• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rataan dan Simpangan Baku Ukuran-ukuran Kerangka Tubuh pada Ayam yang Diamati

Rataan ukuran-ukuran kerangka tubuh yang dijadikan peubah-peubah disajikan pada Tabel 7. Berdasarkan Tabel 7, ukuran kerangka tubuh yang paling besar adalah pada jenis ayam Sentul, baik pada jantan maupun betina, sedangkan rataan ukuran tubuh yang paling kecil adalah pada ayam Wareng Tangerang.

Menurut North dan Bell (1990), tulang merupakan tempat perlekatan dari otot sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa jika kerangka tubuh besar maka bobot badan juga akan besar. Herren (2000) menjelaskan bahwa pertumbuhan pada ternak berlangsung cepat sejak lahir sampai mencapai dewasa tubuh; tulang dan jaringan otot tumbuh secara teratur. Setelah mencapai dewasa tubuh, pertumbuhan tulang dan otot akan berhenti dan akan dilanjutkan dengan perkembangan lemak. Berdasarkan Tabel 7, dapat dijelaskan bahwa bobot badan ayam Sentul terbesar dilanjutkan dengan ayam Kampung dan Wareng Tangerang. Bobot badan ayam Kampung lebih besar daripada bobot badan ayam Wareng Tangerang. Hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa bobot badan ayam Sentul dewasa 1.850 g pada betina dan 2.500 g pada jantan (Iskandar et al., 2004b). Ayam Kampung dewasa memiliki bobot badan 1.815 ± 353 g dan betina 1.382 ± 290 g (Mulyono dan Pangestu, 1996). Bobot badan ayam Wareng Tangerang pada jantan sekitar 1.000 g dan betina 841 g (Iskandar et al., 2006). Hal ini sesuai dengan pendugaan bobot badan pada penelitian ini.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang dilaporkan oleh Iskandar et al. (2004b); Mulyono dan Pangestu (1996) dan Iskandar et al. (2006), bobot badan pada jantan lebih besar daripada betina. Hasil-hasil penelitian tersebut sesuai dengan hasil penelitian ini yang membuktikan bahwa ukuran-ukuran tubuh ayam jantan lebih besar daripada betina pada setiap jenis ayam.

25 Tabel 7. Rataan Peubah dan Simpangan Baku yang Diamati pada Jantan,

Betina dan Keseluruhan pada Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang

Jenis Ayam Peubah

Ayam Kampung (n) Ayam Sentul (n) Ayam Wareng (n)

