• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.1. Hasil Penelitian

Jumlah keseluruhan subyek penelitian adalah sebanyak 32 orang pasien PPOK stabil rawat jalan di poliklinik paru RS. Tembakau Deli Medan, RS Pirngadi Medan dan RS H. Adam Malik Medan dengan jenis kelamin pada kedua kelompok laki-laki. Terbagi atas dua kelompok yaitu kelompok kasus dan kontrol masing-masing 16 orang. Semua penderita selesai mengikuti penelitian. Kelompok kasus adalah adalah pasien PPOK stabil yang mendapatkan fisioterapi dada 2 kali seminggu dan olahraga ringan dengan latihan jalan kaki 3-5 kali seminggu. Kedua kelompok mendapatkan pengobatan yang sama sesuai dengan obat-obatan yang dipakai sehari-hari.

4.1.1. Karateristik subyek penelitian berdasarkan umur dan Indeks Masa Tubuh (IMT).

Rerata umur kelompok kasus 65,3 tahun (SD 5,5) dan kelompok kontrol 63,1 tahun (SD 8,1). Hasil uji statistik umur antara kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,381).

Rerata IMT kelompok kasus 21,24 (SD 2,7) dan kelompok kontrol 21,63 (SD 3,3). Hasil uji statistik IMT antara kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,720).

Tabel 4.1.1. Karateristik subyek penelitian berdasarkan umur dan Indeks masa tubuh (IMT).

Kasus Kontrol

Variabel

n X ± SD n x ± SD

p*

Indeks Masa Tubuh 16 21,24 ±2,7 16 21,63 ±3,3 0,720

*uji T berpasangan

4.1.2. Karateristik subyek penelitian berdasarkan lama merokok, dan jumlah rokok yang dihisap dalam setahun

Rerata lama merokok kelompok kasus 31,8 tahun (SD 4,7) dan kelompok kontrol 28,4 tahun (SD 5,3). Hasil uji statistik lama merokok antara kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,660).

Rerata jumlah rokok yang dihisap dalam satu tahun kelompok kasus 418,3 batang per tahun (SD 128,2) dan kelompok kontrol 420,8 batang per tahun (SD 129,3). Hasil uji statistik jumlah rokok yang dihisap dalam satu tahun antara kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,955).

Tabel 4.1.2. Karateristik subyek penelitian berdasarkan lama merokok, dan jumlah rokok yang dihisap dalam setahun

Kasus Kontrol Variabel n X ± SD n x ± SD p* Lama merokok (tahun) 16 31,8 ± 4,7 16 28,4 ± 5,3 0,660

Jumlah rokok (batang) 16 418,3 ± 128,2 16 420,8 ±129,3 0,955 *uji T berpasangan

Rerata lama menderita PPOK kelompok kasus 8,25 (SD 4,74), kelompok kontrol 8,50 (SD 3,46). Hasil uji statistik lama menderita PPOK antara kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,866).

Rerata derajat PPOK kelompok kasus 3,44 (SD 0,629). Rerata derajat PPOK kelompok kontrol 3,31 (SD 3,46). Hasil uji statistik derajat PPOK antara kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,570).

Tabel 4.1.3. Karateristik subyek penelitian berdasarkan lama menderita PPOK dan derajat PPOK

Kasus Kontrol Variabel n X ± SD n x± SD P* Lama menderita PPOK (tahun) 16 8,25 ± 4,74 16 8,50 ± 3,46 0,866 Derajat PPOK 16 3,44 ± 0,629 16 3,31±0,602 0,570 *uji T berpasangan

4.1.4. Karateristik subyek penelitian berdasarkan pendidikan dan suku

Kelompok kasus dengan pendidikan SMA 7 orang (43,8 %), pendidikan SMP 4 orang ( 25,0 %), pendidikan SD 5 orang ( 31,2 %). Kelompok kontrol dengan pendidikan SMA 3 orang (18,8 %), pendidikan SMP 6 orang ( 37,4 %), pendidikan SD 7 orang ( 43,8 %). Hasil uji statistik pendidikan antara kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,311).

