TINJAUAN PUSTAKA
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengamatan Pertumbuhan Bawang Merah
Pengamatan pertumbuhan bawang merah dilakukan terhadap persentase daya tumbuh, jumlah anakan dan tinggi tanaman. Hasil pengamatan daya tumbuh menunjukkan rata-rata daya tumbuh sampel bawang merah mencapai 68.75% hingga 100% (Gambar 3). Hal ini berarti semua sampel bawang merah baik untuk tujuan bibit maupun konsumsi, memiliki daya tumbuh hampir sama. Sehingga keduanya berpotensi sebagai bahan perbanyakan, namun juga berpotensi sebagai media pembawa OPT bawang merah.
Gambar 3 Persentase daya tumbuh sampel umbi bawang merah yang diuji pada
hari ke 14 setelah tanam: bawang merah impor asal Filipina (F), asal Thailand (T1 dan T2), asal China (C). Bawang merah lokal varietas Biru (Bi), Jawa (J), Nganjuk (Ng), Brebes (B), dan Tuk Tuk (Bj). Nilai rataan yang ditandai dengan huruf yang sama menunjukkan tidak ada beda nyata berdasarkan analisis sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Tukey.
Berdasarkan analisis sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf nyata 95%, terlihat bahwa tidak terdapat perbedaan daya tumbuh diantara sampel bawang merah yang diuji, kecuali varietas Brebes yang nyata lebih rendah daya tumbuhnya. Hal ini menunjukkan kualitas umbi varietas Brebes kurang baik jika digunakan untuk bahan perbanyakan.
Demikian juga apabila dianalisis jumlah anakannya (Gambar 4), hanya sampel bawang merah varietas Brebes yang tumbuh dengan jumlah anakan yang nyata lebih sedikit dibandingkan dengan sampel bawang merah lainnya. Untuk varietas Tuk Tuk tidak ikut dianalisis karena ditanam dari biji. Satu biji hanya menghasilkan satu tunas dan baru akan menghasilkan anakan setelah terbentuk umbi. 96.7 86.7 100.0 100.0 100.0 83.3 96.7 73.3 100.0 0.0 50.0 100.0 F T1 T2 C Bi J Ng B Bj D ay a tum b uh (% )
Asal/ varietas bawang merah ab
a a
ab a b a
Gambar 4 Jumlah anakan maksimum sampel bawang merah yang diamati sampai hari ke 20 setelah tanam: bawang merah impor asal Filipina (F), asal Thailand (T1 dan T2), asal China (C). Bawang merah lokal varietas Biru (Bi), Jawa (J), Nganjuk (Ng), dan Brebes (B). Nilai rataan yang ditandai dengan huruf yang sama menunjukkan tidak ada beda nyata berdasarkan analisis sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Tukey.
Pertumbuhan bawang merah yang direpresentasikan dengan tinggi tanaman (Gambar 5) menunjukkan bahwa umbi bibit maupun umbi konsumsi pertumbuhannya hampir sama. Pertumbuhan umbi konsumsi (T2, C dan B) lebih lambat daripada umbi bibit (F, T1, Bi, J, Ng), namun pada akhirnya pertumbuhan optimumnya hampir sama. Pengamatan juga menunjukkan bahwa bawang merah asal biji (Bj) pertumbuhannya cenderung lebih lambat dibandingkan dengan asal umbi (F, T1, T2, C, Bi, J, Ng, B) yang rata-rata pertumbuhan optimum dicapai pada hari ke 15 setelah tanam. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap daya tumbuh, jumlah anakan dan pertumbuhan bawang merah, diketahui bahwa secara umum bawang merah (impor dan lokal) yang dilalulintaskan baik untuk tujuan bibit maupun konsumsi, mempunyai potensi agronomis yang hampir sama. Hal ini memberi jawaban atas kecenderungan petani lebih memilih menggunakan umbi sebagai bahan perbanyakan dibandingkan biji. Disamping itu pertumbuhan bawang merah asal biji lebih lambat daripada umbi, sehingga umur panennya lebih lama. Demikian juga jumlah anakan bawang merah asal biji lebih sedikit daripada jumlah anakan yang dihasilkan oleh umbi, sehingga budidaya bawang merah dengan biji dianggap kurang menguntungkan. Namun dari sisi perlindungan tanaman penggunaan umbi sebagai bahan perbanyakan membawa resiko penyebaran OPT yang lebih tinggi dari pada bahan perbanyakan berupa biji. 3.6 3.8 4.1 4.6 3.9 3.6 3.7 2.1 0.0 2.0 4.0 6.0 F T1 T2 C Bi J Ng B Jum la h a n aka n (t un as )
Asal/ varietas bawang merah
a a a
a
b
Gambar 5 Tinggi tanaman bawang merah impor (a) dan lokal (b). Bawang merah impor: asal Thailand (── T1 dan ▲ T2), asal Filipina (── F), asal China (── C). Bawang merah lokal: varietas Biru (── Bi), Jawa (── J), Nganjuk ( ▲ Ng), Brebes (── B), Tuk Tuk (── Bj).
