• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kandungan Zat Makanan Ransum Penelitian

Komposisi kimia serbuk gergaji yang digunakan dalam penelitian disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Komposisi Kimia Serbuk Gergaji 1 (as fed dan Bahan Kering)

Komponen % BK % As Fed Bahan Kering - 87,33 Protein Kasar 3,08 2,69 Serat Kasar 79,27 69,23 Lemak 2,23 1,95 BETN 13,86 12,103 Abu 1,56 1,36

Energi Bruto (kkal/kg) - 3541

Keterangan : - sumber: 1. Nurokhmah (2003)

Berdasarkan Tabel 5, kandungan serat kasar serbuk gergaji adalah 69,23%, penggunaan 25% dalam ransum akan menyumbangkan kandungan serat kasar sebesar 17%. Penggunaan serbuk gergaji dalam ransum akan mengubah kandungan zat makanan menjadi lebih rendah. Serbuk gergaji digunakan dalam penelitian ini dikarenakan mudah didapatkan, lebih murah, tidak berbahaya bagi ternak dan belum banyak dimanfaatkan (Jalaludin, 2005).

Komposisi kimia ransum broiler starter dan silase ikan asin dengan daun singkong, kandungan ransum perlakuan periode 4-6 minggu serta susunan dan kandungan zat nutrisi ransum penelitian dapat dilihat pada Tabel 6, 7 dan 8.

Tabel 6. Hasil Analisis Ransum Broiler Starter (BS) dan Silase Ikan Asin- Daun Singkong (SIA-TDS)1(Bahan Kering)

Zat Makanan Ransum BS SIA-TDS

Bahan Kering (%) 88 94,67 Protein Kasar (% BK) 23,86 38,64 Serat Kasar (% BK) 4,55 6,71 Lemak Kasar (% BK) 5,68 - Abu (% BK) 9,09 20,91 Ca (%BK) 1,19 - P (% BK) 0,97 - NaCl (% BK) - 3,05

Energi Bruto (kkal/kg) 4150 4060

Enegi Metabolis (kkla/kg) 2988 2923,2

Keterangan : Energi metabolis didapat dari mengkalikan energi bruto dengan 0,72 (Amrullah, 2003)

Tabel 7.Kandungan Zat Makanan Ransum umur 2-4 minggu Berdasarkan Perhitungan

Zat makanan % BK % As Fed

Bahan Kering - 87,83 Protein Kasar 18,70 16,42 Serat Kasar 23,97 20,31 Lemak 4,82 4,24 Abu 7,22 6,34 Ca - - P - - NaCl - - Energi Metabolis 2241

Keterangan : Energi metabolis didapat dari mengkalikan energi bruto dengan 0,72 (Amrullah, 2003)

Tabel 6. memperlihatkan kandungan nutrisi ransum pada periode pembatasan pakan (2-4 minggu), dimana ayam kekurangan nutrisi dan kelebihan serat kasar. Serat kasar yang tinggi ini akan membuat tembolok lebih besar sehingga ayam dapat mentolerir serat kasar yang tinggi. Menurut Amrullah (2003), serat kasar yang tinggi akan memaksa organ pencernaan bekerja keras dalam penyerapan nutrisi sehingga berdampak terhadap jumlah vili atau jonjot usus yang meningkat dan organ pencernaan menjadi besar dan memanjang.

Tabel 8. Kandungan Zat Makanan Ransum Perlakuan umur 4-6 minggu Berdasarkan Perhitungan

Zat Makanan Ransum Perlakuan

P0 P1 P2 P3 P4

Bahan Kering (%) 87,4 88,37 89,33 90,3 91,27

Protein Kasar (% BK) 24,96 24,01 23,07 22,13 21,19

Serat Kasar (% BK) 7,95 8,15 8,34 8,53 8,72

NaCl (% BK) 0,21 0,47 0,73 1 1,26

Energi Bruto (kkal/kg) 3965,69 4078,19 4190,68 4303,18 4415,67

E M (kkal/kg) 2855,3 2936,3 3017,29 3098,29 3179,28

Keterangan : P0 : 60% JG + 40% BC + 0% Silase; P1 : 60% JG + 30% BC +10% Silase; P2 : 60% JG + 20% BC + 20% Silase; P3 : 60% JG + 10% BC +30% Silase; P4 : 60% JG + 0% BC + 40% Silase.

