Analisa proksimat bahan makanan yang digunakan dalam penyusunan ransum komplit disajikan dalam Tabel 9, sedangkan komposisi nutrisi ransum komplit dapat dilihat pada Tabel 10. Semua bahan pakan yang digunakan di dalam ransum komplit ini, merupakan limbah industri agro yang belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga penggunaannya dapat menjadi pakan alternatif yang menguntungkan. Penanganan akan lebih mudah karena umumnya limbah tersebut terpusat pada suatu daerah dengan jumlah yang banyak sehingga memudahkan peternak untuk mendapatkan pakan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak. Ransum komplit yang dibuat dalam penelitian ini diharapkan dapat mengatasi rendahnya produksi hijauan pada musim kemarau.
Ransum komplit ini berbahan baku rumput lapang dengan kandungan serat kasar yang tinggi (33,47% BK) dan protein kasar yang relatif rendah (7,90% BK). Kandungan protein kasar rumput lapang yang digunakan dalam penelitian ini lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Lubis (1992) yaitu sebesar 10,12% BK. Hal ini diduga karena umur pemotongan atau panen yang berbeda. Kandungan zat-zat makanan yang terdapat dalam rumput akan menurun dengan meningkatnya umur tanaman tersebut. Rumput tua memiliki kandungan zat makanan yang lebih rendah dibandingkan rumput muda sehingga daya cerna dan kandungan proteinnya rendah (Morrison, 1961). Hal tersebut yang menyebabkan kualitasnya menjadi rendah. Rumput lapang yang digunakan sebaiknya pada kondisi umur muda.
Peningkatan kualitas nutrisi rumput lapang sebaiknya dilakukan baik melalui perlakuan fisik, kimiawi ataupun melalui perlakuan suplementasi dengan bahan makanan lainnya yang diduga mampu meningkatkan daya guna rumput lapang sebagai pakan ternak (Wiradarya, 1989), sehingga ransum komplit perlu ditambahkan dengan pakan penguat seperti konsentrat dan SKN. Pemberian konsentrat komersial saja kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan ternak, karena kandungan proteinnya juga relatif lebih rendah (8,54% BK) jika dibandingkan dengan kandungan protein konsentrat peternak di KUNAK sebesar 11,75% BK (Fharhandani, 2006). Hal tersebut yang menyebabkan kandungan protein ransum
komplit perlakuan setelah ditambah SKN juga menjadi lebih rendah (8,09-11,02% BK) jika dibandingkan dengan kandungan protein ransum peternak di KUNAK setelah ditambah SPM (10,42-13,91% BK) dan UMMB (10,29-13,80% BK) (Rafis, 2006).
Tabel 9. Komposisi Kimia Bahan-bahan Ransum Komplit Kandungan Kimia Bahan
Komposisi Kimia Rumput Lapang Konsentrat SKN Kadar Air (%) 7,99 8,78 13,25 Bahan Kering (%) 92,01 91,22 86,75 Abu (% BK) 7,80 17,47 14,77 Lemak Kasar (% BK) 6,38 8,44 11,23 Protein Kasar (% BK) 7,90 8,54 28,09 Serat Kasar (% BK) 33,47 14,17 15,78 BETN (% BK) 44,45 51,38 30,13 TDN(% BK)*) 57,31 75,37 74,15 Ca (% BK) 0,26 0,31 0,20 P (% BK) 0,11 0,12 0,02
Keterangan : *) TDN dihitung dengan rumus TDN = 25,6 + 0,53 PK + 1,7 LK – 0,474 SK + 0,732 BETN (Sutardi, 2003 dalam Noviana, 2004)
BETN = Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen TDN = Total Digestible Nutrient PK = Protein Kasar SK = Serat Kasar LK = Lemak Kasar
Sumber : Hasil Analisa Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB, 2007
SKN dibuat untuk mensubstitusi dan mengkoreksi zat-zat makanan konsentrat komersial yang ketersediaannya kurang di dalam ransum sehingga diharapkan mampu meningkatkan keuntungan bagi peternak melalui peningkatan produktivitas ternak. Hal ini dikarenakan SKN merupakan sumber protein, energi dan mineral yang memiliki keserasian dan keseimbangan gizi baik jumlah protein (28,09% BK) dan energi TDN (74,15% BK) yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Penggunaan SKN dalam ransum komplit perlakuan ternyata dapat meningkatkan kandungan protein ransum. Hal ini disebabkan adanya protein kasar yang terkandung dalam SKN (28,09%) lebih tinggi dibandingkan dengan protein kasar yang terkandung dalam konsentrat (8,54%). Sumber-sumber protein yang digunakan dalam SKN meliputi ampas kecap, bungkil kelapa, ampas tahu, urea,