---(cm)---- ---(cm)--- ---(cm)--- Jantan 10,23 ± 0,65 28 11,25 ± 0,77 23 8,41 ± 0,45 20 Betina 8,35 ± 0,38 96 9,35 ± 0,48 27 7,12 ± 0,51 90 Panjang Femur Keseluruhan 8,77 ± 0,99 124 10,22 ± 1,14 50 7,35 ± 0,70 110 Jantan 15,30 ± 1,02 28 16,61 ± 1,22 23 12,07 ± 0,48 20 Betina 12,31 ± 0,59 96 13,82 ± 0,61 27 10,33 ± 0,68 90 Panjang Tibia Keseluruhan 12,99 ± 1,44 124 15,11 ± 1,69 50 10,65 ± 0,93 110 Jantan 11,01 ± 0,91 28 12,24 ± 0,84 23 8,70 ± 0,28 20 Betina 8,59 ± 0,47 96 9,78 ± 0,54 27 7,13 ± 0,40 90 Panjang Shank Keseluruhan 9,14 ± 1,17 124 10,91 ± 1,42 50 7,41 ± 0,72 110 Jantan 6,37 ± 0,33 28 7,32 ± 0,59 23 5,28 ± 0,24 20 Betina 5,28 ± 0,49 96 6,10 ± 0,48 27 4,11 ± 0,33 90 Panjang Jari Ketiga Keseluruhan 5,53 ± 0,65 124 6,61 ± 0,85 50 4,32 ± 0,55 110 Jantan 3,60 ± 0,37 28 3,68 ± 0,44 23 3,08 ± 0,15 20 Betina 3,17 ± 0,19 96 3,38 ± 0,26 27 2,82 ± 0,16 90 Panjang Maxilla Keseluruhan 3,26 ± 0,30 124 3,52 ± 0,38 50 2,87 ± 0,19 110 Jantan 4,71 ± 2,27 28 1,91 ± 1,12 23 3,50 ± 0,66 20 Betina 1,59 ± 1,01 96 0,74 ± 0,34 27 2,01 ± 0,48 90 Tinggi Jengger Keseluruhan 2,29 ± 1,91 124 1,28 ± 0,99 50 2,28 ± 0,77 110 Jantan 9,72 ± 1,26 28 10,51 ± 1,16 23 7,91 ± 0,78 20 Betina 7,21 ± 1,70 96 9,19 ± 0,93 27 8,26 ± 1,08 90 Panjang Punggung Keseluruhan 7,78 ± 1,92 124 9,80 ± 1,23 50 8,20 ± 1,04 110 Jantan 23,48 ± 1,51 28 24,11 ± 1,63 23 18,90 ± 0,98 20 Betina 19,21 ± 1,17 96 20,61 ± 1,16 27 15,93 ± 1,20 90 Panjang Sayap Keseluruhan 20,18 ± 2,18 124 22,22 ± 2,24 50 16,47 ± 1,63 110 Jantan 13,08 ± 1,03 28 13,19 ± 1,24 23 10,32 ± 0,65 20 Betina 10,51 ± 0,81 96 11,31 ± 0,87 27 8,85 ± 0,71 90 Panjang Dada Keseluruhan 11,09 ± 1,38 124 12,17 ± 1,41 50 9,12 ± 0,90 110 Jantan 5,33 ± 0,74 28 5,30 ± 0,52 23 3,55 ± 0,23 20 Betina 3,96 ± 0,30 96 4,14 ± 0,27 27 3,17 ± 0,24 90 Lingkar Shank Keseluruhan 4,27 ± 0,72 124 4,64 ± 0,68 50 3,24 ± 0,28 110

Uji T2-Hotteling

Uji T2-Hotteling membuktikan bahwa kedua vektor nilai rata-rata peubah pada dua jenis ayam yang diamati pada penelitian ini sangat berbeda (P<0,01). Tabel 8 menyajikan hasil uji T2-Hotteling pada jenis ayam yang diamati.

Tabel 8. Hasil Uji Statistik T2-Hotteling pada Peubah-peubah Jenis Ayam yang Diamati

Jenis Ayam Ayam Kampung Ayam Wareng Tangerang

Ayam Kampung

Ayam Wareng Tangerang **

Ayam Sentul ** **

Keterangan : ** = Sangat Berbeda (P<0,01)

Berdasarkan Tabel 8, perbedaan peubah-peubah ukuran kerangka tubuh ayam-ayam yang diamati ditemukan diantara dua kelompok jenis ayam. Perbedaan tersebut terjadi pada ukuran kerangka tubuh ayam Kampung dengan ayam Wareng Tangerang; ayam Kampung dengan ayam Sentul dan ayam Wareng Tangerang dengan ayam Sentul. Hal ini mendukung laporan yang telah dinyatakan oleh Iskandar et al. (2004a) dan Iskandar et al. (2004b) bahwa secara genetis atau akibat dari mutasi gen dan faktor adaptasi; ditemukan perbedaan antara jenis ayam Kampung, ayam Wareng Tangerang dan ayam Sentul; yang diperlihatkan dari masing-masing jenis karakteristik ayam tersebut. Hutt (1949) menyatakan bahwa mutasi gen mengakibatkan perubahan gen tunggal yang hasilnya akan terlihat saat unggas tersebut melakukan perkawinan dengan unggas lain yang memiliki gen mutasi yang sama. Dijelaskan lebih lanjut bahwa perubahan tersebut kemudian akan dapat dilihat lebih jelas jika sifat yang mengalami mutasi diturunkan kepada anaknya yang kemudian disertai dengan proses seleksi. Hasil mutasi tersebut berupa warna bulu, pola bulu, bentuk bentuk jengger, warna kulit dan lain sebagainya yang akhirnya digunakan untuk membedakan antar bangsa dalam satu spesies (Hutt, 1949).

Perbedaan pada tiap jenis ayam juga terdapat pada warna bulu selain pada ukuran dan bentuk tubuh (Hutt, 1949). Ayam Kampung memiliki warna bulu yang lebih bervariasi dibandingkan ayam Sentul yang memiliki warna bulu khas abu-abu.