Deteksi Virus
Untuk pemeriksaan virus, umbi bawang perlu ditumbuhkan terlebih dahulu agar konsentrasi virus yang terdapat di dalam jaringan umbi (yang umumnya dalam konsentrasi rendah) dapat meningkat sehingga deteksi melalui RT-PCR dapat berhasil. Penumbuhan sampel bawang merah dilakukan di dalam rumah kasa (Gambar 6) untuk menghindari infestasi OPT. Pada saat penumbuhan bawang merah, kondisi suhu udara dalam rumah kasa berkisar antara 26.90–37.33
o
C dengan kelembaban relatif 42.33–83.33%. 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 T in ggi t an am an ( cm ) a 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 T in ggi t an am an ( cm )
Hari setelah tanam (hari ke -)
Gambar 6 Sampel bawang merah yang telah ditumbuhkan di rumah kasa untuk pengujian virus.
Gambar 7 Gejala garis-garis pendek berwarna kuning pada daun abnormal yang diperoleh dari pertanaman bawang merah (a), gejala garis-garis kuning yang muncul pada sebagian bawang merah yang ditumbuhkan di rumah kasa (b).
Tanaman bawang merah yang tumbuh sebagian besar tidak menunjukkan adanya gejala serangan virus. Namun pada varietas Jawa beberapa daun bawang merah yang tumbuh menunjukkan gejala garis-garis mosaik berwarna kuning yang mirip dengan gejala yang ditemukan di lahan bawang merah di kabupaten Bantul (Gambar 7).
Pengujian virus pada sampel bawang merah dilakukan dengan memotong daun dari 30 umbi bawang merah yang ditumbuhkan masing-masing 1 daun per umbi. Setiap 5 daun dijadikan 1 komposit sehingga didapatkan 6 komposit. (Gambar 8). Dari masing-masing komposit daun bawang merah tersebut
selanjutnya digunakan untuk uji penularan pada tanaman indikator
C. amaranticolor dan uji molekuler menggunakan metode RT-PCR guna mendeteksi keberadaan virus pada sampel bawang merah.
Gambar 8 Penentuan 6 komposit dari 30 umbi bawang merah yang ditumbuhkan.
Penularan pada tanaman indikator
Pengamatan terhadap penularan secara mekanis pada C. amaranticolor
menunjukkan gejala lesio lokal berupa bercak-bercak berwarna kuning, terlihat jelas setelah 20 hari pada varietas Jawa dan Brebes (Gambar 9). Hal ini mengindikasikan keberadaan virus pada bawang merah varietas Jawa dan Brebes.
Gambar 9 Gejala lesio lokal pada tanaman C. amaranticolor pada hari ke 20 setelah inokulasi dengan sap daun bawang merah varietas Jawa (a), varietas Brebes (b).
Deteksi secara molekuler (RT-PCR)
Materi genetik virus pada bawang merah umumnya berupa RNA, untuk itu digunakan RT-PCR untuk melakukan deteksi terhadap virus tersebut. Hasil deteksi dengan RT-PCR menunjukkan bahwa semua sampel baik sampel bawang merah impor maupun lokal tidak terinfeksi OYDV, ShVX dan SLV (Gambar 10). SYSV hanya terdeteksi positif pada sampel bawang merah lokal varietas Jawa dan
Brebes, yang ditunjukkan oleh adanya pita DNA dengan panjang sekitar 749 bp pada sampel yang diuji (Gambar 11).