ampas teh dan daun kembang sepatu. Selain itu, SKN ini mengandung protein bypass, agen defaunasi, mineral organik dan kunyit yang diharapkan berperan dalam meningkatkan fermentabilitas dan degradabilitas in vitro ransum komplit. Menurut Chaerani (2004), penggunaan ransum suplemen sebanyak 1 kg/ekor/hari menghasilkan kandungan protein kasar ransum peternak (12,2% BK) dan TDN (63,5% BK) lebih tinggi jika dibandingkan dengan protein kasar ransum kontrol (33% hijauan : 67% konsentrat) sebesar 11,8% BK dan TDN sebesar 62% BK.
Tabel 10. Komposisi Nutrisi Ransum Komplit Perlakuan
Kandungan Kimia Bahan Komposisi Kimia
R1 R2 R3 R4 Rekomendasi NRC*) Kadar Air (%) 8,23 8,45 8,67 8,90 - Bahan Kering (%) 91,77 91,55 91,33 91,10 - Abu (% BK) 10,70 10,57 10,43 10,30 - Lemak Kasar (% BK) 7,00 7,14 7,28 7,42 3 Protein Kasar (% BK) 8,09 9,07 10,05 11,02 12-15 Serat Kasar (% BK) 27,68 27,76 27,84 27,92 17 BETN (% BK) 46,53 45,47 44,40 43,34 - TDN (% BK)**) 62,72 62,66 62,60 62,54 67 Ca (% BK) 0,28 0,27 0,26 0,26 0,53 P (% BK) 0,11 0,11 0,10 0,10 0,34
Keterangan : *) Standar untuk sapi perah dengan bobot badan ± 450 kg dengan produksi susu ± 15 kg/ekor/hari (NRC, 2001)
**) TDN dihitung dengan rumus TDN = 25,6 + 0,53 PK + 1,7 LK – 0,474 SK + 0,732 BETN (Sutardi, 2003 dalam Noviana, 2004)
BETN = Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen TDN = Total Digestible Nutrient PK = Protein Kasar SK = Serat Kasar LK = Lemak Kasar
R1 = Ransum kontrol (70% rumput lapang + 30% konsentrat), R2 = 70% rumput lapang + 25% konsentrat + 5% SKN, R3 = 70% rumput lapang + 20% konsentrat + 10% SKN, R4 = 70% rumput lapang + 15% konsentrat + 15% SKN
Sumber : Hasil Analisa Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB, 2007
Ransum komplit kontrol pada penelitian ini mengandung rumput lapang (70%) dan konsentrat (30%). Kombinasi kedua bahan pakan tersebut memiliki kandungan zat makanan dengan protein kasar sebesar 8,09% BK, serat kasar sebesar 27,68% BK dan TDN 62,72% BK. Komposisi nutrisi yang dihasilkan oleh ransum kontrol tersebut ternyata lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan nutrisi sapi
perah yaitu PK sebesar 12-15% BK dan TDN sebesar 67% BK (NRC, 2001). Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 10. Kandungan zat makanan ransum perlakuan ini juga lebih rendah jika dibandingkan dengan kandungan zat makanan ransum yang diberikan oleh peternak di KUNAK (PK = 9,77% BK, SK = 41,31% BK dan TDN = 69,98% BK) dengan rasio 60% rumput : 20% konsentrat : 20% ampas tahu (Rafis, 2006). Upaya untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan memperbaiki kembali rasio antara hijauan, konsentrat dan SKN. Peningkatan level SKN diharapkan dapat memperbaiki komposisi nutrisi ransum komplit sehingga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi sapi perah. Ransum komplit ini dapat direkomendasikan untuk diberikan ke beberapa ternak ruminansia lain karena komposisi nutrisi ransum komplit perlakuan ini sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak dengan kondisi fisiologis tertentu, yaitu kambing (hidup pokok dan induk bunting), domba (hidup pokok, induk bunting, pertengahan laktasi dan akhir laktasi), sapi pedaging (dara, induk muda bunting, laktasi awal dan pejantan muda dan dewasa), kerbau perah (hidup pokok, dara, induk bunting dan laktasi) dan sapi perah (pejantan) (NRC,1981; NRC, 1984; NRC, 2001; NRC, 2007; Parakkasi, 1999). Kebutuhan nutrisi untuk beberapa ternak ruminansia tersebut dapat dilihat pada Tabel 4 dan 5.
