• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Hasil Pemodelan 2-D

1. Hasil Penampang 2-D Lintasan 1

Gambar 4.1 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 1

29 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 1 dengan presentasi kesalahan sebesar 32.1%.

Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 249 – 19908 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 1 mengandung mineral bornite yang merupakan salah satu kelompok mineral sulfida yang ditandai dengan warna hijau tua dengan nilai chargeabilitasnya yaitu 6.25 msec.

2. Hasil Penampang 2-D Lintasan 2

Gambar 4.2 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 2

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 2 dengan presentasi kesalahan sebesar 29.4%.

Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 122 – 73470 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 2 mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.

30 3. Hasil Penampang 2-D Lintasan 3

Gambar 4.3 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 3

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 3 yang memiliki presentasi kesalahan sebesar 11.0%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 61.7 - 11652 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.0 - 131 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 3 ini mengandung mineral stibinite yang ditandai dengan warna merah – ungu.

4. Hasil Penampang 2-D Lintasan 4

Gambar 4.4 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 4

31 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 4 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 41.9%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 210 - 23647 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 4 mengandung batuan shale dengan nilai chargeabilitias 81.3 yang ditandai dengan warna merah.

5. Hasil Penampang 2-D Lintasan 5

Gambar 4.5 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 5

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 5 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 28.6%. Pada daerah tersebut ditemukan batuan jenis granite yang memiliki nilai resistivitas 1141 Ωm dan nilai chargeabilitas 44.1 msec.

32 6. Hasil Penampang 2-D Lintasan 6

Gambar 4.6 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 6

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 6 dengan presentasi kesalahan yang didapatkan sebesar 15.4%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 216 - 18513 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 6 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.

7. Hasil Penampang 2-D Lintasan 7

Gambar 4.7 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 7

33 Gambar di atas menunjukan penampang model 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 7 dengan presentasi kesalahan sebesar 11.9%.

Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 15.1 - 32679 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar 3.29 – 94.5 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 7 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.

8. Hasil Penampang 2-D Lintasan 8

Gambar 4.8 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 8

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 8 dengan presentasi kesalahan sebesar 27.9%.

Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 269 - 33800 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.0 – 131 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 8 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.

34 9. Hasil Penampang 2-D Lintasan 9

Gambar 4.9 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 9

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 9 dengan presentasi kesalahan sebesar 31.6%.

Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 283 - 22942 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -91.6 – 143 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 9 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.

10. Hasil Penampang 2-D Lintasan 10

Gambar 4.10 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 10

35 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 10 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 9.5%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 151 - 12517 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -94.9 – 47.7 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 10 mengandung mineral bornite yang ditandai dengan warna kuning – coklat dengan nilai

chargeabilitas 6.25 msec.

11. Hasil Penampang 2-D Lintasan 11

Gambar 4.11 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 11

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 11 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 12.2%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 388 - 12310 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -71.3 – 117 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 11 mengandung mineral kalkopirit yang ditandai dengan warna biru kehijauan – hijau muda dengan nilai chargeabilitas 9.58 msec.

36 12. Hasil Penampang 2-D Lintasan 12

Gambar 4.12. Hasil penampang 2-D (atas) resistivitas dan (bawah) chargeabilitas lintasan 12

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 12 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 21.5%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 120 - 10349 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.0 – 104 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 12 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.

13. Hasil Penampang 2-D Lintasan 13

Gambar 4.13 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 13

37 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 13 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 36.0%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 135 - 11590 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.0 – 133 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 13 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.

14. Hasil Penampang 2-D Lintasan 14

Gambar 4.14 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 14

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 14 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 36.8%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 17.0 - 53000 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 14 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.

38 15. Hasil Penampang 2-D Lintasan 15

Gambar 4.15 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 15

Gambar di atas menunjukan penampang model 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 15 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 34.0%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 65.1 - 12073 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 15 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.

