• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Ibu Hamil

Sebaran ibu hamil menurut karakteristik usia ibu hamil, usia kehamilan, dan frekuensi kehamilan disajikan dalam Tabel 4 berikut.

Tabel 4 Sebaran ibu hamil menurut karakteristik

Karakteristik Ibu Hamil

n %

Usia Ibu Hamil (tahun)

<20 20-35 >35 1 16 3 5 80 15 Total 20 100 Min-maks 18-37 tahun Rata-rata±SD 28.7±5.6

Usia Kehamilan (trimester)

II (12-28 minggu) III (28-40 minggu) 19 1 95 5 Total 20 100 Min-maks 12-30 minggu Rata-rata±SD 20.5±5.5 Kehamilan ke-1 2 3 4 5 6 5 5 3 1 30 25 25 15 5 Total 20 100

Usia ibu hamil dikategorikan menjadi tiga menurut sebarannya, yaitu kurang dari 20 tahun, 20-35 tahun, dan lebih dari 35 tahun. Usia ibu hamil berkaitan dengan perkembangan alat-alat reproduksinya. Usia reproduksi yang sehat dan aman adalah umur 20-35 tahun. Kehamilan di usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun dapat menyebabkan anemia. Kehamilan pada usia kurang dari 20 tahun secara biologis belum optimal, emosinya cenderung labil, mentalnya belum matang sehingga mudah mengalami keguncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi selama kehamilannya. Sedangkan kehamilan pada usia lebih dari 35 tahun terkait dengan kemunduran dan penurunan daya tahan tubuh serta berbagai penyakit (Mawaddah 2008).

Menurut hasil penelitian Papalia & Olds (1981), sebagian besar (86.4%) usia ibu hamil yang diteliti berada pada rentang 20-35 tahun atau pada kategori dewasa awal. Demikian pula hasil yang didapatkan di Desa Babakan, sebanyak 80% dari 20 ibu hamil yang dijadikan contoh berusia antara 20-35 tahun. Hal tersebut berarti sebagian besar ibu hamil yang menjadi contoh berada pada usia reproduksi yang aman dan sehat.

Menurut usia kehamilannya, contoh secara keseluruhan berada pada usia kehamilan di atas tiga bulan pertama (trimester I). Sembilan puluh lima persen contoh berada pada trimester kedua, sedangkan sisanya (5%) berada pada trimester ketiga. Pembulatan rata-rata usia kehamilan adalah 29 minggu dengan kisaran 12-30 minggu.

Dilihat dari frekuensi kehamilan, kisaran frekuensi kehamilan contoh adalah antara 1-5 kali dengan persentase sebagai berikut: sebanyak 30% contoh adalah ibu hamil pada kehamilan pertama, 25% untuk masing-masing contoh pada kehamilan kedua dan ketiga, 15% contoh pada kehamilan keempat, dan 5% contoh pada kehamilan kelima. Seorang ibu yang sering melahirkan mempunyai risiko mengalami anemia pada kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan kebutuhan gizi karena selama hamil zat-zat gizi akan terbagi untuk ibu dan untuk janin yang dikandungnya (Mawaddah 2008). Hal ini diduga karena banyaknya volume darah yang dikeluarkan pada saat persalinan sehingga ibu hamil rentan mengalami kekurangan darah pada kehamilan selanjutnya apabila ibu hamil kurang mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi untuk membantu produksi hemoglobin yang menghasilkan sel darah merah. Menurut Darlina dan Hardinsyah (2003), frekuensi kehamilan 2 kali merupakan faktor protektif terhadap kejadian anemia pada ibu hamil.

Riwayat Kehamilan dan Penyakit

Sebaran ibu hamil menurut riwayat kehamilan dan riwayat penyakit disajikan pada Tabel 5 dan Tabel 6 berikut.

