• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN PENEMUAN BAKTERI TAHAN ASAM POSITIF DI PUSKESMAS JATISRONO I

Erni Tri Susanti1, Subiyono2, Suryanto3

1,2,3Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Abstrak

Latar belakang: Tuberculosis adalah penyakit menular langsung yang di sebabkan oleh

kuman Mycobacterium tuberculosis. Gejala utamanya adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan pemeriksaan yang paling efi sien, mudah, murah dan bersifat spesifi k. Di Puskesmas Jatisrono I Kabupaten Wonogiri angka proporsi tersebut masih rendah yaitu kurang dari 5%. Hal ini terkait masih sedikit terjaringnya BTA positif dan permasalahan dalam pemeriksaan laboratorium (negatif palsu). Sehingga perlu suatu alternatif tehnik pemeriksaan mikroskopis guna menurunkan angka negatif palsu yaitu dengan pemeriksaan dahak yang purulent melalui homogenisasi dan sentrifugasi berbagai variasi kecepatan (1000 rpm, 2000 rpm, 3000 rpm, 4000 rpm dan 5000 rpm) dengan menggunakan aquades panas 42oC.

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengaruh homogenisasi dengan sentrifugasi berbagai

variasi kecepatan dengan menggunakan aquades panas 42oC pada dahak purulent dalam peningkatan penemuan BTA Positif di Puskesmas Jatisrono I.

Metode Penelitian: Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan

eksperimen. Rancangan penelitian ini adalah pre and point test without control. Penelitian dilakukan di Puskesmas Jatisrono I pada bulan September 2014. Sampel penelitian adalah dahak suspek TB di Puskesmas Jatisrono I.

Hasil: Penelitian menunjukan bahwa pemeriksaan BTA positif dahak purulent (dahak sewaktu

(I), dahak pagi dan dahak sewaktu (II)) ada perbedaan penemuan BTA positif secara langsung (konvensional) dan dengan homogenisasi dan sentrifugasi berbagai variasi kecepatan (1000 rpm, 2000 rpm, 3000 rpm, 4000 rpm dan 5000 rpm).

Kesimpulan : Ada pengaruh homogenisasi dengan sentrifugasi berbagai variasi kecepatan

dengan menggunakan aquades panas 42oC pada dahak purulent dalam peningkatan penemuan Bakteri Tahan Asam positif di Puskesmas Jatisrono I

Kata kunci : Homogenisasi, sentrifugasi, dahak purulent, Bakteri Tahan Asam

Homogenization Effect With Speed Variation Centrifugation At Purulent Sputum Resistant Bacteria In Enhancing The Acid Positive Findings In Center of Public Health Jatisrono I

Abstract

Background: Tuberculosis is an infectious disease that is directly caused by the bacteria

Mycobacterium tuberculosis. The main symptom is coughing for 2-3 weeks or more. Microscopic examination of sputum examination is the most effi cient, easy, inexpensive and specifi c. In Center of Public Health (PHC) Jatisrono I Wonogiri the proportion numbers are

Pengaruh Homogenisasi dengan Berbagai Variasi Kecepatan Sentrifugasi pada ... (Erni Tri Susanti, Subiyono, Suryanto)

still low at less than 5%. It relates still slightly terjaringnya smear positive and problems in laboratory tests (false negatives). So need an alternative technique of microscopic examination in order to reduce the number of false negatives is with purulent sputum examination by homogenization and centrifugation different variations of speed (1000 rpm, 2000 rpm, 3000 rpm, 4000 rpm and 5000 rpm) using hot distilled water 42 0C.

Objective: To determine the effect of homogenization by centrifugation speed variations

using hot distilled water 42 0C in purulent sputum smear-positive in the improvement of the invention in PHC Jatisrono I.

Methods: The study was a quantitative study with experimental approaches. The design of

this study is the pre and point test without control. The study was conducted at the health center Jatisrono I in September 2014. Samples were sputum suspected tuberculosis in PHC Jatisrono I.

