BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pada bagian ini penulis merangkum hasil pendapat responden dari proses penelitian saat wawancara yang sudah dilaksanakan. Hasil kesimpulan diambil berdasarkan hasil yang paling dominan disebutkan oleh para responden.
a) Paroki St. Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta yang menjadi parokinya orang muda
Hasil dari pencarian data dengan wawancara bersama responden, diperoleh berbagai hasil mengenai Paroki St. Antonius Padua Kotabaru yang menjadi parokinya orang muda. Pendapat responden ada yang mengatakan jika di paroki lain hanya menampung dari wilayah paroki sedangkan Paroki Kotabaru menjadi paroki yang terkonsep untuk orang muda, tempatnya orang muda untuk berpelayanan, sudah terkenal dengan orang mudanya dan yang terkenal dari EKMnya. Saat Ekaristi dan kegiatan tim kerja serta komunitas dihadiri banyak orang muda.
Paroki yang mampu menjadi pilihannya orang muda juga karena ada kehadiran romo-romo muda. Paroki menerima dan melibatkan orang muda, kemudian paroki memberi ruang dan pendampingan sehingga setiap orang muda mampu bertumbuh, berkembang dan kreatif, potensi dalam diri orang muda dikembangkan. Ekaristi di Paroki inipun sudah kekinian, tidak monoton, misanya
cepat dengan durasi satu jam. Hal lain yang diungkapan bahwa Paroki Kotabaru termasuk paroki terbesar, tertua dan berada di tempat strategis tengah Kota, menjadi paroki yang istimewa. Hasil data yang diperoleh juga mengatakan Paroki St. Antonius Padua Kotabaru suasananya adem, damai, orang mudanya saling cinlok, bisa cuci mata melihat yang ganteng-ganteng, orang muda yang memakai barang branded.
Hasil dari data yang diperoleh di lapangan mampu disimpulkan dari yang lebih banyak diungkapkan responden bahwa di Paroki St. Antonius Padua Kotabaru memang sudah terkenal sebagai tempatnya untuk orang-orang muda. Kehadiran orang muda setiap kali saat perayaan Ekaristi dan dalam segala kegiatan di tim kerja maupun komunitas menjadi yang paling dominan dihadiri oleh orang-orang muda. Saat perayaan Ekaristi dihadiri sebagian besar oleh orang muda sehingga mampu membuat orang muda yang lain juga mengikuti perayaan Ekaristi di Paroki St. Antonius Padua Kotabaru. Begitupula dalam kegiatan tim kerja dan komunitas yang berpartisipasi didalamnya adalah orang-orang muda. Paroki St. Antonius Padua Kotabaru sudah menjadi tempatnya untuk orang-orang muda dari mana saja dari berbagai daerah untuk berkumpul dan terlibat bersama di tempat ini.
Orang-orang muda yang terlibat di Paroki St. Antonius Padua Kotabaru menjadi pilihan untuk orang muda lain yang ingin bergabung dan merasakan berdinamika bersama orang-orang muda yang sebelumnya sudah tergabung. Antar orang muda saling merasa cocok dan mampu untuk diajak bekerjasama. Setiap kali hadirnya orang-orang muda terkenal dari tahun ke tahun akan keberadaan
orang mudanya yang selalu terlibat aktif mengihidupi Gereja ataupun yang selalu memenuhi saat Ekaristi. Dari argument itu yang mampu menjawab bahwa Paroki St. Antonius Padua Kotabaru menjadi tempatnya untuk orang muda. Hampir dalam setiap momen orang muda tidak pernah absen dari kehadirannya.
Paroki St. Antonius Padua Kotabaru dengan orang muda mampu bekerja sama untuk saling mendukung satu sama lain. Pihak paroki membuka pintu bagi orang-orang muda untuk datang dan berjumpa dengan orang muda yang lainnya. Keberadaan orang muda sugguh diapresiasi karena dengan ini orang muda sudah memiliki niat dan paroki mendukung dari setiap orang muda untuk terlibat dan bekerja sama dengan paroki. Orang muda sekiranya selalu diperhatikan, supaya mereka merasa keberadaanya diterima, diakui dan dihargai.
