Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan bobot (massa), volume,
jumlah sel, jumlah protoplasma dan tingkat kerumitan.Biasanya, fase awal
perkembangan awal kecambah meliputi produksi sejumlah sel baru melalui
mitosis (pembelahan inti), dilanjutkan dengan sitokinesis (pembelahan sel).
Pertumbuhan pada tumbuhan berlangsung terbatas pada beberapa bagian tertentu ,
yang terdiri dari sejumlah sel yang baru saja dihasilkan melalui proses
pembelahan sel di meristem (Salisbury&Ross 1995).Perkecambahan adalah
proses yang kompleks dimana benih harus segera pulih secara fisik dari akibat
proses pengeringan(Nonogaki et al. 2010),.
Vigor dan viabilitas benih adalah dua karakter yang saling berhubungan dan
umumnya penurunan vigor mendahului penurunan viabilitas (Basu
1994).Viabilitas benih merupakan daya hidup benih yang dapat ditunjukan dalam
fenomena pertumbuhan, gejala metabolisme, kinerja hormon, atau garis
viabilitas.Vigor adalah kemampuan benih menumbuhkan tanaman normal pada
kondisi suboptimum di lapang produksi, atau sesudah disimpan dalam kondisi
simpan yang suboptimum dan ditanam dalam kondisi lapang yang optimum
(Sadjad 1994).
Karakter yang sangat penting dari benih vigor adalah yang dimanifestasikan
oleh kecepatan laju perkecambahan, keseragaman dari pertumbuhan dan daya
tumbuh dan kemampuan untuk tumbuh normal pada rentang kondisi linkungan
yang luas (Basu 1994).
Vigor kekuatan tumbuh, vigor daya simpan, vigor konservasi sebelum
simpan dan vigor kekuatan tumbuh setelah tanam merupakan parameter vigor
benih yang menghadapi cekaman dari luar benih.Faktor-faktornya bersifat
eksternal tetapi dampaknya juga ditentukan oleh faktor internal, yang dapat
dibedakan sebagai faktor innate, induced
dan enforced. Vigor biokimia dan vigor
genetik bukan vigor benih terhadap cekaman, tetapi lebih merupakan informasi
tentang vigor yang berasal dari pengaruh faktor internal atau innate(Sadjad et al.
1999).
Benih dikatakan vigor apabila memiliki indikasi: (1) tahan simpan, (2)
berkecambah cepat dan merata, (3) bebas dari penyakit, (4) tahan terhadap
gangguan berbagai mikroorganisme, (5) tumbuh kuat dalam keadaan lahan
basah/kering, (6) bibit efisien dalam memanfaatkan cadangan makanan, (7) laju
tumbuh atau pertambahan berat kering bibit yang berfotosintesis tinggi, (8)
menghasilkan tanaman berproduksi tinggi (Heydeckerdalam
Sadjad 1972), (9)
tidak menunjukan perbedaan pertumbuhan di lapang dan di laboratorium, (10)
tahan terhadap saingan (Sadjad 1972)
Lot benih memiliki kemampuan potensial apabila lot benih tersebut
memiliki pertumbuhan normal pada kondisi optimum (viabilitas potensial), dapat
dideteksi dengan tolok ukur daya berkecambah dan berat kering
kecambah.Apabila lot benih dapat menghasilkan pertanaman normal dalam
kondisi suboptimum berarti lot benih tersebut memiliki lebih dari potensial
(vigor).Parameter vigor (V
g) adalah vigor kekuatan tumbuh (V
KT) apabila
viabilitas diperkirakan untuk kondisi lapang di periode III.Tolok ukur untuk
parameter ini harus spesifik yang berkaitan dengan kondisi lapang suboptimum
tertentu (Sadjad 1994).
