Peta 8. Penggunaan Lahan
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Dalam penelitian ini, unit analisis atau pendekatan spasial secara mikro menggunakan satuan lahan. Penyusun satuan lahan ini meliputi tanah, geologi, kemiringan lereng dan penggunaan lahan. Data-data penyusun satuan lahan tersebut berupa peta yang kemudian dilakukan analisis spasial menggunakan
Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil overlay keempat peta tersebut akan menghasilkan peta satuan lahan.
Terdapat 49 satuan lahan di lokasi penelitian, satuan lahan ini digunakan sebagai satuan analisis untuk observasi di lapangan dengan mengambil satu lokasi sampel yang dianggap mewakili untuk satuan lahan yang bersangkutan berdasarkan atas kesamaan karakteristik. Selain itu, satuan lahan juga dipakai untuk satuan arahan rehabilitasi lahan yang akan dilakukan sesuai dengan permasalahan yang ada pada setiap satuan lahan.
Observasi lapangan bertujuan untuk melakukan pengamatan dan pengukuran kualitas dan karakteristik tanah yaitu berupa panjang dan kemiringan lereng, solum tanah, keadaan batuan, tindakan pengelolaan tanaman dan konservas lahan, penggunaan lahan aktual dan pengambilan sampel tanah untuk diuji di laboratorium. Pengujian sampel tanah dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisik tanah berupa tekstur dan struktur tanah serta karakteristik kimia tanah yaitu kandungan bahan organik. Sampel yang diujikan sebanyak 11 sampel dari 49 satuan lahan. Sampel ini diambil atas dasar kesamaan karakteristik berupa warna dan macam tanah. Adapun karakteristik dan kualitas lahan lokasi penelitian dapat dilihat pada tabel 16.
commit to user
commit to user
1. Tingkat Kekritisan Lahan
Langkah awal dalam penentuan lahan kritis adalah menentukan fungsi kawasan. Setelah fungsi kawasan diketahui baru dilakukan penilaian terhadap parameter penentu lahan kritis.
a. Fungsi Kawasan
Parameter yang digunakan untuk menentukan fungsi kawasan adalah kemiringan lereng, tanah dan intensitas curah hujan. Penentuan fungsi kawasan dihitung berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. : 683 / Kpts / Um /8/198 tentang kriteria penetapa fungsi kawasan. Penentuan fungsi kawasan ini dengan melakukan analisis spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan cara menumpangsusunkan (overlay) terhadap ketiga parameter fungsi kawasan tersebut.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, terdapat empat fungsi kawasan yang ada di lokasi penelitian yaitu kawasan fungsi lindung, penyangga, budidaya tanaman tahunan dan budidaya tanaman semusim dan permukiman. Adapun perhitungan fungsi kawasan setiap satuan lahan dapat dilihat pada lampiran tabel perhitungan fungsi kawasan. Berikut adalah fungsi kawasan setiap satuan lahan di lokasi penelitian.
Tabel 17. Fungsi Kawasan Setiap Satuan Lahan di Lokasi Penelitian Tahun 2012
No. Nama Satlah No.Satlah Satuan Lahan Luas (Ha)
1 Lindung 9 KAcAck-Qvjb-V-Htn 29,738 13 KAcAck-Qvjl-V-Htn 7,046 20 KAcAck-Qvjl-V-Sb 13,319 21 KAcAck-Qvjl-V-Tg 21,166 23 KAcAck-Qvsl-V-Htn 16,697 2 Penyangga 1 AlMcm-Qlla-I-Kbn 307,657 2 AlMcm-Qlla-I-Pmk 250,875 3 AlMcm-Qlla-I-Sw 514,096 4 AlMcm-Qlla-I-Tg 12,22 5 AlMcm-Qlla-II-Kbn 7,515 6 AlMcm-Qlla-II-Pmk 20,583 7 AlMcm-Qlla-II-Tg 91,411 8 KAcAck-Qvjb-IV-Htn 30,871
