• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi RTH Eksisting Kota Kandangan

Pemerintah Kab. HSS telah menetapkan wilayah-wilayah kota yang termasuk sebagai areal RTH publik dalam Surat Keputusan Bupati Hulu Sungai Selatan Nomor 237 Tahun 2012 tentang Penetapan Ruang Terbuka Hijau Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pengelolaan RTH publik ini diserahkan kepada beberapa SKPD terkait. Dinas LH&TKP bertugas mengelola RTH yang berupa taman-taman umum dan jalur hijau jalan. Dinas Hutbun bertugas mengelola hutan kota. Dinas Sosnakertrans bertugas mengelola RTH berupa taman pemakaman umum. RTH publik Kota Kandangan berdasarkan SK tersebut, tercantum dalam Lampiran 5.

Berdasarkan peta penggunaan lahan Kota Kandangan tahun 2010, luas RTH Kota Kandangan di luar tubuh air adalah sebesar 3.070,45 ha atau 83,50% dari luas Kota Kandangan. Ruang terbuka hijau ini terdiri atas RTH publik seluas 8,23 ha atau 0,22% dari luas kota, dan sisanya dalam bentuk RTH privat. RTH publik yang dimaksudkan di sini adalah RTH yang telah ditetapkan oleh Pemkab HSS dalam SK Bupati. RTH privat sendiri ada berbagai macam jenisnya, yaitu kebun campuran (43,86%), kebun sayuran (1,73%), semak belukar (2,28%), sawah (35,18%), saluran irigasi yang melintasi persawahan (0,07%) dan lapangan (0,17%). Lapangan yang termasuk dalam kategori RTH privat adalah lapangan olahraga yang digunakan oleh masyarakat umum, tetapi pengelolaannya bukan oleh Pemkab. HSS, melainkan oleh pihak lain seperti sekolah, dan instansi militer. Sementara ruang terbangun menempati lahan seluas 581,12 ha atau 15,80% dari luas kota. Ruang terbangun meliputi pemukiman dan berbagai fasilitas umum lainnya seperti fasilitas perdagangan, perkantoran, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan dan sebagainya seluas 579,82 ha atau 15,77% dari luas kota, dan terminal seluas 1,30 ha atau 0,04%. Tubuh air yaitu badan Sungai Amandit seluas 25,41 ha atau 0,69% dari luas kota. Rincian penggunaan lahan tersebut bisa dilihat pada Tabel 9.

Dari total RTH dan tubuh air seluas 3.095,86 ha, RTH Kota Kandangan dapat diklasifikasikan berdasarkan fisiknya yaitu RTH bentukan alami yaitu semak belukar dan tubuh air seluas 109,18 ha atau 3,53% dari seluruh RTH yang ada, dan sisanya 96,47% atau 2.986,67 ha merupakan RTH Binaan dalam bentuk kebun campuran, kebun sayuran, sawah, lapangan, saluran irigasi dan RTH publik.

Ditinjau dari segi fungsi, mayoritas RTH Kota Kandangan memiliki fungsi utama ekonomi untuk dijual hasil poduksinya atau sebagai pendukung fungsi ekonomi seluas 2.972,18 ha atau 96,00% dalam bentuk kebun campuran, kebun sayuran, sawah dan saluran irigasi. RTH yang memiliki fungsi utama sosial/budaya yaitu lapangan olahraga dan sebagian RTH publik adalah seluas 12,69 ha atau 0,41%. RTH yang memiliki fungsi utama ekologis adalah seluas 109,18 ha atau 3,53% yaitu semak belukar dan tubuh air. Sebagian RTH publik memiliki fungsi utama arsitektural seluas 0,75 ha atau 0,02%.

Tabel 9 Proporsi penggunaan lahan di Kota Kandangan

Ditinjau dari struktur ruang, seluruh RTH Kota Kandangan mengikuti pola ekologis. Bentuknya mayoritas adalah mengelompok menempati suatu wilayah yang luas berupa kebun campuran dan sawah serta sebagian RTH publik seluas 2910,13 ha atau 94,00%. Kebun sayuran, semak belukar dan lapangan umumnya menempati area yang sempit dan menyebar di berbagai penjuru kota serta sebagian besar RTH publik dengan total luasan 156,98 ha atau 5,07%. Saluran irigasi, tubuh air serta sebagian RTH publik berupa median jalan memiliki struktur memanjang mengikuti pola aliran air dan pola jalan seluas 28,45 ha atau 0,92%.