Gambar 10 Hasil PCR menggunakan primer spesifik OYDV (a), ShVX (b) dan SLV (c) terhadap sampel bibit bawang merah impor asal Filipina (F), Thailand (T1, T2), dan China (C). Bibit lokal varietas Biru (Bi), Jawa (J), Nganjuk (Ng), Brebes (B) dan Tuk Tuk (Bj). M = 100 bp DNA Ladder (Fermentas) dan N = kontrol negatif.
Gambar 11 Hasil PCR menggunakan primer spesifik SYSV terhadap komposit (1–6) sampel bibit bawang merah asal Thailand (T1, T2), Filipina (F) dan China (C). Bibit lokal varietas Jawa (J) dan Brebes (B). M = 50 bp DNA Ladder (Fermentas) dan N = kontrol negatif.
Setelah dilakukan sikuen dan analisis menggunakan program Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) pada National Center for Biotechnology Information (NCBI) dengan berdasarkan data GenBank, menunjukkan bahwa tingkat kemiripan isolat SYSV pada varietas Jawa dan Brebes dengan SYSV isolat lain (Tabel 6), berkisar 91–94%. Selanjutnya dilakukan analisis homologi (Tabel 7) dengan membandingkan isolat SYSV pada varietas Jawa dan Brebes terhadap isolat lain pada GenBank (Tabel 6).
Tabel 6 Data sikuen virus pada GenBank yang dibandingkan dengan isolat SYSV Jawa dan Brebes
Isolat virus Kode aksesi pada
GenBank Sumber
SYSV Hangzhou China (AJ311370) Chen et al. 2002*
SYSV wels onion Jepang (AB353120) Yamamoto dan Fuji 2008* SYSV SSan Korea Selatan (AB669435) Chung et al. 2011** SYSV VN/S1 Hue Vietnam (DQ925456) Ha et al. 2008* OYDV YH1 Zhejiang China (AJ292231) Chen et al. 2001* SLV WA-1 Australia (JF320811) Wylie et al. 2012* * (dipublikasikan pada jurnal); ** (tidak dipublikasikan pada jurnal)
Tabel 7 Homologi sikuen nukleotida gen protein selubung isolat SYSV pada bawang merah varietas Jawa dan Brebes dengan isolat virus pada bawang bawangan dari negara lain
No Isolat virus 1 2 3 4 5 6 7 8
1 SYSV Jawa - 100.0 94.9 93.9 94.9 91.8 72.0 37.1 2 SYSV Brebes - 94.9 93.9 94.9 91.8 72.0 37.1 3 SYSV Hangzhou China1) - 93.8 96.5 91.7 72.3 36.4 4 SYSV wels onion Jepang2) - 93.5 92.5 71.2 36.4 5 SYSV SSan Korea Selatan3) - 92.2 72.0 36.6
6 SYSV VN/S1 Hue Vietnam4) - 71.1 36.8
7 OYDV YH1 Zhejiang China5) - 35.4
8 SLV WA-1 Australia6) -
Kode aksesi pada GenBank : 1) AJ311370, 2) AB353120, 3) AB669435, 4) DQ925456, 5) AJ292231, 6)
JF320811
Berdasarkan analisis homologi terhadap sikuen nukleotida protein selubung (Tabel 7) menunjukkan bahwa homologi SYSV isolat Jawa dan Brebes adalah 100%, hal ini menunjukkan bahwa SYSV isolat Jawa dan Brebes merupakan satu strain; sedangkan homologi kedua isolat dengan SYSV isolat lain berkisar
91.8–94.9%. Hal ini menunjukkan bahwa SYSV isolat Jawa dan Brebes merupakan satu spesies dengan isolat SYSV dari China, Jepang, Korea Selatan dan Vietnam, karena untuk genus Potyvirus, nilai homologi suatu virus di atas 90% dikategorikan sebagai satu spesies. Kesimpulan ini didukung oleh kenyataan bahwa homologi sikuen nukleotidanya sangat rendah (72%) bila dibandingkan dengan spesies virus lain (misalnya OYDV) di dalam genus Potyvirus. SYSV isolat Jawa dan Brebes paling dekat dengan SYSV isolat Hangzhou China dan SSan Korea Selatan dengan nilai homologi 94.9%.