Metabolisme Perkecambahan
Setelah benih berimbibisi terjadi reaktivasi enzim, proses metabolisme
(respirasi), sintesis RNA dan protein yang berpengaruh padapeningkatan integritas
struktur sel (Nonogaki 2010).Secara fisiologis, terjadi beberapa proses berurutan
selama perkecambahan benih yaitu: (1) penyerapan air (water absorption), (2)
pencernaan (digestion), (3) pengangkutan zat makanan (food transfer), (4)
asimilasi (assmilation), (5) pernapasan (respiration) dan (6) pertumbuhan
(growth) (Kamil 1979)
Penyerapan air merupakan proses yang pertama sekali terjadi pada
perkecambahan benih, diikuti dengan pelunakan kulit benih, dan pengembangan
benih (swelling of the seed). Penyerapan air ini dilakukan oleh kulit benih (seed
coat) melalui peristiwa imbibisi dan osmosis dan perosesnya tidak memerlukan
energi.Penyerapan air oleh embrio dan endosperma menyebabkan
pembengkakkan (penggembungan) dari kedua struktur ini, mendesak kulit benih
6
yang sudah lunak sampai pecah dan memberikan ruang untuk keluarnya akar
(Kamil 1979).
Penurunan kadar air (saat benih dikeringkan) dan rehidrasi benih cukup
memberikan tekanan pada komponen sel-sel. Pada benih yang viabilitasnya
rendah, ketika benih berimbibisi ada kebocoran zat terlarut yang menunjukkan
kerusakan membran sel. Organ seperti mitokondria rusak dan berkurang
jumlahnya bahkan DNA juga tidak luput dari kerusakan, sehingga diperlukan
pemberianenzim dan senyawa tertentu untuk mengantisipasi, membatasi dan
memperbaiki kerusakan sel (Nonogaki et al. 2010).
Perkembangan perkecambahan terkait dengan proses penyerapan air yang
diawali dengan imbibisi hingga benih berkecambah dibagai dalam tiga tahap.
Tahap I, diawali dengan imbibisi oleh benih sampai semua matriks danisi sel
terhidrasi.Tahap II adalah periode serapan air yang terbatas dan telah terjadi
pertumbuhan awal kecambah, serta tahap III terjadi peningkatan penyerapan air
yang berkaitan dengan penyelesaian perkecambahan(Nonogaki
et al.
2010)
(Gambar 1).
Umumnya cadangan makanan disimpan di dalam benih dalam bentuk pati,
hemiselulosa, lemak dan protein yang tidak larut di dalam air (water insoluble)
atau berupa senyawa koloid. Cadangan makanan ini umumnya (tersebar) terdapat
di dalam endosperma (pada monokotil), merupakan senyawa yang kompleks
bermolekul besar dan tidak bisa diangkut (immobile) ke daerah yang memerlukan
yaitu poros embrio (embryonic axis). Sebagian kecil cadangan makanan ini juga
Sumber: Nonogaki et al. (2010)
Gambar 1 Peristiwa fisik dan metabolik yang terjadi selama proses perkecambahan (fase I dan II) dan pertumbuhan awal kecambah (fase III)
terdapat di poros embrio, tetapi segera habis pada awal perkecambahan benih.
Lebih tegas lagi, cadangan makanan dalam jaringan penyimpanan (storage tissue)
tidak bisa diangkut dari sel ke sel yang lain dan dipakai untuk pembentukan
protoplasma dan diding sel sebelum zat-zat tersebut dirubah menjadi zat atau
senyawa yang lebih sederhana, bermolekul lebih kecil, larut dalam air dan dapat
melakukan difusi (Kamil 1979).
Salisbury&Ross (1995) mengemukakan bahwa, segera setelah benih
berkecambah, sistem akar dan tajuk muda mulai menggunakan hara mineral,
lemak, pati dan protein yang terdapat di sel penyimpanan pada benih. Kecambah
muda bergantung pada cadangan makanan ini sebelum mampu menyerap garam
mineral dari tanah dan sebelum dapat memanjangkan sistem tajuknya menuju
cahaya.Kecambah menghadapi kesulitan dengan lemak, polisakarida, dan protein,
sebab molekul tersebut tidak dapat dipindahkan.
Proses terjadinya pemecahan (breaking down) zat atau senyawa bermolekul
besar, kompleks, menjadi senyawa bermolekul lebih kecil , kurang kompleks,
larut dalam air dan dapat diangkut melalui membran dan dinding sel, dibutuhkan
agen pencerna (digestive agents) yaitu enzim. Setelah penyerapan air, terjadi
aktivasi termasuk aktivasi enzim, kemudian masuk ke dalam endosperma dan
mencerna makanan cadangan (Kamil 1979). Salah satu enzim yang diperlukan
dalam proses pencernaan ini adalah α-amilase yang menghidrolisis pati
(Salisbury&Ross 1995).
