• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian dilaksanakan di dua tempat yaitu Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi Bogor untuk pengamatan ayam Kampung dan ayam Wareng Tangerang dan peternakan rakyat di Kelurahan Cigembor, Kecamatan Ciamis dan Desa Cihulu Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis untuk pengamatan ayam Sentul. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan yaitu bulan Agustus 2006 sampai September 2006. Pengolahan data dilaksanakan selama dua bulan, yaitu bulan September 2006 sampai November 2006.

Materi

Materi penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah ayam Kampung dan ayam Wareng Tangerang yang telah mencapai dewasa tubuh dan sedang dalam masa produksi (umur lima bulan ke atas) yang merupakan ayam-ayam stok dasar yang dipelihara di Balai Penelitian Ternak Ciawi, sedangkan ayam Sentul merupakan stok dasar binaan Balai Penelitian Ternak Ciawi yang dipelihara dalam kondisi lapang (peternakan rakyat). Ayam Kampung yang digunakan berjumlah 124 ekor yang terdiri atas 28 ekor jantan dan 96 ekor betina. Ayam Sentul yang digunakan berjumlah 50 ekor yang terdiri atas 23 ekor jantan dan 27 ekor betina. Ayam Wareng Tangerang yang digunakan berjumlah 110 ekor yang terdiri atas 20 ekor jantan dan 90 ekor betina.

Alat yang digunakan selama penelitian terdiri atas jangka sorong digital dengan merk Mitutoyo Digimatic Caliper yang memiliki skala minimum 0 mm dan maksimum 153,97 mm, pita ukur dengan merk Butterfly Brand yang memiliki skala minimum 0 cm dan maksimum 150 cm, lembar data ukuran-ukuran tubuh, alat tulis dan kamera.

Analisis Data

Pengolahan data dibantu dengan menggunakan perangkat lunak Minitab versi 13.12. T2-Hotteling digunakan untuk membandingkan peubah-peubah antara dua populasi contoh ayam yang diamati. Ketiga jenis ayam yang diamati adalah ayam Kampung, ayam Sentul dan ayam Wareng Tangerang. Pengujian dilakukan

berdasarkan Gaspersz (1992) dengan jalan merumuskan hipotesis lebih dulu sebagai berikut :

H0 : U1 = U2 : artinya vektor nilai rata-rata dari populasi 1 sama dengan populasi 2

H1 : U1 ≠ U2 : artinya kedua vektor nilai rata-rata itu berbeda

T2-Hotteling digunakan untuk menguji hipotesis seperti yang telah dianjurkan oleh Gaspersz (1992) sebagai berikut :

2 1 2 -1 1 2 G 1 2 1 2 n n T = (x -x )'S (x -x ) n +n selanjutnya besaran : 2 1 2 1 2 n + n - p -1 F = T (n + n - 2)p

akan berdistribusi F dengan derajat bebas V1 = p dan V2 = n1 + n2− p − 1 Keterangan :

T2 = Nilai T2-Hotteling

F = Nilai hitung untuk T2-Hotteling

n1 = Jumlah data pengamatan pada kelompok jenis ayam pertama n2 = Jumlah data pengamatan pada kelompok jenis ayam kedua

1

x = Vektor nilai rata-rata peubah acak dari kelompok jenis ayam pertama

2

x = Vektor nilai rata-rata peubah acak dari kelompok jenis ayam kedua p = Banyaknya peubah ukur

Analisis Komponen Utama (AKU) digunakan untuk menentukan penciri ukuran dan bentuk pada masing-masing jenis ayam yang diamati. Size atau ukuran dapat diartikan sebagai dimensi, besar, volume, ukuran relatif, sedangkan shape atau bentuk diartikan sebagai model, pola, karakteristik sebagai pembeda penampilan eksternal (Biology Online Team, 2005). Ukuran dan bentuk pada penelitian ini juga merupakan hasil interpretasi dari pengukuran terhadap peubah-peubah.

21 Model matematika AKU dengan persamaan matriks kovarian menurut Gaspersz (1992) adalah :

Yj = a1JX1 + a2jX2 + a3jX3 + ... + a10jX10

Keterangan :Yj = Komponen utama ke-j (j = i, 2; 1 = ukuran, 2 = bentuk) X1,2,3,..,10 = Peubah ke-1, 2, 3, ...,10

a1j,2j,3j,..,10j = Vektor eigen peubah ke-1, 2, 3,...,10 dengan komponen utama ke-j

Matriks yang digunakan adalah matriks kovarian. Hubungan keeratan (korelasi) antara ukuran dan bentuk terhadap peubah-peubah kerangka tubuh ayam yang diamati menurut Gaspersz (1992) sebagai berikut :

ij ZiYj ij i aij λ r = r = S Keterangan:

rZiYj = Koefisien korelasi peubah ke-i dan komponen ke-j aij = Vektor eigen peubah ke-i dengan komponen ke-j λij = Nilai eigen (akar ciri) komponen utama ke-j Si = Simpangan baku peubah ke-i

Nilai eigen (λi) merupakan jumlah kuadrat dari masing-masing korelasi antara komponen utama dan peubah diperoleh dari rumus Gaspersz (1992) sebagai berikut:

1 1 1 2 1 3 1 n 1

2 2 2 2 2

1 Y Z Y Z Y Z Y Z Y

λ = S = r + r + r + ... + r

Keterangan: λi = Nilai eigen (akar ciri) komponen utama pertama

1

2 Y

S = Ragam komponen utama pertama

n 1

2 Z Y

r = Kuadrat koefisien korelasi Prosedur Pengambilan Data

Ayam yang diukur diambil secara acak. Pengambilan data dilakukan setelah mengadakan pengukuran secara berurutan pada bagian-bagian tubuh ayam sebagai peubahnya yaitu: panjang femur (X1), panjang tibia (X2), panjang shank (X3), panjang jari ketiga (X4), panjang maxilla (X5), tinggi jengger (X6), panjang punggung (X7), panjang sayap (X8), panjang dada (X9), lingkar shank (X10)

(Nishida et al., 1982 dan Suryaman, 2001). Gambar 4 menyajikan bagian-bagian tubuh ayam yang diukur selama penelitian.

Keterangan : X1 = Panjang Femur; X2= Panjang Tibia; X3= Panjang Shank; X4= Panjang Jari Ketiga;

X5 = Panjang Maxilla; X6 = Tinggi Jengger; X7 = Panjang Punggung;

X8 = Panjang Sayap; a = Humerus; b = Ossa Antebrachii (Radius dan Ulna);

c = Metacarpus dan Phalanges; X9 = Panjang Dada; X10 = Lingkar Shank

Sumber : Koch (1973) dan Waggoner dan Hutchinson (2001) Gambar 4. Bagian-bagian Tubuh Ayam yang Diamati

Panjang Femur. Pengukuran panjang tulang femur ini dilakukan sepanjang tulang paha dengan menggunakan jangka sorong, dalam satuan cm.

Panjang Tibia. Pengukuran terhadap panjang tulang tibia ini dilakukan dari patella sampai ujung tibia dengan menggunkan jangka sorong, dalam satuan cm.

a X3 X10 X2 b X8 = a + b + c c X1 X7 X9 X4 X5 X8 X6

23 Panjang Tarsometatarsus atau Shank. Pengukuran dilakukan sepanjang tulang tarsometatarsus (shank) dengan menggunakan jangka sorong, dalam satuan cm.

Panjang Jari Ketiga. Pengukuran hanya dilakukan pada jari ketiga yang terdiri atas empat phalanges sampai ujung jari dengan menggunakan jangka sorong, dalam satuan cm.

Panjang Maxilla. Pengukuran dilakukan mulai dari pangkal sampai ujung paruh bagian atas dengan menggunakan jangka sorong, dalam satuan cm.

Tinggi Jengger. Pengukuran dilakukan mulai dari pangkal jengger yang melekat di kepala sampai ujung jengger yang paling tinggi pada kondisi tegak lurus 900 dengan menggunakan jangka sorong, dalam satuan cm.

Panjang Tulang Punggung. Pengukuran dilakukan diantara persendian tulang leher dengan tulang punggung sampai perbatasan tulang ekor dengan menggunakan benang yang kemudian dikonversikan ke pita ukur, dalam satuan cm.

Panjang Tulang Sayap. Pengukuran tulang sayap dilakukan dengan merentangkan bagian sayap, diukur dari pangkal humerus sampai ujung phalanges dengan menggunakan benang yang kemudian dikonversikan ke pita ukur, dalam satuan cm. Panjang Tulang Dada. Pengukuran tulang dada dilakukan dari ujung tulang dada bagian depan sampai ujung bagian belakang dengan menggunakan benang yang kemudian dikonversikan ke jangka sorong, dalam satuan cm.

Lingkar Shank. Pengukuran dilakukan melingkari tulang tarsometatarsus (shank) bagian tengah dengan menggunakan benang yang kemudian dikonversikan ke jangka sorong, dalam satuan cm.

Dokumen terkait