Ki Hadjar Dewantara. Sebagai seorang pendidik mengemukakan betapa pentingnya tiga pusat pendidikan (Sistem Tripusat), ialah alam atau lingkungan keluarga, alam perguruan dan alam pemuda. Tugas tiga pusat pendidikan itu adalah
! "#$% &% '($)*%'+ "'+$%#'+,&+'- )&+.-/ 0/ |10 %!/ 0 $2, $ 3435i6 37 8* 9i 7 : ;6
sebagai berikut: (1) Alam keluarga, pusat pendidikan yang pertama dan yang terpenting. Tugasnya mendidik budi pekerti dan laku sosial. (2) Alam perguruan, pusat pendidikan yang berkewajiban mengusahakan kecerdasan pikiran dan memberi ilmu pengetahuan. (3). Alam pemuda, membantu pendidikan baik yang menuju kepada kecerdasan jiwa maupun budi pekerti (Suratman 1985:1). Pendidikan berlangsung dalam kelembagaan rumah tangga (informal), sekolah (formal) dan organisasi (non formal). Ketiga pusat ini memiliki fungsi dan kontribusi yang berbeda dalam membentuk dan meningkatkan kompetensi peserta didik dalam berbagai kehidupannya.
Dalam keyakinan yang menjadi postulat nilai-nilai pendidikan di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara pendidikan yang khas Indonesia haruslah berdasarkan citra nilai Indonesia. Maka ia menerapkan tiga semboyan pendidikan yang menunjukkan kekhasan Indonesia, yakni : Pertama, Ing Ngarsa Sung Tuladha, artinya seorang guru adalah pendidik yang harus memberi teladan. Ia pantas digugu dan ditiru dalam perkataan dan perbuatannya. Kedua, Ing Madya Mangun Karsa, artinya seorang guru adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus- menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya. Ketiga, Tut Wuri Handayani, artinya seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus menuntun, menopang dan menunjuk arah yang benar bagi hidup dan karya anak-anak didiknya. Senada dengan semboyan pendidikan di atas adalah metode pendidikan yang
dikembangkan, yang sepadan dengan makna “paedagogik”, yakni Momong, Among
dan Ngemong, yang berarti bahwa pendidikan itu bersifat mengasuh. Mendidik adalah mengasuh anak dalam dunia nilai-nilai. (Samho :2010:44). Sekalipun dalam pendidikan kita punya kesempatan berinteraksi dengan bangsa lain tidak berarti langsung mengadopsi nilai-nilai yang dianutnya. Ketiga semboyan inilah, prinsip-prinsip pedagogik dan tata nilai pendidikan diajarkan dan ditanamkannya kepada kita sebagai insan yang terpanggil memajukan bangsa melalui pendidikan.
Pamong harus memberi tuntunan dan menyokong pada anak-anak agar dapat tumbuh dan berkembang berdasarkan kekuatan sendiri. Cara mengajar dan mendidik dengan menggunakan alat perintah, paksaan dengan hukuman seperti yang dipakai dalam pendidikan di masa dahulu, hendaknya dihindari. Metode ini disebut metode Among. Semboyan yang dipergunakan untuk melaksanakan metode ini adalah Tut Wuri Andayani, artinya mendorong para anak didik untuk membiasakan diri mencari dan belajar sendiri. Guru atau pamong mengikuti di belakang dan memberi pengaruh, bertugas mengamat-amati dengan segala perhatian; pertolongan diberikan apabila dipandang perlu (Suratman 1985 :79). Dalam hal ini Samho (2010:41), berpendapat
<=l=>an?i Nilai@nilai P=nAiAikan Ki HajaB D=wanCaBa Dalam R= >olD?i M=nCal P=nAiAikanE BamFang I?manCo
bahwa ketiga fatwa pendidikan Ki Hadjar di atas tetap penting sebab ia memiliki kandungan makna yang berkualitas kemanusiawian, suatu kualitas yang merupakan bagian mendasar dari idealisme pendidikan sejak masa Yunani klasik. Bila ketiga fatwa itu dikritisi, ia tampak tetap memiliki relevansi untuk konteks pendidikan Indonesia kini terutama manakala penerapannya dimaksudkan untuk membangun jiwa kepemimpinan dalam diri anak-anak di Indonesia. Harapan ke depan mereka
kelak mampu menjadi pemimpin Indonesia yang benar-benar “meng-Indonesia”.
Artinya, menjadi pemimpin yang memiliki ketetapan pikiran dan batin, memiliki kepercayaan diri dan pendirian yang teguh, memiliki pikiran yang suci, batin yang tenang dan hati yang senang. Kondisi demikian menjadi jaminan ke arah terciptanya kepemimpinan yang memerdekakan kemanusiaan setiap pribadi di Indonesia secara utuh dan penuh.
Peserta didik hendaknya dibiasakan bergantung pada disiplin kebatinannya sendiri, bukan karena paksaan dari luar atau perintah orang lain. Penerapan metode Among, dinyatakan dalam bentuk upaya membimbing anak dengan penuh kecintaan dan mendahulukan kepentingan sang anak maka anak dapat berkembang menurut kodratnya. Dengan demikian maka bakat peserta didik dapat berkembang dan hubungan pamong dan murid adalah seperti keluarga. Dewantara dalam Samho (2010: 43), merasa yakin bahwa dasar-dasar pendidikan yang cocok untuk Indonesia bukanlahregering, tucht, en orde(perintah, hukuman, dan ketertiban) melainkan orde en vrede(tertib dan damai, tata-tentrem). Anak manusia bisa tertib dan damai. Kalau dididik dalam suasana momong, among, dan ngemong.
Sebagai pendiri, pemikir dan pengembangan pendidikan Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara merumuskan Asas-asas pendidikan (1922), sebagai berikut: (1). Agar suatu bangsa dapat tumbuh secara sehat lahir dan batin, maka pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepadanya harus berdasarkan prinsip nasional dan kultural- kemasyarakatan. (2). Pengajaran yang diberikan oleh Pemerintah Kolonial hanya
untuk dapat menjadi “buruh” karena memiliki “Ijazah”, tidak untuk isi pendidikannya
dan mencari pengetahuan guna kemajuan jiwa-raga. (3). Pengajaran yang berjiwa kolonial itu akan membawa kita selalu tergantung kepada bangsa Barat. Keadaan ini tidak akan lenyap hanya dilawan dengan pergerakan politik saja, Perlu diutamakan penyebaran hidup merdeka di kalangan rakyat kita dengan jalan pengajaran yang disertai pendidikan nasional. (4). Kita harus berani membuat sistem pendidikan dan metodik baru didasarkan atas kultur sendiri dan untuk kepentingan masyarakat kita sendiri. (5) Pemakaian metode Among, suatu metode yang tidak menghendaki
G HIJK LK MNJOPKMQ HMQJKIMQRLQMS OLQTSU VU |WV KGU V JX, J YZY[i\ Y] ^P _i ] ` a6
berkembang dengan subur dan selamat, baik lahir maupun batinnya. 6. Supaya ada kemerdekaan yang seluas-luasnya pengajaran dan pendidikan nasional itu harus
berdasarkan / prinsip berdiri di atas kaki sendiri dan syaratnya adalah “berhemat”.
7. Perlu adanya demokratisasi dalam pengajaran, supaya tidak hanya lapisan atas saja yang terpelajar. Pengajaran harus benar-benar dapat dinikmati oleh rakyat. (Suratman: 198 : 107). Pemikiran ini sangatlah relevan dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional Indonesia tidak diskriminatif. Hal ini relevan dengan implementasi pasal 4 ayat 1 UU No. 20/2003 yang menyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
Dalam perspektif sejarah dalam merespon masalah Undang-undang Sekolah Liar 1932, Ki Hajar Dewantara menyerukan sendi-sendi pendidikan dalam prinsip
hidup : “Tetep-Mantep-Antep”, “Ngandel Kendel - Bandel-Kandel” dan “Neng- Ning-Nung-Nang”, Suratman : 1985:107). Dengan prinsip ini, Taman Siswa dapat mengatasi kesulitan-kesulitannya. “Tetap” atau tetap, maksudnya untuk mencapai
apa yang kita kehendaki, perlulah kita selalu tetap dalam pekerjaan kita, jangan selalu menengok ke kanan dan ke kiri. Kita harus terus berjalan tertib dan maju,
setia dan taat terhadap segala asas-asas kita. Lagi pula kita harus selalu “mantep”
atau berbesar hati, agar tidak akan ada kekuatan yang dapat menahan laku kita atau membelokkan aliran kita. Sesudah kita tetap dan mantap, dengan sendirinya perbutan
kita akan “antep” atau berat, dan pasti tidak mudah kita dapat ditahan, dihambat atau dilawan. “Ngandel” atau percaya maksudnya yakin kepada penguasa Tuhan dan kekuatan diri. “Kendel” atau berani, yaitu menghindarkan rasa takut atau wasangka. “Bandel” atau tahan, tawekal, ilah hatinya kuat menderita. “Kandel” atau
tebal (yaitu meskipun menderita namun kuat badan tubuhnya. Dalam rangka itu, Ki Hadjar Dewantara mengedepankan tiga ajaran tentang pendidikan (tiga fatwa), yakni: Tetep, antep dan mantep; ngandel, kandel, kendel dan bandel; Neng, ning, nung dan nang. Keempat tabiat itu saling berhubungan: barang siapa dapat percaya tentu akan
berani, lalu mudahlah ia tawekal dan dengan sendirinya ia akan tebal tubuhnya. “Neng” berarti “meneng” yaitu tenteram lahir-batinnya. “Ning” dari perkataan “wening” dan “bening” berarti jernih pikirannya, mudah dapat membedakan barang yang “hak” dan yang “batal”, yang “benar” dan yang “salah”. “Nung” dari perkataan “hanung”,
berarti kuat, sentosa dalam kemauannya, yaitu kokoh dalam segala kekuatannya,
lahir dan batin, untuk mencapai apa yang dikehendaki. “Nang” yaitu “menang” atau dapat “wewenang” atau berhak atas buah usahanya. Keempat tabiat ini juga saling- berhubungan: barang siapa dapat “neng” tentu mudah ia akan dapat berpikir “ning”,
bclcdanei Nilaifnilai Pcngigikan Ki Hajah Dcwaniaha Dalam Rc doljei Mcnial Pcngigikank Bamlang Iemanio
lalu menjadi kuat atau “nung” kemauannya, dan dengan sendirinya ia akan “menang.
Dwiarso dalam Albertus (2014:4) menyatakan bahwa Ki Hadjar Dewantara memasukkan kebudayaan dalam diri anak dan memasukkan diri anak ke dalam kebudayaan mulai sejak dini, yaitu Taman Indria (balita). Konsep belajar ini adalah
T ri N o , y a itu n o n to n , n ite n i d a n n iro k k e . N o n to n (cognitive), nonton di sini adalah
secara pasif dengan segenap panca indera. Niteni (affective) adalah menandai, mempelajari, mencermati apa yang ditangkap panca indera, dan nirokke (psychomotoric) yaitu menirukan yang positif untuk bekal menghadapi perkembangan anak Ketika anak didik sudah menginjak pada pendidikan Taman Muda (Sekolah Dasar), kemudian Taman Dewasa dan seterusnya maka konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah Ngerti, Ngroso lan Nglakoni. Model pendidikan ini dimaksudkan supaya anak tidak hanya dididik intelektualnya saja (cognitive), istilah Ki Hadjar Dewantara ‘ngerti’, melainkan harus ada keseimbangan dengan ngroso (affective) serta nglakoni (psychomotoric). Dengan demikian diharapkan setelah anak menjalani proses belajar mengajar dapat mengerti dengan akalnya, memahami dengan perasaannya, dan dapat menjalankan atau melaksanakan pengetahuan yang sudah didapat dalam kehidupan masyarakat.
Ki Hadjar Dewantara dalam Samho (2010:33), menyatakan bahwa pendidikan adalah daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Pendidikan nasional, seperti yang diterapkannya dalam Taman Siswa, ialah pendidikan yang beralaskan garis- hidup dari bangsa (kultur nasional) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang bisa mengangkat derajat negara dan rakyat. Orientasi globalnya adalah agar rakyat Indonesia dapat bekerja bersama-sama dengan bangsa-bangsa yang lain untuk kemuliaan manusia di seluruh dunia. Ini berarti bahwa Globalisasi bukanlah hal baru dalam dimensi pendidikan nasional. Pendidikan mengantarkan, menyiapkan dan mengembangkan SDM yang mampu menempatkan diri, proses akulturasi, transaksional, interprestasi dan internalisasi nilai-nilai positif. Kehadirannya kembali ke masyarakat Indonesia, tidak membawa perubahan negatif namun mendinamiskan pola kehidupan yang bermutu, bermartabat, mandiri dalam pendewasaan sebagai diri dan masyarakat.
Pendidikan militer yang memiliki citra kedisiplinan pada kenyataannya sangat relevan dengan ajaran pendidikan Ki Hadjar Dewantara di Taman Siswa, yaitu memberikan kebebasan bagi para individu untuk berkembang sesuai dengan kodrat alam. Antara pendidikan militer dan pendidikan di Taman Siswa tidak ada perbedaan,
m nopq rq stpuvqsw nswpqoswxrwsy urwzy{ |{ |}| qm{ | p~, p i v i 6
sama-sama menciptakan tujuan yang positif, yaitu tertib dan damai. Menurut Tyasno Sudarto, dalam Henricus, (2014 :16), SMA Taruna Nusantara menggunakan sistem Tri Pusat, yakni memadukan tiga lingkungan pendidikan, yaitu pendidikan sekolah, pendidikan keluarga, dan pendidikan masyarakat. Selain itu metode among diterapkan dengan Tutwuri Handayani sebagai dasar pengajaran, pengasuhan, dan pelatihannya. Kita bisa hidup di alam masyarakat yang tertib dan damai. Artinya, kebebasan tidak boleh lepas dari ketertiban, karena ketertiban akan melahirkan kedamaian. Kalau tidak tertib, pasti tidak akan ada kedamaian, oleh sebab itu, kalau kita semua masyarakat tertib dipastikan karena masyarakatnya disiplin, jadi semua itu sangat relevan dengan apa yang terdapat di dalam pendidikan militer. Pemikiran Pendidikan Taman Siswa yang diadopsi dan dikembangkan tata kelola SMA Taruna Nusantara. Pola dan nilai-nilai kehidupan dibangun sejak seseorang memasuki pendidikan pra kepemimpinan dan manajerial. Dengan pola demikian, keteladaan dapat dikondisikan lebih awal dalam kerangka membangun kepemimpinan nasional. Hal ini relevan dengan implikasi Pasal 4 ayat 4 UU Sisdiknas yang menetapkan prinsip Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
Rekontruksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara Revolusi Mental
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasonal (RPJMN) tahun 2015- 2019 telah menetapkan sembilan agenda prioritas, yang dikenal sebagai Nawacita, yang sepenuhnya berlandaskan ideologi Trisakti. Ideologi Trisakti mencakup kedaulatan di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Sementara itu Nawacita meliputi, (1) menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara; (2) membuat pemerintah selalu hadir dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya; (3) membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan; (4) memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya; (5) meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia; (6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya; (7) mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik; (8) melakukan revolusi karakter bangsa; serta (9) memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.
lani Nilainilai Pniikan Ki Haja Dwanaa Dalam R oli Mnal Pniikan Bamang Imano
Menurut Sunaryo Kartadinata 2014, Ada tanggung jawab unik pendidikan
dan pendidikan guru. “Tanggung jawab unik itu adalah menuntun bangsa ke jalan
nilai-nilai moral dan spiritual, mendidik warga negara bertanggung jawab atas kemaslahatan masyarakat, dunia, dan lingkungan alamnya. Pendidikan guru mengemban misi penting di dalam mewujudkan warisan nilai-nilai keadilan, demokrasi, keharmonisan, kesehatan lingkungan dan pewarisan nilai-nilai kultural yang akan menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa kesuksesan dan kemaslahatan
bagi pembangunan daya saing bangsa.”
“... Ada tanggung jawab moral perguruan tinggi dalam konteks ini, yaitu memperkuat nilai-nilai para pakar untuk berperan sebagai hati nurani bangsa di dalam membangun generasi muda dan melahirkan kemaslahatan sosial.” “Adalah tanggung jawab
p e n d id ik a n u n tu k m e m b a n g u n mindsetdamai yang tumbuh(growing peacefull mindset)dan bukanmindsetyang pasti(fixed mindset)agar manusia yang dilahirkan dari pendidikan memiliki kepakaran tinggi yang bermuatan hati nurani yang akan menjadi penentu kesuksesan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membuahkan kemaslahatan bagi umat manusia di dunia ini.” (Purwanto: 2014).
Paradigma pembangunan pendidikan dan kebudayaan Indonesia dalam Renstra Kemendikbud Tahun 2015-2019 meliputi: (1). Pendidikan untuk Semua; (2). Pendidikan Sepanjang Hayat; (3). Pendidikan sebagai Suatu Gerakan; (4). Pendidikan Menghasilkan Pembelajar; (5). Pendidikan Membentuk Karakter; (6). Sekolah yang Menyenangkan; (7). Pendidikan Membangun Kebudayaan.