27 40 30 20 10 5 0

Ukuran

Bent

uk

Ayam Wareng Tangerang memiliki warna bulu yang dominan putih (Susanti et al., 2006).

Analisis Komponen Utama

Analisis Komponen Utama berdasarkan Jenis Kelompok Ayam

Hartono (2002) dan Supriyanto (2003) menjelaskan bahwa persamaan yang tepat digunakan untuk mengetahui perbedaan antar jenis kelompok yang lebih jelas adalah berdasarkan persamaan masing-masing jenis kelompok itik jika dibandingkan berdasarkan keseluruhan jenis kelompok itik. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Sutisna (2002) yang menyatakan bahwa sebaran data berdasarkan persamaan yang diturunkan dari masing-masing jenis kelompok itik dan entok lebih memuaskan dan dapat lebih mudah diinterpretasikan jika dibandingkan dari sebaran data yang diturunkan dari persamaan keseluruhan jenis kelompok itik dan entok. Mufti (2003) juga menjelaskan hal yang sama pada ayam Kampung, ayam Pelung dan ayam persilangannya. Gambar 5 menyajikan diagram kerumunan data individu ayam yang diamati berdasarkan persamaan yang diturunkan pada masing-masing jenis ayam yang diamati (ayam Kampung, ayam Sentul dan ayam Wareng Tangerang).

Keterangan : 1 j Ayam Kampung Jantan; 1 b Ayam Kampung Betina;

2 j Ayam Wareng Tangerang Jantan; 2 b Ayam Wareng Tangerang Betina

3 j Ayam Sentul Jantan; 3 b Ayam Sentul Betina

Gambar 5. Kerumunan Data Individu pada Ayam-ayam yang Diamati berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk pada Persamaan yang Diturunkan berdasarkan Masing-masing Jenis Ayam yang Diamati

Ayam Kampung. Tabel 9 menyajikan persamaan ukuran dan bentuk kerangka tubuh dengan keragaman total dan nilai eigen ayam Kampung. Berdasarkan Tabel 9, keragaman total (KT) dari persamaan ukuran kerangka tubuh tersebut sebesar 70,4% yang menunjukkan proporsi keragaman terbesar dalam persamaan ukuran. Nilai eigen (λ) pada persamaan ukuran kerangka tubuh ayam Kampung sebesar 13,59 dan merupakan nilai keragaman dalam persamaan ukuran. Penciri ukuran pada kerangka tubuh ayam Kampung adalah panjang sayap dengan vektor eigen panjang sayap (X8) sebesar 0,55. Hal ini sesuai dengan penelitian Nishida et al. (1982) yang melaporkan bahwa skor ukuran pada ayam Kampung juga dipengaruhi oleh panjang tibia; sedangkan Mufti (2003) juga menyatakan hal yang sama pada ayam Kampung.

Nilai korelasi antara skor ukuran dan peubah-peubah ukuran kerangka tubuh ayam Kampung serta skor bentuk dan peubah-peubah ukuran kerangka tubuh ayam Kampung disajikan pada Tabel 10. Berdasarkan Tabel 10, nilai korelasi antara ukuran dan panjang sayap sebesar +0,93 yang menunjukkan bahwa semakin besar nilai panjang sayap maka ukuran kerangka tubuh yang dihasilkan juga akan semakin besar. Hal tersebut sesuai dengan Mufti (2003).

Tabel 9. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kerangka Tubuh dengan Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Kampung

Persamaan KT (%) λ Ukuran = 0,23X1 + 0,35X2 + 0,30X3 + 0,15X4 + 0,06X5 + 0,35X6 + 0,33X7 + 0,55X8 + 0,34X9 + 0,17X10 70,4 13,59 Bentuk = 0,01X1 − 0,09X2 + 0,01X3 + 0,11X4 + 0,00X5 − 0,75X6 + 0,64X7− 0,01X8 + 0,08X9 + 0,03X10 12,7 2,49

Keterangan : X1 = Panjang Femur; X2 = Panjang Tibia; X3 = Panjang Shank; X4 = Panjang Jari

Ketiga; X5 = Panjang Maxilla; X6 = Tinggi Jengger; X7 = Panjang Punggung;

X8 = Panjang Sayap; X9 = Panjang Dada; X10 = Lingkar Shank; KT = Keragaman Total;