Results: The study showed that the examination of purulent sputum smear positive (sputum

when (I), phlegm and sputum morning when (II)) there are differences in the discovery of direct smear positive (conventional) and the homogenization and centrifugation different variations of speed (1000 rpm, 2000 rpm , 3000 rpm, 4000 rpm and 5000 rpm).

Conclusion: There is a homogenizing effect with variations speed centrifugation using

hot distilled water 42 0C in purulent sputum in increasing positive Acid Resistant Bacteria discovery in PHC Jatisrono I.

Keywords: homogenization, centrifugation, purulent sputum, Acid Resistant Bacteria

Wonogiri, angka proporsi BTA positif di antara suspek masih rendah, yaitu sebesar < 5%, hal ini terkait masih sedikit terjaringnya BTA positif dari banyaknya suspek yang memenuhi kriteria. Selain itu juga, bisa disebabkan adanya permasalahan dalam pemeriksaan laboratorium (negatif palsu) dimana dari hasil pengamatan peneliti menyimpulkan ada beberapa penyebab. Beberapa hal tersebut adalah:

1. Sampel dahak yang purulent 2. Volume sample dahak yang diambil

Berdasarkan permasalahan tersebut di atas maka proses pengolahan dahak yang purulent serta pengambilan volume sampel dahak yang bisa mewakili dari seluruh sampel dahak yang ada perlu dilakukan. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan semua sampel dahak yang diperoleh dalam proses pembuatan sediaan. Semua sampel dahak yang didapat dari pasien akan dilakukan suatu tahapan sebelum pembuatan sediaan yaitu tahapan pengenceran dengan aquades panas 40–45oC

PENDAHULUAN

Tuberculosis (TB) adalah penyakit

menular langsung yang disebabkan oleh kuman

Mycobacterium Tuberculosis. Ciriciri kuman Mycobacterium Tuberculosis antara lain kuman

berbentuk batang yang tidak membentuk spora dengan panjang 1 – 4 mm dan tebal 0,3 – 0,6 mm dan bersifat tahan asam.1

Gejala utama TB adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari, demam meriang lebih dari satu bulan.2

P e m e r i k s a a n m i k r o s k o p i s d a h a k merupakan komponen kunci untuk menegakkan diagnosa serta evaluasi dan tindak lanjut pengobatan. Puskesmas Jatisrono I adalah salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang berperan aktif dalam upaya pengendalian TB.

kemudian dihomogenisasi dan dicentrifugasi aquades panas 40 – 45oC bila digunakan dalam pengenceran dan pengolahan dahak yang

purulent dapat menghancurkan kekentalan

dahak.

Sehingga dahak bisa terurai homogen dengan aquadest tersebut. Bakteri yang berada di tengah kepurulen dahak jadi mudah terdiagnosa dengan melalui proses lanjutan yaitu centrifugasi dengan tujuan untuk mendapatkan campuran aquades dan dahak sedimen. Centrifugasi menggunakan variasi kecepatan yaitu 1000 rpm, 2000 rpm, 3000 rpm, 4000 rpm, dan 5000 rpm dengan waktu 10 menit.

Di sini peneliti menggunakan variasi kecepatan dengan tujuan untuk mencari kecepatan yang paling efektif dalam mendapat hasil yang maksimal. Sehingga diharapkan bisa meunurunkan negatif palsu dan terjadi peningkatan penemuan BTA positif atau meningkatkan proporsi pasien TB BTA positif di antara suspek. Sehingga pemberantasan TB di wilayah kerja Puskesmas Jatisrono I bisa maksimal dan menurunkan insidensi TB di masyarakat.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen yaitu percobaan yang berupa perlakuan terhadap suatu variabel.3 Rancangan penelitian dalam penelitian ini adalah

pre and post test without control. Penemuan BTA

positif melalui pemeriksaan secara langsung adalah pre test, sedangkan penemuan BTA positif setelah perlakuan homogenisasi dan sentrifugasi dengan berbagai variasi kecepatan adalah posttest. Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Jatisrono I Kabupaten Wonogiri pada tanggal 1 September – 30 September 2014.

Pengolahan data dilakukan secara

1. Editing 2. Coding 3. Processing 4. Cleaning 5. Tabulating

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan analisis data dengan 2 metode, yaitu

1. Analisis deskriptif

2. Analisis statistik dengan uji statistik One Way Anova.

HASIL

Hasil pemeriksaan BTA positif pada dahak

purulent dengan homogenisasi dan sentrifugasi

berbagai variasi kecepatan (1000 rpm, 2000 rpm, 3000 rpm, 4000 rpm dan 5000 rpm) dengan waktu 10 menit menggunakan aquades panas 40 - 45 oC dan secara langsung (konvensional) dapat dilihat pada Tabel 1.

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada pemeriksaan BTA positif secara

Tabel 1. Hasil pemeriksaan BTA positif pada dahak

Perlakuan

langsung 1000 rpm 1000 rpm 1000 rpm 1000 rpm 1000 rpm

Dahak Pagi Negatif 48 43 42 41 41 41

96.0% 86.0% 84.0% 82.0% 82.0% 82.0% Positif (+) 2 5 6 0 0 0 4.0% 10.0% 12.0% .0% .0% .0% Positif (++) 0 2 2 4 4 4 .0% 4.0% 4.0% 8.0% 8.0% 8.0% Positif (+++) 0 0 0 5 5 5 .0% .0% .0% 10.0% 10.0% 10.0% Total 50 50 50 50 50 50 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% Sumber : Pengolahan Data, 2014

Pengaruh Homogenisasi dengan Berbagai Variasi Kecepatan Sentrifugasi pada ... (Erni Tri Susanti, Subiyono, Suryanto)

langsung (konvensional) terhadap 50 sampel sebagian besar (96%) yaitu 48 sampel hasilnya negatif (tidak ditemukan BTA positif) dan ditemukan BTA positif (+) sebanyak 2 (4%). Pada pemeriksaan dengan homogenisasi dan sentrifugasi dengan kecepatan sentrifugasi 1000 rpm yaitu hasilnya negatif (tidak ditemukan BTA positif) 43 (86%) dan ditemukan BTA positif (+) sebanyak 5 (10%), positif (++) sebanyak 2

(4%). Kecepatan sentrifugasi 2000 rpm hasilnya negatif (tidak ditemukan BTA positif) 42 (84%) dan ditemukan BTA positif (+) sebanyak 6 (12%) dan positif (++) sebanyak 2 (4%). Pada kecepatan sentrifugasi 3000 rpm, 4000 rpm dan 5000 rpm hasilnya juga sama yaitu hasilnya negatif (tidak ditemukan BTA positif) 41 (82%), ditemukan BTA positif (++) sebanyak 4 (8%) dan positif (+++) sebanyak 5 (10%). Hasil uji hipotesis

Tabel 2. Hasil Uji ANOVA Sum of

Squares df

Mean

Square F Sig. Dahak Between Groups 8.440 5 1.688 2.811 .017

Within Groups 176.560 294 .601

Total 185.000 299

Sumber : Pengolahan Data, 2014

Tabel 3. Hasil Uji LSD pada Dahak

95% Confi dence Interval (I) Perlakuan (J) Perlakuan Mean Difference (IJ) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound

Langsung 1000 rpm -.140 .155 .367 -.45 .17 2000 rpm -.160 .155 .303 -.47 .15 3000 rpm -.420* .155 .007 -.73 -.11 4000 rpm -.420* .155 .007 -.73 -.11 5000 rpm -.420* .155 .007 -.73 -.11 1000 rpm Langsung .140 .155 .367 -.17 .45 2000 rpm -.020 .155 .897 -.33 .29 3000 rpm -.280 .155 .072 -.59 .03 4000 rpm -.280 .155 .072 -.59 .03 5000 rpm -.280 .155 .072 -.59 .03 2000 rpm Langsung .160 .155 .303 -.15 .47 1000 rpm .020 .155 .897 -.29 .33 3000 rpm -.260 .155 .095 -.57 .05 4000 rpm -.260 .155 .095 -.57 .05 5000 rpm -.260 .155 .095 -.57 .05 3000 rpm Langsung .420* .155 .007 .11 .73 1000 rpm .280 .155 .072 -.03 .59 2000 rpm .260 .155 .095 -.05 .57 4000 rpm .000 .155 1.000 -.31 .31 5000 rpm .000 .155 1.000 -.31 .31 4000 rpm Langsung .420* .155 .007 .11 .73 1000 rpm .280 .155 .072 -.03 .59 2000 rpm .260 .155 .095 -.05 .57 3000 rpm .000 .155 1.000 -.31 .31 5000 rpm .000 .155 1.000 -.31 .31 5000 rpm Langsung .420* .155 .007 .11 .73 1000 rpm .280 .155 .072 -.03 .59 2000 rpm .260 .155 .095 -.05 .57 3000 rpm .000 .155 1.000 -.31 .31 4000 rpm .000 .155 1.000 -.31 .31

dengan statistic one way anova, adapun hasil uji statistik dapat dilihat pada Tabel 2.

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada pemeriksaan dahak pagi diperoleh nilai F = 2,811 dengan p value = 0,017 (p<0,05) yang berarti ada perbedaan penemuan BTA (+) dengan homogenisasi dan sentrifugasi berbagai variasi kecepatan (1000 rpm, 2000 rpm, 3000 rpm, 4000 rpm dan 5000 rpm) dan secara langsung (konvensional).

Efektifitas dari berbagai kecepatan sentrifugasi terhadap penemuan BTA positif pada dahak purulent dapat diketahui dengan melakukan uji lanjutan analisis varian yaitu uji LSD (Least Signifi cant Diferrence) dengan α = 0,05 didapatkan hasil pada Tabel 3.

Berdasarkan hasil uji LSD ini didapatkan kecepatan sentrifugasi yang paling efektif menemukan BTA positif adalah 3000.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pemeriksaan BTA positif dahak purulent secara langsung (konvensional) dan pemeriksaan BTA positif dahak purulent dengan homogenisasi dan sentrifugasi didapatkan suatu penilaian bahwa teknik pemeriksaan dahak dengan homogenisasi dan sentrifugasi lebih sensitif dalam penemuan BTA positif. Hasil pemeriksaan BTA positif dengan homogenisasi dan sentrifugasi dengan kecepatan 1000 rpm dan 2000 rpm kecenderungannya sama yaitu hanya bisa menemukan sampai BTA positif (++) saja, sedangkan sentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm, 4000 rpm dan 5000 rpm bisa menemukan sampai BTA positif (+++). Kecepatan sentrifugasi yang paling efektif menemukan BTA positif adalah 3000 rpm dimana pada kelompok pengujian nilai selisih mean penemuan BTA positif paling besar.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Marryani Girsang dkk., (2001) yang hasilnya menyatakan bahwa peningkatan perolehan jumlah BTA (Bakteri Tahan Asam) menunjukkan ada perbedaan bermakna antara cara konvensional dan teknik sentrifugasi

(Fhitung > Ftabel ), dengan tehnik sentrifugasi perolehan bakteri tahan asam lebih menigkat daripada cara konvensional.

Demikian juga penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh S. Darmawati (2005) yang hasilnya menunjukkan bahwa kenaikan jumlah sputum yang dinyatakan positip sebesar 10% dengan perlakuan homogenisasi apabila dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopis secara langsung.

Menurut peneliti adanya perbedaan penemuan BTA positif antara pemeriksaan secara langsung (konvensional dengan tehnik homogenisasi dan sentrifugasi dapat dijelaskan sebagai berikut: Pada tehnik homogenisasi dan sentrifugasi semua sampel dahak yang didapat dari pasien akan dilakukan suatu tahapan sebelum pembuatan sediaan yaitu tahapan pengenceran dengan aquades panas 40-450C kemudian dihomogenisasi dan dicentrifugasi aquades panas 40-450C bila digunakan dalam pengenceran dan pengolahan dahak yang purulent dapat menghancurkan kekentalan dahak.

