BAB II KAJIAN PUSTAKA
2. Polarisasi Elektroda
2.8 Pemodelan Geolistrik 3-D
Pada pemodelan 3-D ini prinsip yang digunakan yaitu metode inversi yang menggambarkan dan membagi keadaan bawah tanah dalam bentuk blok 3-D berupa susunan kotak persegi. Susunan tersebut terikat oleh distribusi dari titik datum dan pseudosection dimana pemodelan tersebut akan membuat line saling berpotongan. Pendistribusian ukuran kotak secara otomatis dihasilkan dari program, sehingga jumlah kotak tidak akan melebihi jumlah datum.
17
(a) (b)
Gambar 2.6 Model Blok 3-D (a) Segiempat dengan Elektroda pada Arah Sumbu-X dan Sumbu-Y (b) Puncak Tegak Lurus Horizontal
(Geotomo, 2010)
Diskritisasi model pada suatu program dapat dilakukan dengan 2 cara antara lain :
1. Membagi model menjadi blok-blok kecil yang lebarnya sama dengan jarak terkecil antar elektrodanya
2. Membagi model menjadi beberapa lapisan
18
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini penulis akan membahas mengenai pelaksanaan penelitian mulai dari tempat dan waktu pelaksanaan, diagram alur penelitian sampai kepada hasil akhir yang diinginkan yaitu pemodelan 2-D dan 3-D sebaran sulfida daerah penelitian.
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 5 bulan yaitu dari bulan Februari – Juni 2016. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN), Batan. Data tersebut diperoleh pada penelitian di daerah “x” di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
3.2 Alat dan Bahan penelitian
Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah :
1. Seperangkat laptop dan software Res2Dinv versi 3.56.22 dan software Voxler 3 untuk melakukan pengolahan data 2-D dan 3-D.
2. Data Geolistrik resistivitas dan polarisasi terimbas dari hasil pengukuran di daerah penelitian.
19 3.3 Tahapan Penelitian
Adapun alur penelitian pada penlitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1 Diagram Alur Penelitian 3.3.1 Input Data Resistivitas dan Polarisasi Terimbas
Pada tahapan ini data yang dimasukan adalah data yang didapat dari hasil penelitian yaitu data resistivitas dan polarisasi terimbas.
Data ini kemudian dimasukan kedalam excel dan sebelum dijalankan pada program Res2dinv data tersebut dimasukan kedalam notepad dengan ketentuan-ketentuan sesuai dengan
20 konfigurasi yang digunakan. Contoh data yang telah dimasukan kedalam notepad adalah seperti dibawah ini :
Gambar 3.2 Input Data dalam Format Notepad
3.3.2 Pemetaan Geologi dan Pemetaan Topografi
Pada tahap ini sebelum melakukan penginputan data pertama-tama kita harus mengetahui dan melakukan pemetaan geologi dan topografi daerah yang akan diteliti, Pemetaan geologi mencangkup batuan penyusun daerah penelitian dan kondisi daerah sekitar. Untuk peta geologi, penulis mendapatkannya dari Batan sebagai acuan untuk interpretasi yang akan dilakukan. Sedangkan untuk pemetaan topografi mencangkup nilai ketinggian di daerah penelitian biasanya digambarkan dengan kontur ketinggian.
21
Gambar 3.3 Peta Topografi Daerah Penelitian (PTBGN, Batan)
3.3.3 Pengolahan dan Survey Data
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder berupa data geolistrik resistivitas dan polarisasin terimbas dengan menggunakan konfigurasi dipole-dipole. Ada 32 lintasan yang digunakan pada saat melakukan penelitian dengan panjang per lintasannya yaitu 325 m. Setiap lintasan memiliki jarak sebesar 50 m dengan jarak masing-masing elektrodanya sejauh 25 m.
Gambar 3.4 Peta Lintasan Penelitian
22 Dari data yang didapat kita belum bisa mengetahui kondisi bawah permukaan daerah penelitian, oleh sebab itu diperlukanlah alat yang digunakan untuk mengolah data tersebut sehingga kita bisa melihat dan mengidentifikasi kandungan yang terdapat didaerah penelitian.
Alat yang kita gunakan untuk mengolah data tersebut adalah salah satu program komputer bernama Res2dinv versi 3.56.22 untuk melakukan pemodelan 2-D dan voxler untuk membuat pemodelan 3-D.
3.3.4 Pengolahan Data
Pengolahan data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu pengolahan data resistivitas dan chargeabilitas semu yang diinversikan dengan menggunakan perangkat lunak Res2dinv untuk mendapatkan tampilan 2-D dari data yang telah diolah. Untuk mengetahui sebaran sulfida didaerah penelitian secara lebih jelas hal yang selanjutnya dilakukan yaitu dengan membuat penampang 3-D dengan menggunakan perangkat lunak Voxler 3.
