• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Dalam dokumen Proceeding SN FKIP UKSW 24 05 2016 (Halaman 190-196)

Hasil Penelitian

1. Kemampuan Awal Hasil Belajar a. Analisis Deskriptif NilaiPretest

Data nilaipretestdigunakan untuk melihat hasil belajar matematika siswa sebelum dilakukan penelitian dan diberikan perlakuan. Data yang digunakan sebagai nilaipretestadalah nilai tes ulangan matematika pada materi lingkaran. Hasil analisis deskriptif nilaipretest dapat dilihat pada Tabel 1.

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Eksperimen 28 45 85 66.54 11.397

Kontrol 27 45 85 69.33 9.731

Valid N (listwise) 27

Tabel 1Deskripsi Statistika NilaiPretest

Berdasarkan Tabel 1, diketahui nilai terendah dan nilai tertinggi pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama yaitu 45 dan 85. Jika dilihat dari nilai rata-rata dan standar deviasi, maka nilai 27 siswa pada kelas kontrol memiliki rata-rata (69,33) dan standar deviasi (9,371) lebih baik dibanding rata-rata dari 28 siswa kelas eksperimen (66,54) dengan standar deviasi 11,397.

Hasil belajar dapat dibedakan menjadi 3 kategori yaitu tinggi, sedang, rendah. Pengkategorian ini menggunakan nilai interval dengan rumus nilai tertinggi dikurangi nilai terendah dibagi jumlah kelas interval (Widoyoko, 2013). Interval untuk kondisi awal hasil belajar siswa adalah . Hasil sebaran nilai hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 2 dan Gambar 1.

Kategori Interval Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase

Rendah 45,04–58,34 8 14,55% 3 5,45%

Sedang 58,35–71,65 10 18,18% 9 16,36%

Tinggi 71,66–84,96 10 18,18% 15 27,27%

SXY Z[ \R] \SZ ^_H\`IL aXNXLIbI\N aXNcIcIK\N |dKIaeK`f, `agahijak l Mmik n o6

Gambar 1 Sebaran NilaiPretest

Berdasarkan Tabel 2 dan Gambar 1, dapat disimpulkan jika di kelas eksperimen persentase antara kategori tinggi dan sedang sama (18,18%). Meskipun demikian sebagian besar siswa di kelas kontrol (27,27%) masuk kategori tinggi. Siswa yang masih dalam kategori rendah lebih banyak berasal dari siswa pada kelas eksperimen (14,55%) sedangkan siswa pada kelas kontrol yang masih dalam kategori rendah hanya 5,45%.

b. Uji Normalitas NilaiPretest

Uji normalitas merupakan uji prasyarat sebelum melakukan uji beda rata-rata dua sampel. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data kelas sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan ujiShapiro-Wilk.Sembiring (2000) menuliskan bahwa jika jumlah sampel pada masing-masing kelas sampel kurang dari 50 maka menggunakan uji

Shapiro-Wilk . Hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 3.

a. Lilliefors Significance Correction

Kelas

Shapiro-Wilk

Statistic Df Sig.

Eksperimen .952 28 .224

Kontrol .934 27 .086

Tabel 3Uji Normalitas NilaiPretest

Berdasarkan Tabel 3, terlihat bahwa nilai signifikan kelas eksperimen 0,224 dan kelas kontrol 0,086, keduanya lebih dari 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kedua kelas masing-masing berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

c. Uji Homogenitas dan Uji Beda Rerata NilaiPretest

Hasil uji normalitas menyimpulkan bahwa kedua sampel masing-masing berasal dari populasi berdistribusi normal. Oleh karena itu, analisis uji yang digunakan adalah

Ppqrstuu Ppqrrqssqu vwxpy Ppz{pya|ataq Kww}pta~€}p NH‚pt{aq~ƒ Mpxa LK„…axa Ma~pt Kƒ{ƒ†xaayw‡ˆˆ |„t…ƒt‰aqqr†u, x‡‡

analisis statistika parametrik. Nilaipretest diuji menggunakan ujiindependent sample t-testuntuk mengetahui keseimbangan kondisi awal kedua kelas. Untuk itu diperlukan uji homogenitas untuk menentukan jenis ujiindependent sample t-testyang akan digunakan. Hasil uji homogenitas dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4Hasil UjiIndependent Sample t-test Nilai Pretest Levene's Test for

Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T Df Sig. (2- tailed) Mean Differen ce Std. Error Differen ce 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Nilai Equal variances assumed 1.020 .317 -.977 53 .333 -2.798 2.862 -8.539 2.944 Equal variances not assumed -.980 52.24 7 .332 -2.798 2.854 -8.524 2.929

