• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

B. Hasil penelitian

1. Konsep Pendidikan Humanis di SMA Negeri 6 Yogyakarta

Hasil penelitian mengenai konsep pendidikan humanis di SMA Negeri 6 dapat dilihat dari wawancara berikut:

“Pendidikan humanis itu adalah pendidikan yang menghargai nilai- nilai kemanusiaan. Dalam praktek pendidikan, konsep pendidikan humanis harus dijunjung tinggi sebagai cara berkomunikasi antara guru dan siswa, guru dengan guru, maupun siswa dengan siswa. Hal tersebut agar tercipta suasana damai, saling menghargai sesama manusia sehingga proses pendidikan bisa berjalan dengan baik”. (AR)

Meski di SMA Negeri 6 Yogyakarta belum mempunyai program secara khusus tentang pendidikan humanis, konsep pendidikan humanis telah diterapkan dalam lingkungan sekolah oleh warga sekolah. Konsep pendidikan humanis di SMA Negeri 6 Yogyakarta tertuang dalam komunikasi yang harmonis antara guru dengan siswa, guru dengan guru, dan siswa dengan siswa. Pengertian bahwa pendidikan humanis adalah pendidikan yang memanusiakan manusia juga disampaikan oleh narasumber PS selaku guru di SMA Negeri 6 Yogyakarta berikut.

“Pendidikan humanis adalah sebuah model pendidikan yang memanusiakan manusia. Para siswa itu memiliki kecerdasan dan potensi yang berbeda-beda. Dalam kondisi ini pendidikan harus bisa membawa siswa kepada kepribadian yang baik dan membantu siswa untuk mengembangkan potensi dan kecerdasan yang dimilikinya.”(PS)

Dalam konteks pendidikan humanis, pendidikan berperan penting dalam mengembangkan potensi peserta didik dan membentuk kepribadian peserta didik dengan baik. Salah satu bentuk upaya mengembangkan kebebasan potensi peserta didik adalah menghargai setiap pendapat peserta didik dalam pembelajaran, seperti yang diungkapkan oleh IMH berikut.

“Pendidikan humanis kan terkait dengan manusia ya, humanis, humaniora. Itu kan menghargai manusia sesuai dengan fitrahnya, dalam artian karena manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada hewan, maka kita harus istilahnya mendidik anak dengan cara melihat derajat dan martabat manusia itu sendiri. Jadi menghargai setiap pendapat anak, hak asasi anak, termasuk apa ya minat dan bakat anak sesuai dengan karakter masing – masing. Termasuk jugan kita menghargai perbedaan suku, kelompok dan sebagainya”.(IMH)

Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa pendidikan humanis merupakan pendidikan yang memandang positif peserta didik dan mampu memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kecerdasan yang dimilikinya.

Dalam kesehariannya, SMA Negeri 6 Yogyakarta selalu mengedepankan komunikasi antar guru siswa secara harmonis dan tidak kaku. Hal tersebut dapat diketahui bahwa pendidikan di SMA Negeri 6 Yogyakarta berusaha untuk memberikan pendidikan kepada peserta didik dengan tidak ada tekanan secara mental agar pendidikan di SMA Negeri 6 mampu mencapai tujuannya, seperti yang diutarakan oleh AF berikut.

“Pendidikan humanis merupakan pendidikan yang secara penerapannya memperlakukan siswa sebagai semestinya manusia yang ingin diperlakukan secara manusiawi. Artinya siswa tidak boleh diberikan tekanan baik secara fisik maupun mental agar siswa selalu percaya diri dalam belajar dan tidak ada rasa takut untuk mengemukakan pendapat, bakat, dan minatnya di sekolah ataupun di luar sekolah.”(AF)

Dari hasil wawancara tersebut maka dapat diketahui bahwa pendidikan humanis adalah pendidikan yang menerapkan nilai-nilai kemanusiaan yaitu dengan memanusiakan manusia. pendidikan humanis yakni memfasilitasi anak untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa tanpa membuat siswa tertekan ataupun merasa tidak nyaman.

2. Tujuan (Visi dan Misi) Pendidikan Humanis di SMA Negeri 6 Yogyakarta

Menurut hasil wawancara, tujuan pendidikan di SMA Negeri 6 Yogyakarta adalah sebagai berikut.

