HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan merupakan rumah sakit milik pemerintah. Pemerintah Pusat mengkelola rumah sakit ini. Rumah Sakit ini terletak di lahan yang luas di pinggiran kota Medan Indonesia. Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik merupakan Rumah Sakit tipe A sesuai dengan SK Menkes no. 547/Menkes/SK/VII/1998 dan juga sebagai Rumah Sakit Pendidikan sesuai dengan SK Menkes No. 502/Menkes/SK/IX/1991.
5.2.Karakteristik Kejadian TB Paru pada Penderita DM Tipe 2 5.2.1. Proporsi Kejadian TB Paru pada Penderita DM Tipe 2
Berikut ini dapat diketahui distribusi proporsi kejadian TB paru pada penderita DM tipe 2 di bagian Penyakit Dalam di RSUP. H. Adam Malik selama periode 1 Januari 2009-31 Desember 2009.
Tabel 5.1. Distribusi Proporsi TB Paru pada Penderita DM Tipe 2 di RSUP. H. Adam Malik Tahun selama Periode 1 Januari 2009-31 Desember 2009.
Pada tabel 5.1. di atas dapat dilihat bahwa dari total 366 jumlah penderita DM tipe 2 angka kejadian TB paru pada penderita DM tipe 2 sebanyak 44 orang dengan proporsi 12% .
No Penderita DM tipe 2 Frekuensi % 1.
2.
Tidak ada TB paru Ada TB paru 322 44 88.0 12 Total 366 100
5.2.2. Karekteristik Sosiodemografi
Tabel 5.2. Distribusi Proporsi TB Paru pada Penderita DM Tipe 2 Berdasarkan Jenis Kelamin di RSUP. H. Adam Malik selama Periode 1 Januari
2009-31 Desember 2009.
No Jenis Kelamin Frekuensi %
1. Laki-laki 26 59,1
2. Perempuan 18 40,9
Total 44 100
Dari tabel 5.2. dapat diketahui bahwa pada penelitian ini berdasarkan jenis kelamin yang paling banyak penderita adalah laki-laki sebanyak 26 orang (59,1%) dan diikuti oleh perempuan sebanyak 18 orang (40.9%).
Tabel 5.3. Distribusi Proporsi TB Paru pada Penderita DM Tipe 2 Berdasarkan Umur di RSUP. H. Adam Malik selama Periode 1 Januari 2009-31 Desember 2009. No Umur Frekuensi % 1. 2. 3. 20-40 tahun 41-60 tahun >60 tahun 2 30 12 4,5 68,2 27,3 Total 44 100
Dari tabel 5.3 dapat dilihat bahwa kelompok umur yang terbanyak menderita TB paru pada penderita DM tipe 2 adalah 41-60 tahun yaitu sebanyak 30 orang (68,2%).
5.2.3. Karakteristik Cara Diagnosis TB Paru
Tabel 5.4. Distribusi Proporsi TB Paru pada Penderita DM Tipe 2 Berdasarkan Cara Diagnosis di RSUP. H. Adam Malik selama Periode 1 Januari
2009-31 Desember 2009.
Dari tabel 5.2. dapat dilihat bahwa cara diagnosis yang terbanyak ditentukan melalui pemeriksaan bakteriologi BTA sputum yaitu sebanyak 29 orang (65,9%).
5.2.4 Karakteristik Lama Waktu Menderita DM Tipe 2
Tabel 5.5. Distribusi Proporsi TB Paru pada Penderita DM Tipe 2 Berdasarkan Lama Waktu Menderita DM Tipe 2 di RSUP. H. Adam Malik selama
Periode 1 Januari 2009-31 Desember 2009.
No. Lama Waktu Menderita DM Tipe 2 Frekuensi % 1. 2. 3. 0- 5 tahun 6-10 tahun ≥ 10 tahun 31 10 3 70.5 22.7 6.8 Total 44 100
Berdasarkan tabel 5.5. jangka waktu pasien menderita DM tipe 2 yang tertinggi dengan kejadian TB paru adalah 0- 5 tahun yaitu sebanyak 31 orang (70,5%).