Tabel 5 Sebaran ibu hamil menurut riwayat kehamilan

Riwayat kehamilan n % Keguguran Melahirkan BBLR Melahirkan prematur Persalinan normal 3 2 1 14 15 10 5 70

Menurut riwayat kehamilan, sebanyak 70% contoh mengalami persalinan normal. Namun, masih terdapat pula contoh yang mengalami riwayat kehamilan

yang buruk seperti keguguran (15%), melahirkan BBLR (10%), dan prematur (5%). Terjadinya riwayat kehamilan yang buruk tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi kesehatan ibu hamil yang kurang menunjang, pertumbuhan janin yang kurang baik selama hamil, masalah infeksi atau imunitas, dan kurang fahamnya ibu hamil tentang cara merawat diri dan bayi selama kehamilan. Menurut Lubis (2003), keterbatasan nutrisi kehamilan pada saat terjadinya proses pembuahan janin juga dapat berakibat pada kelahiran prematur dan mengakibatkan efek negatif jangka panjang pada kesehatan janin.

Tabel 6 Sebaran ibu hamil menurut riwayat penyakit

Jenis Penyakit n % Anemia Hipertensi Typus Diare Batuk Flu Mag Demam 6 2 2 2 3 8 3 1 30 10 10 10 15 40 15 5

Menurut jenis penyakit yang diderita, baik 6 bulan sebelum hamil maupun selama hamil, sebanyak 40% contoh menderita influenza dan 30% contoh mengalami anemia. Sisa penyakit lainnya tersebar dalam kisaran persentase 5% (demam), 10% (masing-masing hipertensi, typus, diare, dan demam), dan 15% (masing-masing batuk dan mag). Ibu hamil yang memiliki banyak riwayat penyakit cenderung memiliki sistem ketahanan tubuh yang lebih rentan dibandingkan dengan ibu hamil dengan riwayat penyakit yang lebih sedikit. Apabila tidak dilakukan pemeliharaan kesehatan oleh ibu hamil sejak dini dengan penambahan konsumsi zat-zat gizi seimbang maka ibu hamil akan mengalami defisiensi zat gizi sehingga rentan terhadap infeksi dan gangguan kesehatan selama hamil.

Status Gizi

Status gizi sebelum dan selama hamil sangat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan. Apabila status gizi ibu buruk sebelum dan selama kehamilan maka akan menimbulkan beberapa akibat fatal bagi bayi seperti BBLR, terhambatnya pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi baru lahir, bayi baru lahir mudah terinfeksi, abortus, dan lain-lain (Lubis 2003).

Status gizi ibu hamil dapat diukur dengan menggunakan Lingkar Lengan Atas (LILA) dengan keakuratan yang sama dengan pengukuran IMT ibu hamil.

Kejadian Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil dapat diketahui dengan pengukuran LILA. Masalah KEK pada Wanita Usia Subur (WUS) sekitar 17.6% pada tahun 2002 dan sekitar 11.7 juta WUS berisiko KEK (Azwar 2004). WUS dikatakan menderita KEK jika ukuran LILA kurang dari 23.5 dan akan berisiko melahirkan BBLR. Menurut Departemen Kesehatan (2000), WUS yang menderita KEK pada saat hamil akan menghambat kebutuhan janin terhadap akses zat gizi sehingga akan menimbulkan risiko BBLR. Ukuran LILA <23.5 cm pada ibu hamil dapat menggambarkan kemungkinan kekurangan energi pada ibu hamil, bukan hanya sebelum hamil, namun juga selama kehamilan (Wijianto & Khomsan 2002). Hasil pengukuran LILA ibu hamil disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7 Sebaran ibu hamil berdasarkan LILA

Kejadian KEK n % KEK (< 23.5 cm) Tidak KEK ( 23.5 cm) 6 14 30 70 Total 20 100 Rata-rata±SD 25.91±3.87

Dapat dilihat pada Tabel 6 bahwa terdapat 70% ibu hamil yang memiliki LILA 23.5 cm. Hal ini berarti ibu hamil tersebut tidak mengalami KEK. Namun demikian, masih terdapat 30% ibu hamil dengan LILA <23.5 cm yang berarti menderita KEK.

Perilaku dan Kebiasaan Makan

Kebiasaan makan merupakan pola perilaku konsumsi pangan yang diperoleh dari pola praktek yang dilakukan berulang-ulang. Tindakan manusia terhadap makan dan makanan dipengaruhi oleh pengetahuan dan perasaan serta persepsi tentang hal tersebut. Cara-cara individu dan kelompok individu memilih dan mengonsumsi makanan yang tersedia didasarkan pada faktor-faktor sosial budaya di mana manusia tersebut hidup (Suhardjo 1989).

Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pangan dan gizi yang kurang selama masa kehamilan berdampak buruk pada bayi yang dilahirkan maupun bagi ibu. Bayi yang kurang mendapat suplai zat gizi dari ibu seringkali mengalami kelahiran prematur, lahir dalam keadaan BBLR, atau lahir dalam keadaan meninggal.

Bayi yang mengalami kurang gizi selama di kandungan, pada umumnya, mengalami hambatan pertumbuhan setelah kelahiran meskipun bayi lahir selamat. Hambatan pertumbuhan tersebut khususnya pertumbuhan volume otak yang erat kaitannya dengan kecerdasan anak. Anak yang mengalami keadaan

demikian biasanya mempunyai tingkat kecerdasan dan perkembangan mental yang rendah, terjadi pula kelambatan dalam sosialisasi dan kepekaan terhadap rangsangan. Akibat yang sering membahayakan ibu sendiri adalah terjadinya pendarahan selama melahirkan (Hardinsyah & Martianto 1992).

Frekuensi Makan

Kebiasaan makan tiga kali sehari merupakan kebiasaan makan yang cukup baik karena dengan frekuensi makan konsumsi yang semakin sering akan memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan gizi yang lebih besar. Peluang untuk mencukupi kebutuhan gizi akan lebih besar bila frekuensi makan tiga kali sehari. Frekuensi makan dua kali sehari akan berdampak negatif bagi anggota masyarakat yang tergolong rawan fisiologis (Widyaningsih 2007).

Selain makanan utama, makanan selingan dianjurkan pula untuk dikonsumsi sebagai kudapan dan tambahan zat gizi. Menurut Siega (2001), ibu hamil sebaiknya mengonsumsi makanan lengkap tiga kali dalam porsi kecil tetapi sering dengan disertai dua kali atau lebih makanan selingan dalam sehari, terutama pada trimester kedua. Makanan selingan umumnya disajikan sebanyak dua kali, yaitu antara waktu makan pagi dan makan siang dan antara waktu makan siang dan makan malam.

Tabel 8 Sebaran ibu hamil menurut frekuensi makan utama dan makan selingan Frekuensi Makanan utama (kali) Makanan selingan (kali)

n % n % 1 2 3 4 0 11 6 3 0 55 30 15 6 8 1 5 30 40 5 25 Total 20 100 20 100 Rata-rata±SD 2.6±0.7 2.3±1.2

Berdasarkan Tabel 8, diperoleh hasil bahwa masih terdapat ibu hamil yang mengonsumsi makanan utama kurang dari tiga kali. Lebih dari separuh contoh yang diteliti (55%) mengonsumsi makanan utama hanya dua kali dalam sehari. Sedangkan untuk jenis makanan selingan, hanya 30% contoh yang mengonsumsi kudapan kurang dari dua kali. Sebaran ini mengindikasi bahwa kemungkinan terjadinya defisiensi zat gizi pada ibu hamil masih cukup besar mengingat kebutuhan konsumsi ibu hamil yang seharusnya lebih besar dibandingkan masa sebelum hamil. Namun demikian, pembulatan rataan frekuensi konsumsi makanan utama dan selingan masih cukup baik yaitu tiga kali untuk makanan utama dan dua kali untuk makanan selingan.