Ditinjau dari segi kepemilikan, RTH Kota Kandangan didominasi oleh RTH privat yaitu seluas 3.059,81 ha atau 98,84%. RTH privat ini berupa kebun campuran, kebun sayuran, semak belukar, sawah dan lapangan. Sisanya seluas 36,04 ha atau 1,16% yang merupakan RTH publik adalah berupa saluran irigasi, tubuh air dan RTH publik. Rangkuman klasifikasi RTH Kota Kandangan bisa dilihat pada Tabel 10.

Berdasarkan data klasifikasi RTH Kota Kandangan tersebut, sebagian besar RTH merupakan RTH Binaan dengan fungsi utama ekonomi dari hasil produksi tanaman dengan struktur yang mengelompok mengikuti pola ekologis yang dimiliki oleh perorangan atau swasta (privat). Dengan karakteristik seperti ini, RTH Kota Kandangan sangat rawan untuk terkonversi menjadi lahan terbangun.

Untuk mencegah lajunya konversi ini, Pemkab perlu mengambil tindakan untuk menjaga kesinambungan fungsi dan jumlah RTH agar tidak terus terdesak oleh kepentingan pembangunan infrastruktur fisik. Pemkab HSS perlu menambah jumlah RTH publik agar memenuhi standar kebutuhan RTH berdasarkan UU No.

26 tahun 2007. Selain itu, penting juga untuk lebih memperhatikan fungsi ekologis RTH, terutama pada RTH publik. Pengembangan RTH juga sebaiknya mempertimbangkan struktur planologis, mengikuti hierarki dan struktur ruang perkotaan.

Penggunaan Lahan Luas (ha) Proporsi (%)

Kebun Campuran 1.612,81 43,86

Tabel 10 Klasifikasi RTH Kota Kandangan

RTH publik Kota Kandangan berdasarkan SK Bupati HSS seluas 8,23 ha atau 0,22% dari luas wilayah Kota Kandangan. RTH ini meliputi jenis RTH taman dan hutan kota seluas 5,75 ha, RTH jalur hijau jalan seluas 1.04 ha dan RTH dengan fungsi tertentu seluas 1,46 ha. Jumlah ini masih belum memenuhi standar jumlah RTH publik yang disyaratkan dalam UU No. 26 tahun 2007. Selain jumlah dan luas RTH publik yang belum memadai, distribusi lokasi RTH publik tersebut pun masih belum merata. RTH Publik yang ada umumnya terpusat di wilayah pusat kota, dan sepanjang jalur transportasi utama (Gambar 19). Hal ini mengakibatkan sebagian masyarakat tidak terlayani. Oleh karena itu, untuk pengembangan RTH Kota Kandangan sangat perlu untuk lebih memperhatikan jumlah dan penyebarannya agar mampu melayani seluruh warga kota.

Gambar 19 Peta penyebaran RTH publik Kota Kandangan RTH Alami Ekologis Pola Ekologis RTH Publik

109,18 ha 110,23 ha - Mengelompok 36,04 ha

3,53 % 3,56 % 2.910,13 ha 1,16 %

Sosial/Budaya 94,00 % 12,69 ha - Memanjang 0,41 % 28,45 ha

3.095,86 RTH Binaan Arsitektural 0,92 % RTH Privat ha 2.986,67 ha 0,75 ha - Menyebar 3.059,81 ha

96,47 % 0,02 % 156,98 ha 98,84 %

Ekonomi 5,07 %

2.972,18 ha Pola Planologis

96,00 %

RUANG TERBUKA

HIJAU (RTH)

FISIK FUNGSI STRUKTUR KEPEMILIKAN

Kebutuhan RTH Kota Kandangan Kebutuhan RTH Berdasarkan Luas Wilayah

Dalam KTT Bumi II di Johannesburg, Afrika Selatan (Earth Summit II, 2002) disepakati bahwa kota-kota harus menyediakan RTH minimal 30 persen dari luas kota untuk keseimbangan ekologis. Artinya, penyediaan RTH untuk fungsi keseimbangan ekosistem berguna untuk penyediaan udara bersih, penyerapan karbondioksida sekaligus mengurangi efek rumah kaca dan pemanasan kawasan kota (urban heat island) (Joga dan Ismaun 2011). Wacana ini diaktualisasikan menjadi dasar hukum dengan dikeluarkannya UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dalam UU ini, pada pasal 29 ayat (2) disebutkan bahwa “proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota”. Tujuan dari penyediaan RTH 30% ini disebutkan pada penjelasan dari pasal ini yaitu “proporsi 30 (tiga puluh) persen merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan sistem mikroklimat, maupun sistem ekologis lain, yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota”.