Berdasarkan Tabel 8. dapat dilihat bahwa semakin tinggi penambahan silase campuran ikan asin dan daun singkong maka semakin tinggi kandungan zat makanan terutama kandungan energi metabolis, serat kasar dan NaCl akan tetapi kandungan proteinnya menurun. Hal ini disebabkan oleh kandungan bahan kering, serat kasar, energi metabolis dan NaCl silase campuran ikan asin dan daun singkong yang tinggi. Tinggi rendahnya kandungan energi ransum mempengaruhi konsumsi ransum. Leeson dan Summers (2001) menyatakan bahwa ayam-ayam cenderung meningkatkan konsumsinya kalau diberi ransum yang rendah nilai energinya. Menurut Wahju (1997) pemberian ransum yang rendah kadar energinya seperti ransum yang mengandung serat kasar tinggi yang tidak dapat dicerna dapat mengakibatkan defisiensi energi.

Konsumsi Ransum

Laju pertumbuhan yang cepat pada ayam broiler diimbangi dengan konsumsi makanan yang tinggi. Rataan konsumsi ransum menurut fase pemberian makanan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Rataan Konsumsi Ransum Ayam Broiler untuk Setiap Perlakuan Selama Penelitian.

Perlakuan Umur Ayam (minggu)

0-2 2-4 (K+SG)1) 2-4 (K-SG)2) 4-6 0-6 P0 630,8 1364,1 1023,04 1191,8 b 2845,64 P1 604,8 1840,6 1380,45 1434,8a 3420,03 P2 536,3 1753,8 1315,35 1206,7b 3058,35 P3 551,8 1580,1 1185,08 1155,9b 2892,80 P4 546,8 1587,3 1190,48 1122,6b 2859,88

Keterangan: Superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05); 1) konsumsi ransum semu atau dengan serbuk gergaji (selama 17 hari); 2) konsumsi ransum sejati (konsumsi ransum semu atau dengan serbuk gergaji dikurangi konsumsi ransum tanpa serbuk gergaji); P0 : 60% JG + 40% BC + 0% Silase; P1 : 60% JG + 30% BC +10% Silase; P2 : 60% JG + 20% BC + 20% Silase; P3 : 60% JG + 10% BC +30% Silase; P4 : 60% JG + 0% BC + 40% Silase.

Berdasarkan Tabel 9, dapat diketahui bahwa konsumsi ransum perlakuan (periode 4-6 minggu) berkisar antara 1191,8 - 1434,78 gram/ekor. Pemberian silase ikan asin dan daun singkong sebagai ransum perlakuan pada periode 4-6 minggu menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap konsumsi ransum. Konsumsi ransum pada perlakuan P1 nyata lebih tinggi (P<0,05) dari P0, P2, P3, P4 (1434,78 vs 1191,8 gram/ekor) ) hal ini disebabkan karena pemberian silase yang tidak terlalu tinggi (sebesar 10%), warna ransum P1 tidak terlalu gelap, bau asam juga tidak terlalu terasa. Penerimaan unggas terhadap makanan dipengaruhi oleh rasa dan tekstur, bau, akibat yang dirasakan setelah makanan ditelan dan tingkah lakunya. Meskipun jumlah titik perasa lebih sedikit dibandingkan hewan lain akan tetapi sensitifitasnya lebih tinggi (Amrullah, 2003). Unggas cenderung lebih suka mengkonsumsi ransum yang lebih terang dibandingkan yang gelap (Leeson and Summers, 2001). Konsumsi ransum perlakuan pada P2, P3, P4 tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol yaitu (P0) 1191,8 gram/ekor, (P2) 1206,7 gram/ekor, (P3) 1155,93 gram/ekor dan (P4) 1122,6 gram/ekor.

Rataan konsumsi kumulatif (6 minggu) perlakuan tidak berbeda nyata dengan kontrol yaitu berkisar antara 2845,64 -3420,03 gram/ekor. Konsumsi ransum per hari pada periode 4-6 minggu ini berkisar antara 70,11-84,4 gram/ekor/hari. Hasil ini lebih rendah dari penelitian Ilahi (2004) bahwa konsumsi ransum pada periode 4-6 minggu berkisar antara 94,07-101,14 gram/ekor/hari gram/ekor.

