun demikian pada pengamatan 60 HST tinggi tanaman asal umbi tetap lebih tinggi tetapi tidak berbeda nyata dengan tinggi tanaman asal tunas.
b a
17 Tabel 1. Pengaruh asal bahan tanam dan media tanam terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah
Perlakuan
Tinggi tanaman (cm) Jumlah daun (helai)
Hari setelah tanam (HST)
15 30 45 60 15 30 45 60
Asal bahan tanam
Umbi 18.75 23.67 24.71 28.56 9.35 12.93 19.71 21.98
Tunas 18.31 21.80 22.83 28.41 3.29 3.45 4.17 4.06
Uji F tn * * tn ** ** ** **
Media tanam
Tanah+arang sekam (1:1) 17.90b 21.68b 22.77b 27.60 6.60 8.83 11.70 12.89
Tanah + pupuk kandang (1:1) 18.18ab 22.91ab 23.98ab 28.91 6.19 8.05 11.63 12.60 Tanah+arang sekam+ pupuk kandang (1:1:1) 19.51a 23.61a 24.55a 28.94 6.18 7.99 12.50 13.57
Uji F * * * tn tn tn tn tn
Interaksi tn tn tn tn tn tn tn tn
Keterangan: angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan α = 5%;
Jumlah daun tanaman asal umbi lebih tinggi dan berbeda nyata dengan jumlah daun tanaman asal tunas pada setiap pengamatan. Jumlah daun tanaman asal umbi hampir 80% lebih banyak daripada tanaman asal tunas. Rata-rata setiap tunas memiliki empat daun ketika pindah tanam. Daun-daun tersebut menguning akibat stress dari pindah tanam namun pertambahan daun tanaman asal tunas cenderung sedikit.
Tinggi tanaman pada campuran tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1) lebih tinggi dan berbeda nyata dengan kedua media tanam lainnya pada pengamatan 15, 30, 45 HST. Jumlah daun pada setiap waktu pengamatan menunjukkan bahwa pada campuran tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1) lebih tinggi tetapi tidak berbeda nyata dengan jumlah daun pada media tanam lainnya. Campuran tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1) dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Penambahan arang sekam dan pupuk kandang dapat meningkatkan porositas media sehingga akar dapat tumbuh baik. Selain itu, campuran ketiga media tersebut dapat menambah ketersediaan unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.
Hasil Bawang Merah
Tanaman asal umbi menghasilkan jumlah umbi per rumpun lebih banyak dan berbeda nyata dengan jumlah umbi yang dihasilkan tanaman asal tunas (Tabel 2). Tanaman asal umbi menghasilkan umbi per rumpun 70.11% lebih banyak daripada tanaman asal tunas. Umbi bawang merupakan umbi lapis dan mempunyai tunas- tunas lateral yang dapat tumbuh menjadi tunas baru yang nantinya akan berkembang menjadi umbi.
Biasanya dalam satu tunas dapat menghasilkan lebih dari satu umbi jika terdapat pertumbuhan tunas dan daun baru. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa pada saat tunas dipisahkan beberapa batang tunas telah mengalami pembengkakan lebih awal. Dapat diartikan bahwa tanaman sudah mulai memasuki fase generatif sehingga kemungkinan untuk pertumbuhan daun dan tunas baru sangat kecil.
Menurut Kusumasari dan Prayudi (2011), tanaman bawang merah memiliki dua fase tumbuh yaitu fase generatif dan vegetatif. Fase vegetatif dimulai ketika tanaman berumur 11-35 HST. Fase generatif terdiri dari fase pembentukan umbi (36-50 HST) dan fase pematangan umbi (51-56 HST). Meskipun pertambahan tinggi tanaman dan jumlah daun masih terjadi, namun tidak sampai meningkatkan jumlah anakan yang dihasilkan.
