(RTH)
45.000.000 18.000.000 -
2 Prog. Kerusakan Ling. Pengendalian Pencemaran & 1.119.250.000 988.830.000 1.174.429.500 3 Prog. Perlindungan Konservasi SDA 59.575.000 240.535.000 386.700.000 4 Prog. Perencanaan Tata Ruang - 300.000.000 440.167.750 5 Prog. Pengendalian Pemanfaatan Ruang 149.950.000 93.329.500 89.700.000 6 Prog. Rehabilitasi Hutan & Lahan 1.200.460.000 1.210.595.000 1.264.810.000 7 Prog. Perlindungan & Konservasi
Sumberdaya Hutan
220.800.000 111.125.000 70.000.000
8
Prog. Pengawasan & Penertiban Kegiatan Rakyat yang Berpotensi Merusak Lingkungan
45.039.000 28.100.000 22.500.000
9 Prog. Rehabilitasi Terumbu Karang 778.994.800 827.131.000 453.965.000 10 Prog. Peningkatan Pengendalian Potensi - - 59.000.000 11 Prog. Perencanaan Pengembangan Hutan - - 30.000.000 Total 3.619.068.800 3.817.645.500 3.991.272.250
Sumber: Hariyanto (2012)
Warga Mollo Meperjuangkan Keberlanjutan
Masyarakat Mollo yang bermukim di Pulau Timor, tepatnya di pedalaman Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, memiliki keyakinan bahwa leluhurnya berasal mula dari batu, kayu, dan air. Itulah mengapa hutan, batu, dan air merupakan simbol marga dan martabat masyarakat adat tersebut. Contohnya, marga Baun yang melekat pada nama seorang ‗Srikandi‘ lingkungan dari masyarakat Mollo, Aleta Baun, merupakan unsur air.
Mereka juga percaya bahwa di bawah batu-batu besar yang menghiyasi gunung di daerah mereka terdapat cadangan air yang menjamin keberlangsungan kehidupan mereka. Karenanya, ketika PT So‘e Indah Marmer berupaya melakukan penambangan marmer pada tahun 1994, warga Mollo mulai resah. Tahun berikutnya, giliran PT Karya Asta Alam, perusahaan asal Thailand, mengantongi izin yang sama. Untuk kelancaran, perusahaan itu juga membuat jalan baru dengan membabat hutan, sehingga kawasan yang sebelumnya disesaki hutan kasuari menjadi rusak dan kering. Air bersih yang biasanya dengan mudah didapatkan menjadi sulit ditemukan. Ternak warga Mollo, seperti kuda, lembu, dan kerbau juga terkena imbasnya. Ternak-ternak mereka mulai terancam, kekurangan pakan dan air minum, sehingga produksinya semakin merosot. Situasi seperti itu membangkitkan kesadaran bahwa kehadiran penambang marmer telah menimbulkan banyak masalah yang merugikan dan menyengsarakan kehidupan mereka.(Majalah Tempo edisi 13 Mei 2012).
Akhirnya, dimotori Aleta Baun, mereka mulai melakukan gerakan penolakan terhadap penambangan mamer. Kendati ditanggapi dengan bermacam teror dan intimidasi, bahkan ancaman pembunuhan terhadap Aleta. Ironisnya, ancaman pembunuhan tersebut datang dari aparat setempat. Mereka memberi stigma sebagai ―anti pembangunan‖ kepada Aleta. Karena itu, sempat muncul sayembara, ―Barang
193 siapa yang bisa membunuh Aleta akan diberi hadiah uang satu juta rupiah‖. Kontan saja, Aleta beberapa kali hampir menjadi sasaran tembak para pembunuh bayaran. Bahkan, kakinya sempat tersambar senjata tajam. Itulah mengapa, perjuangannya sempat dilakukan dengan cara bergerilya dari dalam hutan. Hebatnya, dukungan warga semakin menguat. Mereka tetap berjuang bersama-sama tanpa kekerasan. Para ibu-ibu melakukan kegiatan menenun di celah-celah gunung marmer yang akan ditambang para investor. Semakin hari semakin banyak ibu-ibu yang turut dalam aksi damai tersebut. Kata mereka, strategi itu dimaksudkan untuk menunjukkan betapa pentingnya kelestarian hutan di sekitar kawasan penambangan itu bagi warga setempat. Baik kapas, pewarna, dan peralatan tenum mereka, semua berasal dari hutan. Pada saat itu, akibat kegiatan penambangan sebagian hutan Mollo rusak berat. Perjuangan tersebut berlanjut berbulan-bulan hingga kemudian kegiatan penambangan dihentikan. Aleta dan kawan-kawannya berhasil mengambil kembali tanah adat seluas 6.000 hektar, membebaskan gunung batu dan kampung halaman mereka, Desa Fatukoto, Lelobatan, Leloboko, Ajobaki, dan Bijaepunu dari kerusakan lingkungan lebih lanjut (Majalah Tempo edisi 13 Mei 2012).
Perjuangan yang mendapat dukungan dari para tokoh adat, telah menyelamatkan lingkungan yang menjamin keberlanjutan masa depan mereka dan generasi selanjutnya. Perjuangan tersebut merupakan pergulatan untuk mepertahankan kedaulatan atas potensi SDA penopang kehidupan, dari incaran pemodal yang hanya mengedepankan keuntungan ekonomi jangka pendek dan sepihak, tanpa mempertimbangkan dampak buruk yang mengancam keberlanjutan sumber penghidupan warga masyarakat lain. Warga Mollo memiliki kecerdasan ekologis bahwa hanya dengan berdaulat atas SDA, maka mereka akan dapat merawat dan melestarian SDA itu, untuk diwariskan kembali tanpa mengurangi kemampuan SDA itu dalam menjamin kebutuhan generasi berikutnya.
Pandangan warga Mollo itu tentu saja sangat fundamental dan sesuai dengan konsep keberlanjutan dalam memanfaatkan potensi SDA. Konsep mereka juga sejalan dengan pandangan para penganut eco-socialism bahwa kerusakan lingkungan atau krisis ekologi pada hakikatnya merupakan sisi gelap yang dihadirkan oleh kegiatan ekonomi eksploitatif yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh kapitalisme. Lingkungan hidup, seperti halnya angkatan kerja yang tertindas dan teralenasi, telah membayar harga bagi keberhasilan kapitalisme. Ideologi kapitalisme telah menekankan individualisme dan hubungan yang eksploitatif dengan lahan dan sumber daya alam, layaknya kelas pekerja. (Jim dan Frank Tesoriero. 2008). Karena itu, sangat cerdas kiranya warga Mollo telah berhasil mengatasi problem kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah tanah ulayatnya dengan melakukan gerakan yang langsung menyasar pada penyembab atau sumber perusak. Mereka menghentikan kegiatan eksploitasi untuk memberikan perlindungan yang cukup bagi lingkungan dan SDA-nya dengan cara melibatkan semua warga (kolektif). Dengan kata lain, mereka telah berhasil mengamputasi model penguasaan SDA secara privat (kapitalistik) mengembalikannya kepada hak ulayat yang bisa dikelola secara bersama untuk keberlanjutan sumber penghidupan mereka.
Keberhasilan tersebut tentu saja memberikan dua kemenangan sekaligus bagi masyarakat Mollo. Pertama, mereka bisa merebut kembali penguasaan atas warisan leluhur mereka, yang nantinya juga harus mereka wariskan kembali kepada anak-cucu generasi berikutnya, dalam kondisi yang tetap baik dan bisa memberikan sumber
194 penghidupan bagi generasi mereka berikutnya. Kedua, mereka berhasil mencegah kerusakan lingkungan menjadi lebih parah lagi, dan melakukan investasi ekologis untuk memastikan keberlanjutan sumber air di masa depan di daerah yang sudah terkenal karena iklim yang lebih panas dan keterbatasan sumber air. Apa yang sudah dilakukan masyarakat Mollo memberikan bukti (evidence) tambahan yang mendukung theori Gadgil dan Berkes tentang kapasitas atau kemampuan warga masyarakat yang selalu memiliki keahlian atau pengetahuan khusus dalam memanfaatkan dan merawat apa yang telah disediakan alam untuk komunitasnya, karenanya komunitas itu begitu mencintai lingkungannya dan peduli terhadap keberlanjutannya.