“Tujuan pembelajaran di sekolah ini yaitu membentuk akhlak peserta didik, kemampuan akademis yang baik, dan ketrampilan yang mumpuni agar mampu bersaing di dunia kerja maupun mendapat perguruan tinggi yang diinginkan”(M)

Pendidikan di SMA Negeri 6 pada hakikatnya menatap ke depan bagi kemajuan siswa baik di bidang akademik maupun non akademik. Terutama masa depan siswa terkait dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu jenjang perguruan tinggi. Melalui program unggulannya, yaitu program sekolah berbasis riset yang diharapkan siswa mampu cepat beradaptasi dengan lingkungan perguruan tinggi yang sangat erat dengan riset. Hal tersebut senada dengan pendapat narasumber berikut mengenai tujuan pendidikan di SMA Negeri 6 Yogyakarta.

“Tujuannya ya mengembangkan potensi dan kecerdasan anak. Selain itu mengembangkan kemampuan anak dalam bidang riset mengingat sekolah ini merupakan sekolah berbasis riset, sehingga nantinya anak akan terbiasa dengan penelitian untuk membantu ke jenjang berikutnya yaitu jenjang mahasiswa.”(PS)

Mengembangkan potensi dan kecerdasan siswa merupakan bagian dari implementasi pendidikan humanis, berdasarkan pernyataan narasumber PS di atas dapat dilihat tujuan pendidikan di SMA Negeri 6 Yogyakarta berusaha untuk memenuhi tujuan pendidikan yang humanis. Selain melalui mata pelajaran pokok, SMA Negeri 6 Yogyakarta juga mengembangkan potensi dan kecerdasan siswa melalui program riset. Tujuan pendidikan yang menunjang siswa dari segi potensi dan kecerdasan juga untuk memenuhi masa depan siswa di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, juga diperkuat oleh pendapat narasumber AF berikut.

“Tujuan pembelajaran disini memunculkan lulusan yang mempunyai integritas yang baik, mempunyai nilai akademik yang baik, dan mempunyai tingkat moral yang baik, dan tingginya tingkat diterimanya ke perguruan tinggi favorit”. (AF)

Pendapat di atas juga dikuatkan oleh narasumber AR yang menyatakan hal yang senada.

“Tujuan yang ingin dicapai sekolah ini yaitu menghasilkan lulusan yang cerdas baik secara akademik maupun secara moral. Saya kira semua sekolah mempunyai tujuan baik yang sama.” (AR)

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa penyelenggaraan pendidikan di SMA Negeri 6 Yogyakarta bertujuan mengembangkan berbagai macam potensi yang dimiliki oleh siswa, mencetak lulusan yang mempunyai integritas baik, nilai akademis yang baik, tingkat moral yang tinggi, serta dapat bersaing masuk ke perguruan

tinggi unggulan. Bahkan lebih dari itu, SMA Negeri 6 Yogyakarta bertujuan agar siswa mampu menguasai ilmu riset dan potensi yang lain melalui ekstrakurikuler yang diselenggarakan sekolah.

Berdasarkan telaah dokumen dari Visi dan Misi SMA Negeri 6 Yogyakarta, pendidikan humanis telah terintegerasi pada beberapa Visi dan Misi SMA Negeri 6 Yogyakarta. Pada Visi poin pertama yang mengungkapkan bahwa : “Insan cerdas adalah insan yang tajam pikirannya, cerdik, pandai, tanggap berpengetahuan luas, terampil, berpikir ilmiah, kreatif, inovatif dan logis”. Visi tersebut mengakomodasi sifat dasar manusia yang selalu ingin tahu. Manusia mempunyai rasa ingin tahu curiousty yang tinggi dan selalu berkembang. Meskipun makhluk lainnya juga memiliki rasa ingin tahu tetapi itu hanya sebatas digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan saja. Perkembangan rasa ingin tahu pada manusia dimulai dengan timbulnnya pertanyaan dari sesuatu yang dilihat dan diamatinya. Adanya kemampuan berpikir pada manusia menyebabkan terus berkembangnya rasa ingin tahu manusia terhadap alam semesta ini.

