Prapenelitian (Pengusangan Benih)
Pengusangan cepat fisik benih padi gogo varietas Situpatenggang, Limboto, dan Batutegi tahap pertama yang dilakukan dengan interval waktu satu hari (1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 hari), pada hari keempat memberikan hasil viabilitas benih dengan daya berkecambah (DB) mencapai 0,0% yang ditunjukkan oleh persentase kecambah normal, sedangkan tingkat viabilitas yang diinginkan (DB ±80% dan ±60%) belum diperoleh hasil yang baik (Gambar 2a).
Gambar 2Dayaberkecambah benih padi gogo (Situpatenggang, Limboto, dan Betutegi) pada tiga interval waktu pengusangancepat fisik.
A. Pengusangan cepat fisikdengan interval waktu satu hari. B. Pengusangan cepat fisikdengan interval waktu enam jam. C.Pengusangan cepat fisikdengan interval waktu tiga jam
DB (%)
………….. waktu pengusangan (jam) ………
………waktu pengusangan (jam)……
D
..……waktu pengusangan (hari) ……
D B
Keterangan: stp = padi gogo varietas Situpatenggang, lbt = padi gogo varietas Limboto, btt = padi gogo varietas Batutegi.
A B
Keterangan: stp = padi gogo varietas Situpatenggang, lbt = padi gogo varietas Limboto, btt = padi gogo varietas Batutegi.
C 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 33 36 39 42 45 48 stp lbt btt rataan 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0 1 2 3 4 5 6 7 stp lbt btt Rataan 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 btt lbt stp rataan
Pada pengusangan cepat fisik benih padi gogo varietas Situpatenggang, Limboto, dan Batutegi pada interval enam jam memberikan hasil tingkat viabilitas yang lebih baik dibanding pengusangan cepat fisik pada interval waktu satu hari (tahap pertama), dimana benih dengan tingkat viabilitas DB 60% diperoleh pada waktu pengusangan 30 jam (Gambar 2B). Untuk memperoleh tingkat viabilitasyang diinginkan,waktu pengusangan diperkecil pada interval tiga jam.Pengusangan cepat fisik dengan interval waktu tiga jam menunjukkan bahwa viabilitas benih dengan DB ±80% diperoleh pada waktu pengusangan sembilan jam untuk Situpatenggang dan Limboto, sedangkan Batutegi 24 jam.Tingkat viabilitas benih dengan DB 60% diperoleh pada waktu pengusangan 24 jam untuk Situpatenggang dan Limboto dan Batutegi 33 jam (Gambar 2C).
Respon benih terhadap waktu pengusangan cepat fisik seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2, berbeda-beda antar lot benih.Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh tingkat viabilitas awal benih dan faktor genetik (varietas).Respon varietas terhadap waktu pengusangan yang berbeda-beda menggambarkan tingkat adaptasi atau daya hidup lot benih pada kondisi lingkungan yang sub-optimum.Hasil prapenelitian menunjukkan bahwa varietas Batutegi memiliki vigor kekuatan tumbuh yang lebih baik dibanding dengan Situpatenggang dan Limboto.Waktu pengusangan cepat fisik terpilih yang akan digunakan untuk mengusangkan benih untuk persiapan materi penelitian laboratorium dan lapang disesuaikan dengan respon masing-masing lot benih terhadap waktu pengusangan cepat fisik.
Berdasarkan hasil prapenelitian, waktu pengusangan cepat fisik untuk memperoleh tingkat viabilitas benih dengan DB 80%, pengusangan cepat fisikdilaksanakan selama sembilanjam untuk lot benih padi gogo varietas Situpatenggang dan Limboto, sedangkan lot benih padi gogo varietas Batutegi pengusangan cepat fisik dilaksanakan selama 24 jam. Untuk memperoleh tingkat viabilitas benih dengan DB 60%,lot benih padi gogo varietas Situpatenggang dan Limboto waktu pengusangan cepat fisik dilaksanakan selama 24 jam, sedangkan lot benih Batutegi selama 33 jam.
23
Penelitian Laboratorium
Analisis ragam pada Tabel 1 menunjukkan bahwa interaksi perlakuan invigorasi benih, tingkat viabilitas dan varietas berpengaruh sangat nyata terhadap variabel pengamatan daya berkecambah (DB), indeks vigor (IV), kecepatan tumbuh (KCT)danberpengaruh nyata pada variabel berat kering kecambah normal (BKKN).
Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisisragam variabelyang diamati pada penelitian laboratorium Perlakuan Variabel Pengamatan DB (%) IV (%) KCT(%KN/etmal ) BKKN (g) Invigorasi Benih ** ** ** ** Tingkat Viabilitas ** ** ** ** Invigorasi Benih×Tingkat Viabilitas ** tn ** **
Varietas ** ** ** **
Invigorasi Benih×Varietas tn tn ** **
Viabilitas×Varietas ** ** ** **
Invigorasi Benih×Viabilitas×Varietas ** ** ** * Keterangan DB= daya berkecambah, IV = indeks vigor, KCT = kecepatan
tumbuh, BKKN= berat kering kecambah normal.
Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi benih dan tingkat viabilitas berpengaruh sangat nyata terhadap variabel DB, KCT, dan BKKN, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap variabel IV.Interaksi perlakuan invigorasi benih dan varietas berpengaruh nyata terhadap variabel KCT dan BKKN, tetapi tidak berpengarih nyata terhadap variabel DB dan IV. Interaksi perlakuan tingkat viabilitas dan varietas berpengaruh nyata terhadap semua variabel yang diamati.
Respon Daya Berkecambah Terhadap Perlakuan Invigorasi Benih, Tingkat Viabilitas dan Varietas
Perlakuan invigorasi benih dengan GA3, sitokinin dan kombinasi GA3 dengan sitokinin berpengaruh terhadap peningkatan daya berkecambah benih padi gogo varietas Situpatenggang, Limboto dan Batutegi terutama pada lot benih dengan tingkat viabilitas rendah (DB ±60%).
Hasil penelitian pada Tabel 2 menunjukkan bahwa, pada tingkat viabilitas terendah (DB ±60%), perlakuan GA3 100 ppm, GA3 100 ppm + air kelapa muda dan GA3 100 ppm + sitokinin 100 ppm pada varietas Situpatenggang dapat
meningkatkan daya berkecambah (DB), masing-masing dari 58.0% menjadi 91.3%, 88.7% dan 85.3%. Pada tingkat viabilitas terendah (DB ±60%), perlakuan tersebut jugameningkatkanDBpadi gogo varietas Limboto, masing-masing dari DB 61.3%menjadi 85.3%, 84.0%,83.3%, 82.7%, 82.0% dan 81.3%.
Tabel 2 Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi benih, tingkat viabilitas dan varietas terhadaprata-rata daya berkecambah benih
Perlakuan Invigorasi Daya Berkecambah (%) Situpatenggang Limboto Batutegi
V1 kontrol*) 91.33 abc 88.67 ab 90.67 ab
V1 air kelapa muda 95.33 a 84.67 abc 95.33 a
V1 air kelapa tua 87.33 abcde 75.33 d 73.33 c
V1 80 ppm GA3 91.33 abc 89.33 ab 92.67 ab
V1 GA3 100 ppm 90.00 abcd 89.33 ab 95.33 a
V1 sitokinin 80 ppm 91.33 abc 84.67 abc 88.67 ab
V1 sitokinin 100 ppm 86.67 abcde 86.00 abc 95.33 a
V1 GA3 100 ppm+sitokinin 80 ppm 91.33 abc 96.67 a 94.00 a V1 GA3 100 ppm+sitokinin 100 ppm 90.00 abcd 90.67 ab 92.67 ab V1 GA3 100 ppm+air kelapa muda 91.33 abc 83.33 bc 96.00 a
V2 kontrol*) 81.33 bcde 81.33 c 80.67 bc
V2 air kelapa muda 85.33 abcde 85.33 abc 74.00 c
V2 air kelapa tua 80.67 bcde 84.67 abc 73.33 c
V2 80 ppm GA3 82.00 bcde 82.00 c 80.67 bc
V2 GA3 100 ppm 84.00 abcde 88.67 ab 91.33 ab
V2 sitokinin 80 ppm 86.00 abcde 84.67 abc 81.33 bc
V2 sitokinin 100 ppm 86.67 abcde 85.33 abc 85.33 abc
V2 GA3 100 ppm+sitokinin 80 ppm 90.67 abcd 86.00 abc 80.00 bc V2 GA3 100 ppm+sitokinin 100 ppm 87.33 abcde 84.00 abc 85.33 abc V2 GA3 100 ppm+air kelapa muda 92.00 abc 90.00 ab 86.00 abc
V3 Kontrol*) 58.00 f 61.33 e 60.67 d
V3 air kelapa muda 77.33 de 84.00 abc 94.00 a
V3 air kelapa tua 64.00 f 40.67 f 90.00 ab
V3 80 ppm GA3 67.33 ef 81.33 c 88.67 ab V3 GA3 100 ppm 91.33 abc 74.67 d 94.67 a V3 sitokinin 80 ppm 77.33 de 83.33 bc 92.00 ab V3 sitokinin 100 ppm 79.33 cde 82.00 c 97.33 a V3 GA3 100 ppm+sitokinin 80 ppm 76.67 e 82.67 c 91.33 ab V3 GA3 100 ppm+sitokinin 100 ppm 85.33 abcde 79.33 d 92.67 ab V3 GA3 100 ppm+air kelapa muda 88.67 abcde 85.33 abc 96.67 a
Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT α=0.05. V1=tingkat viabilitas tinggi, V2=tingkat viabilitas sedang, V3=tingkat viabilitas rendah, *)= benih direndam dengan air.
