SKRIPSI
OLEH : BOBY WIRANATA
120308082
PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
2
UJI BEBAN KERJA ALAT PENGUPAS PINANG TUA
SKRIPSI
OLEH : BOBY WIRANATA
120308082/KETEKNIKAN PERTANIAN
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk dapat melaksanakan penelitian di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
Disetujui oleh, Komisi Pembimbing
(Ir. Saipul Bahri Daulay , M.Si) (Riswanti Sigalingging, STP, M.Sc, Ph. D)
Ketua Anggota
PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
Program Studi : Keteknikan Pertanian
Disetujui oleh : Komisi Pembimbing
Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si Riswanti Sigalingging, STP, M.Sc, Ph. D Ketua Anggota
Mengetahui,
Dr. Taufik Rizaldi, STP, MP
Ketua Program Studi Keteknikan Pertanian
Tanggal Lulus : 30 September 2019
Panitia Penguji Skripsi Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si
Riswanti Sigalingging, STP, M.Sc, Ph.d Dr. Taufik Rizaldi, STP, MP
Raju, STP, M.Si
Sulastri Panggabean, STP, M.Si
ABSTRAK
BOBY WIRANATA : Uji Beban Kerja Alat pengupas Pinang Tua, dibimbing oleh SAIPUL BAHRI DAULAY dan RISWANTI SIGALINGGING.
Di Indonesia pengolahan pinang masih tergolong sederhana. Teknologi memiliki peranan yang sangat menentukan agar penanganan pasca panen dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beban kerja optimal pada alat pengupas pinang tua. Pinang sebagai bahan dan pengupas pinang tua sebagai alatnya. Uji beban dilakukan dengan 3 taraf perlakuan yaitu B1 = 5 kg, B2 = 10 kg dan B3 = 15 kg. Parameter yang digunakan adalah kapasitas alat, rendemen bahan, persentase pinang terkupas tidak sempurna dan analisis ekonomi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji beban yang dilakukan berpengaruh tidak nyata terhadap kapasitas alat, persentase pinang terkupas tidak sempurna dan rendemen pinang. Persentase pinang terkupas tidak sempurna rata- rata terendah pada beban 5 kg sebesar 11,40%. Rendemen pinang tertinggi yaitu pada beban 5 kg sebesar 88,60% dan kerja alat pengupas pinang tua yang paling efektif digunakan pada berat beban kerja sebesar 5 kg dengan kapasitas alat sebesar 153,65 kg/jam dan kapasitas alat tertinggi yaitu pada beban 15 kg sebesar 161,91 kg/jam dan biaya pemakaian alat terendah pada beban 15 kg sebesar Rp. 182,551/kg tahun.
Kata kunci : Alat pengupas pinang tua, pinang tua, uji beban.
ABSTRACT
BOBY WIRANATA : Test Of the Efefect Of Workload On Areca Nut Peeler, supervissed by SAIPUL BAHRI DAULAY and RISWANTI SIGALINGGING.
In Indonesia, areca nut processing is still relatively simple. Technology has a very decisive role so that post-harvest handling can improve the economic level of the community. Areca nut as a material and an old areca nut peeler as an equitment. The load test was carried out with 3 treatment levels, namely B1 = 5 kg, B2 = 10 kg and B3 = 15 kg. The observed parameters in this research were effective capacity of equipment, yield, in peeled percentage and the economic value of areca nut peeler.
The results showed that the load test carried out had no significant effect on the capacity of the tool, the percentage of imperfectly peeled areca nuts and the yield of areca nuts. The lowest average at 5 kg is 11.40 %. The highest areca nut yield at 5 kg load of 88.60 % and work of areca nut peeler that was most effective was used at 5 kg load with capacity of equipment is 153.65 kg/hour and the highest capacity of equipment is used at 15 kg of 161.91 kg/hour and the lowest cost of equipment use was at 15 kg is Rp. 182.551/kg year.
Keyword : areca nut peeler, ripe areca nut, test of the effect of workload.
ii
RIWAYAT HIDUP
Boby Wiranata, dilahirkan di Binjai pada tanggal 20 Oktober 1994 dari Ayahanda Niswan, dan Ibunda Puji Ramadhani. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara.
Pendidikan formal yang ditempuh adalah SD Negeri 020 Tandun lulus pada tahun 2006, SMP Negeri 1 Bangkinang lulus pada tahun 2009 dan tahun 2012 penulis lulus dari SMA Negeri 2 Bangkinang dan pada tahun yang sama lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru jalur UMB Mandiri pada program studi Keteknikan Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif dalam keanggotaan Ikatan Mahasiswa Keteknikan Pertanian (IMATETA) periode pengurusan tahun 2015/2016.
Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di PTP Nusantara III PKS Kebun Rambutan Tebing Tinggi dari Januari sampai Februari 2016.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian dengan judul “Uji Beban Kerja Alat Pengupas Pinang Tua” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat melaksanakan penelitian di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si selaku ketua komisi pembimbing serta Ibu
Riswanti Sigalingging, STP, M. Sc, Ph. D selaku anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan memberikan berbagai masukan, saran, dan kritik berharga kepada penulis sehingga usulan penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penulisan usulan penelitianini. Untuk kesempurnaan usulan penelitian ini, maka penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun.
Semoga usulan penelitian ini dapat berguna bagi kita dan pihak-pihak lain yang membutuhkannya, Terima kasih.
Medan, September 2019
Penulis
iv
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK………....i
RIWAYAT HIDUP………...ii
KATA PENGANTAR ... iiiii
DAFTAR ISI………...…………....iv
DAFTAR TABEL ... v
PENDAHULUAN... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 3
Batasan Penelitian ... 4
Kegunaan Penelitian ... 3
Hipotesa...4
TINJAUAN PUSTAKA... 5
Sejarah Pinang ... 5
Botani Pinang ... 6
Bagian-bagian Tanaman Pinang dan Kegunaannya ... 6
Kondisi Pinang di Indonesia ... 8
Peranan Mekanisasi Pertanian ... 10
Kapasitas Kerja Alat ... 10
Rendemen ... 11
Analisis Ekonomi ... 11
Biaya Pemakaian Alat ... 12
Break Even Point (BEP) ... 13
Net Present Value (NPV) ... 14
Internal Rate of Return(IRR) ... 15
BAHAN DAN METODE ... Error! Bookmark not defined. Waktu dan Tempat Penelitian ... 16
Bahan dan Alat Penelitian ... 16
Metode Penelitian ... 16
Model Rancangan Penelitian ... 17
Prosedur Penelitian ... 17
Persiapan Bahan ... 17
Pengujian Alat ... 18
Parameter yang Diamati ... 18
Kapasitas Alat ... 18
Rendemen Bahan (%)... 18
Persentase pinang terkupas tidak sempurna (%) ... 19
Analisis Ekonomi ... ..19
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 22
Alat pengupas pinang tua ... 22
Kapasitas Alat ... 23
Persentase Pinang terkupas Tidak Sempurna ... 24
Rendemen Pinang ... 25
Analisis Ekonomi ... 26
KESIMPULAN DAN SARAN ... 30
Kesimpulan ... 30
Saran ... 30
DAFTAR PUSTAKA ... 33
vii
DAFTAR TABEL
No. Hal.
1. Kadar Air Pinang Tua ... 22
2. Data pengaruh berat beban yang berbeda ... 23
3. Kapasitas alat dari berat beban yang berbeda ... 23
4. Persentase pinang terkupas tidak sempurna dari berat beban yang berbeda ... 24
5. Rendemen pinang dari berat beban yang berbeda... 26
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pinang (Areca catechu) merupakan tanaman yang sekeluarga dengan kelapa. Salah satu jenis tumbuhan monokotil ini tergolong palem-paleman. Pinang termasuk jenis tanaman yang cukup dikenal luas di masyarakat karena secara alami penyebarannya pun cukup luas di berbagai daerah. Melihat asalnya, pinang memang asli dari kawasan Asia Tenggara, yaitu Filipina, Semenanjung Malaka, dan Kepulauan Hindia Timur. Sekitar 24 jenis pinang dapat dijumpai di Malaysia, Kalimantan, dan Sulawesi (Ferry,1992).
