• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian di Areal Karet 2 dan 3 Tahun

Hasil penelitian lapangan menunujukkan bahwa untuk perlakuan faktor tunggal varietas di areal karet 2 tahun memberikan pengaruh beda nyata hingga sangat nyata terhadap tujuh parameter tanaman yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan 8 dn 16 MST, jumlah khloropil daun, volume akar, borot kering akar, jumlah malai, panjang malai dan bobot 1000 butir gabah (Tabel 24, 27, 29, 32, 33, 35, 39, 40, 46) sedangkan di areal karet 3 tahun perlakuan faktor tunggal varietas memberikan pengaruh terhadap dua parameter tanaman yaitu tinggi tanaman 4 dan 8 MST serta bobot 1000 butir gabah dengan pengaruh beda sangat nyata (Tabel 56, 57, 77).

Adanya perbedaan antar varietas yang diuji (Varietas Si Kembiri dan Situ Patenggang) terhadap nilai parameter tanaman sebagimana tersebut di atas pada masing-masing lokasi tanam (areal karet 2 dan 3 tahun) lebih disebabkan atau dikendalikan karena perbedaan faktor genetik antara ke dua varietas. Telah diketahui bahwa pada setiap varietas mempunyai komposisi atau sususnan genetik tersendiri, sehingga pada setiap varietas memiliki variasi atau perbedaan sifat dibandingkan dengan varietas lain baik sifat secara kualitatif maupun kuantitatif (Mangoendidjojo, 2005).

Untuk perlakuan faktor tunggal pemberian bahan organik di areal karet 2 tahun memberikan pengaruh sangat nyata pada parameter volume akar, bobot kering akar, jumlah malai (Tabel 34, 36, 39). Sedangkan untuk areal karet 3 tahun faktor tunggal bahan organik memberikan pengaruh pada parameter tinggi tanaman pada umur 4 MST dengan pengaruhnya pada tingkat nyata (Tabel 56). Terlihat bahwa perolehan pertumbuhan volume akar, bobot kering akar, tinggi tanaman dan jumlah anakan umumnya lebih baik dengan pemberian dosis bahan organik dibandingkan tanpa bahan organik. Diketahui bahwa bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menyebabkan tanah menjadi ringan untuk diolah dan mudah ditembus akar tanaman (Rosmarkam dan Yuwono, 2002). Tanah yang mempunyai

147

struktur yang baik mempunyai kemampuan mengikaat air dan permeabilitas yang baik. Perubahan perbaikan struktur tanah ini akan menghasilkan perbaikan kondisi perakaran

tanaman dan memperbaiki hasil dan kualitas pertumbuhan tanaman (Mori, 1986).Titiek dan

Utomo (1995) menjelaskan bawa struktur tanah mempengaruhi pertumbuhan tanaman lewat pengaruhnya terhadap perkembangan akar dan fisiologi akar. Fisiologi akar tanaman yang dipengaruhi oleh struktur tanah mencakup absorbsi unsur hara, absorbsi air dan respirasi akar. Struktur tanah juga berpengaruh terhadap pergerakan unsur hara di dalam tanah, pergerakan air dan sirkulasi gas O2 dan CO2. Hardjowigeno (1986) dan Sutanto (2002) menyatakan bahwa bahan orgnaik berpengaruh baik terhadap sifat fisik, kimia dan biologi tanah serta pada gilirannya memberikan pengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman. Pada interaksi perlakuan metode pengolahan tanah dan bahan organik di areal karet 2 tahun memberikan pengaruh nyata hingga sangat nyata pada parameter pertumbuhan tinggi tanaman 4 dan 8 MST, jumlah anakan 16 MST dan panjang malai ( Tabel 25, 30, 41) sedangkan di areal karet 3 tahun memberikan pangaruh nyata hingga sangat nyata pada parameter pertumbuhan tinggi tanaman pada umur 8 dan 16 MST serta jumlah anakan pada umur 4 dan 12 MST (Tabel 57, 60, 62, 65). Secara umum disebutkan bahwa pengolahan

tanah (tillage) diperlukan untuk menciptakan kondisi tanah yang baik bagi pertumbuhan dan

perkembangan tanaman. Moenandir (2004) menyatakan bahwa pengolahan tanah menjadikan ukuran tanah menjadi lebih kecil sehingga permukaan partikel tanah lebih luas dapat berhubungan dengan akar tanaman. Keadaan ini memungkinkan tanaman memperoleh nutrisi lebih dari cukup dan mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi baik. Menurut Suhardi (1983) dengan adanya pengolahan tanah akan diperolah kondisi tanah yang baik ditinjau dari struktur tanah, porositas tanah, keseimbangan antara air, udara dan suhu di dalam tanah sehingga pertumbuhan tanaman menjadi baik di areal pertanaman. Kemudian pengolahan tanah mempermudah pemanfaatan unsur hara yang diberikan di dalam tanah oleh tanaman sehingga pertumbuahan tanaman akan lebih baik.

