• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Uji Diuretik

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek diuretik ekstrak etanol daun gandarusa (Justicia gendarussa Burm. F) pada tikus putih jantan Wistar dengan pembanding furosemid dosis 21,6 mg/kg BB sebagai kontrol positif dan suspensi PVP 5% sebagai kontol negatif. Untuk memperkecil variabilitas antar hewan uji, maka hewan yang digunakan harus mempunyai keseragaman, yaitu memiliki berat badan antara 130-200 gram, umur 2-3 bulan, diberi makanan dan minuman yang sama dan dalam kondisi sehat. Pengelompokan hewan uji dilakukan secara random (acak), masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor.

Penelitian ini menggunakan hewan uji tikus galur Wistar karena tikus merupakan hewan dengan model yang sesuai untuk evaluasi obat-obat yang mempengaruhi ginjal (Kusumawati, 2004) dan digunakan tikus jantan karena kondisi biologisnya lebih stabil bila dibandingkan dengan tikus betina.

Hewan uji harus diadaptasikan terlebih dahulu dengan kondisi laboratorium selama 7 hari. Hal ini dilakukan untuk menghindari stres pada saat perlakuan. Sebelum hewan uji mengalami perlakuan, pada hari terakhir hewan uji dipuasakan terlebih dahulu selama 12-18 jam dengan hanya diberi minum ad libitum. Tujuan dipuasakan agar kondisi hewan uji sama dan mengurangi pengaruh makanan yang dikonsumsi terhadap absorpsi sampel yang diberikan.

Apabila tahap persiapan telah selesai, kemudian dilakukan uji dengan pemberian ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,18 g/kg BB, 0,36 g/kg BB dan 0,72 g/kg BB. Sebagai pembanding digunakan furosemid yang merupakan diuretik kuat sebagai kontrol positif dan suspensi PVP 5% sebagai kontrol negatif.

Volume air minum yang dikonsumsi oleh hewan uji dari jam ke-1 sampai 12 tidak dilakukan uji ANAVA satu jalan karena air minum diberikan secara per oral dengan volume pemberian 2,5 ml/ 200 g tiap 3 jam. Begitu juga volume air minum yang dikonsumsi dari jam ke-12 sampai 24 diberikan secara peroral sebanyak 5 ml/ 200 g. Hal ini dilakukan untuk menyeragamkan kondisi dari hewan uji, karena dikhawatirkan dengan masuknya air minum yang tidak seragam kemungkinan berpengaruh pada efek diuretik yang dihasilkan baik pada kontrol positif maupun perlakuan tiap dosis ekstrak etanol daun gandarusa.

Data volume urin diukur pada jam ke- 1, 2, 3, 6, 9, 12 dan 24. Data yang terkumpul merupakan data volume urin tiap waktu (ml). Dari data volume urin tiap waktu dapat dihitung volume urin kumulatif. Data volume urin tiap waktu pengamatan (mean+SD) tersaji pada Tabel 1 dan terlampir pada Lampiran 9.

Tabel 1. Data Volume Urin Tiap Waktu Pengamatan (ml) pada Masing-masing Kelompok Perlakuan (mean+SD) (n=5)

Volume Urin tiap jam ke- (ml) No. HU Perlakuan 1 2 3 6 9 12 24 1 2,47 0,98 0,00 2,10 1,94 1,76 4,35 2 4,40 0,03 0,00 1,70 1,12 1,23 3,20 3 2,70 0,79 0,00 1,82 1,60 1,30 2,16 4 2,91 0,68 0,00 1,64 1,54 1,85 2,31 5 Kontrol Positif Furosemid 21,6 mg/kg BB 4,50 0,05 0,70 1,40 1,72 2,30 2,26 (mean+SD) 3,40+0,97 0,50+0,43 0,14+0,31 1,73,+0,25 1,58+0,30 1,68+0,43 2,85+0,93 1 0,65 0,06 0,92 0,54 1,25 1,06 1,61 2 0,98 0,04 0,22 0,60 1,36 1,98 2,73 3 0,95 0,91 0,00 0,74 1,14 1,35 1,50 4 0,47 0,00 0,33 0,95 1,56 1,09 1,94 5 Kontrol Negatif PVP 5 % 2,5 ml / 200 g BB 0,68 0,00 0,81 1,13 0,97 1,24 1,97 (mean+SD) 0,75+0,21 0,20+0,40 0,45+0,40 0,79+0,24 1,25+0,22 1,34+0,37 1,95+0,48 1 0,00 095 0,00 2,27 1,21 1,10 2,23 2 0,00 0,56 0,00 1,48 1,38 1,95 3,43 3 0,00 0,60 0,00 1,08 1,30 2,50 2,00 4 0,70 0,74 0,00 2,55 2,40 1,93 3,05 5 Ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,18 g/kg BB 0,00 0,80 0,00 2,40 0,73 2,00 5,05 (mean+SD) 0,14+0,31 0,73+0,15 0,00+0,00 1,95+0,64 1,40+0,61 1,89+0,50 3,15+1,21 1 0,00 1,61 000 0,75 1,20 2,55 2,43 2 0,01 0,20 0,00 1,30 2,15 3,01 1,20 3 0,12 0,82 0,00 0,60 1,11 2,51 1,30 4 0,51 0,40 0,00 0,15 1,30 1,41 1,82 5 Ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,36 g/ kg BB 0,00 0,20 0,00 0,81 2,60 1,55 2,78 (mean+SD) 0,12+0,21 0,64+0,60 0,00+0,00 0,72+0,41 1,67+0,66 2,20+0,69 1,90+0,69 1 0,70 0,55 0,00 1,05 1,82 1,78 2,95 2 0,85 0,65 0,00 1,72 1,95 2,75 2,64 3 0,40 1,10 0,15 1,10 1,90 1,35 3,70 4 0,55 0,15 0,00 1,90 1,15 2,38 2,15 5 Ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,72 g/kg BB 0,25 0,20 0,00 1,30 1,35 3,40 1,80 (mean+SD) 0,55+0,23 0,53+0,38 0,03+0,06 1,41+0,37 1,63+0,36 2,33+0,80 2,65+0,73

