• Tidak ada hasil yang ditemukan

RIWAYAT HIDUP

2. Definisi operasional

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1 Karakteristik responden

Data demografi responden meliputi usia, jenis kelamin, agama, suku, pekerjaan, status perkawinan. Hasil penelitian dari 42 responden menunjukkan bahwa karakteristik usia responden terbanyak adalah dewasa menengah (41-60 tahun) sebanyak 25 orang (59,5%), jenis kelamin responden terbanyak adalah laki-laki sebanyak 28 orang (66,7%), agama responden terbanyak adalah beragama kristen yaitu 25 orang (59,5%), suku responden terbanyak adalah suku batak yaitu 30 orang (71,4%), pekerjaan responden terbanyak adalah kategori lain-lain (petani dan nelayan) sebanyak 14 orang (33,3%), status perkawinan responden yang terbanyak adalah menikah sebanyak 33 orang (78,6%). Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik responden karsinoma nasofaring stadium III dan IV di RA3 RSUP. H. Adam Malik Medan diuraikan pada tabel 5.1.

Tabel 5.1: Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik pasien karsinoma nasofaring Stadium III dan IV di RA3 RSUP. H. Adam Malik Medan (n= 42)

5.1.2 Stres pasien karsinoma nasofaring stadium III dan IV

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori tingkat stres pada karsinoma nasofaring stadium III dan IV di RA3 RSUP H. Adam Malik Medan berdasarkan hasil skor kuesioner yang diberikan pada responden terbanyak adalah stres sedang yaitu 27 orang (64,3%), stres ringan 15 orang (35,7%).

Karakteristik Frekuensi (f) Persentase (%)

1. Usia (Erikson) a. Dewasa awal (18-40 thn) b. Dewasa menengah (41-60 thn) 3. Jenis Kelamin a. Laki-laki b. Perempuan 4. Agama a. Islam b. Kristen 5. Suku a. Batak b. Karo c. Jawa d. Minang e. Lain-lain 6. Pekerjaan a. IRT b. Pegawai Swasta c. Wiraswasta d. PNS/TNI/POLRI e. Lain-lain 7. Status perkawinan a. Menikah b. Janda/Duda c. Belum Menikah 17 25 28 14 17 25 30 2 1 1 8 7 8 6 7 14 33 6 3 40,5 59,5 66,7 33,3 40,5 59,5 71,4 4,8 2,4 2,4 19,0 16,7 19,0 14,3 16,7 33,3 78,6 14,3 7,1

Tabel 5.2: Distribusi frekuensi dan persentase Stres pasien karsinoma nasofaring stadium III dan IV di RA3 RSUP H. Adam Malik Medan

Kategori Frekuensi (f) Persentase (%)

Ringan 15 35,7

Sedang 27 64,3

Total 42 100

5.1.3 Koping pasien karsinoma nasofaring stadium III dan IV

Hasil penelitian menunjukkan bahwa koping pasien karsinoma nasofaring stadium III dan IV di RSUP H. Adam Malik Medan berdasarkan hasil skor kuesioner yang diberikan pada responden yang terbanyak adalah menggunakan koping yang berfokus pada emosi, yaitu 25 orang (59,5%) sedangkan yang menggunakan koping yang berfokus pada masalah sebanyak 17 orang (40,5%).

Tabel 5.3 : Distribusi frekuensi dan persentase Koping pasien Karsinoma Nasofaring stadium III dan IV di RA3 RSUP H. Adam Malik Medan

Kategori Frekuensi (f) Persentase (%)

Koping berfokus pada masalah 17 40,5 Koping berfokus pada emosi 25 59,5 Total 42 100 5.2 Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi stres dan koping pasien karsinoma nasofaring stadium III dan IV di RA3 RSUP H. Adam Malik Medan. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, pembahasan dilakukan untuk menjawab

pernyataan peneliti tentang stres dan koping pasien karsinoma nasofaring stadium III dan IV di RA3 RSUP H. Adam Malik Medan.

1. Stres pasien karsinoma nasofaring stadium III dan IV di RA3 RSUP H. Adam Malik Medan

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa gambaran stres responden terbanyak berada pada kategori sedang yaitu 27 orang (64,3%) dinilai dari tanda dan gejala stres sedangkan responden yang mengalami stres kategori ringan sebanyak 15 orang (35,7%) dan tidak ada responden dengan stres kategori berat. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Petty dan Noyes 1981 dalam Haskel 1995 bahwa sebanyak 17-25% pasien kanker yang dikemoterapi mengalami stres.

