BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.5 Mekanisme Pengukuran Batuan
Pada metode polarisasi terimbas ada dua mekanisme pengukuran mineralisasi batuan, dimana mekanisme tersebut sama-sama terjadi melalui proses elektrokimia. Adapun dua mekanisme tersebut antara lain :
12 1. Polarisasi Membran
Polarisasi membran adalah suatu fenomena yang disebabkan adanya clays yang bermuatan negatif pada batuan dengan pori yang kecil. Polarisasi
ini juga sering disebut sebagai polarisasi penyempitan pori. Jika suatu medan listrik diaplikasikan di permukaan ini, maka ion positif pada batuan tersebut akan mengalami penyimpangan dan menarik ion negatif ke dalam ion positif, yang kemudian ion negatif tersebut akan terperangkap. Jika hal tersebut terjadi pembentukan konsentrasi pada batuan akan menghalangi jalannya arus yang mengalir. Sedangkan jika medan tersebut dihapus, arus yang mengalir akan kembali ke kesetimbangan awal. (Milson,2003)
Gambar 2.3 Polarisasi Membran (a) Akibat Penyempitan Pori (b) Akibat Mengandung Mineral Lempung (Reynold, 1997)
2. Polarisasi Elektroda
Polarisasi elektroda adalah suatu fenomena yang tidak hanya terjadi pada elektroda buatan namun terjadi dimanapun kandungan mineral di bawah permukaan berada. Dalam polarisasi elektroda ini derajat polarisasi ditentukan oleh luas permukaan. Keberadaan mineral logam dalam polarisasi elektroda dapat menghalangi aliran arus induksi, sehingga muatan akan terpolarisasi di bidang batas dan mengalami hambatan elektrokimia seperti
(a) (b)
13 gambar 2.2 sehingga menimbulkan beda potensial lebih atau disebut dengan overvoltage. Besarnya overvoltage bergantung pada besar dan lamanya arus yang melewatinya. (Milson,2003)
Gambar 2.4 Polarisasi Elektroda (a) Batuan yang Berisi Larutan (b) Batuan yang Mengandung Mineral (Telford, 1990)
2.6 Pengukuran Metode Polarisasi Terimbas
Secara umum pengukuran yang dilakukan pada metode polarisasi terimbas dilakukan dengan dua cara yaitu Pengukuran Time Domain Effect dan Frequency Domain Effect. Namun pada penelitian ini pengukuran polarisasi terimbas yang dilakukan yaitu pengukuran time domain effect yang digunakan untuk mencari nilai chargeabilitas dari suatu batuan atau mineral.
Time Domain Effect adalah pengukuran polarisasi dengan menghitung
nilai peluruhan potensial pada waktu tunda yang telah ditentukan. Pengukuran ini terjadi ketika suatu arus yang stabil mengalir pada permukaan tiba-tiba dihentikan, pada saat arus tersebut dimatikan akan terlihat bahwa tegangan tersebut tidak langsung turun ke nol melainkan meluruh (decay) secara perlahan â lahan menuju nol. Tegangan yang terukur saat arus diinjeksikan disebut tegangan primer (Vp) sedangkan tegangan yang terukur saat arus dimatikan disebut dengan tegangan sekunder (Vs).
(a) (b)
14 Gambar 2.5 Fenomena Induksi Polarisasi (Telford,1990) Parameter yang dihitung pada pengukurun ini yaitu nilai chargeabilitas semu batuan (M). Nilai chargeabilitas semu ini menunjukan seberapa lama efek polarisasi yang terjadi menghilang sesaat setelah arus dimatikan. Nilai ini dihitung bergantung pada jenis bahan dan selang waktu pengaliran arus.
