• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

Lampiran 3. Hasil Wawancara

PEDOMAN WAWANCARA KEPALA SEKOLAH Hari : Sabtu

Tanggal : 17 oktober 2015 Waktu : 13.00 – 14.00 Tempat : Ruang Guru Responden : M

1. Konsep Pendidikan Humanis

a. Menurut anda seperti apa konsep pendidikan humanis itu?

“Pendidikan humanis itu adalah pendidikan yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Dalam praktek pendidikan, konsep pendidikan humanis harus dijunjung tinggi sebagai cara berkomunikasi antara guru dan siswa, guru dengan guru, maupun siswa dengan siswa. Hal tersebut agar tercipta suasana damai, saling menghargai sesama manusia sehingga proses pendidikan bisa berjalan dengan baik”

b. Menurut anda apakah pendidikan humanis diterapkan di SMA N 6 Yogyakarta?

“Sekolah ini tentu menerapkan konsep pendidikan humanis. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru harus benar-benar mengetahui konsep pendidikan humanis hal ini bertujuan untuk kemajuan belajar siswa. Salah satu bentuk pendidikan humanis di kelas adalah menghargai pendapat siswa tanpa pengecualian serta memberikan kesempatan siswa untuk berpendapat. Secara tertulis pendidikan humanis di sekolah ini belum

diwujudkan, namun segala program yang dibuat di sekolah ini tentu dilandasi dengan konsep pendidikan humanis”

c. Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai di SMA N 6 Yogyakarta? “Tujuan pembelajaran di sekolah ini yaitu membentuk akhlak peserta didik, kemampuan akademis yang baik, dan ketrampilan yang mumpuni agar mampu bersaing di dunia kerja maupun mendapat perguruan tinggi yang diinginkan”

2. Pendidikan humanis di SMA 6 Yogyakarta

a. Bagaimana model pembelajaran di SMA N 6 dalam konteks pendidikan humanis?

“Model pembelajaran di sekolah ini pada umumnya terdapat interaksi antara guru dengan siswa yang baik, serta pembelajaran memanfaatkan fasilitas dan sumber yang ada di sekolah ini. Misalnya laboraturium, kelas audiovisual dan sebagainya. Proses pembelajaran di sekolah ini interaksi aktif, artinya komunikasi terjadi benar-benar dua arah antara guru dan siswa. Siswa cukup aktif dalam pembelajaran di kelas semata- mata terjadi karena interaksi yang disampaikan guru di sekolah ini dirasa oleh siswa menyenangkan dan menarik minat siswa untuk aktif dalam pembelajaran”

b. Seperti apa proses evaluasi program yang dilakukan sekolah dalam implementasi pendidikan humanis?

“Proses evaluasi dilakukan beberapa metode evaluasi yaitu pengamatan, setiap guru mata pelajaran mengamati sikap siswa selama mengikuti

pembelajaran, bagaimana keaktifan siswa dalam pembelajaran, menghargai pendapat orang lain, dan menyelesaikan tugas dari guru. Kemudian ada aspek kognitif, yaitu dari pertanyaan yang diberikan guru kepada siswa baik itu pre test maupu post test. Lalu ada aspek psikomotor, yaitu praktek seberapa jauh siswa mampu menerapkan teori mata

pelajaran dilakukan melalui diskusi atau praktek yang bersangkutan dengan mata pelajaran tersebut”

c. Bagaimana sekolah mengantisipasi tindakan dehumanis (tindak kekerasan) siswa agar hal itu tidak terjadi?

“Berdasarkan pengalaman buruk yang dulu memang pernah terjadi di sekolah ini yang sampai disebut dengan sebutan sekolah tawuran. Pada waktu itu menurut saya manajemen waktu dan pengawasan di sekolah ini sangat kurang baik. Beberapa siswa pada jam pulang sekolah kerap didapati masih berada di lingkungan sekolah. Bahkan mereka membuat semacam basecamp perkumpulan yang saya perkumpulan ga jelas. Waktu dilakukan semacam sidak oleh sekolah banyak kedapatan putung rokok bahkan botol miras di base camp tersebut . Sehingga pada akhirnya pihak memberlakukan pengawasan dan mengotonomi waktu jam berada di sekolah untuk siswa yang pada jam 16.00 keadaan sekolah harus steril dari siswa yang berkeliaran di sekolah. Diharapkan mereka untuk segera pulang ke rumah masing-masing untuk belajar atau melakukan kegiatan positif daripada nongkrong tidak jelas. Pengawasan yang demikian tadi mampu memutus pergerakan tongkrongan yang tidak jelas yang dilakuka

oleh siswa sekolah ini. Sampai saat ini masih diberlakukan pengawasan tersebut untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan”

d. Adakah hukuman atau sanksi untuk siswa? Apa bentuknya?