Makanan Pantangan dan Alergi

Selama masa kehamilan, terdapat beberapa makanan yang menjadi pantangan untuk dikonsumsi. Makanan tersebut umumnya menjadi pantangan karena warisan leluhur yang dipercayai dapat mengakibatkan berbagai macam risiko bagi ibu hamil maupun janin yang dikandungnya apabila dilanggar. Makanan tersebut antara lain adalah nanas, tape, salak, durian, dan kopi. Alasan yang dikemukakan oleh contoh antara lain adalah takut perut menjadi panas, keguguran, atau sulit melahirkan. Sebagian besar contoh (80%) memiliki makanan yang pantang dikonsumsi selama hamil. Sebaran ibu hamil menurut makanan pantangan dan alergi disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9 Sebaran ibu hamil menurut makanan pantangan dan alergi

Kategori Makanan pantangan Alergi

n % n % Ya Tidak 16 4 80 20 1 19 5 95 Total 20 100 20 100

Adanya mitos bahwa ibu hamil pantang mengonsumsi makanan tertentu ini turut pula menyebabkan ibu kehilangan akses terhadap zat gizi dari makanan. Hal ini tentu akan memperlemah kondisi ibu hamil. Memperhatikan permasalahan yang dihadapi ibu hamil dan ibu menyusui serta dampak yang mungkin terjadi pada ibu maupun pada janin serta bayi yang dilahirkan, upaya penanganan perlu ditingkatkan dan diatasi melalui kerjasama barbagai pihak pihak, terutama dalam memberikan penjelasan tentang perlunya zat gizi bagi ibu hamil.

Makanan yang menimbulkan alergi selama hamil umumnya tidak terlalu banyak. Ada sebagian dari makanan yang dikemukakan contoh memang cenderung tidak dikonsumsi walaupun tidak dalam kondisi hamil karena alasan tidak suka terhadap bentuk, rasa, maupun aroma makanan, serta menimbulkan bercak-bercak merah, gatal-gatal pada kulit, dan rasa mual. Sebagian besar contoh (95%) tidak memiliki alergi terhadap jenis makanan tertentu selama hamil.

Frekuensi Konsumsi Pangan

Frekuensi konsumsi pangan antara lain dapat diketahui dengan metode food frequency questionnaire. Frekuensi makan selama kehamilan menjadi komponen utama yang berhubungan dengan kelahiran (Siega 2001). Frekuensi konsumsi pangan dikelompokkan menjadi empat kategori yaitu setiap hari ( 7

kali/minggu), sering (4-6 kali/minggu), jarang (1-3 kali/minggu), dan tidak pernah (0 kali/minggu) (Widyaningsih 2007). Bahan pangan dikelompokkan atas bahan pangan sumber karbohidrat, sumber protein hewani, sumber protein nabati, sumber vitamin dan mineral (sayuran dan buah-buahan), dan selingan.

Makanan pokok yang dikonsumsi contoh adalah nasi, nasi uduk, nasi goreng, bubur ayam, mie instan, dan roti. Nasi dikonsumsi oleh contoh secara keseluruhan (100%) setiap hari. Nasi uduk (40%), bubur ayam (45%), nasi goring (50%), mie instan (30%), roti (55%), dan singkong (35%) cenderung jarang dikonsumsi oleh contoh selama hamil.

Sumber protein hewani yang dikonsumsi selama hamil antara lain adalah daging ayam, ikan air tawar, ikan air laut, ikan asin, telur ayam negri, dan susu. Makanan yang banyak dikonsumsi contoh setiap hari adalah susu (75%) dan telur ayam negri (40%). Makanan yang jarang dikonsumsi contoh adalah daging ayam (60%), ikan tawar (55%), ikan laut (60%), ikan asin (50%), dan telur ayam negri (45%).

Sumber protein nabati yang dikonsumsi contoh antara lain adalah tempe, tahu, kacang hijau, dan kacang tanah. Sumber nabati yang dikonsumsi setiap hari adalah tempe (80%) dan tahu (40%). Makanan yang jarang dikonsumsi contoh adalah kacang hijau (50%) dan kacang tanah (50%).

Sumber vitamin dan mineral dari jenis sayuran yang jarang dikonsumsi contoh adalah bayam (70%), sawi (65%), sup (65%), kangkung (75%), tauge (55%), (50%), labu siam (55%) dan mentimun (55%). Sumber vitamin dan mineral dari jenis buah-buahan yang jarang dikonsumsi contoh adalah papaya (45%), pisang (60%), jeruk (70%), apel (55%), dan rambutan (70%).