commit to user 11 KAcAck-Qvjl-II-Pmk 7,395 12 KAcAck-Qvjl-II-Tg 13,288 14 KAcAck-Qvjl-III-Tg 44,977 15 KAcAck-Qvjl-IV-Htn 33,694 16 KAcAck-Qvjl-IV-Kbn 11,353 17 KAcAck-Qvjl-IV-Pmk 13,412 18 KAcAck-Qvjl-IV-Sb 8,631 19 KAcAck-Qvjl-IV-Tg 39,575 22 KAcAck-Qvsl-IV-Htn 245,741 48 LaCm-Qvjl-IV-Sw 7,549 49 LaCm-Qvjl-IV-Tg 7,835 3 Budidaya Tanaman Tahunan 28 LaCm-Qlla-II-Pmk 125,281 29 LaCm-Qlla-II-Sb 17,237 30 LaCm-Qlla-II-Sw 253,308 31 LaCm-Qlla-II-Tg 316,774 32 LaCm-Qlla-III-Kbn 28,11 33 LaCm-Qlla-III-Pmk 66,57 34 LaCm-Qlla-III-Sb 26,732 35 LaCm-Qlla-III-Sw 88,556 36 LaCm-Qlla-III-Tg 156,107 39 LaCm-Qvjl-II-Kbn 9,927 40 LaCm-Qvjl-II-Pmk 15,198 41 LaCm-Qvjl-II-Sb 30,982 42 LaCm-Qvjl-II-Sw 16,927 43 LaCm-Qvjl-II-Tg 7,405 44 LaCm-Qvjl-III-Kbn 9,097 45 LaCm-Qvjl-III-Pmk 30,899 46 LaCm-Qvjl-III-Sw 9,425 47 LaCm-Qvjl-III-Tg 119,134 4 Budidaya Tanaman Semusim dan Permukiman 10 KAcAck-Qvjl-I-Tg 7,046 24 LaCm-Qlla-I-Kbn 185,242 25 LaCm-Qlla-I-Pmk 703308 26 LaCm-Qlla-I-Sw 945,657 27 LaCm-Qlla-I-Tg 570,284 37 LaCm-Qvjl-I-Pmk 6,7726 38 LaCm-Qvjl-I-Tg 8,668
Sumber : Analisis Data Intensitas CH (2001-2011), Macam Tanah, dan Kemiringan Lereng Tahun 2012
commit to user
Berdasarkan tabel di atas diketahui luas kawasan fungsi lindung adalah 388,58 Ha atau sekitar 6,93 % dari luas DAS Walikan tepatnya berada di Desa Wonorejo dan Beruk. Kawasan lindung mempunyai fungsi sebagai daerah pelindung bagi wilayah di bawahnya sehingga keberlangsungan kawasan ini sangat penting bagi kelestarian ekosistem DAS. Kawasan ini dijadikan sebagai fungsi lindung karena lokasinya berada pada lereng kelas V atau berada pada kemiringan > 40 % dan memiliki jenis tanah yang peka terhadap erosi. Penggunaan lahan aktual berupa hutan, tegalan dan semak belukar. Kawasan fungsi penyangga mempunyai luas 1.456,41 Ha atau sekitar 26 % dari luas DAS Walikan. Fungsi kawasan ini terdapat di satuan lahan dengan kemiringan kelas I sampai IV dengan dominasi macam tanah yaitu litosol dan andosol. Persebaran fungsi kawasan ini berada di Desa Manjung, Sonoharjo, Giriwarno, Wonorejo dan Wonokeling. Penggunaan lahan aktual yang ada di kawasan ini adalah kebun, permukiman, sawah, hutan, semak belukar dan tegalan. Kawasan fungsi Budidaya tanaman tahunan mempunyai luas sebesar 1.327,66 Ha atau 23,7 % dari luas DAS Walikan. Penggunaan lahan aktual berupa tegalan, sawah, kebun, semak belukar, dan permukiman. Persebaran fungsi kawasan ini sebagian besar berada di Kecamatan Jatiyoso tepatnya di Desa Jatiyoso, Petung, Jatisawit, Jatiroyo dan Jatipuro. Fungsi kawasan budidaya tanaman semusim dan 2.426,97 Ha atau 43,34 % dari luas DAS Walikan. Persebaran fungsi kawasan ini berada di Desa Jatisobo, Jatipuro, Jatipurwo dan Jatisawit. Penggunaan lahan aktual yang ada di kawasan ini adalah sawah, permukiman, tegalan, dan kebun.
b. Parameter Lahan Kritis
Parameter yang digunakan untuk menentukan lahan kritis yaitu sesuai dengan petunjuk Departemen Kehutanan pada lampiran Permenhut No.P-32/Menhut-II/2009. Parameter tersebut didasarkan pada fungsi kawasan pada setiap satuan lahan. Parameter yang digunakan meliputi besar erosi permukaan, tutupan lahan berupa tutupan tajuk pohon, tindakan konservasi, kelas kemiringan lereng, produktivitas lahan dan keadaan batuan. Berikut akan diuraikan parameter penentu lahan kritis :
commit to user
1) Erosi Permukaan
Erosi yang terjadi pada suatu lahan mengindikasikan terjadinya penurunan daya dukung akibat proses hilangnya unsur hara yang berlangsung secara terus menerus sehingga berakibat pada penurunan kualitas lahan pertanian dan perkebunan. Proses ini akan berdampak pada penurunan produktivitas lahan akibat hilangnya kesuburan tanah yang berdampak pada terjadinya lahan kritis.