Pada serealia, cadangan makanan umumnya berbentuk pati, terdapat pada
endosperma, terdiri atas dua bentuk yaitu amilosa dan amilopektin.Pencernaan
pati (amilosa dan amilopektin) dilakukan oleh dua macam enzim amilase yaitu β-
amilase dan α-amilase.Enzim β-amilase sudah ada dari semula (pre-exist) di
dalam skutelum dan selaput aleuron pada biji kering angin, sedangkan enzim α-
amilase terbentuk pada waktu mulai perkecambahan dan masuk ke dalam
endosperma untuk mencerna amilosa menjadi glukosa yang larut dalam air dan
bisa diangkut (Kamil 1979).
Embrio (nutfah) benih serealia dan rumputan lainnya dikelilingi cadangan
makanan yang terdapat di sel-sel (jaringan) yang secara metabolik tidak aktif,
yakni endosperma; endosperma sendiri diselimuti selaput tipis yang hidup, yang
biasanya mempunyai ketebalan dua hingga empat sel, dan disebut aleuron.Setelah
8
perkecambahan terjadi, terutama akibat peningkatan kelembaban, sel aleuron
mengeluarkan sejumlah enzim hidrolisis yang mencerna pati, protein, fitin, RNA,
dan bahan didinding sel tertentu yang terdapat dalam sel-sel endosperma.Enzim
yang dikeluarkan selaput aleuron adalah α-amilase, setelah selaput aleuron
memperoleh hormon giberelin yang disedikan oleh embrio.Hormon giberelin juga
mendorong sekresi enzim hidrolitik ke endosperma, tempat enzim tersebut
mencerna cadangan makanan dan dinding sel. Unsur mineral dan cadangan
makanan menjadi lebih mudah tersedia sebagai hasil kerja giberelin
(Salisbury&Ross 1995).
Kulit benih dan struktur disekitarnya dapat juga mempengaruhi kemampuan
perkecambahan benih melalui penghambatan terhadap penyerapan air, pertukaran
gas, difusi inhibitor endogenous atau penghambatan pertumbuhan
embrio.Sementara jika penghambatan perkecambahan terjadi pada benih yang
tidak mempunyai kulit keras atau tidak memerlukan skarifikasi untuk penyerapan
air, maka kemungkinan penyebabnya adalah penghambat bagian lain dari benih
misalnya endosperma (Watkins & Cantliffe 1985).
Pengaruh Perlakuan Invigorasi Terhadap Peningkatan Vigor Benih
Invigorasi benih pratanam memperbaiki keadaan fisiologis dan biokimia
benih melalui perbaikan metabolik, kemunduran waktu dan potensi untuk
berkecambah (Khan 1992).Sadjad (1994) menyatakan bahwa invigorasi adalah
proses bertambahnya vigor benih.Invigorasi benih mengimplikasikan suatu
peningkatan penampilan benih oleh beberapa perlakuan lepas-panen yang
menghasilkan peningkatan dalam daya berkecambah, daya simpan dan
penampilan pertumbuhan di lapang melebihi benih yang tidak diberi perlakuan
(Basu 1994).
Perlakuan invigorasi benih pratanam seperti hidrasi pada sejumlah benih
dapat mempercepat pemunculan radikula, meningkatkan persentase
perkecambahan dan laju pertumbuhan, dan memperbaiki pertumbuhan bibit pada
kondisi tanah yang tidak menguntungkan.
Perlakuan benih secara fisiologis untuk memperbaiki perkecambahan benih
melalui imbibisi air secara terkontrol telah menjadi dasar dalam invigorasibenih.
Saat ini perlakuan invigorasi merupakan salah satu alternatif yang dapat
digunakan untuk mengatasi mutu benih yang rendah yaitu dengan cara
memperlakukan benih sebelum tanam untuk mengaktifkan kegiatan metabolisme
benih sehingga benih siap memasuki fase perkecambahan. Selama proses
invigorasi, terjadi peningkatan kecepatan dan keserempakan perkecambahan serta
mengurangi tekanan lingkungan yang kurang menguntungkan. Invigorasi dimulai
saat benih berhidrasi pada medium imbibisi yang berpotensial air rendah.