Luas wilayah Kota Kandangan adalah 3.676.97 ha. Berdasarkan ketentuan UU No. 26 tahun 2007, Kota Kandangan perlu menyediakan RTH minimal seluas 30% dari luas wilayah, yaitu sebesar 1.103,09 ha. Jumlah RTH Kota Kandangan beserta tubuh air berdasarkan hasil identifikasi adalah seluas 3.095,86 ha atau 84,20% dari luas kota. Luas ini sudah memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam UU tersebut.

Ketentuan selanjutnya dalam UU No. 26 tahun 2007 pasal 29 ayat (3) adalah “Proporsi ruang terbuka hijau publik pada wilayah kota paling sedikit 20 (dua puluh) persen dari luas wilayah kota”. Tujuan dari penyediaan RTH publik sejumlah 20% ini disebutkan pada penjelasan ayat ini yaitu “proporsi ruang terbuka hijau publik seluas minimal 20 (dua puluh) persen yang disediakan oleh pemerintah daerah kota dimaksudkan agar proporsi ruang terbuka hijau minimal dapat lebih dijamin pencapaiannya sehingga memungkinkan pemanfaatannya secara luas oleh masyarakat”.

Hal ini dapat dipahami karena RTH privat merupakan RTH yang sangat rawan terkonversi menjadi lahan terbangun, terutama karena alasan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Joga dan Ismaun (2011) menyebutkan bahwa penampilan fisik kota dari waktu ke waktu terus berubah karena kegiatan pembangunan sarana dan prasarana kota seiring pertambahan jumlah penduduk.

Namun demikian, dengan adanya batasan administratif wilayah kota, pembangunan cenderung memanfaatkan lahan-lahan alami (baca: hijau) yang masih ada yang sebenarnya mempunyai fungsi-fungsi ekologis. Oleh karena itu, perlu upaya untuk mempertahankan RTH agar tidak terkonversi. Salah satu caranya adalah dengan menetapkan RTH sebagai RTH publik.

Berdasarkan hasil identifikasi RTH eksisting, RTH publik di Kota Kandangan adalah seluas 36,04 ha atau 1,16% dari luas kota. Namun jumlah ini meliputi pula saluran irigasi dan tubuh air. Mengacu pada penjelasan UU No. 26 tahun 2007 pasal 29 ayat (1) dijelaskan bahwa “Ruang terbuka hijau publik merupakan ruang terbuka hijau yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Yang termasuk

ruang terbuka hijau publik, antara lain, adalah taman kota, taman pemakaman umum, dan jalur hijau sepanjang jalan, sungai dan pantai”. Dengan demikian, tubuh air bisa dan saluran irigasi bisa dikecualikan dari posisinya sebagai RTH publik, meskipun tetap digunakan untuk kepentingan masyarakat umum.

Mengacu pada SK Bupati HSS no. 237 tahun 2012, telah juga disebutkan RTH di Kab. HSS yang diakui dan ditetapkan sebagai RTH publik oleh Pemkab HSS. Secara total jumlah RTH publik tersebut yang berada pada wilayah Kota Kandangan hanya 8,23 ha atau 0,22% dari luas wilayah kota, atau 0,27% dari luas RTH Kota Kandangan. Jumlah ini masih belum mencukupi kebutuhan RTH publik Kota Kandangan yang disyaratkan oleh UU no. 26 tahun 2007 yaitu sebesar 20% atau minimal seluas 739,38 ha.

Dari data kebutuhan dan pemenuhan RTH yang telah dijelaskan di atas, bisa ditarik kesimpulan sementara bahwa kebutuhan RTH 30% untuk Kota Kandangan telah terpenuhi. Adapun kebutuhan RTH publik 20% masih belum terpenuhi oleh ketersediaan RTH publik yang baru mencapai 0,22%. Dengan demikian, upaya pengembangan RTH Kota Kandangan harus diarahkan untuk pemenuhan ketersediaan RTH publik 20%.