Varietas Batutegi pada tingkat viabilitas terendah (DB ±60%), perlakuan sitokinin 100 ppm, GA3 100 ppm + air kelapa muda, GA3 100 ppm, air kelapa muda, GA3 100 ppm + sitokinin 100 ppm, sitokinin 80 ppm, GA3 100 ppm +
25
sitokinin 80 ppm, air kelapa tua dan 80 ppm GA3 dapat meningkatkan DB, masing-masing dari DB 60.7% menjadi97.3%, 96.7%, 94.7%, 94.0%, 92.7%, 92.0%, 91.3%, 90.0% dan 88.7%.
Perlakuan invigorasi benih yang diaplikasikan pada tingkat viabilitas sedang (DB ±80%) dan tingkat viabilitas tinggi (DB ±100%) pada padi gogo varietas Situpatenggang, Limboto dan Batutegi memberikan hasil daya berkecambah (DB) yang tidak berbeda nyata. Diduga hal ini terjadi karena, pada tingkat viabilitassedang dan tingkat viabilitas tinggi proses metabolisme energi berlangsung efektif dandapat menghasilkan energi sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan kecambah sehingga pengaruh perlakuan invigorasi tidak signifikan. Selain itu juga diduga, integritas organela sel dalam kondisi baik untuk mendukung proses-proses ditingkat seluler sehingga tidak dibutuhkan asupan senyawa tertentu untuk memperbaiki dan menjaga stabilitas struktur sel.
Hasil penelitian pada Tabel 2 menunjukkan bahwa, perlakuan invigorasi benih dengan 80–GA3 100 ppm dan 80–sitokinin 100 ppm meningkatkan daya berkecambah benih padi gogo 21.75–60.04%. Peningkatan DB tersebut mengindikasikan bahwa invigorasi benih padi gogo dengan menggunakan GA3 dan sitokinin mampu memperbaiki dan meningkatkan kinerja metabolisme benih yang memiliki viabilitas rendah.Menurut (Sadjad 1994), viabilitas benih merupakan gejala hidup benih yang dapat ditunjukan dalam fenomena pertumbuhan, gejala metabolisme dan kinerja hormon.
Benih dengan viabilitas rendah memilikikinerja metabolisme energi ditingkat organela sel rendah yang rusak akibat pengolahan benih. Penurunan kadar air (saat benih dikeringkan) dan rehidrasi benih cukup memberikan tekanan pada komponen sel-sel yang dapat menyebabkan kerusakan sel (mitokondria bahkan DNA). Ketika benih berimbibisi ada kebocoran zat terlarut yang menunjukkan kerusakan membran sel.Untuk mengantisipasi, membatasi dan memperbaiki kerusakan sel diperlukan pemberian enzim dan senyawa tertentuNonogaki et al. (2010).
Invigorasi benih dengan giberelin mampu meningkatkan metabolisme energi benih yang sedang tumbuh sehingga memungkinkan tercukupinya energi untuk tumbuh dan berkembang menjadi kecambah normal.Cadangan makanan di
dalam benih yang dapat dicerna dengan mudah adalah yang terdapat di dalam prosos embrio oleh enzim β-amilase. Akan tetapi energi tersebut tidak mencukupi untuk proses pertumbuhan (pembelahan sel) terutama pada titik tumbuh akar sehingga ujung akar tidak mampu memanjang dan menembus dinding sel.