Biasanya dilakukan pada suhu 15-20
oC. Setelah keseimbangan air tercapai
selanjutnya kandungan air dalam benih dipertahankan (Khan 1992).
Berbagai cara dapat dilakukan sehubungan dengan perlakuan invigorasi
benih sebelum tanam yaitu osmoconditioning, priming, moisturizing, hardening,
humidification, solid matrix priming, matriconditioning danhydropriming. Namun
demikian
cara
yang
umum
digunakan
adalah
osmoconditioning(conditioningdengan menggunakanlarutan osmotik seperti PEG,
KNO
3, KH
2PO
4, NaCl dan manitol) dan matriconditioning
(conditioning
dengan
menggunakan media padat lembab, seperti Micro-Cel E, Vermikulit(Khan 1992),
juga telah dipelajari beberapa media alternatif antara lain abu gosok dan serbuk
gergaji (Madiki A 1998).
Perlakuan invigorasi benih telah banyak diteliti dan telah umum diketahui
memberikan pengaruh positif terhadap berbagai perubahan fisiologis dan biokimia
di dalam benih. Beberapa hasil penelitian antara lain menunjukkan bahwa
perlakuan invigorasi mengurangi luka imbibisi pada benih buncis yang menua
sebagai akibat dari meningkatnya integritas membran (Ptasznik & Khan 1993),
mempercepat perkecambahan dan keserempakan tumbuh benih cabai dan
meningkatkan vigor benih yang bermutu rendah (Ilyas 1996; Ilyas et al. 2002).
Studi biokimia pada benih cabai menunjukkan bahwa perlakuan invigorasi dengan
matriconditioningmenyebabkan peningkatan aktivitas ACC oksidase atau ethylene
forming enzyme (EFE) yang mengoksidase ACC menjadi etilen pada saat
perkecambahan (Ilyas 1994), meningkatkan konsentrasi total protein dan
menyebabkan perubahan pola pita protein dan enzim (Ilyas et al. 2002).
Imbibisi pada benih yang dilakukan secara tiba-tiba apalagi terhadap benih
dengan kadar air sangat rendah dan benih yang mengalami penyimpanan yang
lama dapat menyebabkan kerusakan pada struktur membran sehingga perlu suatu
kondisi dimana imbibisi dilaksanakan secara terkontrol. Salah satu upaya yang
10
dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan invigorasi benih
yaitu dengan cara mengkondisikan benih sedemikian rupa sehingga karakter
fisiologi dan biokimiawi yang terdapat di dalam benih dapat dimanfaatkan secara
optimal (Khan et al. 1992).
Perlakuan invigorasi dapat memperbaiki sel-sel vital benih terutama benih
yang mempunyai vigor rendah dan sedang (Khan et al. 1992).Hasil penelitian
pada tanaman cabai menunjukkan bahwa perlakuan invigorasi pada tingkat vigor
benih yang berbeda mampu meningkatkan indeks vigor, daya berkecambah dan
kecepatan perkecambahan. Invigorasi benih dengan menggunakan larutan 100 μM
GA
3dan
matriconditioning
dengan serbuk gergaji dan 100 μM GA
3dapat
meningkatkan vigor benih padi sawah yang diuji pada kondisi cekaman oksigen
(Madiki 1998).
Zat Pengatur Tumbuh Asam Giberelat (GA3) dan Sitokinin
Zat pengatur tumbuh (ZPT) merupakan senyawa organik atau hormon yang
mampu mendorong, mengatur dan menghambat proses fisiologis tanaman.
Hormon umumnya tidak mempengaruhi organ tempat biosintesisnya, tetapi
mempengaruhi organ yang lainnya.Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
keberhasilan pemakaian ZPT. Faktor-faktor tersebut antara lain kedewasaan
tanaman, lingkungan dan konsentrasi. Penggunaan konsentrasi yang tepat sangat
penting karena jikaterlalu rendah pengaruhnya tak akan ada dan jika berlebih
pertumbuhan tanaman justru terhambat atau bahkan mati sama sekali (Gardner
1991).
