• Tidak ada hasil yang ditemukan

RIWAYAT HIDUP

2. Definisi operasional

2.3 Karsinoma Nasofaring (KNF)

2.3.1 Pengertian Karsinoma Nasofaring

Karsinoma nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang tumbuh didaerah nasofaring dengan predileksi di fosa Rossenmuller dan atap nasofaring (Arima, 2006).

2.3.2 Epidemiologi

KNF dapat terjadi pada setiap usia, namun sangat jarang dijumpai penderita di bawah usia 20 tahun dan usia terbanyak antara 45-54 tahun. Laki-laki lebih banyak dari wanita dengan perbandingan antara 2-3 : 1. Kanker nasofaring tidak umum dijumpai di Amerika Serikat dan dilaporkan bahwa kejadian tumor ini di Amerika Syarikat adalah kurang dari 1 dalam 100.000 (Nasional Cancer Institute, 2009).

2.3.3 Etiologi

Terjadinya KNF mungkin multifaktorial, proses karsinogenesisnya mungkin mencakup banyak tahap. Faktor yang mungkin terkait dengan timbulnya KNF adalah:

1. Kerentanan Genetik

Walaupun karsinoma nasofaring tidak termasuk tumor genetik, tetapi kerentanan terhadap karsinoma nasofaring pada kelompok masyarakat tertentu relatif lebih menonjol dan memiliki agregasi familial. Analisis korelasi menunjukkan gen HLA (human leukocyte antigen) dan gen pengkode enzim sitokrom p4502E (CYP2E1) kemungkinan adalah gen kerentanan terhadap karsinoma nasofaring, mereka berkaitan dengan sebagian besar karsinoma nasofaring (Pandi, 1983).

2. Infeksi Virus Eipstein-Barr

Banyak perhatian ditujukan kepada hubungan langsung antara karsinoma nasofaring dengan ambang titer antibody virus Epstein-Barr (EBV). Serum pasien-pasien orang Asia dan Afrika dengan karsinoma nasofaring primer maupun sekunder telah dibuktikan mengandung antibody Ig G terhadap

antigen kapsid virus (VCA) EB dan seringkali pula terhadap antigen dini (EA); dan antibody Ig A terhadap VCA (VCA-IgA), sering dengan titer yang tinggi. Hubungan ini juga terdapat pada pasien di Amerika yang mendapat karsinoma nasofaring aktif. Bentuk-bentuk anti-EBV ini berhubungan dengan karsinoma nasofaring tidak berdifrensiasi (undifferentiated) dan karsinoma nasofaring non-keratinisasi (non- keratinizing) yang aktif (dengan mikroskop cahaya) tetapi biasanya tidak berhubung dengan tumor sel skuamosa atau elemen limfoid dalam limfoepitelioma (Nasional Cancer Institute, 2009).

3. Faktor Lingkungan

Penelitian akhir-akhir ini menemukan zat-zat berikut berkaitan dengan timbulnya karsinoma nasofaring yaitu golongan Nitrosamin, diantaranya dimetilnitrosamin dan dietilnitrosamin, Hidrokarbon aromatic dan unsur Renik, diantaranya nikel sulfat (Roezin, Anida, 2007).

2.3.4 Klasifikasi & Histopatologi

Berdasarkan klasifikasi histopatologi menurut WHO, KNF dibagi menjadi tipe 1 karsinoma sel skuamosa dengan keratinisasi, tipe 2 gambaran histologinya karsinoma tidak berkeratin dengan sebagian sel berdiferensiasi sedang dan sebagian lainnya dengan sel yang lebih ke arah diferensiasi baik, tipe 3 karsinoma tanpa diferensiensi adalah sangat heterogen, sel ganas membentuk sinsitial dengan batas sel tidak jelas. Jenis KNF yang banyak dijumpai adalah tipe 2 dan tipe 3. Jenis tanpa keratinisasi dan tanpa diferisiensi mempunyai sifat radiosensitif dan mempunyai titer antibodi terhadap virus Epstein-Barr, sedangkan jenis karsinoma

sel skuamosa dengan berkeratinisasi tidak begitu radiosensitif dan tidak

2.3.5 Gejala Klinis Karsinoma Nasofaring 2.3.5.1 Gejala Dini

KNF bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan, maka diagnosis dan pengobatan yang sedini mungkin memegang peranan penting (Roezin & Anida, 2007). Gejala pada telinga dapat dijumpai sumbatan Tuba Eutachius. Pasien mengeluh rasa penuh di telinga, rasa dengung kadang-kadang disertai dengan gangguan pendengaran. Gejala ini merupakan gejala yang sangat dini. Radang telinga tengah sampai pecahnya gendang telinga. Keadaan ini merupakan kelainan lanjut yang terjadi akibat penyumbatan muara tuba, dimana rongga telinga tengah akan terisi cairan. Cairan yang diproduksi makin lama makin banyak, sehingga akhirnya terjadi kebocoran gendang telinga dengan akibat gangguan pendengaran (National Cancer Institute, 2009).

Gejala pada hidung adalah epistaksis akibat dinding tumor biasanya rapuh sehingga oleh rangsangan dan sentuhan dapat terjadi pendarahan hidung atau mimisan. Keluarnya darah ini biasanya berulang-ulang, jumlahnya sedikit dan seringkali bercampur dengan ingus, sehingga berwarna merah muda. Selain itu, sumbatan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam rongga hidung dan menutupi koana. Gejala menyerupai pilek kronis, kadang-kadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus kental. Gejala telinga dan hidung ini bukan merupakan gejala yang khas untuk penyakit ini, karena juga dijumpai pada infeksi biasa, misalnya pilek kronis, sinusitis dan lain-lainnya. Mimisan juga sering terjadi pada anak yang sedang menderita radang (Roezin & Anida, 2007).