Umbi yang dihasilkan tanaman asal tunas berdiameter lebih besar dan berbeda nyata dengan umbi yang dihasilkan tanaman asal umbi. Hal ini terbalik dengan jumlah umbi yang dihasilkan dari masing-masing bahan tanam. Tanaman asal tunas menghasilkan jumlah umbi per rumpun yang lebih sedikit namun berdiameter lebih besar.
Jumlah daun sangat penting dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan umbi (Gough 2002). Tanaman asal tunas memiliki jumlah daun yang cukup untuk dapat mengakumulasi asimilat untuk pembentukan umbi. Hal ini kemudian terbukti bahwa jumlah daun yang sesuai dengan jumlah umbi yang terbentuk menyebabkan diameter dan bobot umbi tanaman asal tunas lebih tinggi daripada tanaman asal umbi utuh.
Tabel 2. Pengaruh asal bahan tanam dan media tanam terhadap jumlah umbi per rumpun dan diameter umbi
Perlakuan Jumlah umbi
per rumpun
Diameter umbi (mm) Asal bahan tanam
Umbi 5.12a 15.33b
Tunas 1.53b 19.91a
Uji F ** *
Media tanam
Tanah+arang sekam (1:1) 3.10 15.53b
Tanah+pupuk kandang (1:1) 3.51 17.80ab
Tanah+arang sekam+ pupuk kandang (1:1:1) 3.36 19.54a
Uji F tn *
Interaksi tn tn
Keterangan: angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan α = 5%; *) berbeda
nyata pada α = 5%; **) berbeda sangat nyata pada α= 1%; tn) tidak
berbeda nyata.
Media tanam tanah dan pupuk kandang (1:1) menghasilkan jumlah umbi per rumpun yang lebih banyak namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan media tanam lainnya. Jumlah umbi per rumpun yang dihasilkan cenderung sama pada setiap perlakuan media tanam. Berbeda halnya dengan diameter umbi yang dihasilkan. Penanaman bawang merah pada media tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1) mampu meningkatkan diameter umbi yang dihasilkan sebesar 8.9% dibandingkan dengan penanaman pada media tanah dan pupuk kandang (1:1) dan 20.5% dibandingkan dengan penanaman pada media tanah dan arang sekam (1:1).
Diameter umbi yang dihasilkan pada media tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1) nyata lebih banyak dibandingkan dengan penanaman pada media tanah dan arang sekam (1:1). Penanaman pada media tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1) memberikan diameter umbi tertinggi yaitu 19.54 mm, berbeda nyata terhadap perlakuan media tanah dan arang sekam (1:1) tetapi tidak berbeda nyata dengan dengan perlakuan media tanah dan pupuk kandang (1:1).
Penambahan bahan organik dapat membantu memperbaiki kondisi fisik media tanam. Bahan organik yang telah menjadi humus, mempunyai permukaan yang luas dan kemampuan menyerap air yang banyak. Penambahan arang sekam dan pupuk kandang dapat meningkatkan kelembaban media. Basuki dan Koster (1990) menambahkan bahwa pupuk kandang dapat mempengaruhi kualitas umbi bawang merah melalui peningkatan ukuran dan bentuk umbi. Hal ini dapat terlihat bahwa dengan penambahan bahan organik dapat meningkatkan diameter umbi yang dihasilkan.
Hasil pada Tabel 3 menunjukkan bahwa penggunaan tunas sebagai bahan tanam menghasilkan bobot per umbi yang lebih tinggi tetapi tidak berbeda nyata dengan bobot umbi yang dihasilkan pada tanaman asal umbi. Perlakuan asal bahan tanam tidak berpengaruh terhadap bobot segar dan bobot kering per umbi. Tanaman asal tunas menghasilkan umbi yang lebih sedikit namun memiliki bobot yang lebih besar. Hal ini diduga disebabkan karena fotosintat yang dihasilkan terfokus untuk membesarkan rata-rata 1.53 umbi.
