• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELIT IAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

perusahaan, apakah perusahaan tetap menggunakan status pernikahan

sebagai salah satu persyaratan rekrutmen karyawan.

d. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan

referensi dalam pengembangan penelitian selanjutnya yang terkait

dengan motivasi kerja pada karyawan yang sudah menikah dan yang

9

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Motivasi Kerja

1. Pengertian Motivasi

Kartono (1981) menyebutkan bahwa motivasi berasal dari kata Latin

yaitu, Motivatus yang artinya: sebab, alasan dasar, pikiran dasar, pikiran

dasar, dorongan bagi seorang untuk berbuat; atau ide pokok yang selalu

berpengaruh besar terhadap tingkah laku manusia. Greenberg dan Baron

(dalam Yuswono, Suhariadi, Handoyo, Fajriathi, Muhamad & Septarini,

2005) menyatakan bahwa motivasi adalah suatu proses yang membangkitkan,

mengarahkan dan menjaga atau memelihara perilaku manusia agar terarah pada tujuan. As’ad (1978) mengatakan bahwa motivasi dalam arti sebenarnya adalah pemberian atau penimbulan motif.

Robbins (2005) mendefinisikan motivasi sebagai kesediaan untuk

mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi ke arah tujuan organisasi, yang

dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi suatu kebutuhan

individual. Steers dan Porter (dalam Riggio, 2008) mendefinisikan motivasi

sebagai kekuatan yang memiliki tiga fungsi: energi, atau menyebabkan orang

untuk bertindak; mengarahkan perilaku ke arah pencapaian tujuan tertentu;

2. Pengertian Motivasi Kerja

Munandar (2001) menyebutkan bahwa motivasi adalah suatu proses

dimana kebutuhan-kebutuhan yang mendorong seseorang untuk melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah pada tercapainya tujuan tertentu. As’ad (1978) menyebutkan bahwa motivasi kerja merupakan sesuatu yang

menimbulkan semangat kerja. Motif pada karyawan menjadi tenaga

pendorong untuk menentukan produktivitas dalam bekerja.

Jadi motivasi kerja dalam penelitian ini adalah timbulnya

kebutuhan-kebutuhan yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu kegiatan

dengan tingkat upaya yang tinggi untuk mencapai suatu tujuan tertentu

(Munandar, 2001).

3. Teori Motivasi Kerja

Menurut Munandar (2001) dalam membahas tentang motivasi kerja

terdapat 2 sub, yaitu teori motivasi isi dan teori motivasi proses. Teori

motivasi isi adalah teori-teori yang meyakini tentang adanya kondisi internal

dalam individu yang dinamkan kebutuhan atau motif. Teori proses adalah

teori-teori mengenali atau mempelajari proses-proses yang memprakarsai,

mempertahankan dan mengakhiri perilaku. Teori motivasi isi terdiri dari : 1)

Teori Tata Tingkat Kebutuhan, 2) Teori Eksistensi-Relasi-Pertumbuhan, 3)

Teori Dua Faktor dan 4) Teori Motivasi Berprestasi (Achievement

Pengukuhan (Reinforcement Theory), 2) Teori Penetapan Tujuan (Goal

Setting Theory), 3) Teori Harapan (Expectancy) dan4) Teori Keadilan (Equity

Theory)

Dalam penelitian ini, teori motivasi yang digunakan merujuk pada

teori motivasi isi yaitu ERG Theory of Motivation yang dikemuk oleh

Alderfer (dalam Riggio, 2008). Pembahasan lebih lanjut mengenai ERG

Theoryof Motivation menurut Alderfer dibahas pada sub bab selanjutnya.

4. ERG Theory of Motivation

Teori motivasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ERG

Theory yang dikemukakan oleh Alderfer (dalam Riggio, 2008). Menurut

Alderfer ada tiga kebutuhan yang harus dipenuhi, yaitu :

a. Existence Needs (Kebutuhan Keberadaan)

Menurut Alderfer (dalam Riggio, 2008) kebutuhan keberadaan

merupakan kebutuhan yang serupa dengan kebutuhan fisiologikal dan rasa

aman dari teori herarki kebutuhan Maslow. Alderfer (dalam Wijono,

2010) mengemukakan bahwa kebutuhan keberadaan berisi berbagai

kebutuhan yang berkaitan dengan kebutuhan materi dan fisik.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain gaji, keuntungan, dan keselamatan fisik.