Kelompok kasus dengan suku melayu 1 orang (6,3 %), suku Jawa 8 orang (50,0 %), suku Batak 5 orang (31,3 %), suku Mandailing 2 orang (12,5 %). Kelompok kontrol dengan suku melayu 1 orang (6,3 %), suku Jawa 9 orang ( 56,3 %), suku Batak 5 orang ( 31,3 %), suku Mandailing 1 orang (6,3%). Hasil uji statistik menurut sebaran suku antara kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,942).

Tabel 4.1.4. Karateristik subyek penelitian berdasarkan pendidikan dan suku Kasus Kontrol Variabel n % n % p* 5 31,2 7 43,8 4 25,0 6 37,4 Pendidikan: SD SMP SMA 7 43,8 3 18,8 0,331 1 6,7 1 6,3 8 50 9 56,2 5 31,3 5 31,2 Suku: Melayu Jawa Batak Mandailing 2 12,5 1 6,3 0,942 * uji chi-square

4.1.5. Karateristik subyek penelitian berdasarkan riwayat merokok

Kelompok kasus yang masih merokok 4 orang (25 %), yang berhenti merokok 12 orang (75 %) . Kelompok kasus yang masih merokok 3 orang (18,8 %), yang berhenti merokok 13 orang (81,2 %) Hasil uji statistik riwayat merokok antara kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,669).

Tabel 4.1.5. Karateristik subyek penelitian berdasarkan riwayat merokok

Kasus Kontrol

Variabel n % n % p*

Riwayat merokok:

Berhenti merokok 12 75 13 81,2 0,669 * uji chi-square

4.1.6. Nilai dasar VEP1 , dan uji jalan 6 menit

Rerata nilai dasar VEP1 kelompok kasus 891,6 ml (SD 302,7 ), VEP1 kelompok kontrol 863,1 (SD 288.1 ). Dari hasil uji statistik nilai dasar VEP1 antara kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,78).

Rerata nilai dasar uji jalan 6 menit pada kelompok kasus 316.3 meter (SD 28,8), pada kelompok kontrol rerata 298.8 meter ( SD 38,5), Dari hasil uji statistik nilai dasar uji jalan 6 menit antara kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,15).

Tabel 4.1.6. Nilai dasar VEP1 dan uji jalan 6 menit pada subyek penelitian

Kasus Kontrol Data dasar n x±SD n x±SD P* VEP1 (ml) 16 891,6 ± 302,7 16 863,1 ± 288,1 0,787 Uji jalan 6 menit (meter) 16 316,3 ± 28,8 16 298,8 ± 38,5 0,15 *uji T berpasangan

Rerata nilai dasar SGRQ gejala pada kelompok kasus 49,5 (SD 8,2), Rerata nilai dasar SGRQ gejala pada kelompok kontrol 51,5 (SD 4,5), Dari hasil uji statistik SGRQ gejala kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,405). Rerata nilai dasar SGRQ aktifitas pada kelompok kasus 51,0 (SD 6,6). Rerata nilai dasar SGRQ aktifitas pada kelompok kontrol 50,4 (SD 3,1). Dari hasil uji statistik SGRQ aktifitas kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,768). Rerata nilai dasar SGRQ dampak pada kelompok kasus 50,4 ( SD 4,1). Rerata nilai dasar SGRQ dampak pada kelompok kontrol 52,4 (SD 5,0), dari hasil uji statistik SGRQ dampak kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,243). Rerata nilai dasar SGRQ total pada kelompok kasus 50,02 ( SD 3,2). Rerata nilai dasar SGRQ total pada kelompok kontrol 51,6 (SD 3,4). Dari hasil uji statistik SGRQ total kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,194).

Tabel 4.1.7. Nilai dasar St. George’s Respiratory Questionnaire (SGRQ) pada subyek penelitian

Kasus Kontrol Data dasar n x±SD n x±SD p* SGRQ Gejala Aktifitas Dampak Total 16 49,5 ± 8,2 51,0 ± 6,6 50,4 ± 4,1 50,02 ± 3,2 16 51,5 ± 4,5 50,4 ± 3,1 52,4 ± 5,0 51,6 ± 3,4 0,405 0,768 0,243 0,194 *uji T berpasangan

4.1.8 Nilai VEP1 dan uji jalan 6 menit setelah 30 hari

Rerata nilai VEP1 akhir (hari ke-30) pada kelompok kasus 954,56 ml (SD 278,4). Rerata VEP1 akhir pada kelompok kontrol 809,38 ml(SD 250,4). Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara VEP1 akhir kelompok kasus dengan VEP1 akhir pada kelompok kontrol (p= 0,131).