No Cara Diagnosis Frekuensi %
1. 2. 3. 4. BTA (+) BTA(-) Radiologi (+) BTA (-) Biakan (+)
BTA (-) Radiologi dan biakan (+)
29 13 1 1 65,9 29,5 2,3 2,3 Total 44 100
5.3. Pembahasan
5.3.1. Jumlah Kasus TB Paru pada Penderita DM Tipe 2 di RSUP. H. Adam Malik selama Periode 1 Januari 2009-31 Desember 2009.
Prevalensi TB paru pada penderita DM tipe 2 di RSUP. H. Adam Malik selama periode 1 Januari-31 Desember 2009 adalah 12%. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil yang diperoleh dalam penelitian yang dilakukan oleh Alisjahbana dan Sahiratmadja yaitu prevelansi TB paru pada penderita DM tipe 2 di Central Jakarta Tuberculosis Association Clinic, Jakarta adalah 17.1% dan 11.6% di Hasan Sadikin General Hospital, Bandung (Alisjahbana, B. et al, 2007). Dari beberapa penelitian yang dipelajari oleh Harsinen Sanusi menyatakan bahwa prevalensi TB paru pada DM di Indonesia masih cukup tinggi yaitu antara 12,8-42%. Selain dari Indonesia prevalensi TB paru pada DM di The Age Khan University Hospital, Karachi, Pakistan adalah 11.9% ( Jabbar , Hussain,F., dan Khan,A., 2006) dan menurut penelitian yang dilakukan dengan data dari Revised National Tuberculosis Control Programme (RNTCP) di India oleh Stevenson,C.R et al. adalah 18.4% serta di Shanghai Pulmonary Hospital, China adalah 9,5% (Zhang,Q, 2009). Prevalensi TB paru pada DM di Asia tidak jauh berbeda antara satu sama lain.
5.3.2. Gambaran Distribusi TB Paru pada Penderita DM Tipe 2 Berdasarkan Jenis Kelamin Di RSUP. H. Adam Malik selama Periode 1 Januari 2009-31 Desember 2009.
Pada penelitian ini perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 26/18 (59.1%/40.9%) dan laki-laki yang menderita DM tipe 2 mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk menderita TB paru seperti yang dinyatakan dalam penelitian-penelititan yang lain. Harsinen Sanusi,2006 menyatakan bahwa pasien DM laki-laki mempunyai kemungkinan 2 kali mendapat TB paru dibanding wanita. Salah satu penelitian dari Turkish Respiratory Journal juga membuktikan bahwa ratio laki-laki berbanding wanita dari 85 penderita DM dengan TB paru adalah 52,9%:47.1% (Yurteri,G dan Sarac,S. et al, 2004). Menurut Perez-Guzman et al juga kejadian TB paru pada penderita DM tipe 2 lebih banyak pada laki-laki
dibanding perempuan karena paparan laki-laki lebih tinggi berbanding perempuan ke lingkungan.
5.3.3. Gambaran Distribusi TB Paru pada Penderita DM Tipe 2 Berdasarkan Umur Di RSUP. H. Adam Malik selama Periode 1 Januari 2009-31 Desember 2009.
Pada penelitian ini kelompok umur yang lebih banyak menderita TB paru pada penderita DM tipe 2 adalah 41-60 tahun sebanyak 68.2%.Menurut suatu penelitian yang dilakukan oleh Nasution, E.J.S., 2007di RSUP.H.Adam Malik juga menunjukkan pada usia 51-60 dengan rata-rata 51 tahun yang terbanyak menderita TB paru disertai DM. Faktor umur berperan dalam meningkatkan prevalensi TB paru pada DM karena umur lebih tua meningkatkan kepekaan terhadap tuberkulosis, Pada usia lanjut, disamping fungsi sel beta lebih terganggu, juga pada usia lanjut umumnya sudah lama menderita DM serta kontrol DM biasanya labil (Harsinen Sanusi,2006). Menurut suatu penelitian oleh Lakshimi Kiran dan K.J.R Murthy umur yang mempunyai resiko tinggi untuk menderita TB paru pada penderita DM adalah lebih daripada 40 tahun. Oleh itu, pada penelitian ini juga golongan usia yang beresiko untuk menderita TB disertai DM tidak berbeda dari penelitian-penelitian yang lain.
