Alat pengupas pinang tua
Pada penelitian ini digunakan alat pengupas pinang tua dengan menggunakan beban bahan yang berbeda yaitu sebanyak 5 kg, 10 kg dan 15 kg.
Sebelum pinang dikupas, terlebih dahulu dilakukan penjemuran bahan di bawah sinar matahari selama 2 minggu. Pengoperasian alat ini dilakukan dengan cara mengengkol mesin motor.
Proses pengupasan biji pinang tua dilakukan dengan memasukkan biji pinang ke dalam tabung pembanting melalui saluran pemasukan (hopper). Saat proses pengupasan, biji akan dibanting dengan menggunakan jaringan pembanting sehingga biji akan terkupas secara perlahan. Biji pinang yang terkupas akan keluar melalui saluran pengeluaran, sedangkan sabut pinang hasil bantingan dikeluarkan paksa dengan blower ke saluran keluaran sabut.
Kadar air pinang yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kadar Air Pinang Tua
Sampel Berat awal (kg) Berat akhir (kg) Kadar air (%)
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh data hasil pengaruh beban kerja terhadap alat pengupas pinang tua terhadap parameter pengujian yang dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Data pengaruh berat beban yang berbeda
Kapasitas alat menunjukkan produktifitas alat selama pengoperasian tiap satuan waktu. Kapasitas efektif alat pengupas pinang tua dapat diperoleh dengan melakukan pengupasan pada biji pinang tua sebanyak tiga kali ulangan untuk setiap beban yang digunakan, kemudian dihitung kapasitas alat rata-rata. Dalam hal ini kapasitas alat diperoleh dengan membandingkan jumlah bahan yang digunakan (kg) dengan waktu yang dibutuhkan selama proses pengupasan (jam).
Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa beban berpengaruh tidak nyata terhadap kapasitas alat sehingga uji lanjutan dengan duncan multiple range test (DMRT) tidak perlu dilakukan. Nilai kapasitas alat yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Kapasitas alat dari berat beban yang berbeda
Perlakuan Kapasitas Alat (kg/Jam)
B1 153,65 alat yang tertinggi yaitu pada perlakuan B3 sebesar 161,91 kg/Jam.
24
Persentase Pinang Terkupas Tidak Sempurna
Pada penelitian yang dilakukan persentase pinang terkupas tidak sempurna diperoleh dengan membandingkan berat hasil bahan yang terkupas tidak sempurna terhadap berat awal bahan yang akan dikupas dalam satuan persen (%). Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa beban berpengaruh tidak nyata sehingga uji lanjutan dengan duncan multiple range test (DMRT) tidak perlu dilakukan. Besarnya nilai presentase pinang terkupas tidak sempurna dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Persentase pinang terkupas tidak sempurna dari berat beban yang berbeda Perlakuan Persentase pinang terkupas tidak
sempurna (%)
Dari Tabel 4 menunjukkan bahwa persentase pinang terkupas tidak sempurna dari berat beban yang berbeda terendah yaitu pada perlakuan B1 sebesar 11,40% dan persentase pinang terkupas tidak sempurna yang tertinggi yaitu pada perlakuan B3 sebesar 14,33%.
Tabel 4 menunjukkan juga bahwa berat beban yang berbeda tidak akan memberikan pengaruh terhadap persentase pinang terkupas tidak sempurna. Hasil tersebut diperoleh dari pengamatan persentase pinang terkupas tidak sempurna pada alat yang dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan dengan rata-rata berat awal bahan sebesar 5 kg. Hal ini disebabkan karena kurang maksimalnya pengeringan yang dilakukan terhadap bahan sehingga perlu dilakukan pengeringan yang lebih lama untuk mempermudah pengupasan pinang. Selain itu hal ini juga disebabkan
karena adanya beberapa bahan yang sudah rusak (busuk) sehingga dibutuhkan pemilihan bahan yang lebih baik agar dihasilkan hasil kupasan yang sempurna.