”Untuk sanksi kita serahkan kepada guru yang bersangkutan dan BK mengenai apa pelanggaran siswa jika itu masih merupan pelanggaran yang sifatnya seperti pelanggaran atribut seragam yang dipakai,

kedapatan mencontek pada saat ujian. Jika pelanggaran yang dilakukan siswa dirasa sudah berat ya kami bicarakan bersama dalam rapat dan bisa saja nanti siswa kami kembalikan kepada orangtua atau kita masih memberi toleransi dengan catatan kami mengawasi sikap dan etiket baiknya untuk tidak mengulangi pelanggaran yang dilakukan”

3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam menerapkan pendidikan humanis?

a. Faktor pendukung?

“Fator pendukung pendidikan humanis, ya masyarakat di sekolah ini telah cukup banyak mendukung berlangsungnya pendidikan humanis. Dari guru yang selalu beramah tamah dengan siswa di luar maupun di dalam kelas sehingga tercipta suasana yang humanis”

b. Faktor penghambat?

“Mungkin ada beberapa dari masyarakat sekolah ini khususnya guru yang belum paham tentang konsep pendidikan humanis atau mungkin

pembawan karakter guru yang memang ada yang biasa dibilang galak dan sebagainya”

4. Bagaimana cara mengatasi faktor-faktor penghambat dalam penerapan pendidikan humanis?

“Mengatasi faktor penghambat kami selaku tenaga pendidik dan tenaga kependidikan selalu dalam rapat kami saling mengingatkan bahwa sangat penting terapan konsep pendidikan humanis untuk karakter siswa yang lebih baik. Dan selalu kami saling mengingatkan mengenai kode etik guru dalam menghadapi siswa pada saat di dalam atau di luar kelas”

PEDOMAN WAWANCARA GURU Hari / Tanggal : Kamis / 3 September 2015 Waktu : 10.00 – 11.00

Tempat : Ruang guru

Responden : IMH (Guru)

1. Konsep Pendidikan Humanis

a. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan humanis di SMA N 6 Yogyakarta?

Pendidikan humanis kan terkait dengan manusia ya, humanis, humaniora. Itu kan menghargai manusia sesuai dengan fitrahnya, dalam artian karena manusia

mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada hewan, maka kita harus istilahnya

mendidik anak dengan cara melihat derajat dan martabat manusia itu sendiri.

Jadi menghargai setiap pendapat anak, hak asasi ana, termasuk apa ya minat

dan bakat anak sesuai dengan karakter masing – masing. Termasuk jugan kita

menghargai perbedaan suku, kelompok dan sebagainya”.

b. Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai di SMA N 6 Yogyakarta? “Tujuan pendidikan yang bersifat humanis tentu saja ketika pendidikan itu mempunyai dasar memanusiakan manusia ya otomatis akan ada semacam

motivasi yang baik dari anak atau dari siswa, maupun guru maupun warga

sekolah yang disitu merupakan modal sosial untuk mencapai keberhasilan

pendidikan itu sendiri. Jadi tanpa pendidikan yang humanis saya rasa tujuan

pendidikan akan gagal, karena kan pendidikan itu sendiri memanusiakan

2. Pendidikan humanis di SMA 6 Yogyakarta

f. Bagaimana model pembelajaran di SMA N 6 dalam konteks pendidikan humanis?