16. Hasil Penampang 2-D Lintasan 16

Gambar 4.16 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 16

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 16 dengan presentasi kesalahan yang didapat

39 sebesar 18.8%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 97.3 - 7673 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -94.7 – 52.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 16 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.

17. Hasil Penampang 2-D Lintasan 17

Gambar 4.17 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 17

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 17 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 15.80%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 248 - 17264 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 17 mengandung batuan shale dengan nilai resistivitasnya yaitu 248 Ωm dan nilai chargeabilitasnya yaitu 81.3 msec.

40 18. Hasil Penampang 2-D Lintasan 18

Gambar 4.18 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 18

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 18 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 19.2%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 247 - 6113 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 18 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.

19. Hasil Penampang 2-D Lintasan 19

Gambar 4.19 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 19

41 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 19 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 19.7%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 353 - 5460 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -91.4 – 150 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 19 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.

20. Hasil Penampang 2-D Lintasan 20

Gambar 4.20 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 20

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 20 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 39.3%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 245 - 20219 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.3 - 123 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 20 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.

42 21. Hasil Penampang 2-D Lintasan 21

Gambar 4.21. Hasil penampang 2-D (atas) resistivitas dan (bawah) chargeabilitas lintasan 21

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 21 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 42.4%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 76.3 - 8158 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.6 – 84.2 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 21 mengandung mineral sulfida jenis kalkopirit yang ditandai dengan warna hijau tua – hijau lumut dengan nilai chargeabilitas 8.00 msec.

22. Hasil Penampang 2-D Lintasan 22

Gambar 4.22 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 22

43 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 22 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 48.8%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 64.0 - 20983 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -91.6 – 144 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 22 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.

23. Hasil Penampang 2-D Lintasan 23

Gambar 4.23 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 23

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 23 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 32.4%. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 23 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.

44 24. Hasil Penampang 2-D Lintasan 24

Gambar 4.24 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 24

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 24 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 37.0%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 64.7 – 12880 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.5 – 87.6 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 24 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.

25. Hasil Penampang 2-D Lintasan 25

Gambar 4.25 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 25

45 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 25 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 29.1%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 36.8 – 40449 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -91.4 – 139 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 24 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.

26. Hasil Penampang 2-D Lintasan 26

Gambar 4.26 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 26

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 26 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 34.4%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 661 - 18656 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 26 mengandung mineral bornite yang ditandai dengan warna hijau tua – hijau lumut dengan nilai chargeabilitas 6.25 msec.

46 27. Hasil Penampang 2-D Lintasan 27

Gambar 4.27 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 27

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 27 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 23.5%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 437 - 8776 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.0 – 131 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 24 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.

28. Hasil Penampang 2-D Lintasan 28

Gambar 4.28 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 28

47 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 28 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 19.1%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 1062 - 7891 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar 10.9 - 238 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 24 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.

29. Hasil Penampang 2-D Lintasan 29

Gambar 4.29 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 29

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 29 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 16.8%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 281 - 8687 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 29 mengandung mineral bornite yang ditandai dengan warna hijau pekat – hijau lumut dengan nilai chargeabilitas 6.25 msec.

48 30. Hasil Penampang 2-D Lintasan 30

Gambar 4.30 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 30

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 30 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 15.6%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 447 - 6913 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -6.47 - 148 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 30 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna hijau - ungu.

31. Hasil Penampang 2-D Lintasan 31

Gambar 4.31 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 31

49 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 31 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 25.3%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 501 - 30772 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -18.8 - 183 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 31 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna hijau - ungu.

32. Hasil Penampang 2-D Lintasan 32

Gambar 4.32 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 32

Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 32 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 19.9%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 519 - 84810 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -50.9 - 147 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 24 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna kuning - ungu.

50 4.1.2 Hasil Pemodelan 3-D

1. Penampang 3-D Sebaran Sulfida

Gambar 4.33 Hasil Penampang 3-D Sebaran Sulfida

Gambar diatas menunjukan hasil penampang 3-D sebaran sulfida dimana dari hasil tersebut kita bias mengetahui zona mineralisasi dan sebaran sulfida jenis apa yang terdapat di daerah penelitian.