λ = Nilai Eigen

Berdasarkan Tabel 9, keragaman total (KT) yang dihasilkan dari persamaan bentuk sebesar 12,7% yang merupakan keragaman total terbesar kedua setelah keragaman total pada persamaan ukuran. Nilai eigen (λ) menunjukkan adanya keragaman pada bentuk kerangka tubuh ayam Kampung sebesar 2,49. Penciri bentuk berdasarkan Tabel 9 adalah tinggi jengger dengan vektor eigen tinggi jengger (X6) sebesar 0,75. Hal ini sesuai dengan penelitian Nishida et al. (1982) yang melaporkan

29 bahwa panjang sayap juga mempengaruhi skor bentuk kerangka tubuh pada ayam Kampung; Mufti (2003) juga menyatakan hala yang sama pada ayam Kampung. Nickel et al. (1977) menyatakan bahwa pada unggas, jantan dan betina memiliki jengger yang berbeda dalam ukuran dan bentuk dan beragam pada tiap bangsa.

Tabel 10. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Kampung serta Bentukdan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Kampung

Peubah yang Diukur Ukuran Bentuk

Panjang Femur (X1) +0,94 +0,02

Panjang Tibia (X2) +0,90 −0,10

Panjang Shank (X3) +0,94 +0,01

Panjang Jari Ketiga (X4) +0,86 +0,28

Panjang Maxilla (X5) +0,68 +0,02 Tinggi Jengger (X6) +0,67 −0,61 Panjang Punggung (X7) +0,72 +0,52 Panjang Sayap (X8) +0,93 −0,01 Panjang Dada (X9) +0,90 +0,09 Lingkar Shank (X10) +0,84 +0,07

Nilai korelasi antara bentuk dan tinggi jengger sebesar −0,61. Nilai korelasi yang negatif tersebut menunjukkan bahwa semakin besar nilai dari tinggi jengger maka skor bentuk kerangka tubuh yang ditunjukkan oleh ayam Kampung akan semakin kecil. Pada bangsa Mediterania, salah satunya yaitu Leghorn, jengger lebih besar dibandingkan pada bangsa tipe berat (Hutt, 1949). Dijelaskan lebih lanjut bahwa luas jengger sekitar tiga kali panjangnya dan dapat diukur dari pengukuran panjang x tinggi yang memiliki korelasi cukup tinggi pada bobot jengger.

Berdasarkan Gambar 5, skor ukuran kerangka tubuh ayam Kampung jantan lebih besar dibandingkan ayam Kampung betina, meskipun ditemukan beberapa jantan dan betina yang memiliki skor ukuran yang sama. Keadaan ini diperlihatkan dari skor ukuran jantan yang lebih besar dibandingkan betina. Kerumunan data individu ayam Kampung jantan memiliki keragaman yang hampir sama dengan betina; yang ditunjukkan oleh bentuk kerumunan data individu yang hampir sama.

Hal ini bersesuaian dengan rataan ukuran kerangka tubuh ayam Kampung jantan lebih besar dibandingkan rataan ukuran kerangka tubuh betina pada Tabel 7. Perbedaan tersebut disebabkan karena pada jantan ditemukan testosteron sebagai steroid dari androgen yang menyebabkan pertumbuhan ternak jantan lebih cepat dibandingkan dengan ternak betina (Soeparno, 1992). Menurut Frandson (1992) bahwa laju pertumbuhan tulang hewan dipengaruhi oleh hormon, diantaranya hormon androgen dan testosteron. Androgen adalah hormon jantan yang disekresikan oleh sel-sel interstisial testis. Hormon tersebut bekerja efektif dalam merangsang pertumbuhan hewan jantan dibandingkan betina. Pada hewan jantan, testosteron berpengaruh terhadap metabolisme dengan merangsang sintesis protein sehingga menghasilkan kenaikan bobot badan dan pertumbuhan kerangka tulang serta jaringan daging lebih besar.

Bentuk kerangka tubuh ayam Kampung berdasarkan Gambar 5 menunjukkan tidak berbeda jauh baik pada jantan maupun betina. Hal ini ditunjukkan dari kisaran skor bentuk pada jantan dan betina yang hampir sama. Ayam Kampung merupakan salah satu kelompok jenis ayam asli Indonesia yang memiliki bentuk pada jantan dan betina tidak berbeda jauh.