1. Pre-processing
Tahapan pre-processing ini adalah tahapan awal yang dilakukan sebelum melakukan inversi untuk menghasilkan nilai yang mendekati nilai resistivitas dan chargeabilitas yang sebenarnya. Tahapan awal yang dilakukan yaitu memasukan data yang telah didapat kedalam notepad kemudian menyimpannya dalam format (.dat) ataupun (.txt). Hal tersebut harus diperhatikan
23 karena apabila tidak tersimpan dalam format yang sesuai maka data tersebut tidak akan bisa diolah dengan menggunakan software Res2dinv.
2. Processing
Tahapan processing ini adalah pemprosesan data dengan menggunakan software Res2Dinv dengan tujuan untuk mendapatkan nilai resistivitas dan chargeabilitas sesungguhnya.
Program Res2Dinv sendiri adalah suatu program komputer yang digunakan untuk mencitrakan model 2-D dengan menggunakan data yang didapat dari survey lapangan metode geolistrik resistivitas dan polarisasi terimbas. Adapun langkah-langkah pemprosesan data dengan menggunakan software res2dinv adalah sebagai berikut :
a. Input Data
Pada proses ini data yang dimasukan adalah data yang didapat dari hasil pengukuran resistivitas dan chargeabilitas di lapangan yang telah dimasukan kedalam format yang sesuai.
Data tersebut merupakan nilai resistivitas dan chargeabilitas semu yang disebabkan karena sifat bumi yang heterogen anisotropic atau terdiri atas lapisan - lapisan yang memiliki resistivitas berbeda, sehingga nilai resistivitas yang diperoleh merupakan nilai resistivitas yang mewakili nilai resistivitas seluruh lapisan yang terlalui oleh garis ekuipotensial.
24 b. Edit Data
Pengeditan data ini dilakukan untuk menghilangkan data yang dianggap buruk dan dapat menggangu model yang didapatkan sehingga RMS yang diperoleh bisa semakin kecil.
Besarnya nilai RMS menandakan bahwa proses inversi yang diperoleh semakin halus dan tidak mendekati kondisi bawah permukaan sebenarnya. Nilai RMS adalah nilai yang menunjukan tingkat perbedaan dari pengukuran nilai resistivitas material terhadap niali resistivitas material yang sesungguhnya (Loke,2004). Besar kecilnya nilai RMS dipengaruhi oleh bebrapa faktor yaitu systematic noise, random noise dan gangguan alami.
c. Inversi
Pada proses ini, perangkat lunak res2dinv menggunakan algoritma Least Square saat melakukan proses inversi.
Algoritma Least Square ini sendiri dibagi kedalam 2 macam yaitu :
1. Standart Smoothness-Constrain Least Square Inversion yang digunakan untuk zona dengan batas antar material yang cenderung tidak memiliki kontak yang tajam.
2. Robust Constraint Least Square Inversion, biasanya digunakan untuk zona patahan dan batuan intrusif-lapisan mineral logam (Arisandra,2015).
25 Hasil inversi yang dihasilkan yaitu berupa penampang 2-D dimana penampang tersebut menunjukan distribusi nilai resistivitas dan chargeabilitas material bawah permukaan bumi. Pada saat melakukan inversi sering kali kita melakukan beberapa kali iterasi agar mendapatkan nilai RMSE yang kecil, Hal tersebut dilakukan agar penampang 2-D tersebut mendekati kondisi sebenarnya. Pada penelitian dengan menggunakan konfigurasi dipole-dipole, Besar kecilnya RMSE dipengaruhi oleh kondisi tanah basah dan random noise saat melakukan pengukuran.
d. Interpolasi Penampang Chargeabilitas 2-D menjadi 3-D dengan menggunakan software Voxler.
Pada penelitian ini interpolasi dilakukan untuk melihat sebaran sulfida secara lebih jelas dari pencitraan 2-D menjadi 3-D. Interpolasi sendiri adalah menentukan titik-titik yang sudah diketahui diantara beberapa titik berbeda.
3.3.5 Interpetasi dan Analisis Data
Tahapan interpretasi dan analisis data merupakan tahapan terakhir setelah mendapatkan penampang 2-D dan 3-D yang diinginkan.
Setelah mendapatkan penampang 2-D dari hasil pengolahan, langkah selanjutnya pun menginterpretasikannya dan menganilisinya dengan melihat tabel resistivitas batuan dan chargeabilitas sebagai dasar acuan untuk melihat kandungan sulfida di daerah penlitian.
26 3.4 Kondisi Geologi Daerah Penelitian
Daerah penelitian kali ini terletak di daerah “x” di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Adapun peta geologi daerah penelitian dapat dilihat di bawah :
Gambar 3.5 Peta Geologi Daerah Penelitian (PPPG Bandung) Berdasarkan peta di atas, daerah penelitian memiliki struktur perbukitan yang tersusun atas batuan metamorf atau batuan malihan yang dicirikan dengan warna biru pada peta tersebut.
Dari keterangan yang didapatkan keadaan bataun metamorf didaerah tersebut ditandai dengan adanya batupasir dan batuan gamping yang bercampur dengan batuan tufa vulkanik. Batuan metamorf ini biasanya terjadi akibat adanya pergerakan lempeng tektonik yang saling bertumbukan. Keberadaan mineral pada batuan ini ditandai dengan adanya mineral metamorfik yaitu andalusit. Proses mineralisasi yang terjadi di daerah penelitian sesuai dengan proses mineralisasi yang terjadi pada
27 batuan ini dimana pada batuan ini proses mineralisasi terjadi akibat adanya kemenerusan pola struktur kekar dan sesar yang memotong daerah penelitian.
28
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan membahas mengenai hasil yang didapatkan dari pengolahan data yang telah dilakukan. Hasil tersebut berupa pencitraan 2D yang kemudian akan dilakukan penginterpretasian berdasarkan data yang didapat dihubungkan dengan tabel resistivitas dan chargeabilitas batuan. Adapun hasil penelitian yang didapatkan akan dijelaskan secara lebih rinci di bawah ini.
4.1 Hasil Penelitian
Adapun hasil penelitian yang didapat berupa pemodelan 2-D dan 3-D sebagai berikut :
4.1.1 Hasil Pemodelan 2-D
1. Hasil Penampang 2-D Lintasan 1
Gambar 4.1 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 1
29 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 1 dengan presentasi kesalahan sebesar 32.1%.
Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 249 – 19908 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 1 mengandung mineral bornite yang merupakan salah satu kelompok mineral sulfida yang ditandai dengan warna hijau tua dengan nilai chargeabilitasnya yaitu 6.25 msec.
2. Hasil Penampang 2-D Lintasan 2
Gambar 4.2 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 2
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 2 dengan presentasi kesalahan sebesar 29.4%.
Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 122 – 73470 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 2 mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.
30 3. Hasil Penampang 2-D Lintasan 3
Gambar 4.3 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 3
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 3 yang memiliki presentasi kesalahan sebesar 11.0%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 61.7 - 11652 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.0 - 131 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 3 ini mengandung mineral stibinite yang ditandai dengan warna merah – ungu.
4. Hasil Penampang 2-D Lintasan 4
Gambar 4.4 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 4
31 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 4 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 41.9%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 210 - 23647 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 4 mengandung batuan shale dengan nilai chargeabilitias 81.3 yang ditandai dengan warna merah.
5. Hasil Penampang 2-D Lintasan 5
Gambar 4.5 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 5
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 5 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 28.6%. Pada daerah tersebut ditemukan batuan jenis granite yang memiliki nilai resistivitas 1141 Ωm dan nilai chargeabilitas 44.1 msec.
32 6. Hasil Penampang 2-D Lintasan 6
Gambar 4.6 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 6
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 6 dengan presentasi kesalahan yang didapatkan sebesar 15.4%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 216 - 18513 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 6 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.
7. Hasil Penampang 2-D Lintasan 7
Gambar 4.7 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 7
33 Gambar di atas menunjukan penampang model 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 7 dengan presentasi kesalahan sebesar 11.9%.
Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 15.1 - 32679 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar 3.29 – 94.5 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 7 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.
8. Hasil Penampang 2-D Lintasan 8
Gambar 4.8 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 8
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 8 dengan presentasi kesalahan sebesar 27.9%.
Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 269 - 33800 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.0 – 131 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 8 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.
34 9. Hasil Penampang 2-D Lintasan 9
Gambar 4.9 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 9
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 9 dengan presentasi kesalahan sebesar 31.6%.
Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan berkisar 283 - 22942 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -91.6 – 143 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 9 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.
10. Hasil Penampang 2-D Lintasan 10
Gambar 4.10 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 10
35 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 10 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 9.5%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 151 - 12517 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -94.9 – 47.7 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 10 mengandung mineral bornite yang ditandai dengan warna kuning – coklat dengan nilai
chargeabilitas 6.25 msec.
11. Hasil Penampang 2-D Lintasan 11
Gambar 4.11 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 11
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 11 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 12.2%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 388 - 12310 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -71.3 – 117 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 11 mengandung mineral kalkopirit yang ditandai dengan warna biru kehijauan – hijau muda dengan nilai chargeabilitas 9.58 msec.
36 12. Hasil Penampang 2-D Lintasan 12
Gambar 4.12. Hasil penampang 2-D (atas) resistivitas dan (bawah) chargeabilitas lintasan 12
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 12 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 21.5%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 120 - 10349 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.0 – 104 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 12 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.