“Proses pembelajaran tentunya memberi peluang seluas – luasnya bagi peserta didik, bagi warga sekolah untuk melaksanakan posisinya sebagai manusia. Kita

mengajak anak – anak sesuai bakat minatnya mereka mengaktualisasikan diri tanpa ada hambatan. Terus kemudian tidak menghina anak walaupun

mempunyai latar belakang yang berbeda mulai dari ras, suku, kelompok maupun

dalam bidang prestasi ada yang kurang pinter atau kurang beberapa mata

pelajaran ga tuntas ya memberikan atau mengajar dengan bahasa yang baik

sesuai dengan etika atau norma. Mengingat kita sebagai manusia kan sama, yang

membedakan manusia kan ada 2 yaitu manusia yang baik dan manusia yang

jahat. Yasudah kita perlakukan sama, jangan melihat warna kulit , jangan

melihat latar belakang ekonomi , jangan melihat ya latar belakang apapun”.

g. Program apa saja yang dilaksanakan oleh SMAN 6 yogyakarta sebagai bentuk implementasi pendidikan humanis di SMAN 6 Yogyakarta? “Banyak, ya salah satunya misalnya ada kegiatan ekskul semuanya bidang

ekstra yang bervariasi dan bermacam-macam maka itu salah satu konteks

humanis karena menjawab keinginan ataupun minat bakat itu kan salah satu

pendidikan humanis. Yang berikutnya disini kan ada sekolah berbasis riset yaitu

sangat membuat manusia menjadi manusia karena logikanya adalah anak-anak

ini berpikir menggunakan akal budinya, menggunakan akal sehatnya otomatis itu

memanusiakan manusia. Kita latih anak untuk bisa menggunakan akal sehatnya

dan mereka bisa menemukan potensi di dalam dirinya sendiri. Ya program riset

h. Seperti apa proses evaluasi program yang dilakukan sekolah dalam implementasi pendidikan humanis?

“Kalau proses evaluasi kan berarti terkait dengan nilai terkait dengan hasil belajar, terkait dengan analisis kepribadian anak, terkait dengan perilaku. Ya itu

jelas setiap semester aja ada evaluasi 4 kali. Itu merupakan evaluasi dari setiap

behavior atau tindakan anak-anak apa dia sudah berperilaku dengan baik atau

belum sudah terevaluasi”.

i. Bagaimana sekolah mengantisipasi tindakan dehumanis (tindak kekerasan) siswa agar hal itu tidak terjadi?

“Sekolah ini memang dulu awalnya terkenal dengan sekolah tukaran, seneng gelut, tawur dan sebagainya. Dulu sekolah terlalu banyak waktu luang sehingga murid-murid sering nongkrong-nongkrong tidak jelas. Sekarang enggak karena sekolah membuat program salah satunya program berbasis penelitian, sejak itu murid tidak memiliki waktu untuk nongkrong yang tidak jelas bahkan sekarang murid banyak yang izin tidak masuk sekolah karena harus ke lab, harus lomba ke luar kota. Itulah, bahkan sekarang ini ada 12 murid maju ke tingkat provinsi untuk gelar penelitian ilmiah ramaja padahal masih UTS. Sebernarnya triknya sederhana menurut saya yaitu lebih pada pemanfaatan waktu luang remaja. Kini mereka tidak memiliki waktu luang untuk hal yang

menyimpang. Mereka sudah capek dengan aktivitas yang positif sehingga tidak ada waktu lagi untuk berbuat yang negatif”.

j. Adakah hukuman atau sanksi untuk siswa? Apa bentuknya?

“Sebenarnya dalam konsep pendidikan humanis tidak ada siswa yang boleh disebut bodoh atau nakal. Jadi kalau ada siswa yang melakukan pelanggaran siswa di mintai timbal balik atau pertanggung jawaban atas apa yang mereka lakukan. Misalnya saat ada siswa yang sedang bergurau di kelas, maka ia harus mampu menjelaskan apa yang baru saja guru jelaskan atau diberi pertanyaan. Kita sebagai guru seharusnya terus mendidik bukan menghakimi”.

3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam menerapkan pendidikan humanis?

c. Faktor pendukung?

“Untuk faktor pendukungnya, yang sangat terasa ialah kekeluargaan kami antara staf, guru, dengan siswa. Hal tersebut seolah-olah membuat

masalah dan kendala yang dihadapi tidak berarti karena kami selalu bahu membahu dalam menyelesaikan masalah.Antara staf dan guru dengan siswa juga kami membangun ikatan sedekat mungkin”.

b. Faktor penghambat?

“Faktor penghambat tidak semua warga sekolah tidak paham dengan konsep pendidikan humanis. Tapi secara penghambat yang fatal tidak ada”.

4. Bagaimana cara mengatasi faktor-faktor penghambat dalam penerapan pendidikan humanis?

“Karena belum semuanya paham tentang apa iu konsep pendidikan humanis, ya sederhana saja memberikan pengertian tentang konsep pendidikan

humanis”.

PEDOMAN WAWANCARA GURU Hari / Tanggal : Rabu / 9 September 2015 Waktu : 13.00 – 14.00

Tempat : Ruang Guru

Responden : R (Guru)

1. Konsep Pendidikan Humanis

a. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan humanis di SMA N 6 Yogyakarta

Menurut saya pribadi itu pendidikan atau proses pengajaran yang mendekatkan pada pendekatan humanis. Menjadi gurunya manusia ya memperlakukan peserta didik selayaknya manusia tidak sebagi objek”. b. Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai di SMA N 6 Yogyakarta?

“tujuannya ya siswa dapat menerima ilmu dengan baik dari proses belajar mengajar yang baik”.

2. Pendidikan humanis di SMA 6 Yogyakarta

a. Bagaimana model pembelajaran di SMA N 6 dalam konteks pendidikan humanis?

“Model pembelajaran ya tidak mendiskriminatif memeperlakukan semua siswa sama. Melakukan pendekatan yang humanis kepada anak didik”.

b. Program apa saja yang dilaksanakan oleh SMAN 6 yogyakarta sebagai bentuk implementasi pendidikan humanis di SMAN 6 Yogyakarta? “Kalau program pendidikan humanis secara khusus saya kurang

mengerti, tapi setiap guru disini sudah menerapkan pendekatan humanis kepada siswanya. Menurut saya program pendidikan humanis di sekolah tidak tersurat namun tersirat”.

c. Seperti apa proses evaluasi program yang dilakukan sekolah dalam implementasi pendidikan humanis?

“Kelain tertulis dan praktek evaluasi pembelajaran di sekolah ini juga mengadakan pertemuan setiap bulan anatara wali kelas dengan pihak sekolah membicarakan siswa-siswa mana yang mempunyai masalah akademik. Kita mencari tahu bagaiman latar belakangnya, kemudian pendekatan apa yang harus kita lakukan. Kemudian bekerjasama dengan BK, wali kelas dengan sekolah. Seperti itu”

d. Bagaimana sekolah mengantisipasi tindakan dehumanis (tindak kekerasan) siswa agar hal itu tidak terjadi?

“Kita memutus mata rantai itu maksudnya memutus pengaruh dari luar. Pembinaan kami lakukan di dalam sekolah kita arahkan anak-anak yang berpotensi ke arah yang lebih positif. Kita juga adakan pembatasan jam di sekolah, siswa berada di sekolah maksimal sampai jam 4 sore. Kalau sudah ada bel jam 4 sore, satpam bertugas keliling sekolah untuk

memastikan tidak ada siswa yang masih berada di sekolah. Jadi tidak ada istilahnya kumpul-kumpul yang tidak jelas di sekolah”.

e. Adakah hukuman atau sanksi untuk siswa? Apa bentuknya? “Kalau secara khusus poin, kalau hukuman fisik tidak ada. Sanksi kejujuran, misalnya ada anak yang ketahuan menyontek atau

mengoperasikan HP pada saat ujian kita cancel nilainya terus orangtua siswa kita panggil untuk diberikan keterangan bahwa siswa ini melakukan pelanggaran dan harus mengikui ujian susulan”.

3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam menerapkan pendidikan humanis?

a. Faktor pendukung?

“Kerja sama antar guru, komunikasi antar guru” b. Faktor penghambat?

“Informasi tentang konsep pendidikan humanis ada beberapa guru yang belum memahaminya”.

4. Bagaimana cara mengatasi faktor-faktor penghambat dalam penerapan pendidikan humanis?

Cara mengatasinya menjaga agar komunikasi antar guru tetap baik satu sama lain.”

PEDOMAN WAWANCARA GURU Hari / Tanggal : Selasa / 1 September 2015 Waktu : 09.00 – 10.00

Tempat : Ruang Guru

Responden : PS

1. Konsep Pendidikan Humanis

a. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan humanis di SMA N 6 Yogyakarta?