Jika sumber yang diingkan terbatas dan kebutuhan materi tidak dapat

Alderfer (dalam Winardi, 2011) mengemukakan bahwa

kebutuhan-kebutuhan eksistensi meliputi keinginan-keinginan fisiologikal

dan material. Menurut Alderfer (dalam Munandar, 2001) kebutuhan

eksistensi meliputi kebutuhan substansi material seperti man, air,

perumahan, uang , mebel, dan mobil. Kebutuhan eksistensial ini secara

garis besar berisi kebutuhan fisiologikal dan kebutuhan rasa aman dari

Maslow. Kebutuhan eksistensi disebut sebagai kebutuhan yang paling

konkret menurut Alderfer.

b. Relatedness Needs (Kebutuhan Berelasi)

Alderfer (dalam Riggio, 2008) mengatakan bahwa kebutuhan

berelasi berasal dari interaksi sosial pada hierarki Maslow. Menurut

Alderfer (dalam Wijono, 2010) kebutuhan relasi adalah kebutuhan untuk

membuat suatu hubungan dan bersosialisasi dengan orang lain. Dalam

membangun hubungan, individu ingin dipahami dan dimengerti oleh

orang lain. Orang lain yang dimaksud adalah orang-orang yang berada di

sekitar kehidupannya seperti pasangan, keluarga, teman dan sahabat.

Dalam organisasi, maka individu berusaha membina hubungan baik

dengan orang-orang di lingkungan kerjanya seperti rekan kerja, kolega,

atasan dan bawahan. Kebutuhan berelasi ini terpenuhi ketika individu

dapat bekerja sama dan saling memberi dukungan dalam mencapai sebuah

Menurut Alderfer (dalam Munandar, 2001) relatedness needs

merupakan kebutuhan untuk memiliki hubungan yang berarti dengan

pihak-pihak penting. Kepuasan dalam kebutuhan tersebut tercapai ketika

mereka dapat berbagi pemilikan dan berbagi perasaan. Alderfer (dalam

Winardi, 2011) mengemukakan bahwa kebutuhan berhubungan

merupakan kebutuhan untuk berbagi pikiran dan perasaan dengan

orang-orang di sekitarnya. Dalam kebutuhan berhubungan, individu memiliki

keinginan untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengan orang lain.

Orang lain yang dimaksud adalah orang-orang yang memiliki peran

penting dalam kehidupan inidividu dan memiliki hubungan yang

bermakna seperti keluarga dan teman. Kebutuhan berhubungan ini secara

garis besar mencangkup kebutuhan sosial dan merupakan bagian eksternal

dari kebutuhan penghargaan (esteem) dari tata tingkat kebutuhan Maslow.

c. Growth Needs (Kebutuhan Berkembang)

Menurut Alderfer (dalam Riggio, 2008) kebutuhan berkembang

merupakan kebutuhan untuk pengembangan prestasi kerja dan menyadari

potensinya. Alderfer (dalam Wijono, 2010) mengemukakan bahwa

kebutuhan berkembang mengarah pada bentuk kebutuhan yang

mendorong seseorang untuk menjadi orang yang kreatif dan produktif.

Selain itu, kebutuhan berkembang ini juga mendorong seseorang untuk

Kepuasan dalam kebutuhan berkembang ini muncul ketika seseorang

mampu menyelesaikan masalah-masalah dan dapat mengembangkan

potensi dalam diri sehingga dapat tumbuh secara optimal. Bentuk

kebutuhan berkembang seperti dapat mengembangkan karier atau

meningkatkan diri dalam pengetahuan, keterampilan dan keahliannya.

