• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Ukuran dan Bentuk Tubuh Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wereng Tangerang Melalui Analisis Komponen Utama

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Ukuran dan Bentuk Tubuh Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wereng Tangerang Melalui Analisis Komponen Utama"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI UKURAN DAN BENTUK TUBUH AYAM KAMPUNG,

AYAM SENTUL DAN AYAM WARENG TANGERANG

MELALUI ANALISIS KOMPONEN UTAMA

SKRIPSI

VINDHA YULI CANDRAWATI

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN

(2)

STUDI UKURAN DAN BENTUK TUBUH AYAM KAMPUNG,

AYAM SENTUL DAN AYAM WARENG TANGERANG

MELALUI ANALISIS KOMPONEN UTAMA

VINDHA YULI CANDRAWATI D14103023

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada

Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN

(3)

STUDI UKURAN DAN BENTUK TUBUH AYAM KAMPUNG,

AYAM SENTUL DAN AYAM WARENG TANGERANG

MELALUI ANALISIS KOMPONEN UTAMA

Oleh

VINDHA YULI CANDRAWATI D14103023

Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan di hadapan Komisi Ujian Lisan pada tanggal 6 Maret 2007

Pembimbing Utama

Ir. Rini Herlina Mulyono, M.Si. NIP. 131 760 850

Pembimbing Anggota

Ir. Sofjan Iskandar, M.Rur.Sc.Ph.D. NIP. 080 057 898

Dekan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

(4)

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... i

ABSTRACT ... iii

RIWAYAT HIDUP ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 2

Manfaat ... 2

TINJAUAN PUSTAKA... 3

Ayam Lokal Indonesia ... 3

Ayam Kampung ... 3

Ayam Sentul ... 5

Ayam Wareng Tangerang ... 7

Pertumbuhan ... 9

Morfometrik ... 11

Tulang Femur ... 12

Tulang Tibia ... 12

Tulang Tarsometatarsus ... 12

Tulang Digit ... 14

Tulang Sayap ... 14

Tulang Maxilla ... 15

Tulang Punggung ... 15

Tulang Dada ... 15

Jengger ... 16

Analisis Komponen Utama ... 16

METODE ... 19

Lokasi dan Waktu ... 19

Materi ... 19

(5)

Prosedur ... Pengambilan Data ... Panjang Femur ... Panjang Tibia ... Panjang Tarsometatarsus atau Shank ... Panjang Jari Ketiga ... Panjang Maxilla ... Tinggi Jengger ... Panjang Tulang Punggung ... Panjang Tulang Sayap ... Panjang Tulang Dada ... Lingkar Shank ...

21 21 22 22 23 23 23 23 23 23 23 23

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24

Rataan dan Simpangan Baku Ukuran-ukuran Kerangka Tubuh pada Ayam yang Diamati ... 24 Uji T2-Hotteling ... 26

Analisis Komponen Utama ... 27

Analisis Komponen Utama berdasarkan Jenis Kelompok Ayam ... Ayam Kampung ... Ayam Sentul ... Ayam Wareng Tangerang ... Analisis Komponen Utama berdasarkan Keseluruhan Jenis Kelamin Jantan pada Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang ... Analisis Komponen Utama berdasarkan Keseluruhan Jenis Kelamin Betina pada Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang ... Perbandingan Kerumunan Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang ... 27 28 30 32 35 38 41 KESIMPULAN DAN SARAN ... 42

Kesimpulan ... 42

Saran ... 43

UCAPAN TERIMA KASIH ... 44

DAFTAR PUSTAKA ... 45

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 25 Juli 1985 di Tuban Jawa Timur. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Almarhum Muntalib dan Ibu Sumiatun.

Pendidikan dasar penulis diselesaikan pada tahun 1997 di SDN Kebonsari 3 Tuban, pendidikan lanjutan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2000 di SLTP Negeri 3 Tuban dan pendidikan lanjutan menengah atas diselesaikan pada tahun 2003 di SMU Negeri 1 Tuban.

Penulis diterima sebagai mahasiswa pada Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2003.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia, rahmat, serta hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Studi Ukuran dan Bentuk Tubuh Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang melalui Analisis Komponen Utama.

Ayam lokal Indonesia merupakan ayam yang telah mengalami domestikasi selama beberapa generasi baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar negeri. Pelestarian keragaman genetik ayam-ayam lokal diperlukan dalam upaya mempertahankan sifat-sifat khas ayam-ayam lokal yang dapat dimanfaatkan di masa mendatang. Salah satu cara pelestarian tersebut adalah identifikasi sifat-sifat khas pada ayam lokal yaitu sifat kualitatif dan sifat kuantitatif. Sifat kuantitatif merupakan sifat-sifat yang dapat diukur dan melibatkan suatu cara perhitungan tertentu, salah satu contohnya yaitu morfometrik kerangka tubuh. Identifikasi morfometrik dapat dilakukan dengan cara menentukan penciri dari masing-masing jenis ayam lokal berdasarkan ukuran dan bentuk, sehingga dapat digunakan sebagai ciri dari ayam lokal tertentu.

Penulis berharap dengan segala keterbatasan dan kekurangan skripsi ini semoga bermanfaat bagi pembaca dan bermanfaat bagi pelestarian ternak-ternak lokal terutama ayam lokal Indonesia.

(8)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Rataan Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Kampung Jantan dan

Betina di Indonesia ... 5 2. Rataan Bobot Badan dan Ukuran Kerangka Tubuh Ayam

Sentul Jantan dan Betina ... 7 3. Rataan Bobot Badan dan Simpangan Baku pada Ukuran

Tubuh Ayam Wareng Tangerang Jantan dan Betina Dewasa di

Kabupaten Tangerang Jawa Barat ... 9 4. Rataan dan Simpangan Baku Ukuran-ukuran Tubuh Ayam

Kampung Umur 5-12 Minggu ... 13 5. Ukuran Tubuh Ayam Lokal Indonesia ... 14 6. Vektor Eigen dari Prinsip Komponen Pertama dan Kedua pada

Ayam Lokal Indonesia ... 18 7. Rataan Peubah dan Simpangan Baku yang Diamati pada

Jantan, Betina dan Keseluruhan pada Ayam Kampung, Ayam

Wareng Tangerang dan Ayam Sentul ... 25 8. Hasil Uji Statistik T2-Hotteling pada Peubah-peubah Jenis

Ayam yang Diamati ... 26 9. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kerangka Tubuh dengan

Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Kampung ... 28 10. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka

Tubuh Ayam Kampung serta Bentuk dan Peubah-peubah

Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Kampung ... 29 11. Persamaan Ukuran dan Bentuk Tubuh dengan Keragaman

Total dan Nilai Eigen pada Ayam Sentul ... 31 12. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka

Tubuh Ayam Sentul serta Bentuk dan Peubah-peubah Ukuran

Kerangka Tubuh Ayam Sentul ... 31 13. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kerangka Tubuh dengan

Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Wareng Tangerang ... 33 14. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka

Tubuh Ayam Wareng Tangerang serta Bentuk dan

Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Wareng Tangerang ... 33 15. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kerangka Tubuh dengan

Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Jantan yang Diamati (Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng

(9)

16. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Jantan yang Diamati (Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang) serta Bentuk dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam yang Diamati (Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang) ... 36 17. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kerangka Tubuh dengan

Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Betina yang Diamati (Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng

Tangerang) ... 38 18. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-Peubah Ukuran Kerangka

(10)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Ayam Kampung Jantan dan Betina ... 4

2. Ayam Sentul Jantan dan Betina ... 6

3. Ayam Wareng Tangerang Jantan dan Betina ... 8

4. Bagian-bagian Tubuh Ayam yang Diamati ... 22

5. Kerumunan Data Individu Ayam-ayam yang Diamati berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk pada Persamaan yang Diturunkan berdasarkan Masing-masing Jenis Ayam yang Diamati ... 27

6. Kerumunan Data Individu Ayam-ayam yang Diamati berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk pada Persamaan yang Diturunkan pada Keseluruhan Ayam Jantan yang Diamati ... 37

(11)

STUDI UKURAN DAN BENTUK TUBUH AYAM KAMPUNG,

AYAM SENTUL DAN AYAM WARENG TANGERANG

MELALUI ANALISIS KOMPONEN UTAMA

SKRIPSI

VINDHA YULI CANDRAWATI

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN

(12)

STUDI UKURAN DAN BENTUK TUBUH AYAM KAMPUNG,

AYAM SENTUL DAN AYAM WARENG TANGERANG

MELALUI ANALISIS KOMPONEN UTAMA

VINDHA YULI CANDRAWATI D14103023

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada

Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN

(13)

STUDI UKURAN DAN BENTUK TUBUH AYAM KAMPUNG,

AYAM SENTUL DAN AYAM WARENG TANGERANG

MELALUI ANALISIS KOMPONEN UTAMA

Oleh

VINDHA YULI CANDRAWATI D14103023

Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan di hadapan Komisi Ujian Lisan pada tanggal 6 Maret 2007

Pembimbing Utama

Ir. Rini Herlina Mulyono, M.Si. NIP. 131 760 850

Pembimbing Anggota

Ir. Sofjan Iskandar, M.Rur.Sc.Ph.D. NIP. 080 057 898

Dekan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... i

ABSTRACT ... iii

RIWAYAT HIDUP ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 2

Manfaat ... 2

TINJAUAN PUSTAKA... 3

Ayam Lokal Indonesia ... 3

Ayam Kampung ... 3

Ayam Sentul ... 5

Ayam Wareng Tangerang ... 7

Pertumbuhan ... 9

Morfometrik ... 11

Tulang Femur ... 12

Tulang Tibia ... 12

Tulang Tarsometatarsus ... 12

Tulang Digit ... 14

Tulang Sayap ... 14

Tulang Maxilla ... 15

Tulang Punggung ... 15

Tulang Dada ... 15

Jengger ... 16

Analisis Komponen Utama ... 16

METODE ... 19

Lokasi dan Waktu ... 19

Materi ... 19

(15)

Prosedur ... Pengambilan Data ... Panjang Femur ... Panjang Tibia ... Panjang Tarsometatarsus atau Shank ... Panjang Jari Ketiga ... Panjang Maxilla ... Tinggi Jengger ... Panjang Tulang Punggung ... Panjang Tulang Sayap ... Panjang Tulang Dada ... Lingkar Shank ...