Pola konsumsi ransum ayam broiler selama penelitian pada periode 0-6 minggu dapat dilihat pada Gambar 1.

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000

Umur Ayam (0-6 minggu)

K ons um si R a ns u m ( g ra m /e k or ) P0 P1 P2 P3 P4

Gambar 1. Histogram Konsumsi Ransum Ayam Broiler Kumulatif (0-6 minggu).

Konsumsi Energi Metabolis dan Protein

Konsumsi energi dan protein merupakan salah satu faktor untuk mengetahui efisiensi penggunaan energi dan protein. Konsumsi energi metabolis dan protein ayam broiler pada periode 4-6 minggu pemeliharaan dapat dilihat pada Tabel 10.

Berdasarkan Tabel 10, dapat diketahui bahwa konsumsi energi metabolis pada periode 2-4 minggu berkisar antara 2292,54-3093,59 kkal/ekor. Jumlah konsumsi energi metabolis per hari pada penelitian ini berkisar antara 134,86 kkal/ekor/hari, hasil ini lebih besar dari jumlah energi metabolis dari Jalaluddin (2005) yaitu berkisar antara 49,93 kkal/ekor/hari-54,83 kkal/ekor/hari. Pada periode 4-6 minggu terlihat bahwa konsumsi energi metabolis semua perlakuan tidak berbeda nyata dengan kontrol, yaitu berkisar antara 3402,95-4212,92 kkal/ekor. Begitu juga

dengan konsumsi energi metabolis kumulatif semua perlakuan tidak berbeda nyata dengan kontrol yaitu berkisar antara 7580,31-9113,65 kkal/ekor.

Tabel 10. Konsumsi Energi Metabolis dan Protein Ayam Broiler Umur 4-6 Minggu

Perlakuan

Konsumsi Energi Metabolis (kkal/ekor) Konsumsi Protein (g/ekor)

Umur (minggu) Umur (minggu)

0-2 2-4 4-6 0-6 0-2 2-4 4-6 0-6 P0 1884,83 2292,54 3402,95 7580,31 132,47 168,98 260,05b 561,5b P1 1807,14 3093,59 4212,92 9113,64 127,01 226,67 304,46a 658,14a P2 1602,46 2947,7 3640,96 7844,49 112,62 215,98 248,7c 577,3b P3 1648,78 2655,76 3581,41 7885,95 115,88 194,59 230,95c 541,42c P4 1633,84 2667,87 3569,06 7870,77 114,83 195,48 217,11c 527,42c

Keterangan : Superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05), P0 : 60% JG + 40% BC + 0% Silase; P1 : 60% JG + 30% BC +10% Silase; P2 : 60% JG + 20% BC + 20% Silase; P3 : 60% JG + 10% BC +30% Silase; P4 : 60% JG + 0% BC + 40% Silase.

Konsumsi protein pada periode 4- 6 minggu berkisar antara 217,11-304,46 gram/ ekor. Pemberian silase campuran ikan asin dan daun singkong pada periode 4-6 minggu menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap konsumsi protein. Konsumsi protein pada perlakuan P1 nyata (P<0,05) lebih tinggi dari P0, P2, P3, P4 (304,46 vs 260,05 gram/ekor) hal ini disebabkan karena penggunaan silase campuran ikan asin dan daun singkong yang tinggi kandungan energinya, sehingga kandungan protein ransum perlakuan rendah. Tingginya pemberian silase campuran ikan asin dan daun singkong ke dalam ransum menyebabkan zat makanan lainnya menurun kecuali serat kasar dan dan energi metabolis ransum. Menurut Suci dan Abdelsamie (1991) perbedaan tingkat energi dan protein akan mempengaruhi konsumsi energi dan protein disamping jenis kelamin, kepadatan ransum, bentuk ransum, pembatasan konsumsi air minum dan temperatur. Konsumsi protein yang rendah kecuali P1 juga disebabkan karena konsumsi ransum yang rendah sehingga konsumsi protein untuk pertumbuhan ayam broiler rendah pula.

Berdasarkan hasil analisis ragam, konsumsi protein komulatif (0-6 minggu) berbeda nyata (P<0,05). Pada perlakuan P1 nyata (P<0,05) lebih tinggi dari P0, P2, P3, dan P4 (658,14 vs 527,42 gram/ekor). Konsumsi ransum kumulatif berkisar antara 527,42-658,14 gram/ekor.

Kecernaan

Kecernaan adalah selisih antara zat-zat makanan yang terkandung dalam makanan yang dimakan dengan zat-zat makanan dalam feses atau jumlah yang tertinggal dalam tubuh hewan atau jumlah zat-zat makanan yang dicerna. Faktor yang mempengaruhi kecernaan adalah suhu, laju perjalanan melalui alat pencernaan, bentuk fisik bahan makanan, komposisi ransum dan pengaruh terhadap perbandingan dari zat makanan lainnya (Anggorodi, 1979).

Nilai kecernaan ransum ayam broiler untuk setiap perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Nilai Kecernaan Ransum Ayam Broiler untuk Setiap Perlakuan

Perlakuan Kecernaan (%) P0 62,58a P1 57,54a P2 32,89b P3 34,04b P4 17,75c

Keterangan : Superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05); P0 : 60% JG + 40% BC + 0% Silase; P1 : 60% JG + 30% BC +10% Silase; P2 : 60% JG+ 20% BC + 20% Silase; P3 : 60% JG + 10% BC +30% Silase;P4 : 60% JG + 0% BC + 40% Silase.

Metode yang dipakai untuk mengetahui nilai kecernaan ini adalah metode indikator internal yaitu pengambilan feses secara acak selama tiga hari terakhir pemeliharaan. Berdasarkan Tabel 11, dapat dilihat bahwa pemberian silase ikan asin dan daun singkong kecernaannya nyata (P<0,05) lebih rendah dari kontrol kecuali P1. Kisaran kecernaan ransum adalah 17,75 - 62,58%. Kecernaan yang paling rendah terdapat pada perlakuan P4 yaitu 17,75% hal ini disebabkan karena kadar garam yang tinggi dalam ransum perlakuan, sehingga ayam perlu minum yang banyak untuk mengeluarkan kadar garam yang tinggi tersebut. Kadar garam yang tinggi dalam saluran pencernaan menyebabkan keadaan yang hipertonis dalam usus sehingga air tubuh yang seharusnya digunakan untuk absorpsi zat-zat makanan akan digunakan untuk mengelurkan garam tersebut, maka adalam saluran pencernaan tidak terjadi penyerapan zat makanan secara optimal, sehingga banyak zat makanan

yang langsung keluar melalui feses tanpa dicerna dahulu. Kadar garam yang optimal dalam ransum adalah sekitar 0,5% Bearse dan Berg (1946) dalam Ewing (1963).

Selain kadar garam serat kasar juga berpengaruh terhadap penyerapan zat-zat makanan dalam saluran pencernaan. Serat kasar dalam ransum perlakuan berkisar antara 7,95-8,72%. Menurut Wahyu (1997) serat kasar yang ideal dalam ransum ayam broiler yaitu 2-3% dan maksimum diberikan sampai 6%. Serat kasar yang tinggi menyebabkan penyerapan zat-zat makanan terganggu sehingga zat-zat makanan akan ikut terbuang bersama dengan feses. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasyaf (1999) bahwa kandungan serat kasar yang tinggi dapat mengakibatkan kecernaan ransum menurun karena lebih banyak nutrisi penting yang dikeluarkan melalui feses sebelum mengalami absorbsi sehingga mengakibatkan pertumbuhan terhambat. Serat kasar diduga kaya akan lignin dan selulosa sehingga sulit dicerna (Amrullah, 2003)

Histogram nilai kecernaan ransum ayam broiler dapat dilihat pada Gambar 2.