Jenis camilan yang setiap hari dikonsumsi contoh adalah teh manis (60%) dan kerupuk (40%). Camilan yang dikonsumsi dalam frekuensi jarang oleh contoh adalah bakso (55%), siomay (45%), bakwan (55%), tahu isi (45%), tempe goreng (45%) dan biskuit (50%). Keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6.

Tingkat Konsumsi Zat Gizi

Kebutuhan energi dan zat gizi selama kehamilan meningkat sebagai akibat proses anabolik di dalam tubuh ibu hamil. Peningkatan kebutuhan ini digunakan untuk pembentukan sel-sel dan jaringan-jaringan baru, serta untuk memenuhi energi pertumbuhan dan aktivitas bagi ibu maupun energi pertumbuhan untuk janin yang dikandungnya (Hardinsyah & Martianto 1992).

Pangan yang kaya akan sumber energi adalah pangan sumber lemak (lemak atau minyak, buah berlemak, dan biji berminyak), pangan sumber karbohidrat (beras, jagung, oat, serealia), dan pangan sumber protein (daging, ikan, telur susu dan aneka produk turunannnya) (Departemen Kesehatan 2005).

Tabel 10 Sebaran ibu hamil menurut tingkat konsumsi zat gizi

Kategori Energi Protein Kalsium Besi Vitamin A

n % n % n % n % n % Normal Defisit 10 10 50 50 9 11 45 55 5 15 25 75 5 15 25 75 8 12 40 60 Total 20 100 20 100 20 100 20 100 20 100

Kebutuhan energi pada trimester pertama meningkat secara minimal. Kebutuhan pada trimester kedua dan ketiga akan terus meningkat sampai akhir kehamilan. Energi tambahan pada trimester kedua diperlukan untuk pertambahan komponen dalam tubuh ibu seperti penambahan volume darah, pertumbuhan uterus dan payudara, serta penumpukan lemak. Sedangkan, energi tambahan pada trimester ketiga digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta (Arisman 2004). Dapat dilihat dari Tabel 10 bahwa tingkat konsumsi energi pada separuh ibu hamil yang menjadi contoh adalah defisit.

Tingkat konsumsi protein pada lebih dari separuh (55%) ibu hamil yang menjadi contoh adalah defisit. Hal ini cukup rawan mengingat ibu hamil memerlukan protein lebih banyak dari biasanya, yaitu minimal 60 g per hari. Hampir 70% protein dipakai untuk kebutuhan janin. Protein digunakan untuk membuat ari-ari serta pembuatan cairan ketuban. Ari-ari berfungsi untuk menunjang, memelihara, dan menyalurkan makanan bagi anak sedangkan cairan ketuban sebagai tempat berlindung janin. Selain itu protein juga digunakan untuk menambah jaringan tubuh ibu (Nadesul 2005).

Kalsium dibutuhkan untuk membantu pertumbuhan tulang, gigi, jantung yang sehat, syaraf dan otot. Kekurangan kalsium akan menyebabkan pertumbuhan tulang dan gigi jadi terhambat. Sumber pangan yang banyak mengandung kalsium adalah susu, sayuran hijau, kacang-kacangan, biji-bijian dan ikan (Departemen Kesehatan 2005). Ibu yang sedang hamil cenderung kekurangan kalsium. Tingkat konsumsi kalsium pada ibu hamil yang menjadi contoh tidak berbeda dengan tingkat konsumsi protein. Tujuh puluh lima persen dari contoh mengalami defisit kalsium. Hal tersebut dapat mengakibatkan anak yang dikandung menderita kelainan tulang dan gigi (Nadesul 2005).

Sebagian besar contoh (75%) mengalami defisit zat besi. Padahal seharusnya semakin bertambah usia kehamilan maka kebutuhan zat besi semakin banyak (Arisman 2004). Dibutuhkan tambahan tablet besi meskipun makanan yang dikonsumsi sudah banyak mengandung zat besi dan tinggi bioavailibilitasnya pada masa kehamilan (Nadesul 2005). Kekurangan zat besi akan menghambat pembentukan hemoglobin yang berakibat pada terhambatnya pembentukan sel darah merah. Ibu hamil dan ibu menyusui merupakan kelompok yang berisiko tinggi terhadap anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya darah yang dikeluarkan selama masa persalinan. Sumber pangan yang banyak mengandung zat besi adalah nabati kedelai, kacang-kacangan, sayuran daun hijau, dan rumput laut (Departemen Kesehatan 2005). Daging merah dan pangan hewani juga merupakan sumber zat besi yang sangat baik untuk dikonsumsi ibu hamil.