Tanaman pinang (Areca catechu L) telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sejak dulu, khususnya buahnya yang digunakan untuk campuran makan sirih, air rebusannya juga digunakan sebagai obat kumur yang diyakini berkhasiat untuk menguatkan gigi. Biji pinang (Areca catechu L) sebagai salah satu obat tradisional, di Jawa digunakan sebagai obat luka dan di Jambi sebagai obat kudis (Miftahorrachman dkk,2015).
Pinang memiliki sifat fisik yang berbeda-beda, adapun bentuk yang dimiliki oleh pinang adalah lonjong dan oval. Pinang sendiri memiliki bagian- bagian seperti daun, pelepah, batang, sabut dan bagian intinya yaitu biji yang didapat dibagian paling dalam dari buah pinang. Untuk mendapatkan biji tersebut, perlu adanya teknologi yang digunakan untuk mempermudah pengupasan pinang.
Karena pada saat sekarang ini pengupasan secara manual membuat cara kerjanya lambat dan membutuhkan waktu yang lama.
Besarnya kebutuhan pasar akan pinang tua bermutu yang menjadi landasan acuan untuk memperbesar jumlah produksi. Menurut penelitian
2
sebelumnya oleh Silaban (2016) kapasitas efektif alat pada penelitian alat pengupas pinang tua masih di bawah dari 190 kg/jam. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang kurang untuk dipasarkan. Alat pengupas pinang tua yang telah dibuat oleh Silaban (2016) sebelumnya diduga belum memiliki beban kerja yang dapat dimaksimalkan sesuai dengan kinerja alat yang dimiliki. Jumlah produksi yang ditingkatkan juga harus sejalan dengan meningkatkan mutu produk yang dihasilkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian beban kerja terhadap kinerja alat pengupas pinang tua, untuk mendapatkan beban kerja maksimal yang sesuai dengan alat pengupas pinang tua. Diharapkan hasil yang diperoleh dapat optimal dengan mencari beban kerja yang tepat dengan mutu yang baik sesuai dengan kinerja alat pengupas pinang tua yang ada sehingga alat pengupas pinang tua ini dapat membantu dan mempermudah masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan pinang tua.
Pengupasan pinang dikalangan masyarakat termasuk di pedesaan saat ini dilakukan secara tradisional yang mungkin turun-temurun dari nenek moyang.
Pengupasan secara tradisional biasanya dilakukan dengan menggunakan parang tajam, yang memiliki banyak resiko kecelakaan kerja, lambat, dan harus benar- benar fokus. Tetapi seiring dengan berkembangnya teknologi dan semakin bertambahnya sumber daya manusia,maka pengupasan sabut pinang dilakukan dengan alat mekanis yang lebih modern.
Teknologi memiliki peranan yang sangat menentukan agar penanganan pasca panen dapat meningkatkan pendapatan ekonomi, oleh karena itu perlu penerapan teknologi yang sesuai. Teknologi perlu diarahkan pada semua tahapan, termasuk didalam proses pasca panen. Teknologi merupakan satu kesatuan yang
digunakan untuk mempermudah aktivitas dan meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat berupa usaha untuk mendapatkan hasil pertanian yang berupa bahan baku siap untuk diolah di pabrik-pabrik lebih lanjut.
Hal ini dapat dilakukan dengan adanya penerapan suatu teknologi dalam suatu komunitas atau perkumpulan yang akan mencapai sasaran.
Selain tanaman pagar, penghijauan, bahan bangunan, dan hiasan (Sihombing, 2000),Pinang dapat diolah sebagai pewarna tekstil, benang, dan sering juga digunakan masyarakat sebagai obat tradisional seperti penguat gigi.
Seiring dengan bertambahnya usia, maka kekuatan gigi semakin berkurang.
Keadaan ini berdampak juga dengan kebutuhan akan pinang. Semakin perlunya pinang di kalangan masyarakat baik dalam skala kecil maupun besar. Untuk itu perlu pengolahan yang lebih pesat, mulai dari pengupasan pinang yang mungkin sulit bagi masyarakat kalangan kecil.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beban kerja optimal pada alat pengupas pinang tua.
Batasan Penelitian
Pengujian beban kerja yang dilakukan dibatasi oleh beban maksimum yaitu 15 kg.
Kegunaan Penelitian
1. Sebagai syarat untuk dapat melaksanakan penelitian di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
2. Sebagai input informasi yang dapat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
4
Hipotesa
Diduga ada pengaruh beban kerja terhadap kinerja alat pengupas pinang tua.
TINJAUAN PUSTAKA
Sejarah Pinang
Pinang adalah buah dari palem areca (Areca catechu), yang sebagian besar tumbuh di negara tropis. Pinang biasanya dikunyah dengan daun sirih atau dalam bentuk produk lain seperti gutka, pan masala, dan scented supari. Diperkirakan seperlima dari populasi dunia mengunyah buah pinang, atau dalam bentuk lain di benua India, Srilanka, Asia Tenggara. Lokasi persis tempat asal pinang tidak diketahui sampai sekarang tapi disebutkan bahwa tanaman palem pertama kali tumbuh di wilayah tenggara, besar kemungkinan di malaysia atau Philipina.
Daerah-daerah ini tetap memiliki jenis terbanyak dari tanaman yang termasuk ke dalam gen areca. Kebiasaan umum dan budaya mengunyah buah pinang disebutkan telah setua tanaman originalnya yang memiliki akar di Vietnam dan Malaysia. Dari tanah Asia Tenggara tanaman ini meluas ke seluruh Asia dan mulai dibudidayakan sebagai tanaman komersil (Novarianto,2012).
Tanaman pinang (Areca catechu L) telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sejak dulu, khususnya buahnya yang digunakan untuk campuran makan sirih, air rebusannya juga digunakan sebagai obat kumur yang diyakini berkhasiat untuk menguatkan gigi. Biji pinang (Areca catechu L.) sebagai salah satu obat tradisional, di Jawa digunakan sebagai obat luka dan di Jambi sebagai obat kudis (Syahid,2007).
6
Botani Pinang
Pinang dikenal dengan beragam nama, seperti pineung (Aceh), pining (Batak Toba), jambe(Jawa), dan bua (Maluku). Sementara dalam bahasa inggris, pinang biasa dikenal sebagai Betel palm atau Betel nut tree. Nama ilmiah pinangadalah Areca catechu L. Dalam bahasa Hindi, buah ini disebut supari, tetapi bahasa Malaya menyebutnya, adakka atau adekka, lalu Sri Lanka menyebutnya puvak. Sementara Thailand dan China masing-masing menyebutnya dengan mak dan pin-lang (Satria, 2010).
Secara rinci, sistematika pinang diuraikan sebagai berikut ini:
Divisi : Plantae Kelas : Monokotil Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae atau Palmae (palem-paleman) Genus : Areca
Spesies : Areca catechu
Pinang (Arecacatechu) merupakan tanaman yang sekeluarga dengan kelapa. Salah satu jenis tumbuhan monokotil ini tergolong palem-paleman (Hidayat, 1991).
Bagian-bagian Tanaman Pinang dan Kegunaannya
Pinang merupakan salah satu anggota keluarga palmae.Pinang dikenal sebagai tanaman serba guna karena seluruh bagian tanaman ini bermanfaat bagi manusia. Berikut adalah bagian-bagian dan kegunaan dari tanaman pinang:
1. Daun
Daun pinang mengandung minyak atsiri yang dapat mengobati gangguan radang tenggorokan, pangkal tenggorokan, dan pembuluh bronchial.
Pucuk daun muda yang rasanya pahit pun dapat dijadikan obat nyeri otot.
Selain obat, daun pinang dapat dijadikan sebagai pupuk hijau.
2. Pelepah
Pelepah pinang dapat dipakai sebagai bahan baku pembungkus makanan, kantong tempat ikan serta alat permainan anak-anak. Tentu saja untuk mendapatkan produk-produk tersebut maka pelepah pinang perlu diolah.
Produk-produk tersebut merupakan hasil kerajinan tangan.Contoh dapat dilihat pada pembungkus gula merah, gula aren atau gula tebu.
3. Batang
Batang berguna sebagai bahan bangunan, jembatan, dan saluran air.