Selanjutya untuk bahan organik telah diketahui berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah (sifat fisik, kimia dan biologi tanah) dan pertumbuhan tanaman (Hardjowigeno,1986; Sutanto, 2002). Pupuk organik berperan sebagai granulator yaitu memperbaiki sruktur tanah, sumber unsur hara makro dan mikro terhadap pertumbuhan tanaman, menambah kemampuan tanah menahan air dan menahan unsur-unsur hara tanah (kapasitas tukar kation tanah menjadi tinggi) serta kegiatan biologi tanah meningkat sehingga semua tanaman dapat menjadi lebih baik pertumbuhannya bila diberi pupuk organik.

Pada interaksi perlakuan varietas dan metode pengolahan tanah di areal karet 2 tahun memberikan pengaruh sangat nyata terhadap parameter pertumbuhan dan perkembangan jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa, produksi gabah per rumpun tanaman dan produksi gabah per plot (Tabel 42, 44, 47, 50) sedangkan di areal karet 3 tahun memberikan pengaruh nyata hingga sangat nyata pada parameter pertumbuhan dan perkembangan jumlah anakan 12 MST, produksi gabah per rumpun tanaman dan produksi gabah per plot (Tabel 64, 79, 82). Dapat dinyatakan di sini bahwa masing-masing vatietas yang diuji (Si Kembiri dan Situ Patenggang) memberikan respon yang positip terhadap perameter pertumbuhan dan perkembangan tanaman sebagaimana dinyatakan di atas dengan adanya pengolahan tanah dibandingkan tanpa pengolahan tanah. Respon yang lebih baik ditunjukkan oleh varietas Situ Patenggang baik di areal karet 2 tahun maupun di areal 3 tahun. Ini menunujukkan bahwa daya adaptif varietas Situ Patenggang lebih baik dibandingkan dengan Si Kembiri pada kondisi pengolahan tanah dan keadaan lingkungan dalam penelitian ini. Ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Mangoendidjojo (2005) bahwa pada setiap varietas mempunyai komposisi atau sususnan genetik tersendiri, sehingga pada setiap varietas memiliki variasi atau perbedaan sifat dibandingkan dengan varietas lain baik sifat secara kualitatif maupun kuantitatif. Mengenai pengaruh positip pengolahan tanah terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman antara lain dinyatakan melalui perbaikan struktur tanah struktur tanah, porositas tanah, keseimbangan antara air, udara dan suhu di dalam

149

tanah dan permukaan partikel tanah lebih luas dapat berhubungan dengan akar tanaman sehingga pertumbuhan tanaman menjadi baik di areal pertanaman (Suhardi,1983 dan Moenandir, 2004).

Seterusnya dapat dilihat bahwa pada interaksi perlakuan varietas dan bahan organik di areal karet 2 tahun memberikan pengaruh sangat nyata terhadap parameter pertumbuhan dan perkembangan persentase gabah hampa, produksi gabah per rumpun, produksi gabah per plot (Tabel 45, 48, dan 51) sedangkan di areal karet 3 tahun memberikan pengaruh nyata hingga sangat nyata pada parameter pertumbuhan dan perkembangan tinggi tanaman 12 dan 16 MST, jumlah anakan pada umur 4 MST, panjang malai, jumlah gabah per malai, produksi gabah per rumpun dan produksi gabah per plot percobaan (Tabel 58, 59, 74, 75, 78, 81). Dalam hal ini juga terlihat bahwa faktor varietas memberikan respon positip terhadap pertumbuhan dan perkembangannya dari parameter di atas dengan adanya pemberian bahan organik dibandingkan dengan tanpa adanya bahan organik di areal karet 2 tahun maupun 3 tahun. Respon varietas Situ Patenggang lebih baik dari pada varietas lokal Si Kembiri terhadap pemberian bahan organik yang diaplikasikan. Hal ini tentunya juga berkaitan dengan adanya perbedaan faktor genetik antara ke dua varietas diuji (Mangoendidjojo, 2005). Dan untuk bahan organik sendiri memberikan pengaruh baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman melalui perbaikaan antara lain : struktur tanah, kapasitas tukar kation, pH tanah, daya simpan air tanah, aktivitas biologi tanah, memperkaya unsur hara tanah, permeabilitas tanah, meningkatkan pembentukan agregat yang stabil (Nakada, 1981 dalam Sutanto, 2002; Noor, 1996; Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