Ayam Sentul. Tabel 11 menyajikan persamaan ukuran dan bentuk kerangka tubuh dengan keragaman total dan nilai eigen pada ayam Sentul. Berdasarkan Tabel 11, keragaman total (KT) yang berkontribusi terbesar menjelaskan persamaan ukuran kerangka tubuh sebesar 83,6 %, sedangkan nilai eigen (λ) sebesar 14,18. Penciri ukuran kerangka tubuh ayam Sentul adalah panjang sayap dengan vektor eigen panjang sayap (X8)sebesar 0,58.

Tabel 12 menyajikan korelasi antara skor ukuran dan peubah-peubah ukuran kerangka tubuh ayam Sentul serta skor bentuk dan peubah-peubah ukuran kerangka tubuh ayam Sentul. Berdasarkan Tabel 12, nilai korelasi antara skor ukuran dan panjang sayap sebesar +0,97. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar nilai dari panjang sayap, maka skor ukuran kerangka tubuh juga akan besar.

Penciri bentuk kerangka tubuh pada ayam Sentul berdasarkan Tabel 11 adalah tinggi jengger dengan vektor eigen tinggi jengger (X6) sebesar 0,69. Keragaman total (KT) yang berkontribusi terbesar pada persamaan bentuk sebesar

31 83,6%, sedangkan nilai eigen (λ) yang merupakan nilai ragam bentuk pada persamaan ayam Sentul sebesar 14,18.

Nilai korelasi antara skor bentuk dan tinggi jengger yang disajikan pada Tabel 12 sebesar −0,65. Nilai tersebut menunjukkan bahwa semakin besar nilai dari tinggi jengger, maka skor bentuk kerangka tubuh ayam Sentul akan semakin kecil.

Tabel 11. Persamaan Ukuran dan Bentuk Tubuh dengan Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Sentul

Persamaan KT (%) λ Ukuran = 0,29X1 + 0,43X2 + 0,36X3 + 0,20X4 + 0,05X5 + 0,16X6 + 0,26X7 + 0,58X8 + 0,32X9 + 0,17X10 83,6 14,18 Bentuk = 0,03X1 − 0,19X2 − 0,02X3 + 0,02X4 + 0,02X5 − 0,69X6 + 0,46X7 + 0,36X8− 0,36X9− 0,14X10 5,0 0,85

Keterangan : X1 = Panjang Femur; X2 = Panjang Tibia; X3 = Panjang Shank; X4 = Panjang Jari

Ketiga; X5 = Panjang Paruh; X6 = Tinggi Jengger; X7 = Panjang Punggung;

X8 = Panjang Sayap; X9 = Panjang Dada; X10 = Lingkar Shank; KT = Keragaman Total;

λ = Nilai Eigen

Tabel 12. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Sentul serta Bentuk dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Sentul

Peubah yang Diukur Ukuran Bentuk

Panjang Femur (X1) +0,96 +0,02

Panjang Tibia (X2) +0,96 −0,10

Panjang Shank (X3) +0,97 −0,01

Panjang Jari Ketiga (X4) +0,90 +0,03

Panjang Maxilla (X5) +0,49 +0,05 Tinggi Jengger (X6) +0,62 −0,65 Panjang Punggung (X7) +0,78 +0,34 Panjang Sayap (X8) +0,97 +0,15 Panjang Dada (X9) +0,86 −0,24 Lingkar Shank (X10) +0,92 −0,18

Jengger sangat berperan dalam sistem sirkulasi darah karena berfungsi sebagai termoregulator tubuh terhadap suhu lingkungan. Saat suhu lingkungan dingin, aliran anastomoses Artery-Venous (A-V) mengirimkan darah arteri menuju

vena untuk menghangatkan sebagian darah yang dingin dari kapiler (Lucas dan Stettenheim, 1972). Dijelaskan lebih lanjut bahwa jika suhu tubuh meningkat dikarenakan aktivitas metabolisme dengan diikuti suhu lingkungan yang tinggi, maka kapiler akan membebaskan panas dan sekali lagi aliran A-V akan menurunkan panas di vena menjadi level arteri.