Besar erosi tanah merupakan hilangnya tanah dari permukaannya akibat tetesan hujan atau aliran permukaan. Penentuan besar erosi permukaan menggunakan metode USLE yaitu dengan pendekatan besarnya erosi dipengaruhi oleh erosivitas hujan (R), erodibilitas tanah (K) atau kepekaan tanah terhadap erosi, faktor panjang dan kemiringan lereng (LS) serta faktor tindakan pengelolaan tanaman dan konservasi yang dilakukan (CP).
Berdasarkan analisis data yang dilakukan diperoleh hasil erosi sangat ringan dengan besar erosi antara 0,003-10,7 Ton/Ha/Thn dengan luas lahan mencapai 5.292,96 Ha. Erosi ringan mencapai luas sekitar 71,48 Ha, dengan besarnya erosi antara 22,6-40,1 Ton/Ha/Thn. Kategori erosi sedang mencapai luas 240,65 Ha dengan besar erosi antara 60-102,32 Ton/Ha/Thn. Erosi berat sampai sangat berat mencapai luas 24,53 Ha dengan besar erosi antara 220-502 Ton/Ha/Thn. Besarnya erosi di lokasi penelitian lebih dikendalikan oleh faktor lereng dan tindakan konservasi yang dilakukan. Penentuan besarnya erosi permukaan dapat dilihat pada tabel 23 berikut ini :
Tabel 18. Hasil Perhitungan Besar Erosi Permukaan DAS Walikan Tahun 2012 No.
Satlah Satuan Lahan Luas ( Ha)
A = R K LS CP A
(Ton/Ha/Thn) Kelas Erosi
Solum
(Cm) TBE
R K LS C P
1 AlMcm-Qlla-I-Kbn 95,393 170,53 0,362 0,21 0,5 0,35 2,308 Sangat Ringan 105 Sangat Ringan 2 AlMcm-Qlla-I-Pmk 250,875 170,53 0,362 0,10 1 0,35 2,269 Sangat Ringan 110 Sangat Ringan 3 AlMcm-Qlla-I-Sw 514,096 170,53 0,362 0,24 0,01 0,02 0,003 Sangat Ringan 115 Sangat Ringan 4 AlMcm-Qlla-I-Tg 12,22 170,53 0,298 0,39 0,7 0,06 0,829 Sangat Ringan 96 Sangat Ringan 5 AlMcm-Qlla-II-Kbn 7,515 153,84 0,298 0,73 0,5 0,5 8,392 Sangat Ringan 56 Sedang 6 AlMcm-Qlla-II-Pmk 20,583 153,84 0,362 1,16 1 0,35 22,660 Ringan 40 Berat 7 AlMcm-Qlla-II-Tg 91,411 153,84 0,362 1,18 0,7 0,06 2,768 Sangat Ringan 53 Sedang 8 KAcAck-Qvjb-IV-Htn 30,871 192,75 0,304 5,40 0,001 0,1 0,032 Sangat Ringan 83 Ringan 9 KAcAck-Qvjb-V-Htn 29,738 192,75 0,304 6,84 0,5 0,2 40,117 Ringan 86 Sedang 10 KAcAck-Qvjl-I-Tg 7,046 153,84 0,376 0,22 0,7 0,35 3,169 Sangat Ringan 80 Ringan 11 KAcAck-Qvjl-II-Pmk 7,395 153,84 0,376 0,54 1 0,02 0,630 Sangat Ringan 160 Sangat Ringan 12 KAcAck-Qvjl-II-Tg 13,288 153,84 0,376 0,73 0,7 0,06 1,763 Sangat Ringan 70 Ringan 13 KAcAck-Qvjl-V-Htn 13,319 192,75 0,304 18,82 0,001 0,5 0,552 Sangat Ringan 54 Sedang 14 KAcAck-Qvjl-III-Tg 44,977 153,84 0,267 3,14 0,7 0,75 67,527 Sedang 9 Sangat Berat 15 KAcAck-Qvjl-IV-Htn 33,694 192,75 0,267 5,76 0,001 0,5 0,148 Sangat Ringan 25 Berat 16 KAcAck-Qvjl-IV-Kbn 11,353 153,84 0,353 5,40 0,1 0,1 2,936 Sangat Ringan 25 Berat 17 KAcAck-Qvjl-IV-Pmk 