Pendistribusian RTH publik ini bisa melalui berbagai pendekatan.

Pendekatan paling mudah adalah berdasarkan batasan wilayah administrasi kecamatan yang menjadi bagian wilayah kota. Dengan asumsi bahwa setiap kecamatan menyumbangkan RTH publik dengan proporsi yang sama, yaitu 20%

dari luas wilayahnya masing-masing, maka neraca kebutuhan dan ketersediaan RTH Kota Kandangan berdasarkan luas wilayah bisa dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Neraca kebutuhan dan ketersedian RTH publik Kota Kandangan berdasarkan luas wilayah

Berdasarkan tabel tersebut, Kota Kandangan masih kekurangan RTH sejumlah 731,15 ha. Ditinjau dari distribusinya, jumlah RTH publik terbanyak berada pada Kecamatan Kandangan yang merupakan wilayah pusat Kota Kandangan yaitu seluas 6,88 ha. Kecamatan Angkinang dan Kecamatan Simpur tidak memiliki ketersediaan RTH publik sama sekali.

Meskipun memiliki ketersediaan RTH publik paling banyak, namun Kecamatan Kandangan menyumbang kebutuhan RTH publik yang terbesar, yaitu 493,31 ha sehingga kekurangan RTH publik di wilayah ini adalah 486,43 ha. Hal ini karena wilayah Kecamatan Kandangan menempati proporsi paling luas dalam Kota Kandangan yaitu 66,72%. Meskipun tidak memiliki ketersediaan RTH publik, Kecamatan Angkinang menyumbangkan kebutuhan RTH paling kecil,

1 Kandangan 2.466,54 493,31 6,88 -486,43

2 Padang Batung 524,40 104,88 0,00 -104,88

3 Angkinang 12,49 2,50 - -2,50

4 Sungai Raya 636,02 127,20 1,35 -125,85

5 Simpur 57,47 11,49 - -11,49

3.696,92 739,38 8,23 -731,15

yaitu 2,50 ha, karena wilayahnya hanya menempati 0,34% dari luas Kota Kandangan.

Kebutuhan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk

Laju pertumbuhan penduduk Kota Kandangan adalah 1,63% per tahun. Laju ini hampir dua kali lipat laju pertumbuhan penduduk Kab. HSS yaitu 0,84% per tahun. Dengan demikian, beban jumlah penduduk di Kota Kandangan semakin besar. Sebagaimana dikemukakan oleh Irwan (2008) bahwa keberadaan kota menjadi hidup karena dapat memberikan pelayanan yang penting bagi mereka yang ada di dalam kota maupun yang tinggal di sekelilingnya, dan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan dan harus singgah di kota tersebut. Pelayanan ini dapat berupa pelayanan keagamaan, administrasi, komersial, politik, pertahanan dan keamanan, atau dapat juga berkenaan dengan pengaturan penyediaan makanan, air dan udara. Untuk memenuhi berbagai kebutuhan penduduk akan pelayanan tersebut, memerlukan banyak lahan untuk membangun berbagai sarana dan prasarana kehidupan seperti pemukiman, perdagangan, perkantoran, kesehatan, pendidikan, jalan, dsb. Hal ini menyebabkan terjadinya konversi lahan-lahan hijau menjadi ruang terbangun yang tidak sedikit. Di lain pihak, kota memerlukan ketersediaan makanan, air dan udara, yang hanya bisa dipenuhi oleh keberadaan RTH. Oleh karena itu penting sekali menentukan berapa kebutuhan RTH yang dibutuhkan oleh masyarakat guna memenuhi kebutuhan tersebut.

Jumlah penduduk Kota Kandangan berkembang mengikuti persamaan regresi = 1079 + 56.273. Berdasarkan persamaan tersebut, maka diperkirakan jumlah penduduk Kota Kandangan pada tahun 2032 mencapai 85.426 jiwa (Tabel 12). Jumlah ini meningkat sebesar 42% dari jumlah penduduk Kota Kandangan berdasarkan sensus tahun 2010.