0 10 20 30 40 50 60 70 P0 P1 P2 P3 P4 Perlakuan K ece rn aan ( % )

Gambar 2. Nilai Kecernaan Ransum Ayam Broiler

Efisiensi Penggunaan Zat Makanan (Energi dan Protein)

Nilai efisiensi zat makanan (energi dan Protein) pada periode realimentasi (4-6 minggu) disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12. Rasio Efisiensi Energi dan Protein terhadap Pertambahan Bobot Badan

Perlakuan Efisiensi Penggunaan Zat Makanan

Energi (kkal/g)1) Protein (gram/ekor) 2)

2-4 mgg 4-6 mgg 0-6 mgg 2-4 mgg 4-6 mgg 0-6 mgg P0 0,26 0,08a 0,15 3,5 1,11a 2,08 P1 0,22 0,06a 0,13 3,0 0,84a 1,84 P2 0,22 0,03b 0,14 2,96 0,48b 1,91 P3 0,21 0,04a 0,13 2,93 0,66a 1,91 P4 0,22 0,02b 0,12 3,0 0,37b 1,83

Keterangan : Superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05);.1) Rasio konsumsi energi dengan pertambahan bobot badan; 2) rasio konsumsi protein dengan pertambahan bobot badan; P0 : 60% JG + 40% BC + 0% Silase; P1 : 60% JG + 30% BC +10% Silase; P2 : 60% JG + 20% BC + 20% Silase; P3 : 60% JG + 10% BC +30% Silase; P4 : 60% JG + 0% BC + 40% Silase.

Pada periode 2-4 minggu, efisiensi penggunaan energi berkisar antara 0,21-0,26 kkal/g. Nilai efisiensi penggunaan energi tersebut lebih kecil dari nilai efisiensi penggunaan energi hasil penelitian Nurokhmah (2003) , Ilahi (2004) dan Jalaluddin (2005) yaitu 7,86 kkal/g, 2,24-2,65 kkal/g dan 2,48-2,67 kkal/g. Pada periode 4-6 minggu, efisiensi penggunaan energi berkisar antara 0,02-0,08 kkal/g. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian silase campuran ikan asin dan daun singkong dalam ransum memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap efisiensi penggunaan energi. Perlakuan P1 dan P3 efisiensi penggunaan energi tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol, sedangkan untuk P2, P4 nilai efisiensi penggunaan energinya nyata (P<0,05) lebih rendah dari kontrol. Nilai efisiensi penggunaan energi yang rendah ini dikarenakan konsumsi energi yang tinggi tidak disertai dengan pertambahan bobot badan yang tinggi pula.. Penggunaan silase campuran ikan asin dan daun singkong juga menyebabkan kandungan energi ransum tinggi sehingga efisiensi penggunaan energi semakin tinggi. Begitu juga dengan efisiensi penggunaan energi kumulatif, efisiensi penggunaan energi kumulatf tidak berbeda nyata antar perlakuan, yaitu berkisar antara 5,05-7,63 kkal/gram. Hal ini juga memperjelas bahwa pemberian silase campuran ikan asin dan daun singkong pada periode realimentasi menurunkan efisiensi penggunaan energi pada ransum.

Efisiensi penggunaan protein ayam broiler pada periode 2-4 minggu berkisar antara 2,93-3,5 gram/ekor. Nilai efisiensi penggunaan protein tersebut lebih tinggi dari pada penelitian Jalaluddin (2005) yaitu berkisar antara 0,21-0,22 gram/ekor. Berdasarkan hasil analis ragam menunjukkan bahwa silase campuran ikan asin dan daun singkong dalam ransum nyata (P<0,05) mempengaruhi nilai efisiensi penggunaan protein. Perlakuan P1 dan P3 tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol, sedangkan untuk perlakuan P2 dan P4 nyata (P<0,05) lebih rendah dari kontrol, hal ini disebabkan karena konsumsi protein yang rendah serta pertambahan bobot badan yang rendah pula. Efisiensi penggunaan protein pada periode 4-6 minggu dengan pemberian silase campuran ikan asin dan daun singkong berkisar antara 0,9-2,68 gram/ekor. Efisiensi penggunaan protein kumulatif (0-6 minggu) tidak berbeda nyata dengan kontrol, berkisar antara 1,14-1,25 gram/ekor, hal ini berarti bahwa pemberian silase campuran ikan asin dan daun singkong pada ransum menghasilkan efisiensi penggunaan protein yang tidak jauh berbeda dengan kontrol.