Kemudian untuk interaksi tiga faktor perlakuan yaitu varietas, metode pengolahan tanah dan bahan organik di areal karet 2 tahun memberikan pengaruh nyata hinga sangat nyata pada parameter pertumbuhan dan perkembangan jumlah anakan pada umur 4 dan 12 MST, luas daun, berat kering jerami, rasio berat kering akar-jerami, indeks panen, serapan karbon dan bobot kering gulma (Tabel 26, 28, 31, 37, 38, 49, 52 dan 53) sedangkan pada areal karet 3

tahun memberikan pengaruh nyata hingga sangat nyata pada parameter pertumbuhan dan perkembanagn jumlah anakan pada umur 8 dan 16 MST, luas daun, jumlah khloropil daun, volume akar, bobot kering akar, bobot kering jerami, rasio bobot kering akar-jerami, jumlah malai, persentase gabah hampa, indeks panen, serapan karbon dan bobot kering gulma (Tabel 63, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 76, 80, 83 dan 84). Penelitian menunjukkan bahwa kedua varietas yang diuji, Si Kembiri dan Situ Patenggang baik di areal karet 2 tahun dan 3 tahun juga memberikan respon positip terhadap pertumbuhan dan perkembangan dari peramater tanaman tersebut di atas maupun memberikan dampak positip terhadap penekanan pertumbuhan gulma dengan adanya pengolahan tanah dan pemberian bahan organik dibandingakan tanpa adanya pengolahan tanah dan pemberian bahan organik. Respon pertumbuhan dan perkembangan varietas Situ Patenggang lebih baik dibandingkan dengan varietas lokal Si Kembiri baik di areal karet 2 tahun maupun 3 tahun. Hal ini diduga karena sistem perakaran dan rasio perakaran dan jerami dari varietas Situ Patenggang lebih baik dibandingakan dengan Si Kembiri sehingga kemampuan menyerap air dan unsur hara tersedia dari dalam tanah untuk pertumbuhannya akan lebih baik. Perbedaan kondisi perakaran terkait dengan perbedaan faktor genetis dari ke dua varietas tersebut di atas (Mangoendidjojo, 2005). Mohr dan Schopfer (1995) menyatakan bahwa kemampuan tanaman untuk beradaptasi terhadap lingkungan ditentukan oleh sifat genetik tanaman.

Kondisi perbaikan tanah sebagai media untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat ditentukan oleh adanya pengolahan tanah dan pemberian bahan organik yang dalam penelitian ini memberikan pengaruh positip terhadap varietas yang dicobakan.

Menurut Suhardi (1983) dengan adanya pengolahan tanah akan diperolah kondisi tanah yang baik ditinjau dari struktur tanah, porositas tanah, keseimbangan antara air, udara dan suhu di dalam tanah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dengan seluruh proses pengolahan tanah akan menghasilkan :

151

 Meningkatkan sisfat-sifat fisik tanah yaitu menjamin memperbaiki struktur dan porositas

tanah, sehingga antara pemasukan air dan pengeluarannya menjadi seimbang untuk kehidupan tanaman. Peredaran udara dalam tanah menjdi optimal yang akan menjamin aktvitas biologi tanah menjadi optimal.

 Pertumbuhan tanaman menjadi baik di areal pertanaman. Dengan adanya pengolahan

tanah memungkinkan peredaran air, udara, dan suhu di dalam tanah menjadi lebih baik. Di dalam pertumbuhan tanaman di areal tanam diperlukan udara, suhu dan ketersedian air tanah yang optimal yang dapat dibantu dengan adanya pengolahan tanah.

 Mempermudah pemanfaatan unsur hara atau pupuk yang diberikan di dalam tanah oleh

tanaman sehingga pertumbuahan tanaman akan lebih baik.

Menurut Arsyad (1983) dengan dilakukannya pengolahan tanah, maka tanah akan menjadi gembur, dapat lebih cepat menyerap air hujan, serta mengurangi aliran permukaaan atau run-off. Pengolalahan tanah dapat menekan pertumbuhan gulma dan perkembangannya serta menciptakan aerasi tanah yang baik. Moenandir (2004) juga mengatakan pengolahan tanah dapat pula merawat kelembaban tanah dengan menghindari run-off.

Pada pemberian bahan organik akan memperbaiki kondisi fisik, kimia dan biologi tanah Kondisi fisik tanah yang diperbaiki mencakup sruktur tanah, menambah kemampuan tanah menahan air, meningkatkan jumlah dan stabilitas agreagat tanah, meningkatkan laju infiltrasi, mempermudah pengolahan tanah, menurunkan permeabilitas pada tanah bertekstur kasar dan meningkatkan permeabilitas pada tanah bertekstur sangat lembut serta mengurangi kerentanan terhadap terjadinya pengikisan tanah (erosi). Untuk perbaikan kondisi sifat kimia tanah mencakup : merupakan sumber unsur hara makro dan unsur mikro terhadap tanaman walaupun dalam jumlah yang rendah, meningkatkan KTK (kapasitas tukar kation) sehingga kemampuan mengikat kation menjadi lebih tinggi, akibatnaya jika tanah yang dipupuk dengan bahan organik dengan dosis tinggi, hara tanaman tidak mudah tercuci, pada tanah

masam bahan organik dapat meningkatkan pH tanah (menetralkan Al dengan membentuk kompleks Al-organik), meningkatkan ketersediaan unsur mikro dalam tanah melalui khelat unsur mikro dengan bahan organik dan memperkaya hara dalam tanah. Kemudian untuk perbaikan sifat biologi tanah dengan adanya pemberian bahan organik anatara lain mencakup : menigkatkan aktivitas biologi tanah, mengandung mikroba yang berperan dalam proses dekomposisi bahan organik, mikroorganisme tanah yang bermacam-macam menjadi aktif melalui rantai makanan, kemudian mengalami proses dekomposisi menghasilkan bermacam-macam senyawa organik dan anorganik. Senyawa organik dan anorganik tersebut disemat atau diikat oleh partikel lempung yang bermuatan negatif atau senyawa organik hasil proses dekomposisi. Senyawa-senyawa tersebut mengutungakan pertumbuhan tanaman sebagai hara dan senyawa pengatur pertumbuhan. Keanekaragaman komunitas mikroorganisme di dalam tanah kemungkinan akan menekan terjadinya ledakan patogen yang merusak tamanan. Perubahan tanah yang bersifat serba cakup akan menghasilkan perbaikan kondisi perakaran tanaman dan memperbaiki hasil dan kualitas tanaman (Hardjowigeno,1986; Mori, 1986; Greenland dan Dart, 1972 dalam Sanchez,1992; Noor, 1996; Sutanto, 2002; Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

Pada penelitian pertumbuhan tanaman karet pada areal karet 2 tahun yang ada ditanami padi gogo menunjukkan hasil bahwa pertambahan tinggi tanaman karet relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tinggi tanaman karet di areal karet yang tidak ada ditanami padi gogo. Sedangkan untuk pertambahan lilit batang dan jumlah cabang relatif lebih rendah pada areal yang ada ditanami padi gogo dibandingkan dengan areal karet 2 tahun yang tidak ada sama sekali ditanami padi gogo (Tabel 54). Pada areal karet 3 tahun yang ada ditanami padi gogo, pertambahan tinggi tanaman, lilit batang dan jumlah cabang per tanaman relatif lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan karet yang ada di areal karet yang tidak ditanami padi gogo (Tabel 85). Namun dapat dinyatakan bahwa perbedaan kualitas pertumbuhan ini secara

153

mutlak tidak jauh berbeda atau dapat dinilai tidak signifikan antara pertumbuhan tanaman karet di areal yang tidak ada ditanami padi gogo dengan areal yang ada ditanami padi gogo. Kemudian untuk pengamatan perubahan parameter fisik kimia tanah di areal tanaman karet 2 tahun dengan adanya penanaman padi gogo diperoleh hasil mayoritas terjadi penurunan kondisi nilai fisik kimia tanah yang mencakup : pH tanah, C- organik rasio, C/N N- total, P2O5, K- tukar, Mg – tukar, Ca-tukar, kapasitas tukar kation (KTK) dan Al dd (Tabel 55 dan Gambar 58). Nilai penurunan karateristik fisik kimia tanah yang relatif tinggi terjadi pada : Mg – tukar, K- tukar, C- organik, N- total, kapasitas tukar kation tanah (KTK), Ca-tukar dan rasio C/N. Sedangkan untuk paramater : pH tanah, P2O5 dan Aldd termasuk katagori terjadi penurunan relatif sedikit. Secara umum rata-rata penurunan kualitas fisik kimia tanah di areal karet 2 tahun dibandingkan antara kaeadaan awal dan akhir percobaan terjadi penurunan kulaitas tanah sekitar 17.33%. Pada areal karet 3 tahun dengan adanya penananan padi gogo juga umumnya terjadi penurunan nilai paramater fisik kimia tanah (Tabel 86 dan Gambar 97). Penurunan kondisi fisik kimia tanah yang relatif tinggi terjadi pada kadar : Mg-tukar, K-tukar, C-organik, Al dd, Ca-tukar, N-total dan KTK. Sedangkan untuk parameter : kadar air tanh, pH, C/N, P2O5 dan Fe terjadi penurunan relatif sedikit. Dilihat secara keseluruhan maka rata - rata penurunan kualitas kondisi fisik kimia tanah dibandingakan antara keadaan awal dan akhir percobaan terjadi penurunan kualitas tanah sekitar 19.17% di areal karet 3 tahun karena adanya penamanan padi gogo.

Terjadinya penurunan nilai parameter fisik kimia tanah baik di areal kerat 2 tahun maupun di areal karet 3 tahun dengan adanya penanaman padi gogo di antara gawangan tanaman karet disebabkan penyerapan unsur hara dan air untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi gogo. Umumnya telah diketahui bahwa tanaman varietas unggul termasuk varietas unggul padi gogo relatif responsif dalam penyerapan unsur hara untuk

pertumbuhan dan perkembangannya (Bambang dkk, 2009) . Karenanya kondisi unsur hara

cukup pada setiap musim tanam padi berikutnya. Karakter responsif pada tanaman varietas unggul terhadap unsur hara terkait dengan kondisi sistem perakaran yang lebih baik dan potensi produktivitas yang relatif tinggi.

Kesimpulan

1. Pengaruh metode pengolahan tanah terhadap varietas pada areal karet 2 tahun

menyebabkan perbedaan jumlah anakan, luas daun, bobot kering jerami, rasio bobot kering akar – jerami, jumlah malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa, indeks panen, produksi gabah per rumpun, produksi gabah per plot, serapan karbon per rumpun dan bobot kering gulma. Sedangkan pada areal karet 3 tahun, pengaruh metode pengolahan tanah terhadap varietas menyebabkan perbedaan jumlah anakan, luas daun, khloropil daun, volume akar, bobot kering akar, bobot kering jerami, rasio bobot kering akar – jerami, jumlah malai, persentase gabah hampa, indeks panen, produksi gabah per rumpun, produksi gabah per plot, serapan karbon per rumpun dan bobot kering gulma.

2. Pengaruh bahan organik terhadap varietas pada areal karet 2 tahun menyebabkan

perbedaan jumlah anakan, luas daun, bobot kering jerami, rasio bobot kering akar – jerami, persentase gabah hampa, produksi gabah per rumpun, indeks panen, produksi gabah per plot, serapan karbon dan bobot kering gulma. Sedangkan pada areal karet 3 tahun, pengaruh bahan organik terhadap varietas menyebabkan perbedaan tinggi tanaman, jumlah anakan, luas daun, jumlah khloropil daun, volume akar, bobot kering akar, bobot kering jerami, rasio bobot kering akar – jerami, jumlah malai, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa, produksi gabah per rumpun, , indeks panen, produksi gabah per plot, serapan karbon, dan bobot kering gulma.

3. Dari dua varietas padi gogo yang dikaji (Si Kembiri dan Situ Patenggang) di areal

khusus karet 2 tahun, varietas yang terbaik produksinya ditemukan pada varietas padi gogo Situ Patenggang dengan aplikasi metode olah tanah cangkul 2 x dan dosis bahan

155

organik 5 ton/ha. Sedangkan pada areal karet 3 tahun, varietas yang terbaik produksinya ditemukan juga pada varietas Situ Patenggang dengan aplikasi metode olah tanah dikikis dengan cangkul 1 x dan dosis bahan organik 5 ton/ha.

4. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pertumbuhan tanaman karet umur 2 dan 3

tahun di areal yang ada ditanami padi gogo maupun di areal yang tidak ada ditanami padi gogo.

5. Penanaman padi gogo di areal karet 2 tahun terdapat sedikit penurunan kualitas fisik

kimia tanah terutama : Mg – tukar, K- tukar, C- organik, N- total rasio C/N, Ca-tukar dan KTK. Sedangkan di areal karet 3 tahun menurunkan kualitas fisik kimia tanah yang juga relatif sama dengan areal karet 2 tahun yaitu : Mg-tukar, K-tukar, C-organik, N-total, Ca-tukar, KTK dan Al-dd.

BAB V