Tabel 12 Prediksi pertambahan jumlah penduduk Kota Kandangan hingga tahun 2032

Berdasarkan data perubahan penggunaan lahan Kota Kandangan tahun 2008 dan 2010, terjadi peningkatan jumlah lahan terbangun dari 352,86 ha atau 9,54%

pada tahun 2008 menjadi 618,98 ha atau 16,74% pada tahun 2010. Angka peningkatan ini cukup tinggi, yaitu 7,20%, lebih tinggi dari pertambahan jumlah penduduk Kota Kandangan pada periode yang sama yaitu 6,05%. Hal ini menjadi salah satu tanda peringatan bahwa jumlah RTH cenderung semakin menurun sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk.

Berdasarkan perkiraan, jumlah penduduk Kota Kandangan tahun 2032 akan meningkat sebanyak 42% dari jumlah penduduk berdasarkan sensus tahun 2010 yaitu menjadi 85.426 jiwa. Berdasarkan prediksi kebutuhan ruang untuk

1 5 8 10 15 20 25 27

2006 2010 2013 2015 2020 2025 2030 2032

1 Kandangan 39.738 42.793 44.055 45.366 48.643 51.919 55.196 56.506 2 Padang Batung 7.480 8.294 8.569 8.919 9.793 10.667 11.541 11.891 3 Angkinang 3.346 3.402 3.462 3.492 3.567 3.641 3.716 3.745 4 Sungai Raya 6.143 7.184 7.684 8.125 9.226 10.327 11.428 11.868 5 Simpur 1.048 1.109 1.138 1.167 1.240 1.313 1.387 1.416 57.755 62.782 64.909 67.069 72.468 77.867 83.266 85.426

Tahun Kecamatan

No

Kota Kandangan

pemukiman dalam Bappeda (2009) pada tahun 2029 diperlukan lahan sekitar 45,80% dari luas wilayah kota untuk pemukiman; 2,32% untuk fasilitas pendidikan, 0,69% untuk fasilitas kesehatan, dan 0,39% untuk fasilitas peribadatan. Dengan demikian, akan dibutuhkan lahan 1.819 ha atau 49,20% dari luas wilayah Kota Kandangan untuk lahan terbangun yang dikonversi dari lahan-lahan hijau.

Berkurangnya RTH dan bertambahnya dominasi lahan terbangun (hutan beton) kota berdampak pada keseimbangan ekosistem kota dengan indikasi penurunan kualitas lingkungan perkotaan seperti banjir pada musim hujan, fenomena pulau panas kota (UHI) pada musim kemarau dan meningkatnya pencemaran udara kota (Joga dan Ismaun 2011). Selain itu, peningkatan kebutuhan akan sarana dan prasarana fisik ini akan menekan perkembangan kota melebar ke daerah pinggirannya, yang sering disebut sebagai fenomena urban sprawling. Hal ini telah diperingatkan oleh Irwan (2008) bahwa jika kota sudah berkembang di luar kemampuan sumber alam, untuk mendukungnya maka dilakukan spekulasi pertumbuhan kota, penentuan batas kota yang semakin luas, pengusiran golongan marjinal ke pinggir kota kemudian diganti oleh golongan yang lebih mampu dan kuat. Sejalan dengan itu, pertumbuhan di kawasan pusat kota justru menurun karena ketidakmampuan lingkungan mendukung ekosistem kota.

Fenomena urban sprawling ini ditunjukkan dalam perkembangan Kota Kandangan, terutama dilihat dari segi kepadatan penduduk dan pola penggunaan lahan. Kepadatan penduduk tertinggi berada di pusat kota dan berkurang sejalan dengan semakin jauhnya jarak dari pusat kota. Penggunaan lahan pun berkembang secara radial mengikuti kepadatan penduduk, di mana semakin padat penduduk, atau semakin mendekati pusat kota, maka lahan terbangun semakin padat.

Sebaliknya, semakin jauh dari pusat kota, penggunaan lahan berupa penutupan vegetasi yang didominasi pohon-pohon besar semakin rapat.

Mengingat fenomena tersebut, maka kebutuhan RTH publik perlu juga mempertimbangkan jumlah dan kepadatan penduduk. Semakin besar dan semakin padat jumlah penduduk, tentu akan membutuhkan RTH yang semakin luas pula.