5.3.4. Gambaran Distribusi TB Paru pada Penderita DM Tipe 2 Berdasarkan Cara Diagnosis Di RSUP. H. Adam Malik selama Periode 1 Januari 2009-31 Desember 2009.
Pada hasil penelitian ini hasil pemeriksaan BTA sputum lebih banyak positif yaitu sebanyak 65,9% dan sesuai dengan yang didapat para peneliti yang lain. Penelitian oleh Ezung dkk (2002) melaporkan 100 pasien DM yang berobat jalan dan inap di Imphal India menunjukkan 27% didiagnosis TB paru dan dari jumlah ini 6% didiagnosis dengan pemeriksaan sputum. Menurut Sen.T et al. juga pemeriksaan BTA sputum lebih banyak menunjukkan hasil positif dibanding dengan cara diagnosis yang lain. Hal ini karena sistem imun yang rendah menyebabkan resiko relatif untuk menghasilkan sputum dengan jumlah basil
mycobacterium yang lebih tinggi pada penderita DM tipe 2. Pada penelitian itu juga dikaji karakteristik 187 pasien dengan kelompok DM (kelompok TB-DM) yang dibandingkan dengan 505 pasien tanpa DM (kelompok TB). Pada kelompok TB-DM, 65,2% dari pasien medapat pemeriksaan sputum BTA positif dibandingkan dengan 54,1% pada kelompok kontrol (Sen.T et al.,2009). Menurut Harsinen Sanusi, kejadian TB paru pada DM lebih berat dan kronis dibanding non diabetes. Hal ini disebabkan pada DM, kepekaan terhadap kuman TB meningkat, reaktifitas fokus infeksi lama, mempunyai kecenderungan lebih banyak cavitas dan pada hapusan serta kultur sputum lebih banyak positif.
5.3.5. Gambaran Distribusi TB Paru pada Penderita DM Tipe 2 Berdasarkan Lama Waktu Menderita DM Tipe 2 Di RSUP. H. Adam Malik selama Periode 1 Januari 2009-31 Desember 2009.
Pada penelitian ini dijumpai lama waktu menderita DM tipe 2 yang tertinggi adalah 0-5 tahun setelah didiagnosis menderita DM tipe 2 sebanyak 70,5%. Ini mungkin karena semasa mengambil sampel telah didapati bahwa diagnosis DM dengan TB paru secara bersama-sama tinggi. Perkara ini karena kebanyakkan pasien yang datang ke RSUP.Adam Malik adalah disebabkan oleh keluhan TB paru dan apabila dianamnesis ternyata bahwa pasien tersebut mempunyai keluhan-keluhan yang terarah ke DM. Dengan pemeriksaan kadar gula darah dipastikan pasien-pasien ini menderita DM tipe 2 dengan TB paru. Pada suatu penelitian oleh Yurteri,G. et al dinyatakan bahwa porposi penderita DM tipe 2 yang menderita TB paru dalam lama waktu 5 tahun pertama didiagnosis menderita DM adalah juga tinggi yaitu 38%. Selain itu, pada penelitian tersebut diagnosis DM dan TB paru secara bersama-sama adalah 17,6%. Ini karena penderita DM tipe 2 yang baru didiagnosis menderita DM tipe 2 biasanya tidak terkontrol berbanding yang sudah lama menderita DM tipe 2.Selain itu, mereka juga memerlukan masa untuk menadaptasikan diri dengan obat,diet dan follow-up.Ini menyebabkan penderita DM tipe 2 dengan lama waktu yang singkat lebih rentan terhadap infeksi TB paru. Hasil penelitian oleh Ezung T menunjukkan tidak ada korelasi antara lamanya DM dengan prevalensi tuberkulosis paru.
Penelitian yang dilakukan oleh Jabbar menyatakan prevalensi TB paru pada penderita DM tipe 2 semakin meningkat bila lama waktu menderita DM tipe 2 meningkat. Prevalensi TB paru pada DM tipe 2 adalah tinggi pada penderita yang mempunyai riwayat DM lebih dari 10 tahun. Ini karena semakin tinggi umur pasien semakin kurang imunitas tubuh sehingga lebih senang menderita komplikasi DM tipe 2 seperti infeksi TB paru. Dengan beberapa penelitian ini terlihat untuk lamanya menderita DM dengan terjadinya TB paru berbeda antara satu sama lain.