13,412 153,84 0,267 3,53 1 0,02 2,894 Sangat Ringan 58 Berat 18 KAcAck-Qvjl-IV-Sb 8,631 153,84 0,428 4,60 0,3 0,1 9,094 Sangat Ringan 45 Sedang 19 KAcAck-Qvjl-IV-Tg 39,575 153,84 0,229 6,95 0,7 0,35 60,006 Sedang 27 Sangat Berat 20 KAcAck-Qvjl-V-Sb 21,166 192,75 0,267 18,19 0,3 0,1 28,043 Ringan 40 Berat 21 KAcAck-Qvjl-V-Tg 16,697 192,75 0,304 34,94 0,7 0.35 501,818 Sangat Berat 40 Sangat Berat 22 KAcAck-Qvsl-IV-Htn 245,741 192,75 0,304 5,67 0,001 0,1 0,033 Sangat Ringan 42 Sedang 23 KAcAck-Qvsl-V-Htn 307,657 192,75 0,304 21,46 0,001 0,1 0,126 Sangat Ringan 38 Sedang
Sumber : Analisis Data Perhitungan Besar Erosi Permukaan Tahun 2012
24 LaCm-Qlla-I-Kbn 185,242 170,53 0,228 0,12 0,2 0,5 0,485 Sangat Ringan 90 Ringan 25 LaCm-Qlla-I-Pmk 703,308 209,66 0,228 0,05 1 0,02 0,052 Sangat Ringan 425 Sangat Ringan 26 LaCm-Qlla-I-Sw 945,657 170,53 0,190 0,35 0,7 0,35 2,769 Sangat Ringan 95 Sangat Ringan 27 LaCm-Qlla-I-Tg 570,284 153,84 0,190 0,27 0,195 0,35 0,548 Sangat Ringan 110 Sangat Ringan 28 LaCm-Qlla-II-Pmk 125,281 153,84 0,190 0,55 1 0,35 5,600 Sangat Ringan 86 Ringan 29 LaCm-Qlla-II-Sb 17,237 153,84 0,190 1,00 0,3 0,1 0.875 Sangat Ringan 40 Sedang 30 LaCm-Qlla-II-Sw 253,308 153,84 0,190 0,92 0,01 0,35 0,094 Sangat Ringan 120 Sangat Ringan 31 LaCm-Qlla-II-Tg 316,774 153,84 0,178 1,12 0,7 0,01 0,215 Sangat Ringan 113 Sangat Ringan 32 LaCm-Qlla-III-Kbn 28,11 153,84 0,190 2,05 0,2 0,5 5,996 Sangat Ringan 115 Sangat Ringan 33 LaCm-Qlla-III-Pmk 66,57 153,84 0,070 1,61 1 0,35 6,060 Sangat Ringan 250 Sangat Ringan 34 LaCm-Qlla-III-Sb 26,732 153,84 0,190 2,61 0,3 0,1 2,288 Sangat Ringan 99 Sangat Ringan 35 LaCm-Qlla-III-Sw 88,556 153,84 0,300 2,32 0,01 0,02 0,021 Sangat Ringan 95 Sangat Ringan 36 LaCm-Qlla-III-Tg 156,107 153,84 0,333 3,17 0,7 0,9 102,327 Sedang 45 Sangat Berat 37 LaCm-Qvjl-I-Pmk 6,7726 153,84 0,095 0,13 1 0,02 0,038 Sangat Ringan 142 Sangat Ringan 38 LaCm-Qvjl-I-Tg 8,668 153,84 0,268 0,40 0,7 0,01 0,115 Sangat Ringan 130 Sangat Ringan 39 LaCm-Qvjl-II-Kbn 9,927 153,84 0,095 0,84 0,1 0,1 0,123 Sangat Ringan 86 Ringan 40 LaCm-Qvjl-II-Pmk 15,198 153,84 0,125 0,81 1 0,02 0,311 Sangat Ringan 150 Sangat Ringan 41 LaCm-Qvjl-II-Sb 30,982 153,84 0,333 0,93 0,3 0,1 1,422 Sangat Ringan 102 Sangat Ringan 42 LaCm-Qvjl-II-Sw 16,927 153,84 0,300 0,58 0,01 0,35 0,094 Sangat Ringan 130 Sangat Ringan 43 LaCm-Qvjl-II-Tg 7.405 153,84 0,300 0,63 0,7 0,01 0,203 Sangat Ringan 80 Ringan 44 LaCm-Qvjl-III-Kbn 9,097 153,84 0,125 2,21 0,5 0,5 10,665 Sangat Ringan 104 Sangat Ringan 45 LaCm-Qvjl-III-Pmk 30,899 153,84 0,095 2,08 1 0,35 10,650 Sangat Ringan 100 Sangat Ringan 46 LaCm-Qvjl-III-Sw 9,425 153,84 0,125 1,58 0,01 0,35 0,107 Sangat Ringan 130 Sangat Ringan 47 LaCm-Qvjl-III-Tg 119,134 153,84 0,268 3,31 0,7 0,01 0,955 Sangat Ringan 125 Sangat Ringan 48 LaCm-Qvjl-IV-Sw 7,549 153,84 0,125 4,86 0,01 0,35 0,328 Sangat Ringan 110 Sangat Ringan 49 LaCm-Qvjl-IV-Tg 7,835 153,84 0,333 6,84 0,7 0,9 220,526 Berat 113 Berat
