BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Laboratorium Biokimia Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNY, diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Penentuan Kadar Protein Kasein dengan Metode Lowry Modifikasi
a.
Penentuan Panjang Gelombang Maksimum KaseinPenentuan panjang gelombang maksimum kasein dilakukan pada panjang gelombang antara 650 nm hingga 750 nm. Sampel yang digunakan untuk mencari panjang gelombang maksimum adalah kasein 1 mg/mL. Panjang gelombang 720 nm memiliki absorbansi tertinggi yaitu 1,094, sehingga panjang gelombang maksimumnya adalah 720 nm. Data hasil absorbansi penentuan panjang gelombang maksimum dapat dilihat pada lampiran 10.
b.
Penentuan Kurva Standar ProteinPenentuan kurva standar protein dilakukan pada panjang gelombang maksimum yaitu 720 nm. Protein yang digunakan dalam penentuan kurva standar protein adalah kasein dengan konsentrasi 0,1 mg/mL; 0,2 mg/mL; 0,3 mg/mL; 0,4 mg/mL; 0,5 mg/mL; 0,6 mg/mL; 0,7 mg/mL0,8 mg/mL; 0,9 mg/mL dan 1,0 mg/mL. Kasein diperoleh dari larutan induk 1 mg/mL yang diencerkan menggunakan pelarut buffer fosfat. Data hasil absorbansi penentuan kurva standar
39
protein kasein dapat dilihat pada lampiran 11. Berdasarkan data tersebut dapat diperoleh kurva standar protein seperti pada Gambar 13.
Gambar 13. Kurva Standar Protein
Berdasarkan Gambar 13 dapat ditentukan persamaan garis linier Y= aX+b. Persamaan garis linier kurva standar protein adalah Y= 1,1025X+0,0092 dengan nilai r = 0,9958.
c.
Penetuan Kadar Protein dalam TripsinPenentuan kadar protein dalam enzim tripsin dilakukan pada panjang gelombang maksimum yang telah diperoleh pada prosedur sebelumnya, yaitu 720 nm. Enzim tripsin yang digunakan adalah larutan enzim tripsin yang berasal dari padatan enzim tripsin yang dilarutkan dengan larutan buffer fosfat 0,1 M. Absorbansi yang diperoleh dari larutan tripsin tersebut adalah 0,091. Apabila absorbansi enzim tripsin dimasukkan dalam persamaan kurva standar protein, yaitu Y= 1,1025X+0,0092 maka diperoleh kadar protein dalam enzim tripsin adalah
y = 1.1025x + 0.0092 R² = 0.9958 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 ab so rba ns i Konsentrasi (mg/ml)
40
0,074 mg/mL. Perhitungan kadar protein enzim tripsin dapat dilihat pada lampiran 12.
2. Penentuan Kondisi Optimum Enzim Tripsin dengan Metode Anson Modifikasi
a. Penentuan pH Optimum
Penentuan pH optimum enzim tripsin dilakukan pada suhu 35°C. waktu inkubasi 20 menit dan konsentrasi substrat kasein 10 mg/mL. Enzim tripsin bekerja pada pH basa, sehingga digunakan variasi pH pada pH 7, pH 8 dan pH 9. Penentuan pH optimum enzim tripsin dilakukan sebanyak tiga kali dengan hasil rata-rata aktivitas enzim tripsin ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Penentuan pH Optimum Enzim Tripsin
Variasi pH Aktivitas Enzim Tripsin
(mg/mL/menit pada 37°C)
pH 7 0.00238
pH 8 0.00563
pH 9 0.00325
Berdasarkan Tabel 1, diperoleh hasil aktivitas enzim tripsin tertinggi pada pH 8. Dengan demikian diperoleh pH optimum enzim tripsin yaitu pada pH 8. Perhitungan aktivitas enzim tripsin pada penentuan pH optimum dapat dilihat pada lampiran 13.