Langkah ‘Hijau’ dari Mbatakapitu
Mengembangkan sumber pangan lokal dalam program mandiri pangan, menurut perspektif ekologi, merupakan bentuk pengembangan sistem ekonomi ‗hijau‘ (ramah lingkungan). Argumentasi yang dapat menjadi pijakan; pertama, dengan program mandiri pangan warga masyarakat akan berupaya merevitalisasi potensi pangan lokal. Potensi bahan pangan lokal akan terdongkrak, dikembangkan menjadi makanan pokok untuk memenuhi kebutuhan nutrisi keseharian mereka. Tercukupinya kebutuhan nutrisi atau bahan pangan sehat, akan mengurangi kerentanan terjadinya kerusakan lingkungan. Kedua, mencukupi kebutuhan nutrisi sehari-hari dengan pangan lokal dapat dipastikan memangkas potensi pelepasan jejak karbon (carbon footprint) yang dihasilkan dari proses pengemasan, pengiriman, dan pendistribusian. Bila dikalkulasi secara sungguh-sungguh jejak karbon akan akumulatif menjadi angka yang sangat besar (Goleman 2010). Apalagi kalau bahan pangan itu merupakan produk impor dari tempat yang jaraknya ribuan kilometer. Tidak hanya itu, karena didatangkan dari jauh tentu produk itu memerlukan pengawetan agar tetap layak dikonsumsi. Proses pengawetan dapat menurunkan kualitas gizi makanan, belum lagi kalau prosesnya menggunakan bahan-bahan buatan (artificial). Dampaknya, kualitas kesehatan konsumen dapat menurun. Ketika kualitas kesehatan merosot, maka mereka akan menjadi sangat rentan terhadap infeksi benih penyakit, atau bisa berujung pada penderitaan penyakit serius yang mereduksi produktifitas dan kemampuan ekonomi mereka. Dalam kasus tertentu, kondisi seperti itu dapat menggiring mereka terperosok masuk ke dalam lembah kemiskinan yang melumpuhkan.
Berdasarkan riset IRE-ACCESS di Kambata, Desa Mbatakapidu, Kec. Kota Waingapu, NTT, konsep food security dalam wadah program mandiri pangan telah diperkenalkan dan dikembangkan dengan baik (Rozaki. 2012). Pengembangan bahan pangan lokal tersebut dimotori oleh kelompok wanita tani (KWT) Tapa Walla Badi. Digerakkan oleh Marlina Rambu Meha dan Konda Ngguna, saat ini KWT itu mengelola lahan kering Jawa Wula seluas 4.200 m2 dan Walingga seluas 1,5 hektar, dengan aneka jenis bahan pangan lokal seperti jagung, kacang-kacangan, sorgum, jewawut, umbi-umbian, dan pisang. Bahkan, setelah didampingi BP3K, KWT dengan anggota 21 perempuan ini juga berhasil melakukan uji coba budidaya singkong Mukibat—hasil persilangan antara singkong jenis lokal dengan singkong Karet, yang mana satu batang singkong Mukibat biasanya menghasilkan sekitar 22kg umbi segar, sedangkan singkong jenis lokal kemampuan produksinya hanya bekisar 2kg per pohon per musim tanam (Harian Kompas , Edisi 6 Maret 2012).
195 Dengan program mandiri pangan perempuan Kambata terbilang berhasil meningkatkan kondisi sosial ekonomi, sehingga turut mendongkrak harkat dan martabat mereka. Oleh sebab itu, cukup beralasan ketika pencapaian tersebut mampu memposisikan KWT Tapa Walla Badi menjadi salah satu dari 16 kelompok yang menjadi nominasi peraih Kehati Award ke-7 dari 100 peserta perseorangan/kelompok. Penghargaan untuk katagori ketahanan pangan pada perseorangan atau kelompok yang telah berjuang untuk mewujudkan food security dengan mengembangkan bahan pangan lokal.