Selanjutnya pada visi poin kedua yang mengungkapkan bahwa : “Insan unggul adalah insan yang mengerti siapa dirinya, masa depannya, berpikiran ke depan, punya rasa percaya diri, berpandangan terbuka, berbudi luhur, taat menjalankan agamanya, sopan santun, memiliki perasaan hati yang bersih, murni dan mendalam”. Visi tersebut mengakomodasi manusia sebagai Makhluk Individu. Manusia juga diberi

kemampuan (akal, pikiran, dan perasaan) sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya. Disadari atau tidak, setiap manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi hakikat individualitasnya (dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya). Hal terpenting yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah bahwa manusia dilengkapi dengan akal pikiran, perasaan dan keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya. Manusia adalah ciptaan Tuhan dengan derajat paling tinggi di antara ciptaan-ciptaan yang lain.

Visi poin ketiga yang menyatakan : “Insan peduli lingkungan hidup, adalah insan yang mengerti, memahami, dan mau bertindak secara positif terhadap situasi dan kondisi lingkungan hidup dimana mereka berada”. Visi tersebut mengakomodasi sifat manusia yang tidak bisa lepas dari interaksi lingkungan hidup. Lingkungan hidup yang dimaksud yaitu masyarakat dan lingkungan alam dimana mereka berada. interaksi. Lingkungan masyarakat adalah tempat kita untuk bersosialisasi dengan orang lain. Karena sebagai manusia kita merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.Lingkungan dapat memberikan sumber kehidupan agar manusia dapat hidup sejahtera. Lingkungan hidup menjadi sumber dan penunjang hidup. Dengan demikian, lingkungan mampu memberikan kesejahteraan dalam hidup manusia.

Berikutnya telaah juga dokumen mengenai misi SMA Negeri 6 Yogyakarta. Misi poin pertama yang ditelaah mengungkapkan bahwa :

“Mampu menghasilkan lulusan yang terampil, mandiri, kreatif dan inovativ”. Misi tersebut mengacu pada potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Sekolah ini berupaya membebaskan siswa untuk mengembangkan bakat, minat dan kemampuan siswa dalam pembelajaran dan program sekolah yang ada di SMA Negeri 6 Yogyakarta

Misi poin kedua mengungkapkan bahwa : “Menumbuhkan dan mengembangkan wawasan pengetahuan lingkungan yang cerdas sebagai dasar untuk menjadi mandiri, bertaqwa, berkepribadian, berakal, bermoral, berketrampilan, dan berbudaya”. Misi ini terkait dengan sifat manusia sebagai makhluk individu dan juga sosial. Dengan misi tersebut sekolah berupaya untuk meningkatkan kualitas peserta didik sebagai makhluk individu dan sosial yang bisa berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri dalam memenuhi kebutuhan pribadinya dan kebutuhan bermasyarakat.

Telaah Visi dan Misi SMA Negeri 6 Yogyakarta menunjukkan bahwa konsep pendidikan humanis terintegerasi di dalamnya. Hal tersebut ditunjukkan dari Visi dan Misi SMA Negeri 6 yang mengakomodir sifat dasar manusia yang selalu ingin tahu, manusia sebagai makhluk individu dan manusia sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan alam dimana mereka berada.

3. Kebijakan dan Program Pendidikan Humanis di SMA Negeri 6 Yogyakarta

Program pembelaran di SMA Negeri 6 Yogyakarta yang diupayakan untuk mencapai pendidikan humanis secara tersirat telah diterapkan. Adapun menurut hasil wawancara yang diperoleh adalah sebagai berikut :

“Banyak, ya salah satunya misalnya ada kegiatan ekskul semuanya bidang ekstra yang bervariasi dan bermacam-macam maka itu salah satu konteks humanis karena menjawab keinginan ataupun minat bakat itu kan salah satu pendidikan humanis. Yang berikutnya disini kan ada sekolah berbasis riset yaitu sangat membuat manusia menjadi manusia karena logikanya adalah anak-anak ini berpikir menggunakan akal budinya, menggunakan akal sehatnya otomatis itu memanusiakan manusia. Kita latih anak untuk bisa menggunakan akal sehatnya dan mereka bisa menemukan potensi di dalam dirinya sendiri. Ya program riset ini salah satu program unggulan kita”. ( IMH)

Berdasarakan hasil wawancara di atas , program pendidikan humanis di SMA Negeri 6 Yogyakarta meliputi program ekskul baik dari segi akademis maupun non akademis. Program yang telah dilaksanakan dirasa telah menjawab kebutuhan akan pengembangan potensi yang dimiliki siswa, mengingat bahwa pendidikan humanis merupakan pendidikan yang mampu memberikan fasilitas untuk mengembangkan potensi yang dimilki oleh siswa.