b. Penentuan Suhu Optimum
Penentuan suhu optimum enzim tripsin dilakukan pada pH optimum enzim tripsin yaitu pH 8, waktu inkubasi selama 20 menit dan konsentrasi substrat 10 mg/mL. Variasi suhu yang digunakan untuk menentukan suhu optimum enzim
41
tripsin yaitu pada suhu 31°C, 33°C, 35°C, 37°C, dan 39°C. Penentuan suhu optimum enzim tripsin dilakukan sebanyak tiga kali dengan hasil rata-rata aktivitas enzim tripsin ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Penentuan Suhu Optimum Enzim Tripsin Variasi Suhu
(°C)
Aktivitas Enzim Tripsin (mg/mL/menit pada 37°C) 31 0.00140 33 0,00393 35 0,00505 37 0.00520 39 0.00411
Berdasarkan Tabel 2, diperoleh hasil aktivitas enzim tripsin tertinggi pada suhu 37°C, sehingga suhu optimum enzim tripsin pada suhu 37°C. Perhitungan aktivitas enzim tripsin pada penentuan suhu optimum dapat dilihat pada lampiran 14.
c. Penentuan Waktu Inkubasi Optimum
Penentuan waktu inkubasi optimum enzim tripsin dilakukan pada pH dan suhu optimum enzim tripsin yang telah diperoleh pada prosedur sebelumnya dan dengan konsentrasi substrat 10 mg/mL. pH dan suhu optimum enzim tripsin yang telah diperoleh yaitu, pH 8 dan suhu 37°C. Variasi waktu inkubasi optimum yang digunakan untuk penentuan waktu inkubasi optimum enzim tripsin yaitu 10 menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit dan 30 menit. Waktu inkubasi enzim tripsin dihitung dari penambahan larutan enzim tripsin pada larutan substrat kasein hingga penambahan larutan TCA 10%. Penentuan waktu inkubasi optimum enzim tripsin dilakukan sebanyak tiga kali dengan hasil rata-rata ditunjukkan pada Tabel 3.
42
Tabel 3. Hasil Penentuan Waktu Inkubasi Optimum Enzim Tripsin Variasi Waktu Inkubasi
(menit)
Aktivitas Enzim Tripsin (mg/mL/menit pada 37°C) 10 0.00113 15 0.00226 20 0.00423 25 0.00270 30 0.00190
Berdasarkan Tabel 3, diperoleh hasil aktivitas enzim tripsin tertinggi pada waktu inkubasi selama 20 menit, sehingga waktu inkubasi optimum dari enzim tripsin selama 20 menit. Perhitungan aktivitas enzim tripsin pada penentuan waktu inkubasi optimum dapat dilihat pada lampiran 15.
d. Penentuan Konsentrasi Substrat Optimum
Penentuan konsentrasi substrat kasein optimum terhadap aktivitas enzim tripsin dilakukan pada pH, suhu inkubasi dan waktu inkubasi optimum yang telah diperoleh pada prosedur sebelumnya. pH, suhu inkubasi dan waktu inkubasi optimum yang diperoleh pada prosedur sebelumnya yaitu, pH 8, suhu inkubasi 37°C dan waktu inkubasi selama 20 menit. Variasi konsentrasi substrat yang digunakan adalah 2 mg/mL; 4 mg/mL; 6 mg/mL; 8 mg/mL dan 10 mg/mL. Variasi konsentrasi yang digunakan ini berasal dari hasil pengenceran larutan induk kasein 10 mg/mL. Prosedur penentuan konsentrasi substrat optimum enzim tripsin dilakukan sama dengan prosedur sebelumnya. Penentuan konsentrasi substrat maksimum dilakukan sebanyak tiga kali dengan hasil terbaik dapat dilihat pada Tabel 4.
43
Tabel 4. Hasil Penentuan Konsentrasi Substrat Optimum Enzim Tripsin Variasi Konsentrasi Substrat
(mg/mL)
Aktivitas Enzim Tripsin (mg/mL/menit pada 37°C) 2 0.00073 4 0.00143 6 0.00221 8 0.00300 10 0.00305
Berdasarkan Tabel 4, maka diperoleh hasil bahwa aktivitas enzim tripsin telah konstan pada substrat kasein dengan konsentrasi 10 mg/mL, sehingga konsentrasi substrat optimum pada konsentrasi 10 mg/mL. Perhitungan aktivitas enzim tripsin pada penentuan konsentrasi substrat optimum dapat dilihat pada lampiran 16.