commit to user
2) Tutupan Vegetasi
Dalam penelitian ini, tutupan vegetasi dimaksud adalah vegetasi permanen berupa tajuk pohon. Faktor tutupan vegetasi berpengaruh terhadap kondisi hidrologis. Lahan dengan tutupan vegetasi yang baik mampu meredam energi kinetis hujan sehingga memperkecil terjadinya erosi percik (splash erosion), memperkecil koefisien aliran sehingga mempertinggi kemungkinan penyerapan air hujan khususnya pada tanah dengan solum yang tebal. Selain itu, kondisi tutupan vegetasi yang baik akan memberikan seresah yang banyak sehingga dapat mempertahankan kesuburan tanah.
Parameter tutupan vegetasi digunakan untuk menilai kekritisan lahan pada fungsi lindung dan penyangga dengan bobot 50. Besarnya bobot pada tutupan vegetasi disebabkan karena parameter ini mempunyai peran yang sangat penting bagi perlindungan tanah pada kawasan lindung, mengingat pentingnya kawasan lindung sebagai pelindung kawasan di bawahnya. Berikut adalah tabel persentase kelas tutupan lahan :
Tabel 19. Persentase dan Kelas Tutupan Vegetasi Setiap Satuan Lahan pada Kawasan Fungsi Lindung
No.
Satlah Nama Satlah
Luas (Ha)
Luas Tutupan
Lahan (Ha) % Kelas
1 AlMcm-Qlla-I-Kbn 95,393 38,38 40 Buruk
2 AlMcm-Qlla-I-Pmk 250,875 137,955 55 Sedang 3 AlMcm-Qlla-I-Sw 514,096 58,19 11 Sangat Buruk
4 AlMcm-Qlla-I-Tg 12,22 3,318 27 Buruk 5 AlMcm-Qlla-II-Kbn 7,515 4,831 64 Baik 6 AlMcm-Qlla-II-Pmk 20,583 9,025 44 Sedang 7 AlMcm-Qlla-II-Tg 91,411 18,811 21 Buruk 8 KAcAck-Qvjb-IV-Htn 30,871 24,8 80 Baik 9 KAcAck-Qvjb-V-Htn 29,738 18,7 63 Baik
10 KAcAck-Qvjl-I-Tg 7,046 0,783 11 Sangat Buruk 11 KAcAck-Qvjl-II-Pmk 7,395 0,585 8 Sangat Buruk 12 KAcAck-Qvjl-II-Tg 13,288 3,117 23 Buruk 13 KAcAck-Qvjl-V-Htn 13,319 6,87 52 Sedang 14 KAcAck-Qvjl-III-Tg 44,977 8,618 19 Sangat Buruk 15 KAcAck-Qvjl-IV-Htn 33,694 19,533 58 Sedang 16 KAcAck-Qvjl-IV-Kbn 11,353 8,842 78 Baik
commit to user 17 KAcAck-Qvjl-IV-Pmk 13,412 3,308 25 Baik 18 KAcAck-Qvjl-IV-Sb 8,631 4,92 57 Sedang 19 KAcAck-Qvjl-IV-Tg 39,575 13,534 34 Buruk 20 KAcAck-Qvjl-V-Sb 21,166 14,95 71 Baik 21 KAcAck-Qvjl-V-Tg 16,697 6,428 38 Buruk 22 KAcAck-Qvsl-IV-Htn 245,741 196,155 80 Baik 23 KAcAck-Qvsl-V-Htn 307,657 255,643 83 Sangat Baik 24 LaCm-Qlla-I-Kbn 185,242 90,065 49 Sedang 25 LaCm-Qlla-I-Pmk 703,308 165,799 24 Buruk 26 LaCm-Qlla-I-Sw 945,657 