Uji homogenitas menggunakan ujiLevene’s Testmenghasilkan nilai signifikansi 0,317 (lebih dari 0,05) yang berarti data berasal dari populasi yang memiliki variansi sama (homogen). Oleh karena itu, ujiindependent sample t-testyang digunakan adalah uji independent sample t-testjenisequal variances assumed. Berdasarkan Tabel 4 pada kolomt-test for Equality of Meansdiketahui bahwa ujiindependent sample t-testdengan tipeequal variances assumed menghasilkan nilai signifikan 0,333 (lebih dari 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa kondisi awal hasil belajar kedua kelompok sampel seimbang.

2. Kondisi Akhir Hasil Belajar

a. Analisis Deskriptif NilaiPosttest

Data kemampuan akhir siswa diperoleh dari nilaiposttestmatematika siswa yang diambil setelah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe NHT berbantu media LKS. Hasil analisis data statistik deskriptif dapat dilihat pada Tabel 5.

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Eksperimen 28 60 98 82.04 11.824

Kontrol 27 50 92 75.07 10.183

Valid N (listwise) 27

SŠ‹ Œ ŽR ŽSŒ ‘HŽ’IL “ŠNŠLI”IŽN “ŠN•I•IKŽN |–KI“—K’˜, ’a™aš›œa ž MŸ›   ¡6

Berdasarkan Tabel 5, diketahui bahwa dari 28 siswa pada kelas eksperimen memiliki nilai minimal (60), maksimal (98), dan rata-rata (82,04) lebih baik dibanding 27 siswa pada kelas kontrol yang nilai minimum, maksimum, dan rata-ratanya berturut- turut 50, 92, dan 75,07. Namun jika dilihat dari aspek standar deviasi, nilai 27 siswa kelas kontrol lebih baik karena memiliki standar deviasi (10,183) lebih kecil dibanding standar deviasi pada kelas eksperimen (11,824).

Berdasarkan data nilai minimum dan maksimum, maka panjang kelas untuk

pengkategorian hasil belajar kondisi akhir diperoleh dari Hasil sebaran

nilai hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 2.

Kategori Interval Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase

Rendah 49,99–65,99 2 3,64% 3 5,45%

Sedang 66,00–82,00 13 23,64% 16 29,09%

Tinggi 82,01–98,01 13 23,64% 8 14,55%

Tabel 6 Pengkategorian NilaiPosttest

Gambar 2Sebaran NilaiPosttest

Berdasarkan Tabel 6 dan Gambar 2, dapat disimpulkan jika di kelas eksperimen persentase antara kategori tinggi dan sedang sama (23,64%), namun di kelas kontrol sebagian besar (29,09%) masuk kategori sedang. Siswa yang masih dalam kategori rendah lebih banyak berasal dari siswa pada kelas kontrol (5,45%) sedangkan siswa pada kelas eksperimen yang masih dalam kategori rendah hanya 3,64%.

b. Uji Normalitas NilaiPosttest

Berdasarkan analisis deskriptif data kondisi akhir hasil belajar, maka dilakukan uji normalitas dengan ujishapiro-wilk.Hasil uji normalitas nilaiposttest dapat dilihat pada Tabel 7.

P¢£¤¥¦§u P¢£¤¤£¥¥£u ¨©ª¢« P¢¬­¢«a®a¦a£ K©©¯¢¦a°±²³±¯¢ NH³´¢¦­a£°µ M¢ª±a LK¶·aªa Ma°¢¦± Kµ­µ¸ªa£´a«©¹ºº |¶¦±·µ¦»a£±£¤¸±§, ª¹¹ Kelas Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Eksperimen .928 28 .055 Kontrol .946 27 .173

Tabel 7Uji Normalitas NilaiPosttest

Berdasarkan Tabel 7, terlihat bahwa nilai signifikan kelas eksperimen (0,055) dan kelas kontrol (0,173) keduanya lebih dari 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kedua kelas masing-masing berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

a. Uji Homogenitas dan Uji Beda Rerata NilaiPosttest

Hasil uji normalitas nilaiposttestmenyimpulkan bahwa kedua sampel masing- masing berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Hasil uji homogenitas dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8Hasil Hasil UjiIndependent Sample t-testNilai Posttest