2.3.5.2 Gejala Lanjut

Pembesaran kelenjar limfe leher yang timbul di daerah samping leher, 3-5 sentimeter di bawah daun telinga dan tidak nyeri. Benjolan ini merupakan pembesaran kelenjar limfe, sebagai pertahanan pertama sebelum tumor meluas ke bagian tubuh yang lebih jauh. Benjolan ini tidak dirasakan nyeri, sehingga sering diabaikan oleh pasien. Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang terus, menembus kelenjar dan mengenai otot di bawahnya. Kelenjarnya menjadi melekat pada otot dan sulit digerakan. Keadaan ini merupakan gejala yang lebih lanjut lagi. Pembesaran kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke dokter (Nurlita, 2009).

Gejala akibat perluasan tumor ke jaringan sekitar. Perluasan ke atas ke arah rongga tengkorak dan kebelakang melalui sela-sela otot dapat mengenai saraf

otak dan menyebabkan penglihatan ganda (diplopia), rasa baal (mati rasa)

didaerah wajah sampai akhirnya timbul kelumpuhan lidah, leher dan gangguan pendengaran serta gangguan penciuman. Keluhan lainnya dapat berupa sakit kepala hebat akibat penekanan tumor ke selaput otak rahang tidak dapat dibuka akibat kekakuan otot-otot rahang yang terkena tumor. Biasanya kelumpuhan hanya mengenai salah satu sisi tubuh saja (unilateral) tetapi pada beberapa kasus pernah ditemukan mengenai ke dua sisi tubuh (Arima, 2006).

Gejala akibat metastasis apabila sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama aliran limfe atau darah, mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring, hal ini yang disebut metastasis jauh. Yang sering ialah pada tulang, hati dan paru. Jika ini terjadi, menandakan suatu stadium dengan prognosis sangat buruk (Arima, 2006).

2.3.6 Stadium

Stradium karsinoma nasofaring menurut AICC:

1. Tumor Primor (T)

TX : Tumor primer tidak dapat dinilai TO : Tidak ada bukti tumor primer Tis : Karsinoma in situ

2. Nasofaring:

T1 : Tumor terbatas di nasofaring

T2 : Tumor meluas ke jaringan lunak orofaring atau kavum nasi

– T2a: Tanpa perluasan ke parafaring

– T2b: Dengan perluasan ke parafaring

T3 : Tumor invasi ke tulang dan atau sinus paranasal

T4 : Tumor meluas ke intrakranial dan atau melibatan nervus kranial, fosa infratemporal, hipofaring, atau mata, atau ruang mastikator.

3. Kelenjar limfe regional (N):

NX : Kelenjar limfe regional tidak dapat dinilai NO : Tidak ada metastasis kelenjar limfe regional

N1 : Metastasis kelenjar limfe unilateral, diameter 6 cm atau kurang, diatas fosa supra-klavikula

N2 : Metastasis kelenjar limfe bilateral, diameter 6 cm atau kurang, diatas fosa supra-klavikula

N3 : Metastasis kelenjar limfe

–N3a: Diameter besar dari 6 cm

4. Metastasis jauh (M)

MX : Metastasis jauh tidak dapat dinilai M0 : Tidak ada metastasis jauh

M1 : Ada metastasis jauh

Grup stadium

Stadium 0 Tis N0 M0

Stadium I T1 N0 M0

Stadium IIA T2a N0 M0

Stadium IIB T1 N1 M0 T2 N1 M0 T2a N1 M0 T2b N1 M0 Stadium III T1 N2 M0 T2a N2 M0 T2b N2 M0 T3 N2 M0 Stadium IVA T4 N0 M0 T4 N1 M0 T4 N2 M0

Stadium IVB Semua T N3 M0

2.3.7 Penanggulangan 2.3.7.1 Radioterapi

Radioterapi merupakan pengobatan utama pada Karsinoma Nasofaring (KNF). Dosis radiotrapi untuk KNF adalah 1,8-2 GY setiap pemberian, sebanyak lima kali pemberian setiap minggu selama tujuh minggu, dengan total dosis 60-70 Gy. Setiap tipe histopatologi KNF mempunyai perbedaan respon terhadap radiotrapi.

2.3.7.2 Brakhiterafi

Brakhiterafi adalah pemberian ion radiasi dosis tinggi terhadap jaringan dengan volume kecil. Pemberian brakhiterapi terhadap tumor primer KNF, dapat dibagi berdasarkan beberapa indikasi. Indikasi tersebut adalah tumor persisten lokal setelah empat bulan pemberian radiotrapi primer, sebagai adjuvant setelah radiotrapi eksternal dan untuk tumor persisten regional dimana brahkiterapi diberikan pada penderita yang akan menjalani diseksi leher.

2.3.7.3 Kemoterapi

Kemoterapi biasanya digunakan pada kasus (KNF) recurrent atau yang telah mengalami metastasis. Obat kemoterapi dapat bekerja menghambat pembelahan sel pada semua siklus sel (Cell Cycle non Spesific) baik dalam siklus pertumbuhan sel maupun dalam keadaan istrahat.

2.3.7.4 Pembedahan

Pembedahan tidak hanya berperan pada penanggulangan KNF. Tindakan bedah terbatas pada reseksi sisa masa tumor yang kambuh atau tidak terkontrol di nasofasofaring dan leher setelah radiotrapi.

2.3.7.5 Imunoterapi

Imunoterapi dan terapi gen merupakan terapi pilihan di masa datang. Defisiensi imunitas seluler merupakan salah satu penyebab kegagalan terapi pada KNF (Munir, 2010).

Dokumen terkait