Metabolisme energi, terutama perombakan cadangan makanan yang terdapat pada endospermamembutuhkan enzim α-amilase.Sintesis Enzim α-amilase dipengaruhi oleh ketersediaan giberelin. Kamil (1979) mengemukakan bahwa, proses terjadinya pemecahan (breaking down) zat atau senyawa bermolekul besar, kompleks, menjadi senyawa bermolekul lebih kecil, kurang kompleks, larut dalam air dan dapat diangkut melalui membran dan dinding sel, dibutuhkan agen pencerna (digestive agents) yaitu enzim. Setelah terjadi penyerapan air, enzim diaktifkan kemudian masuk ke dalam endosperma dan mencerna makanan cadangan. Salah satu enzim yang diperlukan dalam proses pencernaan ini adalah α-amilase yang menghidrolisis pati (Salisbury&Ross 1995).Nonogaki et al.
(2010) mengemukakan bahwa benih utuh yang gagal berkecambah setelah dianalisis, benih tersebut tidak mampu mensintesis giberelin.
Invigorasi benih padi gogo dengan menggunanakan sitokinin (sitokinin 80 ppm, sitokinin 100 ppm, GA3 100 ppm + sitokinin 80 ppm dan GA3 100 ppm +sitokinin 100 ppm) dapat meningkatkan daya berkecambah benih padi gogo. Akan tetapi kecambah yang dihasilkan pada penggunaan konsentrasi sitokinin yang tinggi (80 ppm dan 100 ppm) memberikan efek pada pertumbuhan kecambah yang kurang baik, walaupun kecambah yang dihasilkan memenuhi kriteria minimal kecambah normal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sitokinin pada konsentrasi 80 ppm dan 100 ppm memacu aktifitas sitokenesis sel di meristem pucuk lebih dominan dan menekan sitokenesis di meristem akar, sehingga pertumbuhan akar dan koleoptil kecambah padi gogo tidak proporsional, dimana akar tidak berkembang dengan baik (relatif pendek, tebal dan rambut akar sedikit) sedangkan plumula berkembang dengan pesat.
Konsentrasi sitokinin yang memberikan efek pertumbuhan kecambah yang proporsional adalah sitokinin yang terkandung di dalam air kelapa muda. Kecambah yang dihasilkan memiliki akar dan plumula yang berkembang dengan
27
baik dan meningkatkan daya berkecambah terutama pada lot benih dengan tingkat viabilitas rendah (DB±60%) dengan peningkatan daya berkecambah berturut-turut untuk Situpatenggang, Limboto dan Batutegi sebesar 33.33% (dari 58.0% menjadi 77.3%), 37.00% (dari 61.3% menjadi 84.0%) dan 54.94% (dari 60.7% menjadi 94.%). Invigorasi benih dengan GA3 100 ppm + air kelapa muda memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan kecambah pada lot benih dengan tingkat viabilitas terendah (DB±60%) dengan peningkatan DBberturut-turut untuk Situpatenggang, Limboto dan Batutegi sebesar 52.88%, 39.13% dan 59.34% (Tabel 2).
Salisbury&Ross (1995) menyatakan bahwa, setiap hormon mempengaruhi respon pada banyak bagian tumbuhan, dan respon tersebut tergantung pada spesies, bagian tumbuhan, fase perkembangan, konsentrasi hormon dan interaksi antar hormon yang diketahui. Giberelin mempengaruhi proses perkecambahan benih melalui peningkatan metabolime energi benih. Giberelin (GA3) mentimulir sintesis enzim α-amilase yang berperan dalam proses perombakan cadangan makanan terutama cadangan makanan yang tersimpan di dalam endosperma (Kamil 1979), sedangkan sitokinin berperan penting dalam proses sitokenesis melalui peningkatan sintesis protein yang berperan dalam peroses pembentukan sel-sel baru.
Respon Indeks Vigor Benih terhadap Perlakuan Invigorasi Benih, Tingkat Viabilitas dan Varietas
Perlakuan invigorasi benih dengan GA3, sitokinin dan kombinasi GA3 dengan sitokinin berpengaruh terhadap peningkatan indeks vigor benih padi gogo varietas Situpatenggang dan Batutegi terutama pada lot benih dengan tingkat viabilitas rendah.
Hasil penelitian pada Tabel 3 menunjukkan bahwa pada tingkat viabilitas terendah (DB ±60%), perlakuan GA3 100 ppm +sitokinin 100 ppm, GA3 100 ppmdanGA3 100 ppm + air kelapa muda pada varietas Situpatenggang dapat meningkatkan indeks vigor, masing-masing dari 19.1% menjadi 51.9%, 47.1% dan 42.5%. Perlakuan invigorasi benih dan tingkat viabilitas memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap variabel indeks vigor benih padi gogo varietas Limboto.