Analisis filogenetik (Gambar 12) memperlihatkan dengan jelas bahwa isolat virus yang ditemukan pada bawang lokal varietas Jawa dan Brebes merupakan spesies SYSV yang ditunjukkan dengan hubungan kekerabatan yang dekat dengan SYSV dari China, Korea selatan, Jepang dan Vietnam dan agak jauh dengan OYDV yang masih satu genus dengan SYSV yaitu genus Potyvirus. Sebagai
outgroup digunakan SLV yang juga dapat menginfeksi bawang merah namun termasuk genus Carlavirus.
Gambar 12 Pohon filogenetik SYSV pada umbi bawang merah varietas Jawa dan Brebes.
Pengamatan kejadian penyakit
Pengamatan kejadian penyakit dilakukan dengan ekstraksi RNA yang dilanjutkan dengan RT-PCR terhadap masing-masing individu sampel penyusun komposit yang terindikasi terinfeksi SYSY pada pemeriksaan sebelumnya (Gambar 11). Sebagai kontrol positif digunakan sampel bawang merah hasil RT- PCR dan sikuen sebelumya dan kontrol negatif digunakan daun bawang merah sehat asal biji.
Potyvirus
Gambar 13 Hasil amplifikasi untuk deteksi SYSV pada setiap individu (1–5) sampel bibit bawang merah lokal varietas Jawa (a) dan varietas Brebes (b) pada komposit (K.1, 2, 3, 4, 5 dan 6), M = 50 bp DNA
Ladder (Fermentas), P = kontrol positif dan N = kontrol negatif.
Gambar 14 Persentase daya tumbuh () dan persentase infeksi SYSV () pada sampel bibit bawang merah yang diimpor dari Thailand (T1, T2), Filipina (F) dan China (C), dan bibit lokal varietas Jawa (J) dan Brebes (B).
Hasil amplifikasi (Gambar 13) menunjukkan bahwa pada bawang merah varietas Jawa, dari 30 umbi yang ditanam 18 umbi menunjukkan positif SYSV, sehingga kejadian infeksi SYSV pada varietas Jawa adalah 60%; sementara pada varietas Brebes dari 30 umbi yang ditanam 16 umbi menunjukkan positif SYSV, sehingga kejadian infeksi SYSV pada varietas Brebes adalah 53.3%.
Apabila persentase kejadian SYSV pada bawang merah disandingkan dengan persentase daya tumbuh umbi (Gambar 14), terlihat bahwa dengan adanya infeksi SYSV pada umbi bawang tidak menunjukkan adanya pengaruh nyata terhadap daya tumbuh umbi bawang merah. Kondisi ini sesuai dengan penelitian
0.0 0.0 0.0 0.0 60.0 53.3 96.7 86.7 100.0 100.0 83.3 73.3 0.0 50.0 100.0 F T1 T2 C J B D ay a tum b uh / in fe ks i S Y S V ( % )
Sampel umbi bawang merah
a
Diekmann (1997) yang menyatakan bahwa umbi yang terserang masih mempunyai daya tumbuh yang baik dan masih dapat berproduksi.
Kerugian ekonomi akibat virus ini belum pernah dilaporkan. Selain itu umbi yang terserang masih mempunyai daya tumbuh yang baik dan masih dapat berproduksi, sehingga penyebarannya melalui umbi sebagai bahan perbanyakan menjadi terabaikan. Hal ini menyebabkan tingginya potensi penyebaran SYSV melalui umbi bawang merah yang dilalulintaskan, sehingga dapat mengancam pertanian bawang merah jika pada suatu saat keberadaan virus ini menjadi dianggap penting di Indonesia.