2. Penampang Sebaran Sulfida per Kedalaman

Gambar 4.34 Hasil Penampang Sebaran Sulfida Per Kedalaman

51 Gambar di atas menunjukan hasil penampang 3-D chargeabilitas dimana ada 4 buah layer yang dihasilkan dari 3 kali iterasi dengan presentasi kesalahan (error) sebesar 43.7 %. Pada gambar 4.34 ke 4 buah layer tersebut menunjukan sebaran mineral sulfida per kedalaman yaitu dari 0.0 – 49.9 m.

4.2 Pembahasan

Pembentukan mineral di suatu wilayah biasanya dipengaruhui oleh proses magmatik ataupun adanya kemenerusan pola struktur kekar dan sesar yang memotong daerah penelitian. Secara geologi daerah peneltian tersusun atas batuan gamping bercampur dengan batuan tufa vulkanik yang mengakibatkan adanya proses mineralisasi di daerah tersebut sehingga kemungkinan terdapatnya kandungan mineral di daerah penelitian sangatlah besar. Penelitian untuk mencari kandungan mineral dapat dilakukan dengan menggunakan metode resistivitas dan polarisasi terimbas, yang kemudian data yang didapat diolah dengan menggunakan metode inversi Smoothness Constrain Least Square yang terdapat pada program komputer res2dinv.

Setalah dilakukan inversi, hasil yang didapat kemudian diinterpretasikan dengan melihat nilai resistivitas dari batuan , untuk menganalisa secara lebih lanjut kandungan apa yang terdapat di daerah penelitian, kita juga harus melihat nilai chargeabilitas dari beberapa batuan dan mineral karena pada umumnya batuan merupakan material yang terbentuk dari beberapa mineral dalam bentuk yang padat. Setelah mendapatkan hasil pemodelan 2-D, untuk melihat kandungan sulfida secara lebih jelas kita membuat pemodelan 3-D

52 agar dapat melihat seberapa luas sebaran sulfida di daerah penelitian dengan menggunakan software voxler 3.

Berdasarkan hasil yang telah didapatkan, batuan penyusun daerah penelitian berdasarkan nilai resistivitas yang didapat yaitu basalt, shale dan granite dengan zona mineralisasi di daerah tersebut merupakan zona

mineralisasi rendah sampai sedang kerena memiliki nilai chargeabilitas berkisar 0 – 250 msec. Keberadaan mineral sulfida di daerah penelitian dapat kita lihat dari adanya intrusi fluida hidrotermal yang ditandai dengan tingginya nilai resistivitas di daerah tersebut yaitu > 2000 Ωm.

Pada daerah penelitian jenis mineral sulfida yang banyak terkandung di daerah tersebut adalah mineral stibnite. Mineral stibnite adalah salah satu kelompok mineral sulfida yang banyak terdapat di alam dan umumnya bersifat logam (Nawir,2015). Mineral ini memiliki karakteristik kelistrikan yang bersifat unik dimana nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapat bersifat linier positif yaitu nilai resistivitas dan chargeabilitasnya sama besar.

Sifat linier positif ini pun merupakan karakteristik dari pelapukan mineral sulfida. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan ada dua model endapan pada mineral stibnite yaitu model endapan boulder dan model endapan tudung. Model endapan mineral ini berbeda-beda di setiap lintasannya bergantung pada keberadaan anomali di setiap lintasan. Mineral ini terbentuk pada zona mineralisasi rendah – sedang yang disebabkan oleh adanya alterasi propilitik dan silsifikasi.