b) Daya tarik orang muda pada Paroki St. Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta
Tanggapan dari semua responden mengenai Paroki St. Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta yang memiliki daya tarik bagi orang muda maka diperoleh data diantaranya mengatakan bahwa paroki ini termasuk paroki terbesar, letaknya strategis berada di tengah kota sehingga mampu menjangkau dan mengajak orang muda. Juga kehadiran romo-romo muda yang mampu akrab dengan orang mudanya. Selain itu Paroki St. Antonius Padua Kotabaru memiliki tim kerja dan komunitas. Hal ini mampu menjadi peluang untuk orang muda berkreasi, mengembangkan bakat, didalamnya selalu terjadi dinamika, menumbuhkan jiwa melayani serta menemukan Tuhan. Orang muda juga tertarik dengan homili yang diberikan saat Ekaristi tidak bertele-tele, jelas dan mengena sesuai situasi yang
dialami orang muda. Orang muda lebih senang mendengarkan homili di Paroki St. Antonius Padua Kotabaru karena homili mampu meneguhkan orang-orang muda, homili yang diberikan singkat padat dan jelas. Jadwal perayaan Ekaristi sampai tujuh kali sehingga mampu memberikan waktu untuk orang muda tetap mengikuti Ekaristi ditengah waktu kesibukan dan kegiatannya.
Daya tarik yang lain bagi orang muda ialah sapaan dari romo. Romo begitu menyapa orang-orang muda dan sangat terbuka, dengan itu romo seringkali mengajak nongkrong untuk berdinamika diluar tugas tapi tetap membincangkan kegiatan-kegiatan paroki. Kehadiran orang muda di paroki ini mampu menarik perhatian dan memikat bagi orang muda yang lain. Paroki memprioritaskan orang muda juga mendukung dan memberi ruang bagi orang muda. Orang muda sangat diterima dengan baik tanpa ada persyaratan khusus untuk bergabung di paroki ini, hal ini karena Paroki St. Antonius Padua Kotabaru yang terbuka bagi orang-orang muda.
Kesimpulan hasil riset dari berbagai tanggapan diatas dari para responden bahwa orang muda lebih tertarik di Paroki St. Antonius Padua Kotabaru karena memiliki tim kerja dan komunitas yang aktif didalamnya sehingga orang muda bebas untuk memilih sesuai dengan minat masing-masing. Para Bapa Sinode dalam OMIPP 17 menekankan dengan mengatakan “inilah perlunya memikirkan kembali cara-cara konkrit dalam melaksanakan pelayanan”. Cara ini yang mampu diambil paroki bahwa tersedianya ruang bagi orang muda dan mampu melibatkan orang-orang muda untuk mengembangkan potensi dari mereka, juga jiwa melayani dalam pastoral lewat tim kerja dan komunitas. Hal ini menjadi dampak
bagi orang muda untuk semakin bertumbuh dalam jiwa pelayanan. Banyaknya orang muda yang mendominasi mampu menarik orang muda yang lain untuk ikut mencoba terlibat dan bekerjasama dalam dinamikanya. Hal ini mampu menjadi magnet untuk mengajak orang muda yang lain bergabung dan merasakan mengikuti kegiatan pelayanan yang telah tersedia.
Dituliskan dalam OMIPP 18 “betapa paroki berjuang menjadi tempat relevan bagi orang muda dan betapa perlunya memikirkan kembali panggilan misioner mereka”. Inilah yang mampu menjadi refleksi dari paroki, menjadikan
Paroki St. Antonius Padua Kotabaru berupaya mencari potensi orang muda dan akhirnya menjadi tempat orang muda terpanggil akan perutusannya untuk menjadi karya tangan Allah dan menjawab panggilan Allah. Faktor lain muncul dari pengaruh teman mampu memberikan dorongan bagi yang lain untuk ikut serta, inilah menjadi ciri khas orang muda bahwa faktor teman sangat mempengaruhi. c) Paroki St. Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta yang menjadi tempat
pilihan atau latar belakang keterlibatan hidup menggereja bagi orang muda
Hasil wawancara bersama responden memberikan kelengkapan data diantaranya beragumen mengenai Paroki St. Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta menjadi tempatnya orang muda untuk mengikuti kegiatan hidup menggereja karena di paroki ini sudah tersedia tempat pelayanan lewat tim kerja dan komunitas. Tim kerja dan komunitas sudah terbagi ke dalam masing-masing bidang, kegiatan yang ada disetiap tim kerja dan komunitas bukan hanya kegiatan rohani tetapi juga kegiatan sosial yang bukan bagian tugas liturgi.
Berbagai kegiatan tersebut mampu merangkul orang muda untuk terlibat hidup menggereja dan model pelayanan yang sesuai dan relevan saat ini bagi orang muda. Dari sini masing-masing tim kerja mampu promosi dan merekrut anggota baru untuk bergabung dalam tugas pelayanan untuk gereja. Orang muda yang terlibat di paroki mereka asik-asik, mampu menerima kelebihan kekurangan, saling mendukung dan mampu bekerjasama satu dengan yang lain. Orang muda memiliki kekuatan, yang dimiliki oleh orang muda mampu diakui, difasilitasi dan didampingi oleh paroki.