Identifikasi Tungau
Tungau sering terbawa pada umbi bawang merah dan menimbulkan kerusakan umbi dalam penyimpanan serta berpotensi sebagai hama di lapangan. Pemeriksaan tungau dilakukan dengan cara memisahkan tungau dari bawang merah dengan metode ekstraksi Berlese-Tullgren yang dimodifikasi, dilanjutkan dengan pembuatan preparat dan identifikasi morfologi tungau.
Jenis-jenis tungau yang ditemukan
Ekstraksi dengan metode corong Berlese-Tullgren yang dimodifikasi memanfaatan aktifitas tungau untuk memisahkan tungau dari sampel bawang merah. Tungau hidup akan cenderung menjauhi sinar lampu dan bergerak ke bawah corong, sehingga jatuh dan tertampung pada gelas di bawah corong. Selama proses ekstraksi yang berlangsung selama 6 hari, suhu dalam kotak ekstraksi 34.17–38.73 oC dengan kelembaban relatif 36.33–61%.
Berdasarkan identifikasi secara morfologi didapatkan sebanyak 12 genus dari 11 famili tungau yang terbawa pada sampel umbi bawang merah impor dan lokal, yang berdasarkan sifat hidupnya dapat digolongkan menjadi 4, yaitu tungau pemakan tumbuhan (fitofag), pemakan sisa tumbuhan atau pengurai (saprofag), pemakan cendawan (mikofag) dan pemakan tungau atau arthropoda yang lain (predator) (Tabel 8).
Bdella sp. dan Hystiostoma sp. merupakan tungau yang hanya ditemukan pada sampel bawang merah impor. Cunaxa sp. dan Polyphagotarsonemus sp.
merupakan tungau yang hanya ditemukan pada sampel bawang merah lokal. Menurut Hughes (1961) Bdella sp. merupakan tungau predator, sedangkan
Hystiostoma sp. merupakan tungau fitofag pada komoditas pertanian. Tungau ini seringkali bercampur pada koloni Rhyzoglyphus sp. dan Caloglyphus sp. Cunaxa
sp. merupakan tungau predator yang kosmopolit sedangkan Polyphagotarsonemus
sp. merupakan tungau fitofag, namun juga dapat bersifat polifag jika tidak menemukan inangnya.
Tabel 8 Jenis tungau yang diperoleh dari ekstraksiumbibawang merahimpor dan lokal dengan metodeBerlese-Tullgren yang dimodifikasi
No Tungau
Bawang merah
Impor Lokal
Famili Spesies T1 F T2 C J Bi Ng B
Fitofag
1 Acaridae Caloglyphus berlesei + + + + + + + + 2 Anoetidae Hystiostoma sp. + - - - - - - - 3 Tarsonemidae Polyphagotarsonemus sp. - - - - + + + - Saprofag 4 Ameroseiidae Klemania sp. - + + + + + + - 5 Uropodidae Trematura sp. + - - - - - + - Mikofag 6 Aceosejidae Proctolaelaps sp. + - + + + + + + 7 Uropodidae Leiodynichus sp. + + + + - + + + Predator 8 Bdellidae Bdella sp. + + - - - - - - 9 Cheyletidae Cheyletus mallacensis + + + + + + + + 10 Cunaxidae Cunaxa sp. - - - - - + - - 11 Phytoseiidae Typhlodromus sp. - + + + - - + - 12 Tydeidae Tydeus sp. - - + - + - + + T1 (Thailand 1); F (Filipina); T2 (Thailand 2); C (China); J (Jawa); Bi (Biru); Ng (Nganjuk); B (Brebes); + (ada); - (tidak ada)
Beberapa tungau kosmopolit yang ditemukan pada sampel bawang merah antara lain Klemania sp. dan Trematura sp. (tungau saprofag), Proctolaelaps sp. dan Leiodynichus sp. (tungau mikofag), serta Cheyletus mallacensis, Typhlodromus sp. dan Tydeus sp. (tungau predator). Tungau-tungau tersebut seringkali ditemukan berasosiasi dengan Caloglyphus sp. (Hughes 1961).