Potter & Perry, 2005 menjelaskan bahwa tingkat stress sedang adalah stress karena menghadapi stressor dalam hitungan hari dan tingkat stress berat adalah karena stres menghadapi stressor kronis yaitu dalam hitungan tahun. Hal ini berbeda dengan hasil yang didapatkan dimana pasien yang dikemoterapi di RA3 memiliki tingkat stress ringan sampai sedang adalah pasien yang sudah menjalani pengobatan kemoterapi dalam hitungan tahun. Penilaian individu terhadap stressor akan mempengaruhi kemampuan individu untuk melakukan pencegahan terhadap stressor yang membuat stress (Safaria & Saputra, 2009). Responden menilai bahwa kemoterapi merupakan salah satu penanganan yang dapat membantu untuk mengatasi penyakit yang diderita saat ini.

Selanjutnya bila dianalisa dari pernyataan jawaban responden tentang stres menunjukkan bahwa sebanyak 50% responden sering sakit kepala, 73,8% responden sering tidur tidak teratur, 81% responden sering sakit pada bagian

telinga, hidung dan tenggorokannya, 54,8% responden merasa kurang pendengaran pada satu telinga, 45,2% responden selera makan sering berkurang, 50% responden tidak pernah sulit bernafas. Hal ini sesuai dengan pendapat Potter & Perry, 2005 yang menyatakan bahwa beberapa pasien kanker yang menjalani kemoterapi akan mengalami stres berupa sakit kepala, selera makan berkurang yang diakibatkan adanya stresor yang berkepanjangan dan tidak teratasi. Selain itu menurut Haskel, 2005 bahwa sebagian pasien kanker mengnalami gangguan tidur. Stres seperti ini diakibatkan karena adanya gangguan pada aspek fisik dari kepoterapi berupa rasa mual, muntah, rasa panas dan peningkatan frekuensi berkemih yang membuat tidur mereka terganggu (Taylor, 2000).

Selanjutnya sebanyak 50% responden sering merasa gelisah dan merasa tertekan, 54,8% reponden sering mudah marah, 78,6% responden sering menangis, 61,9% responden tidak pernah malu bertemu dengan yang dikenal, 59,5% responden sering merasa mudah tersinggung, 45,2% responden sering merasa harga dirinya menurun. Hal ini sesuai dengan pendapat Haskel, 2005 bahwa stres pada pasien kanker ditandai dengan timbulnya gangguan mood yang jelek berupa perasaan sensitif dan merasa tidak berharga. Menurut Hidayat, 2007 jika seseorang sakit akan memiliki reaksi emosional yang tinggi (menangis, mudah tersinggung dan marah).

Selanjutnya sebanyak 33,3% responden jarang susah berkonsentrasi, 59,5% responden jarang mengalami kesulitan membuat keputusan, 45,2% respinden tidak pernah kacau pikirannya kacau, 76,2% responden sering suka melamun, 33,3% responden merasa tidak pernah kehilangan rasa humor, 76,2% responden tidak pernah malas mengikuti kegiatan di rumah sakit, 61,9%

responden tidak pernah melakukan kesalahan saat mengikuti kegiatan di rumah sakit. Hal ini sesuai dengan pendapat Hidayat, 2007 jika seseorang yang sakit maka terjadi perubahan intelektual berupa pikiran kacau, sering malamun, kehilangan rasa humor dan malas melakukan melakukan kegiatan.

Berdasarkan hasil penelitian responden mengatakan tidak bisa melakukan kegiatan di rumah sakit karena pasien yang dirawat di RA3 dengan diagnosa karsinoma nasofaring stadium III dan IV adalah pasien yang menjalani kemoterapi. Sebagaimana efek dari kemoterapi yang responden jalani menyebabkan mual, muntah, selara makan berkurang, sakit kepala, lemas dan tidak bersemangat. Selain itu responden juga mengatakan mereka sering mengalami sakit pada bagian kepala sampai leher diakibatkan pembengkakan dari karsinoma nasofaring, sehingga banyak efek yang timbul dari pembengkakan tersebut seperti berkurangnya pendengaran pada telinga, bahkan responden juga mengatakan kesulitan membuka mulut.