Adanya pertumbuhan janin, berarti terjadi peningkatan pertumbuhan dan pembelahan sel dalam tubuh ibu. Vitamin A dalam bentuk retionic acid mengatur pertumbuhan dan pembelahan sel dalam jaringan. Namun, ibu tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen vitamin A selama hamil karena dosis tinggi vitamin A akan memberikan efek teratogenik (keracunan). Mengkonsumsi buah-buahan, daging, unggas, ikan, telur, sayuran berdaun hijau, dan umbi-umbian sehari-hari akan membantu ibu memenuhi kebutuhan vitamin A (Departemen Kesehatan 2005). Sebanyak 60% contoh juga memiliki tingkat konsumsi yang kurang terhadap vitamin A. Kekurangan vitamin A meningkatkan risiko anak terhadap penyakit infeksi, seperti penyakit saluran pernafasan dan diare, meningkatkan angka kematian karena campak, serta menyebabkan keterlambatan pertumbuhan (Almatsier 2003).

Mual dan Muntah Kehamilan (MMK) Kejadian MMK

Mual dan Muntah Kehamilan (MMK) merupakan gejala yang umum terjadi pada masa kehamilan karena adanya pengaruh dari peningkatan kadar hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dan estrogen atau adanya pengaruh hormon progesteron yang dominan selama masa kehamilan yang menyebabkan perut kosong lebih lama, meningkatkan asam lambung, dan menimbulkan rasa mual. Berdasarkan Tabel 11, diketahui bahwa terdapat 75% contoh yang mengalami MMK, 40% dari ibu hamil yang dijadikan contoh merasa mengalami mual dan muntah pada tingkatan sedang.

Berat ringannya gejala MMK berbeda-beda pada setiap wanita. Ada yang hanya berupa mual-mual biasa, ada juga yang sampai muntah-muntah berat sehingga tidak bisa melakukan aktivitas apa pun. Gejala mual dan muntah yang parah dikenal dengan istilah hyperemesis gravidarum atau mual dan muntah terjadi dengan intensitas yang sangat sering dan cukup parah. Batas yang jelas antara mual dan muntah yang fisiologis dengan hiperemesis gravidarum tidak ada. Namun, apabila keadaan umum penderita terpengaruh, maka dapat dianggap sebagai hiperemesis gravidarum (Lestari 2005).

Tabel 11 Sebaran terjadinya mual dan muntah kehamilan

Pengalaman MMK n % Tidak mengalami MMK Ringan Sedang Berat 5 5 8 2 25 25 40 10 Total 20 100 Frekuensi MMK

Frekuensi MMK dari 15 ibu hamil yang mengalaminya dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Sebaran mual dan muntah kehamilan menurut frekuensinya

Frekuensi MMK n %

Setiap hari

Beberapa kali seminggu Beberapa kali selama hamil

5 4 6 33.3 26.7 40.0 Total 15 100.0

Diketahui bahwa menurut frekuensi terjadinya, terdapat 40% contoh ibu hamil yang mengalami MMK hanya beberapa kali selama kehamilan. Sedangkan sisanya, mempunyai frekuensi MMK setiap hari (33.3%) dan beberapa kali seminggu (26.7%).

Jangka Waktu Kejadian MMK

Jangka waktu kejadian MMK pada ibu hamil secara rinci disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Sebaran mual dan muntah kehamilan menurut jangka waktu kejadian

Jangka Waktu n % Trimester I Trimester I-II Trimester I-III 9 5 1 60 33.3 6.7 Total 15 100

Delapan puluh persen wanita hamil yang mengalami gejala mual dan muntah pada bulan-bulan pertama kehamilan. Ditemukan dari penelitian yang

dilakukan di Cornell University, Amerika Serikat, bahwa gejala morning sickness atau mual dan muntah pada awal kehamilan ini mencapai puncaknya pada minggu ke-6 hingga ke-18 dari masa kehamilan. Morning sickness lebih sering terjadi pada kehamilan pertama, pada wanita muda, dan kehamilan bayi kembar. Terdapat lebih dari separuh (60%) contoh ibu hamil yang mengalami MMK hanya pada trimester pertama. Sedangkan sisanya berlanjut sampai trimester kedua (33.3%) dan trimester ketiga (6.7%).