Salah satu bahan pangan lokal yang cukup potensial adalah sorgum. Sorgum merupakan tanaman serealia yang sangat potensial karena memiliki kandungan karbohidrat dan protein lebih tinggi dari pada beras, dan sangat cocok dengan kondisi alam setempat yang cenderung panas dan kering. Di NTB dan NTT sorgum biasanya ditanam secara tumpang sari atau sebagai tanaman sela di antara tanaman budidaya lain. Namun, pengembangannya masih belum maksimal, padahal jenis tanaman ini sangat toleran terhadap kondisi marjinal lahan, kekeringan, salinitas, dan laham masam. Artinya, sorgum mempunyai masa depan yang cerah di daerah-daerah di Indonesia bagian timur di masa depan, mengingat komoditas ini sangat laku di pasaran internasional, terutama di Amerika. Oleh karena itu, diperlukan terobosan atau rekayasa sosial dan bidang pertanian yang dapat mendorong warga untuk mengembangkan lebih intensif dan massal komoditas ini. Tentu saja, pemerintah setempat, LSM lokal, pihak swasta, dan petani dapat bergandengan tangan atau bersinergi lewat skema program, guna menghasilkan terobosan yang dapat mendongkrak kesejahteraan masyarakat lewat budidaya komuditas lokal potensial ini. Inspirasi dari Tangkumaho dalam Melindungi Mangrove
Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, 95.181km (www.unep.org), sehingga begitu kaya akan potensi SDA perairan, di antaranya hutan
mangrove. Hutan mangrove tidak hanya memberikan potensi ekonomi yang sangat besar, tetapi juga menjanjikan perlindungan paling efektif ketika gelombang pasang tsunami mengacam kehidupan di pinggiran pantai, mengingat besarnya potensi tsunami di Indonesia. Oleh karena itu, menjaga kelestarian hutan mangrove lebih merupakan kebutuhan ketimbang keharusan—a need instead of a must. Hal itu diyakini benar oleh sebagian besar warga masyarakat Tangkumaho, Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Kabupaten Muna merupakan daerah kepulauan yang disangga oleh batuan karang, bagian dari wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Pulau Muna memiliki luas 2.963,97km2 atau 296.397 hektar, dan dikelilingi laut yang luasnya sekitar 3.937,5km2, serta memiliki 185 pulau kecil dengan total panjang garis pantai 519km (Zamroni, 2012).
Studi tim peneliti IRE-ACCESS di kabupaten yang berbentuk kepulauan dengan total panjang garis pantai mencapai 519 km tersebut, memberikan konfirmasi bahwa kesadaran akan pentingnya fungsi hutan mangrove rupanya sudah dimiliki oleh warga Desa Tangkumaho. Kesadaran itu terutama kuat pada mereka yang aktif tergabung dalam organisasi rakyat Pertiwi Hijau dan Tolembo. Organisasi tersebut punya perhatian khusus terhadap isu-isu lingkungan hidup. Pada suatu kesempatan, kesadaran itu bahkan telah mendorong mereka untuk menolak upaya pihak luar— sebuah investor berbendera UD Reformasi—yang ingin menjamah hutan mangrove
196 2008. Sebenarnya pihak investor ini sudah berhasil mendekati La Ode Halio, Kades Tangkumaho, berkat bantuan lobby seorang mantan camat yang pernah bertugas di wilayah tersebut. Bahkan, UD Reformasi juga sudah dibekali dokumen AMDAL untuk rencana alih fungsi hutan mangrove Tangkumaho, kendati kemudian dokumen ilmiah tersebut ditengarai ‗aspal‘—asli tapi palsu (Zamroni, Sunaji. 2012). Untung saja, saat itu sebagian warga sudah mempuyai kecerdasan ekologis, berkat pemberdayaan dan pendampingan yang dilakukan oleh beberapa CSO lokal, sehingga dapat membedakan mana yang ‗emas‘ dan mana yang ‗loyang‘.