Rerata nilai akhir uji jalan 6 menit pada kelompok kasus 385,3 meter (SD 30,9), pada kelompok kontrol rerata 282,7 meter ( SD 34,1), Dari hasil uji statistik nilai akhir uji jalan 6 menit antara kedua kelompok menunjukkan perbedaan bermakna (p=0,001).

Tabel 4.1.8. Nilai VEP1 dan uji jalan 6 menit setelah 30 hari

Kasus Kontrol Variabel n x±SD n x±SD P* VEP1 (ml) 16 954,6± 278,45 16 809,38 ± 250,42 0,131 Uji jalan 6 menit (meter) 16 385,3 ± 30,9 16 282,7± 34,1 0,001 *uji T berpasangan

4.1.9 Nilai St. George’s Respiratory Questionnaire (SGRQ) setelah 30 hari

Rerata nilai akhir SGRQ gejala pada kelompok kasus 32,36 (SD 8,2), rerata nilai akhir SGRQ gejala pada kelompok kontrol 54,4 (SD 5,5), Dari hasil uji statistic nilai akhir SGRQ gejala kedua kelompok menunjukkan perbedaan bermakna (p=0,001). Rerata nilai akhir SGRQ aktifitas pada kelompok kasus 34,96 (SD 5,5) , rerata nilai akhir SGRQ aktifitas pada kelompok kontrol 55,08 (SD 5,09), dari hasil uji statistik nilai akhir SGRQ aktifitas kedua kelompok menunjukkan perbedaan bermakna (p=0,001). Rerata nilai akhir SGRQ dampak pada kelompok kasus 37,31 (SD 4,2), rerata nilai akhir SGRQ dampak pada kelompok kontrol 57,63 (SD 4,56), dari hasil uji statistik nilai akhir SGRQ dampak kedua kelompok menunjukkan perbedaan bermakna (p=0,001). Rerata nilai akhir SGRQ total pada kelompok kasus 35,36 (SD 4,44), rerata nilai akhir SGRQ total pada kelompok kontrol 56,36 (SD 4,35), dari hasil uji statistik nilai akhir SGRQ total kedua kelompok menunjukkan perbedaan bermakna (p=0,001).

Tabel 4.1.9. Nilai St. George’s Respiratory Questionnaire (SGRQ) setelah 30 hari Kasus Kontrol Variabel n x±SD n x±SD P* SGRQ Gejala Aktifitas Dampak Total 16 32,3 ± 8,2 34,9 ± 5,5 37,3 ± 4,2 35,3 ± 4,44 16 54,4 ± 5,5 55,08 ± 5,09 57,6 ± 4,5 56,3 ± 4,35 0,001 0,001 0,001 0,001 *uji T berpasangan

4.1.10. Perubahan nilai awal (hari ke-1) dan akhir (hari ke-30) VEP1 dan uji jalan 6 menit

Rerata perubahan nilai VEP1 awal (hari ke-1) dengan VEP1 akhir (hari ke-30) pada kelompok kasus -62,9 (SD 76,01). Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara VEP1 awal dengan VEP1 akhir pada kelompok kasus (p= 0,108). Rerata perubahan VEP1 awal dengan VEP1 akhir pada kelompok kontrol 53,7 (SD 88,7). Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna VEP1 awal dengan VEP1 akhir pada kelompok kontrol (p= 0,208).

Rerata perubahan nilai uji jalan 6 menit awal (hari ke-1) dengan nilai uji jalan 6 menit akhir (hari ke-30) pada kelompok kasus -69 m (SD 24,08). Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna antara nilai uji jalan 6 menit awal dengan nilai uji jalan 6 menit akhir pada kelompok kasus (p= 0,001). Perubahan nilai uji jalan 6 menit akhir (hari ke-30) pada kelompok kontrol 16,1 m (SD 11,92). Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna antara nilai awal dengan nilai akhir pada kelompok kontrol (p= 0,027).