21 21 22 22 23 23 23 23 23 23 23 23

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24

Rataan dan Simpangan Baku Ukuran-ukuran Kerangka Tubuh pada Ayam yang Diamati ... 24 Uji T2-Hotteling ... 26

Analisis Komponen Utama ... 27

Analisis Komponen Utama berdasarkan Jenis Kelompok Ayam ... Ayam Kampung ... Ayam Sentul ... Ayam Wareng Tangerang ... Analisis Komponen Utama berdasarkan Keseluruhan Jenis Kelamin Jantan pada Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang ... Analisis Komponen Utama berdasarkan Keseluruhan Jenis Kelamin Betina pada Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang ... Perbandingan Kerumunan Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang ... 27 28 30 32 35 38 41 KESIMPULAN DAN SARAN ... 42

Kesimpulan ... 42

Saran ... 43

UCAPAN TERIMA KASIH ... 44

DAFTAR PUSTAKA ... 45

(16)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 25 Juli 1985 di Tuban Jawa Timur. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Almarhum Muntalib dan Ibu Sumiatun.

Pendidikan dasar penulis diselesaikan pada tahun 1997 di SDN Kebonsari 3 Tuban, pendidikan lanjutan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2000 di SLTP Negeri 3 Tuban dan pendidikan lanjutan menengah atas diselesaikan pada tahun 2003 di SMU Negeri 1 Tuban.

Penulis diterima sebagai mahasiswa pada Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2003.

(17)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia, rahmat, serta hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Studi Ukuran dan Bentuk Tubuh Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang melalui Analisis Komponen Utama.

Ayam lokal Indonesia merupakan ayam yang telah mengalami domestikasi selama beberapa generasi baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar negeri. Pelestarian keragaman genetik ayam-ayam lokal diperlukan dalam upaya mempertahankan sifat-sifat khas ayam-ayam lokal yang dapat dimanfaatkan di masa mendatang. Salah satu cara pelestarian tersebut adalah identifikasi sifat-sifat khas pada ayam lokal yaitu sifat kualitatif dan sifat kuantitatif. Sifat kuantitatif merupakan sifat-sifat yang dapat diukur dan melibatkan suatu cara perhitungan tertentu, salah satu contohnya yaitu morfometrik kerangka tubuh. Identifikasi morfometrik dapat dilakukan dengan cara menentukan penciri dari masing-masing jenis ayam lokal berdasarkan ukuran dan bentuk, sehingga dapat digunakan sebagai ciri dari ayam lokal tertentu.

Penulis berharap dengan segala keterbatasan dan kekurangan skripsi ini semoga bermanfaat bagi pembaca dan bermanfaat bagi pelestarian ternak-ternak lokal terutama ayam lokal Indonesia.

(18)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Rataan Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Kampung Jantan dan

Betina di Indonesia ... 5 2. Rataan Bobot Badan dan Ukuran Kerangka Tubuh Ayam

Sentul Jantan dan Betina ... 7 3. Rataan Bobot Badan dan Simpangan Baku pada Ukuran

Tubuh Ayam Wareng Tangerang Jantan dan Betina Dewasa di

Kabupaten Tangerang Jawa Barat ... 9 4. Rataan dan Simpangan Baku Ukuran-ukuran Tubuh Ayam

Kampung Umur 5-12 Minggu ... 13 5. Ukuran Tubuh Ayam Lokal Indonesia ... 14 6. Vektor Eigen dari Prinsip Komponen Pertama dan Kedua pada

Ayam Lokal Indonesia ... 18 7. Rataan Peubah dan Simpangan Baku yang Diamati pada

Jantan, Betina dan Keseluruhan pada Ayam Kampung, Ayam

Wareng Tangerang dan Ayam Sentul ... 25 8. Hasil Uji Statistik T2-Hotteling pada Peubah-peubah Jenis

Ayam yang Diamati ... 26 9. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kerangka Tubuh dengan

Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Kampung ... 28 10. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka

Tubuh Ayam Kampung serta Bentuk dan Peubah-peubah

Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Kampung ... 29 11. Persamaan Ukuran dan Bentuk Tubuh dengan Keragaman

Total dan Nilai Eigen pada Ayam Sentul ... 31 12. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka

Tubuh Ayam Sentul serta Bentuk dan Peubah-peubah Ukuran

Kerangka Tubuh Ayam Sentul ... 31 13. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kerangka Tubuh dengan

Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Wareng Tangerang ... 33 14. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka

Tubuh Ayam Wareng Tangerang serta Bentuk dan

Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Wareng Tangerang ... 33 15. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kerangka Tubuh dengan

Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Jantan yang Diamati (Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng

(19)

16. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Jantan yang Diamati (Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang) serta Bentuk dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam yang Diamati (Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang) ... 36 17. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kerangka Tubuh dengan

Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Betina yang Diamati (Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng

Tangerang) ... 38 18. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-Peubah Ukuran Kerangka

(20)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Ayam Kampung Jantan dan Betina ... 4

2. Ayam Sentul Jantan dan Betina ... 6

3. Ayam Wareng Tangerang Jantan dan Betina ... 8

4. Bagian-bagian Tubuh Ayam yang Diamati ... 22

5. Kerumunan Data Individu Ayam-ayam yang Diamati berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk pada Persamaan yang Diturunkan berdasarkan Masing-masing Jenis Ayam yang Diamati ... 27

6. Kerumunan Data Individu Ayam-ayam yang Diamati berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk pada Persamaan yang Diturunkan pada Keseluruhan Ayam Jantan yang Diamati ... 37

(21)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Ayam Kampung Jantan dan Betina ... 4

2. Ayam Sentul Jantan dan Betina ... 6

3. Ayam Wareng Tangerang Jantan dan Betina ... 8

4. Bagian-bagian Tubuh Ayam yang Diamati ... 22

5. Kerumunan Data Individu Ayam-ayam yang Diamati berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk pada Persamaan yang Diturunkan berdasarkan Masing-masing Jenis Ayam yang Diamati ... 27

6. Kerumunan Data Individu Ayam-ayam yang Diamati berdasarkan Skor Ukuran dan Bentuk pada Persamaan yang Diturunkan pada Keseluruhan Ayam Jantan yang Diamati ... 37

(22)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Salah satu sumberdaya genetik ternak lokal di Indonesia adalah ayam lokal baik yang asli dari Indonesia maupun yang berasal dari luar negeri yang telah beradaptasi di Indonesia selama beberapa generasi. Ayam lokal lebih mudah dipelihara dan rentan terhadap penyakit jika dibandingkan dengan ayam ras luar negeri. Sebagian besar ayam lokal Indonesia dipelihara dengan sistem tradisional secara ekstensif sehingga ayam-ayam tersebut bebas berkeliaran mencari makan dan tidur dimanapun mereka suka seperti di pohon, lembah dan di setiap pinggir rumah penduduk.

Ayam Kampung, ayam Sentul dan ayam Wareng dimasukkan ke dalam 31 rumpun ayam lokal Indonesia. Ayam Kampung merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting di Indonesia terutama umat muslim (Nishida et al., 1980). Ayam ini sudah dikenal baik oleh seluruh masyarakat Indonesia karena dipelihara secara tradisional dan bisa memanfaatkan limbah-limbah rumah tangga. Ayam Sentul merupakan ayam asli Kabupaten Ciamis yang hampir punah dan sekarang dipelihara secara intensif oleh beberapa kelompok pecinta ayam Sentul; sedangkan ayam Wareng merupakan ayam lokal dari Kabupaten Majalengka yang keberadaannya telah punah. Saat ini di Kabupaten Tangerang dikenal juga sebagai ayam lokal yang disebut ayam Wareng Tangerang. Ayam Wareng Tangerang merupakan salah satu ayam lokal yang bukan asli berasal dari Indonesia, tetapi telah mengalami persilangan-persilangan selama beberapa tahun di Indonesia.

(23)

2 jenis-jenis ayam lokal Indonesia. Tiap jenis ayam mempunyai ciri khas dari bagian tubuhnya baik ukuran maupun bentuk yang masing-masing memiliki vektor penciri.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter morfometrik berdasarkan ukuran dan bentuk kerangka tubuh ayam Kampung, ayam Sentul dan ayam Wareng Tangerang dewasa tubuh melalui Analisis Komponen Utama (AKU) yang merupakan ayam-ayam stok dasar Balai Penelitian Ternak Ciawi. Perbedaan ukuran dan bentuk kerangka tubuh diantara ketiga jenis ayam tersebut juga diamati.

Manfaat

(24)

TINJAUAN PUSTAKA Ayam Lokal Indonesia

Ayam diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia, subkingdom Metazoa, phylum Chordata, subphylum Vertebrata, class Aves, family Phasinadae, genus Gallus dan species gallus atau disebut juga domestic fowl (Rose, 1997). Ayam liar mengalami proses domestikasi selama beberapa periode sehingga menghasilkan berbagai jenis ayam yang sekarang banyak terdapat di dunia. Ayam domestikasi tersebut kemungkinan berasal dari empat jenis ayam liar, yaitu ayam Hutan Merah (Gallus gallus), ayam Hutan Sri Lanka (Gallus lavayetti), ayam Hutan Abu-Abu atau ayam Sonerat (Gallus sonerattii) dan ayam Hutan Hijau atau ayam Hutan Jawa (Gallus varius) (Payne dan Wilson, 1999). Dijelaskan lebih lanjut bahwa Gallus gallus merupakan nenek moyang ayam yang utama dan memberikan kontribusi terbesar dalam pembentukan Gallus domesticus.

Ayam lokal Indonesia yang menyebar di seluruh kepulauan Indonesia memiliki beberapa rumpun dengan karakteristik morfologis yang berbeda dan khas berdasarkan daerah asal. Sampai saat ini telah diidentifikasi sebanyak 31 rumpun ayam lokal, yaitu ayam Kampung, Pelung, Sentul, Wareng, Lamba, Ciparage, Banten, Nagrak, Rintit/Walik, Siem, Kedu Hitam, Kedu Putih, Cemani, Sedayu, Olagan, Nusa Penida, Merawang/Merawas, Sumatera, Balenggek, Melayu, Nunukan, Tolaki, Maleo, Jepun, Ayunai, Tukung, Bangkok, Brugo, Bekisar, Cangehgar/Cukir/Alas dan Kasintu (Nataamijaya, 2000).

Ayam Kampung

Ayam Kampung merupakan salah satu ayam lokal di Indonesia dan dulu dikenal juga sebagai ayam buras (bukan ras). Ayam Kampung banyak dipelihara karena relatif mudah, tidak memerlukan modal besar serta berperan dalam memanfaatkan sisa-sisa buangan dapur maupun sisa-sisa hasil pertanian (Sumanto et al., 1990). Pemeliharaan oleh masyarakat Indonesia sebagian besar dilakukan secara ekstensif. Peternak mengembangkan ayam Kampung secara tradisional dan turun-temurun karena sistem pemeliharaan yang sederhana dan modal yang sangat rendah (Nataamijaya, 2000).

(25)

Jantan Betina

berwarna lurik kuning, bulu punggung dan dada berwarna lurik hitam dan bulu ekor berwarna hitam kehijauan, sedangkan pada betina yaitu bulu leher, punggung dan sayap berwarna lurik abu-abu, bulu dada berwarna putih dan bulu ekor berwarna hitam keabuan. Moniharapon (1997) menambahkan mengenai sifat kualitatif lainnya yaitu shank pada jantan berwarna putih, sedangkan shank pada betina berwarna kuning, pial dan jengger berwarna merah dan bentuk jengger tunggal (single). Rasyaf (1990) memberikan ciri yang lebih jelas dari segi bentuk tubuh dan bulu, yaitu jantan memiliki bulu ekor sama panjang dengan panjang tubuh, berpenampilan gagah, sedangkan betina bulu ekor lebih pendek dari panjang tubuh, memiliki ukuran badan dan kepala yang lebih kecil.

Gambar 1. Ayam Kampung Jantan dan Betina

Nishida et al. (1982) menyatakan bahwa bentuk tubuh ayam Kampung di Indonesia dapat dibedakan dari ukuran panjang sayap dan tinggi jengger. Ukuran tubuh ayam Kampung jantan dan betina dewasa di Indonesia disajikan pada Tabel 1 menurut Nishida et al. (1982).

(26)

5 juga menyatakan bahwa umur pertama bertelur pada ayam Kampung 7,5 bulan, produksi telur 80,3 butir/induk/tahun, frekuensi bertelur 7,5 kali/tahun dan daya tetas telur 83,7% pada pemeliharaan secara intensif. Hasil pembibitan open nucleus yang dilakukan di Balai Penelitian Ternak Ciawi, ayam Kampung berproduksi telur selama 12 minggu sebesar 43,24% hen day, jumlah telur 36,32 butir/ekor/12 minggu, bobot telur 30 g/butir dan rataan bobot telur selama 12 minggu sebesar 40 g/butir (Zainuddin et al., 2005).

Tabel 1. Rataan Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Kampung Jantan dan Betina di Indonesia

Jantan Betina

---(mm)---

Panjang Shank 102,26 87,25

Panjang Tibia 150,06 128,69

Panjang Femur 95,22 86,41

Lingkar Shank 41,72 36,45

Panjang Jari Ketiga 73,42 65,98

Tinggi Jengger 25,76 12,24

Panjang Maxilla 65,77 61,61

Panjang Sayap 216,58 196,10

Sumber : Nishida et al. (1982)

Ayam Sentul

Ayam Sentul merupakan ayam lokal di Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Ayam Sentul dipelihara secara semi intensif dan dapat dijadikan komoditas untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Ciamis (Iskandar et al., 2004a). Iskandar et al. (2004b) menjelaskan bahwa kepemilikan ayam Sentul per kepala keluarga relatif kecil meskipun ayam ini tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Ciamis.

(27)

Jantan Betina

kandang litter. Nurhayati (2001) menjelaskan berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Desa Muktisari Kabupaten Ciamis bahwa ayam Sentul memiliki bobot badan dewasa pada jantan sebesar 2.603,8 ± 207 g dan betina 1.408 ± 123 g, pertambahan bobt badan 70,30 ± 16,87 g/hari, jumlah telur 17 ± 1 butir dan daya tetas telur secara pengeraman alami sebesar 88,22 ± 10,2 % (waktu bertelur 21 ± 3 hari, mengeram 21 hari, mengasuh anak 60 hari dan masa istirahat 12 ± 1,5 hari). Iskandar et al. (2004b) berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di desa yang berbeda dari Nurhayati (2001) dan Iskandar et al. (2005) menyatakan bahwa bobot badan dan tinggi badan masing-masing untuk betina 1.850 g dan 46 cm dan jantan 2.500 g dan 54 cm. Nataamijaya (2005) menyatakan bahwa ayam Sentul mampu bertelur sampai sebanyak 26 butir/periode. Rataan ukuran tubuh ayam Sentul yang selengkapnya disajikan pada Tabel 3. Pemeliharaan ayam Sentul secara intensif di dalam kandang batere mampu menghasilkan telur hen day mencapai 57,14% dengan konversi pakan sebesar 3,77 (Iskandar et al., 2006). Rataan ukuran tubuh ayam Sentul yang selengkapnya disajikan pada Tabel 2.

Gambar 2. Ayam Sentul Jantan dan Betina

Beberapa ciri khas dari ayam Sentul yaitu jengger pada jantan umumnya single comb atau jengger tunggal; warna bulu pada betina dewasa umumnya abu-abu,

(28)

7 dan jingga di daerah leher, punggung, pinggang dan sayap; sisik kaki betina berwarna putih dan abu-abu, sedangkan pada jantan berwarna hitam dan abu-abu (Nataamijaya, 2005).

Tabel 2. Rataan Bobot Badan dan Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Sentul Jantan dan Betina

Jantan Betina

Bobot Badan (g) 2.050 1.370

Panjang Shank (cm) 10 8

Lingkar Shank (cm) 4,8 3,7

Panjang Tibia (cm) 15 11,7

Panjang Femur (cm) 13 10,5

Panjang Dada (cm) 13,5 11,5

Lingkar Dada (cm) 30 27,7

Panjang Punggung (cm) 21,5 18,7

Panjang Sayap (cm) 26 20

Panjang Leher (cm) 14,5 11,3

Panjang Paruh (cm) 2,9 2,7

Lebar Kepala (cm) 2,7 3,1

Panjang Kepala (cm) 4 3,7

Sumber : Iskandar et al. (2005)

Ayam Wareng Tangerang

Ayam Wareng dikenal pertama kali di wilayah Kabupaten Majalengka Jawa Barat (Nataamijaya et al., 2002), namun setelah ditelusuri ternyata ayam ini berbaur dengan ayam Kampung dan sulit dibedakan. Ayam Wareng juga ditemukan di wilayah Kabupaten Tangerang Jawa Barat (Iskandar et al., 2004a).

(29)

Jantan Betina

al., 2004a). DD dan Tono (1994) menjelaskan bahwa karena beberapa sifat unggul tersebut, salah seorang peternak bernama Armin menyilangkan lagi dengan ayam buras asli Rusia sehingga sampai generasi ketiga diperoleh ayam Wareng Tangerang dengan bentuk tubuh ramping dan menyerupai ayam Rusia. Ayam Wareng Tangerang memiliki bentuk jengger tunggal (single) dan berwarna merah (Susanti et al.,2006). Istilah ”Wareng” disesuaikan dengan bahasa Jawa yang berarti kecil. Iskandar et al. (2004a) menyatakan bahwa bobot tubuh, warna bulu dan ukuran tubuh ayam Wareng Tangerang mirip dengan ayam Wareng Indramayu, hanya saja ayam Wareng Tangerang mempunyai ciri khas jambul di atas kepala betina dan memiliki warna bulu dan kulit yang dominan putih (Susanti et al., 2006).

Gambar 2. Ayam Wareng Tangerang Jantan dan Betina

(30)
[image:30.612.118.505.161.445.2]

9 kerangka tubuhnya pun juga kecil (Susanti et al., 2006). Rataan ukuran tubuh ayam Wareng Tangerang disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan Bobot Badan dan Simpangan Baku pada Ukuran Tubuh Ayam Wareng Tangerang Jantan dan Betina Dewasa di Kabupaten Tangerang Jawa Barat

Jantan Betina

Bobot Badan (g) 1.007,6 ± 136 841,1 ± 122,3

Panjang Shank (cm) 7,8 ± 1,4 6,9 ± 0,5

Lingkar Shank (cm) 3,7 ± 0,5 3,1 ± 0,3

Panjang Tibia (cm) 11,7 ± 0,7 10,1 ± 0,6

Panjang Femur (cm) 9,7 ± 1,1 7,7 ± 0,9

Panjang Dada (cm) 13,7 ± 2,1 12,1 ± 1,8

Lingkar Dada (cm) 25,1 ± 2,2 23,5 ± 1,9

Panjang Punggung (cm) 15,5 ± 1,7 13,4 ± 1,0

Panjang Sayap (cm) 17,1 ± 1,6 14,1 ± 1,1

Panjang Leher (cm) 10,8 ± 1,2 18,9 ± 1,4

Panjang Paruh (cm) 3,1 ± 0,2 3,1 ± 0,4

Lebar Kepala (cm) 3,3 ± 0,7 3,5 ± 0,8

Panjang Kepala (cm) 6,8 ± 1,9 6,4 ± 0,5

Sumber : Iskandar et al. (2006)

Pertumbuhan

Istilah pertumbuhan berdasarkan kamus biologi adalah proses tumbuh, kenaikan tingkatan pada tubuh hewan, peningkatan ukuran dan jumlah (Biology Online Team, 2005). Definisi pertumbuhan secara umum adalah peningkatan ukuran atau volume dari zat hidup (Herren, 2000). Lawrence dan Fowler (2002) menterjemahkan istilah pertumbuhan sebagai perubahan, baik ukuran maupun bentuk sejak dari telur sampai dewasa. Pertumbuhan terjadi melalui dua fase besar yaitu prenatal dan postnatal. Prenatal merupakan proses pembentukan organ-organ tubuh, sedangkan postnatal merupakan proses peningkatan ukuran dan sistem dari kematangan tubuh dan perkembangannya (Herren, 2000).

(31)

1992). Herren (2000) juga menjelaskan bahwa pertumbuhan pada ternak berlangsung cepat sejak lahir sampai mencapai dewasa tubuh; yang mana tulang dan jaringan otot tumbuh secara teratur. Dijelaskan lebih lanjut bahwa setelah mencapai dewasa tubuh, pertumbuhan tulang dan otot akan berhenti. Dewasa tubuh merupakan fase yang menunjukkan bahwa ternak telah mencapai rataan pertumbuhan dan efisiensi pakan terbesar (Herren, 2000).

Istilah tulang diterapkan pada suatu kerangka yang menopang tubuh dan untuk perlekatan otot (North dan Bell, 1990). Pertumbuhan tulang yang sebenarnya terjadi melalui dua proses yaitu endochondral dan intramembranous ossification, kemudian diikuti dengan perubahan struktur tulang dan perkembangan kerangka (Lawrence dan Fowler, 2002). Dijelaskan lebih lanjut bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tulang yaitu faktor endogeneous (dipengaruhi oleh hormon) dan exogeneous (dipengaruhi oleh pakan). Rose (1997) menyatakan bahwa pertumbuhan tulang lebih banyak diatur oleh faktor genetik, disamping sirkulasi hormon, vitamin A dan D. Proporsi dari tulang akan semakin menurun ketika umur hewan semakin tua (Lawrie, 2002)

Hutt (1949) menjelaskan bahwa dewasa tubuh unggas tergantung pada ukuran tulang, jumlah organ, otot, kulit dan bulu yang didukung oleh tulang dan jumlah lemak yang disimpan. Lawrence dan Fowler (2002) menjelaskan tentang kriteria yang penting saat unggas dewasa tubuh yaitu umur saat bertelur pertama dan umur saat unggas tersebut telah mencapai level produksi yang lebih spesifik. Perubahan yang terjadi pada tulang unggas setelah mencapai dewasa tubuh sangat sedikit bahkan dapat tidak mengalami pertumbuhan, sehingga pengukuran panjang maupun lingkar tulang pada unggas setelah dewasa tubuh dapat memberikan hasil yang lebih akurat untuk mengetahui ukuran tubuh jika dibandingkan dengan bobot badan (Hutt, 1949).

(32)

11 testosteron sebagai steroid dari androgen mengakibatkan pertumbuhan yang lebih cepat pada ternak jantan dibandingkan dengan ternak betina. Herren (2000) menjelaskan lebih lanjut bahwa hormon testosteron dengan dosis rendah akan meningkatkan pelebaran dari epiphysis tulang dan membantu hormon pertumbuhan, sedangkan hormon estrogen berpengaruh sebagai penghambat pertumbuhan kerangka.

Morfometrik

Morfo menunjukkan perbedaan bentuk spesies dalam suatu populasi khususnya pada polimorfisme (Campbell dan Lack, 1985). Dijelaskan lebih lanjut bahwa morfologi merupakan ilmu mengenai form atau shape yang biasa digunakan untuk mempelajari karakteristik eksternal seperti anatomi. Morfometrik diartikan sebagai suatu cara yang mencakup pengukuran bentuk atau suatu cara pengukuran yang memungkinkan sesuatu untuk diuji. Berdasarkan pengertian di atas, maka terdapat dua komponen besar mengenai morfometrik, yaitu size atau ukuran dan shape atau bentuk. Size dapat diartikan sebagai dimensi, besar, volume, ukuran relatif, sedangkan shape atau bentuk diartikan sebagai model, pola, karakteristik sebagai pembeda penampilan eksternal (Biology Online Team, 2005).

Warwick et al. (1995) menyatakan bahwa sifat kuantitatif penting dalam bidang peternakan. Penampilan sifat-sifat kuantitatif ini dipengaruhi oleh genetik dan lingkungan serta interaksi antara genetik dan lingkungan. Beberapa sifat kuantitatif yang terpenting adalah bobot badan, panjang tulang femur, tulang tarsometatarsus, lingkar tarsometatarsus, panjang jari ketiga, sayap, maxilla dan tinggi jengger (Hutt, 1949).

(33)

Beberapa sifat yang berhubungan dengan produktivitas unggas yaitu panjang shank (betis), lingkar tarsometatarsus, lingkar dada, panjang paha dan dada, sedangkan pertambahan ukuran tubuh ditentukan oleh besar ukuran dari organ-organ tubuh, otot dan pertumbuhan tulang (Hutt, 1949). Ukuran tulang paha, betis dan shank serta perbandingan antara panjang shank dan lingkar shank menunjukkan nilai-nilai yang efektif untuk pendugaan konformasi tubuh (Nishida et al., 1980).

Tulang Femur

Tulang femur merupakan salah satu tulang pipa yang kuat (Nickel et al., 1977). Condyle lateral membagi femur bagian bawah ke dalam dua lekukan yaitu bagian dalam yang berartikulasi dengan tibia dan bagian luar dengan kepala dari fibula (Nickel et al., 1977). Pergerakan utama dari femur adalah arah ke depan dan ke belakang (King dan McLelland, 1975). Moniharapon (1997) menyatakan bahwa panjang femur ayam Kampung yang dipelihara secara intensif pada umur 12 minggu pada jantan 7,32 cm dan pada betina 6,48 cm. Hal tersebut disajikan pada Tabel 4.

Tulang Tibia

Tibia merupakan tulang yang berbentuk pipa yang kuat dengan bagian bawah berbatasan dengan penggabungan dari ruas-ruas atas tulang tarsal (Nickel et al., 1977). McLelland (1990) menyatakan bahwa tulang femur dan tibia merupakan sumber yang baik dari sumsum tulang, tidak seperti tulang lainnya. Hutt (1949) menyatakan bahwa pertumbuhan tulang tibia yang termasuk salah satu tulang adalah lambat. Panjang tibia ayam Kampung yang dipelihara secara intensif pada jantan umur 12 minggu mencapai 10,21 cm dan pada betina mencapai 8,10 cm (Moniharapon, 1997). Hal tersebut disajikan pada Tabel 4.

Tulang Tarsometatarsus

(34)

13

Pembentukan tulang tarsometatarsus sampai sempurna relatif lebih cepat pada betina yaitu 139 hari, tetapi lebih lambat pada jantan yaitu 195 hari (Hutt, 1949) akan tetapi

[image:34.612.119.513.183.546.2]

dibandingkan dengan beberapa tulang panjang yang lain, pertumbuhan dari metatarsus relatif lebih lambat.

Tabel 4. Rataan dan Simpangan Baku Ukuran-Ukuran Tubuh Ayam Kampung Umur 5-12 Minggu

Sex Minggu BB LD PSh PT PF

--- (g) --- --- (cm) ---

Jantan 5 144,6±17,78 11,28±0,66 2,46±0,25 5,62±0,55 3,54±0,27

6 206,6±24,04 13,10±0,79 3,19±0,28 6,36±0,64 4,14±0,40

7 267,1±33,41 14,06±1,34 3,38±0,36 6,99±0,72 4,57±0,40

8 325,9±40,33 15,65±1,19 4,04±0,41 7,38±0,79 5,06±0,65

9 397,3±45,10 16,17±1,26 4,34±0,66 7,84±0,58 5,74±0,71

10 449,9±61,00 17,98±0,63 4,73±0,79 8,67±0,92 6,14±0,78

11 517,9±71,12 19,34±0,68 5,18±0,92 9,73±0,62 6,71±0,80

12 579,0±95,21 21,06±0,88 5,64±0,92 10,21±0,82 7,32±0,86

Betina 5 134,6±15,96 10,48±0,64 1,85±0,12 4,38±0,26 3,29±0,19

6 182,2±30,72 11,72±0,73 2,32±0,23 5,02±0,63 3,92±0,47

7 223,3±41,57 12,56±1,39 2,49±0,39 5,63±0,98 4,39±0,56

8 282,8±49,21 14,10±1,87 2,88±0,35 6,13±0,86 1,91±0,56

9 354,0±58,79 15,11±1,73 3,15±0,58 6,72±0,99 5,00±0,64

10 389,6±71,02 16,61±0,55 3,71±0,63 7,11±0,82 5,75±0,92

11 431,4±78,02 18,16±0,69 4,06±0,73 7,88±0,62 6,13±0,95

12 477,5±93,34 19,46±0,92 4,76±0,65 8,10±0,79 6,48±0,77

Keterangan : BB = Bobot Badan, LD = Lingkar Dada, PSh = Panjang Shank, PT = Panjang Tibia dan PF = Panjang Femur

Sumber : Moniharapon (1997)

(35)

Tulang Digit

[image:35.612.116.499.253.452.2]

Digit atau jari pada ayam terdiri atas empat buah. Getty (1975) menjelaskan bahwa jari kedua terdiri atas tiga ruas, jari ketiga terdiri atas empat ruas yang tajam ke depan, jari keempat terdiri atas lima ruas dan jari pertama terdiri atas dua ruas yang merupakan jari pendek di bagian belakang. Semua jari ini bersambungan dengan metatarsus. Nishida et al. (1980) menyatakan bahwa panjang jari ketiga pada ayam lokal Indonesia untuk jantan sebesar 80,70 mm, sedangkan betina sebesar 70,81 mm. Hal tersebut disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Ukuran Tubuh Ayam Kampung Indonesia

Peubah Jantan Betina

Bobot Badan (g) 2.079,41 1.606,82

Panjang Femur (mm) 96,67 86,33

Panjang Tibia (mm) 149,55 127,50

Panjang Tarsometatarsus (mm) 105,45 89,55

Lingkar Tarsometatarsus (mm) 45,35 37,73

Panjang Jari Ketiga (mm) 80,70 70,81

Panjang Sayap (mm) 227,24 197,22

Panjang Maxilla (mm) 63,40 58,10

Tinggi Jengger (mm) 23,70 11,03

Sumber : Nishida et al. (1980)

Tulang Sayap

Tulang sayap terdiri atas bagian lengan atas atau disebut humerus, radius dan ulna, carpus, metacarpus dan digit (Nickel et al., 1977). Humerus menurut Nickel et al. (1977) merupakan tulang pipa yang kuat dan sebagian besar tulang berisi udara. Pergerakan humerus saat berotasi adalah menjauhi tubuh (King dan McLelland, 1975).