C. berlesei dan C. mallacensis merupakan tungau yang dapat ditemukan pada seluruh sampel bawang merah baik impor maupun lokal. Proctolaelaps sp. ditemukan pada 3 dari 4 jenis sampel bawang merah impor dan pada seluruh
sampel bawang merah lokal. Leiodynichus sp. ditemukan pada seluruh sampel bawang merah impor dan 3 dari 4 jenis sampel bawang merah lokal. Klemania
sp. ditemukan pada 3 dari 4 jenis sampel bawang merah impor dan lokal.
Typhlodromus sp. ditemukan pada 3 dari 4 jenis sampel bawang merah impor dan 1 dari 4 jenis sampel bawang merah lokal sedangkan Tydeus sp. ditemukan pada 1 dari 4 jenis sampel bawang merah impor dan 3 dari 4 jenis sampel bawang merah lokal. Trematura sp. ditemukan pada 1 dari 4 jenis sampel bawang merah impor dan lokal.
Caloglyphus berlesei (Tungau Fitofag)
C. berlesei mempunyai tubuh gemuk membulat, kutikula halus dan mengkilap dengan panjang idiosoma 0.6–0.9 mm (Gambar 15). Bagian posterior tungau betina cenderung membulat sedangkan pada tungau jantan cenderung menyempit dan tidak menonjol. Permukaan idiosoma bagian ventral tanpa penebalan yang tegas dan bagian dorsal terdapat garis melintang yang memisahkan propodosoma dan hysterosoma. Bagian dorsal propodosoma
terdapat dua pasang seta panjang dan sepasang seta pendek. Chelicerae berbentuk capit. Tarsus I dan II terdapat seta yang ujungnya berbentuk daun. Pada pangkal ruas dorsal tarsus I, terdapat seta yang tumbuh sejajar tarsus. Cakar pretarsus
menempel pada sepasang sklerit yang terbungkus pretarsus. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Caloglyphus berlesei dapat ditemukan pada semua sampel umbi bawang merah impor maupun lokal.
Pangkal pedipalpus tidak memipih Supracoxal seta seperti rambut, panjangnya lebih dari setengah seta dorsal (d) 1; pada tungau betina d4 lebih pendek daripada d3 dan mempunyai ujung yang pectinate; seta post anal (pa) 2 pada tungau jantan panjangnya 3–5 kali pa1. Tungau ini sudah tersebar luas (kosmopolit) dan distribusinya pernah dilaporkan di Italia, Jerman, Inggris, Australia dan Rusia. Tungau ini dapat menimbulkan kerusakan sekunder pada umbi bawang merah yang disimpan. Kerusakan akan semakin parah apabila kondisi tempat penyimpanan lembab dan aerasi udaranya kurang (Hughes 1961; Zhang et al. 1997).
Gambar 15 Morfologi C. berlesei yang ditemukan pada umbi bawang merah (a– g) dibandingkan dengan kunci identifikasi Hughes (1961) (h–k). tungau betina (a), tungau jantan (b), jantan heteromorfik (c), hypopus (d), cakar pada pretarsus (e), seta berbentuk daun pada
pretarsus (f), ujung seta d4 bergerigi (g), ilustrasi tungau betina (h), cakar pada pretarsus (i), seta berbentuk daun pada pretarsus tungkai I pada pemampang dorsal (j) dan penampang ventral (k).
h i j k
a b
c d
Hystiostoma sp.(Tungau Fitofag)
Hystiostoma sp. mempunyai tubuh berwarna keputih-putihan, dengan panjang idiosoma 0.4–0.7 mm (Gambar 16). Tiap pangkal palpus terdapat sepasang duri, satu mengarah ke samping dan yang lain mengarah ke belakang.
Idiosoma terdapat garis melintang yang memisahkan propodosoma dan
hysterosoma. Ujung posterior idiosoma sedikit melesak ke dalam. Bagian ventral terdapat penebalan berbentuk cincin berjumlah dua pasang. Satu pasang terletak antara koksa II dan III, satu pasang yang lain letaknya lebih berdekatan dan sejajar koksa IV. Propodosoma berbentuk segitiga, apodema tungkai I dan III bertemu pada garis tengah tubuh. Dua pasang tungkai belakang mengarah ke depan.