Keberhasilan warga dalam mempertahankan hutan mangrove tak lepas dari kerja keras Pertiwi Hijau, yang dikomandani oleh seorang mantan aktivis mahasiswa, La Ida. Dalam upaya tersebut La Ida dengan Pertiwi Hijau-nya sukses memanfaatkan jaringan yang telah terbangun bersama Perkumpulan Swami dan para aktivis lain yang berkiprah di Muna. Sehingga, ketika pihak UD Reformasi secara tiba-tiba menancapkan patok-patok pembatas dan menempatkan escavator yang siap beroperasi di kawasan hutan mangrove, warga langsung menggelar serangkaian pertemuan guna menggalang solidaritas dan menghimpun seluruh potensi kekuatan guna meneguhkan penolakan terhadap upaya pencaplokan kawasan konservasi itu.
Dengan segala bekal pengetahuan yang telah mereka timba selama proses pendampingan, dan pegulatan langsung ketika mengelola potensi alam yang mereka miliki, penolakan warga sangat argumentatif dan mengedepankan nalar konservasi lingkungan. Mereka telah belajar dari pengalaman buruk yang menimpa desa tetangga, Desa Kumbihono, yang menderita degradasi fungsi lingkungan akibat konversi hutan mangrove. Akibatnya, banyak sumur warga mengalami intrusi air laut menjadi payau. Selain itu, mereka juga kerap mengalami banjir air pasang. Tidak hanya itu, beberapa fungsi utama hutan bakau juga merosot, yakni fungsi sebagai peredam gelombang dan badai angin laut, pelindung abrasi, serta penahan lumpur sedimentasi; fungsi nursery ground atau tempat berkembangbiaknya ikan, udang, kerang-kerangan, kepiting, dan binatang lain yang bermanfaat bagi warga sekitar; dan juga fungsi mangrove sebagai penyedia kayu bakar, bahan baku arang, bahan baku obat-obatan dan kosmetik; serta fungsi eko wisata yang dapat menghidupkan sektor ekonomi warga sekitar (Sahubawa, 2010). Fungsi-fungsi tersebut sangat berperanan dalam menjaga keberlanjutan kekuatan ekonomi warga, karenanya jika dimanfaatkan secara benar dan optimal (tetapi ekologis) akan dapat mengangkat kesejahteraan dan menjamin keberlanjutan sumber penghidupan warga sekitar.
KESIMPULAN
Nukilan kabar baik di atas memberikan semacam harapan bagi kita semua yang punya antusiasme terhadap isu-isu lingkungan, kemiskinan, kemandirian, dan keberlanjutan sumber penghidupan warga. Ternyata masih ada potensi yang berserak di luar sana, di kawasan-kawasan terpencil seantero Nusantara. Potensi dalam bentuk pengetahuan, kesadaran, dan kekuatan lokal yang dapat diangkat dan penting untuk dipromosikan melalui misi ‗scalling up’, guna memberi inspirasi dan menggugah kesadaran masyarakat di tingkat yang lebih besar demi transformasi nilai, di tengah semakin hilangnya kepercayaan publik terhadap peran negara dalam arus perubahan. Rupanya, ketlatenan (baca: ketekunan) dan energi yang lebih besar lagi menjadi kebutuhan untuk merekam praktik-praktik ekologis atau prestasi-prestasi warga lokal. Utamanya, kerja-kerja istimewa warga lokal dalam mengatasi persoalan lingkungan
197 dan kemiskinan, serta upaya-upaya mereka merintis kemandirian dalam melawan belitan kemiskinan dan menepis ancaman predatory economy yang terus mengintai potensi kekayaan alam yang mereka miliki.