Produksi Gas Total
Metode produksi gas in vitro dapat digunakan untuk mengukur dan memprediksi nilai kecernaan bahan pakan, pengaruh bahan pakan terhadap fermentasi di dalam rumen dan pengaruh bahan pakan terhadap pertumbuhan mikroba rumen (Kurniawati, 2007). Produksi gas yang dihasilkan menunjukkan terjadinya proses fermentasi pakan oleh mikroba rumen, yaitu menghidrolisis karbohidrat menjadi monosakarida dan disakarida yang kemudian difermentasi menjadi asam lemak terbang (VFA) terutama asam asetat, propionat dan butirat serta gas metan (CH4) dan CO2 (McDonald et al., 2002).
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa penambahan SKN ke dalam ransum komplit berpengaruh nyata (p<0,05) meningkatkan rata-rata produksi gas pada inkubasi 48 jam. Berdasarkan hasil uji ortogonal kontras, rataan produksi gas total perlakuan R3 dan R4 (28,54 dan 28,77 ml/200 mg BK) lebih tinggi dan berbeda (p<0,05) dibandingkan rataan produksi gas total R1 dan R2 (27,62 dan 28,04 ml/200 mg BK). Walaupun demikian, produksi gas total R1 tidak berbeda dengan produksi
gas total dari perlakuan R2, demikian pula antara produksi gas total ransum R3 dengan produksi gas total ransum R4 (Tabel 11). Perlakuan R3 dan R4 memiliki kandungan bahan organik (energi dan protein) yang lebih tinggi dibandingkan R1 dan R2 sehingga berpotensi dalam memproduksi gas yang lebih tinggi, dan dapat diduga ransum tersebut berpotensi juga sebagai ransum yang mudah didegradasi.
Produksi gas untuk setiap ransum komplit perlakuan semakin meningkat seiring dengan penambahan SKN. Ransum komplit dengan penambahan SKN tertinggi (R4 = Rumput Lapang 70% + Konsentrat 15% + SKN 15%) menghasilkan produksi gas yang tertinggi yaitu sebesar 28,77 ± 1,63 ml/200 mg BK sampel. Hal ini disebabkan oleh kandungan zat nutrisi ransum komplit R4 memiliki ketersediaan dan keseimbangan jumlah protein (11,02% BK) dan energi (TDN = 62,54% BK) sehingga dapat secara langsung merangsang peningkatan populasi mikroba yang akan mendegradasi dan memfermentasi zat nutrisi ransum komplit baik untuk kebutuhan ternak maupun sintesis tubuh mikroba sendiri serta memproduksi gas yang semakin meningkat. Menurut Firsoni (2005), gas merupakan gambaran banyaknya bahan organik yang dapat dicerna di dalam rumen. Produksi gas total yang dihasilkan berasal dari pakan yang difermentasi dan gas ini menjadi terakumulasi di dalam syringe diduga akibat tidak adanya penyerapan dalam sistem in vitro. Rataan produksi gas untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Produksi Gas in vitro (ml/200 mg BK) Ransum Komplit Perlakuan
Perlakuan Ulangan Rataan ± SD
1 2 3 4
R1 24,66 29,34 27,57 28,91 27,62 ± 2,11a
R2 25,72 29,87 27,61 28,95 28,04 ± 1,80a
R3 26,65 30,55 27,96 29,02 28,54 ± 1,65b
R4 26,91 30,74 28,15 29,29 28,77 ± 1,63b
Keterangan : Nilai dengan superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan
yang nyata (p<0,05). R1 = Ransum kontrol (70% rumput lapang + 30% konsentrat), R2
= 70% rumput lapang + 25% konsentrat + 5% SKN, R3 = 70% rumput lapang + 20% konsentrat + 10% SKN, R4 = 70% rumput lapang + 15% konsentrat + 15% SKN
Hasil uji ortogonal polinomial menjelaskan bahwa hubungan taraf penggunaan SKN dalam ransum dengan produksi gas total mengikuti persamaan
linier Y = 0,0792x + 27,6490, nilai R2 = 0,9805, dengan Y adalah produksi gas total dan X adalah persentase penambahan SKN. Hal ini berarti bahwa setiap penambahan level SKN ke dalam ransum komplit sebesar 1% akan meningkatkan produksi gas total sebesar 0,0792 ml/200 mg BK. Analisis korelasi menunjukkan bahwa peningkatan level SKN dan produksi gas total mempunyai hubungan yang sangat erat. Hal tersebut ditunjukkan oleh koefisien korelasi yang tinggi dan berbanding lurus.
Produksi gas ransum komplit semakin meningkat seiring dengan lamanya waktu inkubasi. Pada waktu inkubasi 3 jam mulai terlihat pengaruh penambahan SKN terhadap peningkatan produksi gas yang dihasilkan. Hal ini terlihat pada Tabel 12, bahwa pada masing-masing lama waktu inkubasi 3 dan 6 jam terjadi peningkatan produksi gas secara signifikan (p<0,05). Waktu ini merupakan waktu optimal dalam menghasilkan produksi gas yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh waktu setelah pemberian pakan sehingga masih terdapat banyak zat makanan yang dapat didegradasi oleh mikroba rumen dan dapat diubah menjadi gas. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang diperoleh Firsoni (2005), yaitu penambahan UMB kelor dan glirisidia terhadap peningkatan produksi gas berpengaruh nyata (p<0,05) pada masing-masing lama waktu inkubasi 2, 4, 8 dan 12 jam.
Tabel 12. Produksi Gas in vitro (ml/200 mg BK) pada Waktu Inkubasi yang Berbeda (jam)
Perlakuan Lama Inkubasi (jam)
3 6 9 12 24 48 R1 3,55±0,78a 6,54±0,93a 9,82±1,67 12,44±1,72 20,18±2,15a 27,62±2,11a
R2 3,82±0,87a 6,84±1,05b 10,11±1,48 12,80±1,59 20,42±2,03a 28,04±1,80a
R3 3,91±0,77b 6,76±1,07a 9,89±1,54 12,60±1,52 20,57±2,24b 28,54±1,65b
R4 4,06±0,55b 7,22±0,88c 10,11±1,22 12,80±1,17 21,02±1,81b 28,77±1,63b
Keterangan : Nilai dengan superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,05). R1 = Ransum kontrol (70% rumput lapang + 30% konsentrat), R2
= 70% rumput lapang + 25% konsentrat + 5% SKN, R3 = 70% rumput lapang + 20% konsentrat + 10% SKN, R4 = 70% rumput lapang + 15% konsentrat + 15% SKN
Peningkatan produksi gas ransum komplit perlakuan yang dihasilkan untuk setiap waktu inkubasi cenderung stabil. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 12. Produksi gas setelah inkubasi 3 dan 6 jam meningkat, tetapi tidak sebesar
peningkatan produksi gas inkubasi 3 dan 6 jam. Pola produksi gas secara kumulatif meningkat hingga mencapai waktu inkubasi 48 jam.
Produksi gas untuk waktu 24 jam terlihat tetap meningkat dan waktu inkubasi 48 jam mengalami sedikit penurunan (Gambar 8). Kondisi ini pun diduga bahwa pada waktu inkubasi 24 jam tersebut masih terdapat sumber karbohidrat mudah tercerna (Readily Available Carbohydrate) dalam jumlah yang cukup untuk memproduksi gas yaitu molasses, pati dan urea (sumber NPN) yang terkandung di dalam SKN. Hal ini sesuai dengan pendapat Kurniawati (2007), yaitu peningkatan jumlah karbohidrat mudah terdegradasi sangat mempengaruhi (p<0,01) produksi gas selama 24 jam. Menurut Winugroho et al. (1997), puncak produksi gas diperoleh pada 24 jam pertama, selanjutnya mengalami penurunan hingga saat 96 jam dan akhirnya mencapai titik nol. Hal semacam ini akan terjadi untuk semua jenis pakan oleh karena semakin lama suatu jenis pakan dalam rumen semakin berkurang sumber protein dari pakan yang dapat diubah menjadi NH3 untuk dimanfaatkan oleh mikroorganisme. 0 10 20 30 40 0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 33 36 39 42 45 48
Lama Inkubasi (jam)
P rod u k si Gas T ot al ( m l/200 m g B K ) R1 R2 R3 R4
Gambar 8. Laju Produksi Gas in vitro (ml/200 mg BK) pada Waktu Inkubasi 0-48 jam
Menurut Dewi (2007), kemungkinan bakteri selulolitiklah yang mampu bertahan hidup setelah 24 jam inkubasi, karena fase pertumbuhan bakteri ini lebih lambat dibandingkan dengan bakteri amilolitik dan proteolitik. Pakan sumber energi yang tersisa pada waktu inkubasi 24 jam dan 48 jam masih dapat didegradasi oleh bakteri selulolitik sehingga produksi gas tetap berlanjut walaupun laju produksi gasnya mengalami penurunan.
Ransum komplit mengandung 70% rumput lapang dan beberapa pakan sumber energi lain yang mudah tercerna (molases, bekatul dan onggok). Semakin meningkatnya penambahan SKN ke dalam ransum komplit menunjukkan bahwa semakin meningkatnya pula pakan sumber energi mudah tercerna di dalam ransum komplit perlakuan sehingga juga dapat meningkatkan kandungan energi dan protein ransum komplit. Hal ini terlihat bahwa ransum perlakuan R4 menghasilkan produksi gas tertinggi. Tingginya produksi gas yang dihasilkan oleh ransum komplit perlakuan dapat menunjukkan adanya aktivitas mikroba dalam saluran pencernaan (rumen). Menurut Suharyono et al. (1982), pemanfaatan pati/gula/selulosa/urea dalam ransum menyebabkan produksi protein mikroba sangat efisien. Banyaknya mikroba rumen yang terbentuk pun dapat meningkatkan aktivitasnya dalam mendegradasi pakan dan menghasilkan produksi gas yang tetap tinggi.
Penambahan kunyit ke dalam ransum komplit sangat berperan dalam peningkatan kualitas susu sapi. Kunyit berperan sebagai bakteriostatik yang dapat membuat bakteri menjadi inaktif. Pemberian suplemen mineral organik dan kunyit mampu memperbaiki mastitis pada sapi perah (Tanuwiria, 2006). Kunyit juga diduga sebagai bahan dapat menurunkan laju degradasi bahan dan memproteksi bahan organik dari degradasi. Hal ini dapat bernilai positif jika bahan organik dicerna di organ pasca rumen (Hasanah, 2007).
Konsentrasi VFA Total
Proses degradasi karbohidrat dalam rumen terjadi melalui dua tahap yaitu pemecahan karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana dan pemecahan gula sederhana menjadi asam asetat, asam propionat, asam butirat, CO2 dan CH4 (McDonald et al., 2002). VFA merupakan produk akhir fermentasi karbohidrat dan merupakan sumber energi utama ruminansia asal rumen (Hungate, 1966).
Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa taraf pemberian SKN ke dalam ransum perlakuan mempengaruhi konsentrasi VFA total (p<0,05). Selanjutnya hasil uji ortogonal kontras memperlihatkan terjadinya perbedaan yang nyata antara perlakuan R1 dan R3 dengan perlakuan R2 dan R4 (p<0,05) dalam VFA (Tabel 13). Meskipun demikian, VFA dari ransum R1 tidak berbeda dengan VFA dari ransum R3, demikian pula antara VFA ransum R2 dengan VFA ransum R4. Walaupun demikian, R4 tetap menghasilkan VFA total lebih tinggi dibandingkan dengan R2, karena R4 mengandung banyak sumber karbohidrat dan protein mudah terdegradasi. Hal ini dapat dilihat dari konsentrasi VFA yang dihasilkan R4 (77,35 mM) lebih tinggi dibandingkan R2 (72,55 mM).
Tabel 13. Konsentrasi VFA Total in vitro (mM) Ransum Komplit Perlakuan
Perlakuan Ulangan Rataan ± SD
1 2 3 4
R1 54,26 68,71 69,99 66,97 64,98 ± 7,25a
R2 71,40 71,83 79,99 66,97 72,55 ± 5,43b
R3 68,54 73,39 68,33 76,54 71,70 ± 3,98a
R4 68,54 84,32 79,99 76,54 77,35 ± 6,68b
Keterangan : Nilai dengan superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,05). R1 = Ransum kontrol (70% rumput lapang + 30% konsentrat), R2
= 70% rumput lapang + 25% konsentrat + 5% SKN, R3 = 70% rumput lapang + 20% konsentrat + 10% SKN, R4 = 70% rumput lapang + 15% konsentrat + 15% SKN
Konsentrasi VFA total yang dihasilkan lebih tinggi (72,55 mM) untuk ransum komplit perlakuan R2 dibandingkan dengan VFA total (64,98 mM) yang dihasilkan oleh ransum kontrol R1. Hal ini berarti penambahan SKN mampu meningkatkan konsentrasi VFA total. Walaupun dalam setiap ransum komplit memiliki komposisi rumput lapang yang sama (70%), sumber karbohidrat (energi) yang berasal dari karbohidrat mudah tercerna akan semakin meningkat untuk setiap penambahan level SKN. Kondisi ini disebabkan oleh sumber karbohidrat mudah tercerna yang terdapat dalam SKN juga menyumbang kadar energi untuk ransum komplit sehingga semakin tinggi level penambahan SKN akan meningkatkan kandungan energi di dalam ransum komplit perlakuan. Bahan organik yang mudah terfermentasi (Readily Available Carbohydrate) yang terkandung dalam SKN seperti molases dan pati. Pakan yang mengandung gula dan pati yang mudah terfermentasi (molases dan
onggok) akan memenuhi kebutuhan mikroba secara cepat setelah pemberian pakan (Dixon, 1986).
Rataan konsentrasi VFA total untuk ransum perlakuan R3 (71,70 mM) menurun sebesar 0,85 mM dari rataan konsentrasi VFA total ransum perlakuan R2 (72,55 mM). Penurunan VFA diduga berhubungan dengan peningkatan kecernaan zat makanan, dimana VFA tersebut digunakan sebagai sumber energi mikroba untuk mensintesis protein mikroba dan digunakan untuk pertumbuhan sel tubuhnya (Sakinah, 2005). Hal ini pun dapat dilihat pada Tabel 13. Perlakuan R3 dapat menurunkan konsentrasi VFA total (71,70 mM) dan meningkatkan degradabilitas bahan kering sebesar 49,45% (Tabel 16) serta bahan organik sebesar 46,88% (Tabel 17), dikarenakan VFA tersebut telah digunakan untuk pembentukan tubuh mikroba. Menurut Sutardi (1980), konsentrasi VFA total dalam rumen berkurang karena digunakan oleh mikroba rumen sebagai sumber energi dan diserap oleh dinding rumen. Akan tetapi, penelitian ini dilakukan secara in vitro sehingga VFA tidak mungkin untuk diserap oleh dinding rumen. Aktivitas mikroba yang bervariasi dalam mencerna diduga juga dapat mempengaruhi VFA yang terbentuk. Selain itu, nilai VFA total yang lebih rendah pada R3 ini dapat disebabkan adanya pencampuran pakan dalam ransum yang kurang homogen.
Konsentrasi VFA tertinggi dihasilkan oleh ransum komplit perlakuan R4 dengan penambahan level SKN tertinggi (15%), yaitu sebesar 77,35 mM. Hal ini berarti bahwa kombinasi rumput lapang 70%, konsentrat 15% dan SKN 15% merupakan kombinasi optimal dalam memproduksi VFA tinggi. Tingginya VFA yang dihasilkan menggambarkan tingginya pula fermentabilitas pakan yang terjadi di dalam rumen. Peningkatan (akumulasi) produksi VFA total disebabkan tidak adanya pengeluaran VFA melalui penyerapan dalam sistem in vitro dan VFA hanya dimanfaatkan oleh mikroba rumen (Silalahi, 2003). Peningkatan konsentrasi VFA mencerminkan peningkatan sumber protein dan karbohidrat yang mudah tercerna (bahan organik) di dalam ransum komplit perlakuan R4 yang dapat difermentasi oleh mikroba rumen. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang diperoleh Blummel et al. (1993), yaitu peningkatan karbohidrat mudah terdegradasi meningkatkan bahan kering tercerna. Bahan kering tercerna akan diubah oleh mikroba rumen menjadi VFA dan protein mikroba dengan meningkatnya pertumbuhan. Penambahan sumber
protein tidak dapat menstimulasi pertumbuhan mikroba rumen tanpa diimbangi penambahan sumber karbohidrat mudah terdegradasi.
Rataan konsentrasi VFA total yang dihasilkan oleh bakteri rumen pada ransum komplit yang ditambahkan dengan SKN berkisar antara 64,98-77,35 mM. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 13. Konsentrasi tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan kisaran optimum untuk berlangsungnya sintesis protein mikroba yaitu sebesar 80-160 mM (Sutardi, 1980). Kondisi ini diduga karena karbohidrat mudah terfermentasi (molases dan pati) yang terkandung di dalam SKN rendah walaupun kandungan serat kasar ransum komplit cukup tinggi (27,92% BK). Serat kasar yang cukup tinggi tersebut kemungkinan banyak mengandung dinding sel dan lignin sehingga bagian isi sel sedikit sekali yang difermentasi oleh mikroba rumen dan konsentrasi VFA total menjadi rendah (Selly, 1994). Lamanya waktu inkubasi 48 jam juga dapat mempengaruhi konsentrasi VFA yang dihasilkan. Menurut Danirih (2004), suplementasi Feed Block Supplement (FBS) ke dalam ransum dapat memproduksi VFA total optimum sebesar 126,25-144,77 mM pada waktu inkubasi 2-4 jam. Proses metabolisme karbohidrat akan menghasilkan konsentrasi VFA yang cukup tinggi pada awal inkubasi, namun pada saat pengambilan sampel konsentrasi VFA sudah berkurang karena telah digunakan oleh mikroba rumen untuk membentuk protein mikroba (Rahmawati, 2001). Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan produksi biomassa mikroba (Tabel 15). Selain itu, menurut Setiani (2002) dan Putri (2006), konsentrasi VFA rendah adalah banyaknya energi (VFA sebagai kerangka karbon) yang terpakai pada setiap mol amonia yang digunakan untuk sintesis protein mikroba dalam kondisi in vitro.