Secara matematis chargeabilitas semu ini dapat dirumuskan seperti persamaan di bawah ini :
đ = 1
đ ⍠đ(đĄ)đĄđĄ2
1 đđĄ (2.6) Dimana satuan dari chargeabilitas semu adalah milidetik (m.sec)
Besar kecilnya nilai chargeabilitas semu yang diukur bergantung pada penyebaran ion-ion menuju mineral â mineral dan pergerakan ion di dalam pore-filling electrolyte. Semakin besar nilai chargeabilitas yang terukur maka
semakin banyak efek polarisasi dalam batuan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa semakin banyak kandungan mineral logam dalam batuan tersebut. Di bawah ini adalah beberapa nilai chargeabilitas dari beberapa jenis mineral dan sulfida. (Milson,2003)
15 Tabel 2.1 Nilai Chargeabilitas Beberapa Mineral (Telford, 1990)
Mineral Chargeabilitas (m.sec)
Tabel 2.2 Nilai Chargeabilitas Beberapa Batuan yang Mengandung Sulfida (Telford, 1990)
2.7 Pemodelan 2-D
Pada pemodelan ini prinsip dasar yang digunakan adalah penginversian data dengan perhitungan logaritma yang berdasarkan pada metode smoothness-constrain-least square. Metode tersebut merupakan suatu
implementasi baru dari teknik optimasi quasi-Newton yang memiliki kecepatan 10 kali lebih cepat dibandingkan dengan metode least-square convensional untuk data yang banyak dengan memory yang digunakan lebih
Nilai Chargeabilitas Batuan yang Mengandung Sulfida
Sulfida pada Batuan Chargeabilitas (m.sec)
20 % Sulfida
16 sedikit. Selain 2 hal tersebut metode inversi ini memiliki bebrapa kelebihan lain yaitu mendukung survei â survei di bawah tanah dan permukaan air, dapat digunakan dengan menggunakan berbagai konfigurasi seperti wenner, schlumberger, dipole-dipole dan konfigurasi lainnya, dan mendukung optimalisasi ketepatan dan perkiraan persegi terkecil.
Secara matematis metode smoothness-constrain-least square dapat dituliskan :
( đ˝đđ˝ + đ˘đš)đ = đ˝đđ (2.7)
Dimana đš = đđĽđđĽđ+ đđ§đđ§đ, F adalah matrik smoothing, đđĽ adalah garis horizontal, đđ§ adalah garis vertikal, J adalah matrix jacobian turunan parsial, u adalah damping factor, d adalah model vektor gangguan dan g adalah vektor
perbedaan.Satu keuntungan dalam penggunaan menggunakan metode ini yaitu metode ini dapat menyesuaikan nilai đđĽ dan đđ§ sesuai dengan tipe data yang digunakan (Loke,2000).
2.8 Pemodelan Geolistrik 3-D
Pada pemodelan 3-D ini prinsip yang digunakan yaitu metode inversi yang menggambarkan dan membagi keadaan bawah tanah dalam bentuk blok 3-D berupa susunan kotak persegi. Susunan tersebut terikat oleh distribusi dari titik datum dan pseudosection dimana pemodelan tersebut akan membuat line saling berpotongan. Pendistribusian ukuran kotak secara otomatis dihasilkan dari program, sehingga jumlah kotak tidak akan melebihi jumlah datum.
17
(a) (b)
Gambar 2.6 Model Blok 3-D (a) Segiempat dengan Elektroda pada Arah Sumbu-X dan Sumbu-Y (b) Puncak Tegak Lurus Horizontal
(Geotomo, 2010)
Diskritisasi model pada suatu program dapat dilakukan dengan 2 cara antara lain :
1. Membagi model menjadi blok-blok kecil yang lebarnya sama dengan jarak terkecil antar elektrodanya
2. Membagi model menjadi beberapa lapisan
18
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini penulis akan membahas mengenai pelaksanaan penelitian mulai dari tempat dan waktu pelaksanaan, diagram alur penelitian sampai kepada hasil akhir yang diinginkan yaitu pemodelan 2-D dan 3-D sebaran sulfida daerah penelitian.
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 5 bulan yaitu dari bulan Februari â Juni 2016. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN), Batan. Data tersebut diperoleh pada penelitian di daerah âxâ di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
3.2 Alat dan Bahan penelitian
Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah :
1. Seperangkat laptop dan software Res2Dinv versi 3.56.22 dan software Voxler 3 untuk melakukan pengolahan data 2-D dan 3-D.
2. Data Geolistrik resistivitas dan polarisasi terimbas dari hasil pengukuran di daerah penelitian.
19 3.3 Tahapan Penelitian
Adapun alur penelitian pada penlitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1 Diagram Alur Penelitian 3.3.1 Input Data Resistivitas dan Polarisasi Terimbas
Pada tahapan ini data yang dimasukan adalah data yang didapat dari hasil penelitian yaitu data resistivitas dan polarisasi terimbas.
Data ini kemudian dimasukan kedalam excel dan sebelum dijalankan pada program Res2dinv data tersebut dimasukan kedalam notepad dengan ketentuan-ketentuan sesuai dengan
20 konfigurasi yang digunakan. Contoh data yang telah dimasukan kedalam notepad adalah seperti dibawah ini :
Gambar 3.2 Input Data dalam Format Notepad
3.3.2 Pemetaan Geologi dan Pemetaan Topografi
Pada tahap ini sebelum melakukan penginputan data pertama-tama kita harus mengetahui dan melakukan pemetaan geologi dan topografi daerah yang akan diteliti, Pemetaan geologi mencangkup batuan penyusun daerah penelitian dan kondisi daerah sekitar. Untuk peta geologi, penulis mendapatkannya dari Batan sebagai acuan untuk interpretasi yang akan dilakukan. Sedangkan untuk pemetaan topografi mencangkup nilai ketinggian di daerah penelitian biasanya digambarkan dengan kontur ketinggian.