65,39 7 Sangat Buruk 27 LaCm-Qlla-I-Tg 570,284 313,76 55 Sedang 28 LaCm-Qlla-II-Pmk 125,281 43,648 35 Buruk 29 LaCm-Qlla-II-Sb 17,237 12,977 75 Baik 30 LaCm-Qlla-II-Sw 253,308 60,973 24 Buruk 31 LaCm-Qlla-II-Tg 316,774 239,986 76 Baik 32 LaCm-Qlla-III-Kbn 28,11 21,085 75 Baik 33 LaCm-Qlla-III-Pmk 66,57 9,828 15 Sangat Buruk 34 LaCm-Qlla-III-Sb 26,732 21,796 82 Sangat Baik 35 LaCm-Qlla-III-Sw 88,556 28,533 32 Buruk 36 LaCm-Qlla-III-Tg 156,107 100,923 65 Baik 37 LaCm-Qvjl-I-Pmk 6,7726 3,507 52 Sedang 38 LaCm-Qvjl-I-Tg 8,668 5,165 60 Sedang 39 LaCm-Qvjl-II-Kbn 9,927 7,45 75 Baik 40 LaCm-Qvjl-II-Pmk 15,198 7,456 49 Sedang 41 LaCm-Qvjl-II-Sb 30,982 28,975 94 Sangat Baik 42 LaCm-Qvjl-II-Sw 16,927 0,14 1 Sangat Buruk 43 LaCm-Qvjl-II-Tg 7,405 6,185 84 Sangat Baik 44 LaCm-Qvjl-III-Kbn 9,097 7,639 84 Sangat Baik 45 LaCm-Qvjl-III-Pmk 30,899 11,683 38 Buruk 46 LaCm-Qvjl-III-Sw 9,425 0,997 11 Sangat Buruk 47 LaCm-Qvjl-III-Tg 119,134 72,657 61 Baik 48 LaCm-Qvjl-IV-Sw 7,549 0,11 1 Sangat Buruk 49 LaCm-Qvjl-IV-Tg 7,835 1,468 19 Sangat Buruk
Sumber : Analisis Data Kelas Tutupan Vegetasi & Interpretasi Citra Ikonos Google Earth Tahun 2011
Dari tabel tutupan vegetasi di atas diketahui bahwa kelas tutupan vegetasi sangat baik hanya mencapai 16,68 % dari luas kawasan lindung, untuk kelas baik mencapai 18,7 % dan kelas sangat buruk mempunyai persentase paling besar yaitu 31,54 %. Hal ini membuktikan bahwa persentase tutupan vegetasi berupa tajuk pohon di kawasan fungsi lindung dalam kondisi masih sangat rendah. Padahal
commit to user
tutupan vegetasi merupakan faktor yang sangat penting bagi keberlangsungan kawasan ini sebagai kawasan lindung untuk daerah di bawahnya. Berikut adalah tabel perbandingan persentase luas kelas tutupan vegetasi pada kawasan fungsi lindung :
Tabel 20. Perbandingan Persentase Luas Kelas Tutupan Vegetasi Pada Kawasan Fungsi Lindung
Kelas Besaran (%) Luas (Ha) %
Sangat Buruk < 20 581,85 31,54 Buruk 21-40 282,00 15,28 Sedang 41-60 327,10 17,73 Baik 61-80 346,38 18,77 Sangat Baik > 80 307,66 16,68 Total 1844,99 100
Sumber : Tabel Persentase Kelas Tutupan Lahan 3) Tindakan Konservasi
Perlakukan atau tindakan konservasi terhadap suatu lahan akan berpengaruh pada besarnya proses degradasi lahan. Tindakan konservasi yang sangat berpengaruh terhadap proses ini adalah lahan sebagai fungsi budidaya khususnya lahan pertanian yang terletak pada lereng kelas agak curam sampai curam sehingga tindakan konservasi pada kawasan ini mempunyai bobot 30 lebih besar daripada kawasan lindung yang hanya 10.
Berikut adalah tabel luas dan persentase kelas konsevasi lahan setiap fungsi kawasan.
Tabel 21. Luas dan Persentase Kelas Konservasi Lahan
No. Kelas Lindung (Ha) % Budidaya
(Ha) %
1 Buruk 586,072 31,77 1.089,57 29,02 2 Sedang 663,297 35,95 2.558,93 68,15 3 Baik 595,622 32,28 106,14 2,83
Total 1.844,991 100 3.755 100
commit to user
Tabel di atas merupakan hasil analisis dari penilaian tindakan konservasi secara teknik dan vegetatif yang hasilnya disilangkan untuk memperoleh kelas konservasi lahan tiap satuan lahan. Dari hasil analisis diketahui bahwa tindakan konservasi pada fungsi lindung persentase baik dengan luas 595,6 Ha atau 32,28 %, kelas sedang dengan luas 663,2 Ha atau 35,95 % dan kelas buruk dengan luas 586,072 Ha atau 31,77 %. Kelas sedang mempunyai persentase paling besar dibanding dengan kelas baik dan buruk. Tindakan konservasi secara vegetatif dan teknik pada kawasan yang seharusnya menjadi fungsi lindung ini mempunyai kelas konservasi sedang paling besar yaitu sekitar 633,859 Ha atau 34,35 % dari luas lahan dan 621,653 Ha atau 33,7 % dari luas lahan kawasan fungsi lindung. Jika hal ini dibiarkan terus menerus tanpa adanya tindakan rehabilitasi lahan tidak menutup kemungkinan akan memicu terjadinya degradasi lahan seperti erosi, longsor yang dapat menyebabkan lahan kritis. Mengingat kawasan ini mempunyai fungsi yang strategis yaitu menjadi kawasan pelindung bagi daerah di bawahnya.
Tabel 22. Luas dan Persentase Tindakan Konservasi Secara Vegetatif dan Teknik Pada Kawasan Fungsi Lindung
Kelas Vegetatif % Teknik %
Buruk 615,51 33,36 606,9 32,89
Sedang 633,85 34,35 621,65 33,69
Baik 595,62 32,28 616,42 33,41
Total 1845 100 1845 100
Sumber : Analisis Data Luas Tindakan Konservasi Secara Vegetatif dan Teknik pada Kawasan Fungsi Lindung Tahun 2012
Pada kawasan fungsi budidaya untuk kelas konservasi buruk mencapai 1.089,57 Ha atau 29,02 %, kelas konservasi sedang mencapai 2.558,93 Ha atau 68,15 % dan merupakan kelas konservasi terluas sedangkan kelas konservasi baik mencapai 106,14 Ha atau 18,02 %. Tindakan konservasi secara teknik pada kawasan ini sebagian besar masuk dalam kelas konservasi buruk dengan persentase 75,86 % dan konservasi secara vegetatif dengan kelas baik persentase 41,7%. Buruknya konservasi terutama pada pengelolaan lahan pertanian berupa pembuatan teras tanpa memperhatikan kaidah konservasi yang baik terutama dalam penanaman rumput penguat teras. Hal ini diduga karena pengetahuan yang
commit to user
rendah penduduk mengenai konservasi yang baik dan benar. Berikut adalah tabel luas dan persentase tindakan konservasi secara vegetatif dan teknik pada kawasan fungsi budidaya.
Tabel 23. Luas dan Persentase Tindakan Konservasi Secara Vegetatif dan Teknik Pada Kawasan Fungsi Budidaya
Kelas Vegetatif % Teknik %
Buruk 1.096,616 29,2069 2.848,399 75,863305 Sedang 1.092,0836 29,0862 238,92 6,3633153 Baik 1.565,947 41,7069 667,3276 17,77338 Total 3.754,6466 100 3.754,647 100
Sumber : Analisis Data Luas Tindakan Konservasi Secara Vegetatif dan Teknik pada Kawasan Fungsi Budidaya Tahun 2012
Tabel kelas konservasi lahan setiap satuan lahan pada masing-masing fungsi kawasan dapat dilihat sebagai berikut :
commit to user
commit to user
commit to user
4) Kelas Kemiringan Lereng
Lereng merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan mengendalikan pembentukan tanah. Tanah dengan kelerengan > 40 % akan mempunyai resiko tingkat bahaya erosi yang besar dibanding dengan lereng yang datar. Hubungan lereng dengan hidrologis adalah semakin kecil lereng akan semakin besar kemungkinan air hujan untuk meresap ke dalam tanah, hal ini dikarenakan semakin kecilnya air hujan yang menjadi air permukaan. Disamping itu aliran air pada lereng yang datar cenderung lebih lambat dibandingkan dengan daerah yang curam sehingga kemungkinan terjadinya erosi juga kecil. Dengan demikian daerah dengan kemiringan datar mempunyai pengaruh yang kecil terhadap terjadinya lahan kritis.