Selanjutnya sebanyak 81% responden tidak pernah kehilangan kepercayaan kepada orang lain, 71,4% responden jarang menyalahkan orang lain, 61,9% tidak pernah membatalkan janji, 57,1% reponden jarang mencari-cari kesalahan orang lain, 40,5% tidak pernah menyerang orang dengan kata-kata, 47,6% responden tertutup dengan orang lain, 54,8% tidak pernah bertahan dengan pendapatnya sendiri. Berdasarkan hasil penelitian responden mengatakan masih mau dijenguk oleh orang yang dikenal, masih melakukan aktifitas seperti biasa apabila tidak dalam masa pengobatan dan menerima setiap masukan dari setiap orang yang memberikan pendapat baik itu dari segi penyakit ataupun pengobatan.

Menurut Haskel, 2005 bahwa stres pada pasien kanker dapat ditandai dengan timbulnya gangguan nafsu makan sulit berkonsentrasi, gangguan sosial, mood yang jelek berupa sensitif. Sebagaimana kita ketahui seseorang yang mengalami stres itu akan mengalami perubahan secara fisikal, emosional, intelektual dan personal, tetapi dari hasil kuesioner perubahan-perubahan ini tidak terlalu dialami oleh para responden. Hal ini jugalah yang mendukung hasil penelitian ini tentang tingkat stres pasien karsinoma nasofaring Stadium III dan IV di RA3 RSUP H. Adam Malik Medan.

2. Koping pasien karsinoma nasofaring stadium III dan IV di RA3 RSUP H. Adam Malik Medan

Berdasarkan hasil penelitian tentang koping pasien karsinoma nasofaring di RA3 RSUP H. Adam Malik yang ditentukan dengan kuesioner diperoleh bahwa pasien berfokus pada emosi sebanyak 25 orang (64,3%) dan berfokus pada masalah 17 orang (35,7%). Hasil penelitian sejalan dengan pendapat Lazarus dan Folkman (2004) ada dua pendekatan strategi koping yang dapat digunakan yaitu strategi koping yang berfokus pada masalah dan strategi koping yang berfokus pada emosi. Pasien cenderung akan menggunakan koping berfokus pada emosi dalam menghadapi masalah-masalah yang menurutnya sulit dikontrol seperti masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit yang tergolong berat seperti kanker, sebaliknya pasien akan cenderung menggunakan koping berfokus pada emosi dalam menghadapi masalah-masalah yang menurutnya bisa dikontrol seperti masalah yang berhubungan dengan sekolah atau pekerjaan.

Secara keseluruhan, responden memeiliki koping yang adaptif dalam menghadapi stresor yang mereka alami. Berdasarkan jawaban yang paling banyak, responden mengatakan berdoa merupakan salah satu cara yang mereka gunakan dalam menghadapi stressor, dimana dengan berdoa mereka semakin diteguhkan dalam menjalani kehidupan dan mampu menerima kondisinya saat ini. Berdoa merupakan bentuk mendekatkan diri kepada Tuhan karena hal itu dianggap sebagai sumber kekuatan agar mampu menerima keadaan yang hadapi (Aisyah, 2013). Menurut Musbikin, 2008 ketika harapan muncul, maka tingkat strespun akan menurun. Jadi, berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan merupakan strategi koping yang efektif dilakukan pasien karsinoma nasofaring untuk mengatasi stres.

Selain itu dari hasil observasi dengan hadirnya tokoh agama kedalam setiap kamar pasien dengan memberikan dorongan serta semangat untuk dapat mengatasi masalah stres yang muncul, sehingga responden diharapkan tidak putus asa, tidak menyalahkan penyakit yang dialami saat ini, dan tidak mengganggu pikiran responden. Adapun dengan dilibatkannya dukungan dari keluarga juga dapat memberikan masukan serta pemahaman kepada setiap responden untuk lebih menerima penyakit yang saat ini dan berusaha melihat dari sisi baik dari setiap hal yang dialami.

Berdasarkan hasil yang didapatkan terdapat sebanyak 17 responden (35,7%) menggunakan koping yang berfokus pada masalah. Dimana pasien pasien sering belajar dari pengalaman penderita sebelumnya, sering berdiskusi dengan keluarga untuk memahami keadaan responden saati ini. Adapun responden dalam penelitian ini adalah pasien yang sudah sering menjalani kemoterapi. Adapun dari pernyataan responden didapatkan bahwa mereka mendapatkan informasi tentang

penyakit dan pengobatan yang harus responden jalani hanyalah pada saat awal terdiagnosa dan pertama kali menjalani kemoterapi, namun pada kemoterapi berulang banyak responden yang jarang mendapatkan informasi tentang bagaimana penyakit dan pengobatan berikutnya. Hal tersebut yang menyebabkan banyak pasien karsinoma nasofaring lebih menggunakan koping yang berfokus pada emosi, dimana responden menerima keadaan dan berserah diri kepada Tuhan.