21
Gambar 3.3 Peta Topografi Daerah Penelitian (PTBGN, Batan)
3.3.3 Pengolahan dan Survey Data
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder berupa data geolistrik resistivitas dan polarisasin terimbas dengan menggunakan konfigurasi dipole-dipole. Ada 32 lintasan yang digunakan pada saat melakukan penelitian dengan panjang per lintasannya yaitu 325 m. Setiap lintasan memiliki jarak sebesar 50 m dengan jarak masing-masing elektrodanya sejauh 25 m.
Gambar 3.4 Peta Lintasan Penelitian
22 Dari data yang didapat kita belum bisa mengetahui kondisi bawah permukaan daerah penelitian, oleh sebab itu diperlukanlah alat yang digunakan untuk mengolah data tersebut sehingga kita bisa melihat dan mengidentifikasi kandungan yang terdapat didaerah penelitian.
Alat yang kita gunakan untuk mengolah data tersebut adalah salah satu program komputer bernama Res2dinv versi 3.56.22 untuk melakukan pemodelan 2-D dan voxler untuk membuat pemodelan 3-D.
3.3.4 Pengolahan Data
Pengolahan data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu pengolahan data resistivitas dan chargeabilitas semu yang diinversikan dengan menggunakan perangkat lunak Res2dinv untuk mendapatkan tampilan 2-D dari data yang telah diolah. Untuk mengetahui sebaran sulfida didaerah penelitian secara lebih jelas hal yang selanjutnya dilakukan yaitu dengan membuat penampang 3-D dengan menggunakan perangkat lunak Voxler 3.
1. Pre-processing
Tahapan pre-processing ini adalah tahapan awal yang dilakukan sebelum melakukan inversi untuk menghasilkan nilai yang mendekati nilai resistivitas dan chargeabilitas yang sebenarnya. Tahapan awal yang dilakukan yaitu memasukan data yang telah didapat kedalam notepad kemudian menyimpannya dalam format (.dat) ataupun (.txt). Hal tersebut harus diperhatikan
23 karena apabila tidak tersimpan dalam format yang sesuai maka data tersebut tidak akan bisa diolah dengan menggunakan software Res2dinv.
2. Processing
Tahapan processing ini adalah pemprosesan data dengan menggunakan software Res2Dinv dengan tujuan untuk mendapatkan nilai resistivitas dan chargeabilitas sesungguhnya.
Program Res2Dinv sendiri adalah suatu program komputer yang digunakan untuk mencitrakan model 2-D dengan menggunakan data yang didapat dari survey lapangan metode geolistrik resistivitas dan polarisasi terimbas. Adapun langkah-langkah pemprosesan data dengan menggunakan software res2dinv adalah sebagai berikut :
a. Input Data
Pada proses ini data yang dimasukan adalah data yang didapat dari hasil pengukuran resistivitas dan chargeabilitas di lapangan yang telah dimasukan kedalam format yang sesuai.
Data tersebut merupakan nilai resistivitas dan chargeabilitas semu yang disebabkan karena sifat bumi yang heterogen anisotropic atau terdiri atas lapisan - lapisan yang memiliki resistivitas berbeda, sehingga nilai resistivitas yang diperoleh merupakan nilai resistivitas yang mewakili nilai resistivitas seluruh lapisan yang terlalui oleh garis ekuipotensial.
24 b. Edit Data
Pengeditan data ini dilakukan untuk menghilangkan data yang dianggap buruk dan dapat menggangu model yang didapatkan sehingga RMS yang diperoleh bisa semakin kecil.
Besarnya nilai RMS menandakan bahwa proses inversi yang diperoleh semakin halus dan tidak mendekati kondisi bawah permukaan sebenarnya. Nilai RMS adalah nilai yang menunjukan tingkat perbedaan dari pengukuran nilai resistivitas material terhadap niali resistivitas material yang sesungguhnya (Loke,2004). Besar kecilnya nilai RMS dipengaruhi oleh bebrapa faktor yaitu systematic noise, random noise dan gangguan alami.
c. Inversi
Pada proses ini, perangkat lunak res2dinv menggunakan algoritma Least Square saat melakukan proses inversi.