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. T Df Sig. (2- tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Nilai Equal variances

assumed 1.747 .192 2.336 53 .023 6.962 2.980 .984 12.939 Equal variances

not assumed 2.342 52.347 .023 6.962 2.972 .999 12.925

Uji homogenitas menggunakan ujiLevene’s Testmenghasilkan nilai signifikansi 0,192 (lebih dari 0,05) yang berarti data berasal dari populasi yang memiliki variansi sama (homogen). Oleh karena itu, ujiindependent sample t-testyang digunakan adalah uji independent sample t-test jenis equal variances assumed. Uji ini menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,023 (kurang dari 0,05), artinya terdapat perbedaan rerata hasil belajar matematika yang signifikan antara kedua kelompok sampel, dan karena rata-rata nilai hasil belajar kelas eksperimen (82,04) lebih tinggi daripada kelas kontrol (75,07), maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model kooperatif tipe NHT berbantu media LKS berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa.

S¼½ ¾¿ ÀRÁ ÀS¾ ÂÃHÀÄIL żN¼LIÆIÀN żNÇIÇIKÀN |ÈKIÅÉKÄÊ, ÄaËaÌÍÎaÏ Ð MÑÍÏ Ò Ó6

Pembahasan Hasil Penelitian

Analisis datapretestdengan ujiindependent sample t-testmenghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,333 lebih dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa kondisi awal hasil belajar matematika siswa antara kedua kelompok sampel seimbang. Adapun hasil uji dataposttestsetelah ada tindakan berbeda selama 4 kali pertemuan (@ 2 jam pelajaran) menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,023 (kurang dari 0,05) dengan nilai rata-rata siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT berbantu media LKS (82,04) lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata siswa yang dikenai model konvensional (75,07).

Perbedaan rata-rata yang signifikan ini diakibatkan karena adanya perbedaan proses pembelajaran antara kedua kelompok sampel tersebut. Proses pembelajaran menggunakan model NHT memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dalam mempelajari materi secara berkelompok. Hal itu mempermudah siswa untuk saling membantu dalam memahami suatu materi. Pelaksanaan diskusi secara optimal dikontrol dengan adanya tuntutan pemanggilan nomor, dimana guru akan memanggil nomor siswa secara acak yang telah diberikan kepada siswa pada tahap penomoran. Guru juga menggunakan LKS untuk lebih mengontrol agar proses pembelajaran dapat berjalan secara sistematis. LKS ini berisi beberapa pertanyaan yang dapat digunakan guru dalam pengajuan pertanyaan yang akhirnya harus dijawab oleh siswa dalam teknik pemanggilan nomor dalam NHT. Contohnya dapat dilihat pada Lembar Kegiatan 3.1 pada Gambar 3.

PÔÕÖרÙu PÔÕÖÖÕ××Õu ÚÛÜÔÝ PÔÞßÔÝaàaØaÕ KÛÛáÔØaâãäåãáÔ NHåæÔØßaÕâç MÔÜãa LKèéaÜa MaâÔØã KçßçêÜaÕæaÝÛëìì |èØãéçØíaÕãÕÖêãÙ, Üëë

Pada Gambar 3 terlihat bahwa siswa diminta menjawab pertanyaan yang

diberikan oleh guru. Pada langkah “c” siswa diminta menuliskan jawabannya di papan

tulis apabila kodenya dipanggil oleh guru. Cara ini dilakukan terus menerus oleh guru pada berbagai kegiatan di dalam LKS. Adanya tahap pemanggilan kode, membuat setiap siswa dalam kelompok harus paham atas materi yang didiskusikan dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan berbagai kegiatan di dalam LKS, karena setiap siswa memiliki peluang untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh guru. Penggunaan LKS sebagai media pembelajaran dapat membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk ikut aktif dalam pembelajaran.

Dari uraian tersebut, tampak jelas bahwa guru hanya sebagai fasilitator. Sebagai fasilitator guru hanya berperan untuk mengatur, memonitoring, membimbing dan mengevaluasi jalannya diskusi. Hal itu tidak terjadi pada kelas yang dikenai model konvensional, dimana informasi materi sepenuhnya berasal dari guru, sehingga siswa cenderung kurang memiliki aktivitas yang mendukung pembelajaran karena kurang interaktif antar siswa. Hasilnya siswa bersifat pasif, sehingga pembelajaran cenderung bersifat satu arah. Proses menjawab pertanyaan juga didominasi oleh siswa yang berkemampuan tinggi saja, sedangkan siswa yang berkemampuan sedang dan rendah cenderung diam dan hanya menyalin jawaban teman di depan kelas.

PENUTUP

Dalam dokumen Proceeding SN FKIP UKSW 24 05 2016 (Halaman 190-196)