• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Stroke Corner RSUP H. Adam Malik yang beralamat di Jalan Bunga Lau no. 17 Medan Kelurahan Kemenangan, Kecamatan Medan Tuntungan. RSUP H. Adam Malik merupakan Rumah Sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes No.335/Menkes/SK/VIII/1990. Disamping itu, RSUP H. Adam Malik adalah Rumah sakit rujukan untuk wilayah pembangunan A yang meliputi propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau. RSUP H. Adam Malik juga ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.502/Menkes/IX/1991 tanggal 6 September 1991 dan secara resmi pusat pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dipindahkan ke RSUP H. Adam Malik pada tanggal 11 januari 1993.

RSUP Haji Adam Malik Medan memiliki fasilitas pelayanan yang terdiri dari pelayanan medis (instalasi rawat jalan, rawat inap, perawatan intesif, gawat darurat, bedah pusat, hemodialisa), pelayanan penunjang medis (instalasi diagnostik terpadu, patologi klinik, patologi anatomi radiologi, rehabilitasi medis, kardiovascular, mikrobiologi), pelayanan penunjang non medis (instalasi gizi, farmasi, Central Sterilization Supply depart (CSSD), bioelektrik medik, Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS), dan pelayanan non medis (instalasi tata usaha pasien, teknik sipil pemulasaraan jenazah). Ruang Stroke Corner terletak di lantai 2 RINDU A.

5.1.2. Deskripsi Penderita Stroke Fase Akut

Proses pengambilan data primer dan sekunder dalam penelitian ini dilakukan dari tanggal 30 Agustus-30 Oktober 2014 yang dilakukan di Stroke Corner RSUP H. Adam Malik Medan. Total sampel yang diambil adalah 89 orang yang sesuai dengan kriteria inklusi. Semua data yang sesuai kriteria inklusi ini diolah untuk mengetahui

hubungan tekanan darah dengan tingkat keparahan pada penderita stroke fase akut di RSUP H.Adam Malik Medan.

Tabel 5.1 Gambaran Penderita Stroke Fase Akut

Gambaran Jumlah(Orang) Persentase(%)

Umur <45 12 13,5 45-65 59 66,3 >65 18 20,2 Jenis Kelamin Laki-Laki 39 43,8 Perempuan 50 56,2 Jenis Stroke Stroke Iskemik 59 66,3 Stroke Hemoragik 30 33,7 Klasifikasi Hipertensi Normal 13 14,6 Prehypertension 9 10,1 Hypertension grade 1 21 23,6 Hypertension grade 2 46 51,7 Tingkat Keparahan Ringan 6 6,7 Sedang 22 24,7 Berat 61 68,5 Total 89 100,0

Tabel 5.1 diatas menunjukkan bahwa penderita stroke fase akut pada tanggal 30 Agustus-30 Oktober 2014 berdasarkan jenis kelamin, lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki sebanyak 50 orang penderita (56,2%). Berdasarkan batasan usia dibagi menjadi beberapa kelompok. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa responden dengan profil usia 45-65 tahun lebih banyak ditemukan yaitu sebanyak 59 orang (66,3%).

Berdasarkan jenis stroke, stroke terbagi menjadi stroke iskemik dan stroke hemoragik. Dari data yang diperoleh,jumlah penderita stroke iskemik lebih tinggi dibandingkan penderita stroke hemoragik dengan persentase stroke iskemik 59 orang (66,3%).

Berdasarkan klasifikasi hipertensi, jumlah penderita stroke fase akut sangat tinggi pada hipertensi grade 2 sebanyak 46 orang (51,7%). Dari tabel diatas, tingkat keparahan pasien stroke fase akut sangat tinggi pada tingkat keparahan yang berat sebanyak 61 orang (68,5%).

5.1.3. Deskripsi Jenis stroke menurut tingkat keparahan stroke

Tabel dibawah menunjukkan bahwa tingkat keparahan berat lebih banyak dijumpai pada pasien dengan stroke iskemik yaitu 38 pasien (64,4%) dan stroke hemoragik 23 pasien (76,7%).