Pendidikan humanis adalah sebuah model pendidikan yang

memanusiakan manusia. Para siswa itu memiliki kecerdasan dan potensi yang berbeda-beda. Dalam kondisi ini pendidikan harus bisa membawa siswa kepada kepribadian yang baik dan membantu siswa untuk

mengembangkan potensi dan kecerdasan yang dimilikinya.”

b. Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai di SMA N 6 Yogyakarta? “Tijuannya ya mengembangkan potensi dan kecerdasan anak. Selain itu mengembangkan kemampuan anak dalam bidang riset mengingat sekolah ini merupakan sekolah berbasis riset, sehingga nantinya anak akan terbiasa dengan penelitian untuk membantu ke jenjang berikutnya yaitu jenjang mahasiswa.”

2. Pendidikan humanis di SMA 6 Yogyakarta

a. Bagaimana model pembelajaran di SMA N 6 dalam konteks pendidikan humanis?

“Model pembelajaran disini pada dasarnya melakukan pendekatan kepada anak secara menyenangkan, sehingga proses belajar mengajar

menjadi lebih efektif, sehingga para siswa pun menerima ilmu yang disampaikan guru dengan senang hati.”

b. Program apa saja yang dilaksanakan oleh SMAN 6 yogyakarta sebagai bentuk implementasi pendidikan humanis di SMAN 6 Yogyakarta? “Program di sekolah ini yang diunggulkan adalah kelas riset. Jadi ada kelas penelitian, siswa diajarkan mengenai metode penelitian sehingga setelah lulus nanti para siswa akan terbiasa dengan penelitian.”

c. Seperti apa proses evaluasi program yang dilakukan sekolah dalam implementasi pendidikan humanis?

“Proses evaluasi di sekolah ini ada evaluasi tertulis yang dilakukan setiap semester. Kita juga melakukan analasis kepribadian siswa yaitu tentang catatan tentang tingkah baik buruk siswa yang nanti hasilnya akan tercantum pada rapot.”

d. Bagaimana sekolah mengantisipasi tindakan dehumanis (tindak kekerasan) siswa agar hal itu tidak terjadi?

“Cara mengatasi agar hal tersebut tidak terjadi, sekolah telah

menerapkan beberapa strategi yaitu ada ektrakurikuler untuk menunjang potensi siswa. Selain itu ada juga kelas riset untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam bidang penelitian. Dulu memang sekolah ini banyak dipandang orang sebagai sekolah yang siswanya sering

bermasalah dengan siswa sekolah lain. Pihak tidak membiarkan hal itu terjadi lagi, makanya sekarang dilakukan pengawasan ketat di lingkungan sekolah sehingga tidak ada siswa yang berbuat hal yang tidak jelas”.

e. Adakah hukuman atau sanksi untuk siswa? Apa bentuknya?

“Kalau sanksi tetntu ada, siswa yang melakukan pelanggaran akan mendapat poin dari BK. Namun tetap tidak dengan sikap mendiskriminasi siswa itu.”

3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam menerapkan pendidikan humanis?

a. Faktor pendukung?

“Faktor pendukungnya mungkin salah satunya dari suasana sekolah yang dibangun sangat humanis, Mas.Jadi siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar sama-sama merasa nyaman. Selain itu guru di SMA Negeri 6 ini saya rasa sudah menguasai dan menerapkan konsep pendidikan humanis di sekolah ini”.

b. Faktor penghambat?

“Ada beberapa guru yang belum mengetahui spenuhnya tentang konsep pendidikan humanis. Atau mungkin ada guru yang sudah tau mengenai pendidikan humanis namun masih terbiasa dengan cara mengajar klasik. Yang saya maksud terbiasa dengan cara klasik adalah guru terkadang dalam menyampaikan pembelajaran guru masih belum bisa

menyampingkan emosi. Saya rasa hal tersebut bersifat manusiawi ya, namu tetap saja guru harus bisa membawa suasana yang harmonis, humanis di dalam kelas.” (PS)

4. Bagaimana cara mengatasi faktor-faktor penghambat dalam penerapan pendidikan humanis?

“Cara mengatasinya kita semua guru, kepala sekolah, dan staff memiliki komunikasi yang baik. Misalnya melalui rapat, kita saling bertukar pikiran tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Ya saya kira itu.”

PEDOMAN WAWANCARA GURU Hari / Tanggal : Kamis / 17 September 2015 Waktu : 09.00 – 10.00

Tempat : Ruang guru Responden : AR

1. Konsep Pendidikan Humanis

a. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan humanis di SMA N 6 Yogyakarta?