Algoritma Least Square ini sendiri dibagi kedalam 2 macam yaitu :
1. Standart Smoothness-Constrain Least Square Inversion yang digunakan untuk zona dengan batas antar material yang cenderung tidak memiliki kontak yang tajam.
2. Robust Constraint Least Square Inversion, biasanya digunakan untuk zona patahan dan batuan intrusif-lapisan mineral logam (Arisandra,2015).
25 Hasil inversi yang dihasilkan yaitu berupa penampang 2-D dimana penampang tersebut menunjukan distribusi nilai resistivitas dan chargeabilitas material bawah permukaan bumi. Pada saat melakukan inversi sering kali kita melakukan beberapa kali iterasi agar mendapatkan nilai RMSE yang kecil, Hal tersebut dilakukan agar penampang 2-D tersebut mendekati kondisi sebenarnya. Pada penelitian dengan menggunakan konfigurasi dipole-dipole, Besar kecilnya RMSE dipengaruhi oleh kondisi tanah basah dan random noise saat melakukan pengukuran.
d. Interpolasi Penampang Chargeabilitas 2-D menjadi 3-D dengan menggunakan software Voxler.
Pada penelitian ini interpolasi dilakukan untuk melihat sebaran sulfida secara lebih jelas dari pencitraan 2-D menjadi 3-D. Interpolasi sendiri adalah menentukan titik-titik yang sudah diketahui diantara beberapa titik berbeda.
3.3.5 Interpetasi dan Analisis Data
Tahapan interpretasi dan analisis data merupakan tahapan terakhir setelah mendapatkan penampang 2-D dan 3-D yang diinginkan.
Setelah mendapatkan penampang 2-D dari hasil pengolahan, langkah selanjutnya pun menginterpretasikannya dan menganilisinya dengan melihat tabel resistivitas batuan dan chargeabilitas sebagai dasar acuan untuk melihat kandungan sulfida di daerah penlitian.
26 3.4 Kondisi Geologi Daerah Penelitian
Daerah penelitian kali ini terletak di daerah âxâ di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Adapun peta geologi daerah penelitian dapat dilihat di bawah :
Gambar 3.5 Peta Geologi Daerah Penelitian (PPPG Bandung) Berdasarkan peta di atas, daerah penelitian memiliki struktur perbukitan yang tersusun atas batuan metamorf atau batuan malihan yang dicirikan dengan warna biru pada peta tersebut.
Dari keterangan yang didapatkan keadaan bataun metamorf didaerah tersebut ditandai dengan adanya batupasir dan batuan gamping yang bercampur dengan batuan tufa vulkanik. Batuan metamorf ini biasanya terjadi akibat adanya pergerakan lempeng tektonik yang saling bertumbukan. Keberadaan mineral pada batuan ini ditandai dengan adanya mineral metamorfik yaitu andalusit. Proses mineralisasi yang terjadi di daerah penelitian sesuai dengan proses mineralisasi yang terjadi pada
27 batuan ini dimana pada batuan ini proses mineralisasi terjadi akibat adanya kemenerusan pola struktur kekar dan sesar yang memotong daerah penelitian.
28
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan membahas mengenai hasil yang didapatkan dari pengolahan data yang telah dilakukan. Hasil tersebut berupa pencitraan 2D yang kemudian akan dilakukan penginterpretasian berdasarkan data yang didapat dihubungkan dengan tabel resistivitas dan chargeabilitas batuan. Adapun hasil penelitian yang didapatkan akan dijelaskan secara lebih rinci di bawah ini.
4.1 Hasil Penelitian
Adapun hasil penelitian yang didapat berupa pemodelan 2-D dan 3-D sebagai berikut :
4.1.1 Hasil Pemodelan 2-D
1. Hasil Penampang 2-D Lintasan 1
Gambar 4.1 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 1
29 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 1 dengan presentasi kesalahan sebesar 32.1%.
Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 249 â 19908 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 â 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 1 mengandung mineral bornite yang merupakan salah satu kelompok mineral sulfida yang ditandai dengan warna hijau tua dengan nilai chargeabilitasnya yaitu 6.25 msec.
2. Hasil Penampang 2-D Lintasan 2
Gambar 4.2 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 2
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 2 dengan presentasi kesalahan sebesar 29.4%.
Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 122 â 73470 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 â 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 2 mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.
30 3. Hasil Penampang 2-D Lintasan 3
Gambar 4.3 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 3
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 3 yang memiliki presentasi kesalahan sebesar 11.0%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 61.7 - 11652 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.0 - 131 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 3 ini mengandung mineral stibinite yang ditandai dengan warna merah â ungu.