Tabel 4.1.10. Perubahan nilai awal (hari ke-1) dan akhir (hari ke-30) VEP1 dan uji jalan 6 menit Kasus Kontrol Variabel n x±SD p* n x±SD P* VEP1 (ml) 16 -62,9 ± 76,01 0,108 16 53,7 ± 88,7 0,208 Uji jalan 6 menit (meter) 16 -69,0 ± 24,08 0,001 16 16,12 ± 11,99 0,001 *uji T berpasangan

4.1.11. Perubahan nilai awal (hari ke-1) dan akhir (hari ke-30) St. George’s Respiratory Questionnaire (SGRQ)

Perubahan SGRQ gejala awal (hari ke-1) dengan SGRQ gejala akhir (hari ke-30) pada kelompok kasus 17,19 (SD 4,49). Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna antara SGRQ gejala awal dengan SGRQ gejala akhir pada kelompok kasus (p= 0,001). Perubahan SGRQ gejala awal dengan SGRQ gejala akhir pada kelompok kontrol -2,92 m(SD 8,268). Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna antara nilai SGRQ gejala awal dengan nilai SGRQ gejala akhir pada kelompok kontrol (p= 0,05).

Perubahan SGRQ aktifitas awal (hari ke-1) dengan SGRQ aktifitas akhir (hari ke-30) pada kelompok kasus 16,08 (SD 3,85). Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna antara SGRQ aktifitas awal dengan SGRQ aktifitas akhir pada kelompok kasus (p= 0,01). Perubahan SGRQ aktifitas awal dengan SGRQ aktifitas akhir pada kelompok kontrol -4,58 m(SD 4,44). Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna antara nilai SGRQ aktifitas awal dengan nilai SGRQ aktifitas akhir pada kelompok kontrol (p= 0,01).

Perubahan SGRQ dampak awal (hari ke-1) dengan SGRQ dampak akhir (hari ke-30) pada kelompok kasus 13,15 (SD 2,21). Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna antara SGRQ dampak awal dengan SGRQ dampak akhir pada kelompok kasus (p= 0,001). Perubahan SGRQ dampak

awal dengan SGRQ dampak akhir pada kelompok kontrol -5,20 (SD 2,98). Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna antara nilai SGRQ dampak awal dengan nilai SGRQ dampak akhir pada kelompok kontrol (p= 0,001).

Perubahan SGRQ total awal (hari ke-1) dengan SGRQ total akhir (hari ke-30) pada kelompok kasus 14,66 (SD 3,95). Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna antara SGRQ total awal dengan SGRQ total akhir pada kelompok kasus (p= 0,001). Perubahan SGRQ total awal dengan SGRQ total akhir pada kelompok kontrol -4,76 m(SD 2,63). Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna antara nilai SGRQ total awal dengan nilai SGRQ total akhir pada kelompok kontrol (p= 0,001).

Tabel 4.1.11. Perubahan nilai awal (hari ke-1) dan akhir (hari ke-30) St. George’s Respiratory Questionnaire (SGRQ) Kasus Kontrol Variabel n x±SD p* n x±SD P* SGRQ Gejala Aktifitas Dampak Total 16 17,19 ± 4,49 16,08 ± 3,85 13,15 ± 2,21 14,66 ± 3,95 0,001 0,001 0,001 0,001 16 -2,92 ± 3,51 -4,79 ± 4,44 -5,20 ± 2,98 -4,76 ± 2,63 0,005 0,001 0,001 0,001 *uji T berpasangan

Rerata jarak tempuh latihan jalan kaki (olahraga ringan) kelompok kasus minggu pertama 52,71 (meter/menit) (SD 4,81). Rerata jarak tempuh pada minggu kedua 55,00 (meter/menit) ( SD 4,98). Rerata jarak tempuh pada minggu ketiga 58,33 (meter/menit) (SD 5,48). Rerata jarak tempuh pada minggu keempat 64,23 (meter/menit) ( SD 5,15). Dari hasil uji stastik perubahan jarak yang ditempuh tiap minggunya bermakna (p=0,001).