Menanggapi tentang program yang mendukung pendidikan humanis di SMA Negeri 6 Yogyakarta, pendapat lain juga diungkapkan oleh narasumber AF sebagai berikut.

“Kalau secara formal di SMA N 6 ini tidak ada secara resmi disebutkan tentang konsep pendidikan humanis, yang ada

pembiasaan-pembiasaan berkaitan dengan pendidikan karakter yang salah satunya muncul bagaimana seseorang itu menjadi humanis yang dimana nantinya di dalam pergaulan, di dalam kehidupan itu menjadi itu muncul konsep-konsep saling membantu dan menghargai satu sama lain. Progam yang ada di sekolah ini telah memenuhi kebutuhan siswa sebagai manusia yang mempunyai hak mendapatkan pendidikan. Kegiatan-kegiatan di sekolah ini telah dilandasi makna dari pendidikan humanis yang memanusiakan manusia”. (AF)

Dapat diketahui berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa program pendidikan humanis tidak tertulis secara formal di sekolah, namunn pendidikan humanis di SMA Negeri 6 berisikan makna dari pendidikan humanis yang diterapkan di dalam setiap program sebagai pembiasaan untuk siswa.

Pernyataan di atas senada dengan narasumber AS yang menyatakan pendidikan humanis di SMA Negeri 6 Yogyakarta belum tertulis secara formal namunn esensi pendidikan humanis di sekolah ini begitu nampak. hasil wawancara dengan narasumber AS adalah sebagai berikut.

“Perlu diketahui belum ada slogan atau tulisan-tulisan yang mengkampanyekan tentang program pendidikan humanis di sekolah ini, mungkin yang ada program sekolah berbasis lingkungan. Tapi bagi masyarakat sekolah esensi dari konsep pendidikan humanis sudah sangat kental ada di sekolah ini. Misalnya dalam interaksi antara guru dan siswa yang disitu guru tidak membedakan dengan siswa yang mana, dengan siswa yang berprestasi maupun yang berprestasi semua diperlakukan sama baik”. (AS)

Pendapat di atas senada dengan hasil pengamatan di lapangan yang menunjukkan bahwa komunikasi antara guru dan siswa yang berjalan dengan santai dan harmonis. Dalam kesehariannya, suasana sekolah

nampak damai dan tenang. Suasana tersebut sangat mendukung pembelajaran di SMA Negeri 6 Yogyakarta.

Pendapat lain tentang program pendidikan humanis juga disampaikan oleh narasumber KS sebagai berikut.

“Sekolah ini tentu menerapkan konsep pendidikan humanis. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru harus benar-benar mengetahui konsep pendidikan humanis hal ini bertujuan untuk kemajuan belajar siswa. Salah satu bentuk pendidikan humanis di kelas adalah menghargai pendapat siswa tanpa pengecualian serta memberikan kesempatan siswa untuk berpendapat. Secara tertulis pendidikan humanis di sekolah ini belum diwujudkan, namunn segala program yang dibuat di sekolah ini tentu dilandasi dengan konsep pendidikan humanis”. (M)

Program pendidikan humanis di SMA Negeri 6 Yogyakarta belum menjadi program yang nampak. Meski demikian, konsep dari pendidikan humanis telah diterapkan di dalam program-program serta proses pembelajaran di sekolah ini untuk memenuhi kebutuhan pendidikan siswa. Salah satu program sekolah yang telah terintegrasi oleh konsep pendidikan humanis di sekolah ini adalah program pelatihan riset dan ekstrakurikuler.