Visi Kemendikbud 2019 dalam Renstra Tahun 2015-2019 adalah:
“Terbentuknya Insan serta Ekosistem Pendidikan dan Kebudayaan yang Berkarakter
dengan Berlandaskan Gotong Royong. Ekosistem meliputi: (1) Sekolah yang Kondusif; (2) Guru sebagai Penyemangut; (3) Orangtua yang Terlibat Aktif; (4) Masyarakat yang Sangat Peduli; (5) Industri yang Berperan Penting; (6) Organisasi Profesi yang Berkontribusi Besar; (7) Pemerintah yang Berperan Optimal. Gotong royong merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia dan diakui sebagai kepribadian dan budaya bangsa yang telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Gotong royong dalam pembangunan pendidikan dan kebudayaan berarti banyak hal yang dilakukan secara bersama oleh banyak pihak secara sadar, sukarela, merasa turut berkepentingan, serta dengan keinginan saling menolong. Gerakan ini dicirikan, antara lain oleh keterlibatan aktif masyarakat, dukungan langsung dunia usaha, dan kepercayaan yang tinggi terhadap lingkungan lembaga satuan pendidikan seperti sekolah.
Terbentuknya insan serta ekosistem kebudayaan yang berkarakter dapat dimaknai sebagai berikut (Renstra Kemendikbud : 2015-2019): 1. Terwujudnya
¡ ¢¡ |£¢ ¡ ¢ ¤, ¥¦¥§i¨ ¥© ª «i © ¬ 6
pemahaman mengenai pluralitassosialdan keberagaman budaya dalam masyarakat, yang diindikasikan oleh kesediaan untuk membangun harmoni sosial, menumbuhkan sikap toleransi, - dan menjaga kesatuan dalam keanekaragaman; 2. Terbentuknya wawasan kebangsaan di kalangan anak-anak usia sekolah yang diindikasikan oleh menguatnya nilai-nilai nasionalisme dan rasa cinta tanah air; 3. Terwujudnya budaya dan aktivitas riset, budaya inovasi, budaya produksi serta pengembangan ilmu dasar dan ilmu terapan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri untuk mendukung pusat-pusat pertumbuhan ekonomi; 4. Terwujudnya pelestarian warisan budaya baik bersifat benda (tangible) maupun tak benda (intangible); 5. Terbentuknya karakter yang tangguh dengan melestarikan, memperkukuh, dan menerapkan nilai- nilai kebudayaan Indonesia; 6. Tingginya apresiasi terhadap keragaman seni dan kreativitas karya budaya, yang mendorong lahirnya insan kebudayaan yang profesional yang lebih banyak; 7. Berkembangnya promosi dan diplomasi budaya.
Revolusi Mental pertama kali digunakan Presiden Soekarno tahun 1957 ketika revolusi nasional sedang berhenti. Gerakan itu ditujukan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Semangat tersebut kini diimplementasikan sesuai kondisi nyata oleh Presiden Joko Widodo dengan tujuan lebih memperkokoh kedaulatan, meningkatkan daya saing dan mempererat persatuan bangsa. Nilai-nilai esensial itu meliputi etos kemajuan, etika kerja, motivasi berprestasi, disiplin, taat hukum dan aturan, berpandangan optimistis, produktif-inovatif, adaptif, kerja sama dan gotong royong, dan berorientasi pada kebajikan publik dan kema- slahatan umum (Dirjen Inkominfo : 2015:1)
Persoalan-persoalan seputar budaya atau mentalitas merupakan bagian revolusi mental. Suatu trasformasi yang dalam bahasa Jokowi akan mendorong sikap
“negativisme menjadi positivisme”. Proses yang menginginkan sikap-sikap negatif
dari warganegara dikritisi dan diubah menjadi sikap-sikap positif. Oleh karena itu, diperlukan operasionalisasi konsep revolusi mental agar ide tersebut dapat dipahami dan diwujudkan. Revolusi mental dalam sebagai strategi kebudayaan mencakup : a. Upaya untuk mengubah kebiasaan dan kerangka pemikiran sehari-hari masyarakat yang berdampak luas bagi publik. b. Proses menghasilkan manusia merdeka, bagaimana mendidik manusia yang mengerti dirinya, mengerti keindonesiaannya. c. Transformasi pengertian dan pemahaman mengenai politik dari isu kekuasaan menjadi pelayanan publik. d. Perubahan pikir para penguasa menyangkut orientasi politik, perubahan sikap pejabat publik dan politik partisan, e. Tidak hanya menyangkut pola pikiran, namun juga perubahan struktural dalam interaksi sosial yang dominan
®¯l¯°an±i Nilai²nilai P¯n³i³ikan Ki Haja´ D¯wanµa´a Dalam R¯ °ol¶±i M¯nµal P¯n³i³ikan· Bam¸ang I±manµo
di masyarakat, yaitu komunikasi, hubungan kekuasaan, dan moralitas. f. Pengembangan sikap anti kepada hal-hal negatif (Purwanto : 2014).
Akademisi dari Hankok University Korea, Park Hee Young, mengatakan gerakan revolusi mental di Korea sudah dimulai sejak 1960 dengan konsep Saemul
Undong, yakni pembangunan bangsa dari desa. “Gerakan itu kami masukkan dalam
konsep pendidikan nasional. Sehingga gerakan ini mampu mengubah mental orang Korea yang sebelumnya pesimis dan berpikiran negatif irasional, menjadi optimis
dan rasional positif,” katanya.
Revolusi Mental adalah jargon yang diusung Presiden Joko Widodo saat masa kampanye. Menurut Jokowi Revolusi mental berarti warga Indonesia harus kembali mengenal dan menjalankan karakter orisinil bangsa Indonesia yang santun, berbudi pekerti dan bergotong royong. Satu-satunya jalan untuk revolusi mental adalah melalui pendidikan yang berkualitas dan merata dan penegakan hukum yang tanpa pandang bulu. (Metrotvnews.com)
Penyelenggaraan pendidikan nasional diselenggarakan berdasarkan prinsip sebagai berikut (Pasal 4 UU 20 Tahun 2003):
(1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
(2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.
(3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
(4) Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. (5) Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis,
dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
(6) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. peserta didik dalam proses pembelajaran.
Implementasi Nawacita dalam revolusi mental pendidikan di Indonesia, mencakup dimensi tata kelola sebagai berikut:
(1) Mengubah paradigma pendidikan “berdaya saing” menjadi pendidikan “mandiri dan berkepribadian”;
(2) Merancang kurikulum berbasis karakter dari kearifan lokal serta vokasi yang beragam berdasarkan kebutuhan geografis daerah dan bakat anak;
¹ º»¼½ ¾½ ¿À¼Á½¿Ã º¿Ã¼½»¿ÃľÿŠÁ¾ÃÆÅÇ ÈÇ |ÉÈ ½¹Ç È ¼Ê, ¼ ËÌËÍiÎ ËÏ Ð Ñi Ï Ò Ó6
(3) Menciptakan proses belajar yang menumbuhkan kemauan belajar dari dalam diri anak;
(4) Memberi kepercayaan penuh pada guru untuk mengelola suasana dan proses belajar pada anak;
(5) Memberdayakan orangtua untuk terlibat pada proses tumbuh kembang anak; (6) Membantu kepala sekolah untuk menjadi pemimpin yang melayani warga sekolah;
dan
(7) Menyederhanakan birokrasi dan regulasi pendidikan diimbangi pendampingan dan pengawasan
Achmad Fedyani Saifuddin dalam Purwanto (2015) menyatakan bahwa pendidikan dalam tataran linear sebagai salah satu komponen dari sebuah sistem yang lebih besar. Kecenderungan berpikir struktural-fungsionalisme pada tingkat nasional mendorong penyusun kebijakan dan pengambil keputusan pendidikan nasional untuk berpikir seragam, artinya ada suatu kekuasaan-yakni kekuasaan
negara—yang berfungsi sentral untuk merancang blue print, menyusun kurikulum,
mempersiapkan tenaga pengajar, dan menyediakan fasilitas pendidikan untuk semua bagian dan tingkatan di seluruh negeri. Sebagai hasilnya adalah sebuah sistem yang
stabil, seimbang, dan “kurang menyukai” perubahan. Premis dari struktural-
fungsionalisme meliputi : (a) masyarakat adalah sebuah sistem yang bekerja; (b) sistem yang bekerja menuntut institusi-institusi komponennya untuk memberikan kontribusi demi dipeliharanya sistem tersebut; (c) sistem sosial yang bekerja menuntut semua anggota sistem untuk dimotivasi dan dilatih untuk memfasilitasi fungsi sistem. Apabila kita mencermati kebijakan nasional pendidikan kita, nampaknya selama ini pendidikan kita dirancang menurut premis pemikiran di atas. Kelebihan cara berpikir ini adalah transmisi pengetahuan yang seragam dan merata di seluruh Indonesia, baik kurikulum, latar belakang dan kualifikasi pengajar, metode belajar mengajar, maupun buku- buku ajar yang digunakan, sehingga dalam jangka panjang kesatuan nasional melalui proses pendidikan dapat terpelihara. Fakta menunjukkan bahwa proyek-proyek