Alderfer (dalam Winardi, 2011) mengemukakan bahwa

kebutuhan-kebutuhan pertumbuhan meliputi kebutuhan untuk dapat

tumbuh sebagai manusia dan dapat memanfaatkan kemampuan hingga

mencapai potensi maksimal. Menurut Alderfer (dalam Munandar, 2001)

kebutuhan berkembang merupakan kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki

seseorang untuk mengembangkan kecakapan secara penuh. Kebutuhan

berkembang ini merupakan kebutuhan aktualisasi diri dan mencakup

bagian intrinsik dari kebutuhan harga diri dalam teori tata tingkat

kebutuhan Maslow. Kebutuhan berkembang disebut sebagai kebutuhan

yang paling kurang konkret (abstrak)

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja

Ardana, Mujiati dan Sriathi (2008) mengemukakan ada dua faktor

yang mempengaruhi motivasi, yaitu faktor karakteristik individu dan faktor

pekerjaan. Faktor karakteristik individu terdiri dari minat, sikap (terhadap diri

sendiri, pekerjaan, dan situasi pekerjaan), kebutuhan individual, kemampuan

perasaan keyakinan, nilai-nilai). Sedangkan faktor-faktor pekerjaan terdiri

dari dua kelompok, yaitu faktor lingkungan pekerjaan dan faktor dalam

pekerjaan. Faktor lingkungan pekerjaan, yaitu : (1) Gaji dan benefit yang

diterima; (2) Kebijakan-kebijakan perusahaan; (3) Supervisi; (4) Hubungan

antar manusia; (5) Kondisi pekerjaan seperti jam kerja, lingkungan fisik dan

sebagianya; (6) Budaya organisasi. Sedangkan faktor dalam pekerjaan, yaitu :

(1) Sifat pekerjaan; (2) Rancangan tugas/pekerjaan; (3) Pemberian pengakuan

terhadap prestasi; (4) Tingkat/besarnya tanggung jawab yang diberikan; (5)

Adanya perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan; (6) Adanya kepuasan

dari pekerjaan.

Selain itu Ardana et al (2008) juga mengemukakan bahwa

karakteristik biografis merupakan faktor yang berpengaruh terhadap perilaku

individu dalam organisasi. Karakteristik biografis tersebut yaitu, (1) Umur,

mempunyai hubungan dengan tingkat keluar masuknya karyawan,

produktifitas dan kepuasan kerja. Semakin tua umur semakin kecil intensitas

seseorang keluar masuk perusahaan, semakin produktif dan semakin

menikmati kepuasan dalam pekerjaan. (2) Jenis kelamin, tidak memiliki

perbedaan yang signifikan dalam produktivitasnya. (3) Status perkawinan,

hasil riset menunjukkan bahwa karyawan yang sudah menikah memiliki

tingkat absensi yang lebih rendah dan mengalami pergantian yang rendah. (4)

dan berhubungan dengan tingkat absensi dan kepuasan kerjanya. (5) Masa

kerja, mempunyai korelasi positif antara senioritas dengan produktivitas kerja

dan kepuasan kerja. Namun, senioritas mempunyai korelasi negatif dengan

keluar masuknya pegawai.

As’ad (1978) mengemukakan faktor-faktor yang menjadi pendorong semangat kerja bagi karyawan antara lain: 1) Pekerjaan yang tetap; 2) Teman

kerja yang baik; 3) Pimpinan yang baik; 4) Kesempatan untuk memperoleh

pengalaman dari pekerjaannya; 5) Suasanan kerja yang menyenangkan; 6)

Kesempatan untuk mengabdi masyarakat; 7) Jaminan sosial yang baik; 8)

Keadaan tempat kerja yang menyenangkan kesempatan untuk maju

memperoleh jabatan yang lebih tinggi; 9) Gaji yang tinggi; 10) Jam kerja

yang singkat; 11) Pekerjaan yang mudah.

B. Status Pernikahan

1. Pengertian Status Pernikahan

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pengertian pernikahan

adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai

suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia

dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut Santrock (1995),

pernikahan merupakan penyatuan dua pribadi yang unik, dengan membawa

Dua individu tersebut berasal dari dua keluarga yang berbeda yang bersatu

membentuk satu sistem keluarga yang baru.