Bahkan, setiap tahun pada perayaan hari kemerdekaan, batang pinang dipakai sebagai tiang untuk lomba panjat pinang. Tanamannya sendiri dapat dipakai untuk mencegah terjadinya erosi atau longsor pada tanah- tanah miring.
4. Sabut buah
Buah pinang mengandung sabut yang dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan kuas gambar atau kuas alis mata.
5. Biji
Biji berguna untuk bahan makanan, bahan baku industri seperti pewarna kain dan obat. Biji pinang juga digunakan sebagai penyusun ramuan obat- obatan.
8
Pinang pantas dijuluki “tanaman serbaguna” karena selain penampilan fisiknya dapat dijadikan tanaman pagar, penghijauan, bahan bangunan, dan hiasan, bagian-bagian tanamannya pun sangat berguna.Konon, selain untuk bahan makanan, biji pinang pun digunakan sebagai bahan pewarna pada pembuatan karpet, obat-obatan tradisional, minuman, dan lain-lain (Arisandi, 2008).
Kondisi Pinang di Indonesia
Pinang dapat dikatakan salah satu komoditi perkebunan yang penting yang ada di Indonesia disamping kakao, kopi, lada dan vanili. Komoditi ini telah banyak dikenal oleh masyarakat terkhusus di Indonesia. Bagi bangsa Indonesia pinang sangat berperan bagi kehidupan bangsa Indonesia baik ditinjau dari segi ekonomi maupun aspek sosial budaya.
Tanaman pinang secara nasional bukan merupakan komoditas utama Indonesia, namun di Pulau Sumatera komoditas ini merupakan andalan sebagian petaninya dan sejak lama menjadi komoditas ekspor. Berbagai kendala ditemui oleh petani dalam mengusahakan komoditas ini terutama mengenai budidaya dan ketersediaan benih varietas unggul untuk pengembangan tanaman. Selama ini dalam pengembangan tanaman pinang, petani hanya memanfaatkan benih asalan serta penerapan teknik budidaya yang kurang optimal. Sehubungan dengan masalah tersebut, perlu disusun Buku Teknologi Budidaya dan Pascapanen Pinang sebagai panduan bagi petani, dinas-dinas dan instansi terkait untuk pengembangan pinang di Indonesia. (Natalini, 2007)
Sampai saat ini sentra tanaman pinang di Indonesia adalah di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Penyebarannya meliputi Aceh, Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat. Dengan terus meningkatnya permintaan paar untuk ekspor,
membuka peluang pengembangan di wilayah Indonesia lainnya. Untuk mendukung pengembangan komoditi pinang maka salah satu yang dibutuhkan adalah ketersediaan benih unggul. Hal ini bisa diperoleh melalui serangkaian kegiatan pemuliaan tanaman. Salah satu diantaranya adalah kegiatan eksplorasi, untuk mempelajari keragaman genetik, sekaligus mengumpulkan bahan tanaman sebagai materi pemuliaan tanaman (Pandin dan Rompus,1994).
Pinang hampir tersebar merata di hampir seluruh propinsi di Indonesia dengan luas areal sangat bervariasi. Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat ada sekitar 15 propinsi yang paling potensial memproduksi pinang. Dari beberapa propinsi yang potensial untuk perluasan areal dan produksi pinang terdapat di daerah sentral produksi antara lain: Di aceh (Aceh Utara, Aceh Timur, Pidie);
Sumatera Utara (Langkat, Deli Serdang, Labuhan Batu); Sumatera Barat (Padang Pariaman, Agam, Lima Puluh Kota, Sawahlunto Sijunjung); Jambi (Sarolangun Bangko); Bengkulu (Bengkulu Selatan); Riau (Indragiri Hilir); Jawa Barat (Tasikmalaya, Sumedang); Jawa Tengah (Banyumas, Purbalingga); Jawa Timur (Jember, Situbondo, Bondowoso); NTB (Bima, Lombok Barat, Dompu);
Kalimantan Barat (Kapuas Hulu, Sintang, Sanggau); dan Kalimantan Selatan (Tabalong) (Dalimartha, 2009).
10
Peranan Mekanisasi Pertanian
Pada mulanya, semua tanaman budidaya untuk kebutuhan pangan manusia dihasilkan dan disiapkan dengan menggunakan tenaga otot-otot manusia.Dengan ditemukannya besi, diciptakan perkakas yang selanjutnya mengurangi tenaga otot manusia.Peralihan dari usaha tani dengan menggunakan tangan keabad usaha tani dengan menggunakan tenaga modern mula-mula berjalan sangat lambat, tetapi dengan perkembangan bajak baja, motor bakar, traktor usaha tani dan mesin usaha tani modern lainnya (Smith dan Wilkes, 1990).
Peranan mekanisasi pertanian dalam pembangunan pertanian di Indonesia adalah :
1. Mempertinggi efisiensi tenaga manusia.
2. Meningkatkan derajat dan taraf hidup petani.
3. Menjamin kenaikan kualitas dan kuantitas serta kapasitas produksi pertanian.
4. Memungkinkan pertumbuhan tipe usaha tani, yaitu dari tipe pertanian untuk kebutuhan keluarga (subsistence farming) menjadi tipe pertanian perusahaan (commercial farming).
5. Mempercepat transisi bentuk ekonomi Indonesia dari sifat agraris menjadi sifat industri (Hardjosentono, dkk., 2000).
Kapasitas Kerja Alat
Kapasitas kerja suatu alat atau mesin didefenisikan sebagai kemampuan alat dan mesin dalam menghasilkan suatu produk (contoh: ha. kg,lt) persatuan waktu (jam). Dari satuan kapasitas kerja dapat dikonversikan menjadi satuan alat produk per kW per jam, bila alat atau mesin itu menggunakan daya penggerak motor. Jadi
satuan kapasitas kerja menjadi: ha.jam/kW, kg.jam/kW, lt.jam/kW (Daywin, dkk.,2008).
Rendemen
Rendemen adalah perbandingan antara pinang yang dihasilkan dengan bahan tumbuhan yang diolah. Besarnya rendemen yang dihasilkan antara jenis bahan yang satu berbeda dengan yang lain. Misalnya 2,5% sampai 4% untuk jenis nilam Aceh (Luntony dan Rahmayati, 2002).
Rendemen merupakan presentase perbandingan antara berat bagian bahan yang dimanfaatkan dengan berat total bahan. Nilai rendemen ini berguna untuk mengetahui berapa banyak bahan yang bisa digunakan. Apabila nilai rendemen suatu produk atau bahan semakin tinggi, maka akan lebih banyak yang bisa digunakan. Rumus yang digunakan untuk menghitung rendemen pengupas pinang tua yaitu:
Rendemen =berat ba an terola
berat a al ×100%
...
(1)Dengan demikian, berat bahan tidak terolah dapat dihitung dengan mengurangi berat awal bahan dengan dengan berat bahan terolah. Persentase bahan tidak terolah dihitung dengan rumus
Bahan tidak terolah =berat ba an terola
berat a al ×100 ...(2) (AOAC, 2005).
Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini. Dengan analisis ekonomi dapat
12
diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat diperhitungkan. Untuk menilai kelayakan finansial, diperlukan semua data yang menyangkut aspek biaya dan penerimaan usaha tani (Soeharno, 2007).
Biaya Pemakaian Alat
Pengukuran biaya pemakaian alat dilakukan dengan cara menjumlahkan biaya yang dikeluarkan yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap (biaya pokok).
BP = BT+ BTT
]
C ...(3)Dimana:
BP = biaya pokok (Rp/satuan produksi) BT = total biaya tetap (Rp/tahun) BTT = total biaya tidak tetap (Rp/jam) x = total jam kerja per tahun (jam/tahun) C = kapasitas alat (jam/satuan produksi) 1. Biaya Tetap
Biaya tetap terdiri dari:
a. Biaya penyusutan (metode garis lurus)
Dt = (P – S) (A/F, i%, N) (F/P, i%, t–1) ...(4) dimana:
Dt = biaya penyusutan pada tahun ke-t (Rp/tahun) P = nilai awal alsin (harga beli/pembuatan) alsin (Rp) S = nilai akhir alsin (10% dari P) (Rp)
N = perkiraan umur ekonomis (tahun) t = tahun ke-t
i = tingkat bunga modal (% tahun)
b. Biaya bunga modal dan asuransi, perhitungannya digabungkan besarnya
I = i(P) n
n ...(5) dimana:
i = total persentase bunga modal dan asuransi (%).
c. Di negara kita belum ada ketentuan besar pajak secara khusus untuk mesin-mesin dan peralatan pertanian, bahwa beberapa literatur menganjurkan bahwa biaya pajak alsin pertanian diperkirakan sebesar 2% per tahun dari nilai awalnya.
d. Biaya gudang atau gedung diperkirakan berkisar antara 0,5% - 1%, rata-rata diperhitungkan 1% nilai awal (P) per tahun.
2. Biaya Tidak Tetap
Biaya tidak tetap terdiri dari:
a. Biaya perbaikan untuk motor listrik sebagi sumber tenaga penggerak.
Biaya perbaikan ini dapat dihitung dengan persamaan Biaya reparasi = -
...(6) b. Biaya karyawan/operator yaitu biaya untuk gaji operator. Biaya ini tergantung kepada kondisi lokal, dapat diperkirakan dari gaji bulanan atau gaji per tahun dibagi dengan total jam kerjanya (Giatman, 2006).
Break Even Point (BEP)
Break even point (analisis titik impas) umumnya berhubungan dengan proses penentuan tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha yang dilakukan dapat membiayai sendiri (self financing) dan selanjutnya dapat
14
berkembang sendiri (self growing). Dalam analisis ini, keuntungan awal dianggap sama dengan nol. Bila pendapatan dari produksi berada di sebelah kiri titik impas, maka usaha akan menderita kerugian. Sebaliknya, bila di sebelah kanan titik impas, akan memperoleh keuntungan. Untuk menentukan produksi titik impas (BEP) maka dapat digunakan rumus
N = R-V ...(7)
Dimana:
N = jumlah produksi minimal untuk mencapai titik impas (kg) F = biaya tetap per tahun (Rp)
R = penerimaan dari tiap unit produksi (harga jual) (Rp) V = biaya tidak tetap per unit produksi (Rp)
(Waldiyono, 2008).
Net Present Value(NPV)
Net present value (NPV) adalah selisih antara present value dari investasi nilai sekarang dari penerimaan kas bersih di masa yang akan datang. Identifikasi masalah kelayakan finansialdianalisis dengan menggunakan metode analisis finansial dengan kriteria investasi. NPV adalah kriteria yang digunakan untuk mengukur suatu alat layak atau tidak untuk diusahakan. Perhitungan NPV merupakan net benefit yang telah didiskon dengan discount factor. Secara singkat dapat dirumuskan
CIF – CO ≥ 0 ...(8) dimana
CIF = cash in flow (Rp)
COF = cash out flow (Rp).
Kriteria NPV yaitu
- NPV > 0, berarti usaha yang telah dilaksanakan menguntungkan
- NPV < 0, berarti sampai dengan t tahun investasi usaha tidak menguntungkan - NPV = 0, berarti tambahan manfaat sama dengan tambahan biaya yang
dikeluarkan.
(Giatman, 2006).
Internal Rate of Return(IRR)
Internal rate of return atau tingkat pengembalianinternal merupakan parameter yang dipakai apakah suatu usaha tani mempunyai kelayakan usaha atau tidak. Kriteria layak atau tidak layak bagi usaha tani bila IRR lebih besar dari tingkat bunga yang berlaku saat usaha tani itu diusahakan dengan meminjam uang (biaya) dari bank pada saat nilai netto sekarang (NPV = 0) (Soekartawi, 1995).
Internal rate of return adalah suatu tingkatan discount rate, pada discount rate dimana diperolah B/C ratio = 1 atau NPV = 0. Harga IRR dapat dihitung dengan menggunakan rumus
IRR = i1 – PV
PV - PV (i1 – i2)...(9) Dimana:
i1 = suku bunga bank paling atraktif i2 = suku bunga coba-coba
NPV1 = NPV awal pada i1
NPV2 = NPV pada i2 (Kastaman, 2006).
16
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret 2018 sampai dengan April 2018 di Laboratorium Biosistem Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Bahan dan Alat Penelitian
Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pinang tua, plastik sebagai tempat menampung pinang tua yang sudah dikupas, dan kertas untuk menulis data.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat pengupas pinang tua, stopwatch untuk mengukur lama waktu setiap kali ulangan, kalkulator untuk mempermudah perhitungan data, komputer untuk menulis laporan dan data juga mempermudah pencarian referensi, kamera untuk alat dokumentasi, alat tulis untuk menulis data ulangan, dan timbangan 10 kg untuk mengukur massa bahan, dan alat sanitasi untuk membersihkan peralatan yang digunakan.
Metode Penelitian
Pada penelitian ini, pengumpulan dengan cara studi literatur(kepustakaan), kemudian dilakukan pengujian alat dan pengamatan parameter.
Penelitian ini menggunakan metode perancangan percobaan rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial dengan 3 taraf sebagai berikut:
Faktor bedanya massa bahan yang digunakan pada alat penggiling:
= Massa bahan 5 kg
= Massa bahan 10 kg
= Massa bahan 15 kg
Model Rancangan Penelitian
Model rancangan penelitian yang akan digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL)
Yik = µ + Ti ɛik ...(10) di mana:
Yik = hasil pengamatan dari perlakuan faktor beban kerja pada taraf ke-i dan pada ulangan ke-k
µ = nilai tengah
Ti = pengaruh perlakuan beban kerja ke-i
ɛik = pengaruh galat percobaan dari perlakuan rpm pada taraf ke-i dan ulangan ke- k.
Prosedur Penelitian Persiapan Bahan
Adapun persiapan yang dilakukan sebelum pengujian alat sebagai berikut:
1. menyiapkan pinang tua yang sudah dikeringkan.
2. menimbang pinang tua yang akan dikupas yaitu 5 kg, 10 kg, dan 15 kg masing-masing 3 kali ulangan
18
Pengujian Alat
1. Menimbang bahan pinang tua sebesar 5Kg.
2. Menghidupkan alat pengupas pinang tua.
3. Mengupas kulit pinang tua dengan alat pengupas pinang sampai menjadi bersih.
4. Menimbang pinang yang tertampung .
5. Menimbang pinang yang tertinggal pada alat dan dilakukan pembersihan alat.
6. Melakukan pengulangan sebanyak 3 kali.
7. Melakukan pengukuran pada parameter yang sudah diamati
8. Mengulangi prosedur ke 1 hingga 7 dengan beban 10 kg dan 15 kg.
9. Mencatat hasil penelitian.
Parameter yang Diamati
Adapun parameter yang diamati pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Kapasitas Alat
Kapasitas alat dilakukan dengan menghitung banyaknya bahan yang telah terkupas (kg) tiap satuan waktu yang dibutuhkan selama proses pengupasan (jam).
Rendemen Bahan (%)
Rendemen menunjukkan persentase perbandingan berat pinang yang terkupas terhadap berat bahan awal.
rendemen pinang ang terkupas kg
berat pinang ang dikupas kg 00 ...(11)
Persentase pinang terkupas tidak sempurna (%)
Persentase pinang terkupas tidak sempurna dihitung dengan membagikan berat pinang hasil pengupasan yang tidak sempurna terhadap berat pinang yang dikupas.
% Pinang terkupas tidak sempurna
...(12)
Analisis Ekonomi
1. Biaya Pengupas pinang tua
Perhitungan biaya Pengupas pinang tuadilakukan dengan cara menjumlahkan biaya yang dikeluarkan, yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap, atau lebih dikenal dengan biaya pokok. Hal ini dapat dihitung berdasarkan Persamaan (6).
a. Biaya Tetap
Biaya tetap terdiri dari:
1. biaya penyusutan (metode garis lurus), dapat dihitung berdasarkan Persamaan (7)
2. biaya bunga modal dan asuransi, dapat dihitung berdasarkan Persamaan (8)
3. biaya pajak, diperkirakan bahwa biaya pajak adalah 2% pertahun dari nilai awalnya
4. biaya gudang/gedung, diperkirakan berkisar antara 0,5% - 1 %, rata- rata diperhitungkan 1% dari nilai awal (P) pertahun.
b. Biaya Tidak Tetap
Biaya tidak tetap terdiri dari:
1. biaya listrik (Rp/kWh)
20
2. biaya perbaikan alat, dapat dihitung dengan Persamaan (9)
3. biaya operator tergantung pada kondisi lokal, dapat diperkirakan dari gaji bulanan atau gaji per tahun dibagi dengan total jam kerjanya.
