• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Jalan Babakan Raya merupakan salah satu jalan yang terdapat di Kelurahan Babakan, Kecamatan Darmaga. Jarak antara kelurahan Babakan dengan Kota Bogor adalah 18 Km yang bisa dicapai selama 1 jam perjalanan. Daerah ini berdekatan dengan sekolah, kampus IPB, serta pemukiman penduduk. Di daerah ini terdapat banyak pedagang kaki lima serta rumah makan, mulai dari Warung Sunda, Warung Tegal hingga Rumah Makan Padang. Dari survey yang telah dilakukan sepanjang jalan babakan raya terdapat 5 Warung Sunda, 9 Warung Tegal dan 4 Rumah Makan Padang.

Sensus penduduk tahun 2005 menunjukkan jumlah penduduk di Kelurahan Babakan mencapai 8.667 jiwa dan angka ini bertambah menjadi 10.889 pada pertengahan tahun 2009. Jumlah tersebut adalah jumlah penduduk yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan belum termasuk penduduk yang tidak memiliki KTP seperti pendatang dan mahasiswa dari berbagai daerah. Berdasarkan tingkat pendidikan formal penduduk dikategorikan belum sekolah, usia 7-45 tahun tapi tidak pernah sekolah, pernah sekolah SD tapi tidak tamat, dan penduduk yang menamatkan pendidikan formal dari tingkat SD hingga S3. Sebagian dari penduduk tersebut ada pada kategori tamatan SD, SMP, dan SMA. Penduduk yang merupakan tamatan SD ada 1.750 orang, tamatan SMP 1.215 orang dan tamat SMA 1.320 orang.

Mata pencaharian utama sebagian besar penduduk adalah buruh/swasta. Sisanya bermatapencaharian sebagai pegawai negeri, pedagang, peternak, montir, dll. Penduduk Kelurahan Babakan berasal dari etnis yang beragam yaitu Sunda, Jawa, Betawi, Minang, Batak dan Makasar.

Gambaran Umum Rumah Makan

Ketiga rumah makan dalam penelitian ini terletak di sekitar kampus IPB Darmaga, jalan Babakan Raya, Kelurahan Babakan, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor. Ketiga rumah makan tersebut berasal dari tiga kelompok rumah makan, yaitu kelompok Warung Tegal, Rumah Makan Padang dan

Warung Tegal

Letak warung yang berdekatan dengan kampus mengakibatkan warung sering dikunjungi oleh mahasiswa. Warung ini memiliki 28 tempat duduk pengunjung. Bangunan warung kokoh dan di setiap ruangan memiliki batas dinding atau pintu dengan ruangan lain. Atap terbuat dari bahan yang tahan lama dan kedap air, sedangkan loteng terbuat dari bahan triplek yang sudah agak rusak. Hal ini terlihat dengan adanya lubang-lubang kecil di sekitar loteng. Pencahayaan di warung ini sudah cukup dan lantai terbuat dari bahan kedap air (plester). Warung ini memiliki fasilitas sanitasi seperti tempat pencucian peralatan masak dan makan, tempat sampah serta kamar mandi/toilet. Di warung ini tersedia tong sampah tetapi tidak tertutup dan kamar mandi/toilet hanya diperuntukkan bagi karyawan di warung tersebut. Sumber air di warung ini berasal dari air sumur, yang dipergunakan untuk memasak, minum dan mencuci peralatan.

Peralatan memasak dan persiapan yang digunakan warung ini terbuat dari aluminium, stainless steel dan plastik. Piring makan yang digunakan oleh warung ini berupa piring porselin. Air yang digunakan dalam pencucian peralatan memasak dan makan berupa air yang mengalir dari kran dan sabun untuk menghilangkan kotorannya.

Di warung Tegal ini juga tersedia lemari pendingin yang digunakan untuk meyimpan bahan makanan, bumbu, serta buah. Makanan yang sudah masak biasanya disimpan di panci atau wadah plastik bertutup sebelum disajikan di etalase makanan. Etalase makanan di warung ini ditutup dengan menggunakan tirai yang bertujuan untuk mencegah hinggapnya lalat ke makanan. Walaupun sudah menggunakan tirai, tapi tetap saja ada lalat yang masuk kedalam etalase makanan dikarenakan penjamah makanan yang lupa menutup kembali tirai setelah melayani pembeli.