Tabel 5.2. Jenis stroke menurut tingkat keparahan stroke

Jenis stroke Tingkat keparahan

Ringan Sedang Berat

N % N % N %

Stroke iskemik 4 6,8 17 28,8 38 64,4

Stroke hemoragik 2 6,7 5 16,7 23 76,7

5.1.4. Hubungan Tekanan Darah dengan Tingkat Keparahan pada Pasien Stroke. Penelitian ini ingin mengetahui hubungan antara tekanan darah dan tingkat keparahan pada pasien stroke iskemik dan hemoragik pada fase akut. Untuk mengetahui hubungan kedua variabel tersebut dilakukan uji korelasi Pearson. Adapun hasil uji korelasi Pearson pada kedua variabel pada penelitian ini dapat dinyatakan dalam tabel berikut ini

Tabel 5.3 Uji Korelasi Pearson

Hubungan Tekanan Darah Sistole dengan Tingkat Keparahan Stroke Iskemik Variabel Penelitian Rata-rata Pearson Corelation

(r)

p value

Tekanan Sistole 156,01 -,204 ,121

Tingkat Keparahan 17,82

Tabel 5.4 Uji Korelasi Pearson

Hubungan Tekanan Darah Diastole dengan Tingkat Keparahan Stroke Iskemik Variabel Penelitian Rata-rata Pearson Corelation

(r)

p value

Tekanan Diastole 156,01 -.286 ,028

Tabel 5.5 Uji Korelasi Pearson

Hubungan Tekanan Darah Sistole dengan Tingkat Keparahan Stroke Hemoragik

Variabel Penelitian Rata-rata Pearson Corelation (r)

p value

Tekanan Sistole 156.01 ,199 ,293

Tingkat Keparahan 17,82

Tabel 5.6 Uji Korelasi Pearson

Hubungan Tekanan Darah Diastole dengan Tingkat Keparahan Stroke Hemoragik

Variabel Penelitian Rata-rata Pearson Corelation (r)

p value

Tekanan Sistole 156.01 ,221 ,241

Tingkat Keparahan 17,82

Penelitian ini menggunakan hipotesis dua arah (two-tailed) dengan tingkat kepercayaan 95%, yang berarti jika didapati nilai p < 0.05 untuk stroke iskemik dan hemoragik berarti hipotesis nol penelitian ditolak. Setelah dianalisis, dalam penelitian ini didapati nilai p = 0,121 dan p = 0,028 untuk stroke iskemik dan p = 0,293 dan p = 0,241 untuk stroke hemoragik. Karena nilai p yang diperoleh lebih besar dari 0,05 maka hipotesis nol dalam penelitian ini diterima dan p<0,05 untuk hubungan antara tekanan diastole dengan tingkat keparahan pada pasien stroke iskemik, yang berarti hipotesis nol pada hubungan antara tekanan diastole dengan tingkat keparahan ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara tekanan sistole dengan tingkat keparahan untuk stroke iskemik dan hemoragik (p > 0.05) dan terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara tekanan diastole dengan tingkat keparahan untuk stroke iskemik. Untuk menentukan kekuatan hubungan antara kedua variabel tersebut, dilakukan interpretasi dari nilai koefisien korelasi Pearson penelitian ini r = -0.24 dan r= -0,286 untuk stroke iskemik Tanda minus menyatakan arah hubungan, yakni semakin tinggi tekanan darah maka semakin rendah tingkat keparahan stroke.

Sedangkan 0.24 dan 0,28 menyatakan besarnya kekuatan hubungan antara tekanan darah sistole dan diastole dengan tingkat keparahan stroke. Besamya kekuatan hubungan antara tekanan darah sistole dan diastole dengan tingkat keparahan stroke dalam penelitian ini adalah sangat lemah (Wahyuni, 2007)

Nilai koefisien korelasi Pearson penelitian untuk stroke hemoragik r = 0,199 dan r = 0,221 untuk stroke hemoragik. Tanda positif menyatakan arah hubungan, yakni semakin tinggi tekanan darah maka semakin tinggi tingkat keparahan stroke. Sedangkan 0.199 menyatakan besarnya kekuatan hubungan antara tekanan darah sistole dengan tingkat keparahan stroke hemoragik ini adalah sangat lemah (Wahyuni, 2007).

5.2. Pembahasan

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penderita stroke lebih tinggi pada perempuan yaitu berjumlah 50 (56,2%). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan ASNA (ASEAN Neurological Association) di 28 rumah sakit di seluruh Indonesia yang menyatakan bahwa penderita laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ritarwan (2002) yang menyatakan bahwa penderita stroke akut terdiri dari 29 pria (64,4%) dan 16 wanita (35,6%), dimana kriteria inklusi sudah melakukan CT-Scan dan onset serangan stroke berlangsung <72jam. Hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan P, Nasya (2012) dengan total pasien 348 yang sesuai kriteria inklusi yaitu pasien stroke fase kut yang sudah di CT-Scan mendapatkan bahwa 192 (52,2%) pasien laki-laki dan 156 (44,8%) pasien perempuan. Hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan data Stroke statistics (2013) di England dan Scotland yang menyatakan bahwa insidens stroke lebih tinggi pada pada laki-laki dibandingkan perempuan. Walaupun insiden stroke lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan namun stroke juga banyak terdapat pada wanita, karena angaka harapan hidup umumnya lebih tinggi pada wanita dibandingkan laki-laki (Stroke statistics, 2013).