2. Jenis Status Pernikahan

Menurut Saluter (1966) status pernikahan terdiri dari 4 kelompok

utama, yaitu menikah, tidak pernah menikah, menjanda dan bercerai. Dalam

kategori status perkawinan, yang termasuk dalam kategori single adalah tidak

pernah menikah, janda dan bercerai. Jika dalam konteks orang tua tunggal

dalam keluarga atau rumah tangga, berarti hanya ada satu orang tua yang ada

di rumah. Dalam penelitian ini, variabel status pernikahan yang dipakai adalah

menikah dan belum menikah (tidak pernah menikah).

a. Menikah

Menurut Schaum (2008) menikah adalah melakukan pernikahan

secara hukum dan hidup dengan atau tanpa pasangan. Menurut Ward dan

Belanger (2011), pernikahan telah diatur untuk alasan status, baik secara

ekonomi maupun sosial. Selain itu pernikahan dirancang untuk merawat

anak. Menikah juga merupakan bentuk pemberian identitas. Coontz

(dalam Ward & Belanger, 2011) mengemukakan salah satu alasan untuk

menikah dan memulai keluarga adalah ekonomi. Laki-laki dan menikah

dengan beberapa alasan, yang meliputi dimensi sosio-budaya, afeksi,

ekonomi, hukum dan keagamaan (Konferensi Wali Gereja, 2011).

pernikahan, yaitu komposisi optimal keluarga, siklus kehidupan keluarga,

kelayakan sosioekonomi dan kesesuaian peran.

Menurut Gilarso (1996), tujuan pernikahan antara lain: 1).

Pengembangan dan pemurnian cinta kasih suami-istri, 2). Kelahiran dan

pendidikan anak, 3). Pemenuhan kebutuhan seksual, 4). Lain-lain,

misalnya: kesejahteraan keluarga, jaminan perlindungan dan keamanan;

demi ketenangan, nama baik, kerukunan keluarga; jaminan

nafkah/ekonomi, sah dan sehatnya keturunan, dsb.

b. Tidak Menikah (Lajang)

Giddens (dalam Sunarto, 2004) menyatakan bahwa salah satu

faktor yang menyebabkan penundaan pernikahan atau bahkan memiliki

keinginan untuk tetap hidup membujang di kalangan orang muda adalah

keinginan untuk tetap bebas. Pada usia lebih lanjut kehidupan membujang

lebih cenderung disebabkan faktor lain seperti perceraian atau

meninggalkan suami atau istri.

Faherty (1967) mengemukakan bahwa banyak wanita tidak

menikah disebabkan karena tanggungan pekerjaan atau tugas, ibu yang

posesif atau ayah yang mendominasi. Selain itu wanita lajang

menganggap bahwa pria yang tepat untuknya belum datang. Faherty

menambahkan bahwa konflik antara orang tua juga dapat menyebabkan

Menurut Munroe (2003) alasan tetap melajang adalah menikah merupakan

suatu hal yang sulit dan mungkin suatu pengalaman yang negatif.

Menurut Rieka (2007) beberapa alasan seseorang hidup melajang

antara lain : 1). Masih ingin bekerja dan dapat membiayai hidup sendiri,

2). Belum menemukan pasangan yang tepat, 3). Kurang percaya diri, 4).

Faktor Ekonomi, 5). Kebebasan, 6). Trauma masa lalu, 7). Karier dan

mencapai target pribadi, 8). Belum yakin dengan pasangan, 9). Keluarga

yang belum menyetujui, 10). Apatis terhadap lembaga pernikahan karena

masalah-masalah dalam rumah tangga.

C. Karyawan yang sudah Menikah dan yang belum Menikah. 1. Karyawan yang sudah Menikah

Karyawan yang sudah menikah merupakan karyawan yang telah

melakukan pernikahan secara hukum dan hidup dengan atau tanpa pasangan

(Scaum, 2008). Menurut Jordan, et al (2012) dalam penelitian pertama,

ditemukan hasil bahwa karyawan yang sudah menikah kurang cocok bekerja.