Kesimpulan hasil riset dari argument para responden yang paling banyak mengatakan terkait permasalahan tersebut ialah tersedianya wadah, ruang atau tempat untuk orang-orang muda melakukan pelayanan dalam segala bentuk yang telah tersedia di Paroki St. Antonius Padua Kotabaru. Adanya tim kerja dan komunitas yang ada di paroki mampu memberikan kesempatan kepada orang-orang muda untuk bergabung dan memilih mana yang diminati. Orang-orang-orang muda diajak untuk mencoba melalui kegiatan dan tugas yang dilaksanakan di masing-masing tim kerja serta komunitas.
Melalui kegiatan ini orang muda mampu mendapat dampak positif bagi diri mereka, mereka menjadi percaya diri, mampu hidup dalam kelompok dan bersosialisasi, membangun relasi dengan banyak orang muda lainnya. Juga terdapat orang muda yang mendominasi dalam setiap tim kerja dan komunitas, di dalamnya pasti ada orang-orang muda dan yang hadir kebanyakan dari kalangan orang-orang muda. Hal ini pulalah yang menjadi perhatian dan kemenarikan bagi orang muda yang lain untuk mau bergabung dan aktif berpelayanan di Paroki St.
Antonius Padua Kotabaru. Melalui hal-hal diatas sebagaimana tertulis juga dalam CV 38 bahwa “kedekatan menciptakan kondisi di mana Gereja bisa menjadi ruang dialog dan kesaksian persaudaraan yang mempesona”. Menciptakan lebih banyak
ruang untuk menggemakan suara orang muda: “Mendengarkan memungkinkan pertukaran karunia dalam konteks empati.”
Orang muda mendapat dukungan, perhatian, dan setiap pendapat akan didengar baik oleh para romo serta dewan paroki. Tidak hanya faktor itu saja melainkan juga dari faktor orang-orang mudanya sendiri, bahwa mereka asik-asik, mau menerima satu dengan yang lain, saling mendukung, saling memahami hingga terjalin relasi persaudaraan diantara mereka. Berbagai hal ini mampu sesuai dengan minat orang-orang muda, untuk itu kalangan orang-orang muda merasa nyaman dan suka cita dengan apa yang sudah mereka jumpai dan rasakan bersama teman-teman muda yang lain di Paroki St. Antonius Padua Kotabaru. d) Perlunya orang muda untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja
Berbagai pendapat ditemukan dalam menjawab mengenai perlunya orang muda terlibat hidup menggereja, bahwa ada dari responden mengatakan perlu tidaknya tergantung pilihan masing-masing namun dari paroki perlu menumbuhkan sikap perlu itu. Sebagian responden mengatakan jika orang muda perlu dalam hidup menggereja dikarenakan orang muda sebagai generasi penerus dari orang tua. Orang muda yang meneruskan perjalanan Gereja, sebagai regenerasi dan masa depan ada ditangan orang muda, ada penerus untuk melaksanakan tugas-tugas Gereja. Harapan dari responden jika orang muda menjadi regenerasi struktur pengurus lingkungan. Dari orang muda yang lebih
memahami dengan situasi zaman sekarang sehingga mampu lebih mengembangkan untuk perubahan. Kiranya orang muda semakin mengembangkan talentanya, tetap berdoa, dan menjalin sosialisasi.
Hasil kesimpulan riset dari data yang diperoleh bersama responden memberikan penjelasan bahwa orang-orang muda memang sangat diperlukan untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Alasannya karena orang muda yang menjadi penerus dari generasi orang-orang tua. Orang muda menjadi masa kininya gereja, sekaligus juga masa kininya Allah. Tidak dapat mengatakan bahwa orang muda hanyalah masa depan Gereja: mereka adalah masa kini, mereka sedang memperkaya kita dengan keterlibatan mereka. Orang muda bukan lagi anak-anak, mereka sedang dalam masa hidup di mana mereka mulai memikul tanggung jawab yang berbeda, dengan berpartisipasi bersama orang dewasa lain dalam pengembangan keluarga, masyarakat dan Gereja (CV 64). Saat ini orang muda menjadi pelaku utama yang bergerak untuk bertindak. Juga orang muda saat ini yang selalu mengikuti perkembangan zaman. Lewat orang muda tentunya mereka memiliki banyak ide kreatif, cara kerja yang profesional, mempunyai spirit, mempunyai kecepatan dan kekuatan, dan orang muda saling mampu belajar.
Harapan saat ini dan kedepannya untuk orang muda sekiranya menjadi peran “agent of changed” atau pembawa perubahan. Orang muda memiliki peran yang sangat penting dan berpengaruh. Oleh karena itu sebagai orang muda memiliki tanggungjawab yang besar terutama untuk perkembangan dan kemajuan
Gereja dari zaman ke zaman. Melalui orang mudalah yang menjadi pengharapan Gereja.