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa responden dengan profil usia 45-65 tahun lebih banyak ditemukan yaitu sebanyak 59 orang (66,3%).

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan ASNA (ASEAN Neurological Association) di 28 rumah sakit di seluruh Indonesia, dimana mereka menyebutkan bahwa profil usia stroke terbanyak pada usia 45-64 tahun berjumlah 54,2% dan diatas 65 tahun (33,5%) sedangkan profil usia dibawah 45 tahun juga cukup banyak yaitu 11,8%. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan P, Nasya (2012) dengan total sampel 348 mendapatkan bahwa penderita stroke fase akut terbanyak pada usia pertengahan (45-59tahun) yaitu 158 orang (45,4%). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan Ritarwan (2002) yang menyatakan bahwa sebaran umur yang terbanyak pada penderita stroke fase akut adalah pada kelompok (45-65tahun) ada 25 orang (55,6%), dengan kriteria inklusi penelitian tersebut sudah melakukan CT-Scan dan onset serangan stroke berlangsung pada ≤ 72 jam.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penderita stroke lebih tinggi pada penderita stroke iskemik sebanyak 59 orang dengan persentase 66,3%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ivica, et al., (2009) dengan 1066 pasien stroke menyebutkan bahwa terdapat 920 pasien stroke iskemik dengan 450 (48,9%) perempuan dan 470 (51,5%) pasien laki-laki. Pasien stroke hemoragik 146 dengan 70 (47,9%) laki-laki dan 76 (52,1%) pasien perempuan. Hasil penelitian ini sejalan dengan P, Nasya (2012) dengan total pasien 348 yang sesuai kriteria inklusi yaitu pasien stroke fase kut yang sudah di CT-Scan mendapatkan bahwa jenis stroke terbanyak adalah stroke iskemik yaitu sebanyak 190 orang (54,6%) sedangkan stroke hemoragik 158 (45,4%). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan Ritarwan (2002) didapatkan pasien stroke iskemik 31 kasus (68,9%) dan stroke hemoragik 14 kasus (31,1%). Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dlakukan Saktina (2011) dengan total sampel 85 orang penderita yang sudah dilakukan CT-Scan, dengan kasus terbanyak adalah stroke iskemik (44orang) dan stroke iskemik (41 orang).

Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa penderita stroke fase akut dengan hipertensi stage 2 sering dijumpai yaitu sebanyak 46 (51,7%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ahmed, N (2001) dengan sampel 295 pasien mendapatkan bahwa peningkatan tekanan darah sampai >160/90 (n=126) sering dijumpai pada stroke fase akut. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan Wilmot (2004) yang menyatakan bahwa tekanan darah (>140/90) 75% dijumpai pada pasien stroke akut. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan di International Stroke Trial dan Chinese Acute Stroke Trial yang menyatakan bahwa 82% dan 75% pasien memiliki darah sistolik >140 mmHg pada 48 jam pertama terjadinya stroke akut (Robinson & Potter, 2004). Patofisiologi peningkatan tekanan darah tersebut disebabkan response muktifaktorial dan berhubungan kuat dengan riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya, aktivasi dari neuroendokrine sistem (sistem saraf simpatis, aksis renin-angiotensin, dan sistem glukokortikoid).

Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan responden dengan tingkat keparahan berat lebih banyak ditemukan yaitu sebanyak 61 pasien (68,5%). Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ritarwan (2002) yang menilai hubungan peningkatan suhu dengan tingkat keparahan pada pasien stroke dengan sampel 45 orang mendapatkan bahwa 23 kasus pasien memiliki tingkat keparahan ringan dan 22 pasien memiliki tingkat keparahan berat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keparahan berat lebih banyak dijumpai pada pasien dengan stroke iskemik yaitu 38 pasien (64,4%) dan stroke hemoragik 23 pasien (76,7%), hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan Andersen, Klasu Kaae, et al., (2009) pada 3993 pasien stroke yang dievaluasi tingkat keparahan nya dengan skala Scandinavian Stroke Scale dan sudah dikonfirmasi dengan CT-Scan menyatakan bahwa pasien stroke hemoragik memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi dan memiliki resiko mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan stroke iskemik, namun peneliti berasumsi ketidaksesuain ini dikarenakan jumlah pasien stroke iskemik yang lebih banyak daripada stroke

hemoragik, sehingga terlihat pada pasien stroke iskemik tingkat keparahan berat lebih banyak dijumpai.