Di sisi lain, negera kerap dituding tidak berpihak kepada warga lokal. Kehadiran pemodal, dengan industri ekstraksinya seringkali menimbulkan masalah lingkungan dan mendatangkan kerugian bagi warga, ketimbang turut membantu memecahkan rumitnya persoalan kemiskinan di daerah. Ketika warga tergugah dengan kesadaran kritis, dan bergerak untuk melawan ketimpangan yang terjadi, serta ancaman bencana lingkungan akibat kegiatan ekonomi ekstraksi, negara (oknum) justru tampil sebagai pahlawan bagi para perusak lingkungan tersebut. Negara dan industri ekstraksi bagaikan sebuah ―grup paduan suara‖ melantunkan nada manis ―demi kemajuan ekonomi dan kemakmuran‖, yang terdengar begitu sumbang di telinga warga lokal. Akibatnya, warga kehilangan kepercayaan terhadap eksistensi negara. Mereka memilih bersiasat, bahkan melawan, kendati keselamatan mereka acap kali dipertaruhkan.
Pada situasi yang lain, negara terbukti sering absen, justru ketika warga tengah dirundung nestapa karena ketidakberdayaan ekonomi. Sementara, pemodal dengan pengetahuan dan tehnologi ekstraksinya tak henti mencari-cari celah yang dapat ditembus untuk menggalang kolusi. Koalisi pemodal, oknum penguasa, dan kekuatan jahat lokal untuk merebut potensi SDA, yang merupakan penopang kehidupan warga secara berkelanjutan. Kendati demikian, masih ada berita baik yang patut diapresiasi. Masih banyak inisiatif murni dan kearifan (local genius) yang dimiliki warga yang dapat direvitalisasi untuk mengangkat derajat dan kemampuan ekonomi mereka secara berkelanjutan, sehingga tidak mengurangi kemampuan generasi selanjutnya dalam memenuhi kebutuhannya. Selain itu, masih ada pihak-pihak yang mempunyai
counter pengetahuan dan mau meluangkan energinya untuk tak lelah mendampingi warga, memberdayakannya dengan menularkan pengetahuan, ketrampilan, dan kesadaran kritis guna mengubah keadaan sulit yang tengah menghadang warga lokal. Berpijak dari kenyataan-kenyataan tersebut, Pemerintah Pusat dan Daerah sebaiknya memberikan rekognisi terhadap potensi dan kecerdasan ekologis warga, dengan memberikan dukungan melalui skema green budget dan progam pemberdayaan yang nantinya dapat memberi energi tambahan sehingga arus bawah konservasi lingkungan dapat bekerja lebih kuat dan jangkauan yang lebih luas lagi. Pasalnya, kekuatan arus bawah sudah terbukti dapat mengatasi persoalan lingkungan dan mampu meningkatkan kemandirian warga. Disamping itu, pemerintah hendaknya lebih berkomitmen dalam mematuhi regulasi yang sudah ada. Ketika terjadi konflik antara warga lokal dengan pemodal, pemerintah sepatutnya berpihak kepada rakyat, sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi (UUD 1945) yang mengharuskan pemanfaatan SDA untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sehingga, ketegasan pemerintah mutlak diperlukan untuk menindak oknum pejabat dan preman lokal yang kerap dimanfaatkan pihak pemodal untuk melindungi dan melancarkan usaha bisnisnya yang tidak ramah lingkungan dan berdampak lansung terhadap kehidupan warga masyarakat, bahkan memangkas keberlanjutan sumber penghidupan warga.