Tabel 3 Pengaruhinteraksi perlakuan invigorasi benih,tingkat viabilitas dan varietasterhadap rata-rataindeks vigor
Perlakuan Indek Vigor (%)
Situpatenggang Limboto Batutegi
V1 kontrol*) 71.58 abcd 61.44 a---f 74.50 a---f
V1 air kelapa muda 53.96 b---g 61.59 a---f 76.59 a---e
V1 air kelapa tua 19.12 jkl 31.20 gh 25.61 j
V1 80 ppm GA3 63.82 a---e 75.36 abc 79.78 abc
V1 GA3 100 ppm 71.24 abcd 66.25 abcd 88.61 abc
V1 sitokinin 80 ppm 67.23 a---e 55.00 a---g 81.04 abc
V1 sitokinin 100 ppm 67.56 abcd 61.44 a---f 89.94 ab
V1 GA3 100 ppm+sitokinin 80 ppm 74.32 abc 79.24 ab 78.35 abcd
V1 GA3 100 ppm+sitokinin 100 ppm 74.50 abc 80.68 a 95.34 a
V1 GA3 100 ppm+air kelapa muda 79.60 a 76.41 ab 95.34 a
V2 kontrol*) 34.90 f---k 43.72 defg 66.41 a---h
V2 air kelapa muda 23.12 ijk 54.70 a---g 32.68 ij
V2 air kelapa tua 16.56 kl 19.39 h 4.61 k
V2 80 ppm GA3 29.53 hijk 73.12 abc 53.52 c---i
V2 GA3 100 ppm 47.25 c---h 75.89 ab 73.29 a---f
V2 sitokinin 80 ppm 42.53 d---h 63.98 abcd 64.79 a---h
V2 sitokinin 100 ppm 68.22 abcd 59.10 a---f 59.41 b---i
V2 GA3 100 ppm+sitokinin 80 ppm 53.23 b---h 63.5 a---e 46.01 e---j
V2 GA3 100 ppm+sitokinin 100 ppm 65.76 a---e 67.23 abcd 71.24 a---h
V2 GA3 100 ppm+air kelapa muda 71.07 abcd 71.75 abc 66.41 a---h
V3 kontrol*) 19.12 jkl 35.86 efgh 44.93 fhij
V3 air kelapa muda 20.38 jkl 20.94 h 53.67 c---i
V3 air kelapa tua 8.50 l 4.61 i 42.53 hij
V3 80 ppm GA3 16.31 kl 49.06 a---g 70.40 a---h
V3 GA3 100 ppm 47.11 c---i 50.34 a---g 72.26 a---h
V3 sitokinin 80 ppm 28.44 hijk 50.19 a---g 46.83 d---j
V3 sitokinin 100 ppm 38.44 e---j 47.66 b---g 92.62 ab
V3 GA3 100 ppm+sitokinin 80 ppm 28.55 hijk 44.39 c---g 81.04 abc
V3 GA3 100 ppm+sitokinin 100 ppm 51.92 b---h 34.90 fgh 75.19 a---f
V3 GA3 100 ppm+air kelapa muda 42.53 d---i 53.82 a---g 89.18 ab
Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT α=0.05. V1=tingkat viabilitas tinggi, V2=tingkat viabilitas sedang, V3=tingkat viabilitas rendah, *)= benih direndam dengan air.
Varietas Batutegi pada tingkat viabilitas terendah (DB ±60%), perlakuan invigorasi benih sitokinin 100 ppm, GA3 100 ppm + air kelapa muda dan GA3 100 ppm + sitokinin 80 ppm dapat meningkatkan indeks vigor, masing-masing dari 44.9% menjadi 92.6%, 89.2% dan 81.0%.
Indeks vigor benih padi gogo varietas Situpatenggang pada tingkat viabilitas sedang (DB ±80%), perlakuan GA3 100 ppm + air kelapa muda, invigorasi benih sitokinin 100 ppm dan GA3 100 ppm + sitokinin 100 ppm meningkatkan indeks vigor berturut-turut masing-masing dari indeks vigor awal 34.9% meningkat menjadi 71.07%, 68.22% dan 65.76%.
29
Pada tingkat viabilitas sedang (DB ±80%), perlakuan invigorasi benih GA3 100 ppm, 80 ppm GA3 dan GA3 100 ppm + air kelapa muda meningkatkan indeks vigor benih padi gogo varietas Limboto masing-masing dari indeks vigor awal 43.7% berturut-turut menjadi 75.89%, 73.12% dan 71.75%.
Pengaruh perlakuan invigorasi benih GA3 100 ppm+air kelapa muda memberikan hasil yang lebih konsisten dibanding dengan perlakuaan invigorasi lainnya (Tabel 3). Perlakuan invigorasi benih GA3 100 ppm + air kelapa muda meningkatkan indeks vigor Situpatenggang sebesar 103.63%, indeks vigor Limboto meningkat sebesar 50.07% dan indeks vigor Batutegi meningkat sebesar 98.50%. Perlakuan invigorasi benih berpengaruh terhadap peningakatan indeks vigor terutama pada benih dengan tingkat viabilitas rendah, sedangkan pada tingkat viabilitas sedang (DB±80%) peningkatkan indeks vigor tidak nyata.Khan
et al. (1992) menyatakan bahwa perlakuan invigorasi dapat memperbaiki sel-sel vital benih terutama benih yang mempunyai vigor rendah.
Vigor lot benih mencerminkan kemampuan lot benih untuk tumbuh dan berkembang serempak pada kurun waktu tertentu menjadi kecambah normal. Indeks vigor benih padi gogo diamati pada umur lima hari setelah dikecambahkan. Semakin tinggi nilai vigor suatu lot benih semakin banyak jumlah kecambah yang dihasilkan pada umur lima hari setelah dikecambahkan. Indeks vigor yang tinggi hanya dapat dicapai pada lot benih yang memiliki sistem metabolisme energi yang baik dan efisien.
Respon Keceptan Tumbuh(KCT) terhadap Perlakuan Invigorasi Benih,
Tingkat Viabilitas dan Varietas
Hasil penelitian padaTabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan invigorasi benih dan tingkat viabilitas meningkatkan kecepatan tumbuh (KCT) benih padi gogo varietas Situpatenggang dan Batutegi terutama pada tingkat viabilitas terendah (DB ±60%). Tetapi tidak meningkatkan kecepatan tumbuh benih padi gogo varietas Limboto.
Padi gogo varietas Situpatenggang pada tingkat viabilitas terendah (DB ±60%), yang diperi perlakuan invigorasi benih GA3 100 ppm + air kelapa muda, GA3 100 ppm + sitokinin 100 ppm dan sitokinin 100 ppmmenunjukkan peningkatkan KCT, masing-masing dari KCT awal sebesar 13.43 %KN/etmal
menjadi 23.10 %KN/etmal, 20.87 %KN/etmal dan 20.73 %KN/etmal. Pada tingkat viabilitas rendah (DB ±60%), KCT benih padi gogo Situpatenggang pada perlakuan invigorasi benih GA3 100 ppm + air kelapa muda, GA3 100 ppm + sitokinin 100 ppm dan sitokinin 100 ppmmeningkat masing-masing berturut-turut 71.96%, 55.34% dan 54.34%.
Tabel 4 Pengaruh interaksi perlakuan invigorasibenih,tingkat viabilitas dan varietasterhadap rata-rata kecepatan tumbuh
Perlakuan Kecepatan Tumbuh (%KN/etmal)
Situpatenggang Limboto Batutegi
V1 kontrol*) 26.467 b--e 26.500 abc 30.000 a--e
V1 air kelapa muda 26.433 b--e 26.300 abc 28.533 cde
V1 air kelapa tua 17.700 gh 18.600 ghi 18.967 fg
V1 80 ppm GA3 26.933 bcd 31.433 ab 32.200 a--d
V1 GA3 100 ppm 32.000 ab 28.300 abc 35.100 ab
V1 sitokinin 80 ppm 28.900 abc 25.267 b--f 30.600 a--d
V1 sitokinin 100 ppm 28.233 abc 26.500 abc 34.700 abc
V1 GA3 100 ppm+sitokinin 80 ppm 29.533 abc 20.733 e--i 32.967 abc
V1 GA3 100 ppm+sitokinin 100 ppm 30.733 ab 32.533 a 35.900 a
V1 GA3 100 ppm+air kelapa muda 32.333 a 28.800 abc 36.200 a
V2 kontrol*) 19.667 fgh 22.533 d--i 27.567 cde
V2 air kelapa muda 18.767 gh 24.033 c--h 18.733 fg
V2 air kelapa tua 16.467 gh 17.900 hi 12.733 g
V2 80 ppm GA3 20.467 efg 28.600 abc 24.100 ef
V2 GA3 100 ppm 23.800 c--g 30.200 abc 26.967 cde
V2 sitokinin 80 ppm 21.567 c--g 27.000 abc 26.667 cde
V2 sitokinin 100 ppm 28.167 abc 26.633 abc 26.267 de
V2 GA3 100 ppm+sitokinin 80 ppm 25.600 b--f 27.067 abc 22.633 fg
V2 GA3 100 ppm+sitokinin 100 ppm 27.467 a--d 28.367 abc 28.900 b--e
V2 GA3 100 ppm+air kelapa muda 28.167 abc 29.967 abc 27.833 cde
V3 kontrol*) 13.433 h 18.967 f--i 16.133 g
V3 air kelapa muda 16.767 gh 18.367 ghi 26.433 de
V3 air kelapa tua 10.233 h 16.467 i 19.467 fg
V3 80 ppm GA3 14.000 h 23.167 d--h 29.200 b--e
V3 GA3 100 ppm 19.500 fgh 22.500 d--i 34.333 abc
V3 sitokinin 80 ppm 18.600 gh 19.933 f--i 32.700 a--d
V3 sitokinin 100 ppm 20.733 efg 23.067 d--h 35.800 a
V3 GA3 100 ppm+sitokinin 80 ppm 18.300 gh 21.133 e--i 31.667 a--d
V3 GA3 100 ppm+sitokinin 100 ppm 20.867 efg 16.067 i 32.533 a--d
V3 GA3 100 ppm+air kelapa muda 23.100 d--g 24.700 c--g 35.833 a
Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT α=0.05. V1=tingkat viabilitas tinggi, V2=tingkat viabilitas sedang, V3=tingkat viabilitas rendah, *)= benih direndam dengan air.
Pada tingkat viabilitas sedang (DB ±80%), perlakuan invigorasi benih GA3 100 ppm + air kelapa muda, sitokinin 100 ppm dan GA3 100 ppm + sitokinin 100 ppm meningkatkan KCT, masing-masing dari KCT awal sebesar 19.67 %KN/etmal
31
menjadi 28.18 %KN/etmal, 28.18 %KN/etmal dan 27.47 %KN/etmal, dengan peningkatan KCT masing-masing sebesar 43.22%, 43.22% dan 39.66%.
Pengaruh perlakuan invigorasi benih terhadap peningkatan kecepatan tumbuh benih padi gogo varietas Limboto pada tingkat viabilitas terendah (DB ±60%)tidak berbeda nyata. Sedangkan pada tingkat viabilitas sedang (DB ±80%) kecepatan tumbuh benih padi gogo varietas Limboto meningkat dengan perlakuan invigorasi GA3 100 ppm dan GA3 100 ppm + air kelapa muda dari KCT awal 22,53 %KN/etmal menjadi 30,20 %KN/etmal dan 29,98 %KN/etmal. Peningkatan KCT (%) benih padi gogo varietas Limboto karena pengaruh perlakuan invigorasi GA3 100 ppm dan GA3 100 ppm + air kelapa muda sebesar 34,03% dan 32,99% (Tabel 4).
Varietas Batutegi pada tingkat viabilitas terendah (DB±60%), perlakuan invigorasi benih GA3 100 ppm + air kelapa muda, sitokinin 100 ppm, GA3 100 ppm, sitokinin 80 ppm,GA3 100 ppm+sitokinin 100 ppm,GA3 100 ppm+sitokinin 80 ppm, 80 ppm GA3 dan air kelapa muda meningkatkan KCT, masing-masing dari KCT awal 16.13 %KN/etmal menjadi 35.83 %KN/etmal, 35.80 %KN/etmal, 34.33 %KN/etmal, 32.70 %KN/etmal, 32.53 %KN/etmal, 31.67 %KN/etmal,29.20 %KN/etmal dan 26.43 %KN/etmal.
Perlakuan invigorasi benih GA3 100 ppm + air kelapa muda, sitokinin 100 ppm, GA3 100 ppm, sitokinin 80 ppm,GA3 100 ppm+sitokinin 100 ppm,GA3 100 ppm+sitokinin 80 ppm, 80 ppm GA3 dan air kelapa muda meningkatkan kecapatan tumbuh benih padi gogo varietas Batutegi berturut-turut sebesar 122.11%, 212.91%, 112.81%, 102.69%, 101.65%, 96,26%, 81.00% dan 63.84%.