4. Pendidikan Humanis dalam Kurikulum SMA N 6 Yogyakarta a. Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran yang dilaksanakan SMA Negeri 6 Yogyakarta terlihat memberikan suasana menyenangkan bagi siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Adapun proses pembelajaran yang dipakai dapat diketahui dari hasil wawancara berikut.

guru melakukan interaksi dengan siswa, berdiskusi tentang mata pelajaran dan diutamakan siswa untuk aktif di kelas. Selain di ruang kelas pembelajaran kadang dilakukan di laboraturium atau ke ruang audiovisual jika diperlukan”.(AF)

Menurut pendapat AF, proses pembelajaran yang diterapkan di SMA Negeri 6 Yogyakarta berjalan dengan interaksi yang baik antara guru dengan siswa dan menuntut siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Selain itu pemanfaatan ruang laboraturium dilakukan apabila dibutuhkan dalam suatu mata pelajaran.

Kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 6 Yogyakarta memprioritaskan siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Interaksi antara siswa dengan guru seharmonis mungkin dibangun untuk mendapatkan suasana kelas yang aktif dalam belajar. Guru tidak hanya ceramah menyampaikan pelajaran namunn setelah itu juga ditanggapi siswa melalui tanya jawab. Hal tersebut senada dengan pendapat narasumber M yang merupakan guru di SMA Negeri 6 Yogyakarta.

“Model pembelajaran di sekolah ini pada umumnya terdapat interaksi antara guru dengan siswa yang baik, serta pembelajaran memanfaatkan fasilitas dan sumber yang ada di sekolah ini.Misalnya laboraturium, kelas audiovisual dan sebagainya. Proses pembelajaran di sekolah ini interaksi aktif, artinya komunikasi terjadi benar-benar dua arah antara guru dan siswa. Siswa cukup aktif dalam pembelajaran di kelas semata-mata terjadi karena interaksi yang disampaikan guru di sekolah ini dirasa oleh siswa menyenangkan dan menarik minat siswa untuk aktif dalam pembelajaran” (M)

Kegiatan belajar mengajar adalah suasana paling strategis dalam menanamkan nilai-nilai humanis kepada siswa. Penanaman konsep pendidikan humanis antara lain adalah menghargai pendapat siswa, menghargai karakter siswa, dan tidak mendiskriminasi siswa satu

dengan yang lain. Senada dengan pendapat narasumber IMH dalam hasil wawancara mengenai model pemblejaran di SMA Negeri 6 Yogyakarta.

“Proses pembelajaran tentunya memberi peluang seluas – luasnya bagi peserta didik, bagi warga sekolah untuk melaksanakan posisinya sebagai manusia.Kita mengajak anak – anak sesuai bakat minatnya mereka mengaktualisasikan diri tanpa ada hambatan. Terus kemudian tidak menghina anak walaupun mempunyai latar belakang yang berbeda mulai dari ras, suku, kelompok maupun dalam bidang prestasi ada yang kurang pinter atau kurang beberapa mata pelajaran ga tuntas ya memberikan atau mengajar dengan bahasa yang baik sesuai dengan etika atau norma. Mengingat kita sebagai manusia kan sama, yang membedakan manusia kan ada 2 yaitu manusia yang baik dan manusia yang jahat. Yasudah kita perlakukan sama, jangan melihat warna kulit, jangan melihat latar belakang ekonomi, jangan melihat ya latar belakang apapun”. (IMH) Dalam penerapan kegiatan belajar mengajar di kelas, guru menghargai prestasi siswa dan menerima dalam artian mampu menerima siswa dengan apa adanya tidak membeda-bedakan siswa satu dengan lainnya, kemudian guru juga melakukan cara penerapan asas humanistik tersebut dengan mengelola lingkungan kelas yang mendukung proses belajar mengajar yang kondusif dan nyaman sesuai yang diinginkan siswanya. Dengan demikian dalam hal ini guru pun harus mampu berlaku adil terhadap siswanya mampu menghargai dan menghormati siswa dengan sepenuhnya dengan tidak mengurangi wibawa sebagai guru dan siswa pun harus mampu menghormati gurunya. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh narasumber AR dalam hasil wawancara.

“Model pembelajaran di sekolah ini untuk kelas saya sebisa mungkin mengajak siswa untuk aktif dengan begitu terjadi

interaksi guru dengan siswa yang baik. Semua boleh berpendapat tanpa membeda-beda kan itu siswa yang berprestasi maupun tidak berprestasi”. (AR)

Ketika disinggung mengenai keefektifan kegiatan belajar mengajar yang humanis yang diterapkan di kelas, dalam arti pelajaran yang disampaikan oleh guru mampu dipahami oleh siswa, narasumber PS selaku guru menyampaikan bahwa suasana belajar mengajar yang humanis mampu diterima oleh siswa dengan senang hati dan berjalan efektif.