Pendidikan humanis itu memperlakukan manusia sebagai manusia, memberikan apa yang dibutuhkan siswa yang berbeda-beda latar belakangnya baik dari kemampuan diri, kecerdasan, latar belakang keluarga dan sebagainya.”

b. Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai di SMA N 6 Yogyakarta? “Tujuan yang ingin dicapai sekolah ini yaitu menghasilkan lulusan yang cerdas baik secara akademik maupun secara moral. Saya kira semua sekolah mempunyai tujuan baik yang sama.”

2. Pendidikan humanis di SMA 6 Yogyakarta

a. Bagaimana model pembelajaran di SMA N 6 dalam konteks pendidikan humanis?

“Model pembelajaran di sekolah ini untuk kelas saya sebisa mungkin mengajak siswa untuk aktif dengan begitu terjadi interaksi guru dengan siswa yang baik. Semua boleh berpendapat tanpa membeda-beda kan itu siswa yang berprestasi maupun tidak berprestasi.”

b. Program apa saja yang dilaksanakan oleh SMAN 6 yogyakarta sebagai bentuk implementasi pendidikan humanis di SMAN 6 Yogyakarta? “Program di sekolah ini untuk siswa banyak ekstrakrikuler. Mereka memilih di bidang ekskul apa untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Program pendidikan humanis di sekolah tentunya sudah ada dari masing-masing guru, tentunya guru sudah memahami apa itu pendidikan yang humanis utuk kemudian diterapkan dalam kelas untuk siswa, dan siswa untuk membawa lingkungan sekolah yang humanis.”

c. Bagaimana evaluasi pembelajaran dilakukan?

“Evaluasi pembelajaran dilakukan secara tertulis dan juga praktek. Aspek yang di evaluasi adalah aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi berguna untuk mengetahui perkembangan siswa.”

d. Bagaimana sekolah mengantisipasi tindakan dehumanis (tindak kekerasan) siswa agar hal itu tidak terjadi?

“Memberikan kesempatan siswa untuk berkreasi untuk mengurangi hal negatif siswa, terdapat pada program sekolah berbasis riset misalnya. Menurut saya program itu sangat baik dan efektif untuk mengalihkan kegiatan yang kurang baik menjadi lebih bermanfaat”.

e. Adakah hukuman atau sanksi untuk siswa? Apa bentuknya?

”Memang terkadang siswa itu membuat masalah dan membuat guru marah. Kalaupun saya memberi sanksi, saya tetap memegang erat prinsip tanpa mendiskriminasi anak dan menghindari kekerasan fisik dalam memberi sanksi. Saya mengarahkan siswa yang bermasalah untuk lebih bertanggung jawab, memberi wejangan kalau kata orang jawa.”

3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam menerapkan pendidikan humanis?

a. Faktor pendukung?

“Saya sejak awal di sini dengan teman-teman staf memang sudah berkomitmen bahwa kita harus kompak, dan apapun yang terjadi, kami harus tetap bekerja sama serta tetap menjalin komunikasi yang baik satu sama lain. Hal tersebut (komitmen untuk kompak dan bekerja sama) juga merupakan salah satu faktor pendukung yang kami miliki di sini. Faktor pendukung lainnya antara lain juga dari kinerja maksimal dari kami para staf dan guru, yang mana membuat kami bisa menghadapi dan melalui faktor-faktor penghambat itu tadi.”

b. Faktor penghambat?

“Bukan siswa saja disini yang mempunyai kegiatan di luar sekolah, guru juga banyak kegiatan di luar sekolah sehingga terkadang guru kurang siap dalam mempersiapkan pembelajaran. Hal itu yang mungkin membuat pembelajaran di kelas kurang maksimal.”

4. Bagaimana cara mengatasi faktor-faktor penghambat dalam penerapan pendidikan humanis?

“Kami antar sesama guru selalu mengadakan sharing membahas

pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Semua masalah tertampung disitu dan kami mencari solusi untuk masalah itu.”

PEDOMAN WAWANCARA GURU Hari / Tanggal : Kamis / 17 September 2015

Waktu : 11.00 – 12.15

Tempat : Ruang guru

Responden : AS

1. Konsep Pendidikan Humanis

a. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan humanis di SMA N 6 Yogyakarta?

“Pendidikan humanis merupakan pendidikan yang di dalamnya terjadi

Dokumen terkait