Lereng di DAS Walikan sebagian besar didominasi oleh lereng yang datar yaitu dengan kemiringan < 8 %. Kelas datar di lokasi penelitian ini sebagian besar mempunyai macam tanah asosiasi litosol dan mediteran coklat kemerahan, dimana tanah litosol mempunyai tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bahaya erosi akibat ciri tanahnya yang mempunyai solum tipis, apalagi jika diikuti oleh buruknya tindakan konservasi dan rendahnya tutupan vegetasi. Hal ini akan berpengaruh pula terhadap terjadinya lahan kritis. Keadaan demikian terjadi di Kecamatan Wonogiri yaitu Desa Sonoharjo, Manjung dan Giriwarno yang memang mempunyai kelas konservasi buruk sampai sedang dan tutupan vegetasi antara 11-64 % dari luas DAS yaitu pada nomor satuan lahan 1 sampai 7.
Kelas lereng landai pada lokasi penelitian mempunyai persentase kelas 13,53 % yang sebagian besar berada di Kecamatan Jatipuro yaitu Desa Jatiroyo, Jatipurwo, Jatipuro, Jatisobo, dan Ngepungsari. Keadaan lahan demikian dimanfaatkan penduduk untuk pertanian karena didukung pula oleh tanahnya yang mempunya solum tebal. Tidak heran jika sebagian besar penggunaan lahan didominasi sawah yang sebagian besar berupa sawah irigasi. Dalam pendugaan besar erosi menggunakan metode USLE nilai C (pengelolaan tanaman) untuk sawah mempunyai nilai kecil artinya besar kerentanan erosi untuk sawah sangat kecil, contohnya adalah pada nomor satuan lahan 26 & 30 yaitu LaCm-Qlla-I-Sw
commit to user
dan LaCm-Qlla-II-Sw. Parameter lain yang berpengaruh terhadap lahan kritis pada kelerengan ini adalah buruknya tindakan konservasi secara teknis yait pada pembuatan teras sawah yang sebagian besar tidak menggunakan rumput penguat teras sehingga konstruksinya dianggap jelek karena akan rentan terhadap erosi.
Kelas lereng agak curam sampai curam sebagian besar berada di Kecamatan Jatiyoso yaitu Desa Jatiyoso, Sawit, Petung dan Wonorejo. Pada kelas lereng ini sebagian besar penduduk yang bermata pencarian petani memanfaatkan lahannya untuk tegalan. Lereng dengan kemiringan ini mempunyai tingkat kerentanan yan besar terhadap erosi dan kemiringan curam seharusnya dilakukan pengelolaan lahan minimum (minimum tillage). Namun berbeda dengan keadaan di lapangan yang menunjukkan tindakan konservasi yang kurang tepat terutama konservasi secara teknik sehingga menimbulkan besarnya erosi lahan pada lereng kelas lereng curam sampai agak curam seperti pada nomor satuan lahan 36 dan 49 yaitu LaCm-Qlla-III-Tg dan LaCm-Qvjl-IV-Tg.
Kelas lereng sangat curam yaitu kemiringan > 40 % yang berada di Desa Beruk dan Wonorejo menunjukkan adanya permasalahan lahan yang besar yaitu pada besarnya tingkat bahaya erosi khususnya pada penggunaan lahan tegalan. Pada kelas lereng ini seharusnya sudah menjadi fungsi lindung tetapi di lapangan masih banyak penyimpangan pemanfaatan lahan, contohnya adalah pada nomor satuan lahan 21 yaitu KAcAck-Qvjl-V-Tg. Hal ini tentu akan berdampak pada terjadinya permasalahan lahan seperti erosi dan longsor yang lama kelamaan akan menjadi lahan kritis.
5) Produktivitas Lahan
Parameter produktivitas lahan merupakan parameter untuk menentukan tingkat kekritisan lahan pada kawasan fungsi budidaya. Berdasarkan hasil wawancara terhadap 37 responden yang terdiri dari petani penggarap di desa Kecamatan Jatiyoso, dan Jatipuro diketahui data kelas produktivitas lahan sebagai berikut :
Tabel 26. Kelas Produktivitas Lahan Pada Kawasan Fungsi Budidaya Setiap Satuan Lahan
No. No.
Satlah Nama Satlah
Luas (Ha)
Luas Lahan Produksi
(Ha)
Produksi Tanaman dalam Setahun (Kg)
Produksi (Kg) Produktivitas (Kg/Ha) Rasio Produktivitas Lahan* Kelas Padi Jagung Ketela
Pohon Wortel Buncis Sawi
Kacang Tanah 1 10 KAcAck-Qvjl-I-Tg 7,046 0.5 0 200 200 400 400 100 0 1300 2600 5 SR 2 24 LaCm-Qlla-I-Kbn 185,242 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 3 25 LaCm-Qlla-I-Pmk 703,308 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -