• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Realisasi Tanam

Realisasi luas tanam kegiatan produksi benih sumber yang dilaksanakan bekerjasama dengan kelompok penangkar di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Bali disajikan pada Tabel 2. Pada tabel terlihat luas tanam untuk kegiatan produksi benih sumber di setiap lokasi penangkaran berbeda, hal ini sangat tergantung dari kemampuan penangkar untuk menyediakan lahan dan petani pelaksana yang benar-benar mengerti dan mau melaksanakan kegiatan penangkaran. Semakin luas lahan yang digunakan untuk menghasilkan benih maka semakin besar modal yang dibutuhkan untuk membeli calon benih dan sebaliknya akan terjadi.

Produksi Benih

Benih padi yang dikembangkan di lokasi penangkaran masih didominasi oleh VUB Ciherang dan Cigeulis. Hal ini dilakukan oleh penangkar karena kedua varietas ini yang paling mudah dipasarkan. Gambaran seperti ini menunjukkan bahwa kedua jenis varietas tersebut masih disukai petani sehingga masih sulit digantikan dengan varietas unggul baru lainnya.

Produksi benih yang diperoleh dari usaha penangkaran benih padi Tahun 2018 dapat dilihat pada Tabel 3. Jumlah calon benih kering sawah (CBKS) yang diproses menjadi calon benih sebanyak 136.434 kg dan dinyatakan lulus uji sementara baru 83.753 ton. Dari hasil panen 29.5 ha, benih yang dihasilkan UPBS BPTP Bali sebanyak 8.850 kg dari kelas BD, BP sampai BR dan sisanya 74.903 kg milik mitra/penangkar. Hasil produksi benih milik UPBS BPTP Bali terdistribusi atau terjual langsung ke penangkar di lokasi demplot.

Tabel 1. VUB yang digunakan dalam pengkajian tahun 2018.

Varietas Kelas benih

Cigeulis BS/FS Ciherang FS/SS IR 64 SS Inpari 24 Gabusan FS Inpari 32 HDB FS Solutan Usrat FS Situbagendit FS Cibogo BS/SS Bondoyudo BS/SS

Inpari 30 Ciherang Sub-1 BS/SS

Inpari 43 Agritan GRS BS/SS

Pemberdayaan Kelompok Penangkar Dalam Produksi Benih Sumber Padi Melalui Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) BPTP Bali | Ni Putu Sutami, dkk.

Tabel 2. Realisasi tanam kegiatan produksi benih sumber padi di Bali T.A. 2018.

Penangkar Varietas yang Kelas Luas Waktu

ditanam benih tanam (Ha)

Tebar Tanam

Subak Kumpul, desa,Bone,

Kec. Blahbatuh,Kab. Gianyar Cigeulis BD 1,5

Cigeulis BB 2,0 25 Januari 2 Februari

Jumlah 3,5

Penangkar Sri Galih Inpari24 Gabusan BD 0,5 25 Januari 15 Pebruari

Tunggal Dewi, desa Cigeulis BD 0,3 25 Januari 15 Pebruari

Sambangan, Kec. Suka- Ciherang BD 0,7 25 Januari 15 Pebruari

sada Kab. Buleleng CiherangIR 64 BPBP 0,51,0 25 Januari 15 Pebruari

1 Mei 21 Mei

Jumlah 3,0

Penangkar Sari Gopala, Cigeulis BD 0,5 7 Mei 27 Mei

Desa Tukamungga, Inpari 32 HDB BD 0,4 8 Mei 25 Mei

Kec. Buleleng,Kab. Buleleng Ciherang BD 0,9 8 Mei 25 Mei

Solutan Unsrat BD 0,5 8 Mei 25 Mei

Jumlah 2,3

Subak Pecelengan, desa Situbagendit BD 0,7 27 Pebruari 13 Maret Mendoyo Kangin, Kec.