Penelitian kedua, menemukan bahwa karyawan yang sudah menikah kurang

menguntungkan dalam bekerja. Pada penelitian ketiga, ditemukan bahwa

prestasi kerja pada karyawan yang sudah menikah menurun.

Eddy dan Lusi (2011) menemukan fenomena bahwa karyawan Hotel

mengikuti rapat serikat pekerja pada setiap bulannya untuk menuntut hak

karyawan. Semakin tinggi tingkat kepuasan kerja karyawan, maka semakin

pasif pula karyawan dalam mengikuti rapat serikat pekerja. Hasil penelitian

Eddy dan Lusi, yaitu 1) Karyawan yang sudah menikah lebih puas dengan

tunjangan kesejahteraan yang didapat, 2) Karyawan yang sudah menikah lebih

puas dengan lingkungan kerja yang dihadapi, 3) Karyawan yang sudah

menikah lebih puas dengan pengawasan yang didapat.

Hasil riset Muhammad dan Sulham (2011) pada sikap kerja karyawan

perbankan syariah, menemukan bahwa karyawan yang sudah menikah lebih

sedikit absensinya, mengalami pergantian yang lebih rendah dan memiliki

kepuasan yang lebih tinggi. Pasaribuan (2007) menemukan bahwa karyawan

yang sudah berkeluarga cenderung lebih mudah merasa puas dalam

pekerjaannya dibandingkan dengan orang yang belum berkeluarga. Salah satu

faktor penyebabnya adalah rasa tanggung jawab yang besar untuk menghidupi

keluarga. Selain itu, karyawan yang sudah berkeluarga tidak mempunyai

keinginan untuk pindah tempat kerja.

2. Karyawan yang belum Menikah

Karyawan yang belum menikah adalah karyawan yang memilih untuk

tetap hidup membujang (Giddens dalam Sunarto, 2004). Penelitian tentang

analisis sikap kerja karyawan perbankan syariah berdasarkan karakteristik

karyawan yang belum menikah memiliki kepuasan kerja yang lebih tinggi

dibandingkan yang sudah menikah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Eddy

dan Lusi (2011) menunjukkan bahwa karyawan yang belum menikah lebih

mudah mencapai kepuasan kerja. Sedangkan pada karyawan yang belum

menikah lebih mudah mencapai kepuasan gaji.

Dalam penelitiannya, Sesilia (2011) menemukan bahwa tingkat

pengunduran diri pada karyawan PT. Panarub Industry rendah, khususnya

pada karyawan yang belum menikah. Di Indonesia, karyawan yang belum

menikah atau lajang dianggap lebih bisa diandalkan untuk ditugaskan ke luar

kota sewaktu-waktu dan dianggap lebih mudah diajak bekerja sampai diluar

waktu normal sehingga karyawan yang belum menikah dianggap lebih

menguntungkan perusahaan (Ira dalam Kompasiana, 2012).

D. Dinamika Perbedaan Motivasi Kerja berdasarkan Status Pernikahan

Menurut Schaum (2008) menikah adalah melakukan pernikahan secara

hukum dan hidup dengan atau tanpa pasangan. Menurut Saluter (1966) dalam

kategori status perkawinan, yang termasuk dalam kategori single adalah tidak

pernah menikah, janda dan bercerai. Status perkawinan yang digunakan dalam

kategori single atau lajang adalah karyawan yang belum menikah. Dalam

penelitian ini, status perkawinan karyawan yang digunakan adalah karyawan yang

Motivasi adalah suatu proses dimana kebutuhan-kebutuhan yang

mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan untuk suatu tujuan tertentu

(Munandar, 2001). Selain itu, Robbins (2005) mendefinisikan motivasi sebagai

suatu tingkat upaya yang tinggi pada tujuan organisasi untuk memenuhi suatu

kebutuhan individual. Dalam penelitian ini, motivasi kerja didefinisikan sebagai

proses dimana kebutuhan-kebutuhan yang dapat mendorong seseorang untuk

melakukan suatu kegiatan atau perilaku untuk sebuah tujuan tertentu dengan

tingkat upaya yang tinggi.

Teori motivasi yang digunakan adalah teori kebutuhan dasar menurut

Alderfer. Menurut Alderfer (dalam Riggio, 2008) kebutuhan yang dapat

mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan dikelompokkan menjadi tiga

kebutuhan, yaitu kebutuhan eksistensi, berelasi dan kebutuhan untuk berkembang.

Menurut Alderfer (dalam Wijono, 2010) kebutuhan eksistensi merupakan

kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan kebutuhan materi dan fisik dalam

bekerja seperti gaji, keuntungan dan keselamatan fisik. Alderfer (dalam Wijono,

2010) mengemukakan bahwa kebutuhan berelasi merupakan kebutuhan untuk

menjalin hubungan dan bersosialisasi dengan orang-orang di lingkungannya.

Kebutuhan untuk berkembang menurut Alderfer (dalam Wijono, 2010) adalah

kebutuhan untuk berkembang menjadi karyawan yang kreatif dan produktif

Menurut Gilarso (1996), beberapa tanggungjawab yang harus dipenuhi

dalam tujuan pernikahan adalah adanya jaminan nafkah atau ekonomi, kelahiran

dan pendidikan anak, kesejahteraan keluarga, jaminan perlindungan dan

keamanan dan kesehatan keturunan. Seseorang yang sudah menikah memiliki

kebutuhan ekonomi yang lebih banyak daripada yang belum menikah. Selain

memenuhi kebutuhan eksistensi diri, karyawan yang sudah menikah juga harus

memenuhi kebutuhan eksistensi keluarganya. Rieka (2007) mengungkapkan

bahwa salah satu alasan seseorang tetap hidup melajang adalah faktor ekonomi

dan dapat membiayai hidup sendiri. Seseorang yang belum menikah hanya

bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan eksistensi atas dirinya sendiri.

Hal ini memperlihatkan bahwa kebutuhan eksistensi karyawan yang sudah

menikah lebih tinggi daripada karyawan yang belum menikah.

Menurut Rieka (2007) salah satu alasan seseorang hidup melajang adalah

kebebasan. Hal tersebut berarti bahwa karyawan yang belum menikah masih

memiliki kebebasan untuk menjalin hubungan dengan orang lain sehingga

kebutuhan berelasi lebih mungkin terpenuhi. Sedangkan pada karyawan yang

sudah menikah tidak lagi memiliki kebebasan dalam berelasi karena adanya

keluarga. Oleh karena itu, salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan relasinya

adalah dengan bekerja sehingga kebutuhan hubungan (relatedness) karyawan

Karyawan yang sudah menikah memiliki tanggung jawab atas jaminan

nafkah atau jaminan ekonomi keluarga (Gilarso, 1996). Kemungkinan seseorang

yang sudah menikah memiliki motivasi kerja yang lebih tinggi untuk dapat

memenuhi tanggung jawabnya dalam keluarga dengan mengembangkan

kemampuan dan prestasi kerjanya. Sedangkan menurut Rieka (2007), karyawan

yang belum menikah masih dalam proses menentukan target dan karier yang

dicapai sehingga karyawan yang belum menikah cenderung masih mengalami

kebimbangan dalam menentukan tujuan kariernya. Hal ini menunjukkan bahwa

kebutuhan berkembang (growth) karyawan yang sudah menikah lebih tinggi

daripada karyawan yang belum menikah.

Berdasarkan dinamika motivasi kerja yang terjadi pada karyawan yang

sudah menikah dan karyawan yang belum menikah, maka peneliti ingin

mengetahui perbedaan motivasi kerja pada karyawan yang sudah menikah dan

E. Kerangka Berfikir

Gambar Bagan Dinamika Perbedaan Motivasi Kerja

F. Hipotesis

Hipotesis penelitian adalah terdapat perbedaan motivasi kerja antara

karyawan yang sudah menikah dan karyawan yang belum menikah.