Berdasarkan Gambar 5, skor ukuran kerangka tubuh ayam Sentul jantan lebih besar dibandingkan betina, meskipun ditemukan beberapa individu yang memiliki skor ukuran yang sama. Keadaan ini ditunjukkan dari tumpang tindih kerumunan data individu antara jantan dan betina dan menunjukkan bahwa ukuran jantan dan betina tidak terlalu berbeda jauh. Hasil tersebut sesuai dengan Iskandar et al. (2004b) yang menyatakan bahwa bobot badan ayam Sentul untuk betina 1.370 g dan jantan 2.050 g. Hal tersebut dikarenakan laju pertumbuhan jantan lebih cepat dibandingkan betina. Hal yang sama juga ditemukan pada ayam Kampung.

Berdasarkan Gambar 5, bentuk ayam Sentul jantan dan betina hampir sama karena kisaran skor bentuk betina berada dalam kisaran skor bentuk jantan. Bentuk pada betina juga lebih seragam dibandingkan jantan. Hal tersebut ditunjukkan dari kerumunan data individu ayam Sentul betina yang lebih sempit dibandingkan kerumunan data individu jantan. Keadaan ini disebabkan pemeliharaan ayam Sentul ke arah produksi telur sehingga seleksi yang dilakukan pada ayam Sentul betina yang lebih selektif yaitu berdasarkan produksi telur tinggi dan warna bulu dasar yang hanya abu-abu, sedangkan ayam jantan hanya diseleksi berdasarkan warna bulu merah, kuning dan hitam dengan warna bulu dasar abu-abu (Iskandar et al., 2005).

Ayam Wareng Tangerang. Tabel 13 menyajikan persamaan ukuran dan bentuk tubuh dengan keragaman total dan nilai eigen pada ayam Wareng Tangerang. Berdasarkan Tabel 13, keragaman total (KT) yang menunjukkan proporsi terbesar keragaman pada persamaan ukuran sebesar 64,2%, sedangkan nilai eigen (λ) sebesar 4,78 yang menunjukkan nilai keragaman pada persamaan ukuran kerangka tubuh ayam Wareng Tangerang. Penciri ukuran pada kerangka tubuh ayam Wareng Tangerang adalah panjang sayap dengan vektor eigen panjang sayap (X8) sebesar 0,71. Hasil penelitian ini tidak berbeda dengan hasil yang ditemukan pada kelompok jenis ayam Kampung dan ayam Sentul.

33 Nilai korelasi antara skor ukuran dan peubah-peubah ukuran kerangka tubuh ayam Wareng Tangerang serta skor bentuk dan peubah-peubah ukuran kerangka tubuh ayam Wareng Tangerang disajikan pada Tabel 14. Berdasarkan Tabel 14, korelasi antara skor ukuran dengan vektor penciri ukuran kerangka tubuh ayam Wareng Tangerang yaitu panjang sayap sebesar +0,95, yang menunjukkan bahwa semakin besar nilai dari panjang sayap, maka skor ukuran yang dihasilkan akan semakin besar pula.

Tabel 13. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kerangka Tubuh dengan Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Wareng Tangerang Persamaan KT (%) λ Ukuran = 0,26X1 + 0,35X2 + 0,30X3 + 0,23X4 + 0,05X5 + 0,21X6− 0,05X7 + 0,71X8 + 0,32X9 + 0,08X10 64,2 4,78 Bentuk = −0,03X1 + 0,11X2 + 0,10X3 + 0,02X4 + 0,02X5− 0,03X6 + 0,98X7− 0,05X8 + 0,08X9− 0,02X10 14,7 1,09

Keterangan : X1 = Panjang Femur; X2 = Panjang Tibia; X3 = Panjang Shank; X4 = Panjang Jari

Ketiga; X5 = Panjang Paruh; X6 = Tinggi Jengger; X7 = Panjang Punggung;

X8 = Panjang Sayap; X9 = Panjang Dada; X10 = Lingkar Shank; KT = Keragaman Total;

λ = Nilai Eigen

Tabel 14. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Wareng Tangerang serta Bentukdan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Wareng Tangerang

Peubah yang Diukur Ukuran Bentuk

Panjang Femur (X1) +0,81 −0,04

Panjang Tibia (X2) +0,83 +0,12

Panjang Shank (X3) +0,91 +0,14

Panjang Jari Ketiga (X4) +0,91 +0,03

Panjang Maxilla (X5) +0,54 +0,09 Tinggi Jengger (X6) +0,60 −0,04 Panjang Punggung (X7) −0,99 +0,99 Panjang Sayap (X8) +0,95 −0,04 Panjang Dada (X9) +0,79 +0,09 Lingkar Shank (X10) +0,65 −0,09