Tabel 4.1.12. Perubahan jarak tempuh latihan jalan kaki (olah raga ringan) pada kelompok kasus

Kasus Minggu n x±SD P* Pertama Kedua Ketiga Keempat 16 16 16 16 52,71 ± 4,81 55,00 ± 4,98 58,33 ± 5,48 64,23± 5,15 0,001 p*= Anova uji

700 750 800 850 900 950 Kasus Kontrol VEP1 awal (ml) VEP1 akhir (ml)

Gambar 4.1. Perubahan nilai VEP1

0 50 100 150 200 250 300 350 400 Kasus Kontrol 6MWT awal (m) 6MWT akhir (m)

0 10 20 30 40 50 60 Kasus Kontrol Gejala awal Gejala akhir

Gambar 4.3. Perubahan nilai gejala SGRQ (%)

0 10 20 30 40 50 60 Kasus Kontrol Aktifitas awal Aktifitas akhir

0 10 20 30 40 50 60 Kasus Kontrol Dampak awal Dampak akhir

0 10 20 30 40 50 60 Kasus Kontrol Total awal Total Akhir

Gambar 4.6. Perubahan nilai total SGRQ (%)

4.2. PEMBAHASAN PENELITIAN

Pada penelitian ini seluruh subyek penelitian berjumlah 32 orang, terdiri atas dua kelompok yaitu 16 orang kelompok yang mendapatkan perlakuan dan 16 orang kelompok kontrol. Keseluruhan subyek mengikuti penelitian sampai selesai. Pada kedua kelompok penelitian semuanya laki-laki. Sesuai dengan penelitian Amira dkk mendapatkan pasien PPOK keseluruhannya laki-laki (100%)17. Yunus dkk di RSUP Persahabatan mendapatkan laki-laki (86,2%) dibanding perempuan (13,6%). Penelitian Riyadi dkk mendapatkan pasien PPOK laki-laki (92,8%) dibanding perempuan (7,2%)14. Abidin dkk di RSUP Persahabatan keseluruhannya laki-laki (100%)14. Berdasarkan ini dapat digambarkan bahwa pasien PPOK lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Sebaran subyek menurut rerata umur antara kelompok

perlakuan 65,31 (SD 5,522) dan kelompok kontrol 63,12 (SD 8,148), hasil uji statistik menunujukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,381). Hal ini sesuai dengan penelitian Amira dkk mendapatkan rerata umur 67,4417. Wihastuti dkk mendapatkan rerata usia penderita PPOK adalah 65,4. Riyadi dkk mendapatkan rerata usia penderita PPOK 64,3, dan penelitian Abidin dkk yang mendapatkan rerata usia penderita PPOK 66,2 17.

Sebaran subyek penelitian berdasarkan derajat PPOK, hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok (p=0,570). Klasifikasi derajat sangat berat pada kelompok perlakuan (56,25%) merupakan peserta penelitian terbanyak, dan kelompok kontrol derajat berat (62,5 %) merupakan peserta penelitian terbanyak. Derajat PPOK yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan GOLD 2008. Sebaran subyek penelitian berdasarkan IMT antara 21,24 (SD 2,727) sedangkan pada kelompok kontrol 21,63 (SD 3,302), hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok (p=0,720). Rerata IMT pada kelompok perlakuan dan kontrol pada penelitian ini masih dalam batas normal.

Faal paru sebelum penelitian pada kelompok perlakuan dan kontrol tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Pada kelompok perlakuan setelah penelitian didapatkan peningkatan nilai VEP1 tetapi secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,108) sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan penurunan nilai VEP1 tetapi secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,208). Nilai VEP1 pada PPOK mengalami penurunan sekitar 50 ml/tahun.