Didapatkan data dari American Cancer Society, 2005 yang menyatakan bahwa bersosialisasi dan berhungan dengan orang lain akan mampu membantu pasien untuk beradaptasi dengan lebih baik. Hal tersebut dilihat dari jawaban pernyataan responden yang menerima pengertian dan pemahaman dari orang lain, sering mencari saran dan nasehat kepada keluarga dan teman serta menerima solusi yang berbeda untuk mengatasi masalah yang dialami. Selain itu menurut Keliat, 2005 dukungan sosial termasuk pasangan, orangtua, anak, sanak saudara, teman maupun tim kesehatan sangat diperlukan terutama dalam mengatasi masalah pelik termasuk masalah yang serius.

Selanjutnya kondisi dimana pasien tidak menyangkal kalau pasien sakit, berusaha supaya masalah tersebut tidak mengganggu pikiran dan berusaha melihat sisi baik dari setiap hal merupakan koping yang sering digunakan oleh responden. Menurut Muhtadin, 2002 menerima kenyataan dan berfikir positif dapat menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting untuk membentuk koping yang adaptif dalam mengatasi stres. Responden juga mendapatkan dukungan yang baik dari keluarga dan teman-temannya. Sehingga mereka mampu menerima keadaannya saat ini.

Hal ini didukung oleh hasil penelitian Ardila & Herdiana, 2013 tentang penerimaan diri pada pasien karsinoma yang mampu mengubah pengalaman negatif menjadi pengalaman positif dalam hidupnya karena memeiliki pemahaman diri yang baik. Penerimaan diri pada pasien karsinoma nasofaring ini dipengaruhi oleh adanya dukungan keluarga secara konsisten dan adanya sikap yang menyenangkan dari lingkungan keluarga.

Berdasarkan asumsi peneliti bahwa pasien nasofaring karsinoma di RA3 RSUP H. Adam Malik Medan memeiliki stres sedang dikarenakan mereka mempunyai penerimaan diri yang baik, juga memeiliki keyakinan atau pandangan yang positif terhadap keadaan dirinya. Sehingga perubahan-perubahan yang mereka alami selama sakit mampu mereka atasi. Hal ini juga dikarenakan mereka mendapat dukungan yang baik. Selain dukungan keagamaan, mereka juga menadaptkan dukungan dari keluarga maupun teman-temannya. Hal inilah yang membuat mereka untuk dapat menerima keadaan saat ini dan mengubah pandangan terhadap diri mereka sendiri. Peneliti juga berpendapat koping yang digunakan pasien karsinoma nasofaring adaptif, sehingga mereka dapat mengatasi stres dan tekanan yang muncul sebagai ancaman serta untuk mengatasi masalah dan kemoterapi yang dijalankan pasien karsinoma nasofaring dengan baik.

6.1Kesimpulan

- Stres pasien karsinoma nasofaring stadium III dan IV di RA3 RSUP H. Adam Malik Medan termasuk kategori stres ringan dan sedang.

- Koping pasien karsinoma nasofaring stadium III dan IV di RA3 RSUP H. Adam Malik Medan adalah koping yang berfokus pada emosi.

6.2Saran

6.2.1 Bagi pendidikan keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi tambahan dan masukan bagi pendidikan keperawatan, serta dapat mendidik calon-calon perawat kedepannya sehingga lebih memahami kebutuhan psikologis manusia dan mampu membantu orang-orang sekitarnya yang sedang berhadapan dengan sumber-sumber stres dalam hidupnya.

6.2.2 Bagi pelayanan keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan keperawatan bagi masyarakat yang sedang mengalami tekanan-tekanan dalam hidupnya, dengan mengadakan penyuluhan-penyuluhan tentang cara-cara adaptif untuk mengatasi stres yang dihadapi, terkhusus bagi pasien nasofaring stadium III dan IV yang sangat membutuhkan dukungan.

6.2.3 Bagi penelitian keperawatan

Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan lebih mengembangkan penelitian ini dengan melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi stres dan pemilihan koping mereka.

2.1 Konsep Stres

Dokumen terkait