Selain itu, untuk memacu percepatan upaya mengatasi persoalan lingkungan, pemerintah seyogyanya mengembangkan dan meluaskan jangkauan program-program yang berkomitmen terhadap pelestarian lingkungan, dengan menganekaragamkan bentuk program dan melipatgandakan besaran anggarannya. Selain itu, program-
198 program tersebut sebaiknya bersinergi atau mendukung emansipasi warga lokal yang sudah berjalan dengan baik, sehingga local genius tersebut dapat berkembang dan direplikasi di tempat lain yang memiliki karakter serupa. Yang tidak kalah penting lagi, pengetahuan dan kesadaran warga masyarakat perlu dikuatkan. Pemerintah jangan ragu-ragu untuk memberikan dukungan fasilitasi yang lebih hebat lagi terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan oleh para aktivis CSO dan lembaga- lembaga sosial lain di tingkat lokal, dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan membangkitkan kesadaran warga mengenai isu lingkungan, membangun kapasitas kelembagaan, dan juga pengembangan ketrampilan warga dalam bidang pemberdayaan ekonomi kreatif yang ramah lingkungan. Bagi yang sudah berjalan, perlu adanya dukungan skema program jangka panjang, yang dapat memastikan kemandirian dan keberlanjutan usaha ekonomi ramah lingkungan, yang menopang
sustainable livelihood mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Attfield, Robin. 2010. Etika Lingkungan Global. Kreasi Wacana Ofset. Yogyakarta. Fauzi, Akhamad. 2004. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Teori dan
Aplikasi. Penertbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Goleman, Daniel. 2010. Ecological Intelligence: Mengungkap Rahasia di Balik Produk-produk yang Kita Beli. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Hardjasoemantri, Koesnadi. 2009. Hukum Tata Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hariyanto, Titok dan Wa Ode Fitiri. 2012. Melawan Kemiskinan Berbasis Potensi Lokal di Kabupaten Buton. Laporan Desk Study IRE Yogyakarta bekerjasama dengan ACCESS Phase II. Yogyakarta.
Heinke, Gary W., et.al. 1996. Environemental Science ang Engineering. Second Edition. Prentice-Hall International, Inc. The United State of America. Ife, Jim dan Frank Tesoriero. 2008. Community Development: Alternatif
Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi. Edisi ke-3. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Jamison, Andrew. 2004. The Making of Green Knowledge: Environmental Politics and Cultural Transformation. Cambridge University Press. United Kingdom.
Keraf, A. Sonny. 2006. Etika Lingkungan. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.
Keraf, A. Sonny. 2010. Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Mitchell, Bruce, B. Setiawan, dan Dwita Hadi Rahmi. 2010. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Neolaka, Amos. 2008. Kesadaran Lingkungan. PT Rineka Cipta. Jakarta
Rozaki, Abdur. 2012. Dari Desa Krisis Pangan Menuju Mandiri Pangan: Pelajaran Berharga dari Desa Mbatakapidu Sumba Timur. Laporan Stocktaking Study IRE Yogyakarta bekerjasama dengan ACCESS Phase II: Manfaat Program ACCESS terhadap Kemandirian Desa dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia. Yogyakarta.
199 Sahubawa, Latif. 2010. Valuasi Sumberdaya Pesisir. Studi Kasus Pengembangan
Kawasan Ekonomi Produktif Peisisir Pulau Kangean. MPL-UGM.
Yogyakarta.
Shiva, Vandana dan Maria Mies. 2005. Ecofeminism, Perspektif Gerakan Perempuan dan Lingkunan. Penerbit IRE Press. Yogyakarta.
Soemarwoto, Otto. 2009. Atur Diri Sendiri: Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Supriatna, Jatna. 2008. Melestarikan Alam Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Supriyono, Harry. 2011. Kajian Yuridis Sistem Penataan dan Penegakan Hukum Lingkungan Administratif dalam Pengendalian Dampak Lingkungan.
Ringkasan Disertasi. Universitas Indonesia.
Susilo, Rachmad K. Dwi. 2012. Sosiologi Lingkungan dan Sumber Daya Alam: Perspektif Teori dan Isu-Isu Mutakhir. Ar-Ruzz Media. Yogyakarta.
Yulinto, Sg. 2012. Arus Bawah Pengendali Lingkungan. Policy Brief yang diterbitkan oleh Institute for Research and Empowerment (IRE) dan ACCESS Phase II- AusAID. Yogyakarta.
Zamroni, Sunaji. 2012. Keberdayaan Desa-desa di Muna Melindungi Hutan. Laporan Stocktaking Study IRE Yogyakarta bekerjasama dengan ACCESS Phase II: Manfaat Program ACCESS terhadap Kemandirian Desa dan