Hal ini sesuai dengan litertatur (Lakitan, 1995) yang menyatakan bahwa Pinang memiliki kandungan air 75 – 80% pada saat panen . Secara tradisional, panen segar direbus, disaring dan diiris menjadi lima atau enam potong dan dikeringkan dengan pengeringan matahari terbuka selama 10 hingga 15 hari untuk mengurangi kelembaban hingga 40%.
Rendemen Pinang
Rendemen pinang merupakan perbandingan antara berat pinang yang dihasilkan (terkupas) dengan banyaknya bahan baku yang digunakan dalam proses penelitian ini yang dinyatakan dalam persen (%). Hasil dikatakan terkupas sempurna apabila tidak ada lagi sabut pinang yang melekat pada biji pinang tersebut dan biji yang keluar dari saluran keluaran tidak pecah, sedangkan hasil dikatakan terkupas tidak sempurna apabila sabut masih melekat pada biji dan biji yang keluar dari saluran keluaran pecah.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa beban bahan yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap rendemen pinang sehingga uji lanjutan dengan duncan multiple range test (DMRT) tidak perlu dilakukan. Besarnya nilai rendemen pinang dapat dilihat pada Tabel 5.
26
Tabel 5. Rendemen pinang dari berat beban yang berbeda
Perlakuan Rendemen pinang (%)
B1 88,60
B2 87,83
B3 85,67
Rata-Rata 87,37
Keterangan : B1 : 5 kg, B2 : 10 kg, B3 : 15 kg
Dari Tabel 5 menunjukkan bahwa rendemen pinang dari berat beban yang berbeda terendah yaitu pada perlakuan B3 sebesar 85,67% dan rendemen pinang yang tertinggi yaitu pada perlakuan B1 sebesar 88,60%.
Analisis Ekonomi Biaya pemakaian alat
Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini. Dengan analisi ekonomi dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat diperhitungkan.
Dari penelitian yang dilakukan (Lampiran 6) untuk setiap produksi 5 kg, diperoleh biaya untuk mengupas pinang tua berbeda tiap tahun. Hal ini disebabkan perbedaan nilai biaya penyusutan tiap tahun sehingga mengakibatkan biaya tetap alat tiap tahun berbeda Rp. 192,453/kg untuk tahun pertama, Rp. 192,778/kg untuk tahun kedua, Rp. 193,137/kg untuk tahun ketiga, Rp. 193,502/kg untuk tahun keempat, Rp. 198,667/kg untuk tahun kelima yang
merupakan hasil perhitungan dari penjumlahan biaya tetap dan biaya tidak tetap terhadap kapasitas jam kerja alat pengupas pinang tua.
Dari penelitian yang dilakukan (Lampiran 7) untuk produksi 10 kg, diperoleh biaya untuk mengupas pinang tua berbeda tiap tahun. Hal ini disebabkan perbedaan nilai biaya penyusutan tiap tahun sehingga mengakibatkan
biaya tetap alat tiap tahun berbeda Rp.186,630/kg untuk tahun pertama, Rp.186,955/kg untuk tahun kedua, Rp.187,294/kg untuk tahun ketiga, Rp. 187,647/kg untuk tahun keempat, Rp. 192,840/kg untuk tahun kelima yang
merupakan hasil perhitungan dari penjumlahan biaya tetap dan biaya tidak tetap terhadap kapasitas jam kerja alat pengupas pinang tua.
Dan dari penelitian yang dilakukan (Lampiran 8) untuk produksi 15 kg, diperoleh biaya untuk mengupas pinang tua berbeda tiap tahun. Hal ini disebabkan perbedaan nilai biaya penyusutan tiap tahun sehingga mengakibatkan
biaya tetap alat tiap tahun berbeda Rp.182,551/kg untuk tahun pertama, Rp.182,869/kg untuk tahun kedua, Rp.183,200/kg untuk tahun ketiga,
Rp.183,546/kg untuk tahun keempat, Rp. 188,625/kg untuk tahun kelima yang merupakan hasil perhitungan dari penjumlahan biaya tetap dan biaya tidak tetap terhadap kapasitas jam kerja alat pengupas pinang tua.