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan hubungan tekanan darah sistole dengan tingkat keparahan pada pasien stroke iskemik yaitu r = (-) 0,204 dan nilai p=0,121, hubungan tekanan darah diastole dengan tingkat keparahan pada pasien stroke iskemik yaitu r = (-) 0,286 dan nilai p=0,028 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tekanan darah sistole dengan tingkat keparahan stroke, dan terdapat hubungan antara tekanan darah diastole dengan tingkat keparahan stroke (r = -0,286 p<0,005). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rossi, P et al., (2011) yang meneliti 57 pasien stroke iskemik dan mengukur tingkat keparahan dengan skala NIHSS mendapatkan bahwa tidak adanya hubungan antara tekanan darah sistole dengan tingkat keparahan stroke dan hasil penelitian ini tidak sesuai untuk hubungan antara tekanan darah diastole dengan tingkat keparahan stroke. Hal ini dikarenakan suhu tubuh dan kadar gula darah juga merupakan keadaan umum yang akan mempengaruhi outcome (Rasyid, Al dan Soertidewi, Lyna, 2007). Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sare, Gillian. M. , et al., (2009) dengan sampel 1722 pasien stroke iskemik, mendapatkan bahwa tekanan darah sistolik yang tinggi secara signifikan berhubungan dengan neurological impairment (OR 1,06, 95%CI) dan outcome yang buruk dengan menggunakan skala NIHSS. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Leonardi-Bee, Jo (2002) tekanan darah yang tinggi maupun rendah menghasilkan outcome yang buruk pada pasien stroke iskemik. Outcome yang buruk pada tekanan darah yang tinggi disebabkan oleh semakin memburuknya edema serebral, sedangkan tekanan darah rendah mengakibatkan hipoperfusi serebral (Grise, 2012) Hasil penelitian ini juga tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan Castilo, Jose (2004) yang mendapatkan bahwa tekanan sistolik >180mmHg lebih meningkatkan 40% outcome yang buruk dibandingkan tekanan darah sistolik <180 mmHg (25%) dan tekanan darah diastole ≤ 100 atau >100 akan meningkatkan outcome yang buruk. Hal ini lah yang menyebabkan kontrol

tekanan darah pada stroke masih menjadi masalah yang kontroversial (Ohwaki, Kazuhiro, 2004).

Adanya perbedaan dan ketidaksesuaian penelitian ini dengan sebelumnya dapat disebabkan karena beberapa faktor, seperti perbedaan subjek dan metode yang dilakukan serta beberapa faktor lain yang mempengaruhi outcome pasien stroke seperti suhu tubuh dan kadar gula pasien, letak dan jumlah lesi, dan volume perdarahan.

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan hubungan tekanan darah sistole dengan tingkat keparahan pada pasien stroke hemoragik yaitu 0,199 dan nilai p=0,293 dan hubungan tekanan darah diastole dengan tingkat keparahan pada pasien stroke hemoragik yaitu 0,221 dan nilai p=0,241. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tekanan sistolik dan diastolik seseorang maka semakin tinggi tingkat keparahan stroke seseorang walaupun kekuatan hubungan antara keduanya dalam taraf yang sangat lemah (r = -0.204, p >0,005), dan karena nilai p pada penelitian ini >0,05 (p=0,293 dan p= 0,241) maka Ho dalam penelitian ini diterima. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wilmot, Mark (2004) yang mendapatkan bahwa tekanan sistole (OR 2,69: 95% CI) dan diastole yang tinggi (OR 4,68; 95% CI) pada stroke hemoragik secara signifikan berhubungan dengan kematian dan ketergantungan pasien tersebut terhadap orang lain (dependency). Hal ini dikarenakan menurut penelitian yang dilakukan Ohwaki, Kazuhiro (2004) menyimpulkan bahwa tekanan darah sistole yang tinggi secara tidak langsung meningkatkan resiko terjadinya hematoma enlargement.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain metode yang digunakan hanya cross-sectional serta banyaknya faktor yang mempengaruhi tingkat keparahan stroke sementara dalam penelitian ini hanya menilai dari segi tekanan darah saja. Namun sebagian hasilpenelitian ini masih menunjukkan hasil yang sesuai dengan penelitian-penelitianlainnya.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait