• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah para pekerja wanita (ibu rumah tangga) yang bergerak dibidang kerajinan tedung, dengan usia yang beragam. Usia 15 - 24 tahun ada 4 orang (10%), usia 25 - 34 tahun ada 16 orang (40%), usia 35 - 44 tahun ada 14 orang (35%), dan usia 45 – 55 tahun ada 6 orang (15%). Umumnya seseorang yang berada pada usia kerja yang produktif yaitu umur 15 tahun keatas, akan mampu menghasilkan lebih banyak daripada yang berada di luar usia kerja produktif. Umur juga sangat berpengaruh terhadap tingkat partisipasi kerja. Tingkat partisipasi kerja meningkat sesuai dengan pertambahan umur dan kemudian menurun kembali menjelang usia pensiun atau usia tua.

Dilihat dari pendidikan formal responden kebanyakan tamatan SMP (50%), SMA (20%) dan Sd (30%), hal ini dapat disimpulkan bahwa penduduk di Desa

159 Paksebali memilih langsung bekerja dibandingkan dengan mengikuti pendidikan formal, mereka lebih suka dengan pendidikan informal yang dapat meningkatkan produktivitas di dalam membuat kerajinan tedung.

Deskripsi Variabel-Variabel Penelitian

Dari hasil penelitian bahwa keterampilan para pekerja wanita kerajinan tedung

berpengaruh positif terhadap pendapatan keluarga. Dari 5 item pernyataan keterampilan pekerja wanita, seluruh item memiliki jawaban dengan respon yang positif, yaitu wanita ikut bekerja di sektor industri rumah tangga kerajinan tedung memerlukan keterampilan khusus direspon positif sebesar 90%, memahami cara mengerjakan kerajinan tedung dengan mudah dapat menciptakan kemampuan untuk berkreasi direspon positif sebesar 92,5%, kedisiplinan sangat diperlukan dalam pengerjaan kerajinan tedung agar dapat menghasilkan kerajinan yang berkualitas direspon sebesar 97,5%, keterampilan mutlak diperlukan dalam memulai industri rumah tangga kerajinan tedung direspon positif sebesar 97,5% dan keterampilan yang dimiliki wanita pengerajin tedung dapat meningkatkan pendapatan keluarga direspon positif sebesar 97,5%. Untuk itu keterampilan memang sangat diperlukan oleh para pekerja wanita sehingga mereka bisa menghasilkan kualitas kerajinan yang lebih bagus.

Curahan jam kerja pekerja wanita kerajinan tedung berpengaruh positif terhadap pendapatan keluarga. Dari 5 item pernyataan curahan jam kerja pekerja wanita, seluruh item memiliki jawaban dengan respon yang positif, yaitu wanita ikut bekerja di sektor industri rumah tangga kerajinan tedung untuk menambah penghasilan keluarga direspon sangat setuju sebesar 62,5% dan setuju sebesar 37,5%, walaupun bekerja disektor industri rumah tangga kerajinan tedung masih dapat mengatur waktu untuk mengurus keluarga direspon positif sebesar 92,5%, wanita merasa senang dapat membantu suami/keluarga bekerja disektor industri rumah tangga kerajinan tedung direspon setuju sebesar 52,5% dan sangat setuju direspon sebesar 45%, wanita yang bekerja disektor industri rumah tangga kerajinan tedung tetap dapat mengurus suami dan anak-anaknya direspon setuju sebesar 25% dan sangat setuju direspon sebesar 67,5%, walaupun bekerja disektor industry rumah tangga kerajinan tedung masih dapat mengatur waktu untuk mengurus keluarga direspon setuju sebesar 42,5% dan sangat setuju direpon sebesar 55%.

Dari hasil penelitian menilai bahwa motivasi berpengaruh positif terhadap pendapatan keluarga. Dari 5 item pernyataan motivasi pekerja wanita, seluruh item memiliki jawaban dengan respon yang positif yaitu keadaan ekonomi pekerja wanita yang memotivasi untuk bekerja direspon setuju sebesar 37,5% dan direspon sangat setuju direspon sebesar 60%, kebutuhan keuangan yang semakin meningkat merupakan faktor yang memotivasi untuk bekerja direspon setuju sebesar 30% dan direspon sangat setuju sebesar 65%, tempat kerja yang dekat dapat menciptakan kenyamanan dalam bekerja direspon setuju sebesar 45% dan direspon sangat setuju direspon sebesar 55%, bila pekerja mendapat kesulitan dalam mengerjakan tugas maka pekerja yang lain akan membantu direspon setuju sebesar 30% dan direspon sangat setuju sebesar 65%, tempat bekerja yang nyaman untuk mengerjakan kerajinan tedung direspon setuju sebesar 42,5% dan direspon sangat setuju direspon sebesar 55%.

160 Pekerja wanita kerajinan tedung menilai bahwa aspek-aspek pendapatan keluarga telah dimiliki dengan sangat baik. Dari 5 item pernyataan pengukuran pendapatan keluarga seluruh item direspon dengan sangat positif, yaitu penghasilan sebagai pekerja pada kerajinan tedung dapat meningkatkan pendapatan keluarga direspon sangat setuju sebesar 55%, direspon setuju 42,5%, penghasilan yang didapat melalui kerajinan tedung dipergunakan untuk biaya pendidikan anak direspon setuju sebesar 35% dan direspon sangat setuju sebesar 57,5%, penghasilan dari kerajinan

tedung cukup untuk pemenuhan kebutuhan keluarga direspon setuju sebesar 47,5% dan direspon sangat setuju sebesar 52,5%, pendapatan yang diperoleh sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan direspon setuju sebesar 22,5% dan direspon sangat setuju sebesar 70%, kerajinan tedung dapat membantu dalam meningkatkan pendapatan keluarga direspon setuju sebesar 35% dan direspon sangat setuju direspon sebesar 57,5%.

Dari hasil wawancara yang lebih mendalam yang didapat dari ibu rumah tangga pada kerajinan tedung di Desa Paksebali terdapat tiga peranan, (item) jawaban yaitu sangat setuju, setuju dan ragu-ragu. Dari tiga peranan tersebut dapat dijabarkan secara kualitatif yaitu peran partisipasi, kewajiban dan peran ikut-ikutan. Peran partisipasi artinya bahwa ibu rumah tangga tersebut bekerja pada kerajinan tedung atas kesadaran dari dalam diri sendiri dan motivasi yang tinggi untuk ikut membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Peran partisivasi ini bisa dilihat dari hasil jawaban item sangat setuju ada sekitar 58,48%.

Peranan kewajiban artinya bahwa ibu rumah tangga pada kerajinan tedung merasa berkewajiban untuk ikut bekerja mencari nafkah dalam meningkatkan pendapatan keluarga, walaupun sebenarnya dari dalam dirinya tidak ingin melakukan pekserjaan tersebut. Peranan kewajiban ini bisa dilihat dari hasil jawaban item setuju ada sekitar 37,37%.

Peranan ikut-ikutan artinya bahwa ibu rumah tangga yang bekerja pada kerajinan tedung tersebut tidak mengetahui untuk apa mereka ikut bekerja tanpa tujuan yang pasti, mereka bekerja hanya sekedar menghabiskan waktu luang mengikuti teman-temannya. Pada peranan ini biasanya keadaan ekonomi keluarga ibu rumah tangga pada kalangan menengah keatas. Peranan ikut-ikutan ini dapat dilihat pada jawaban item ragu-ragu ada sekitar 4,25%.

Pengaruh Umur, Tingkat Pendidikan Formal, Keterampilan, Curahan Jam Kerja, Motivasi terhadap Pendapatan Keluarga pada Pekerja Wanita Kerajinan Tedung

Hasil analisis regresi linier berganda pengaruh faktor umur, tingkat pendidikan formal, keterampilan, curahan jam kerja dan motivasi terhadap pendapatan keluarga pekerja wanita kerajinan disajikan pada tabel 01 berikut:

161 Tabel 01. Hasil Analisis Regresi Pengaruh Umur, Tingkat Pendidikan Formal, Keterampilan, Curahan Jam Kerja dan Motivasi terhadap Pendapatan Keluarga Pekerja Wanita (Ibu Rumah Tangga) Kerajinan Tedung

Variabel Koefisien Std Deviasi Nilai t Signifikan

Keterampilan -.013 3.379 -1.143 .261 Umur -.241 .011 -1.712 .096 Pendidikan .162 .141 1.726 .093 Cur Jm Kerja .340 .094 2.394 .022 Motivasi .785 .142 5.624 .000 Konstanta -5.734 .140 -1.697 .099 R = 0,862 R² = 0,742 F = 19,67 Sig.F = 0,000

Analisis korelasi ganda (R) sebesar 0,862 ini menunjukkan seberapa besar hubungan yang terjadi antara variabel independen (Xi) secara serentak terhadap variabel dependen (Y). Nilai (R) 0,862 mendekati angka 1 ini menandakan hubungan yang kuat antara variabel umur, tingkat pendidikan formal, keterampilan, curahan jam kerja dan motivasi dengan variabel dependen (pendapatan keluarga).

Secara simultan pengaruh pendapatan keluarga pekerja wanita kerajinan

tedung dipengaruhi oleh faktor umur, tingkat pendidikan formal, keterampilan, curahan jam kerja dan motivasi adalah sebesar 0,742 atau 74,20% sedangkan sisanya 25,80% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dilibatkan dalam model ini, seperti partisipasi, status pekerjaan suami, pendapatan diluar kerajinan tedung ini.

Faktor umur, tingkat pendidikan formal, keterampilan, curahan jam kerja dan motivasi secara bersama-sama sangat nyata pengaruhnya terhadap pendapatan keluarga pekerja wanita kerajinan tedung (Sig.F = 0,000). Faktor keterampilan tidak nyata pengaruhnya terhadap pendapatan keluarga namun faktor curahan jam kerja nyata pengaruhnya terhadap pendapatan keluarga pekerja tedung. faktor motivasi memiliki pengaruh yang paling tinggi terhadap pendapatan keluarga pekerja wanita (ibu rumah tangga) kerajinan tedung.

Hasil analisis seperti tabel 01 diatas diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :

Y = -5,734 – 0,241(umur) + 0, 162 (pendidikan) – 0,013(keterampilan) + 0,340(curahan jam kerja) + 0,785(motivasi).

Produktivitas seseorang bekerja sangat dipengaruhi oleh umur. Umumnya seseorang yang berada pada usia produktif antara 15 – 45 tahun akan mampu menghasilkan lebih banyak daripada yang berada di luar usia produktif. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin pintar orang tersebut sehingga dapat berkreativitas lebih tinggi dan bisa menghasilkan produksi lebih banyak. Demikian juga semakin terampil orang tersebut dapat menghasilkan produksi yang lebih banyak sehingga lebih tinggi juga pendapatan keluarganya. Sebaliknya semakin tidak terampil seseorang maka hasil produksi semakin sedikit. Begitu juga semakin lama curahan jam kerja maka semakin tinggi pula dapat hasil produksinya sehingga

162 lebih banyak mendapatkan pendapatan. Motivasi yang tinggi dalam bekerja akan sangat mempengaruhi hasil produksi sehingga pendapatan keluarga juga semakin tinggi.

Kontribusi Pendapatan Pekerja Wanita Kerajinan Tedung Terhadap Pendapatan Rumah Tangga

Dari hasil penyebaran kuisioner kepada responden pekerja wanita pendapatan pekerja adalah berkisar antara 1.050.000,- (satu juta lima puluh ribu rupiah) paling kecil ada sebanyak 20% dan 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah) paling besar ada sebanyak 17,5%. Rata-rata pendapatan pekerja wanita kerajinan tedung adalah 1.278.750,- (satu juta dua ratus tujuh puluh delapan ribu tujuh ratus lima puluh rupiah) Untuk lebih jelasnya pendapatan pekerja wanita kerajinan tedung dapat dilihat pada tabel 02.