.
3. Penentuan Aktivitas Enzim pada Kondisi Optimum dengan Metode Anson Modifikasi
Aktivitas optimum dari enzim tripsin adalah kondisi dimana enzim tripsin berada pada kondisi optimum untuk mengkatalis reaksi hidrolisis protein, sehingga produk yang dihasilkan semakin besar. Kondisi optimum enzim tripsin yang digunakan diperoleh dari penentuan pH optimum enzim tripsin, suhu inkubasi optimum enzim tripsin, waktu inkubasi optimum enzim tripsin, dan konsentrasi substrat kasein optimum pada prosedur sebelumnya. Kondisi optimum enzim tripsin yang digunakan, yaitu pada pH 8, suhu inkubasi 37°C, waktu inkubasi selama 20 menit dan konsentrasi substrat kasein sebesar 10 mg/mL. Penentuan aktivitas enzim tripsin pada kondisi optimum dilakukan sebanyak lima kali dengan hasil ditunjukkan pada Tabel 5.
44
Tabel 5. Aktivitas Enzim Tripsin pada Kondisi Optimum
Sampel Aktivitas Enzim Tripsin
(mg/mL/menit pada 37°C) 1 0.00320 2 0.00335 3 0.00320 4 0.00325 5 0.00295
Berdasarkan Tabel 5, dapat dihitung rata-rata aktivitas enzim tripsin pada kondisi optimum yaitu, 0,00319 mg/mL/menit pada 37°C. Perhitungan aktivitas enzim tripsin pada kondisi optimum dapat dilihat pada lampiran 17.
4. Penentuan Aktivitas Enzim Tripsin terhadap Penambahan Ion Logam Ag+ dalam Bentuk Senyawa AgNO3 dengan Metode Anson Modifikasi
Penentuan aktivitas enzim tripsin dengan penambahan ion logam Ag+ dalam
bentuk senyawa AgNO3 dilakukan pada kondisi optimum enzim tripsin, yaitu pada
pH 8, suhu 37°C, waktu inkubasi selama 20 menit dan dengan konsentrasi substrat
10 mg/mL. Penambahan senyawa AgNO3 dilakukan dengan variasi konsentrasi.
Konsentrasi senyawa AgNO3 yang digunakan yaitu 0,001 M; 0,003 M; 0,005 M;
dan 0,007 M. Senyawa AgNO3 berbagai konsentrasi yang digunakan dalam
penentuan aktivitas enzim tripsin dengan penambahan senyawa AgNO3 berasal
dari kristal perak nitrat yang dilarutkan dalam akuades hingga menjadi larutan
induk AgNO3 0,1 M. Larutan ini kemudian diencerkan menjadi berbagai
konsentrasi. Penambahan senyawa AgNO3 dilakukan dengan menambahkannya
setelah menambahkan enzim tripsin kedalam larutan substrat. Penentuan aktivitas
enzim tripsin dengan penambahan senyawa AgNO3 dilakukan sebanyak tiga kali
45
Tabel 6. Aktivitas Enzim Tripsin dengan Penambahan Ion Logam Ag+ dalam
Bentuk Senyawa AgNO3
Konsentrasi Senyawa AgNO3 Aktivitas Enzim Tripsin
(mg/mL/menit pada suhu 37°C)
0.001 M 0.00163
0.003 M 0.00030
0.005 M 0.00023
0.007 M 0.00010
Berdasarkan Tabel 6, aktivitas enzim tripsin dengan penambahan ion logam
Ag+ dalam bentuk senyawa AgNO3 konsentrasi 0,001 M; 0,003 M; 0,005 M dan
0,007 Mlebih rendah dibandingkan dengan aktivitas enzim tripsin pada kondisi
optimum. Hal ini menunjukkan bahwa ion logam Ag+ dalam bentuk senyawa
AgNO3 menghambat aktivitas enzim tripsin. Logam Ag+ dalam bentuk senyawa
AgNO3 bersifat inhibitor terhadap aktivitas enzim tripsin dengan substrat kasein.
Perhitungan aktivitas enzim tripsin dengan penambahan ion logam Ag+ dalam
bentuk senyawa AgNO3 dapat dilihat pada lampiran 18.