Performa Ayam Broiler Penelitian Bobot Badan Akhir

Bobot badan akhir yang tinggi merupakan tujuan dari budidaya ayam broiler yang diusahakan oleh peternak, hal ini sangat berpengaruh terhadap nilai jual produk daging ayam broiler yang dihasilkan. Rataan bobot badan akhir pada akhir pemeliharaan ayam broiler dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Rataan Bobot Badan Akhir Ayam Broiler Selama Penelitian

Perlakuan Rataan Bobot Badan Akhir (gram/ekor)

P0 1198,0a

P1 1241,1a

P2 1132,7a

P3 1066,6b

P4 998,4b

Ketrrangan : Superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05); P0 : 60% JG + 40% BC + 0% Silase; P1 : 60% JG + 30% BC +10% Silase; P2 : 60% JG + 20% BC + 20% Silase; P3 : 60% JG + 10% BC +30% Silase; P4 : 60% JG + 0% BC + 40% Silase.

Berdasarkan Tabel 13, dapat dilihat bahwa pemberian ransum perlakuan silase campuran ikan asin dan daun singkong nyata (P<0,05) menurunkan bobot badan akhir kecuali pada perlakuan P1 dan P2. Rataan bobot badan akhir pada

perlakuan P1 dan P2 tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol yaitu sebesar 1241,1 dan 1132,7 vs 1198 gram/ekor. Rataan bobot badan akhir yang dihasilkan dari pemberian silase campuran ikan asin dan daun singkong 30% dan 40% lebih rendah dibandingkan rataan bobot badan akhir tanpa pemberian silase campuran ikan asin dan daun singkong (P0) yaitu P3 sebesar 1066,6 gram/ekor dan P4 sebesar 998,4 gram/ekor. Hal ini berhubungan dengan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Konsumsi ransum dengan pemberian silase campuran ikan asin dan daun singkong nyata (P<0,05) menghasilkan bobot badan yang rendah kecuali P1 dan P2, sehingga konversi ransum yang dihasilkan menjadi lebih besar dibandingkan dengan kontrol (P0). Angka konversi yang besar ini menghasilkan bobot badan akhir yang lebih rendah. Pemberian silase campuran ikan asin dan daun singkong sampai taraf 20% masih dianjurkan melihat bobot badan akhirnya relatif sama dengan kontrol.

Histogram rataan bobot badan akhir ayam broiler selama penelitian untuk setiap perlakuan dapat dilihat pada Gambar 3.

0 200 400 600 800 1000 1200 1400 P0 P1 P2 P3 P4 Ransum Perlakuan R a ta a n B obot B a da n A khi r ( g/ e kor )

Gambar 3. Histogram Rataan Bobot Badan Akhir Ayam Broiler Selama Penelitian Untuk Setiap Perlakuan

Pertambahan Bobot Badan

Pertambahan bobot badan merupakan salah satu ukuran yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan. Faktor pendukung pertumbuhan ayam adalah kualitas dan kuantitas makanan, temperatur dan pemeliharaan (Rasyaf,1999). Rataan

pertambahan bobot badan untuk setiap fase penberian makanan dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Rataan Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler Selama Penelitian

Perlakuan Umur Ayam (minggu)

0-2 2-4 1) 4-6 0-6 P0 302,98 593,7 288,6a 1165,4a P1 271,5 681,7 255,45a 1208,5a P2 312,1 638,71 157,65b 1099,9a P3 312,2 569,41 151,6c 1033,2b P4 332,55 587,01 80,95c 964,9b

Keterangan : 1) pemberian serbuk gergaji selama 17 hari, superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05); P0 : 60% JG + 40% BC + 0% Silase; P1 : 60% JG + 30% BC +10% Silase; P2 : 60% JG + 20% BC + 20% Silase; P3 : 60% JG + 10% BC +30% Silase; P4 : 60% JG + 0% BC + 40% Silase.

Pemberian serbuk gergaji sebanyak 25% pada periode 2-4 minggu menghasilkan pertambahan bobot badan berkisar antara 569,41-681,7 gram/ekor. Pertambahan bobot badan per hari pada penelitian ini berkisar antara 33,49-40,1 gram/ekor/hari, hasil ini lebih besar dari pertambahan bobot badan hasil penelitian Jalaluddin (2005) dan Nurokhmah (2003) yaitu berkisar antara 18,71-21,45 gram/ekor/hari dan 28 gram/ekor/hari.

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penggunaan silase campuran ikan asin dan daun singkong dalam ransum pada periode 4-6 minggu memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot badan. Dimana pertambahan bobot badan P1 tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol, sedangkan untuk P2, P3 dan P4 nyata (P<0,05) lebih rendah dari kontrol (255,45 (P1); 157,65 (P2); 151,6 (P3); 80,95 (P4) (P0) vs 288,6 gram/ekor). Dengan demikian penggunaan silase campuran ikan asin dan daun singkong nyata (P<0,05) menurunkan pertambahan bobot badan pada perlakuan P2, P3, dan P4. Tingginya pertambahan bobot badan pada P1 disebabkan karena konsumsi ransum P1 lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan yang lain.

Penurunan pertambahan bobot badan setelah diberikan silase campuran ikan asin dan daun singkong pada perlakuan P2, P3 dan P4 ini disebabkan adanya kadar

Bearse dan Berg (1946) dalam Ewing (1963) melaporkan bahwa pemakaian garam yang bagus adalah 0,5% pada umur 3-8 minggu. Level tersebut sudah termasuk optimum. Tingginya kadar garam dalam ransum perlakuan menyebabkan ayam banyak minum, akan tetapi air minum yang diberikan pada penelitian ini kurang, karena aktifitas ayam yang banyak sehingga air banyak yang tumpah. Kadar garam yang tinggi pada saluran pencernaan jika tidak dibuang akan menyebabkan keadaan hipertonis pada usus sehingga air tubuh yang seharusnya untuk absorpsi zat-zat makanan akan digunakan untuk membuang garam yang tinggi pada tubuh ayam melalui feses yang encer. Hal ini akan menyebabkan terganggunya penyerapan zat- zat makanan dalam saluran pencernaan. Zat-zat makanan yang ikut terbuang tersebut mengakibatkan kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan menjadi tidak tercukupi.

Rendahnya konsumsi energi dan protein juga dapat mengakibatkan pertambahan bobot badan yang rendah, karena dengan konsumsi energi dan protein yang rendah hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok saja, sehingga kebutuhan lain seperti pembentukan daging tidak terpenuhi. Kecernaan ransum yang rendah juga mengakibatkan pertambahan bobot badan rendah, karena banyak zat-zat makanan yang terbuang melalui feses.

Lamanya waktu pembatasan nutrisi juga mempengaruhi pertambahan bobot badan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan hewan untuk menunjukkan pertumbuhan kompensasi adalah (1) faktor genetik, (2) awal waktu pembatasan nutrisi (3) lamanya waktu pembatasan nutrisi (4) jenis ransum yang digunakan (Wilson dan Osbourn, 1960 ; Nurokhmah, 2003 ; Ilahi, 2004). Pada penelitian ini waktu pembatasan ransum adalah 17 hari, sehingga ayam tidak dapat mengejar kelambatan tumbuhnya. Rendahnya pertambahan bobot badan ini terjadi karena waktu yang dibutuhkan untuk mengkompensasikan pertumbuhannya sedikit yaitu 11 hari.

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan kumulatif (0-6 minggu), berbeda nyata (P<0,05). P1 dan P2 tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol, pertambahan bobot badan kumulatif nyata (P<0,05) menurun pada perlakuan P3 dan P4 (1033,2 (P3), 964,9 (P4) vs 1165,4 (P0) gram/ekor), kisaran rataan pertambahan bobot badan kumulatif yaitu 964,9-1208,5 gram/ekor. Pemberian silase campuran ikan asin dan daun singkong sampai taraf

20% masih bisa dianjurkan karena memiliki pertambahan bobot badan yang tidak berbeda nyata dengan kontrol.

Grafik pertambahan bobot badan ayam broiler selama periode pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 4.

0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1 2 3 4 5 6 Umur (minggu) P B B ( gr a m /e kor ) P0 P1 P2 P3 P4

Gambar 4. Grafik Pertambahan Bobot Badan (PBB) Ayam Broiler Selama Penelitian (K + SG selama 17 hari)

Konversi Ransum

Konversi ransum sangat penting diperhatikan karena erat hubungannya dengan biaya produksi, semakin rendah konversi ransum maka semakin efisien karena semakin sedikit jumlah ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan pertambahan bobot badan dalam jangka waktu tertentu.

Nilai konversi ransum ayam broiler untuk setiap perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Rataan Konversi Ransum Ayam Broiler Untuk Setiap Perlakuan Selama Penelitian

Perlakuan

Umur Ayam (minggu)

0-2 2-4 (K+SG) 2-4 (K-SG) 4-6 0-6 P0 2,08 2,3 1,73 4,13a 2,44 P1 2,23 2,7 2,03 5,62a 2,83 P2 1,72 2,8 2,06 8,93b 2,78 P3 1,77 2,8 2,08 7,62a 2,8 P4 1,64 2,7 2,03 13,87c 2,96

Keterangan : Superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05); P0 : 60% JG + 40% BC + 0% Silase; P1 : 60% JG + 30% BC +10% Silase; P2

Pemberian serbuk gergaji sebanyak 25% pada periode 2-4 minggu menghasilkan konversi ransum sejati 1,73-2,08. Nilai konversi ransum tersebut lebih besar dari pada nilai konversi ransum hasil penelitian Ilahi (2004) dengan pemakaian serbuk gergaji 25% yaitu 1,03-1,23. Namun nilai konversi ini lebih kecil dari pada konversi ransum penelitian Nurokhmah (2004) yaitu 2,16. Konversi ransum pada periode 4-6 minggu menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) antar perlakuan, pemberian silase campuran ikan asin dan daun singkong taraf 10% (P1) dan 30% (P3) mempunyai nilai konversi yang tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol. Pemberian ransum perlakuan yaitu silase campuran daun singkong dan ikan asin pada taraf 20% (P2) dan 40% (P4) mempunyai nilai konversi yang nyata (P<0,05) lebih tinggi dari kontrol. Pada perlakuan P4 konversi ransumnya lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Konversi yang tinggi ini disebabkan karena konsumsi tinggi namun tidak disertai dengan pertambahan bobot badan yang tinggi pula, hal ini disebabkan pemakaian ikan asin dalam pembuatan silase dimana kadar garam ikan asin saat perendaman masih ada.

Nilai konversi ransum kumulatif selama 6 minggu penelitian tidak menunjukkan perbedaan yang nyata untuk semua perlakuan. Nilai konversi ransum kumulatif (0-6 minggu) berkisar antara 2,44-2,96.

Histogram nilai konversi ransum ayam broiler selama periode pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 5.

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

Umur Ayam (0-6 minggu)

K o nve rs i R a n sum P0 P1 P2 P3 P4

Mortalitas

Mortalitas merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam usaha peternakan. Batas mortalitas yang masih ditolerir oleh peternak berkisar antara 3–5%. Angka mortalitas ayam broiler tiap minggu selama 6 minggu penelitian dapat dilihat pada tabel 16.

Tabel 16. Angka Mortalitas Ayam Broiler (Ekor) Selama 6 minggu Penelitian

Perlakuan Minggu ke Total

(ekor) % 0-2 2-4 4-6 P0 6 1 0 7 3,4 P1 5 6 1 12 5,83 P2 3 3 1 7 3,4 P3 2 0 0 2 0,97 P4 1 1 0 2 0,97 Jumlah 17 11 2 30 14,56 % 8,25 5,34 0,97 14,56

Keterangan: P0 : 60% JG + 40% BC + 0% Silase; P1 : 60% JG + 30% BC +10% Silase; P2 : 60% JG + 20% BC + 20% Silase; P3 : 60% JG + 10% BC +30% Silase; P4 : 60% JG + 0% BC + 40% Silase.

Angka mortalitas selama penelitian cukup tinggi yaitu 14,56% (30 ekor). Pada periode starter (0-2 minggu) terdapat 8,25 (17 ekor), periode 2-4 minggu terdapat 5,33% (11 ekor), sedangkan pada periode finisher (4-6 minggu) terdapat 0,97% (2 ekor).

Angka mortalitas sebelum ayam-ayam mendapat perlakuan selama dua minggu pertama lebih banyak dibandingkan dengan fase-fase sesudahnya. Kematian yang tinggi ini disebabkan karena ayam terkena penyakit CRD, begitu juga dengan periode 2-4 minggu dan 4-6 minggu ayam mati bukan karena perlakuan tapi ayam terkena penyakit berak darah dan berak hijau. Menurut Amrullah (2003) minggu

Dokumen terkait