53 Pada lintasan 2, 7, 14, 15, 16, 23 dan 24 mineral ini terbentuk pada zona mineralisasi rendah dimana model endapan stibnitenya yaitu endapan stibnite boulder. Model endapan ini merupakan endapan stibnite yang terlepas dari batuan induk (sekunder) yang letak anomalinya biasanya berada di dekat permukaan. Berbeda dengan 7 lintasan sebelumnya pada lintasan 3 dan 13 mineral stibnite ini terbentuk pada zona mineralisasi sedang yang disebabkan karena adanya alterasi propilitik dan alterasi silsifikasi. Pada alterasi propilitik zona tersebut ditandai dengan nilai resistivitas yang tinggi yang disebabkan karena adanya mineral klorit yang berasosiasi dengan nilai chargeabilitas sedang – tinggi. Sedangkan pada zona alterasi silsifikasi ditandai dengan nilai resitivitas yang sedang – tinggi yang disebabkan karena adanya kekompakan batuan dan mineral silika yang berasosiasi dengan nilai chargeabilitas yang sedang – tinggi.

Selanjutnya pada lintasan 8, 9, 12, 18, 20, 22, 25, 27, 28, 30 dan 31 mineral stibnite terbentuk pada zona mineralisasi sedang dengan model endapan stibnitenya yaitu endapan stibnite tidung. Endapan ini sering di interpretasikan sebagai anomali utama karena keberadaannya masih menerus kebawah. Model endapan ini juga merupakan intrusi pembawa mineral sulfida pada batuan metamorf (sekis) berupa vein (Nawir, 2012). Zona mineralisasi yang terbentuk pada 10 lintasan tersebut disebabkan karena adanya alterasi propilitik dan silsifikasi. Berbeda dengan ke 20 lintasan sebelumnya pada lintasan 6, 19 dan 32 ada 2 model endapan stibnite yang berada pada lintasan tersebut yaitu endapan stibnite boulder dan tidung.

54 Pada lintasan 6, endapan stibnite boulder berada pada meter ke 50 – 75 sedangkan untuk endapan stibnite tidung berada pada meter 195 – 225. Zona mineralisasi yang terbentuk pada lintasan tersebut adalah zona mineralisasi rendah.

Pada lintasan 19, endapan stibnite boulder berada pada meter 125 – 175 sedangkan untuk endapan stibnite tidung berada pada meter 200 – 225. Zona mineralisasi yang terbentuk pada lintasan tersebut adalah zona mineralisasi sedang yang disebabkan karena adanya alterasi silsifikasi.

Pada lintasan 32, endapan stibnite boulder berada pada meter 50 -75 sedangkan untuk endapan stibnite tidung berada pada meter 150 -175 dimana zona mineralisasi yang terbentu pada lintasan tersebut adalah zona mineralisasi sedang yang disebabkan karena adanya alterasi silsifikasi.

Pada daerah penelitian tidak hanya terdapat mineral stibnite yang merupakan mineral persenyawaan sulfida, tetapi ada mineral – mineral lain yang diidentifikasi berada pada daerah penelitian. Mineral – mineral persenyawaan sulfida lainnya yaitu bornite dan kalkopirit.

Bornite merupakan persenyawaan sulfida yang merupakan salah satu

mineral bijih tembaga yang lebih rendah dengan rumus kimia Cu5FeS4.

Mineral ini tersusun atas 11.31% besi, 63.31% copper dan 25.56% sulfida.

Berdasarkan batuan/material penyusun daerah penelitian batuan pembawa mineral ini adalah batuan beku berupa basalt yang telah mengalami metamorfosa dan granite. Mineral bornite ini biasanya mengindikasikan keberadaan perak yang tersebar dialam. Nilai chargeabilitas mineral bornite

55 ini pada umumnya yaitu 6.3 msec, namun pada penelitian ini mineral bornite di daerah penelitian memiliki nilai chargeabilias 6.25 dan 6.98 msec.

Keberadaan mineral ini ada pada zona mineralisasi rendah karena memiliki nilai chargeabilitas yang <100 msec. Mineral ini terdapat pada lintasan 1, 10 dan 29.

Jenis mineral sulfida yang terkandung pada daerah penelitian selanjutnya yaitu mineral kalkopirit. Mineral kalkopirit ini memiliki nilai chargeabilitas 9.4 msec. Mineral ini terdapat pada lintasan 11 dan 21. Pada lintasan 11 mineral ini terbentuk pada zona mineralisasi sedang yang disebabkan karena adanya alterasi silsifikasi. Pada lintasan ini nilai resitivitas dari mineral kalkopirit adalah 388 Ωm dengan nilai chargeabilitasnya yaitu 117 msec. Berbeda dengan lintasan 11 pada lintasan 21 mineral ini terbentuk pada zona mineralisasi rendah dengan nilai chargeabilitasnya yaitu 8.00 msec.

Selain mineral persenyawaan atau kelompok sulfida, ada juga batuan-batuan lain yang terbentuk pada daerah tersebut yaitu batuan-batuan shale dan granit.

Batuan tersebut adalah batuan dasar penyusun daerah penelitian yang banyak tersebar di lintasan 4, 5 dan 17.

Berdasarkan penjelasan di atas maka hipotesa awal yang menyatakan bahwa adanya penyebaran kandungan mineral sulfida di daerah penelitian adalah benar. Penyebaran mineral sulfida di daerah tersebut dapat dilihat dari pencitraan 3-D yang di dapatkan seperti pada gambar 3.33 dimana ada 2 zona mineralisasi yang terbentuk pada daerah penelitian yaitu zona mineralisasi rendah dan zona mineralisasi sedang yang di cerminkan dengan warna kuning

56 – hijau. Berdasarkan nilai chargeabilitas yang didapatkan sebaran sulfida di daerah penelitian merupakan kandungan sulfida massif karena kandungan sulfida yang terdapat di daerah tersebut < 2 % yang ditandai dengan rendahnya nilai chargeabilitas yang di dapat yaitu berkisar 0 – 250 msec. Pada gambar tersebut pun terlihat bahwa sebaran sulfida yang didapatkan berada pada kedalaman 0 - 20 meter, untuk membuktikan hal tersebut maka dibuatlah penempang 3-D per kedalaman seperti pada gambar 3.34.

Pada gambar tersebut sebaran sulfida berdasarkan per-kedalamannya dibagi ke dalam 4 layer yaitu pada layer 1 dengan kedalaman 0 – 10 m, anomali yang didapatkan sangat banyak dengan nilai chargeabilitas yang bervariasi. Pada beberapa bagian sebaran mineral sulfida di daerah tersebut memiliki nilai chargeabilitas yang tinggi seperti yang ditunjukan oleh gambar 3.33 dan 3.43, hal tersebut dikarenakan adanya kandungan mineral stibnite yang mengakibatkan nilai chargeabilitas yang didapat sangat besar. Pada layer 2 dengan kedalaman 10 – 21.5 m anomali yang didapatkan mulai menghilang sedikit demi sedikit namun ada beberapa anomali yang memiliki nilai chargeabilitas yang tinggi yaitu berada pada letak yang sama dengan

Pada gambar tersebut sebaran sulfida berdasarkan per-kedalamannya dibagi ke dalam 4 layer yaitu pada layer 1 dengan kedalaman 0 – 10 m, anomali yang didapatkan sangat banyak dengan nilai chargeabilitas yang bervariasi. Pada beberapa bagian sebaran mineral sulfida di daerah tersebut memiliki nilai chargeabilitas yang tinggi seperti yang ditunjukan oleh gambar 3.33 dan 3.43, hal tersebut dikarenakan adanya kandungan mineral stibnite yang mengakibatkan nilai chargeabilitas yang didapat sangat besar. Pada layer 2 dengan kedalaman 10 – 21.5 m anomali yang didapatkan mulai menghilang sedikit demi sedikit namun ada beberapa anomali yang memiliki nilai chargeabilitas yang tinggi yaitu berada pada letak yang sama dengan

Dokumen terkait