Tanaman asal umbi menghasilkan umbi yang lebih banyak yaitu rata-rata 5.12 umbi. Fotosintat yang dihasilkan harus dibagi dengan banyaknya umbi yang terbentuk sehingga bobot umbi yang dihasilkan lebih kecil. Asal bahan tanam berpengaruh nyata terhadap hasil umbi per petak. Tanaman asal umbi menghasilkan rata-rata 5.12 umbi per rumpun. Meskipun bobot per umbinya kecil, namun dengan banyaknya umbi yang dihasilkan akan meningkatkan bobot per petak tanaman asal umbi.
Tabel 3. Pengaruh asal bahan tanam dan media tanam terhadap bobot segar dan bobot kering per umbi dan per m2
Perlakuan Bobot segar Bobot kering
Umbi m2 Umbi m2
Asal bahan tanam
Umbi 3.99 949.68 3.27 680.65
Tunas 4.17 162.88 3.35 131.35
Uji F tn ** tn **
Media tanam
Tanah+arang sekam (1:1) 3.98 526.54b 3.29 373.04b
Tanah+pupuk kandang (1:1) 4.11 521.74b 3.39 399.51ab
Tanah+arang sekam+pupuk kandang (1:1:1) 4.15 620.56a 3.25 445.45a
Uji F tn * tn *
Interaksi tn * tn *
Keterangan: angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan α = 5%; *) berbeda
nyata pada α = 5%; **) berbeda sangat nyata pada α = 1%; tn) tidak
berbeda nyata.
Media tanam memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot segar dan bobot kering per m2 tetapi tidak hasil per umbinya. Penanaman bawang merah pada media tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1) menghasilkan bobot segar per m2 lebih tinggi 15.9% dibandingkan dengan penanaman pada media tanah dan pupuk kandang (1:1) dan 15.2% dibandingkan dengan penanaman pada media tanah dan arang sekam (1:1). Perlakuan media tanam tanah dan arang sekam (1:1) serta media tanam tanah dan pupuk kandang (1:1) tidak berbeda nyata terhadap bobot segar per m2.
Bawang merah yang digunakan untuk benih merupakan bawang merah yang telah disimpan selama dua bulan. Sebelum penyimpanan, bawang merah dikeringanginkan terlebih dahulu untuk mencapai kadar air yang optimal selama masa penyimpanan. Berdasarkan hasil percobaan pada Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan media tanam tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1) mampu meningkatkan bobot keringangin umbi per m2 sebesar 10.3% dibandingkan dengan perlakuan media tanah dan pupuk kandang (1:1) dan 16.3% dibandingkan dengan perlakuan media tanah dan arang sekam (1:1).
Interaksi antara asal bahan tanam dan media tanam berpengaruh terhadap bobot segar dan bobot kering per petak (Tabel 4). Tanaman asal umbi pada media tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1) memberikan bobot segar dan bobot kering per petak yang lebih tinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.
Tabel 4. Interaksi asal bahan tanam dan media tanam terhadap bobot segar dan bobot kering per m2
Media tanam Asal bahan tanam
Umbi Tunas
Bobot segar tanaman per m2 (g)
Tanah+arang sekam (1:1) 897.95b 155.13
Tanah +pupuk kandang (1:1) 874.33b 169.15
Tanah+arang sekam+ pupuk kandang (1:1:1) 1076.75a 164.38 Bobot kering tanaman per m2
(g)
Tanah+arang sekam (1:1) 624.28b 121.80
Tanah +pupuk kandang (1:1) 662.25b 136.78
Tanah+arang sekam+ pupuk kandang (1:1:1) 755.43a 135.48 Keterangan: angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama
berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan α = 5%.
Penanaman umbi sebagai bahan tanam pada campuran tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1) menghasilkan bobot segar dan bobot kering tanaman paling tinggi. Campuran ketiga media tanam ini memberikan keuntungan lebih terhadap hasil tanaman. Arang sekam dan pupuk kandang membantu mempertahankan kandungan air, kelembaban media dan menambah unsur hara bagi tanaman.
