• Tidak ada hasil yang ditemukan

NGLIPAR I GUNUNGKIDUL DI YOGYAKARTA Kismi Suljana

HASIL PENELITIAN

Penelitian yang berjudul “Hubungan Keberadaan Telur Cacing Tanah Di Sekitar Rumah Terhadap Infeksi Kecacingan Pasien di Puskesmas Nglipar I ini dilakukan pada bulan September 2014 diawali dengan pengambilan data sekunder di Puskesmas Nglipar I. Data

di Puskesmas Nglipar I dari bulan Januari 2014–Agustus 2014 terdapat 45 kasus infeksi cacing seperti pada Lampiran II. Untuk sampel tanah di ambil dari 35 tanah di sekitar rumah pasien yang terinfeksi kecacingan dan 10 tanah di sekitar rumah pasien yang tidak terinfeksi kecacingan dimana rumah 10 pasien yang tidak terinfeksi letak rumahnya berhimpitan dengan rumah pasien yang terinfeksi kecacingan. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada tiga titik yaitu halaman depan rumah, tanah sekitar pembuangan sampah (samping kanan atau samping kiri rumah) dan tanah belakang rumah (sekitar kamar mandi).

Hasil pemeriksaan laboratorium pada 45 sampel tanah terdapat 5 sampel yang positif ditemukan telur cacing, sampel yang positif tersebut terdiri dari 4 sampel yang diketemukan di sekitar rumah pasien yang terinfeksi kecacingan dan 1 sampel ditemukan disekitar rumah pasien yang tidak terinfeksi kecacingan. Spesies cacing yang diketemukan pada sampel tanah dalam penelitian ini adalah Ascaris lumbricoides dan cacing tambang.

Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan keberadaan telur cacing tanah pada tanah di sekitar rumah, dilakukan dengan uji non parametric chi square pada SPSS 17.0 for Windows. Selanjutnya dilakukan uji Crosstab sehingga didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 1 : Uji Crosstab

No Nama Signifi kasi Uji Keterangan 1 Fisher 1,000 Tidak ada beda 2 Kontingensi 0,80 Tidak ada hubungan 3 Estimasi Risk 1,333 Tidak dalam diestimasi

Hasil:

Tidak ada hubungan antara keberadaan telur cacing tanah sekitar rumah terhadap infeksi kecacingan pasien di Puskesmas Nglipar I.

Jenis (spesies) telur cacing Nematoda usus yang ditemukan berupa telur cacing

Askaris lumbricoides dan cacing tambang.

PEMBAHASAN

Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 45 sampel tanah yang terdiri dari 35 sampel tanah yang diambil disekitar rumah pasien yang terinfeksi kecacingan dan 10 sampel tanah yang diambil disekitar rumah orang yang tidak terinfeksi kecacingan, jumlah sampel tersebut berdasarkan dari data kasus infeksi kecacingan yang terjadi di Puskesmas Nglipar I pada bulan Januari – Agustus 2014 yang berjumlah 45 kasus.

Berdasarkan tujuan semula yang ingin dicapai adalah hubungan keberadaan telur cacing tanah di sekitar rumah dengan infeksi kecacingan pada pasien Puskesmas Nglipar I, yaitu dengan uji statistic koefi sien, kontingensi,

0 5 10 15 20 25 30 35

ada tidak ada

terinfeksi tidak terinfeksi

Gambar 1. Grafi k kejadian infeksi kecacingan-keberadaan telur cacing nematoda usus pada tanah.

Hubungan Keberadaan Telur Cacing Tanah di Sekitar Rumah dengan Infeksi Kecacingan Pasien ... (Kismi Suljana)

sedangkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 45 sampel tanah yang terdiri dari 35 sampel tanah yang diambil dari sekitar rumah pasien yang terinfeksi kecacingan dan 10 sampel tanah yang diambil dari sekitar rumah pasien yang tidak terinfeksi kecacingan hanya ada 5 sampel tanah yang dinyatakan positif diketemukan telur cacing. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya beberapa factor, diantaranya adalah:

Cara pengambilan sampel tanah yang benar sangat menentukan erhasilan analisis laboratorium yaitu ditemukan atau tidaknya telur cacing dalam sampel.Metode pengambilan sampel yang dilakukan juga harus tepat, karena yang terpenting adalah apakah sampel yang di ambil; sudah mewakili semua.Halhal yang harus diperhatikan adalah jenis sampel, frekuensi pengambilan sampel, pemilihan titik pengambilan sampel.

S e l a n j u t n y a k a r e n a f a k t o r s u h u . Pengambilan sampel tanah pada penelitian ini pada musim kemarau. Menurut Depkes R.I. (2004) bahwa telur Trichuris Trichiura tumbuh dalam tanah liat dengan kelembaban tinggi dan suhu yang berkisar antara 25ºC-30ºC. sangat baik untuk perkembangan telur Ascaris

Lumbricordes sampai menjadi bentuk infeksi

(Gondonusodo dkk, 2000). Suhu optimum untuk perkembangan larva Necator americanus adalah 28ºC - 30ºC, sedangkan suhu optimum untuk Ancylostoma duodenale adalah 23ºC - 25ºC (Anggo waluyo, 2002). Suhu merupakan faktor penting dan penyebaran organisme.

Sinar matahari yang sangat terik akan membuat suhu meningkat. Menyebabkan larva cacing tanah naik ke permukaan tanah, karena daya thermatoxo dan mempermudah penularan. Namun sinar matahari yang terlalu terik akan membakar larva cacing tersebut (Sandjaja, 2007).

Faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah adanya zat kimia. Bahan-bahan kimia yang terlarut dalam air dan tanah.Seperti misalnya garam-garam membuat tanah menjadi alkis.Keadaan itu mengakibatkan telur cacing

menjadi rusak.Jadi dapat disimpulkan bahwa buka PH saja yang dapat merusak telur cacing tetapi juga jenis bahan kimianya dan air yang mengandung NaCl 150.000 ppm cukup untuk mematikan telur cacing tambang (Soedarto, 1991).

Infeksi yang terjadi pada pasien di Puskesmas Nglipar I dimungkinkan karena adanya kontak langsung kaki pasien yang tidak memakai alas kaki dengan larva infektif cacing tanah sehingga larva tersebut masuk melalui jaringan kulit kaki pasien. 35 pasien yang positif terinfeksi mayoritas tinggal di daerah dataran rendah, sehingga apabila musim hujan maka daerah tersebut menjadi sangat lembab, keadaan tersebut mungkin juga berpengaruh terhadap pertumbuhan larva cacing.

Derajat kesehatan individu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang paling berpengaruh adalah faktor lingkungan, dimana pasien yang positif terinfeksi cacing tanah tidak pernah memakai alas kaki saat aktifi tas di luar rumah.Selain faktor lingkungan ada juga faktor yang berpengaruh yaitu faktor perilaku. Perilaku yang kurag bersih akan dapat mempengaruhi derajat kesehatan individu. Hal tersebut bukti bahwa kebersihan seseorang yang tida baik akan meningkatkan terjadinya infeksi cacing pada penduduk.

Adanya interaksi manusia dengan lingkungan, menyebabkan terjadinya infeksi pada penduduk yang dapat menimbulkan suatu mata rantai yang tidak dapat dipisahkan, dimana orang yang terinfeksi dapat menyebarkan terjaddinya penularan penyakit yang terjadi pada masyarakat seperti: cacingan, diare, muntaber dan lainlain. Perkembangan dan penyebaran telur cacing tergantung pada pencemaran tanah, karena kebiasaan-kebiasaan yang tidak higienis di masyarakat (Depary, 1985).

Dalam penelitian ini terdapat 5 sampel tanah yang dinyatakan positif diketemukan telur cacing, hal ini mengambarkan bahwa penularan infeksi kecacingan tidak semuanya terjadi di lingkungan sekitar rumah. Penularan infeksi

kecacingan dapat terjadi dari tempat aktifi tas penduduk yang lain seperti lahan pertanian, sekolah dan sebagainya. Kebiasaan buruk masyarakat juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab perkembangan cacing atau biasa disebut faktor prilaku misalnya: mencuci tangan hanya sesudah makan bukan sebelum makan, memanjangkan kuku tanpa memperhatian kebersihanya, tidak memakai alas kaki dan tidak mencuci tangan dan kaki setelah melakukan aktifi tas di tanah.

Infeksi kecacingan yang disebabkan oleh cacing Ascarislumbricoides pada bulan Januari hingga bulan Agustus 2014 sebesar 38% namun pada pemeriksaan sampel tanah pada penelitian ini diketemukan hanya 1 sampel tanah yang terdapat telur Ascaris lumbricoides atau 2% dari 45 sampel tanah yang diperiksa. Penyebaran infeksi ascariasis dapat melalui beberapa cara, selain langsung kontak dengan tanah yang terkontaminasi dengan telur cacing yang infektif juga dapat melalui makanan yang berupa sayuran yang dimakan mentah (lalapan) tanpa pencucian yang bersih hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian Cahyo Nugroho (2010) yang meneliti Identifi kasi telur cacing nematoda usus pada sayuran dengan hasil Ascaris

lumbricoides 50%, Trichuris trichiura 37,5% dan

cacing tambang 12,5%.