2. Break Even Point
Manfaat perhitungan titik impas (break even point) adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak untuk dijalankan. Pada kondisi ini income yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa adanya keuntungan. Untuk menentukan produksi titik impas (BEP) maka dapat dihitung berdasarkan Persamaan (10).
3. Net Present Value
Identifikasi masalah kelayakan finansial dianalisis dengan metode analisis finansial dengan kriteria investasi. Net present value adalah kriteria yang digunakan untuk mengukur suatu alat layak atau tidak untuk diusahakan. Hal ini dapat dihitung berdasarkan Persamaan (11), dengan kriteria
- NPV > 0, berarti usaha menguntungkan, layak untuk dilaksanakan dan dikembangkan
- NPV < 0, berarti sampai dengan t tahun investasi proyek tidakmenguntungkan dan tidak layak untuk dilaksanakan serta dikembangkan
- NPV = 0, berarti tambahan manfaat sama dengan tambahan biaya yang dikeluarkan.
4. Internal Rate of Return
Untuk mengetahui kemampuan untuk dapat memperoleh kembali investasi yang sudah dikeluarkan dapat dihitung dengan menggunakan IRR. Hal ini dapat dihitung berdasarkan Persamaan (12).
22
HASIL DAN PEMBAHASAN
Alat pengupas pinang tua
Pada penelitian ini digunakan alat pengupas pinang tua dengan menggunakan beban bahan yang berbeda yaitu sebanyak 5 kg, 10 kg dan 15 kg.
Sebelum pinang dikupas, terlebih dahulu dilakukan penjemuran bahan di bawah sinar matahari selama 2 minggu. Pengoperasian alat ini dilakukan dengan cara mengengkol mesin motor.
Proses pengupasan biji pinang tua dilakukan dengan memasukkan biji pinang ke dalam tabung pembanting melalui saluran pemasukan (hopper). Saat proses pengupasan, biji akan dibanting dengan menggunakan jaringan pembanting sehingga biji akan terkupas secara perlahan. Biji pinang yang terkupas akan keluar melalui saluran pengeluaran, sedangkan sabut pinang hasil bantingan dikeluarkan paksa dengan blower ke saluran keluaran sabut.
Kadar air pinang yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kadar Air Pinang Tua
Sampel Berat awal (kg) Berat akhir (kg) Kadar air (%)
I 5 2,1 42
II 5 2,0 40
III 5 1,9 38
IV 5 1,9 38
V 5 2,0 40
Rata-rata 5 1,98 39,6
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh data hasil pengaruh beban kerja terhadap alat pengupas pinang tua terhadap parameter pengujian yang dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Data pengaruh berat beban yang berbeda Perlakuan Kapasitas alat
(kg/Jam)
Rendemen pinang (%)
%Pinang terkupas tidak sempurna
(%)
B1 153,65 88,60 11,40
B2 158,36 87,83 12,16
B3 161,91 85,67 14,33
Keterangan : B1 : 5 kg, B2 : 10 kg, B3 : 15 kg
Kapasitas Alat
Kapasitas alat menunjukkan produktifitas alat selama pengoperasian tiap satuan waktu. Kapasitas efektif alat pengupas pinang tua dapat diperoleh dengan melakukan pengupasan pada biji pinang tua sebanyak tiga kali ulangan untuk setiap beban yang digunakan, kemudian dihitung kapasitas alat rata-rata. Dalam hal ini kapasitas alat diperoleh dengan membandingkan jumlah bahan yang digunakan (kg) dengan waktu yang dibutuhkan selama proses pengupasan (jam).
Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa beban berpengaruh tidak nyata terhadap kapasitas alat sehingga uji lanjutan dengan duncan multiple range test (DMRT) tidak perlu dilakukan. Nilai kapasitas alat yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Kapasitas alat dari berat beban yang berbeda
Perlakuan Kapasitas Alat (kg/Jam)
B1 153,65
B2 158,36
B3 161,91
Rata-rata 157,97
Keterangan : B1 : 5 kg, B2 : 10 kg, B3 : 15 kg
Dari Tabel 3 menunjukkan bahwa kapasitas alat dari berat beban yang berbeda terendah yaitu pada perlakuan B1 sebesar 153,65 kg/Jam dan kapasitas alat yang tertinggi yaitu pada perlakuan B3 sebesar 161,91 kg/Jam.
24
Persentase Pinang Terkupas Tidak Sempurna
Pada penelitian yang dilakukan persentase pinang terkupas tidak sempurna diperoleh dengan membandingkan berat hasil bahan yang terkupas tidak sempurna terhadap berat awal bahan yang akan dikupas dalam satuan persen (%). Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa beban berpengaruh tidak nyata sehingga uji lanjutan dengan duncan multiple range test (DMRT) tidak perlu dilakukan. Besarnya nilai presentase pinang terkupas tidak sempurna dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Persentase pinang terkupas tidak sempurna dari berat beban yang berbeda Perlakuan Persentase pinang terkupas tidak
sempurna (%)
B1 11,40
B2 12,17
B3 14,33
Rata-Rata 12,63
Keterangan : B1 : 5 kg, B2 : 10 kg, B3 : 15 kg
Dari Tabel 4 menunjukkan bahwa persentase pinang terkupas tidak sempurna dari berat beban yang berbeda terendah yaitu pada perlakuan B1 sebesar 11,40% dan persentase pinang terkupas tidak sempurna yang tertinggi yaitu pada perlakuan B3 sebesar 14,33%.
Tabel 4 menunjukkan juga bahwa berat beban yang berbeda tidak akan memberikan pengaruh terhadap persentase pinang terkupas tidak sempurna. Hasil tersebut diperoleh dari pengamatan persentase pinang terkupas tidak sempurna pada alat yang dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan dengan rata-rata berat awal bahan sebesar 5 kg. Hal ini disebabkan karena kurang maksimalnya pengeringan yang dilakukan terhadap bahan sehingga perlu dilakukan pengeringan yang lebih lama untuk mempermudah pengupasan pinang. Selain itu hal ini juga disebabkan
karena adanya beberapa bahan yang sudah rusak (busuk) sehingga dibutuhkan pemilihan bahan yang lebih baik agar dihasilkan hasil kupasan yang sempurna.
Hal ini sesuai dengan litertatur (Lakitan, 1995) yang menyatakan bahwa Pinang memiliki kandungan air 75 – 80% pada saat panen . Secara tradisional, panen segar direbus, disaring dan diiris menjadi lima atau enam potong dan dikeringkan dengan pengeringan matahari terbuka selama 10 hingga 15 hari untuk mengurangi kelembaban hingga 40%.
Rendemen Pinang
Rendemen pinang merupakan perbandingan antara berat pinang yang dihasilkan (terkupas) dengan banyaknya bahan baku yang digunakan dalam proses penelitian ini yang dinyatakan dalam persen (%). Hasil dikatakan terkupas sempurna apabila tidak ada lagi sabut pinang yang melekat pada biji pinang tersebut dan biji yang keluar dari saluran keluaran tidak pecah, sedangkan hasil dikatakan terkupas tidak sempurna apabila sabut masih melekat pada biji dan biji yang keluar dari saluran keluaran pecah.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa beban bahan yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap rendemen pinang sehingga uji lanjutan dengan duncan multiple range test (DMRT) tidak perlu dilakukan. Besarnya nilai rendemen pinang dapat dilihat pada Tabel 5.
26
Tabel 5. Rendemen pinang dari berat beban yang berbeda
Perlakuan Rendemen pinang (%)
B1 88,60
B2 87,83
B3 85,67
Rata-Rata 87,37
Keterangan : B1 : 5 kg, B2 : 10 kg, B3 : 15 kg
Dari Tabel 5 menunjukkan bahwa rendemen pinang dari berat beban yang berbeda terendah yaitu pada perlakuan B3 sebesar 85,67% dan rendemen pinang yang tertinggi yaitu pada perlakuan B1 sebesar 88,60%.