Perlakuan asal bahan tanam dan media tanam berpengaruh nyata terhadap pengkelasan berdasarkan ukuran umbi (Tabel 5). Bahan tanam asal umbi menghasilkan umbi berukuran kecil lebih banyak yaitu 53.35%. Bahan tanam asal tunas menghasilkan umbi berukuran sedang lebih besar yaitu 47.66%. Hasil umbi dari umbi dan tunas menghasilkan umbi berukuran besar lebih sedikit yaitu masing-masing 3.75% dan 9.23%.
Tanaman asal umbi menghasilkan umbi yang lebih banyak per rumpunnya yaitu rata-rata 5.12 umbi per rumpun. Namun demikian bobot dan diameter umbi yang dihasilkan lebih kecil. Sehingga persentase umbi berukuran kecil akan lebih banyak. Umbi yang terbentuk pada tanaman asal tunas rata-rata 1.53 umbi dengan diameter dan bobot yang lebih besar sehingga lebih memungkinkan untuk menghasilkan umbi berukuran sedang yang lebih banyak. Terdapat kecenderungan bahwa semakin banyak umbi yang terbentuk dalam satu rumpun, maka ukuran umbi yang dihasilkan akan semakin kecil.
Perlakuan media memberikan pengaruh terhadap persentase umbi berukuran kecil dan sedang. Campuran tanah, arang sekam dan pupuk kandang menghasilkan umbi berukuran kecil lebih banyak. Hal ini akan berkaitan dengan produksi umbi benih, dimana umbi benih berukuran kecil lebih efisien dalam penghematan biaya produksi dari segi penyediaan umbi benih.
Tabel 5. Pengaruh asal bahan tanam dan media tanam terhadap persentase ukuran umbi yang dihasilkan
Perlakuan Grading (%) Umbi kecil <5 g Umbi sedang 5-10 g Umbi besar >10 g Bahan tanam Umbi 53.35 42.77 3.75 Tunas 43.04 47.66 9.23 Uji F ** * ** Media tanam
Tanah+arang sekam (1:1) 45.78b 46.96a 7.26
Tanah+pupuk kandang (1:1) 48.43ab 45.50ab 5.90 Tanah+arang sekam+pupuk kandang (1:1:1) 50.39a 43.13b 6.30
Uji F * * tn
Interaksi tn tn tn
Keterangan: angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan α = 5%; *)
berbeda nyata pada α = 5%; **) berbeda sangat nyata pada α= 1%;
tn) tidak berbeda nyata.
Penambahan arang sekam dan pupuk kandang memberikan pengaruh terhadap perbaikan aerasi dan drainase media sehingga media menjadi lebih porous. Kusumasari dan Prayudi (2011) menambahkan bahwa penambahan pupuk kandang juga dapat mempertahankan kandungan air dalam tanah dan menurunkan bobot isi tanah sehingga konsistensi tanah menjadi lebih gembur dan remah yang akan berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan akar. Pencampuran tanah dengan kedua bahan organik tersebut memberikan keuntungan lebih bagi tanaman. Lihiang (2009) menyatakan bahwa pemberian pupuk organik dapat memperbaiki struktur media dan kesuburan tanah sehingga sangat menguntungkan bagi pertumbuhan bawang merah yang sistem perakarannya dangkal.
SIMPULAN
1. Perbanyakan bawang merah dengan tunas nyata menghasilkan bobot per umbi yang lebih besar namun nyata menurunkan produksi per satuan luas.
2. Campuran media tanah dan arang sekam (1:1) tidak dianjurkan untuk digunakan pada perbanyakan bawang merah karena memberikan hasil paling rendah.
3. Penanaman umbi pada media tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1) memberikan hasil yang lebih tinggi. Penanaman tunas memberikan hasil yang cenderung sama pada ketiga media tanam.