Gambar 16 Morfologi Hystiostoma sp. yang ditemukan pada umbi bawang merah (a–b) dibandingkan dengan kunci identifikasi Hughes (1961) (c–d). Tungau betina dewasa (a), hypopus (b), ilustrasi bagian dorsal (c) dan bagian ventral (d).
a b
Chelicera memiliki organ memanjang dengan ujung bergerigi (serate) dan dapat digerakkan ke depan dan ke belakang di dalam rongga mulut. Penebalan berbentuk cincin berjumlah dua pasang pada ventral merupakan organ osmoregulator. Pra dewasa khusus (hypopus) bertubuh pipih dengan kutikula tersklerotisasi, Bagian ventral terdapat piringan pelekat tersusun atas 8 pelekat berbentuk bulat yang pada pola 2-4-2. Pada suhu 25–30 oC, siklus hidup berlangsung 3–3.5 hari. Hystiostoma sp. dapat berkembang biak melalui kawin dan partenogenesis, yaitu satu betina dapat menghasilkan tungau jantan dan betina. Tungau ini kosmopolit dan banyak ditemukan pada sayuran yang membusuk (Hughes 1961).
Polyphagotarsonemus sp. (Tungau Fitofag)
Polyphagotarsonemus sp. mempunyai tubuh berbentuk oval, panjang
idiosoma kurang dari 0.25 mm (Gambar 17). Tubuh berwarna kuning, permukaan mengkilap dengan batas yang jelas antara propodosoma dan hysterosoma.
Propodosoma berbentuk segitiga sedangkan hysterosoma terbagi menjadi tiga ruas melintang yang terlihat dari sisi dorsal. Tungkai ramping, tungkai I dan II mengarah ke anterior dan tungkai III dan IV mengarah ke posterior. Trokanter tungkai II lebih panjang dari pada yang lain dan tungkai ke IV mengecil. Pada ujung tarsus I terdapat satu cakar, sedangkan pada ujung tarsus II dan III terdapat 2 cakar. Pada tarsus IV cakar berupa sepasang seta yang panjangnya tidak sama.
Gnatosoma menggantung pada bagian anterior, palpus relatif kecil dan terbagi menjadi 3 ruas, chelicera berbentuk stylet, apodema koksa I bertemu pada garis tengah tubuh (Hughes 1961; Zhang et al. 1997).
Gambar 17 Morfologi Polyphagotarsonemus sp. yang ditemukan pada umbi bawang merah (a) dibandingkan dengan kunci identifikasi Hughes (1961) (b–c). Tungau betina dewasa (a), ilustrasi bagian dorsal (b) dan bagian ventral (c).
Klemania sp. (Tungau Saprofag)
Klemania sp. mempunyai tubuh berwarna kecoklatan, dengan panjang
idiosoma 0.44 mm (Gambar 18). Bagian dorsal mengalami penebalan dan ditumbuhi seta berbentuk seperti daun (plumose). Seluruh seta dorsal berjumlah lebih dari 23 pasang (28–29 pasang), dengan seta dorsal yang tumbuh berurutan berjumlah kurang dari 8 pasang. Barisan seta pada tepi penebalan dorsal bagian posterior berjumlah 19 pasang atau lebih.
Palptarsus dengan semacam seta khusus (prongs) yang bercabang dua. Ujung kornikuli menggarpu. Tungau betina mempunyai dua pasang seta pada penebalan sterna dan terdapat penebalan pada daerah anal dan ventri-anal. Penebalan pada daerah genital lebih mendatar atau sedikit cembung pada bagian posteriornya. Bagian permukaan ventral tungau jantan hampir tertutup penebalan
b c
sterni-genital dan ventri-anal. Tungau ini pernah dilaporkan terdapat di Irlandia (Hughes 1961).
Gambar 18 Morfologi Klemania sp. yang ditemukan pada umbi bawang merah (a–d) dibandingkan dengan kunci identifikasi Hughes (1961) (e–f). Tungau dewasa (a), susunan seta dorsal (b), bentuk seta dorsal (c), penebalan sternal (d), ilustrasi susunan seta dorsal (e) dan penebalan sterna (f).
a b
c d
Bdella sp. (Tungau Predator)
Bdella sp. mempunyai tubuh berwarna merah atau gelap. Panjang tubuh dari ujung gnatosoma sampai posterior 1,12 mm (Gambar 19). Kutikula halus dan hampir tanpa penebalan. Propodosoma berbentuk segitiga dengan bagian anterior meruncing. Hysterosoma memanjang dan dilengkapi sejumlah seta.