Analisis Ekonomi Biaya pemakaian alat
Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini. Dengan analisi ekonomi dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat diperhitungkan.
Dari penelitian yang dilakukan (Lampiran 6) untuk setiap produksi 5 kg, diperoleh biaya untuk mengupas pinang tua berbeda tiap tahun. Hal ini disebabkan perbedaan nilai biaya penyusutan tiap tahun sehingga mengakibatkan biaya tetap alat tiap tahun berbeda Rp. 192,453/kg untuk tahun pertama, Rp. 192,778/kg untuk tahun kedua, Rp. 193,137/kg untuk tahun ketiga, Rp. 193,502/kg untuk tahun keempat, Rp. 198,667/kg untuk tahun kelima yang
merupakan hasil perhitungan dari penjumlahan biaya tetap dan biaya tidak tetap terhadap kapasitas jam kerja alat pengupas pinang tua.
Dari penelitian yang dilakukan (Lampiran 7) untuk produksi 10 kg, diperoleh biaya untuk mengupas pinang tua berbeda tiap tahun. Hal ini disebabkan perbedaan nilai biaya penyusutan tiap tahun sehingga mengakibatkan
biaya tetap alat tiap tahun berbeda Rp.186,630/kg untuk tahun pertama, Rp.186,955/kg untuk tahun kedua, Rp.187,294/kg untuk tahun ketiga, Rp. 187,647/kg untuk tahun keempat, Rp. 192,840/kg untuk tahun kelima yang
merupakan hasil perhitungan dari penjumlahan biaya tetap dan biaya tidak tetap terhadap kapasitas jam kerja alat pengupas pinang tua.
Dan dari penelitian yang dilakukan (Lampiran 8) untuk produksi 15 kg, diperoleh biaya untuk mengupas pinang tua berbeda tiap tahun. Hal ini disebabkan perbedaan nilai biaya penyusutan tiap tahun sehingga mengakibatkan
biaya tetap alat tiap tahun berbeda Rp.182,551/kg untuk tahun pertama, Rp.182,869/kg untuk tahun kedua, Rp.183,200/kg untuk tahun ketiga,
Rp.183,546/kg untuk tahun keempat, Rp. 188,625/kg untuk tahun kelima yang merupakan hasil perhitungan dari penjumlahan biaya tetap dan biaya tidak tetap terhadap kapasitas jam kerja alat pengupas pinang tua.
Dari pengamatan dilapangan, apabila pengupasan dilakukan secara manual biaya yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 1.500/kg hasil untuk setiap pekerjanya.
Sehingga dapat disimpulkan alat ini penting bagi petani pinang untuk mengurangi biaya pengupasan.
Untuk biaya tetap Rp. 3.073.365,75 tahun pertama, Rp. 3.193.624.419 tahun kedua, Rp. 3.318.976.397 tahun ketiga, Rp. 3.449.846,126 tahun keempat dan Rp. 5.371.013.739 tahun kelima dan biaya tidak tetap sebesar Rp.
65.974.541,6/tahun.
Break Even Point
Menurut waldiyono (2008) manfaat perhitungan break even point adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar
28
usaha yang dikelola masih layak dijalankan. Pada kondisi ini income yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa adanya keuntungan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan (Lampiran 9) untuk produksi 5 kg, titik impas pada tahun pertama terjadi setelah mengupas 313,094 kg, 325,345 kg pada tahun kedua, 338,115 kg pada tahun ketiga, 351,447 kg pada tahun keempat dan pada tahun kelima harus mengupas 547,163 kg pinang tua. Peningkatan break even point setiap tahunnya dipengaruhi oelh biaya penyusutan yang meningkat setiap tahun.
Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan (Lampiran 10) untuk produksi 10 kg, titik impas pada tahun pertama terjadi setelah mengupas 312,916 kg, 325,160 kg pada tahun kedua, 337,923 kg pada tahun ketiga, 351,248 kg pada tahun keempat dan pada tahun kelima harus mengupas 546,852 kg pinang tua. Peningkatan break even point setiap tahunnya dipengaruhi oelh biaya penyusutan yang meningkat setiap tahun.
Dan berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan (Lampiran 11) untuk produksi 15 kg, titik impas pada tahun pertama terjadi setelah mengupas 312,792 kg, 325,032 kg pada tahun kedua, 337,789 kg pada tahun ketiga, 351,109 kg pada tahun keempat dan pada tahun kelima harus mengupas 546,636 kg pinang tua. Peningkatan break even point setiap tahunnya dipengaruhi oelh biaya penyusutan yang meningkat setiap tahun.
Net Present Value
Net present value(NPV) adalah kreteria yang digunakan untuk mengukur suatu alat layak atau tidak untuk diusahakan. Dari percobaan yang telah dilakukan
dan data yang telah diperoleh (Lampiran 12) pada penelitian dapat diketahui besarnya NPV dengan suku bunga 4,25% pada produksi 5 kg adalah Rp.
15.562.805.983,4, pada produksi 10 kg adalah Rp. 16.059.433.613,4 dan pada produksi 15 kg adalah Rp. 16.423.796.563,4. Suku bunga bank coba-coba 6%
pada produksi 5 kg adalah Rp. 14.833.410.831,9, pada produksi 10 kg adalah Rp.15.306.581.021,9 dan pada 15 kg adalah Rp.15.653.775.971,9. Hal ini berarti usaha ini layak untuk dijalankan karena nilainya lebih dari nol. Hal ini sesuai dengan pernyataan giatman (2006), yang menyatakan bahwa kriteria NPV> 0, berarti investasi akan menguntungkan.
Internal Rate of Return
Menurut Giatman (2006), yang menyatakan bahwa dengan menggunakan metode IRR akan menjelaskan seberapa kemampuan cash flowdalam mengembalikan modalnya dan seberapa besar pula kewajiban yang hartus dipenuhi. Hasil yang didapat dari perhitungan IRR adalah sebesar 43,03%
(Lampiran 13). Usaha ini layak dijalankan apabila bungan pinjaman bakn tidak melebihi 46,052%, jika bunga pinjaman dibank melebihi angka tersebut maka usaha ini tidak layak lagi diusahakan. Semakin tinggi bunga pinjaman dibakn maka keuntungan yang diperoleh dari usaha ini semakin kecil.
30
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Beban 5, 10 dan 15 kg yang diberikan pada alat pengupas pinang bepengaruh tidak berbeda nyata terhadap kapasitas alat, persentase pinang terkupas tidak sempurna dan rendemen pinang.
2. Persentase pinang terkupas tidak sempurna rata-rata terendah pada beban 5 kg sebesar 11,40%. Rendemen pinang tertinggi yaitu pada beban 5 kg sebesar 88,60% dan kerja alat pengupas pinang tua yang paling efektif digunakan pada berat beban kerja sebesar 5 kg dengan kapasitas alat sebesar 153,65 kg/jam.
3. Kapasitas alat tertinggi yaitu pada beban 15 kg sebesar 161,91 kg/jam dan biaya pemakaian alat terendah pada beban 15 kg sebesar Rp.182,551/kg tahun.
Saran
1. Perlu dilakukan pengujian poros pisau roll maupun pada poros motor yang secara langsung mempengaruhi kecepatan pengupasan.
2. Perlu dilakukan modifikasi alat ini untuk meningkatkan efektifitas alat.
DAFTAR PUSTAKA
Aoac, 2005. Official Methods Of Analysis. Association Of Oficial Analytical Chimisis. Benjamin Franklin Stasion. Washington.
Arisandi, Y. dan Andriani, Y. 2008. Khasiat Tanaman Obat. Pustaka Buku Murah.
Jakarta
Dalimartha, S. 2009. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid Keenam. Cetakan pertama. Jakarta: Pustaka Bunda. Halaman 127-129.
Daywin, F. J., dkk., 2008. Mesin-mesin Budidaya Pertanian di Lahan Kering.
Graha Ilmu, Jakarta
Disperindagsu, 2009. Penyebaran dan Produksi Pinang. Diakses dari:
http://repository.usu.ac.id [14 Desember 2015].
Ferry, Y. 1992. Bertanam Pinang (area catechu). Kebun Percobaan Paya Gajah.
Aceh Timur.
Giatman, M., 2006. Ekonomi Teknik. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Hardjosentono, M., Wijato, R. Elon, I. W. Badradan R. Dadang, 2000. Mesin- Mesin Pertanian. Bumi Aksara, Jakarta.
Kastaman, R. 2006. Analisis Kelayakan Ekonomi Suatu Investasi. Prosiding Bimbingan Teknis IKM Kota Tasikmalaya. Jurnal. Universitas padjajaran.
Lakitan, B. 1995. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Lutony, T.L dan Rahmawati Y., 2002. Produksi dan Perdagangan Minyak Astri.
Balai pustaka, Jakarta.
Miftahorrachman, Matana, Y.R dan Salim., 2015. Teknologi Budidaya dan Pascapanen Pinang. Balai Penelitian Tanaman Palma, Manado.
Natalini, N.K., dan Siti Fatimah Syahid. 2007. Penggunaan tanaman kelapa (Cocos nucifera), pinang (Areca catechu) dan aren (Arenga pinnata) sebagai tanaman obat. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Vol.13. No.2, Agustus 2007.
Hal.15-16.
Novarianto, T.L dan Rahmawati Y., 2002. Produksi dan Perdagangan Minyak Astri. Balai Pustaka, Jakarta.
34
Pandin dan Rompus, 1994. Penyebaran dan Produksi Pinang. Diakses dari:
http://repository.usu.ac.id [14 Desember 2015].
Satria, 2010. Botani Tanaman Pinang. Diakses dari:http://eprints.ung.ac.id [10 Desember 2015].
Sihombing, T., 2000. Pinang Budidaya & Prospek Bisnis. Penebar Surabaya, Jakarta.
Smith, H. P. dan L. H. Wilkes, 1990. Mesin dan Peralatan Usaha Tani.
UGM-Press, Yogyakarta.
Soeharno, 2007. Teori Mikroekonomi. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Soekartiwi, 1995. Analisis Usahatani. UI Press, jakarta.
Syahid, 2007. Tanaman pinang Sebagai Tanaman Obat. Tersedia di http://artikel kesehatan masyarakat.com/2010. [14 desember 2015]
Syamsuhidayat, S.S., Hutapea, J.R., 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia.
Balitang Departemen Kesehatan, Vol 1 : 64-65.
Waldiyono. 2008. Ekonomi Teknik (Konsep, Teori dan Aplikasi). Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Lampiran 1. Flow chart pengerjaan penelitian
MULAI
Pemilihan dan persiapan bahan dan alat
Pelaksanaan penelitian di Laboratorium
Pengujian alat
Dianalisis data yang diperoleh
-Kapasitas Efektif Alat -Rendemen
-Persentase Pinang Terkupas Tidak Sempurna
-Analisis Ekonomi
SELESAI
36
Lampiran 2. Kadar air pinang tua Tabel data kadar air pinang tua
Sampel Berat awal (kg) Berat akhir (kg) Kadar air (%)
I 5 2,1 42
II 5 2 40
III 5 1,9 38
IV 5 1,9 38
V 5 2 40
Rata-rata 5 1,98 39,6
Sampel I `= 100% - ( ( ) ( )
( ) )
= 100% - ( )
= 42%
Sampel II = 100% - ( ( ) ( )
( ) )
= 100% - ( )
= 40%
Sampel III = 100% - ( ( ) ( )
( ) )
= 100% - (
)
= 38%
Sampel IV = 100% - ( ( ) ( )
( ) )
= 100% - (
)
= 38%
Sampel v = 100% - ( ( ) ( )
( ) )
= 100% - ( )
= 40%
Rata-rata =
=
= 39,6 %
38
Lampiran 3. Kapasitas efektif alat pengupas pinang tua
Tabel data kapasitas efektif alat pengupas pinang tua pada beban 5 kg
Ulangan Berat awal (kg) Waktu (jam) Kapasitas (kg/jam)
I 5 0,0367 136,24
II 5 0,0305 140,85
III 5 0,0311 142,86
Total 15 0,0983 419,95
Rataan 5 0,0327 139,98
KEA1 = ( ) ( )
=
= 136,24 kg/jam
KEAII = ( ) ( )
=
= 140,85 kg/jam
KEAIII = ( ) ( )
=
= 142,86 kg/jam
KEA rata-rata = KEAI + KEAII + KEAIII
3
= 136,24+140,85+142,86 3
= 139,98 kg/jam
Tabel data kapasitas efektif alat pengupas pinang tua pada beban 10 kg Ulangan Berat awal (kg) Waktu (jam) Kapasitas (kg/jam)
I 10 0,071 163,93
II 10 0,059 169,49
II 10 0,0607 172,41
Total 30 0,1907 505,83
Rataan 10 0,0635 168,61
KEA1 = ( ) ( )
=
= 163,93 kg/jam
KEAII = ( ) ( )
=
= 169,49 kg/jam
KEAIII = ( ) ( )
=
= 172,41 kg/jam
KEA rata-rata = KEAI + KEAII + KEAIII 3
= 163,93 + 169,49 + 172,41 3
= 168,61 kg/jam
40
Tabel data kapasitas efektif alat pengupas pinang tua pada beban 15 kg Ulangan Berat awal (kg) Waktu (jam) Kapasitas (kg/jam)
I 15 0,105 160,77
II 15 0,087 164,75
III 15 0,088 170,45
Total 45 0,28 495,97
Rataan 15 0,0933 165,97
KEA1 = ( ) ( )
=
= 160,77 kg/jam
KEAII = ( ) ( )
=
= 164,75 kg/jam
KEAIII = ( ) ( )
=
= 170,45 kg/jam
KEA rata-rata = KEAI + KEAII + KEAIII
3
= 160,77 + 164,75 + 170,45 3
= 165,32 kg/jam
Lampiran 4. Persentase pinang terkupas tidak sempuran
Tabel data persentase pinang terkupas tidak sempurna pada beban 5 kg Ulangan Berat awal (kg) Berat pinang terkupas
tidak sempurna (kg)
% Pinang terkupas tidak sempurna
wI 5 0,74 14,8
II 5 0,55 11
III 5 0,42 8,4
Total 15 1,71 34,2
Rataan 5 0,57 11,4
XI = ( )
( ) x 100%
= ( ) ( )
= 14,8%
XII = ( )
( ) x 100%
= ( ) ( )
= 11%
XII = ( )
( ) x 100%
= ( ) ( )
= 8,4%
X rata-rata = XI + XII + XII 3
= 14,8 + 11 + 8,4 3
= 11,4 kg/jam
42
Tabel data persentase pinang terkupas tidak sempurna pada beban 10 kg Ulangan Berat awal
(kg)
Berat pinang terkupas tidak sempurna (kg)
% Pinang terkupas tidak sempurna
I 10 1,6 16
II 10 1,15 11,5
III 10 0,9 9
Total 30 3,65 36,5
Rataan 10 1,21 12,16
XI = ( )
( ) x 100%
= ( ) ( )
= 16%
XII = ( )
( ) x 100%
= ( ) ( )
= 11,5%
XII = ( )
( ) x 100%
= ( ) ( )
= 9%
X rata-rata = XI + XII + XII
3
= 16 + 11, + 9 3
= 12,16 kg/jam
Tabel data persentase pinang terkupas tidak sempurna pada beban 15 kg Ulangan Berat awal
(kg)
Berat pinang terkupas tidak sempurna (kg)
% Pinang terkupas tidak sempurna
I 15 2,85 19
II 15 1,95 13
III 15 1,65 11
Total 45 6,45 43
Rataan 15 2,15 14,33
XI = ( )
( ) x 100%
= ( ) ( )
= 19%
XII = ( )
( ) x 100%
= ( ) ( )
= 13%
XII = ( )
( ) x 100%
= ( ) ( )
= 11%
X rata-rata = XI + XII + XII
3
= 19 + 13 + 11 3
= 14,33 kg/jam
44
Lampiran 5. Rendemen Pinang (%)
Tabel data rendemen pinang pada beban 5 kg Ulangan Berat awal (Kg) Berat yang
dihasilkan (Kg) Rendemen pinang (%)
I 5 4,26 85,2