Di atas meja makan di rumah makan ini, disediakan tisu, gelas, sendok, garpu, tusuk gigi, dan ceret. Tisu yang disediakan berupa tisu lipat. Gelas diletakkan di atas rak kecil khusus gelas. Sendok dan garpu diletakkan dalam wadah terbuka. Di warung ini disediakan ceret berisi air minum yang boleh

Rumah Makan Padang

Sama halnya dengan Warung Tegal, Rumah Makan Padang ini juga sering dikunjungi oleh mahasiswa. Kapasitas tempat duduk di rumah makan ini adalah sebanyak 16 tempat duduk pengunjung. Bangunannya kokoh, atap terbuat dari bahan kedap air, loteng terbuat dari bahan triplek. Pencahayaan di rumah makan ini sudah cukup dan lantai terbuat dari bahan kedap air (plester). Warung ini memiliki fasilitas sanitasi seperti tempat pencucian peralatan masak dan makan, tempat sampah serta kamar mandi/toilet. Seperti pada warung Tegal, tong sampah di rumah makan Padang juga tidak tertutup serta kamar mandi/toilet hanya diperuntukkan bagi karyawan di rumah makan saja. Sumber air berasal dari air sumur bor, yang digunakan untuk memasak, minum dan mencuci peralatan.

Peralatan yang digunakan memasak dan persiapan di rumah makan ini terbuat dari besi, aluminium, stainless steel dan plastik. Piring makan yang digunakan di rumah makan ini berupa piring porselin. Air yang digunakan dalam pencucian peralatan berupa air yang mengalir dari kran dan sabun untuk menghilangkan kotorannya.

Di Rumah Makan Padang ini juga tersedia lemari pendingin yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan dan bumbu-bumbu. Makanan yang sudah masak biasanya disimpan di dalam panci besar bertutup. Etalase makanan di rumah makan ini juga ditutupi dengan tirai untuk mencegah hinggapnya lalat ke dalam makanan.

Di atas meja makan tersedia tisu, sendok, garpu dan tusuk gigi. Tisu yang tersedia berupa tisu lipat. Sendok dan garpu diletakkan di wadah yang terbuka. Diatas meja makan Rumah Makan Padang tidak disediakan gelas dan ceret, karena biasanya di rumah makan ini gelas langsung diisi air minum oleh penjamah makanan di tempat persiapan setelah itu baru disajikan ke pengunjung. Selain makan dengan menggunakan sendok dan garpu, pengunjung juga bisa makan dengan menggunakan tangan, karena rumah makan ini juga menyediakan kobokan untuk mencuci tangan pengunjung.

dan pintu. Tidak seperti warung Tegal dan rumah makan Padang, pada warung Sunda, terdapat tempat untuk menggoreng dan memanggang makanan karena konsep warung sunda adalah penyajian makanan secara panas, langsung disajikan setelah dimasak (walaupun sebelumnya sudah dimasak didapur terlebih dahulu). Letak tempat menggoreng dan memanggang ini adalah dibagian teras warung.

Pencahayaan pada warung ini sudah cukup, lantaipun sudah terbuat dari bahan kedap air (plester). Fasilitas sanitasi di warung ini adalah tempat pencucian peralatan masak dan makan, tong sampah serta kamar mandi/toilet. Selain itu juga tersedia wastafel yang bisa digunakan pengunjung untuk mencuci tangan. Pada wastafel tidak disediakan lap tangan serta sabun. Tong sampah pada warung ini juga dalam keadaan terbuka. Kamar mandi/toiletnya juga hanya diperuntukkan bagi karyawan saja.

Hampir sama dengan warung Tegal dan rumah makan Padang, di warung Sunda ini juga menggunakan peralatan memasak dan persiapan yang terbuat dari aluminium, stainlees steel serta plastik. Piring yang digunakan juga terbuat dari bahan porselin. Pencucian peralatan masak dan makan juga dilakukan dengan menggunakan air mengalir dari kran dan memakai sabun untuk menghilangkan kotoran. Sumber air di warung ini adalah dari air sumur.

Di warung Sunda ini terdapat satu buah lemari pendingin. Lemari pendingin ini digunakan untuk menyimpan sayuran (lalapan) dan buah. Untuk penyimpanan makanan yang sudah masak, di warung ini menggunakan wadah plastik bertutup. Etalase makanan juga dilengkapi dengan tirai untuk mencegah masuknya lalat.