Prevalensi infeksi cacing Trichuris trichiura di Puskesmas Nglipar I Gunungkidul sebesar 4% tetapi pada pemeriksaan sampel tanah pada penelitian ini tidak diketemukan telur cacing

Trichuris trichiura, hal ini disebabkan karena

pengambilan sampel tanah pada penelitian ini pada musim kemarau.

Menurut Depkes RI 2004 bahwa telur

Trichuris trichiura tumbuh dalam tanah liat yang

lembab dan tanah dengan suhu optimal + 30o C. Tanah liat dengan kelembaban tinggi dan suhu yang berkisar antara 25oC – 30oC sangat baik untuk perkembangan telur Ascaris Lumbricoides sampai menjadi bentuk efektif. (Gandahusada dkk, 2000).

Prevalensi infeksi cacing tambang sebesar 36%, pada pemeriksaan sampel tanah diketemukan 4 sampel yang terdapat telur cacing tambang atau 9% dari 45 sampel, hal ini menunjukkan bahwa penularan infeksi cacing ini tidak hanya terjadi di lingkungan sekitar rumah, sebagian besar pasien yang terinfeksi cacing tambang adalah petani yang setiap hari beraktifi tas dan bersentuhan langsung dengan tanah. Berdasarkan pengamatan dan wawancara ketika pengambilan sampel tanah di sekitar rumah menunjukkan bahwa pemakaian alas kaki terutama ketika beraktifitas di tanah kurang mendapat perhatian sehingga banyak yang beraktifitas ditanah tidak menggunakan alas kaki, selain itu mencuci kaki dan tangan memakai sabun setelah beraktifi tas ditanah jarang dilakukan.

Secara umum pencegahan penularan penyakit cacing ditularkan lewat tanah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Kekurang pedulian orang tua terutama ibu terhadap cara bermain anak-anaknya mencerminkan sangat kurangnya pengetahuan masyarakat tentang infeksi cacing yang ditularkan melalui tannah. Karena itu perlu adanya penyuluhan kepada orang tua agar tidak membiarkan anakanaknya bermain ditanah tanpa alas kaki dan mencuci tangan menggunakkan sabun hingga bersih sebelum dan sesudah makan, selain itu perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu ditingkatkan.

KESIMPULAN

1. Tidak ada hubungan antara keberadaan telur caciang Nematoda usus (Soil Transmitted

Helminth) pada tanah sekitar rumah pasien

di wilayah UPT Pukesmas Nglpar I dengan kejadian infeksi kecacingan.

2. Diketemukan 5 sampel tanah yang positif telur cacing tanah disekitar rumah pasien kecacingan.

3. Jenis ( spesies) telur cacing Nematoda usus yang ditemukan berupa telur cacing Askaris

Hubungan Keberadaan Telur Cacing Tanah di Sekitar Rumah dengan Infeksi Kecacingan Pasien ... (Kismi Suljana) SARAN

1. Kepada Puskesmas Nglipar I agar pemeriksaan penentuan diagnosis infeksi cacing ditunjang dengan pemeriksaan Laboratorium yaitu dengan pemeriksaan feses penderita.

2. Bagi penelitian lain, perlu adanya penelitian lanjutan mengenai faktor-faktor lain penyebab terjadinya infeksi kecacingan pada masyarakaat khususnya di wilayah Puskesmas Nglipar I.

DAFTAR PUSTAKA

Gandahusada, S., 2000. Parasitologi Kedokteran, Edisi 3. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia….v

WHO, 2012. Soil Transmitted Helminth. Diunduh dari: http://www.who.int/intestin al_worms/ en/ (Diakses 29 Maret 2014).

Sugiyono. 2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV Alva Beta.

Soedarto, 2011. Buku Ajar Parasitologi

Kedokteran. Jakarta: Sagung Seto 2011).

Depkes RI, Ditjen P2M & PL. 2005. Pencegahan

Demam Berdarah Dengue. Jakarta Depkes

RI.

Gandahusada, S., 2000. Parasitologi Kedokteran, Edisi 3. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia….v

Onggowaluyo. 2002, Parasitologi Medik I

Helmintologi. Jakarta: Penerbit Buku.

Sandjaja, Bernardus. 2007.

Helminthologi Kedokteran. Jakarta:Prestasi