Data volume urin kumulatif menggambarkan kenaikan volume urin secara keseluruhan selama waktu pengamatan. Data volume urin kumulatif (mean+SD) selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 11. Data volume urin kumulatif jam ke 1-12, urin kumulatif jam ke 12-24 dan urin kumulatif jam ke 1-24 tiap waktu pengamatan (mean+SD) tersaji Tabel 2.

0 2 4 6 8 10 12 0 5 10 15 20 25

Waktu pengamatan (jam ke-)

V o lu me ur in k u mu la ti f (m l)

kontrol positif (furosemid 21,6 mg/kg BB) kontrol negatif (suspensi PVP 5% 2,5 ml/200 g BB) ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,18 g/kg BB ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,36 g/kg BB ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,72 g/kg BB

Tabel 2. Volume Urin Kumulatif1-12, Urin Kumulatif12-24,Urin Kumulatif1-24 (ml) tiap Waktu Pengamatan (ml) (mean+SD) (n=5)

No Perlakuan Urin Kum 1-12 (ml) Urin Kum 12-24 (ml) Urin kum 1-24 (ml) 1 Kontrol Positif 21,6mg/ kg BB 8,90+0,70 2,85+0,93 11,75+1,24 2 Kontrol Negatif 2,5 ml/ 200g BB 4,79+0,35 1,95+0,48 6,74±0,70

3 Ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,18g/ kg BB

6,26+1,55 3,15+1,21 9,41+2,02

4 Ekstrak etanol daun gandarasa dosis 0,36g/ kg BB

4,45+0,77 1,90+0,69 6,36+1,41

5 Ekstrak etanol daun gandarasa dosis 0,72,g/ kg BB

5,69+0,91 2,64+0,73 8,33+1,49

Urin kum = urin kumulatif

Gambar 5. Kurva Hubungan Waktu Pengamatan (Jam) Terhadap Volume Urin Kumulatif (ml) setelah Perlakuan pada Tikus Putih Jantan Wistar.

.Urin kumulatif 1-12 menggambarkan kenaikan volume urin pada jam ke 1-12. Hasil ANAVA satu jalan menunjukan perbedaan yang bermakna (p=0,000). Hasil uji LSD, kontrol negatif berbeda bermakna dengan kontrol positif dan ekstrak etanol daun gandarusa 0,18 g/kg BB. Ini menunjukkan bahwa kontrol positif dan ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,18 g/kg BB mampu meningkatkan volume urin secara bermakna pada jam ke 1-12.

Urin kumulatif 12-24 menggambarkan kenaikan volume urin pada jam ke 12-24. Hasil ANAVA satu jalan menunjukan tidak ada perbedaan yang bermakna dengan kontrol positif (p=0,113). Hal ini berarti pada jam 12-24 sudah tidak ada kenaikan volume urin lagi (kemungkinan karena pada jam ke 12-24 furosemid maupun ekstrak etanol daun gandarusa sudah terekskresi).

Urin kumulatif 1-24 menggambarkan kenaikan volume urin secara keseluruhan yaitu pada jam ke 1-24. Hasil uji statistik data terdistribusi normal, sedangkan homogenitas varian tidak sama. Kemudian data ditransform ke dalam bentuk Lag (penurunan) sehingga dihasilkan data yang homogenitasnya sama. Dari hasil ANAVA satu jalan menunjukan perbedaan yang bermakna (p=0,000). Hasil uji LSD, kontrol negatif berbeda bermakna dengan kontrol positif. Hal ini berarti furosemid mempunyai efek diuretik pada jam ke 1-24 karena mampu meningkatkan volume urin. Sedangkan ekstrak etanol daun gandarusa tidak memiliki efek diuretik secara keseluruhan karena tidak ada perbedaan yang bermakna dengan kontrol negatif, sehingga tidak mampu menaikkan volume urin.

Adanya khasiat sebagai diuretik dari ekstrak etanol daun gandarusa diketahui dengan membandingkan AUC (Area Under the Curve) volume urin tiap

waktu pengamatan dari tiap kelompok perlakuan ekstrak etanol daun gandarusa dengan AUC kontrol negatif. Semakin besar AUCnya berarti semakin besar volume urin yang dihasilkan. Dari hasil ini dapat diketahui apakah ekstrak etanol daun gandarusa mempunyai kemampuan menaikkan volume urin atau tidak. Data AUC1-12, AUC12-24 dan AUC1-24 urin tiap waktu pengamatan dari masing-masing perlakuan (mean+SD) dapat dilihat pada Tabel 3 dan data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 8.

Tabel 3. AUC1-12, AUC12-24 dan AUC1-24 Urin tiap Waktu Pengamatan dan Persen daya Diuretik (mean+SD) (n=5)

No Perlakuan AUC1-12 (ml.jam) AUC12-24 (ml.jam) AUC1-24 (ml.jam) % Daya Diuretik 1 Kontrol Positif 21,6 mg/kg BB 16,76+1,69 26,30+6,65 44,02+6,95 47,67+23,4 2 Kontrol Negatif 2,5 ml/ 200g BB 9,82+0,81 19,76+4,90 29,78+5,17 -

3 Ekstrak etanol daun gandarusa

dosis 0,18 g/kg BB

13,79+3,09 30,28+8,14 44,08+8,78 47,98+29,4 4 Ekstrak Etanol daun

gandarusa dosis 0,36 g/kg BB

12,45+2,00 25,99+2,52 38,45+3,35 29,06+11,2 5 Ekstrak Etanol daun

gandarusa dosis 0,72 g/kg BB

Tabel 4. Data Nilai Signifikan AUC1-12, AUC12-24, dan AUC1-24 antar Kelompok Perlakuan dari Uji LSD

Nilai Signifikansi AUC Kelompok I II III IV V I 0,000* 0,049* 0,006* 0,151 II 0,011 0,077 0,003* III 0,355 0,554 IV 0,137 1-12 V I 0,069 0,256 0,928 0,494 II 0,006* 0,083 0,017 III 0,222 0,642 IV 0,440 12-24 V I 0,001* 0,988 0,158 0,856 II 0,001* 0,034* 0,002* III 0,154 0,845 IV 0,214 1-24 V * = berbeda signifikan p < 0,05

Kelompok I = kontrol positif (furosemid 21,6 mg/kg BB) II =kontrol negatif (suspensi PVP 2,5 ml/200g BB) III =ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,18 g/kg BB IV =ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,36 g/kg BB V =ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,72 g/kg B

Harga AUC1-12 dapat digunakan untuk melihat efek diuretik pada jam ke 1-12. Dari hasil uji ANAVA satu jalan diperoleh data berbeda bermakna (p = 0,001). Hal ini berarti pemberian ekstrak etanol daun gandarusa pada jam ke 1-12 sudah menunjukkan adanya pengaruh terhadap kenaikan volume urin pada hewan uji. Hasil uji LSD yang diperoleh menunjukkan bahwa kontrol negatif berbeda bermakna dengan kontrol positif, ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,18 g/kg BB dan dosis 0,72 g/kg BB. Hal ini berarti, pada kontrol positif dan kedua dosis ekstrak etanol tersebut mempunyai efek sebagai diuretik secara bermakna pada jam ke 1-12. Sedangkan ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,36 g/kg BB tidak menunjukan perbedaan yang bermakna dengan kontrol negatif (tidak menunjukkan efek diuretik pada jam 1-12).

AUC12-24 dapat digunakan untuk melihat efek diuretik pada jam ke 12-24. hasil ANAVA satu jalan diperoleh data tidak berbeda bermakna (p = 0,056). Hal ini berarti, pemberian ekstrak etanol daun gandarusa (Justicia gendarussa Burm. F) pada jam ke 12-24 tidak berpengaruh terhadap kenaikan volume urin pada hewan uji. Hasil uji LSD yang diperoleh menunjukkan bahwa kontrol negatif berbeda bermakna dengan ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,18 g/kg BB dan dosis 0,72 g/Kg BB yang berarti pada dosis tersebut mempunyai efek diuretik secara bermakna pada jam ke 12-24 dan tidak ada perbedaan yang bermakna dengan kontrol positif, ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,36 g/kg BB. Hal ini mungkin dikarenakan pada jam ke 12-24 furosemid dan ekstrak etanol pada dosis tersebut sudah terekskresi (tidak menghasilkan efek diuretik lagi). Dengan

kata lain, ekskresi urin pada jam 12-24 sudah normal kembali. Efek diuretik ekstrak etanol daun gandarusa pada jam ke 1-24 dapat dilihat

dengan membandingkan AUC kelompok perlakuan ekstrak etanol daun gandarusa dengan AUC kontrol negatif pada jam ke 1-24. Hasil ANAVA terhadap AUC1-24

menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p = 0,005). Hasil uji LSD menunjukkan bahwa kelompok yang berbeda bermakna dengan kontrol negatif adalah kelompok perlakuan dengan pemberian furosemid (kontrol positif) dan pemberian ekstrak etanol daun gandarusa dosis 0,18 g/kg BB, dosis 0,36 g/kg BB dan dosis 0,72 g/Kg BB. Hal ini berarti, kontrol positif dan ketiga dosis tersebut mempunyai efek diuretik secara bermakna pada jam ke 1-24.

Dari data AUC1-24 yang diperoleh, dapat dilakukan perhitungan persen daya diuretik purata AUC1-24 tiap kelompok perlakuan terhadap kontrol negatif

yang terdapat pada Tabel 3. Dari tabel tersebut, dapat dilihat persen daya diuretik yang dihasilkan oleh ekstrak etanol daun gandarusa. Hasil uji statistik data terdistribusi normal, sedangkan homogenitas varian tidak sama. Kemudian data ditransform kedalam bentuk logaritma sehingga dihasilkan data yang homogenitasnya sama. Hasil ANAVA terhadap persen daya diuretik menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang bermakna (p = 0,002). Hal ini berarti daya diuretik yang dihasilkan ketiga dosis ekstrak etanol daun gandarusa tidak sama secara statistik dengan daya diuretik kontrol positif (furosemid). Contoh perhitungan persen daya diuretik dapat dilihat pada Lampiran 14. Hasil ANAVA dan uji Least Significant Difference LSD selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 16.

Untuk melihat pengaruh dosis terhadap efek diuretik yang dihasilkan dengan membandingkan nilai AUC antar dosis. Pada AUC1-12 perbandingan antar dosis ada perbedaan yang bermakna pada dosis 0,18 g/ kg BB dengan dosis 0,72 g/ kg BB (p=0,001). Hal ini menunjukkan bahwa efek diuretik yang dihasilkan pada jam ke 1-12 dipengaruhi oleh kenaikan dosis. Pada AUC12-24 perbandingan antar dosis tidak berbeda bermakna pada dosis 0,18 g/ kg BB dengan dosis 0,36 g/ kg BB dan dosis 0,72 g/ kg BB (p=0,056). Hal ini menunjukkan bahwa efek diuretik yang dihasilkan pada jam ke 12-24 tidak dipengaruhi oleh kenaikan dosis. Pada AUC1-24 ada perbedaan yang bermakna pada dosis 018, g/ kg BB dengan dosis 0,36 g/ kg BB dan dosis 0,72 g/ kg BB (p=0,005). Hal ini berarti efek diuretik yang dihasilkan pada jam ke 1-24 dipengaruhi oleh kenaikan dosis.

Dari penelitian sebelumnya (Sari, 2006), telah dilakukan uji efek diuretik infusa pada daun gandarusa dengan dosis 1,25 g/ kg BB mampu memberikan

efek diuretik pada tikus putih jantan galur wistar sebesar (73,53 + 10,45) %. Sedangkan dari hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, diketahui bahwa ekstrak etanol daun gandarusa dengan dosis 0,18 g/ kg BB, dosis 0,36 g/ kg BB dan dosis 0,72 g/ kg BB mampu memberikan efek diuretik pada tikus putih jantan galur Wistar, dengan daya diuretik sebesar (47,98 ± 29,49), (29,06 ± 11,24), (45,44 ± 13,93) %. Hal ini berarti efek diuretik yang dihasilkan pada infusa lebih besar dibanding ekstrak etanol daun gandarusa. Efek diuretik infusa lebih besar mungkin disebabkan senyawa yang berkhasiat sebagai diuretik sangat mudah larut dalam pelarut yang kepolarannya tinggi. Dalam hal ini, air adalah pelarut yang sangat polar dan hanya senyawa-senyawa yang polar saja yang dapat larut didalamnya. Sedangkan pada ekstrak etanol daun gandarusa tidak hanya senyawa polar saja yang tersari, namun senyawa semi polar dan non polar juga ikut tersari. Kemungkinan, senyawa polar yang diberikan pada dosis yang sama lebih sedikit dibanding dengan infusa. Sehingga efek yang diinginkan yaitu untuk menaikan volume urin menjadi berkurang.

BAB IV

Dokumen terkait