Sehingga dahak bisa terurai homogen dengan aquadest tersebut. Bakteri yang berada di tengah kepurulen dahak jadi mudah terdiagnosa dengan melalui proses lanjutan yaitu sentrifugasi dengan tujuan untuk mendapatkan campuran aquades dan dahak sedimen.

KESIMPULAN

1. Ada pengaruh homogenisasi dengan sentrifugasi berbagai variasi kecepatan dengan menggunakan aquades panas 40-45oC pada dahak purulent dalam peningkatan penemuan Bakteri Tahan Asam positif di Puskesmas Jatisrono I

2. Pemeriksaan BTA positif dahak purulent dengan dengan cara langsung (konvensional) terhadap 50 sampel yaitu 48 sampel hasilnya negatif (tidak ditemukan BTA positif) dan ditemukan BTA positif (+) sebanyak 2 sampel (4%).

3. Pemeriksaan BTA positif dahak purulent dengan kecepatan 1000 rpm hasilnya negatif

Pengaruh Homogenisasi dengan Berbagai Variasi Kecepatan Sentrifugasi pada ... (Erni Tri Susanti, Subiyono, Suryanto)

(tidak ditemukan BTA positif) 43 (86%) dan ditemukan BTA positif (+) sebanyak 5 (10%), positif (++) sebanyak 2 (4%). Pemeriksaan BTA positif dahak purulent dengan dengan kecepatan sentrifugasi 2000 rpm hasilnya negatif (tidak ditemukan BTA positif) 42 (84%) dan ditemukan BTA positif (+) sebanyak 6 (12%) dan positif (++) sebanyak 2 (4%). Pemeriksaan BTA positif dahak purulent dengan dengan keceptan senrifugasi 3000 rpm hasilnya negatif (tidak ditemukan BTA positif) 41 Pemeriksaan BTA positif dahak purulent dengan dengan kecepatan sentrifugasi 4000 rpm hasilnya negatif (tidak ditemukan BTA positif) 41 (82%), ditemukan BTA positif (++) sebanyak 4 (8%) dan positif (+++) sebanyak 5 (10%).

Pemeriksaan BTA positif dahak purulent dengan dengan kecepatan sentrifugasi 5000 rpm, hasilnya negatif (tidak ditemukan BTA positif) 41 (82%), ditemukan BTA positif (++) sebanyak 4 (8%) dan positif (+++) sebanyak 5 (10%).

4. Penemuan BTA positif secara langsung (konvensional) terhadap 50 sampel sebesar 4%. Penemuan BTA positif secara homogenisasi dan sentrifugasi terhadap 50 sampel sebesar 18%

5. Terjadi peningkatan angka proporsi TB BTA positif dari yang biasanya kurang dari 5% menjadi 18%.

6. Kecepatan sentrifugasi yang paling efektif menemukan BTA positif adalah 3000 rpm.

SARAN

1. Ada perbedaan penemuan BTA (+) dengan homogenisasi dan sentrifugasi berbagai variasi kecepatan (1000 rpm, 2000 rpm, 3000 rpm, 4000 rpm dan 5000 rpm) dan secara statistik kecepatan sentrifugasi yang paling efektif menemukan BTA positif adalah kecepatan 3000 rpm, sehingga dalam peningkatan penemuan BTA positif disarankan dapat menggunaan teknik homogenisasi dan sentrifugasi dengan

kecepatan 3000 rpm dalam pemeriksaan sampel dahak dari suspek TB-paru dan menghindari terjadinya negatif palsu hasil pemeriksaan laboratorium di Puskesmas Jatisrono I.

2. Guna peningkatan cakupan penemuan BTA positif, perlu diberikan pelatihan teknik homogenisasi dan sentrifugasi kepada petugas laboratorium Puskesmas di Kabupaten Wonogiri.