Gnatosoma memanjang dan membentuk moncong meruncing, ramping dan panjangnya sekitar ¼ panjang idiosoma. Dari arah dorsal, ujung chelicera
menyerupai gunting, dan pada sisi luar masing-masing chelicera terdapat dua pasang seta. Tungkai tersusun atas 6 ruas dan terdapat sejumlah seta. Tarsus panjang dan terdapat sepasang cakar pada ujung pretarsus.
Gambar 19 Morfologi Bdella sp. yang ditemukan pada umbi bawang merah (a– b) dibandingkan dengan kunci identifikasi Hughes (1961) (c–g). Tungau dewasa (a), gnatosoma (b), ilustrasi bagian dorsal (c), bagian ventral (d), palpus (e), ujung palpus (f), chelicera (g).
a b
Warna tubuh tungau ini dipengaruhi oleh pigmentasi tubuh dan warna organ dalam. Palpus terdiri atas 5 ruas, pada bagian ujung terdapat 2 seta panjang yang merupakan organ sensor dan disebut sebagai trichobothria seta ini juga terdapat pada tungkai-tungkai tungau ini. Bdella sp. merupakan tungau predator yang daerah sebarnya pernah dilaporkan di Irlandia, Inggris dan Italia (Hughes 1961; Zhang et al. 1997).
Cheyletus mallacensis (Tungau Predator)
Cheyletus mallacensis mempunyai tubuh bening sampai berwarna merah (Gambar 20). Panjang tubuh (idiosoma) 0.45–0.62 mm. Gnatosoma relatif besar dengan bagian anterior memanjang membentuk moncong, bagian pangkal melebar dan merupakan gabungan koksa pedipalpus dengan tergit gnatosoma. Palptarsus
mempunyai 4 seta, 2 seta diantaranya menyerupai sisir. Sisir bagian dalam mempunyai 24–30 gigi, sedangkan sisir bagian luar mempunyai 18 gigi. Dua seta yang lain lebih halus dan menyerupai rambut. Cakar tibia memiliki pangkal yang menggembung dengan bentuk tidak beraturan.
Propodosoma dan hysterosoma terdapat bagian yang mengalami penebalan.
Peritreme pada gnatosoma berbentuk huruf ‘M’. Tungau ini merupakan predator yang sudah dilaporkan tersebar di Inggris, Portugal, Iran, Turki dan Rusia (Hughes 1961; Zhang et al. 1997).
Gambar 20 Morfologi Cheyletus mallacensis yang ditemukan pada umbi bawang merah (a–b) dibandingkan dengan kunci identifikasi Hughes (1961) (c–e). Tungau dewasa (a), gnatosoma (b), ilustrasi tungau dewasa (c), gnatosoma (d), tungkai pertama (e).
Cunaxa sp. (Tungau Predator)
Cunaxa sp. mempunyai tubuh berwarna merah atau berwarna terang, panjang idiosoma sekitar 0.5 mm (Gambar 21). Antara propodosoma dan
hysterosoma terdapat garis melintang. Propodosoma berbentuk segitiga.
Gnatosoma memanjang berbentuk moncong yang meruncing. Bentuk chelicera
seperti kait. Palpus tersusun atas 4 ruas dan panjangnya melebihi ujung
chelicerae, permukaan palpus bagian dalam terdapat apofisis yang berbentuk duri.
Chelicera yang berbentuk kait digunakan untuk memegang mangsa. Sisi dorsal propodosoma terdapat 2 pasang seta panjang dan disebut sebagai
trichobotria yang berfungsi sebagai organ sensor. Tungau ini merupakan tungau
a b
predator yang kosmopolit dan seringkali ditemukan pada daun kering, di bawah kulit kayu, tepung barley dan lumut (Hughes 1961; Zhang et al. 1997).