“Model pembelajaran disini pada dasarnya melakukan pendekatan kepada anak secara menyenangkan, sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih efektif, sehingga para siswa pun menerima ilmu yang disampaikan guru dengan senang hati.”.

Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh tentang proses pembelajaran di SMA Negeri 6 Yogyakarta, sekolah berusaha untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan nyaman bagi siswa. Serta mengajak siswa ntuk aktif dan kreatif dalam pembelajaran tanpa membeda-bedakan latar belakang siswa. Ketika suasana kelas nyaman dan menyenangkan maka siswa akan mudah turut berpartisipasi dalam pembelajaran yang disampaikan oleh guru.

b. Evaluasi

Poses evaluasi yang dibahas dalam penelitian ini ditekankan padan evaluasi pembelajaran. Proses evaluasi pada dasarnya dipandang dari beberapa aspek yaitu aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Evaluasi pada aspek kognitif yaitu evaluasi yang dilakukan dari tes

tertulis ataupun lisan, aspek psikomotorik dilihat dari partisipasi siswa, dan afektif dilihat dari kegiatan sehari-hari siswa di sekolah. Hal ini disampaikan oleh narasumber M.

“Proses evaluasi dilakukan beberapa metode evaluasi yaitu pengamatan, setiap guru mata pelajaran mengamati sikap siswa selama mengikuti pembelajaran, bagaimana keaktifan siswa dalam pembelajaran, menghargai pendapat orang lain, dan menyelesaikan tugas dari guru. Kemudian ada aspek kognitif, yaitu dari pertanyaan yang diberikan guru kepada siswa baik itu pre test maupu post test. Lalu ada aspek psikomotor, yaitu praktek seberapa jauh siswa mampu menerapkan teori mata pelajaran dilakukan melalui diskusi atau praktek yang bersangkutan dengan mata pelajaran tersebut”. (M)

Evaluasi yang dilakukan oleh sekolah bertujuan untuk mengamati sikap siswa selama pembelajaran, keaktifan siswa dalam pembelajaran dan perilaku siswa di luar kelas. Evaluasi pembelajaran di SMA Negeri 6 Yogyakarta dilakukan melalui tiga aspek yaitu afektif, kognitif, dan psikomotorik. Pendapat senada juga diungkapkan oleh narasumber AF yang juga menjelaskan mengenai guru pembimbing akademik siswa di SMA Negeri 6 Yogyakarta dalam hasil wawancara berikut.

“proses evaluasi pembelajaran di sekolah ini selain test tertulis dan praktek juga pengawasan perkembangan belajar siswa dan perilaku. Sekolah ini ada guru pembimbing akademik yang masing masing guru mengawasi sepuluh siswa, guru pembimbing akademik mengawasi siswa dan mengevaluasi siswa, apabila ada siswa yang bermasalah guru tersebut membantu siswa. Sisetem guru pembimbing akademik ini diprioritaskan bagi siswa yang berasal dari luar daerah Yogyakarta”. (AF)

Sistem guru pembimbing akademik di SMA Negeri 6 Yogyakarta ini mengadopsi dari sistem perguruan tinggi yang

menerapkan dosen pembimbing akademik. Dalam konteks pendidikan humanis, pendidikan memandang positif peserta didik dengan tidak mengekang kebebasan siswa. Terkait dengan guru pembimbing akademik tersebut bukan berarti sekolah membatasi kebebasan hak-hak peserta didik, namunn lebih tepat guru pembimbing akademik bertanggungjawab mengawasi siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah. Guru pembimbing akademik memudahkan guru untuk menilai dari segi perilaku siswa. Pernyataan mengenai proses evaluasi di SMA Negeri 6 Yogyakarta juga disampaikan oleh narasumber IMH dalam hasil wawancara berikut.

“Kalau proses evaluasi kan berarti terkait dengan nilai terkait dengan hasil belajar, terkait dengan analisis kepribadian anak,

Dokumen terkait