Mendoyo, Kab. Jembrana

Jumlah 0,7

Subak Dlod Sema, desa Cigeulis BD 0,8 6 Juni 21 Juni

Sading, Kec. Mengwi, Ciherang BD 0,8 5 Juni 20 Juni

Kab. Badung Towuti BD 0,8 6 Juni 21 Juni

Inpari 24 Gabusan BS 0,4 8 Juni 23 Juni

Inpari 30 BS 0,2 8 Juni 20 Juni

Ciherang Sub-1

Jumlah 3,0

Subak Guama, desa Bondoyodo BS 0,5 8 Mei 25 Mei

Selanbawak, Kec. Marga, Bondoyudo BP 1,0 21Mei 7 Juni

Kab. Tabanan Inpari 30 BS 0,5 10 Mei 27 Mei

Ciherang Sub-1

Inpari 30 BP 1,0 17 Mei 1 Juni

Ciherang Sub-1

Cibogo BS 0,5 8 Mei 25 Mei

Cibogo BP 2,0 17-19 Mei 4-7Juni

Ciherang BD 2,0 17-20 Mei 3-7Juni

Ciherang BD 3,0 19-22 Mei 2-3 Juni

Inpari 43 Agritan GSR BS 0,3 13 Mei 28 Mei Inpari 43 Agritan GSR BP 1,0 15 Mei 1 Juni

Cigeulis BD 3,0 13-15 Mei 1-4 Juni

Cigeulis BD 2,0 15-18 Mei 4-7 Juni

Cigeulis BS 0,2 16 Mei 2 Juni

Jumlah 17,0

117 Di beberapa provinsi banyak petani yang

menggunakan benih pokok (BP) berlabel ungu karena menganggap bahwa kelas benih yang lebih tinggi akan menghasilkan gabah yang lebih banyak. Padahal sertifikasi benih dirancang untuk mengendalikan keaslian dan kemurnian varietas, sehingga potensi genetik dapat tercermin di pertanaman. Wahyuni et al. (2013) melaporkan bahwa mutu benih dari kelas benih yang lebih tinggi tidak selalu lebih baik dibandingkan dengan kelas benih di bawahnya. Sertifikasi benih dirancang untuk

memper-tahankan kemurnian genetik bukan untuk meningkatkan produktivitas (Wahyuni et al. 2013; Mulsanti et al. 2014).

Distribusi Benih

Sampai pada bulan Desember benih yang tersalur di Subak Kumpul, Gianyar sekitar 9 ton dari 13.5 ton yang dihasilkan. Di Subak Pecelengan, Jembrana sudah terdistribusi secara langsung ke lembaga pemerintah (BPTP untuk kegiatan KATAM dan BPTPH) sebanyak Tabel 3. Produksi benih sebar padi pada lokasi penangkaran di Provinsi Bali, 2018.

Kepemilikan Penangkar Varietas yang diproduksi Produksi (kg)

UPBS BPTP Mitra

Subak Kumpul, Gianyar Cigeulis BP 13.500 1.050 12.450

Penangkar Sri Galih Tunggal Inpari 24 Gabusan BP 1.460 150 1.310

Dewi, Buleleng Cigeulis BP 950 90 860

Ciherang BP 1.670 210 1.460

Ciherang BR 1.250 150 1.100

IR 64 BR 1.100 300 800

Jumlah 6.430 900 5.5.30

Kelompok Sari Gopala, Cigeulis BP 1.657 150 1.507

Buleleng Inpari 32 HDB BP 1.508 120 1.388

Ciherang BP 4.609 270 4.339

Solutan Unsrat BP 2.448 150 2.2.98

Jumlah 10.222 690 9.532

Subak Pecelengan, Situbagendit BP 950 210 740

Jembrana

Subak Guama, Tabanan Bondoyudo BD 2.250 150 2.100

Bondoyudo BR 1.051 300 751

Inpari 30 Ciherang Sub-1 BD 1.596 150 1.446

Inpari 30 Ciherang Sub-1 BR 953 300 653

Cibogo BD 2.462 150 2.312 Cibogo BR 3.387 600 2.787 Ciherang BP 7.076 1.500 5.576 Inpari 43 Agritan GSR BD 1.620 90 1.530 Inpari 43 Agritan GSR BR 4.070 300 3.770 Cigeulis BP 12.113 1.500 10.613 Cigeulis BD 1.723 60 1.663 Jumlah 38.331 5.100 33.231