Ditjen Penataan Ruang (2008) telah menetapkan besaran kebutuhan RTH publik di Indonesia adalah 20 m2 per kapita. Dengan mengalikan angka ini dengan jumlah penduduk, maka akan didapatkan besaran kebutuhan RTH publik berdasarkan jumlah penduduk. Neraca kebutuhan dan ketersediaan RTH publik Kota Kandangan untuk masa 20 tahun yang akan datang yaitu tahun 2032, didistribusikan berdasarkan administrasi kecamatan bisa dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Neraca kebutuhan dan ketersediaan RTH publik Kota Kandangan berdasarkan jumlah penduduk

1 Kandangan 56.506 113,01 6,88 -106,13

2 Padang Batung 11.891 23,78 0,00 -23,78

3 Angkinang 3.745 7,49 0,00 -7,49

4 Sungai Raya 11.868 23,74 1,35 -22,38

5 Simpur 1.416 2,83 0,00 -2,83

85.426 170,85 8,23 -162,62

Dari tabel tersebut terlihat bahwa Kecamatan Kandangan tetap memerlukan RTH publik terbesar dibandingkan kecamatan lainnya. Kebutuhan RTH publik Kecamatan Kandangan adalah 113,01 ha sehingga terdapat kekurangan RTH publik seluas 106,13 ha. Hal ini bisa dipahami karena memang sebagian besar penduduk Kota Kandangan (66,15%) berdomisili di wilayah ini. Hal ini terlihat dari peta kepadatan penduduk di mana kepadatan tertinggi berada pada desa/kelurahan yang termasuk dalam kategori desa perkotaan di sekitar pusat Kota Kandangan.

Kebutuhan RTH Berdasarkan Indeks Kenyamanan Thermal (THI) Suhu Udara

Santosa (1986) dalam Fajar (2010) menyatakan kepadatan penduduk kota yang cukup tinggi akan mengakibatkan bertambahnya sumber kalor sebagai akibat dari aktivitas dan panas metabolisme penduduk. Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi suhu di permukaan bumi antara lain:

1. Jumlah radiasi yang diterima per tahun, per hari dan per musim.

2. Pengaruh daratan atau lautan.

3. Pengaruh ketinggian tempat (makin tinggi suatu tempat dari permukaan laut maka suhu akan semakin rendah).

4. Pengaruh angin secara tidak langsung, misalnya angin yang membawa panas dari sumbernya secara horizontal.

5. Pengaruh panas laten, yaitu panas yang disimpan dalam atmosfer.

6. Penutup tanah yaitu tanah yang ditutup vegetasi mempunyai temperatur yang lebih rendah daripada tanah tanpa vegetasi

7. Tipe tanah, tanah gelap indeks suhunya lebih tinggi

8. Pengaruh sudut sinar matahari. Sinar yang tegak lurus akan membuat suhu lebih panas daripada yang datangnya miring.

Dari hasil pengukuran di lapangan, fluktuasi rata-rata harian suhu udara Kota Kandangan berkisar antara 26,83 – 29,34oC. Kisaran tersebut bergerak dari 23,30 – 25,28 oC pada pagi hari kemudian meningkat menjadi 31,79 – 34,45 oC pada siang hari. Suhu udara kemudian menurun kembali pada sore hari menjadi 27,77 – 32,78 oC pada sore hari (Tabel 14). Hal ini dijelaskan oleh Handoko (1993) dalam Aprihatmoko (2013) bahwa pada variasi diurnal, suhu maksimum tercapai sekitar pukul 14.00 waktu setempat yaitu setelah radiasi maksimum terjadi karena adanya pemanasan udara yang masih berlangsung meskipun radiasi surya maksimum telah terjadi sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Setelah mencapai maksimum di siang hari, maka suhu udara akan turun kembali hingga mencapai suhu minimum di pagi hari (sekitar pukul 04.00 waktu setempat).

Kondisi ini dijelaskan lebih rinci oleh Tjasyono (2008) dalam Aprihatmoko (2013) bahwa peningkatan suhu udara pada variasi diurnal berkaitan dengan posisi/tingginya matahari yang kemudian akan mempengaruhi penyebaran radiasi matahari yang dapat memanaskan suhu udara. Semakin menuju siang hari, maka posisi matahari akan semakin tinggi. Jika matahari tinggi, maka radiasi yang jatuh hampir tegak lurus pada permukaan bumi sehingga radiasi akan disebarkan di dalam area yang lebih sempit. Pada sore hari posisi matahari berubah menjadi semakin rendah dibandingkan dengan siang hari. Jika matahari rendah, maka sinar

matahari akan melalui atmosfer yang lebih tebal di mana terjadi banyak hamburan dan penyerapan serta penyebaran radiasinya terjadi dalam area yang lebih luas.