Variabelkecepatan tumbuh (KCT) adalah parameter vigor benih yang mengambarkan persentase kecambah normal per satuan waktu (etmal).Pengaruh perlakuan invigorasi benih terhadap variabel KCT, berkenaan dengan fungsi giberelin dan sitokinin yang digunakan sebagai materi perlakuan invigorasi benih. Giberelin menstimulir sintesis enzim α-amilase yang berperan dalam proses perombakan cadangan makan yang terdapat di dalam endosperma. Cadangan makanan di dalam endosperma (pati dan hemiselulosa) merupakan senyawa kompleks berbobot molekul besar yang tidak dapat ditranslokasikan ke prosos embrio. Untuk dapat ditranslokasikan cadangan makanan yang bermolekul besar
harus dirobah menjadi senyawa sederhana berbobot molekul kecil yang larut di dalam air dengan bantuan enzim α-amilase. Sedangkan sitokinin berperan aktif dalam proses sintesis protein dan sitokinesis (Salisbury&Ross 1995).
Respon Berat Kering Kecambah Normal terhadap Perlakuan Invigorasi Benih, Tingkat Viabilitas dan Varietas
Varietas Batutegi pada tingkat viabilitas terendah (DB ±60%), perlakuan invigorasi GA3 100 ppm, air kelapa muda, GA3 100 ppm+air kelapa muda, sitokinin 100 ppm, air kelapa tua, dan GA3 100 ppm+sitokinin 80 ppm meningkatkan berat kering kecambah normal masing-masing dari 0.183 g berturut-turut menjadi 0.300 g, 0.290 g, 0.283 g, 0.270 g, 0.257 g dan 0.253 g.
Variabel Berat kering kecambah normal merupakan salah satu parameter viabilitas potensial (Sadjad 1994) yang menggambarkan besarnya akumulasi bahan padat (yang terdapat akar dan koleoptil) hasil dari proses pertumbuhan dan perkembangan kecambah. Nilai berat kering kecambah normal menunjukkan tingkat efisiensi metabolisme dalam proses pertumbuhan dan perkembangan kecambah.
Pengaruh invigorasi benih dan tingkat viabilitas pada setiap varietas (Tabel 5) terhadap variabel berat kering kecambah normal, menunjukkan bahwa padi gogo varietasBatutegi memberikan respon yang berbeda dengan Situpatenggang dan Limboto. Fenomena ini menggambarkan bahwa padi gogo varietas Batutegi lebih efektif dalam memetabolisme cadangan makanan yang tersimpan di dalam endosperma menjadi energi yang dipergunakan dalam proses pembentukan sel-sel baru yang diakumulasikan sebagai bahan padat pada akar dan koleoptil.
Pada tingkat viabilitas terendah (DB±60%), perlakuan invigorasi benihdengan GA3 100 ppmpada setiap varietas, Batutegi memberikan hasil berat kering kecambah normal (BKKN) sebesar 0.300 g lebih tinggi dibanding Situpatenggang dan Limboto yang memberikan hasil masing-masing 0.217 g dan 0.227 g. Pada perlakuan invigorasi benih dengan air kelapa muda, Batutegi memberikan hasil BKKN sebesar 0.290 g lebih tinggi dibanding Situpatenggang dan Limboto yang memberikan hasil masing-masing 0.213g dan 0.267g. Perlakuan invigorasi benih denganGA3 100 ppm+air kelapa muda, Batutegi
33
memberikan hasil berat kering kecambah normal sebesar 0.283 g lebih tinggi dibanding Situpatenggang dan Limboto yang memberikan hasil masing-masing 0.230 g dan 0.213 g. Fenomena ini menunjukkan bahwa benih padi gogo varietas Batutegi lebih efisien memanfaatkan cadangan makanan dalam menghasilkan energi yang digunakan untuk pembentukan sel-sel, jaringan dan organ baru. Tabel 5Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi benih,tingkat viabilitas dan
varietasterhadap rata-rata berat kering kecambah normal
Perlakuan Berat Kering Kecambah Normal (g)
Situpatenggang Limboto Batutegi
V1 kontrol*) 0.260 a--k 0.273 a--g 0.273 a--d
V1 air kelapa muda 0.290 a--d 0.267 a--i 0.280 abc
V1 air kelapa tua 0.237 b--m 0.217 e--k 0.227 b--g
V1 80 ppm GA3 0.243 a--m 0.250 a--j 0.280 abc