KARYAWAN Karyawan belum Menikah Karyawan sudah Menikah Memenuhi kebutuhan eksistensi diri dan keluarga Memenuhi kebutuhan eksistensi diri Motivasi Kerja Rendah Motivasi Kerja Tinggi Kebutuhan berkembang tinggi Tidak memiliki kebebasan dalam berelasi Memiliki kebebasan dalam berelasi Kebutuhan eksistensi tinggi Kebutuhan eksistensi rendah Kebutuhan berelasi tinggi Memiliki kemauan untuk mengembang-kan prestasi Kebimbangan dalam menentukan target dan karier kerja Kebutuhan berelasi rendah Kebutuhan berkembang rendah

26

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan

pendekatan komparatif. Narbuko dan Achmadi (2007) mengatakan bahwa

pendekatan komparatif bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan

sebab akibat berdasarkan pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari fakta

yang menjadi penyebabnya.

B. Identifikasi Variabel

Variabel bebas : Status Perkawinan

Variabel terikat : Motivasi Kerja

C. Definisi Operasional

Menurut Sarwono (2006), definisi operasional merupakan definisi yang

menjadikan variabel-variabel yang sedang diteliti menjadi bersifat operasional

atau abstrak sehingga memudahkan peneliti untuk melakukan pengukuran.

Definisi operasional dalam penelitian ini adalah :

1. Motivasi Kerja

Motivasi kerja didefinisikan sebagai suatu proses dimana

kebutuhan-kebutuhan yang dapat mendorong karyawan untuk melakukan suatu kegiatan

atau perilaku untuk sebuah tujuan tertentu dengan tingkat upaya yang tinggi.

teori kebutuhan dasar menurut Alderfer dengan 3 komponen kebutuhan, yaitu

kebutuhan keberadaan (exixtence), kebutuhan berelasi (relatedness) dan

kebutuhan berkembang (growth).

a. Kebutuhan keberadaan (exixtence), yaitu kebutuhan yang berkaitan

dengan kebutuhan fisiologikal dan asa aman.

b. Kebutuhan berelasi (relatedness), yaitu kebutuhan yang berkaitan

dengan relasi sosial.

c. Kebutuhan berkembang (growth), yaitu kebutuhan yang berkaitan

dengan pengembangan karier, prestasi dan pengenalan potensi diri.

Motivasi kerja diketahui dengan cara melihat data skor pada skala

motivasi kerja. Semakin tinggi data skor berarti semakin tinggi motivasi

kerjanya. Semakin rendah data skor berarti semakin rendah motivasi kerjanya.

2. Status Pernikahan

Status Perkawinan dapat didefinisikan sebagai ikatan antara pria dan

wanita dengan tujuan membentuk keluarga dan melaksan tujuan perkawinan.

Dalam penelitian ini, status pernikahan yang digunakan adalah menikah dan

belum menikah (lajang). Status pernikahan diketahui dengan cara mengisi

data demografi pada skala yang diberikan kepada karyawan.

D. Subjek Penelitian

Subjek penelitian dipilih menggunakanakan metode nonprobability

kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih

menjadi sampel. Salah satu bentuk teknik nonprobability sampling yang

digunakanakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Dalam teknik

purposive sampling ini, karyawan yang menjadi subjek penelitian adalah

karyawan-karyawan yang dipilih berdasarkan pertimbangan atau kriteria-kriteria

tertentu (Sujarweni dan Endrayanto, 2012). Kriteria subjek dalam penelitian ini

antara lain:

1. Karyawan yang bekerja di perusahaan X dengan status karyawan

tetap.

2. Karyawan yang memiliki status menikah dan belum menikah (lajang).

3. Karyawan yang sudah memiliki masa kerja minimal 6 bulan.

Alasan peneliti menggunakan kriteria tersebut karena karyawan tetap yang

sudah bekerja lebih dari 6 bulan dianggap lebih dapat mengenali kondisi

lingkungan kerja, kebutuhan eksistensinya, relasi sosialnya dan potensi yang

dimiliki daripada karyawan yang baru bekerja dibawah 6 bulan. Selain itu masa

Dokumen terkait