Penciri bentuk kerangka tubuh ayam Wareng Tangerang berdasarkan Tabel 13 adalah panjang punggung dengan vektor eigen panjang punggung (X7) sebesar 0,98. Keragaman total (KT) yang berkontribusi untuk menjelaskan persamaan bentuk kerangka tubuh ayam Wareng Tangerang sebesar 14,7% dengan nilai eigen (λ) sebesar 1,09.

Nilai korelasi antara skor bentuk dan panjang punggung disajikan pada Tabel 14. Berdasarkan Tabel 14, korelasi antara skor bentuk dan panjang punggung sebesar +0,99, yang menunjukkan bahwa semakin besar nilai panjang punggung maka akan semakin besar pula skor bentuk kerangka tubuh yang dihasilkan. Penciri bentuk kerangka tubuh ayam Wareng Tangerang berbeda dengan yang diturunkan pada ayam Kampung dan ayam Sentul. Menurut Everitt dan Dunn (1998) bahwa pada pengukuran morfologi hewan, hasil AKU lebih ditekankan pada komponen utama kedua sebagai indikasi bentuk tubuh, daripada komponen utama pertama yang mengindikasikan ukuran tubuh. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dikatakan bahwa ayam Wareng Tangerang berbeda dengan ayam Kampung dan ayam Sentul.

Berdasarkan Gambar 5, ukuran kerangka tubuh ayam Wareng Tangerang jantan lebih besar dibandingkan betina, meskipun terdapat beberapa individu jantan dan betina yang memiliki skor yang sama. Keadaan ini ditunjukkan dengan sedikit penggabungan lingkaran kerumunan data individu oleh beberapa skor individu. Menurut Iskandar et al. (2006), secara umum bobot badan dan nilai rataan ukuran- ukuran tubuh ayam Wareng jantan lebih tinggi dibandingkan ayam Wareng betina.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa bobot badan rata-rata jantan dewasa ayam Wareng Tangerang sebesar 1.000 g, sedangkan bobot badan rata-rata betina dewasa sebesar 841 g. Hal ini membuktikan bahwa semakin besar kerangka tubuh ayam jantan, maka bobot badan yang dihasilkan juga akan semakin besar. Keadaan ini menurut North dan Bell (1990) dikarenakan kerangka tubuh merupakan tempat perlekatan dari otot.

Bentuk kerangka tubuh ayam Wareng Tangerang jantan dan betina tidak terlalu jauh berbeda, meskipun berdasarkan Gambar 5 bentuk kerangka tubuh ayam Wareng jantan lebih seragam dibandingkan betina. Keadaan ini ditunjukkan oleh kisaran skor bentuk pada jantan lebih sempit dibandingkan betina; tetapi masih berada juga dalam kisaran skor bentuk betina. Bentuk kerangka tubuh ayam Wareng

35 Tangerang jantan lebih seragam disebabkan oleh seleksi yang lebih ketat dibandingkan ayam Wareng Tangerang betina.

Analisis Komponen Utama berdasarkan Keseluruhan Jenis Kelamin Jantan pada Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang

Tabel 15 menyajikan persamaan ukuran dan bentuk kerangka tubuh dengan keragaman total dan nilai eigen pada ayam-ayam jantan yang diamati. Berdasarkan Tabel 15, keragaman total (KT) yang berkontribusi terbesar menjelaskan persamaan ukuran kerangka tubuh sebesar 74,2 %, sedangkan nilai eigen (λ) sebesar 19,35. Penciri ukuran kerangka tubuh ayam-ayam jantan yang diamati adalah panjang sayap dengan vektor eigen panjang sayap (X8)sebesar 0,58.

Tabel 16 menyajikan korelasi antara skor ukuran dan peubah-peubah ukuran kerangka tubuh ayam-ayam jantan yang diamati serta skor bentuk dan peubah- peubah ukuran kerangka tubuh ayam-ayam jantan yang diamati. Berdasarkan Tabel 16, nilai korelasi antara skor ukuran dan panjang sayap sebesar +0,97. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar nilai dari panjang sayap, maka skor ukuran kerangka tubuh juga akan besar.

Penciri bentuk kerangka tubuh pada ayam-ayam jantan yang diamati berdasarkan Tabel 15 adalah tinggi jengger dengan vektor eigen tinggi jengger (X6) sebesar 0,97. Keragaman total (KT) yang berkontribusi terbesar pada persamaan bentuk sebesar 15,2%, sedangkan nilai eigen (λ) yang merupakan nilai ragam bentuk pada persamaan ayam-ayam jantan yang diamati sebesar 3,98.

Tabel 15. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kerangka Tubuh dengan Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Jantan yang Diamati (Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang) Persamaan KT (%) λ Ukuran = 0,28X1 + 0,46X2 + 0,35X3 + 0,18X4 + 0,06X5 − 0,08X6 + 0,27X7 + 0,58X8 + 0,31X9 + 0,19X10 74,2 19,35 Bentuk = −0,03X1 − 0,01X2 − 0,06X3 − 0,05X4 + 0,02X5 + 0,97X6 + 0,02X7 + 0,07X8 + 0,21X9 + 0,06X10 15,2 3,98

Keterangan : X1 = Panjang Femur; X2 = Panjang Tibia; X3 = Panjang Shank; X4 = Panjang Jari

Ketiga; X5 = Panjang Maxilla; X6 = Tinggi Jengger; X7 = Panjang Punggung;

X8 = Panjang Sayap; X9 = Panjang Dada; X10 = Lingkar Shank; KT = Keragaman Total;

Nilai korelasi antara skor bentuk dan tinggi jengger yang disajikan pada Tabel 14 sebesar +0,98. Nilai tersebut menunjukkan bahwa semakin besar nilai dari tinggi jengger, maka skor bentuk kerangka tubuh ayam-ayam jantan yang diamati akan semakin besar juga.

Tabel 16. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Jantan yang Diamati (Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang) serta Bentuk dan Peubah- peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam yang Diamati (Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang)

Peubah yang Diukur Ukuran Bentuk

Panjang Femur (X1) +0,96 −0,05

Panjang Tibia (X2) +0,98 −0,01

Panjang Shank (X3) +0,97 −0,08

Panjang Jari Ketiga (X4) +0,88 −0,11

Panjang Maxilla (X5) +0,62 +0,09 Tinggi Jengger (X6) −0,18 +0,98 Panjang Punggung (X7) +0,79 +0,03 Panjang Sayap (X8) +0,97 +0,05 Panjang Dada (X9) +0,84 +0,26 Lingkar Shank (X10) +0,86 +0,12

Pada bangsa Mediterania, salah satunya yaitu Leghorn, jengger lebih besar dibandingkan pada bangsa tipe berat (Hutt, 1949). Dijelaskan lebih lanjut bahwa luas jengger sekitar tiga kali panjangnya dan dapat diukur dari pengukuran panjang x tinggi yang memiliki korelasi cukup tinggi pada bobot jengger. Jengger sangat berperan dalam sistem sirkulasi darah karena berfungsi sebagai termoregulator tubuh terhadap suhu lingkungan. Saat suhu lingkungan dingin, aliran anastomosesArtery- Venous (A-V) mengirimkan darah arteri menuju vena untuk menghangatkan sebagian darah yang dingin dari kapiler (Lucas dan Stettenheim, 1972). Dijelaskan lebih lanjut bahwa jika suhu tubuh meningkat dikarenakan aktivitas metabolisme dengan diikuti suhu lingkungan yang tinggi, maka kapiler akan membebaskan panas dan sekali lagi aliran A-V akan menurunkan panas di vena menjadi level arteri.

37 40 35 30 25 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3

Ukuran

Bent

uk

40 35 30 25 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3

Ukuran

Bent

uk

Berdasarkan Gambar 6, skor ukuran kerangka tubuh ayam-ayam jantan yang diamati berbeda. Semakin besar nilai dari arah diagram ukuran, menunjukkan semakin besar juga skor ukuran dari individu-individu ayam jantan yang diamati. Skor ukuran yang paling besar adalah pada ayam Sentul jantan, meskipun tidak berbeda jauh dari ayam Kampung jantan; yang ditunjukkan dari tumpang tindih

Dokumen terkait