Hasil uji ortogonal polinomial memperlihatkan bahwa korelasi positif antara produksi VFA total (mM) dan level SKN (%), nilai R2 = 0,8452 serta persamaan linier Y = 0,7250x + 66,2070, dengan Y adalah konsentrasi VFA total dan X adalah persentase penambahan SKN. Analisis korelasi menunjukkan bahwa peningkatan level SKN dan konsentrasi VFA total mempunyai hubungan yang erat. Hal tersebut ditunjukkan oleh koefisien korelasi yang tinggi dan berbanding lurus.
Semakin meningkatnya penambahan SKN ke dalam ransum komplit berarti mineral organik yang dikandung juga semakin banyak. Suplementasi mineral Zn organik dapat membantu meningkatkan fermentabilitas pakan. Semakin banyak
jumlah sel bakteri selulolitik dalam cairan rumen maka konsentrasi VFA total semakin tinggi (Silalahi, 2003). Penambahan ampas teh dan daun kembang sepatu ke dalam SKN juga dapat meningkatkan produksi VFA total. Hal ini didukung oleh pernyataan Setiani (2002), fermentasi karbohidrat dari kombinasi 50% ampas teh dan 50% kembang sepatu merupakan kombinasi optimal untuk menghasilkan produksi VFA tinggi. Hal ini diduga karena terjadinya degradasi sempurna fraksi-fraksi yang mudah difermentasi dari daun kembang sepatu dan ampas teh. Penambahan agen defaunasi, mineral organik dan protein bypass (ampas teh) sebenarnya bernilai positif jika digunakan untuk pencernaan di organ pasca rumen (usus halus) pada ternak ruminansia.
Konsentrasi Amonia (NH3)
Amonia digunakan oleh mikroba rumen terutama bakteri untuk mensintesis protein selnya. Amonia dihasilkan oleh protein yang didegradasi oleh enzim proteolitik. Enzim proteolitik dihasilkan oleh bakteri menjadi peptida dan asam-asam amino. Selanjutnya asam-asam amino mengalami deaminasi dan menghasilkan amonia. Amonia merupakan sumber nitrogen yang utama dan penting untuk sintesis protein mikroba. Sekitar 82% spesies mikroba mampu menggunakan amonia sebagai sumber nitrogen (Sutardi, 1980).
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa taraf pemberian SKN ke dalam ransum perlakuan sangat berpengaruh (p<0,01) meningkatkan konsentrasi NH3. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 14. Komposisi dan kualitas ransum (sumber nitrogen dan level N dalam ransum) diduga menjadi penyebab konsentrasi NH3 berbeda diantara perlakuan. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang diperoleh Putri (2006), yaitu penggunaan SPM dan UMMB sebagai suplemen ransum peternak KUNAK secara in vitro mempengaruhi konsentrasi NH3 yang dihasilkan.
Berdasarkan hasil uji ortogonal kontras, perlakuan R1 dan R2 berbeda (p<0,01) dalam konsentrasi NH3 (Tabel 14). Hal ini menunjukkan bahwa ransum komplit R2 lebih tinggi dalam menghasilkan NH3 daripada ransum komplit kontrol R1, karena R2 mengandung sumber protein mudah terdegradasi lebih banyak dibandingkan R1. Kondisi tersebut juga berarti bahwa bakteri rumen mendapatkan cukup sumber protein yang berbeda kualitasnya untuk didegradasi sehingga
menghasilkan konsentrasi NH3 yang sangat berbeda nilainya. Hasil penelitian Wohlt et al. (1976) menjelaskan bahwa pengukuran NH3 in vitro dapat digunakan untuk menduga degradasi protein dan penggunaannya oleh mikroba. Konsentrasi NH3 perlakuan R3 dan R4 berbeda (p<0,01) dibandingkan dengan perlakuan R1 dan R2; perbedaan konsentrasi amonia juga terjadi antara R3 dan R4 (p<0,05). Hal ini berarti kuantitas N/protein ransum perlakuan R3 dan R4 lebih tinggi dalam memproduksi NH3 dibandingkan R1 dan R2. Walaupun demikian, perlakuan R4 tetap menghasilkan NH3 yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan R3. Kondisi ini