3. Untuk penelitian berikutnya bisa disarankan untuk menggunakan alat bantu dalam proses homogenisasi dahak dan aquades sehingga di dapat hasil penghomogenan yang benarbenar maksimal sehingga bisa memaksimalkan terurainya dahak yang kental purulent.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menghaturkan terima kasih kepada:

1. Abidillah Mursyid, SKM, M.S selaku Direktur Politeknik Kementerian Kesehatan Yogyakarta.

2. Ir. Roosmarinto, M.Kes selaku Ketua Jurusan Analis Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta.

3. Drs. Subiyono, M.Sc selaku Pembimbing I Karya Tulis Ilmiah, terima kasih atas segala bantuan dan masukan bagi Penulis.

4. Suryanto, S.SI, M.Sc selaku Pembimbing II Karya Tulis Ilmiah, terima kasih atas segala bantuan dan masukan bagi Penulis.

5. Dra. Hj. RR. Ratih Hardisari, M.Kes selaku Penguji Karya Tulis Ilmiah, terima kasih atas segala bantuan dan masukan bagi Penulis.

6. Kedua orang tua, suami dan anak tercinta yang selalu memberikan doa dan dukungan moril serta materiil dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ardiansyah, M. 2012. Buku Medikal Bedah

Jogjakarta: Penerbit Diva Press (Anggota IKAPI.

2. Alsagaff, H. dan Mukly, A. 2008. Buku

Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya:

Airlangga University.

3. Chandra, B. 2011. Kontrol Penyakit Menular

pada Manusia. Jakarta: Buku Kedokteran

EGC

4. Depkes RI. 2007. Pedoman Nasional

Pengendalian Tuberkulosis Edisi 2. Cetakan 2. Jakarta: Depkes RI.

5. Hiswani. 2009. Bentuk Mikroskopis Bakteri Tahan Asam (BTA). Diambil dari http:// chusnulzuhri.wordpress.com. Diunduh tangal 1 Mei 2014.

6. Jawetz, Melnick dan Adelberg. 2008. Buku

Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 23. Jakarta:

Buku Kedokteran EGC.

7. Kemenkes RI. 2009. Buku Pedoman Nasional

Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2.

Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 8. Kemenkes RI. 2011. Buku Pedoman Nasional

Pengendalian Tuberkulosis Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta:

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

9. Kemenkes RI. 2012. Buku Standar Prosedur

Operasional Pemeriksaan Mikroskopis TB.

Jakarta: Direktorat Jendral Pengendalian dan Penyehatan Lingkungan.

10. Kosasih, A., Susanto, A. D., Pakki, T. R., Martini, T. 2008. Buku Diagnosis dan Tata

Laksana Kegawatdaruratan Paru dalam Praktek Sehari-hari. Jakarta: CV Sagung

Seto.

11. Leksan, A. G. dan Luhur, R. 2008. Buku

Radiologi Toraks Tuberkulosis Paru. Jakarta:

CV Sagung Seto.

12. Locke, T., Keat, S., Walker, A., dan Mackinnan, R. 2013. Buku Microbiology and infectious

Disease on the move. Jakarta Pusat: PT

Indeks.

13. Mubin, A.. 2008. Buku Ilmu Penyakit Dalam.

Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam. Edisi

2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

14. Murwani, A. 2009. Buku Perawatan Pasien

Penyakit Dalam. Jogjakarta: Nuha Media.

15. Nasar, M., Himawan, S., dan Marwoto, W. 2010. Buku Ajar Patologi II (Khusus), Edisi Ke I. Jakarta: CV Sagung Seto.

16. Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian

Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

17. Puskesmas Jatisrono I. 2013. Laporan

Tahunan TB Puskesmas Jatisrono I Tahun 2013. Wonogiri: Puskesmas Jatisrono I.

18. Tao, L. dan Kendall, K. 2013. Sinopsis organ

System Pulmonologi. Jakarta: Karisma

Publishing Group.

19. Vandepitte, J., Verhaegen, J., Engbaek, K., Rohner, P., Piot, P., Heuck, C. 2011. Prosedur

Laboratorium Dasar untuk Bakteriologi Klinis Edisi 2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Hubungan Keberadaan Telur Cacing Tanah di Sekitar Rumah dengan Infeksi Kecacingan Pasien ... (Kismi Suljana)

HUBUNGAN KEBERADAAN TELUR CACING TANAH DI SEKITAR