(36)

15 Bagian terakhir yang membentuk tulang sayap adalah carpus. Carpus dibentuk dari dua tulang carpalia (Nickel et al., 1977). Minggu kedua dan ketiga setelah penetasan, ruas bawah dari tulang carpal menyatu dengan metacarpus untuk membentuk carpometatarsus (McLelland, 1990). McLelland (1990) menjelaskan lebih lanjut bahwa carpometacarpus berartikulasi pada carpus (pergelangan) dengan tulang carpal radius ulna. Jari ketiga memiliki dua ruas, jari terbesar memiliki dua ruas dan jari terkecil memiliki satu ruas (McLelland, 1990). Nishida et al. (1980) menyatakan bahwa panjang sayap ayam lokal Indonesia untuk jantan sebesar 227,24 mm, sedangkan betina sebesar 197,22 mm. Hal tersebut disajikan pada Tabel 5.

Tulang Maxilla

Maxilla merupakan salah satu ciri khas dari kelompok burung yang membedakan dengan kelompok vertebrata lainnya (Getty, 1975). Tulang maxilla berbentuk tipis, membentuk rahang atas dan berbentuk agak melengkung saat rahang bawah menurun (King dan McLelland, 1975). Nishida et al. (1980) menyatakan bahwa panjang maxilla pada ayam lokal Indonesia untuk jantan sebesar 63,40 mm, sedangkan untuk betina sebesar 58,10 mm. Hal tersebut disajikan pada Tabel 5.

Tulang Punggung

Tulang punggung terdiri atas cervical vertebrae, notarium, thoracic vertebrae (McLelland, 1990). Bagian tulang punggung yang utama adalah notarium yang dibentuk dari cervical vertebrae terakhir dan penggabungan thoracic vertebrae kedua dan ketiga yang kemudian membentuk tulang tunggal (King dan McLelland, 1975). Penggabungan antara vertebrae tersebut pada ayam mulai terjadi pada umur empat bulan (McLelland, 1990).

Tulang Dada

(37)

Jengger

Jengger dimiliki oleh unggas jantan dan betina yang memiliki bentuk dan ukuran beranekaragam pada setiap bangsa unggas (Nickel et al., 1977). Semua bangsa ayam memiliki jengger dan beberapa jengger berukuran kecil (Lucas dan Stettenheim, 1972). Bagian subcuties di daerah jengger mengandung banyak pembuluh darah dan yang di corium menjadi sebuah jaringan yang komplek dari kapiler (Nickel et al., 1977). Pembuluh-pembuluh tersebut akan semakin padat terutama selama periode kawin kemudian mengeras dan berwarna merah cerah karena darah yang dikandung yang dapat dilihat melalui epidermis. Macam-macam dari bentuk jengger yaitu single, buttercup, V-shaped, pea, rose, silkie, strawberry dan cushion (Lucas dan Stettenheim, 1972).

Analisis Komponen Utama

Analisis Komponen Utama (AKU) bertujuan untuk menerangkan struktur varian-kovarian (kombinasi data multivariat yang beragam) melalui kombinasi linear dari peubah-peubah tertentu, sedangkan secara umum bertujuan untuk mereduksi data dan menginterpretasikannya (Gaspersz, 1992).

(38)

17 Gaspersz (1992) menyatakan bahwa akar ciri atau ragam dapat diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah peubah yang diamati dan nilai keragaman total pada AKU yang diturunkan berdasarkan matriks kovarian. Akar ciri atau ragam ini menurut Nishida et al. (1982) dinyatakan sebagai nilai eigen. Nilai eigen menunjukkan keragaman total yang sebenarnya (Afifi dan Clark, 1996). Menurut Gaspersz (1992), keragaman total dijadikan sebagai indikasi untuk menentukan persamaan yang mewakili banyak persamaan yang dibentuk dari AKU. Keragaman total diperoleh dari hasil pembagian antara nilai eigen komponen utama ke-i dan banyaknya peubah yang diamati. Vektor eigen memperlihatkan kontribusi dari peubah-peubah tertentu sebagai faktor pembeda ukuran tubuh maupun bentuk tubuh. Afifi dan Clark (1996) menjelaskan mengenai vektor eigen merupakan seperangkat koefisien pada kombinasi linier untuk komponen utama ke-i.

Everitt dan Dunn (1998) menerangkan bahwa pada pengukuran morfologi hewan, hasil AKU lebih ditekankan pada komponen utama kedua sebagai indikasi bentuk tubuh, daripada komponen utama pertama yang mengindikasikan ukuran tubuh. Perbedaan tipe dalam satu bangsa tiap hewan sebagai akibat dari domestikasi baik oleh manusia maupun kondisi eksternal dalam waktu yang lama disebabkan perubahan fisiologis dari hewan tersebut (Lawrie, 2002). Lawrie (2002) menambahkan bahwa perubahan fisiologis tersebut disebabkan adanya mutasi gen sebagai respon dari lingkungan dan pada akhirnya perubahan tersebut diabadikan oleh gen. Herren (2000) menyatakan bahwa ukuran tergantung pada ukuran dan jumlah tulang dan otot pada tubuh hewan.

Penelitian Nishida et al. (1982) yang menggunakan ayam Kampung sebagai materi penelitian menyatakan bahwa vektor eigen pada komponen utama pertama sebesar 0,544 untuk panjang tibia dan 0,429 untuk panjang sayap yang dapat

(39)
[image:39.612.115.512.169.367.2]

Vektor eigen pada komponen utama kedua sebesar 0,577 untuk panjang sayap dan 0,575 untuk tinggi jengger digunakan sebagai pembeda dalam hal bentuk (shape) tubuh ayam Kampung (Nishida et al., 1982). Hal tersebut disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Vektor Eigen dari Prinsip Komponen Pertama dan Kedua pada Ayam Lokal Indonesia

Peubah Ukuran Tubuh Komponen 1

(80,6 %)

Komponen 2 (10,7 %)

Panjang Femur 0,365 -0,423

Panjang Tibia 0,544 -0,302

Panjang Tarsometatarsus 0,408 -0,173

Lingkar Tarsometatarsus 0,178 -0,044

Panjang Jari Ketiga 0,224 -0,172

Panjang Sayap 0,429 0,577

Panjang Maxilla 0,142 -0,068

Tinggi Jengger 0,345 0,575

Keterangan : Angka pada tanda kurung menunjukkan keragaman total.

(40)

METODE Lokasi dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di dua tempat yaitu Balai Penelitian Ternak

(Balitnak) Ciawi Bogor untuk pengamatan ayam Kampung dan ayam Wareng

Tangerang dan peternakan rakyat di Kelurahan Cigembor, Kecamatan Ciamis dan

Desa Cihulu Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis untuk pengamatan ayam

Sentul. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan yaitu bulan Agustus 2006

sampai September 2006. Pengolahan data dilaksanakan selama dua bulan, yaitu

bulan September 2006 sampai November 2006.

Materi

Materi penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah ayam Kampung

dan ayam Wareng Tangerang yang telah mencapai dewasa tubuh dan sedang dalam

masa produksi (umur lima bulan ke atas) yang merupakan ayam-ayam stok dasar

yang dipelihara di Balai Penelitian Ternak Ciawi, sedangkan ayam Sentul merupakan

stok dasar binaan Balai Penelitian Ternak Ciawi yang dipelihara dalam kondisi

lapang (peternakan rakyat). Ayam Kampung yang digunakan berjumlah 124 ekor

yang terdiri atas 28 ekor jantan dan 96 ekor betina. Ayam Sentul yang digunakan

berjumlah 50 ekor yang terdiri atas 23 ekor jantan dan 27 ekor betina. Ayam Wareng

Tangerang yang digunakan berjumlah 110 ekor yang terdiri atas 20 ekor jantan dan

90 ekor betina.

Alat yang digunakan selama penelitian terdiri atas jangka sorong digital

dengan merk Mitutoyo Digimatic Caliper yang memiliki skala minimum 0 mm dan maksimum 153,97 mm, pita ukur dengan merk Butterfly Brand yang memiliki skala minimum 0 cm dan maksimum 150 cm, lembar data ukuran-ukuran tubuh, alat tulis

dan kamera.

Analisis Data

Pengolahan data dibantu dengan menggunakan perangkat lunak Minitab versi

13.12. T2-Hotteling digunakan untuk membandingkan peubah-peubah antara dua

populasi contoh ayam yang diamati. Ketiga jenis ayam yang diamati adalah ayam

(41)

berdasarkan Gaspersz (1992) dengan jalan merumuskan hipotesis lebih dulu sebagai

berikut :

H0 : U1 = U2 : artinya vektor nilai rata-rata dari populasi 1 sama dengan

populasi 2

H1 : U1 ≠ U2 : artinya kedua vektor nilai rata-rata itu berbeda

T2-Hotteling digunakan untuk menguji hipotesis seperti yang telah dianjurkan

oleh Gaspersz (1992) sebagai berikut :

2 1 2 -1

1 2 G 1 2

1 2

n n

T = (x -x )'S (x -x ) n +n

selanjutnya besaran :

2

1 2

1 2

n + n - p -1

F = T

(n + n - 2)p

akan berdistribusi F dengan derajat bebas V1 = p dan V2 = n1 + n2− p − 1 Keterangan :

T2 = Nilai T2-Hotteling

F = Nilai hitung untuk T2-Hotteling

n1 = Jumlah data pengamatan pada kelompok jenis ayam pertama

n2 = Jumlah data pengamatan pada kelompok jenis ayam kedua

1

x = Vektor nilai rata-rata peubah acak dari kelompok jenis ayam pertama

2

x = Vektor nilai rata-rata peubah acak dari kelompok jenis ayam kedua

p = Banyaknya peubah ukur

Analisis Komponen Utama (AKU) digunakan untuk menentukan penciri

ukuran dan bentuk pada masing-masing jenis ayam yang diamati. Size atau ukuran dapat diartikan sebagai dimensi, besar, volume, ukuran relatif, sedangkan shape atau bentuk diartikan sebagai model, pola, karakteristik sebagai pembeda penampilan

eksternal (Biology Online Team, 2005). Ukuran dan bentuk pada penelitian ini juga