Hormon memiliki pengaruh besar dalam proses perkecambahan dan
dormansi. Biosintesis asam giberelat diperlukan untuk perkecambahan benih
Arabidopsis.Benih mutan ganda-KO ga3ox1 ga3ox2 tidak dapat berkecambah
tanpa aplikasi GA (Nonogaki 2010).Lebih lanjut dikemukakan bahwa, analisis
ekspresi gen metabolisme hormon dalam termoinhibited benih Arabidopsis
menunjukkan bahwa suhu tinggi merangsang biosintesis ABA dan menekan
biosintesis GA.
Asam giberelat (GA
3) adalah suatu senyawa organik yang sangat penting
dalam proses perkecambahan suatu benih karena ia bersifat mengontrol
perkecambahan tersebut, terutama pada jagung dan serealia lainnya. Kalau
GA
3tidak ada atau kurang aktif maka α-amilase tidak akan terbentuk yang dapat
menyebabkan terhalangnya proses perombakan pati, sehingga dapat
mengakibatkan tidak (terhalang) terjadinya perkecambahan. Keadaan seperti ini
adalah merupakan salah satu penyebab terjadinya gejala dormansi pada beberapa
jenis benih, oleh karena β-amilase sendiri tidak cukup untuk melaksanakan
pencernaan dan mendorong perkecambahan benih (Kamil 1979)
Hingga tahun 1990 telah ditemukan 84 jenis giberelin pada berbagai jenis
cendawan dan tumbuhan dan dua spesies bakteri (Sponsel; Graebe; dan Takahashi
et al. dalam
Salisbury&Ross 1995). Dari jumlah tersebut, 73 jenis berasal dari
tumbuhan tingkat tinggi, 25 jenis dari cendawan Gibberella, dan 14 dari jenis
keduanya. Biji tumbuhan sejenis mentimun Sechium edule
mengandung paling
tidak 20 macam giberelat, dan biji kacang hijau (Phaseolus vulgaris) mengandung
± 16 macamgiberelat, tetapi sebagian besar tumbuhan lain mengandung kurang
dari itu (Salisbury&Ross 1995)
Asam giberelat tidak tahan panas.Secara umum, peranan asam giberelat
didalam tanaman adalah menginduksi pemanjangan ruas yang disebabkan oleh
pertambahan ukuran dan jumlah sel-sel pada ruas-ruas. Giberelin juga berperan
terhadap pertambahan ukuran luas daun, ukuran buah dan mempengaruhi proses
pembungaan tanaman (Wattimena 1988) . Sebagian besar tumbuhan dikotil dan
beberapa monokotil memberikan respon dengan cara tumbuh lebih cepat ketika
diberi perlakuan giberelat (Pharis&Kuodalam Salisbury&Ross 1995).
Padi kerdil (kultivar Tanginbou) menunjukkan respon (tumbuh sama dengan
tanaman normal) terhadap perlakuan 3,5 pikogram (3,5 x 10
12g) GA
3
(Nishijima&Katsura
dalam Salisbury&Ross 1995). Lima macam mutan tanaman
jagung kerdil tumbuh setinggi tanaman lainnya yang normal setelah diberi
giberelat (Salisbury&Ross, 1995).Pertumbuhan beberapa kultivar jagung hibrida
yang menunjukkan heterosis tidak terpacu oleh giberelat, sebab hibrid ini diduga
mengandung GA
1untuk pertumbuhannya (Rood et al. dalam Salisbury&Ross
1995).Tumbuhan kadang bereaksi terhadap GA
3dengan cara memanjang lebih
cepat. Hasil penelitian membuktikan bahwa GA
1merupakan giberelat utama yang
dibutuhkan kapri, kapri manis, tomat, padi dan bebereapa kultivar gandum kerdil.
GA
3atau giberelat lain memacu pemanjangan tanaman kerdil, dengan cara diubah
terlebih dahulu menjadi GA
1(Salisbury&Ross 1995).
12
Pada tahun 1940-an Johannes Van Overbeek menemukan bahwa
endosperma cair buah kelapa yang belum matang, kaya akan senyawa yang dapat
memacu sitokinesis. Sebelumnya, pada tahun 1913, Gottlib Haberlandt,
menemukan suatu senyawa tak dikenal yang memacu pembelahan sel yang
menghasilkan kambium-gabus dan memulihkan luka pada umbi kentang yang
terpotong.Senyawa tersebut didapat dari jaringan pembuluh berbagai jenis
tumbuhan. Temuan ini merupakan ungkapan pertama tentang senyawa yang
dikandung tumbuhan, yang sekarang dinamakan senyawa sitokinin
(Salisbury&Ross 1995).
Bakteri dan cendawan tertentu mengandung sitokinin yang diyakini
berpengaruh pada proses penyakit yang disebabkan oleh kedua mikroba ini, dan
sitokinin yang dihasilkan oleh cendawan dan bakteri bukan patogen diperkirakan
mempengaruhi hubungan mutualistisnya dengan tumbuhan, seperti pembentukan
mikoriza dan bintil akar (Greene; Ng
et al.; Sturtevan&Tallerdalam
Salisbury&Ross 1995).
Umumnya, sitokinin paling banyak terdapat di organ muda (biji, buah,
daun) dan di ujung akar.Fungsi utama sitokinin adalah memacu pembelahan sel
(dengan menaikkan laju sintesis protein) dan pembentukan organ, menunda
penuaan dan menigkatkan aktivitas wadah penampung hara, memacu
perkembangan kuncup samping tumbuhan dikotil, memacu pembesaran sel, dan
memacu perkembangan kloroplas dan sintesis klorofil (Gardner 199;
Salisbury&Ross 1995).Arah pembelahan sel dipengaruhi oleh nisbah sitokinin
terhadap auksin.Jika nisbah sitoknin-auksin diperkecil, pertumbuhan akar terpacu
dan jika nisbah sitokinin-auksin cukup tinggi, sering hanya sintem tajuk yang
berkembang, kemudian akar-liar terbentuk.
Waktu dan Tempat
Penelitian laboratorium dilaksanakan di laboratorium Ilmu dan Teknologi
Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, mulai
bulan September sampaiDesember 2010. Penelitian lapang dilaksanakan di
Kebun Percobaan (KP) Makariki, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku,
dimulai bulan Desember 2010 sampai dengan Mei 2011.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: benih padi gogo
terdiri atas tiga varietas, yaitu: Situpatenggang, Limboto, dan Batutegi (diperoleh
dari Kebun Percobaan Muara. Benih tersebut adalah hasil panen bulan Agustus
2009 dan disimpan ±12 bulan di dalam gudang pada suhu kamar yang dikemas
dengan kantong kertas), GA
3, alkohol 70%, sitokinin, air, air kelapa muda, air
kelapa tua, kantong strimin, kertas towel, pupuk majemukNPK (15:15:15), pupuk
N, insektisida (bahan aktif) carbofuran, profenofos, deltametrin.
Giberelin yang digunakan adalah giberelin teknis berbentuk powder dengan
kandungan geberelin 10%. Larutan giberelin 100 ppm dibuat dengan cara
melarutkan satu gram giberelin dengan 10 cc alkohol 70% kemudian ditambahkan
air sampai volumenya satu liter. Sitokininyang digunakan adalah sitokinin teknis
dalam bentuk larutan dengan konsentrasi 100 ppm.Larutan giberelin dan sitokinin
dengan konsentrasi 80 ppm diperoleh dengan menggunakan metode pengenceran
Masing-masing larutan dengan konsentrasi 100 ppm (larutan stok) diencerkan
dengan menggunakan rumus “V1M1=V2M2” dimana V1= volume larutan yang
dimiliki (larutan stok) dalam ml, M1= konsentrasi larutan stok, V2= volume
larutan yang diinginkan dan M2 = konsentrasi larutan yang diinginkan.
Kelapa tua dan kelapa muda adalah jenis kelapa hijau dengan kriteria kelapa
muda adalah kelapa hijau dengan daging buahnya ± ¼ bagian masih transparan,
tempurung bagian bawah belum berubah warna (putih).Sedangkan kelapa tua
adalah kelapa hijau yang kulit luarnya sudah berwarna coklat muda dan
tempurung berwarna coklat tua.
Alat-alat yang digunakan antara lain adalah: mesin pengusangan cepat
(MPC) fisik tipe 1-800-284-5779 (inkubator), grain moisture meter GMK-303RS,
14
cawan, traktor, parang, linggis, sabit, cangkul, tiang penyangga, tali ajir, bambu
(ajir sampel), tali raffia, benang jahit, gunting, timbangan analitik, gelas ukur,
baskom, pipet, pengukur RH, gembor, hand sprayer, pinset, meter, alat tulis,
kamera, label, dll.
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu:
1. Pra penelitian; dilakukan untuk menetapkan waktu pengusangan yang tepat
untuk memperoleh tingkat viabilitas benihdengan DB±80% dan DB ±60%.
2. Penelitian laboratorium; dilakukan untuk mengetahui pengaruh invigorasi
benihdan tingkat viabilitas terhadap pertumbuhan kecambah padi gogo .
3. Penelitian lapang; dilakukan untuk mengetahui pengaruh invigorasi dan
viabilitas terhadap pertumbuhan tanaman dan hasilpadi gogo .
Pra Penelitian
Untuk memperoleh lot benih padi gogo dengan viabilitas yang diinginkan
(DB ±80% dan DB ±60%) lot benih diusangkan dengan metode pengusangan
cepat fisik. Pengusangan terhadap lot benih menggunakan suhu tinggi (43-45
OC)
dan kelembaban tinggi (RH 100 %), yaitu dengan meletakkan benih yang
memiliki viabilitas awal dengan DB ±100% di dalam kantong strimin, kemudian
disimpan di dalam mesin pengusangan cepat (MPC) fisik tipe 1-800-284-5779.
Waktu pengusangan fisikdilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu: tahap
pertama pengusangan dilakukan dengan selang waktusatu hari, yakni; 1, 2, 3, 4, 5,
6 dan 7 hari. Tahap kedua pengusangan dilakukan dengan selang waktuenam
jam, yakni; 6, 12, 18, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66, 72, 78, 84, 90 dan 96
jam.Tahap ketiga pengusangan dilakukan dengan selang waktu tiga jam, yakni; 3,
6, 9, 12, 15.18, 21, 24, 27, 30, 33, 36, 39, 42, 45 dan 48 jam.
Lot benih yang telah diusangkan kemudian diuji viabilitasnya dengan
menggunakan metode UDK (uji di atas kertas) dalam kotak plastik dengan ukuran
kotak: panjang 17,5 cm, lebar 10,5 cm dan tinggi 7,5 cm. Masing-masingunit
diulang tiga kali. Variabel yang diamati adalah daya berkecamabah (%).Waktu
pengusangan yang memberikan nilai viabilitas dengan DB ±80% dan DB ±60%
akan digunakan untuk mengusangkan benih padi gogo yang akan digunakan
sebagai materi penelitian di laboratorium dan dilapang.
Penelitian Laboratorium
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok
(RAK) pola faktorial yang terdiri dari tiga faktor. Faktor pertama adalah
perlakuan invigorasi (I) terdiri dari sepuluh taraf perlakuan yaitu:
(I1):kontrol (benih direndam dengan air)
(I2):direndam dalam air kelapa muda
(I3): direndam dalam air kelapa tua
(I4): benih direndam dalam larutan GA
380 ppm
(I5): benih direndam dalam larutan GA
3100 ppm
(I6): benih direndam dalam larutansitokinin 80 ppm
(I7): benih direndam dalam larutan sitokinin 100 ppm
(I8): benih direndam dalam larutan GA
3100 ppm +80 ppm sitokinin
(I9): benih direndam dalam larutan GA
3100 ppm + 100 ppm sitokinin
(I10): benih direndam dalam larutan 100 ppm GA
3+ air kelapa muda
Faktor kedua adalah tingkat viabilitas benih (V), terdiri dari tiga taraf
perlakuan yaitu: V1: viabilitas tinggi (DB ±100%), V2: viabilitas sedang (DB
±80%) dan V3: viabilitas rendah (DB ±60%). Faktor ketiga adalah varietas padi
gogo (G) terdiri dari tiga taraf perlakuan yaitu: G1(Situpatenggang), G2
(Limboto), dan G3(Batutegi). Dari tiga faktor yang dicobakan tersebut diperoleh
90 kombinasi perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang 3 kali sehingga
Dalam dokumen
Seed Invigoration treatments to increase seed viability, plant growth and yield of upland rice (Oryza sativa L.)
(Halaman 90-137)