Di atas meja makan tersedia tisu, sendok, garpu, gelas, ceret dan tusuk gigi. Tisu yang tersedia berupa tisu gulung. Sendok dan garpu diletakkan didalam wadah yang terbuka. Gelas di letakkan di rak khusus gelas. Di warung ini disediakan ceret berisi air minum yang boleh diminum gratis oleh para pengunjung.

Karakteristik Penjamah Makanan

penjamah dari Warung Tegal, 4 penjamah dari Rumah Makan Padang, dan 6 penjamah dari Warung Sunda.

Umur

Umur penjamah makanan dalam penelitian ini berkisar antara 18-40 tahun. Sebagian besar penjamah makanan (75%) adalah usia dewasa awal yaitu berusia <25 tahun. Sebaran penjamah makanan berdasarkan umur disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5 Sebaran penjamah makanan berdasarkan umur Umur (Tahun) Jumlah (n=16) N % <25 12 75,0 25-32 2 12,5 >32 2 12,5 Total 16 100

Kelompok usia dewasa awal ini merupakan kelompok usia yang memiliki produktivitas tinggi. Penjamah makanan yang memiliki usia lebih tinggi kemungkinan memiliki pengetahuan tentang keamanan pangan yang lebih baik daripada penjamah makanan usia muda karena pengalaman dan informasi yang mereka peroleh. Namun demikian, juga berpeluang memiliki informasi yang kurang tentang keamanan pangan yang terbaru sehingga dapat mempengaruhi cara berfikir dan tindakan mereka.

Jenis Kelamin

Lebih dari separuh penjamah makanan berjenis kelamin laki-laki yaitu sebesar 68.75%. Sebaran penjamah makanan berdasarkan jenis kelamin disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Sebaran penjamah makanan berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Jumlah (n=16)

N %

Laki-laki 11 68,75

Perempuan 5 31,25

Sari (2004) yang menyatakan bahwa persentase penjamah makanan yang berjenis kelamin laki-laki adalah lebih banyak daripada perempuan.

Lebih banyaknya penjamah makanan laki-laki dibandingkan dengan penjamah makanan perempuan diduga karena fisik atau kondisi tubuh laki-laki yang lebih kuat dibandingkan dengan perempuan. Selain itu jumlah jam kerja yang relatif lama serta jenis pekerjaannya yang beragam menyebabkan laki-laki lebih banyak bekerja di rumah makan dibandingkan perempuan. Pekerjaan yang harus dilakukan penjamah makanan adalah mulai dari persiapan, pengolahan, penyajian sampai pelayanan kepada pembeli. Rata-rata lama bekerja di Warung Tegal, Rumah Makan Padang dan Warung Sunda berturut-turut adalah 14, 12, dan 11 jam.

Tingkat Pendidikan

Semua penjamah makanan dalam penelitian ini pernah mengikuti pendidikan formal. Pendidikan penjamah makanan berkisar antara tamat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Menurut Notoatmodjo 2003 pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Sebaran penjamah makanan berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada Gambar 3.

Pendidikan sangat penting untuk merubah perilaku seseorang. Sebanyak 44% penjamah makanan memiliki tingkat pendidikan SMP. Berdasarkan hasil penelitian Perdani (2001) menyatakan bahwa sebanyak 35% penjamah makanan di warung makan sekitar kampus IPB merupakan tamatan SMP. Menurut Mawaddah dalam Fajarwati 2010 tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pengetahuan seseorang. Tingkat pendidikan formal seseorang umumnya berpengaruh terhadap kemampuan membaca dan menulisnya. Kemampuan tersebut sangat diperlukan untuk menunjang proses penyerapan informasi dari lingkungannya.

Lama Bekerja

Menurut Notoatmodjo 2003, pengetahuan, pengalaman dan sumber informasi merupakan dasar untuk terjadinya perubahan perilaku. Diharapkan dengan semakin lamanya seseorang bekerja di rumah makan maka pengetahuan, pengalaman dan informasi tentang makanan sehat yang diperoleh akan semakin baik sehingga akan membentuk perilaku yang baik. Sebaran penjamah makanan berdasarkan lama bekerja disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7 Sebaran penjamah makanan berdasarkan lama bekerja Lama Bekerja (Tahun) Jumlah (n=16) N % <1 1-2 >2 4 10 2 25,0 62,5 12,5 Total 16 100

Lama bekerja adalah lama waktu penjamah makanan bekerja dirumah makan tempat mereka bekerja. Lama bekerja contoh sebagai penjamah makanan dirumah makan sebagian besar (62.5%) yaitu 1-2 tahun.

Keikutsertaan Penyuluhan Keamanan Pangan

Penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan (Bahua 2007). Dari

Gambar 4 Sebaran penjamah makanan berdasarkan keikutsertaannya dalam penyuluhan keamanan pangan

Pengetahuan, Sikap dan Praktek Tentang Keamanan Pangan Pengetahuan Tentang Keamanan Pangan

Pengetahuan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan dan tingkat pendidikan seseorang, tetapi juga dipengaruhi oleh sumber informasi, pengalaman, dan kegiatan penyuluhan (Notoatmodjo 2003). Sebaran penjamah makanan berdasarkan jawaban yang benar mengenai pengetahuan tentang kemanan pangan dapat dilihat pada Tabel 8.

Dari 20 pertanyaan tentang pengetahuan keamanan pangan (Tabel 8), masih banyak contoh yang tidak mampu menjawab dengan benar. Pada pertanyaan mengenai makanan yang aman bagi kesehatan hanya 25% contoh yang menjawab dengan benar. Pada beberapa pertanyaan lainnya masih banyak contoh yang menjawab salah, seperti pada pertanyaan tentang pencucian peralatan makan, cara merebus air yang baik, penggunaan BTP yang tidak dianjurkan, alasan makanan berjamur tidak aman dikonsumsi, jika ditemukan sehelai rambut didalam makanan, penyebab makanan tidak aman dikonsumsi serta pertanyaan tentang tujuan mencuci tangan sebelum makan.

Tabel 8 Sebaran penjamah makanan berdasarkan jawaban benar mengenai pengetahuan

Pengetahuan Keamanan Pangan Total (n=16)

N %

1. Makanan yang aman bagi kesehatan

2. Makanan dan minuman yang tidak bersih mengakibatkan 3. Yang menyebabkan makanan tidak aman dikonsumsi 4. Tanda-tanda makanan tercemar mikroba

5. Makanan yang berjamur tidak aman dikonsumsi 6. Cara penanggulangan makanan yang sudah basi 7. Jika didalam makanan ditemukan sehelai rambut 8. Yang dilakukan saat bersin ketika mengolah makanan 9. Cara merebus air yang baik

10. Tujuan memasak air minum 11. Sumber air minum paling baik 12. Ciri-ciri air bersih

13. Pencucian peralatan makan

14. Cuci tangan sebaiknya menggunakan 15. Tujuan mencuci tangan sebelum makan

16. Penyakit akibat makanan tercemar dan keracunan pangan 17. Gejala keracunan pangan

18. Kegiatan yang menimbulkan cemaran pada makanan 19. Kemasan yang baik untuk membungkus makanan 20. Penggunaan BTP yang tidak dianjurkan

4 15 9 16 8 16 8 11 7 12 14 16 6 13 9 11 15 12 15 7 25 94 56 100 50 100 50 67 44 75 88 100 38 81 56 69 94 75 94 44

Seluruh penjamah makanan (100%) dapat menjawab dengan benar terhadap pertanyaan tentang tanda-tanda makanan yang tercemar mikroba, penanganan makanan yang sudah basi, serta ciri-ciri air bersih. Banyaknya contoh yang menjawab benar menunjukkan bahwa contoh sudah mengetahui dan memahami tentang tanda-tanda makanan yang tercemar mikroba, penanganan makanan yang sudah basi dan ciri-ciri air bersih. Hal ini kemungkinan disebabkan karena sumber informasi yang diperoleh dan pengalamannya. Sumber informasi di masyarakat cukup luas dan beragam seperti media cetak dan elektronik.

Menurut Taryoto (1991), tingkat pengetahuan yang relatif tinggi dapat menekan resiko terjadinya pencemaran makanan karena dengan pengetahuan yang tinggi diharapkan memiliki sikap yang positif dan sikap yang positif ini akan mendorong untuk bertindak lebih baik.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang yaitu tingkat pendidikan, keikutsertaan dalam penyuluhan atau pelatihan, lama bekerja, umur, tempat tinggal dan sumber informasi. Tingkat

partisipasi aktif penjamah makanan dalam mempelajari keamanan pangan agar terwujud perubahan pengetahuan, sikap dan praktek ke arah yang lebih baik. Lama bekerja adalah lama waktu penjamah makanan bekerja dirumah makan tempat mereka bekerja. Umur adalah lamanya hidup yang dihitung sejak lahir sampai saat ini. Umur merupakan periode terhadap pola-pola kehidupan yang baru, semakin bertambahnya umur akan mencapai usia reproduksi (Notoadmodjo 2003). Tempat tinggal adalah tempat menetap sehari-hari. Pengetahuan seseorang akan lebih baik jika berada di perkotaan daripada di pedesaan karena di perkotaan akan meluasnya kesempatan untuk melibatkan diri dalam kegiatan sosial maka wawasan sosial makin kuat, di perkotaan juga mudah mendapatkan informasi (Hurlock 1980). Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Bila seseorang benyak memperoleh informasi maka ia cendrung mempunyai pengetahuan yang lebih luas (Notoadmodjo 2003).

Skor rata-rata pengetahuan penjamah makanan berdasarkan tingkat pendidikan disajikan pada Tabel 9 dan berdasarkan umur disajikan pada Tabel 10.

Tabel 9 Skor rata-rata pengetahuan penjamah makanan berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan n Skor rata-rata pengetahuan (%)

Tamat SD 3 61,76

SMP 7 75,00

SMA 6 68,33

Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa penjamah makanan dengan tingkat pendidikan SMP dan SMA memiliki pengetahuan tentang keamanan pangan lebih baik dari pada penjamah makanan yang memiliki tingkat pendidikan SD. Hal ini mengindikasikan seseorang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung mempunyai skor pengetahuan yang lebih tinggi pula diduga karena keingintahuan yang lebih besar.

Tabel 10 Skor rata-rata pengetahuan penjamah makanan berdasarkan umur

Berdasarkan Tabel 10 dapat dilihat bahwa penjamah makanan yang berusia lebih muda (< 25 tahun) memiliki skor rata-rata pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penjamah makanan yang lebih tua (> 25 tahun). Seseorang dengan usia yang lebih tinggi biasanya akan memiliki pengetahuan yang lebih banyak serta info yang diperolehnya juga lebih beragam. Namun demikian, seseorang dengan usia yang lebih tinggi biasanya akan lebih malas membaca sehingga sulit menerima informasi terbaru.

Pengetahuan penjamah makanan selanjutnya dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu kurang, sedang dan tinggi. sebaran penjamah makanan berdasarkan tingkat pengetahuan tentang keamanan pangan disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Sebaran penjamah makanan berdasarkan tingkat pengetahuan tentang keamanan pangan Pengetahuan Keamanan Pangan Jumlah (n=16) N % Kurang 2 12,5 Sedang 10 62,5 Baik 4 25,0 Total 16 100

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penjamah makanan (62,5%) memiliki tingkat pengetahuan tentang keamanan pangan yang sedang. Hal ini diduga karena tingkat pendidikan penjamah makanan yang relatif masih rendah yaitu sebagian besar (44%) tingkat pendidikan penjamah makanan adalah SMP. Selain tingkat pendidikan, umur penjamah makanan yang masih dalam kelompok usia dewasa awal juga akan mempengaruhi, lama bekerja penjamah makanan di rumah makan yang masih relatif belum lama (1-2 tahun) serta penjamah makanan yang tidak pernah ikut dalam kegiatan pelatihan dan penyuluhan tentang keamanan pangan.

Sikap Keamanan Pangan Penjamah Makanan

Adanya pengetahuan yang baik dari penjamah makanan tentang keamanan pangan menyebabkan akan adanya suatu sikap yang baik pula dari penjamah makanan tersebut, sehingga diharapkan mereka akan bertindak

reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan dan belum menunjukan tindakan atau aktivitas, tetapi sikap merupakan predeposisi tindakan dari suatu perilaku. Sebaran penjamah makanan berdasarkan sikap setuju tentang keamanan pangan disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12 Sebaran penjamah makanan berdasarkan sikap setuju tentang keamanan pangan

Sikap Keamanan Pangan Total (n=16)

N %

Pertanyaan Positif

1. Saat menyajikan makanan sebaiknya memakai penutup kepala, celemek dan sarung tangan

2. Makanan yang sehat adalah mengandung cukup zat gizi dan bersih serta aman dikonsumsi

3. Peralatan yang kotor direndam terlebih dahulu menggunakan detergen, setelah itu dibilas dengan air bersih dan terakhir dibilas dengan air panas

4. Jarak yang jauh antara dapur dengan tempat penyajian makanan dapat berpengaruh terhadap keamanan makanan 5. Adanya lalat ditempat penyajian makanan dapat

mempengaruhi keamanan makanan tersebut

6. Tumpukkan sampah yang berserakan didekat rumah makan dapat menyebabkan makanan tercemar

7. Kebersihan tempat jualan adalah hal yang penting untuk menunjang keamanan pangan

8. Mencuci tangan sebelum dan setelah mengolah / menyajiakn makanan / minuman adalah hal yang penting

9. Memakai penutup kepala dapat menghindari makanan dari cemaran

10. Penting memeperhatikan informasi label gizi dan tanggal kadaluarsa pada produk makanan

15 16 11 15 12 13 15 16 13 16 94 100 69 94 75 81 94 100 81 100 Pertanyaan Negatif

11. Penjamah makanan diperbolehkan mempunyai kuku yang panjang asal bersih

12. Tidak perlu memakai pisau yang berbeda jika hendak memotong bahan makanan mentah maupun makanan yang matang

13. Mempergunakan talenan yang sama untuk memotong sayur dan daging

14. Piring / peralatan yang sudah dicuci langsung dikeringkan dengan lap

15. Bak pencucian piring tidak dibersihkan kecuali kalau sudah kotor sekali

16. Mengambil makanan dengan tangan yang tidak dicuci tidak menimbulkan cemaran

17. Bersin dan berbicara saat mengolah dan menyajikan makanan adalah hal yang biasa dilakukan

7 13 8 0 10 8 14 44 81 50 0 63 50 88

Seluruh penjamah makanan (100%) setuju bahwa makanan yang sehat adalah mengandung cukup zat gizi dan bersih serta aman dikonsumsi. Selain itu seluruh penjamah makanan juga setuju bahwa mencuci tangan sebelum dan setelah mengolah / menyajikan makanan / minuman adalah hal yang penting. Lebih lanjut seluruh penjamah makanan juga setuju bahwa penting memperhatikan informasi label gizi dan tanggal kadaluarsa pada produk makanan. Sikap setuju penjamah makanan disebabkan karena keyakinan dan kepercayaan mereka, serta tingginya pengetahuan mereka terhadap suatu obyek tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Allport (1954) yang diacu dalam Notoatmodjo (2003) bahwa sikap terdiri dari tiga komponen pokok, yaitu kepercayaan atau keyakinan, ide dan konsep terhadap obyek.

Pada kelompok pertanyaan positif, hampir semua penjamah makanan menjawab setuju, ini terlihat dari tingginya persentase jawaban benar penjamah makanan (88,8%). Tetapi pada kelompok pertanyaan negatif masih banyak penjamah makanan yang menjawab setuju (54,5%), seperti pada pertanyaan piring/peralatan yang sudah dicuci langsung dikeringkan dengan lap, air panas tidak perlu digunakan untuk mencuci alat masak, serta penjamah makanan boleh mempunyai kuku panjang asal bersih. Menurut KEPMENKES RI no: 1098/Menkes/SK/VII/2003 tentang persyaratan hygiene sanitasi rumah makan dan restoran, untuk syarat pengeringan peralatan, alat-alat yag sudah dicuci ditiriskan pada rak-rak anti karat sampai kering sendiri dengan bantuan sinar matahari atau sinar buatan/mesin dan tidak boleh dilap dengan kain. Tidak dibolehkannya pengeringan alat dengan kain diduga karena kain bisa saja menjadi sumber mikroorganisme yang bisa berpindah pada peralatan, apalagi kalau kain yang digunakan tidak bersih/kotor.

Skor sikap pada pernyataan positif cenderung lebih baik dari pada skor sikap pada pertanyaan negatif, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 12. Hal ini

Dokumen terkait