(42)

21 Model matematika AKU dengan persamaan matriks kovarian menurut

Gaspersz (1992) adalah :

Yj = a1JX1 + a2jX2 + a3jX3 + ... + a10jX10

Keterangan :Yj = Komponen utama ke-j (j = i, 2; 1 = ukuran, 2 = bentuk) X1,2,3,..,10 = Peubah ke-1, 2, 3, ...,10

a1j,2j,3j,..,10j = Vektor eigen peubah ke-1, 2, 3,...,10 dengan komponen utama ke-j

Matriks yang digunakan adalah matriks kovarian. Hubungan keeratan

(korelasi) antara ukuran dan bentuk terhadap peubah-peubah kerangka tubuh ayam

yang diamati menurut Gaspersz (1992) sebagai berikut :

ij ZiYj ij

i

aij λ r = r =

S

Keterangan:

rZiYj = Koefisien korelasi peubah ke-i dan komponen ke-j

aij = Vektor eigen peubah ke-i dengan komponen ke-j λij = Nilai eigen (akar ciri) komponen utama ke-j Si = Simpangan baku peubah ke-i

Nilai eigen (λi) merupakan jumlah kuadrat dari masing-masing korelasi antara komponen utama dan peubah diperoleh dari rumus Gaspersz (1992) sebagai berikut:

1 1 1 2 1 3 1 n 1

2 2 2 2 2

1 Y Z Y Z Y Z Y Z Y

λ = S = r + r + r + ... + r

Keterangan: λi = Nilai eigen (akar ciri) komponen utama pertama

1

2 Y

S = Ragam komponen utama pertama

n 1

2 Z Y

r = Kuadrat koefisien korelasi

Prosedur Pengambilan Data

Ayam yang diukur diambil secara acak. Pengambilan data dilakukan setelah

mengadakan pengukuran secara berurutan pada bagian-bagian tubuh ayam sebagai

(43)

(Nishida et al., 1982 dan Suryaman, 2001). Gambar 4 menyajikan bagian-bagian tubuh ayam yang diukur selama penelitian.

Keterangan : X1 = Panjang Femur; X2= Panjang Tibia; X3= Panjang Shank; X4= Panjang Jari Ketiga;

X5 = Panjang Maxilla; X6 = Tinggi Jengger; X7 = Panjang Punggung;

X8 = Panjang Sayap; a = Humerus; b = Ossa Antebrachii (Radius dan Ulna);

c = Metacarpus dan Phalanges; X9 = Panjang Dada; X10 = Lingkar Shank

[image:43.612.119.512.123.543.2]

Sumber : Koch (1973) dan Waggoner dan Hutchinson (2001)

Gambar 4. Bagian-bagian Tubuh Ayam yang Diamati

Panjang Femur. Pengukuran panjang tulang femur ini dilakukan sepanjang tulang paha dengan menggunakan jangka sorong, dalam satuan cm.

Panjang Tibia. Pengukuran terhadap panjang tulang tibia ini dilakukan dari patella sampai ujung tibia dengan menggunkan jangka sorong, dalam satuan cm.

a

X3

X10

X2

b

X8 = a + b + c

c

X1

X7

X9

X4

X5 X8

(44)

23 Panjang Tarsometatarsus atau Shank. Pengukuran dilakukan sepanjang tulang tarsometatarsus (shank) dengan menggunakan jangka sorong, dalam satuan cm.

Panjang Jari Ketiga. Pengukuran hanya dilakukan pada jari ketiga yang terdiri atas empat phalanges sampai ujung jari dengan menggunakan jangka sorong, dalam satuan cm.

Panjang Maxilla. Pengukuran dilakukan mulai dari pangkal sampai ujung paruh bagian atas dengan menggunakan jangka sorong, dalam satuan cm.

Tinggi Jengger. Pengukuran dilakukan mulai dari pangkal jengger yang melekat di kepala sampai ujung jengger yang paling tinggi pada kondisi tegak lurus 900 dengan

menggunakan jangka sorong, dalam satuan cm.

Panjang Tulang Punggung. Pengukuran dilakukan diantara persendian tulang leher dengan tulang punggung sampai perbatasan tulang ekor dengan menggunakan

benang yang kemudian dikonversikan ke pita ukur, dalam satuan cm.

Panjang Tulang Sayap. Pengukuran tulang sayap dilakukan dengan merentangkan bagian sayap, diukur dari pangkal humerus sampai ujung phalanges dengan menggunakan benang yang kemudian dikonversikan ke pita ukur, dalam satuan cm.

Panjang Tulang Dada. Pengukuran tulang dada dilakukan dari ujung tulang dada bagian depan sampai ujung bagian belakang dengan menggunakan benang yang

kemudian dikonversikan ke jangka sorong, dalam satuan cm.

Lingkar Shank. Pengukuran dilakukan melingkari tulang tarsometatarsus (shank) bagian tengah dengan menggunakan benang yang kemudian dikonversikan ke jangka

(45)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rataan dan Simpangan Baku Ukuran-ukuran Kerangka Tubuh pada Ayam yang Diamati

Rataan ukuran-ukuran kerangka tubuh yang dijadikan peubah-peubah

disajikan pada Tabel 7. Berdasarkan Tabel 7, ukuran kerangka tubuh yang paling

besar adalah pada jenis ayam Sentul, baik pada jantan maupun betina, sedangkan

rataan ukuran tubuh yang paling kecil adalah pada ayam Wareng Tangerang.

Menurut North dan Bell (1990), tulang merupakan tempat perlekatan dari otot

sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa jika kerangka tubuh besar maka bobot

badan juga akan besar. Herren (2000) menjelaskan bahwa pertumbuhan pada ternak

berlangsung cepat sejak lahir sampai mencapai dewasa tubuh; tulang dan jaringan

otot tumbuh secara teratur. Setelah mencapai dewasa tubuh, pertumbuhan tulang dan

otot akan berhenti dan akan dilanjutkan dengan perkembangan lemak. Berdasarkan

Tabel 7, dapat dijelaskan bahwa bobot badan ayam Sentul terbesar dilanjutkan

dengan ayam Kampung dan Wareng Tangerang. Bobot badan ayam Kampung lebih

besar daripada bobot badan ayam Wareng Tangerang. Hasil penelitian terdahulu

menyatakan bahwa bobot badan ayam Sentul dewasa 1.850 g pada betina dan 2.500

g pada jantan (Iskandar et al., 2004b). Ayam Kampung dewasa memiliki bobot badan 1.815 ± 353 g dan betina 1.382 ± 290 g (Mulyono dan Pangestu, 1996). Bobot

badan ayam Wareng Tangerang pada jantan sekitar 1.000 g dan betina 841 g

(Iskandar et al., 2006). Hal ini sesuai dengan pendugaan bobot badan pada penelitian ini.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang dilaporkan oleh Iskandar et al. (2004b); Mulyono dan Pangestu (1996) dan Iskandar et al. (2006), bobot badan pada jantan lebih besar daripada betina. Hasil-hasil penelitian tersebut sesuai dengan hasil

penelitian ini yang membuktikan bahwa ukuran-ukuran tubuh ayam jantan lebih

(46)
[image:46.612.121.505.118.676.2]

25 Tabel 7. Rataan Peubah dan Simpangan Baku yang Diamati pada Jantan,

Betina dan Keseluruhan pada Ayam Kampung, Ayam Sentul dan Ayam Wareng Tangerang

Jenis Ayam Peubah

Ayam Kampung (n) Ayam Sentul (n) Ayam Wareng (n)

---(cm)---- ---(cm)--- ---(cm)---

Jantan 10,23 ± 0,65 28 11,25 ± 0,77 23 8,41 ± 0,45 20

Betina 8,35 ± 0,38 96 9,35 ± 0,48 27 7,12 ± 0,51 90

Panjang

Femur

Keseluruhan 8,77 ± 0,99 124 10,22 ± 1,14 50 7,35 ± 0,70 110

Jantan 15,30 ± 1,02 28 16,61 ± 1,22 23 12,07 ± 0,48 20

Betina 12,31 ± 0,59 96 13,82 ± 0,61 27 10,33 ± 0,68 90

Panjang

Tibia

Keseluruhan 12,99 ± 1,44 124 15,11 ± 1,69 50 10,65 ± 0,93 110

Jantan 11,01 ± 0,91 28 12,24 ± 0,84 23 8,70 ± 0,28 20

Betina 8,59 ± 0,47 96 9,78 ± 0,54 27 7,13 ± 0,40 90

Panjang

Shank

Keseluruhan 9,14 ± 1,17 124 10,91 ± 1,42 50 7,41 ± 0,72 110

Jantan 6,37 ± 0,33 28 7,32 ± 0,59 23 5,28 ± 0,24 20

Betina 5,28 ± 0,49 96 6,10 ± 0,48 27 4,11 ± 0,33 90

Panjang

Jari Ketiga

Keseluruhan 5,53 ± 0,65 124 6,61 ± 0,85 50 4,32 ± 0,55 110

Jantan 3,60 ± 0,37 28 3,68 ± 0,44 23 3,08 ± 0,15 20

Betina 3,17 ± 0,19 96 3,38 ± 0,26 27 2,82 ± 0,16 90

Panjang

Maxilla

Keseluruhan 3,26 ± 0,30 124 3,52 ± 0,38 50 2,87 ± 0,19 110

Jantan 4,71 ± 2,27 28 1,91 ± 1,12 23 3,50 ± 0,66 20

Betina 1,59 ± 1,01 96 0,74 ± 0,34 27 2,01 ± 0,48 90

Tinggi

Jengger

Keseluruhan 2,29 ± 1,91 124 1,28 ± 0,99 50 2,28 ± 0,77 110

Jantan 9,72 ± 1,26 28 10,51 ± 1,16 23 7,91 ± 0,78 20

Betina 7,21 ± 1,70 96 9,19 ± 0,93 27 8,26 ± 1,08 90

Panjang

Punggung

Keseluruhan 7,78 ± 1,92 124 9,80 ± 1,23 50 8,20 ± 1,04 110

Jantan 23,48 ± 1,51 28 24,11 ± 1,63 23 18,90 ± 0,98 20

Betina 19,21 ± 1,17 96 20,61 ± 1,16 27 15,93 ± 1,20 90

Panjang

Sayap

Keseluruhan 20,18 ± 2,18 124 22,22 ± 2,24 50 16,47 ± 1,63 110

Jantan 13,08 ± 1,03 28 13,19 ± 1,24 23 10,32 ± 0,65 20

Betina 10,51 ± 0,81 96 11,31 ± 0,87 27 8,85 ± 0,71 90

Panjang

Dada

Keseluruhan 11,09 ± 1,38 124 12,17 ± 1,41 50 9,12 ± 0,90 110

Jantan 5,33 ± 0,74 28 5,30 ± 0,52 23 3,55 ± 0,23 20

Betina 3,96 ± 0,30 96 4,14 ± 0,27 27 3,17 ± 0,24 90

Lingkar

Shank

(47)

Uji T2-Hotteling

Uji T2-Hotteling membuktikan bahwa kedua vektor nilai rata-rata peubah pada

dua jenis ayam yang diamati pada penelitian ini sangat berbeda (P<0,01). Tabel 8

menyajikan hasil uji T2-Hotteling pada jenis ayam yang diamati.

Tabel 8. Hasil Uji Statistik T2-Hotteling pada Peubah-peubah Jenis Ayam yang Diamati

Jenis Ayam Ayam Kampung Ayam Wareng Tangerang

Ayam Kampung

Ayam Wareng Tangerang **

Ayam Sentul ** **

Keterangan : ** = Sangat Berbeda (P<0,01)

Berdasarkan Tabel 8, perbedaan peubah-peubah ukuran kerangka tubuh

ayam-ayam yang diamati ditemukan diantara dua kelompok jenis ayam. Perbedaan

tersebut terjadi pada ukuran kerangka tubuh ayam Kampung dengan ayam Wareng

Tangerang; ayam Kampung dengan ayam Sentul dan ayam Wareng Tangerang

dengan ayam Sentul. Hal ini mendukung laporan yang telah dinyatakan oleh

Iskandar et al. (2004a) dan Iskandar et al. (2004b) bahwa secara genetis atau akibat dari mutasi gen dan faktor adaptasi; ditemukan perbedaan antara jenis ayam

Kampung, ayam Wareng Tangerang dan ayam Sentul; yang diperlihatkan dari

masing-masing jenis karakteristik ayam tersebut. Hutt (1949) menyatakan bahwa

mutasi gen mengakibatkan perubahan gen tunggal yang hasilnya akan terlihat saat

unggas tersebut melakukan perkawinan dengan unggas lain yang memiliki gen

mutasi yang sama. Dijelaskan lebih lanjut bahwa perubahan tersebut kemudian akan

dapat dilihat lebih jelas jika sifat yang mengalami mutasi diturunkan kepada anaknya

yang kemudian disertai dengan proses seleksi. Hasil mutasi tersebut berupa warna

bulu, pola bulu, bentuk bentuk jengger, warna kulit dan lain sebagainya yang

akhirnya digunakan untuk membedakan antar bangsa dalam satu spesies (Hutt,

1949).

Perbedaan pada tiap jenis ayam juga terdapat pada warna bulu selain pada

ukuran dan bentuk tubuh (Hutt, 1949). Ayam Kampung memiliki warna bulu yang

(48)

27 40

30 20

10

5

0

Ukuran

Bent

uk

Ayam Wareng Tangerang memiliki warna bulu yang dominan putih (Susanti et al., 2006).

Analisis Komponen Utama

Analisis Komponen Utama berdasarkan Jenis Kelompok Ayam

Hartono (2002) dan Supriyanto (2003) menjelaskan bahwa persamaan yang

tepat digunakan untuk mengetahui perbedaan antar jenis kelompok yang lebih jelas

adalah berdasarkan persamaan masing-masing jenis kelompok itik jika dibandingkan

berdasarkan keseluruhan jenis kelompok itik. Hal yang sama juga dinyatakan oleh

Sutisna (2002) yang menyatakan bahwa sebaran data berdasarkan persamaan yang

diturunkan dari masing-masing jenis kelompok itik dan entok lebih memuaskan dan

dapat lebih mudah diinterpretasikan jika dibandingkan dari sebaran data yang

diturunkan dari persamaan keseluruhan jenis kelompok itik dan entok. Mufti (2003)

juga menjelaskan hal yang sama pada ayam Kampung, ayam Pelung dan ayam

persilangannya. Gambar 5 menyajikan diagram kerumunan data individu ayam yang

diamati berdasarkan persamaan yang diturunkan pada masing-masing jenis ayam

yang diamati (ayam Kampung, ayam Sentul dan ayam Wareng Tangerang).

Keterangan : 1 j Ayam Kampung Jantan; 1 b Ayam Kampung Betina;

2 j Ayam Wareng Tangerang Jantan; 2 b Ayam Wareng Tangerang Betina

[image:48.612.119.484.400.668.2]

3 j Ayam Sentul Jantan; 3 b Ayam Sentul Betina

(49)

Ayam Kampung. Tabel 9 menyajikan persamaan ukuran dan bentuk kerangka tubuh dengan keragaman total dan nilai eigen ayam Kampung. Berdasarkan Tabel 9, keragaman total (KT) dari persamaan ukuran kerangka tubuh tersebut sebesar 70,4%

yang menunjukkan proporsi keragaman terbesar dalam persamaan ukuran. Nilai

eigen (λ) pada persamaan ukuran kerangka tubuh ayam Kampung sebesar 13,59 dan merupakan nilai keragaman dalam persamaan ukuran. Penciri ukuran pada kerangka

tubuh ayam Kampung adalah panjang sayap dengan vektor eigen panjang sayap (X8) sebesar 0,55. Hal ini sesuai dengan penelitian Nishida et al. (1982) yang melaporkan bahwa skor ukuran pada ayam Kampung juga dipengaruhi oleh panjang tibia; sedangkan Mufti (2003) juga menyatakan hal yang sama pada ayam Kampung.

Nilai korelasi antara skor ukuran dan peubah-peubah ukuran kerangka tubuh

ayam Kampung serta skor bentuk dan peubah-peubah ukuran kerangka tubuh ayam

Kampung disajikan pada Tabel 10. Berdasarkan Tabel 10, nilai korelasi antara

ukuran dan panjang sayap sebesar +0,93 yang menunjukkan bahwa semakin besar

nilai panjang sayap maka ukuran kerangka tubuh yang dihasilkan juga akan semakin

besar. Hal tersebut sesuai dengan Mufti (2003).

Tabel 9. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kerangka Tubuh dengan Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Kampung

Persamaan KT (%) λ

Ukuran = 0,23X1 + 0,35X2 + 0,30X3 + 0,15X4 + 0,06X5 +

0,35X6 + 0,33X7 + 0,55X8 + 0,34X9 + 0,17X10

70,4 13,59

Bentuk = 0,01X1 − 0,09X2 + 0,01X3 + 0,11X4 + 0,00X5 − 0,75X6 + 0,64X7− 0,01X8 + 0,08X9 + 0,03X10

12,7 2,49

Keterangan : X1 = Panjang Femur; X2 = Panjang Tibia; X3 = Panjang Shank; X4 = Panjang Jari

Ketiga; X5 = Panjang Maxilla; X6 = Tinggi Jengger; X7 = Panjang Punggung;

X8 = Panjang Sayap; X9 = Panjang Dada; X10 = Lingkar Shank; KT = Keragaman Total;

λ = Nilai Eigen

Berdasarkan Tabel 9, keragaman total (KT) yang dihasilkan dari persamaan

bentuk sebesar 12,7% yang merupakan keragaman total terbesar kedua setelah

keragaman total pada persamaan ukuran. Nilai eigen (λ) menunjukkan adanya keragaman pada bentuk kerangka tubuh ayam Kampung sebesar 2,49. Penciri bentuk

(50)

29 bahwa panjang sayap juga mempengaruhi skor bentuk kerangka tubuh pada ayam

Kampung; Mufti (2003) juga menyatakan hala yang sama pada ayam Kampung.

Nickel et al. (1977) menyatakan bahwa pada unggas, jantan dan betina memiliki jengger yang berbeda dalam ukuran dan bentuk dan beragam pada tiap bangsa.

Tabel 10. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Kampung serta Bentukdan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Kampung

Peubah yang Diukur Ukuran Bentuk

Panjang Femur (X1) +0,94 +0,02

Panjang Tibia (X2) +0,90 −0,10

Panjang Shank (X3) +0,94 +0,01

Panjang Jari Ketiga (X4) +0,86 +0,28

Panjang Maxilla (X5) +0,68 +0,02

Tinggi Jengger (X6) +0,67 −0,61

Panjang Punggung (X7) +0,72 +0,52

Panjang Sayap (X8) +0,93 −0,01

Panjang Dada (X9) +0,90 +0,09

Lingkar Shank (X10) +0,84 +0,07

Nilai korelasi antara bentuk dan tinggi jengger sebesar −0,61. Nilai korelasi yang negatif tersebut menunjukkan bahwa semakin besar nilai dari tinggi jengger

maka skor bentuk kerangka tubuh yang ditunjukkan oleh ayam Kampung akan

semakin kecil. Pada bangsa Mediterania, salah satunya yaitu Leghorn, jengger lebih

besar dibandingkan pada bangsa tipe berat (Hutt, 1949). Dijelaskan lebih lanjut

bahwa luas jengger sekitar tiga kali panjangnya dan dapat diukur dari pengukuran

panjang x tinggi yang memiliki korelasi cukup tinggi pada bobot jengger.

Berdasarkan Gambar 5, skor ukuran kerangka tubuh ayam Kampung jantan

lebih besar dibandingkan ayam Kampung betina, meskipun ditemukan beberapa

jantan dan betina yang memiliki skor ukuran yang sama. Keadaan ini diperlihatkan

dari skor ukuran jantan yang lebih besar dibandingkan betina. Kerumunan data

individu ayam Kampung jantan memiliki keragaman yang hampir sama dengan

(51)

Hal ini bersesuaian dengan rataan ukuran kerangka tubuh ayam Kampung jantan

lebih besar dibandingkan rataan ukuran kerangka tubuh betina pada Tabel 7.

Perbedaan tersebut disebabkan karena pada jantan ditemukan testosteron sebagai steroid dari androgen yang menyebabkan pertumbuhan ternak jantan lebih cepat dibandingkan dengan ternak betina (Soeparno, 1992). Menurut Frandson (1992)

bahwa laju pertumbuhan tulang hewan dipengaruhi oleh hormon, diantaranya

hormon androgen dan testosteron. Androgen adalah hormon jantan yang disekresikan oleh sel-sel interstisial testis. Hormon tersebut bekerja efektif dalam merangsang pertumbuhan hewan jantan dibandingkan betina. Pada hewan jantan,

testosteron berpengaruh terhadap metabolisme dengan merangsang sintesis protein sehingga menghasilkan kenaikan bobot badan dan pertumbuhan kerangka tulang

serta jaringan daging lebih besar.

Bentuk kerangka tubuh ayam Kampung berdasarkan Gambar 5 menunjukkan

tidak berbeda jauh baik pada jantan maupun betina. Hal ini ditunjukkan dari kisaran

skor bentuk pada jantan dan betina yang hampir sama. Ayam Kampung merupakan

salah satu kelompok jenis ayam asli Indonesia yang memiliki bentuk pada jantan dan

betina tidak berbeda jauh.

Ayam Sentul. Tabel 11 menyajikan persamaan ukuran dan bentuk kerangka tubuh dengan keragaman total dan nilai eigen pada ayam Sentul. Berdasarkan Tabel 11, keragaman total (KT) yang berkontribusi terbesar menjelaskan persamaan ukuran

kerangka tubuh sebesar 83,6 %, sedangkan nilai eigen (λ) sebesar 14,18. Penciri ukuran kerangka tubuh ayam Sentul adalah panjang sayap dengan vektor eigen panjang sayap (X8)sebesar 0,58.

Tabel 12 menyajikan korelasi antara skor ukuran dan peubah-peubah ukuran

kerangka tubuh ayam Sentul serta skor bentuk dan peubah-peubah ukuran kerangka

tubuh ayam Sentul. Berdasarkan Tabel 12, nilai korelasi antara skor ukuran dan

panjang sayap sebesar +0,97. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar nilai dari

panjang sayap, maka skor ukuran kerangka tubuh juga akan besar.

Penciri bentuk kerangka tubuh pada ayam Sentul berdasarkan Tabel 11

(52)

31 83,6%, sedangkan nilai eigen (λ) yang merupakan nilai ragam bentuk pada persamaan ayam Sentul sebesar 14,18.

Nilai korelasi antara skor bentuk dan tinggi jengger yang disajikan pada

Tabel 12 sebesar −0,65. Nilai tersebut menunjukkan bahwa semakin besar nilai dari tinggi jengger, maka skor bentuk kerangka tubuh ayam Sentul akan semakin kecil.

Tabel 11. Persamaan Ukuran dan Bentuk Tubuh dengan Keragaman Total dan Nilai Eigen pada Ayam Sentul

Persamaan KT (%) λ

Ukuran = 0,29X1 + 0,43X2 + 0,36X3 + 0,20X4 + 0,05X5 +

0,16X6 + 0,26X7 + 0,58X8 + 0,32X9 + 0,17X10

83,6 14,18

Bentuk = 0,03X1 − 0,19X2 − 0,02X3 + 0,02X4 + 0,02X5 − 0,69X6 + 0,46X7 + 0,36X8− 0,36X9− 0,14X10

5,0 0,85

Keterangan : X1 = Panjang Femur; X2 = Panjang Tibia; X3 = Panjang Shank; X4 = Panjang Jari

Ketiga; X5 = Panjang Paruh; X6 = Tinggi Jengger; X7 = Panjang Punggung;

X8 = Panjang Sayap; X9 = Panjang Dada; X10 = Lingkar Shank; KT = Keragaman Total;

[image:52.612.120.505.415.644.2]

λ = Nilai Eigen

Tabel 12. Korelasi antara Ukuran dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Sentul serta Bentuk dan Peubah-peubah Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Sentul

Peubah yang Diukur Ukuran Bentuk

Panjang Femur (X1) +0,96 +0,02

Panjang Tibia (X2) +0,96 −0,10

Panjang Shank (X3) +0,97 −0,01

Panjang Jari Ketiga (X4) +0,90 +0,03

Panjang Maxilla (X5) +0,49 +0,05

Tinggi Jengger (X6) +0,62 −0,65

Panjang Punggung (X7) +0,78 +0,34

Panjang Sayap (X8) +0,97 +0,15

Panjang Dada (X9) +0,86 −0,24

Lingkar Shank (X10) +0,92 −0,18

Jengger sangat berperan dalam sistem sirkulasi darah karena berfungsi

sebagai termoregulator tubuh terhadap suhu lingkungan. Saat suhu lingkungan

(53)

vena untuk menghangatkan sebagian darah yang dingin dari kapiler (Lucas dan

Stettenheim, 1972). Dijelaskan lebih lanjut bahwa jika suhu tubuh meningkat

dikarenakan aktivitas metabolisme dengan diikuti suhu lingkungan yang tinggi, maka

kapiler akan membebaskan panas dan sekali lagi aliran A-V akan menurunkan panas

di vena menjadi level arteri.

Berdasarkan Gambar 5, skor ukuran kerangka tubuh ayam Sentul jantan lebih

besar dibandingkan betina, meskipun ditemukan beberapa individu yang memiliki

skor ukuran yang sama. Keadaan ini ditunjukkan dari tumpang tindih kerumunan

data individu antara jantan dan betina dan menunjukkan bahwa ukuran jantan dan

betina tidak terlalu berbeda jauh. Hasil tersebut sesuai dengan Iskandar et al. (2004b) yang menyatakan bahwa bobot badan ayam Sentul untuk betina 1.370 g dan jantan

2.050 g. Hal tersebut dikarenakan laju pertumbuhan jantan lebih cepat dibandingkan

betina. Hal yang sama juga ditemukan pada ayam Kampung.

Berdasarkan Gambar 5, bentuk ayam Sentul jantan dan betina hampir sama

karena kisaran skor bentuk betina berada dalam kisaran skor bentuk jantan. Bentuk

pada betina juga lebih seragam dibandingkan jantan. Hal tersebut ditunjukkan dari

kerumunan data individu ayam Sentul betina yang lebih sempit dibandingkan

kerumunan data individu jantan. Keadaan ini disebabkan pemeliharaan ayam Sentul

ke arah produksi telur sehingga seleksi yang dilakukan pada ayam Sentul betina

yang lebih selektif yaitu berdasarkan produksi telur tinggi dan warna bulu dasar yang

hanya abu-abu, sedangkan ayam jantan hanya diseleksi berdasarkan warna bulu

merah, kuning dan hitam dengan warna bulu dasar abu-abu (Iskandar et al., 2005).

Ayam Wareng Tangerang. Tabel 13 menyajikan persamaan ukuran dan bentuk tubuh dengan keragaman total dan nilai eigen pada ayam Wareng Tangerang. Berdasarkan Tabel 13, keragaman total (KT) yang menunjukkan proporsi terbesar

keragaman pada persamaan ukuran sebesar 64,2%, sedangkan nilai eigen (λ) sebesar 4,78 yang menunjukkan nilai keragaman pada persamaan ukuran kerangka tubuh

ayam Wareng Tangerang. Penciri ukuran pada kerangka tubuh ayam Wareng

Tangerang adalah panjang sayap dengan vektor eigen panjang sayap (X8) sebesar 0,71. Hasil penelitian ini tidak berbeda dengan hasil yang ditemukan pada kelompok

(54)

33 Nilai korelasi antara skor ukuran dan peubah-peubah ukuran kerangka tubuh

ayam Wareng Tangerang serta skor bentuk dan peubah-peubah ukuran kerangka

tubuh ayam Wareng Tanger

Gambar

Gambar 1. Ayam Kampung Jantan dan Betina
Tabel 1. Rataan Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Kampung Jantan dan Betina
Gambar 2. Ayam Sentul Jantan dan Betina
Tabel 2. Rataan Bobot Badan dan Ukuran Kerangka Tubuh Ayam Sentul Jantan dan Betina
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adanya kombinasi dari persilangan ayam kampung dengan ayam ras pedaging yang memiliki ukuran tubuh lebih besar dan resiprokalnya pada penelitian ini diperoleh F1

Semua peubah pada penelitian ini yaitu bobot badan, panjang shank, panjang tibia, panjang femur, panjang punggung, panjang dada, lingkar dada dan rentang sayap ayam

Ukuran bobot badan ayam PSKB, PSBK, dan BKPS mulai menunjukkan bobot badan yang lebih berat dari ayam kampung sejak umur 6 minggu baik pada jantan maupun betina.. Grafik

Hasil analisis sidik ragam pada Tabel 6 menunjukkan bahwa panjang shank ayam Sentul, ayam Kampung dan ayam Kedu pada umur 5-12 minggu tidak berbeda nyata, tetapi antara

Ukuran bobot badan ayam PSKB, PSBK, dan BKPS mulai menunjukkan bobot badan yang lebih berat dari ayam kampung sejak umur 6 minggu baik pada jantan maupun betina.. Grafik

Semua peubah pada penelitian ini yaitu bobot badan, panjang shank, panjang tibia, panjang femur, panjang punggung, panjang dada, lingkar dada dan rentang sayap ayam

Ayam Wareng dewasa yang dipelihara secara intensif memiliki bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan ayam lokal lainnya pada umur yang

Seleksi peternak yang paling ketat secara tidak langsung pada ayam Kampung betina (Tabel 3) terhadap ukuran-ukuran linear permukaan tubuh diantara lokasi pengamatan, ditemukan