Tabel 02. Distribusi Pendapatan Pekerja Wanita Kerajinan Tedung di Desa Paksebali Kecamatan Dawan tahun 2012

Jml Pendapatan Per Bulan (dlm rupiah)

Frekuensi (orang) Prosentase (%)

1.050.000,- 8 20%

1.200.000,- 10 25%

1.350.000,- 15 37,5%

1.500.000,- 7 17,5%

Total 40 100%

Sedangkan pendapatan keluarga pekerja wanita yang paling rendah perbulannya adalah 1.750.000,- (satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) ada sebanyak 10% dan yang paling tinggi pendapatan perbulannya adalah 2.400.000,-. Ada sebanyak 12,5%. Rata-rata pendapatan kepala keluarga pekerja wanita kerajinan tedung adalah 2.042.500,- (dua juta empat puluh dua ribu lima ratus rupiah. Untuk lebih jelasnya pendapatan keluarga pekerja wanita kerajinan tedung dapat dilihat pada tabel 03

Tabel 03. Distribusi Pendapatan Kepala Keluarga Kerajinan Tedung di Desa Paksebali Kecamatan Dawan tahun 2012

Jml Pendapatan Per Bulan (dlm rupiah) Frekuensi (orang) Prosentase (%) 1.750.000,- 4 10% 1.800.000,- 8 20% 2.100.000,- 23 57,5% 2.400.000,- 5 12,5% Total 40 100%

Dari Tabel 02 dan tabel 03 dapat diketahui kontribusi pendapatan pekerja wanita kerajinan tedung terhadap penghasilan keluarga seluruhnya pada tabel 04.

163 Tabel 04. Pendapatan Keluarga, Pekerja Wanita Kerajianan Tedung serta

Kontribusinya terhadap Pendapatan Keluarga

Pendapatan Mean Median Minimum Maximum Pekerja Wanita 1.278.750,- 1.275.000,- 1.050.000,- 1.500.000,- Kepala Keluarga 2.042.500,- 2.075.000,- 1.750.000,- 2.400.000,- Keluarga 3.321.250 3.350.000,- 2.800.000,- 3.900.000,-

Kontribusi (%) 38,50% 38,06% 37,50% 38,46%

Berdasarkan Tabel 04 diatas dapat diinterpretasikan bahwa rata-rata pendapatan pekerja wanita kerajinan tedung per bulannya adalah 1.278.750, dengan kisaran rata- rata pendapatan terendah adalah sebesar 1.050.000,- sedangkan pendapatan yang tertinggi adalah 1.500.000,- angka tengah dari pendapatan pekerja wanita kerajinan tedung adalah 1.275.000, dan pendapatan yang paling tinggi tingkat frekuensinya adalah 1.350.000,-

Pendapatan total keluarga pekerja wanita kerajinan tedung rata-rata perbulan adalah 3.321.250,- dengan kisaran rata-rata pendapatan yang paling rendah mencapai 2.800.000,- dan yang paling tinggi adalah mencapai 3.900.000,-. Angka tengah dari pendapatan total keluarga pekerja wanita adalah 3.350.000,- dan pendapatan yang paling banyak frekuensinya adalah 2.100.000,-.

Dilihat dari kontribusi pendapatan pekerja wanita kerajinan tedung terhadap total pendapatan keluarga per bulan rata-rata sebesar 38,50%, dengan kisaran yang paling rendah adalah 37,50% dan yang paling tinggi adalah 38,46%.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Terdapat pengaruh antara peranan ibu rumah tangga kerajinan tedung terhadap pendapatan keluarga. Variabel yang diteliti adalah umur, tingkat pendidikan formal, keterampilan, curahan jam kerja dan motivasi. Kelima variabel secara simultan berpengaruh terhadap pendapatan keluarga sebesar 74,2% dengan nilai R = 0,862 (Sig.F = 0,000).

2. Faktor umur, tingkat pendidikan, keterampilan, curahan jam kerja dan motivasi secara bersama-sama sangat nyata pengaruhnya terhadap pendapatan keluarga pekerja wanita kerajinan tedung. Faktor keterampilan (Sig. F = 0,261) tidak nyata pengaruhnya terhadap pendapatan keluarga dan faktor motivasi (Sig. F = 0,000) memiliki pengaruh yang paling tinggi terhadap pendapatan keluarga pekerja wanita (ibu rumah tangga) kerajinan tedung.