II 5 4,45 89
III 5 4,58 91,6
Total 15 13,29 265,8
Rataan 5 4,43 88,6
Perhitungan :
Ulangan Berat pinang ang di asilkan Kg
Berat a al Kg 00
Kg
Kg 00
= 85,2%
Ulangan Berat pinang ang di asilkan Kg
Berat a al Kg 00
Kg
Kg 00
= 89%
Ulangan Berat pinang ang di asilkan Kg
Berat a al Kg 00
Kg
Kg 00
= 91,6%
Rata Rata Ulangan Ulangan Ulangan
=88,60%
Tabel data rendemen pinang pada beban 10 kg Ulangan Berat awal (Kg) Berat yang
dihasilkan (Kg) Rendemen pinang (%)
I 10 8,4 84
II 10 8,85 88,5
III 10 9,1 91
Total 30 26,35 263,5
Rataan 10 8,78 87,8
Perhitungan :
Ulangan Berat pinang ang di asilkan Kg
Berat a al Kg 00
Kg
0 Kg 00
= 84%
Ulangan Berat pinang ang di asilkan Kg
Berat a al Kg 00
Kg
0 Kg 00
= 88,5%
Ulangan Berat pinang ang di asilkan Kg
Berat a al Kg 00
46
Kg
0 Kg 00
= 91%
Rata Rata Ulangan Ulangan Ulangan
=87,83%
Tabel data rendemen pinang pada beban 15 kg Ulangan Berat awal (Kg) Berat yang
dihasilkan (Kg) Rendemen pinang (%)
I 15 12,15 81
II 15 13,05 87
III 15 13,35 89
Total 45 38,55 257
Rataan 15 12,85 85,67
Perhitungan :
Ulangan Berat pinang ang di asilkan Kg
Berat a al Kg 00
Kg
Kg 00
= 81%
Ulangan Berat pinang ang di asilkan Kg
Berat a al Kg 00
0 Kg
Kg 00
= 87%
Ulangan Berat pinang ang di asilkan Kg
Berat a al Kg 00
Kg
Kg 00
= 89%
Rata Rata Ulangan Ulangan Ulangan
=85,67%
48
Lampiran 6. Data Pengamatan dan data analisis sidik ragam kapasitas alat Data pengamatan kapasitas alat
Perlakuan Ulangan
Total Rataan
1 2 3
B1 136,24 163,93 160,77 460,94 153,65
B2 140,85 169,49 164,75 475,09 158,36
B3 142,86 172,41 170,45 485,72 161,91
Total 419,95 505,83 495,97 1.421,75
Rataan 139,98 168,61 165,32 157,97 157,97
Data analisis sidik ragam kapasitas alat
SK dB JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 2 103,030 51,515 0,209 tn 5,143 10,925 Galat 6 1476,874 246,146
Total 8 1579,904 Keterangan :
** = sangat nyata
* = nyata tn = tidak nyata
Lampiran 7. Data Pengamatan dan data analisis sidik ragam persentase pinang terkupas tidak sempurna
Data pengamatan persentase pinang terkupas tidak sempurna
Perlakuan Ulangan
Total Rataan
1 2 3
B1 14,80 11,00 8,40 34,20 11,40
B2 16,00 11,50 9,00 36,50 12,17
B3 19,00 13,00 11,00 43,00 14,33
Total 49,80 35,5 28,40 113,70
Rataan 16,60 11,83 9,47 12,63 12,63
Data analisis sidik ragam persentase pinang terkupas tidak sempurna
SK dB JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 2 13,887 6,943 0,517 tn 5,143 10,925
Galat 6 80,553 13,426
Total 8 94,440
Keterangan :
** = sangat nyata
* = nyata tn = tidak nyata
50
Lampiran 8. Data Pengamatan dan data analisis sidik ragam rendemen pinang Data pengamatan rendemen pinang
Perlakuan Ulangan
Total Rataan
1 2 3
B1 85,20 89,00 91,60 265,80 88,60
B2 84,00 88,50 91,00 263,50 87,83
B3 81,00 87,00 89,00 257,00 85,67
Total 250,20 264,5 271,60 786,30
Rataan 83,40 88,17 90,53 87,37 87,37
Data analisis sidik ragam rendemen pinang
SK dB JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 2 13,887 6,943 0,517 tn 5,143 10,925
Galat 6 80,553 13,426
Total 8 94,440
Keterangan :
** = sangat nyata
* = nyata tn = tidak nyata
Lampiran 9. Analisis ekonomi a) Unsur produksi
1. Total biaya pembuatan alat = Rp.6.500.000 2. Umur ekonomi (n) = 5 tahun 3. Nilai akhir alat (s) = Rp. 650.00
4. Jam kerja = 8 jam/hari
5. Produksi/hari = 1263,453 kg/hari 6. Biaya operator = Rp. 91.635/hari 7. Biaya bahan bakar = Rp. 16.758,1/jam 8. Biaya perbaikan = Rp. 30,05/jam 9. Bunga modal dan suransi = Rp.243.750/tahun 10. Biaya sewa gedung = Rp.65.000/tahun
11. Pajak = Rp. 130.00/tahun
12. Jam kerja alat = Rp.2336 jam/tahun (asumsi 292 hari berdasarkan tahun 2018) b) Perhitungan biaya produksi
1. Biaya tetap (Bt)
a. Biaya penyusutan (Dn)
Dn = (P-S) (A/F, i%, n) (F/A, i%, n-1)
Tabel data perhitungan biaya penyusutan dengan metode sinking fund Akhir tahun ke (p-s) (Rp) (A/F, 6,75%, n) (F/P, 6,75%, n-1) Dt
0 - - - -
1 5.850.000 0,174775 1,0675 1.091.448,03
2 5.850.000 0,174775 1,139575 1.165.139,94
3 5.850.000 0,174775 1,2165 1.243.790,66
4 5.850.000 0,174775 1,2987 1.327.834,71
5 5.850.000 0,174775 1,3865 1.417.604,39
52
b. Bunga modal dan asuransi (I)
Bunga modal pada tahun 2019 4,25% dan asuransi 2%
I = ( )( )
= ( ( ) ( )
=
= Rp. 243.750/tahun c. Biaya sewa gedung
Sewa gedung = 1% x P
= 1% x Rp. 6.500.000
= Rp. 65.000/tahun d. Pajak
Pajak = 2% x P
= 2% x Rp.6.500.000
= Rp. 130.000/tahun Tabel perhitungan biaya tetap alat tiap tahun
Tahun Dt (Rp) I (Rp)/tahun Biaya tetap (Rp)/tahun
1 1.091.448,03 243750 3.073.365,700
2 1.165.139,94 243750 3.193.624,419
3 1.243.790,66 243750 3.318.976,397
4 1.327.834,71 243750 3.449.846,126
5 1.417.604,39 243750 5.371.013,739
2. Biaya tidak tetap (Btt)
a. Biaya perbaikan (reparasi) Biaya reparasi = ( )
= ( )
= Rp. 30,05/jam
= Rp.70.200/tahun b. Biaya operator
Diperkirakan upah operator untuk mengupas buah pinang dalam 1 jam adalah sebesar Rp.11.454. Sehingga diperoleh biaya operator Rp.
91.635/hari(Rp. 26.757.420/tahun).
c. Biaya bahan bakar
1 jam = 3,254 liter/jam 1 liter = Rp. 5.150/liter Maka,
Biaya Bahan bakar = kebutuhan bahan bakar/jam X harga bahan bakar
= 3,254 liter/jam X Rp. 5.150/liter
= Rp. 16.758,1/jam
= Rp. 39.146.921,6/jam Total biaya tidak tetap = Rp. 65.974.541,6/tahun
3. Biaya Total (BT) BT = Bt + Btt
Tabel perhitungan biaya total Tahun Biaya tetap
(Rp/tahun)
Biaya tidak tetap (Rp/tahun)
Biaya total (Rp/tahun) 1 3.073.365,75 65.974.541,6 69.047.907,35 2 3.193.624,419 65.974.541,6 69.168.166,02 3 3.318.976,397 65.974.541,6 69.293.518 4 3.449.846,126 65.974.541,6 69.424.387,73 5 5.371.013,739 65.974.541,6 71.345.555,34