Penyebab MMK

Menurut penyebab terjadinya, MMK dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu tekanan hidup, kelelahan, dan rangsangan indrawi dari luar. Sebaran MMK menurut penyebab kejadian disajikan pada Tabel 14.

Tabel 14 Sebaran mual dan muntah kehamilan menurut penyebab kejadian

Sebab MMK n %

Tekanan hidup Kelelahan

Rangsangan dari luar Tidak ada sebab spesifik

4 1 9 1 26.7 6.7 60 6.7 Total 15 100

Dapat diketahui berdasarkan Tabel 14 bahwa lebih dari separuh (60%) ibu hamil yang dijadikan contoh mengemukakan bahwa umumnya MMK yang mereka alami disebabkan oleh rangsangan indrawi dari luar. Rangsangan indrawi ini dapat berupa melihat jenis makanan tertentu atau mencium aroma yang tidak sedap dan tidak mereka sukai. Selain itu, terdapat pula 26.7% contoh ibu hamil yang mengalami MMK karena tekanan hidup yang mereka alami seperti masalah ekonomi, beban psikologis (banyak pikiran), dan rasa tidak tenang. Namun, hanya 6.7% contoh yang mengalami MMK tanpa sebab spesifik atau akibat kelelahan.

Penyebab mual dan muntah pada ibu hamil antara lain adalah ketidakseimbangan hormonal selama kehamilan, kekurangan vitamin B, hipertiroid, hiperasiditas lambung, infeksi H. pylori, gangguan metabolisme karbohidrat, dan meningkatnya sensitivitas terhadap bau selama kehamilan. Faktor psikologis juga memegang peranan penting pada MMK antara lain rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, rasa takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, pertentangan dengan suami atau mertua, dan kesulitan sosioekonomi. Faktor ini dapat menyebabkan beban mental yang dapat memperberat mual dan muntah. Beberapa penelitian juga melaporkan bahwa

ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko mual dan muntah pada ibu hamil yaitu hamil pada usia muda, obesitas, hamil pertama kalinya, kehamilan kembar, hamil anggur (mola hidatidosa), dan pernah mengalami mual dan muntah berat sebelumnya (Lestari 2005).

Pemeriksaan Kesehatan dan Konsumsi Obat Khusus MMK

Sebagian besar ibu hamil yang menjadi contoh memeriksakan kondisi kesehatannya kepada bidan. Mereka cenderung tidak meminta obat khusus apabila mengalami MMK. Konsumsi obat khusus MMK hanya dilakukan oleh ibu hamil yang merasa mengalami MMK pada tingkatan berat. Obat MMK yang diberikan biasanya berbentuk sirup manis.

Pengetahuan Mengenai Jahe dan Pilihan Produk MMK Ibu Hamil Konsumsi Jahe selama Hamil

Boleh tidaknya ibu hamil mengonsumsi jahe secara ringkas disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15 Sebaran pengetahuan ibu hamil tentang konsumsi jahe selama hamil

Konsumsi Jahe selama Hamil n %

Dianjurkan Dibolehkan Tidak dibolehkan 1 16 3 5 80 15 Total 20 100

Berdasarkan Tabel 15, pengetahuan ibu hamil yang menjadi contoh tentang konsumsi jahe selama hamil telah cukup baik (85%). Bahkan terdapat contoh ibu hamil yang aktif memeriksakan diri ke dokter kandungan diberi anjuran mengenai konsumsi jahe selama kehamilan untuk mengurangi mual yang kerap datang pada masa kehamilan. Hanya sekitar 15% contoh yang menyatakan bahwa jahe tidak dibolehkan untuk dikonsumsi selama hamil karena

Dokumen terkait