Tabel 14 Fluktuasi harian suhu udara Kota Kandangan

Suhu udara ideal yang nyaman bagi manusia adalah berkisar antara 27 – 28 oC (Landsberg 1981 dalam Kalfuadi 2010). Hasil pengamatan suhu udara di Kota Kandangan menunjukkan bahwa suhu udara pagi berkisar antara 23,30 – 25,28 oC. Hal ini menunjukkan bahwa suhu udara pagi hari di Kota Kandangan masih kurang nyaman karena terlalu dingin untuk beraktivitas.

Suhu udara Kota Kandangan pada siang hari berkisar antara 31,79 – 34,45 oC. Nilai ini juga berada di luar nilai suhu udara ideal. Dengan demikian suhu udara Kota Kandangan pada siang hari juga tidak nyaman karena terlalu panas. Pada sore hari, suhu udara Kota Kandangan berkisar antara 27,77 – 32,78oC. Pada sore hari suhu udara Kota Kandangan masih terasa kurang nyaman karena masih terlalu panas. Tetapi di beberapa bagian kota, yaitu di kebun campuran dan kebun sayuran suhu udara termasuk dalam kisaran nyaman.

Rataan suhu udara harian Kota Kandangan berkisar antara 26,83 – 29,34oC.

Hal ini menunjukkan bahwa secara total, fluktuasi suhu udara Kota Kandangan secara harian masih cukup nyaman. Meskipun demikian, masih ada beberapa bagian kota yang kurang nyaman karena suhu udara yang terlalu dingin atau terlalu panas. Suhu udara yang terlalu dingin adalah pada penggunaan lahan sebagai kebun campuran dan tubuh air, sedangkan pada fasilitas perdagangan dan jasa yaitu pasar dan terminal, suhu masih terlalu panas (Gambar 20). Kondisi fluktuasi suhu harian Kota Kandangan sejak pagi hingga sore hari bisa dilihat pada Lampiran 6.

Dilihat berdasarkan penggunaan lahan, daerah dengan tutupan vegetasi yang lebih rapat yaitu kebun campuran memiliki selang perubahan tidak selebar penggunaan lahan lainnya. Suhu udara di kebun campuran pada pagi hari sedikit lebih tinggi dibandingkan penggunaan lahan dengan tutupan vegetasi yang rendah seperti semak belukar dan lapangan. Di siang hari, suhu udara di kebun campuran

Pagi Siang Sore Rata-rata

Kebun Campuran 24,09 31,79 27,77 26,94

Kebun Sayuran 25,28 33,18 27,90 27,91

Semak Belukar 23,65 34,23 28,93 27,61

Sawah 24,11 33,03 28,73 27,50

Tanah Terbuka 23,80 34,45 28,10 27,54

Lapangan 23,85 32,48 29,50 27,59

RTH Publik 24,02 32,41 28,98 27,36

Pemukiman 24,13 32,75 30,40 27,94

Terminal 24,80 32,83 31,48 28,48

Pasar 25,28 34,05 32,78 29,34

Tubuh Air 23,30 32,00 28,70 26,83

Nilai Maksimum 25,28 34,45 32,78 29,34 Nilai Minimum 23,30 31,79 27,77 26,83

Penggunaan Lahan Suhu Udara (oC)

adalah yang terendah dibandingkan penggunaan lahan lainnya. Pada sore hari, suhu udara di kebun campuran berada pada kisaran nyaman. Aprihatmoko (2013) menjelaskan bahwa energi radiasi yang datang ke tajuk tanaman akan terserap oleh tanaman tersebut. Hal ini terjadi karena tanaman memiliki kapasitas panas yang berguna untuk menyimpan energi panas. Energi panas tersebut berguna untuk menjaga suhu biomassa tetap pada rentang yang baik. Selain itu energi

adalah yang terendah dibandingkan penggunaan lahan lainnya. Pada sore hari, suhu udara di kebun campuran berada pada kisaran nyaman. Aprihatmoko (2013) menjelaskan bahwa energi radiasi yang datang ke tajuk tanaman akan terserap oleh tanaman tersebut. Hal ini terjadi karena tanaman memiliki kapasitas panas yang berguna untuk menyimpan energi panas. Energi panas tersebut berguna untuk menjaga suhu biomassa tetap pada rentang yang baik. Selain itu energi

Dokumen terkait