Dari pengamatan dilapangan, apabila pengupasan dilakukan secara manual biaya yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 1.500/kg hasil untuk setiap pekerjanya.
Sehingga dapat disimpulkan alat ini penting bagi petani pinang untuk mengurangi biaya pengupasan.
Menurut waldiyono (2008) manfaat perhitungan break even point adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar
28
usaha yang dikelola masih layak dijalankan. Pada kondisi ini income yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa adanya keuntungan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan (Lampiran 9) untuk produksi 5 kg, titik impas pada tahun pertama terjadi setelah mengupas 313,094 kg, 325,345 kg pada tahun kedua, 338,115 kg pada tahun ketiga, 351,447 kg pada tahun keempat dan pada tahun kelima harus mengupas 547,163 kg pinang tua. Peningkatan break even point setiap tahunnya dipengaruhi oelh biaya penyusutan yang meningkat setiap tahun.
Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan (Lampiran 10) untuk produksi 10 kg, titik impas pada tahun pertama terjadi setelah mengupas 312,916 kg, 325,160 kg pada tahun kedua, 337,923 kg pada tahun ketiga, 351,248 kg pada tahun keempat dan pada tahun kelima harus mengupas 546,852 kg pinang tua. Peningkatan break even point setiap tahunnya dipengaruhi oelh biaya penyusutan yang meningkat setiap tahun.
Dan berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan (Lampiran 11) untuk produksi 15 kg, titik impas pada tahun pertama terjadi setelah mengupas 312,792 kg, 325,032 kg pada tahun kedua, 337,789 kg pada tahun ketiga, 351,109 kg pada tahun keempat dan pada tahun kelima harus mengupas 546,636 kg pinang tua. Peningkatan break even point setiap tahunnya dipengaruhi oelh biaya penyusutan yang meningkat setiap tahun.
Net Present Value
Net present value(NPV) adalah kreteria yang digunakan untuk mengukur suatu alat layak atau tidak untuk diusahakan. Dari percobaan yang telah dilakukan
dan data yang telah diperoleh (Lampiran 12) pada penelitian dapat diketahui besarnya NPV dengan suku bunga 4,25% pada produksi 5 kg adalah Rp.
15.562.805.983,4, pada produksi 10 kg adalah Rp. 16.059.433.613,4 dan pada produksi 15 kg adalah Rp. 16.423.796.563,4. Suku bunga bank coba-coba 6%
pada produksi 5 kg adalah Rp. 14.833.410.831,9, pada produksi 10 kg adalah Rp.15.306.581.021,9 dan pada 15 kg adalah Rp.15.653.775.971,9. Hal ini berarti usaha ini layak untuk dijalankan karena nilainya lebih dari nol. Hal ini sesuai dengan pernyataan giatman (2006), yang menyatakan bahwa kriteria NPV> 0, berarti investasi akan menguntungkan.
Internal Rate of Return
Menurut Giatman (2006), yang menyatakan bahwa dengan menggunakan metode IRR akan menjelaskan seberapa kemampuan cash flowdalam mengembalikan modalnya dan seberapa besar pula kewajiban yang hartus dipenuhi. Hasil yang didapat dari perhitungan IRR adalah sebesar 43,03%
(Lampiran 13). Usaha ini layak dijalankan apabila bungan pinjaman bakn tidak melebihi 46,052%, jika bunga pinjaman dibank melebihi angka tersebut maka usaha ini tidak layak lagi diusahakan. Semakin tinggi bunga pinjaman dibakn maka keuntungan yang diperoleh dari usaha ini semakin kecil.
30