13. Hasil Penampang 2-D Lintasan 13
Gambar 4.13 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 13
37 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 13 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 36.0%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 135 - 11590 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.0 – 133 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 13 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.
14. Hasil Penampang 2-D Lintasan 14
Gambar 4.14 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 14
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 14 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 36.8%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 17.0 - 53000 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 14 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.
38 15. Hasil Penampang 2-D Lintasan 15
Gambar 4.15 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 15
Gambar di atas menunjukan penampang model 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 15 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 34.0%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 65.1 - 12073 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 15 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.
16. Hasil Penampang 2-D Lintasan 16
Gambar 4.16 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 16
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 16 dengan presentasi kesalahan yang didapat
39 sebesar 18.8%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 97.3 - 7673 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -94.7 – 52.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 16 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah – ungu.
17. Hasil Penampang 2-D Lintasan 17
Gambar 4.17 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 17
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 17 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 15.80%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 248 - 17264 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 17 mengandung batuan shale dengan nilai resistivitasnya yaitu 248 Ωm dan nilai chargeabilitasnya yaitu 81.3 msec.
40 18. Hasil Penampang 2-D Lintasan 18
Gambar 4.18 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 18
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 18 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 19.2%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 247 - 6113 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 18 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.
19. Hasil Penampang 2-D Lintasan 19
Gambar 4.19 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 19
41 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 19 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 19.7%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 353 - 5460 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -91.4 – 150 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 19 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.
20. Hasil Penampang 2-D Lintasan 20
Gambar 4.20 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 20
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 20 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 39.3%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 245 - 20219 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.3 - 123 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 20 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.
42 21. Hasil Penampang 2-D Lintasan 21
Gambar 4.21. Hasil penampang 2-D (atas) resistivitas dan (bawah) chargeabilitas lintasan 21
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 21 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 42.4%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 76.3 - 8158 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.6 – 84.2 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 21 mengandung mineral sulfida jenis kalkopirit yang ditandai dengan warna hijau tua – hijau lumut dengan nilai chargeabilitas 8.00 msec.
22. Hasil Penampang 2-D Lintasan 22
Gambar 4.22 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 22
43 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 22 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 48.8%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 64.0 - 20983 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -91.6 – 144 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 22 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.
23. Hasil Penampang 2-D Lintasan 23
Gambar 4.23 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 23
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 23 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 32.4%. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 23 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah.
44 24. Hasil Penampang 2-D Lintasan 24
Gambar 4.24 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 24
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 24 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 37.0%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 64.7 – 12880 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.5 – 87.6 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 24 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.
25. Hasil Penampang 2-D Lintasan 25
Gambar 4.25 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 25
45 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 25 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 29.1%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 36.8 – 40449 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -91.4 – 139 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 24 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.
26. Hasil Penampang 2-D Lintasan 26
Gambar 4.26 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 26
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 26 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 34.4%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 661 - 18656 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 26 mengandung mineral bornite yang ditandai dengan warna hijau tua – hijau lumut dengan nilai chargeabilitas 6.25 msec.
46 27. Hasil Penampang 2-D Lintasan 27
Gambar 4.27 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 27
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 27 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 23.5%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 437 - 8776 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -92.0 – 131 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 24 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.
28. Hasil Penampang 2-D Lintasan 28
Gambar 4.28 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 28
47 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 28 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 19.1%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 1062 - 7891 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar 10.9 - 238 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 24 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna merah - ungu.
29. Hasil Penampang 2-D Lintasan 29
Gambar 4.29 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 29
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 29 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 16.8%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 281 - 8687 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -93.8 – 81.3 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 29 mengandung mineral bornite yang ditandai dengan warna hijau pekat – hijau lumut dengan nilai chargeabilitas 6.25 msec.
48 30. Hasil Penampang 2-D Lintasan 30
Gambar 4.30 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 30
Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 30 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 15.6%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 447 - 6913 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -6.47 - 148 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 30 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna hijau - ungu.
31. Hasil Penampang 2-D Lintasan 31
Gambar 4.31 Hasil Penampang 2-D (Atas) Resistivitas dan (Bawah) Chargeabilitas Lintasan 31
49 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 31 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 25.3%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 501 - 30772 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -18.8 - 183 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 31 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna hijau - ungu.
49 Gambar di atas menunjukan penampang 2D resistivitas dan chargeabilitas lintasan 31 dengan presentasi kesalahan yang didapat sebesar 25.3%. Distribusi nilai resistivitas yang didapatkan pada daerah tersebut berkisar 501 - 30772 Ωm dan nilai chargeabilitas berkisar -18.8 - 183 msec. Berdasarkan nilai resistivitas dan chargeabilitas yang didapatkan, daerah penelitian pada lintasan 31 ini mengandung mineral stibnite yang ditandai dengan warna hijau - ungu.