Subak Dlod Sema,Badung Cigeulis BP 4.800 240 4.560

Ciherang BP 1.600 240 1.360

Towuti BP 4.230 240 3.990

Inpari 24 Gabusan BD 2.560 120 2.440

Inpari 30 Ciherang Sub-1 BP 1.130 60 1.070

Jumlah 14.320 900 13.420

Total 83.753 8.850 74.903

Pemberdayaan Kelompok Penangkar Dalam Produksi Benih Sumber Padi Melalui Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) BPTP Bali | Ni Putu Sutami, dkk.

480 kg ke subak lain sekitar 60 kg dan sisanya sebanyak 410 kg akan digunakan di subak sendiri pada musim tanam bulan Februari 2019. Untuk di Penangkar Sri Galih masih tersisa benih Inpari 24 sekitar 300 kg. Untuk di Penangkar Sari Gopala benih yang dihasilkan sudah terdistribusi dan sisanya terutama Inpari 32 HDB dan Solutan Unsrat rencana akan digunakan sendiri dengan luasan tanam 8.0 ha sehingga penyediaan benih diperkirakan akan menghabiskan sekitar 240 kg, dengan asumsi penggunaan benih 30 kg/ha.

Untuk di Subak Guama distribusi benih yang masih tersisa adalah varietas Bondoyudo sekitar 1.1 ton dan Cibogo sekitar 3.0 ton dan Cigeulis sekitar 4.0 ton. Benih yang paling cepat terjual adalah Inpari 43 dan Inpari 30 karena rasa nasi pulen dan produksi bagus. Untuk distribusi benih padi di Subak Dlod Sema Varietas masih ada stok benih Varietas Towuti sekitar 3.4 ton dan Inpari 24 sekitar 1.5 ton. Berikut daftar distribusi benih di provinsi Bali Tahun 2018 dapat dilihat pada Tabel 4.

Tanaman pangan termasuk padi merupakan tanaman semusim yang relatif sensitif terhadap cekaman, terutama cekaman (kelebihan dan kekurangan) air. Peningkatan suhu mengaki-batkan terjadinya peningkatan laju transpirasi yang menurunkan produktivitas tanaman pangan (Las, 2007), meningkatkan komsumsi air,

mempercepat pematangan buah/biji, menurunkan mutu hasil dan berkembangnya berbagai hama penyakit (OPT). Peng et al. (2004) melaporkan bahwa setiap kenaikan suhu minimum 1oC akan menurunkan hasil tanaman padi sebesar 10%. Sementara itu, Matthews et

al. (1997) melaporkan bahwa kenaikan suhu 1oC akan menurunkan produksi 5-7%. Penurunan tersebut disebabkan berkurangnya pembentukan sink, lebih pendeknya periode pertumbuhan dan meningkatnya respirasi (Matthews dan Wassman 2003).

Secara teknis, kerentanan sangat berhubungan dengan sistem penggunaan lahan dan sifat tanah, pola tanam, teknologi pengelolaan tanah, air dan tanaman, serta varietas tanaman (Las et al. 2008). Tiga faktor utama yang terkait dengan perubahan iklim global, yang berdampak terhadap sektor pertanian adalah (1) perubahan pola hujan, (2) meningkatnya kejadian iklim ekstrim (banjir dan kekeringan), (3) peningkatan suhu udara, dan (4) peningkatan muka laut (Las dan Surmaini, 2011). Dalam kegiatan ini dilakukan dengan pola kemitraan yang menguntungkan kedua pihak yaitu BPTP Bali, kelompok tani sebagai produsen gabah calon benih, dan kelompok penangkar sebagai mitra yang melaksanakan prosesing dan pemasaran serta proses promosi benih. Tabel 4. Distribusi/penyaluran benih kegiatan produksi benih sumber padi di Bali T.A. 2018.

Benih Masuk (kg) Benih Keluar (kg) Stok

Varietas Kelas Jumlah PT. SHS/ Peme- Penang- Kelompok Kios/ (kg)

Benih Pertan rintah kar tani pedagang

Cigeulis BP 33.020 6.000 480 3.362 14.863 - 8.315

Inpari 24 Gabusan BP 4.020 1.050 1.170 1.800

Situbagendit BP 950 480 470 0

Ciherang BP 14.955 7.000 1.300 5.000 655 1.000 0

Towuti BP 4.230 810 3.420

Inpari 30 Ciherang Sub-1 BD 1.596 - - - 1.566 - 30

Inpari 30 Ciherang Sub-1 BP 1.130 - - - 1.130 - 0

Inpari 30 Ciherang Sub-1 BR 953 - - - 953 - 0

Inpari 43 Agritan GSR BD 1.620 - 170 1.450 - 0 Inpari 43 Agritan GSR BR 4.070 - 80 - 2.250 1.735 0 IR 64 BR 1.100 - - - 1.100 - 0 Bondoyudo BD 2.250 - 20 - 1.130 - 1.100 Bondoyudo BR 1.051 - - - 800 251 0 Cibogo BD 2.462 962 - 1.500 - - 0 Cibogo BR 3.387 - - - 387 - 3.000 Jumlah 76.794 13.962 2.360 10.032 28.619 4.156 17.665 Persentase(%) 18,18 3,07 13,06 37,26 5,41 23,0

119 Kemitraan juga akan menjamin padi yang

diproduksi oleh petani menjadi benih dan tidak menjadi komsumsi.

KESIMPULAN

Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) BPTP Bali dapat menghasilkan benih (BD,BP,BR) varietas unggul baru bersertifikat dilakukan be-kerjasama dengan pemberdayaan kelembaga-an penkelembaga-angkar benih padi ykelembaga-ang ada di Bali seba-gai penyedian lahan dengan sistem bagi hasil pada awal kegiatan dimana UPBS BPTP Bali mendapatkan 300 kg benih per hektar. Pemba-gian atau kesepakatan ini belum berimbang dan memang masih berpihak kepada penangkar, hal ini dimaksudkan supaya benih yang dihasilkan terdistribusi lebih cepat ke pengguna melalui kegiatan promosi atau diseminasi.

Produksi benih (BD,BP,BR) yang dikembangkan lebih banyak/luas adalah VUB lama seperti Cigeulis, Ciherang yang banyak peminat dan mudah menjual, rasa nasinya pulen serta produksi tinggi dan beberapa VUB seperti IR64, Situbagendit, Towuti, Bondoyudo, Cibogo, Solutan Unsrat serta sedikit coba-coba mengembangkan VUB seperti Inpari 24 Gabusan, Inpari 30 Ciherang Sub-1, Inpari 32 HDB, dan Inpari 43 Agritan GSR.

Kegiatan produksi benih sumber (BD,BP,BR) menghasilkan benih sekitar 83.753 kg, dimana berdasarkan perjanjian UPBS BPTP Bali memperoleh sebanyak 8.850 kg (10.56%) dan mitra sebanyak 74.903 kg. (89.44%) didasarkan atas perjanjian bagi hasil pada saat awal kegiatan.

Kegiatan produksi benih sumber (BD,BP,BR) padi yang dilakukan bekerjasama dengan kelem-bagaan penangkar benih padi menghasilkan produksi benih 83,753 ton dengan rincian 8,850 ton milik UPBS BPTP dan milik mitra (penangkar) sebanyak 74,903 ton. Semua produksi benih milik UPBS BPTP Bali dijual kepada penangkar dengan harga Rp 7.500/kg.