4. Hasil Penampang 2-D Lintasan 4
Gambar 4.4 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 4
31 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 4 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 41.9%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 210 - 23647 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 â 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 4 mengandung batuan shale dengan nilai chargeabilitias 81.3 yang ditandai dengan warna merah.
5. Hasil Penampang 2-D Lintasan 5
Gambar 4.5 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 5
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 5 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 28.6%. Pada daerah tersebut ditemukan batuan jenis granite yang memiliki nilai resistivitas 1141 âŚm dan nilai chargeabilitas 44.1 msec.
32 6. Hasil Penampang 2-D Lintasan 6
Gambar 4.6 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 6
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 6 dengan presentasi kesalahan yang didapatkan sebesar 15.4%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 216 - 18513 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 â 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 6 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.
7. Hasil Penampang 2-D Lintasan 7
Gambar 4.7 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 7
33 Gambar di atas menunjukan penampang model 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 7 dengan presentasi kesalahan sebesar 11.9%.
Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 15.1 - 32679 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar 3.29 â 94.5 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 7 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah â ungu.
8. Hasil Penampang 2-D Lintasan 8
Gambar 4.8 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 8
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 8 dengan presentasi kesalahan sebesar 27.9%.
Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 269 - 33800 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.0 â 131 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 8 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah â ungu.
34 9. Hasil Penampang 2-D Lintasan 9
Gambar 4.9 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 9
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 9 dengan presentasi kesalahan sebesar 31.6%.
Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 283 - 22942 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -91.6 â 143 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 9 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah â ungu.
10. Hasil Penampang 2-D Lintasan 10
Gambar 4.10 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 10
35 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 10 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 9.5%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 151 - 12517 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -94.9 â 47.7 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 10 mengandung mineral bornite yang ditandai dengan warna kuning â coklat dengan nilai
chargeabilitas 6.25 msec.
11. Hasil Penampang 2-D Lintasan 11
Gambar 4.11 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 11
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 11 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 12.2%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 388 - 12310 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -71.3 â 117 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 11 mengandung mineral kalkopirit yang ditandai dengan warna biru kehijauan â hijau muda dengan nilai chargeabilitas 9.58 msec.
36 12. Hasil Penampang 2-D Lintasan 12
Gambar 4.12. Hasil penampang 2-D (atas) resistivitas dan (bawah) chargeabilitas lintasan 12
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 12 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 21.5%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 120 - 10349 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.0 â 104 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 12 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah â ungu.
13. Hasil Penampang 2-D Lintasan 13
Gambar 4.13 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 13
37 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 13 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 36.0%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 135 - 11590 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.0 â 133 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 13 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah â ungu.
14. Hasil Penampang 2-D Lintasan 14
Gambar 4.14 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 14
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 14 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 36.8%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 17.0 - 53000 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 â 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 14 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah â ungu.
38 15. Hasil Penampang 2-D Lintasan 15
Gambar 4.15 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 15
Gambar di atas menunjukan penampang model 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 15 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 34.0%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 65.1 - 12073 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 â 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 15 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah â ungu.
16. Hasil Penampang 2-D Lintasan 16
Gambar 4.16 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 16
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 16 dengan presentasi kesalahan yang didapat
39 sebesar 18.8%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 97.3 - 7673 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -94.7 â 52.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 16 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah â ungu.
17. Hasil Penampang 2-D Lintasan 17
Gambar 4.17 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 17
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 17 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 15.80%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 248 - 17264 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 â 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 17 mengandung batuan shale dengan nilai resistivitasnya yaitu 248 âŚm dan nilai chargeabilitasnya yaitu 81.3 msec.
40 18. Hasil Penampang 2-D Lintasan 18
Gambar 4.18 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 18
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 18 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 19.2%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 247 - 6113 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 â 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 18 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.
19. Hasil Penampang 2-D Lintasan 19
Gambar 4.19 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 19
41 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 19 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 19.7%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 353 - 5460 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -91.4 â 150 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 19 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.
20. Hasil Penampang 2-D Lintasan 20
Gambar 4.20 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 20
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 20 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 39.3%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 245 - 20219 âŚm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.3 - 123 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 20 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.
42 21. Hasil Penampang 2-D Lintasan 21
Gambar 4.21. Hasil penampang 2-D (atas) resistivitas dan (bawah) chargeabilitas lintasan 21
Gambar 4.21. Hasil penampang 2-D (atas) resistivitas dan (bawah) chargeabilitas lintasan 21