3. Terdapat pengaruh kontribusi pendapatan ibu rumah tangga kerajinan tedung dengan pendapatan keluarga. Rata-rata pendapatan ibu rumah tangga pekerja tedung per bulan adalah 1.278.750,- (satu juta dua ratus tujuh puluh delapan ribu tujuh ratus lima puluh rupiah), sedangkan pendapatan keluarga pekerja wanita kerajinan tedung seluruhnya rata-rata 2.042.500,-, maka kontribusinya adalah sekitar 38,50%, namun kalau dari penghasilan kepala rumah tangga kontribusinya sebesar 62,61%.

164 DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S, 2008, Wanita Dalam Pembangunan, Jakarta : Kantor Mentri Negara Urusan Peranan Wanita.

Ardana, K, 2008, Perilaku Keorganisasian, Yogyakarta: Graha Ilmu

Bambang, J, 2009, Metode Penelitian Ekonomi dan Bisnis, Jakarta : PT Bumi Aksara.

Dwi Priyanto, 2009, Mandiri Belajar SPSS, Jogyakarta : Mediakom.

Elizaberth, R., 2008, Peranan Ganda Wanita Tani dalam mencapai Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Pedesaan.

Fakih, M., 2010, Analisis Gender Transformasi Sosial. Yogyakarta: Insistpres. Gujarati, 2007, Dasar-Dasar Ekonometrika. Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta : Erlangga. Gordon, 1994, Dasar-Dasar Ilmu Perilaku. Edisi Pertama, Jakarta: Rineka Cipta. Kartasasmita, G, 2006, Pembangunan Untuk Rakyat, Memadukan Pertumbuhan dan

Pemerataan. Jakarta CIDES.

Luthan, 2008. The Effect of Market Orientation on Product Innovation, Journal of The Academy of Marketing Science, (alih Bahasa Bangbang Sarwiji). Jakarta: Penerbit Salemba Empat

Mantra, 1985. Pengantar Studi Domografi, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.

Martiningsih, E, 2011, Perempuan Bali Dalam Ritual Subak, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Mudiono, 2004, Profil Industri Kecil Yogyakarta : Aditya Media bekerjasama dengan jurusan Sosiatri Fakultas Sosial Ilmu Politik Universitas Gajah Mada. Mulyo, 2003, Kemiskinan, Perempuan dan Pemberdayaan. Yogyakarta: Universitas

Gajah Mada Press.

Notoatmojo, S, (2010) Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta, Rineka Cipta. Sajogyo, 2008, Peranan Wanita Dalam Perkembangan Masyarakat Desa. Rajawali,

Jakarta.

Soekamto, S., 2008, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : Rajawali Press.

Sudarmini, N,N, 2006, Peranan Pekerja Perempuan dalam Menunjang Pendapatan Keluarga pada Industri Kecil dan Kerajinan Rumah Tangga di Kabupaten Gianyar. Denpasar : Universitas Udayana.

Sugiono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung Alfabeta.

Sumarsono, 2005, Peranan Wanita Nelayan Dalam Kehidupan Ekonomi Keluarga Di Tegal, Jawa Tengah. Eka Putri, Jakarta.

Sumodiningrat, G, 2009, Pemberdayaan Masyarakat dan JPS, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Suratiyah, 2008, Peranan Wanita Dalam Pengambilan keputusan dalam Agro Ekonomi, Jurnal Sosek Vol.V/No.1 Des/2008.

Trihendradi, 2009. 7 Langkah Mudah Melakukan Analisis Statistik menggunakan SPSS 17, Jogyakarta : Andi.

Yusup, P, 2008, Karakteristik Dinamis Peran Ganda Wanita. (Online). (http://ejournal.unud.ac.id, diakses 23 Desember 2012).

165 MEMBANGUN KEBERDAYAAN EKONOMI DI TENGAH KETIMPANGAN

GENDER

(Studi Gerakan Perempuan Desa Membangun Kemandirian Ekonomi) Borni Kurniawan & Dina Mariana

Researchers Institute For Research And Empowerment (IRE) Yogyakarta

*Corresponding author email : [email protected]

ABSTRACT

Women are a powerful creature. The double role was done. Work in the public sector was taken. The domestic sector was never left out. But, when related to the poverty and development discourses, women become to the most vulnerable groups. Women experience marginalization and gender injustice. The development which is permissive to the flow of capital to village eliminates women's accessibility to the basic needs that exist in the natural resources of village. The working worlds are also still not shown the equality in establishing job role between men and women. As a result, women are always in the minor position. Be thankful that in the part of the Nationwide there are still women village movements that build economic empowerment from inside so that the gender inequality gap can be minimized. The strategies that they employ to build a collective consciousness, economic networks, until the resistance to the market hegemony finally bear sweet fruit, where the women finally can enjoy the village resources.

Keywords: poverty, gender inequality, local economy PENDAHULUAN

Tulisan ini merupakan perluasan dari sebuah naskah yang pernah digunakan IRE untuk mempengaruhi pembahasan RUU Desa dalam bentuk policy brief. Pembentukan naskah tersebut berlatarkan serangkaian penelitian lapangan dan kajian literatur terhadap karya-karya pemberdayaan yang diperankan ACCESS ( Singkatan dari Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme). ACCESS adalah nama sebuah program inisiatif pemerintah Australia dan pemerintah Indonesia melalui Australian Agency for International Development (AusAID). Tulisan ini berupaya memberikan sentuhan kembali dengan menyulam beberapa kajian teori, dan fakta-fakta terbaru sehingga kian memperkuat pemetaan masalah serta tawaran strategi pengembangan ekonomi lokal, khususnya bagi kalangan perempuan.

Pembangunan, Pasar dan Perempuan

Berdasarkan data BPS (2011), 63% penduduk miskin berada di desa. Bicara soal kemiskinan di desa, perempuan menjadi kelompok paling rentan. Secara umum, dilihat dari perspektif IPG (Indeks Pembangunan Gender), menurut badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP&PA), IPG Indonesia mengalami peningkatan. Namun jika dilihat dari indikator-indikator komposit penyusun IPG sendiri, masih terdapat kesenjangan yang cukup curam antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam hal pendapatan karena jumlah upah yang diterima pekerja perempuan hanya berkisar 50 persen dari jumlah

166 upah pekerja laki-laki. Dilihat dari Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) atau Gender Empowerment Measurement (GEM) nilainya meningkat setiap tahun, namun tidak signifikan. GEM diukur berdasarkan angka partisipasi perempuan di bidang ekonomi, politik, dan pengambilan keputusan. Berdasarkan catatan BPS dan KPP&PA, GEM Indonesia meningkat dari 0,623 pada tahun 2008 menjadi 0,635 pada tahun 2009. Walaupun demikian, dalam pandangan pemerintah sendiri, angka tersebut masih mengindikasikan bahwa peningkatan kesetaraan gender di bidang ketenagakerjaan, ekonomi dan politik belum naik secara berarti.

Di bidang ketenagakerjaan praktik subordinasi perempuan masih kental terlihat. Pembagian peran dalam sebuah rantai produksi secara umum masih didominasi pekerja laki-laki. Dominasi laki-laki atas perempuan dalam area kerja formal tersebut pada umumnya dipengaruhi kualitas pendidikan dan keterampilan pekerja perempuan yang lebih rendah dibanding pekerja laki-laki. Masih sedikit perempuan yang menduduki posisi-posisi penting dalam sebuah mata rantai produksi, termasuk juga struktur organisasi perusahaan tempat mereka bekerja. Hasil studi Cifor (2008) tentang pembagian peran dalam mata rantai produksi industri mebel di Jepara antara pekerja laki-laki dan perempuan memperlihatkan adanya ketimpangan. Tepatnya, dominasi peran laki-laki atas perempuan. Simak bagan dibawah ini;

Pembelian Penggergaji Pengukiran Pengerjaan Penyetelan Finishing Ngemal dan Pemotongan

167 Dalam rantai produksi kayu di Jepara sebagaimana tergambar pada figur diatas, sangat terlihat bahwa pekerja perempuan menduduki posisi pada dua unit produksi yakni unit pengukiran dan finishing. Padahal pekerja perempuan memiliki potensi dan hak yang sama dengan pekerja laki-laki. Perempuan memiliki kepampuan untuk melakukan tugas pembelian kayu. Perempuan bahkan juga mempunyai kemampuan untuk menggergaji kayu. Relasi pembagian kerja yang sudah berlangsung lama di sektor industri kayu di Jepara ini menunjukkan adanya ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan didalamnya. Padahal, jenis pekerjaan tidak memiliki jenis kelamin. Artinya, laki-laki dan perempuan memiliki potensi dan hak yang sama untuk mengerjakan jenis pekerjaan apapun.

Ketimpangan relasi laki-laki-perempuan dalam sektor industri ini juga berlaku pada alokasi waktu kerja. Kesimpulan ini dapat kita telusuri pada hasil penelitian Murdianto (1999, dalam Hasanaudin, 2009). Hasanudin, melakukan studi gender dalam rumah tangga pengrajin gula aren lahan kering di Jawa Barat. Perempuan (istri) kebanyakan terlibat pada pada proses produksi yang banyak membutuhkan energi. Dengan menghitung alokasi waktu kerja, Hasanudin menyimpulkan bahwa curahan waktu total perempuan di sektor industri gula aren mencapai 2,5 kali lipat laki-laki. Di sektor industri tembaga kuning di desa Cepogo, Boyolali menunjukkan kondisi sebaliknya. Surahan waktu dari pekerja laki-laki mencapai 6 jam, sedangkan pekerja perempuan hanya 2 jam. Namun di sisi lain, perempuan harus mengerjakan semua urusan domestik rumah tangga, seperti mencuci, momong anak, memasak, mengambil air dan lain sebagainya (Hasanudin dan Maulana, 2009)

Proses pembangunan diharapkan mampu melahirkan pertumbuhan, sehingga masyarakat dapat berproduksi untuk meningkatkan pendapatan. Dengan pendapatan, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya hingga mencapai kebahagiaan. Demikianlah, tujuan ideal penyelenggaraan pembangunan ekonomi. Namun, tidak selamanya pembangunan ekonomi selalu dapat memenuhi harapan masyarakat. Konsep pembangunan berorientasi pemusatan pertumbuhan di kota, yang pada awalnya dicanangkan sebagai skenario mengurangi penumpukan lapangan kerja di desa, ternyata hanya melahirkan buruh-buruh perusahaan berkualitas rendah. Transfer tenaga kerja dari desa ke kota yang menurut W. Arthur Lewis dimaksudkan untuk mengurangi zero marginal labor productivity (surplus labor) di satu sisi telah mengurangi penumpukan tenaga kerja di sektor ekonomi tradisional (subsistence). Tapi di sisi lain, dukungan sektor pendidikan yang masih melahirkan ketimpangan antara perempuan dan laki-laki, mengkondisikan desa menjadi semacam rumah produksi tenaga kerja perempuan yang berkualitas rendah. Karena kesempatan bersekolah perempuan lebih rendah dari laki-laki, akibatnya tidak sedikit tenaga kerja perempuan yang menerima gaji dibawah standar hidup layak.

Urbanisasi di satu sisi berhasil. Pendapatan (income) sebagian penduduk meningkat sehingga sirkulasi transfer uang dari kota ke desa pun berlangsung cepat dan dalam jumlah yang tidak sedikit. Kesejahteraan penduduk desa terdongkrak karena derasnya arus remitensi dari kota ke desa. Tapi di sisi yang lain, arus modal dari kota ke desa menyebabkan berkurangnya kepemilikan aset warga desa karena beralih kepemilikian dari hak milik warga desa menjadi hak milik warga di kota ataupun swasta. Arus modal ke desa telah membuka ekspansi pasar yang semakin meluas. Privatisasi air yang akhir-akhir ini marak (misalnya kasus pembangunan perusahaan air minum kemasan di Sukabumi) secara nyata telah mengurangi

168 aksesibilitas perempuan terhadap air bersih. Padahal, air bersih adalah hak dasar yang sangat vital terutama bagi perempuan. Proyek-proyek raksasa bidang perkebunan sawit di Sumatera dan sebagian wilayah Kalimantan secara tidak langsung memutus akses perempuan terhadap air. Sifat tanaman sawit yang memiliki membutuhkan banyak air, secara otomatis menurangi sumber-sumber air rumah tangga-rumah tangga sekitar perkebunan. Kelompok paling rentan terkena dampak buruk ini tidak lain perempuan.

Dalam pandangan kaum feminis sosialis kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung. Salah satu tokohnya, Nancy Fraser di Amerika