Wijkstra dkk meneliti perubahan VEP1 penderita yang mendapat rehabilitasi di rumah selama 12 minggu mendapatkan perubahan nilai VEP1 yang tidak bermakna. Berry dkk mendapatkan perubahan nilai VEP1 yang tidak bermakna pada penderita yang mendapat latihan 12 minggu46. Alison B. Hewittmeneliti 36 penderita PPOK stabil derajat sedang yang dilakukan program rehabilitasi selama 6 minggu didapatkan hasil VEP1 yang tidak bermakna (p= 0,8) 50. Amira dkk melakukan penelitian fisioterapi dada pada 16 orang penderita PPOK selama 1 bulan didapatkan peningkatan VEP1 dan KVP yang tidak bermakna 17.

Kapasitas fungsional adalah kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penilaian obyektif kapasitas fungsional pada penelitian ini dilakukan dengan uji jalan 6 menit. Jarak uji jalan 6 menit sebelum perlakuan antara kelompok kasus dan kontrol tidak berbeda bermakna. Perubahan jarak jalan setelah penelitian pada kelompok kasus adalah -69 meter dan pada kelompok kontrol adalah 16 meter. Perbandingan jarak jalan kedua kelompok secara uji statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna (p=0,001). Bendstrup dkk. Mendapatkan hasil peningkatan jarak jalan 6 menit dari penderita yang mendapatkan program latihan 79,8 meter pada kelompok kasus dan 21,6 meter pada kelompok kontrol. Hal ini karena latihan akan meningkatkan anaerobic thresold dan konsumsi oksigen maksimal51. Finnerty dkk meneliti penderita yang mendapatkan program latihan 6 minggu didapatkan hasil kenaikan jarak jalan yang berbeda bermakna antara perlakuan dan kontrol. Finnerty menyimpulkan dengan latihan tersebut akan memperbaiki sesak nafas sehingga dapat meningkatkan toleransi latihan dan jarak jalan43. Wijkstra dkk meneliti penderita yang mendapatkan program latihan 12 minggu di rumah didapatkan hasil peningkatan yang bermakna antara perlakuan dan kontrol45. Juan Pablo de Torres dkk. Melakukan rehabiltasi paru pada penderita PPOK stabil derajat berat yang rawat jalan (VEP1< 40%) selama 6 minggu didapatkan 33 dari 37 orang ( 89%) perubahan yang bermakna dari 285 meter menjadi 343 meter (p=0,009)53. Latihan teratur, intensif dan jangka waktu tertentu pada pasien PPOK seperti pada penelitian ini dengan latihan jalan kaki dan fisioterapi dada akan terjadi perubahan biokimia jaringan, kardiorespirasi dan hormonal. Peningkatan konsentrasi mioglobin merupakan pigmen pengikat oksigen yang membantu difusi oksigen dari membran sel dan mitokondria. Mioglobin yang meningkat pada otot rangka berhubungan dengan perubahan otot tipe I yang dominan sebagai akibat latihan. Perubahan akibat latihan terjadi pada kardiorespirasi terutama sistem transport oksigen yaitu sistem sirkulasi, respirasi dan jaringan tubuh. Sistem ini bekerja secara terpadu sehingga menyebabkan perubahan ukuran jantung, penurunan denyut nadi, peningkatan isi sekuncup, peningkatan volume darah, kadar hemoglobin,peningkatan VO2 maks dan perubahan pola pernapasan54.

Kualitas hidup dinilai dengan kuesioner SGRQ yang terdiri atas gejala, aktiviti, dampak dan skor total dari masing-masing kelompok. Penelitian kualitas hidup meningkat apabila diperoleh penurunan nilai

SGRQ. Nilai SGRQ sebelum penelitian tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kasus dan kontrol. Perubahan rerata nilai SGRQ setelah penelitian didapatkan berbeda bermakna antara kelompok kasus dan kelompok kontrol. Pada kelompok kasus terjadi penurunan nilai gejala dari 49,55 (SD 8,20) menjadi 32,36 (8,26). Pada kelompok kontrol terjadi peningkatan nilai gejala dari 51,54 (SD 4,53) menjadi 54,46 (SD 5,53). Hasil uji statistik berbeda bermakna (p=0,001). Pada kelompok kasus terjadi penurunan nilai aktifitas dari 51,04 (SD 6,65) menjadi 34,96 (5,54). Pada kelompok kontrol terjadi peningkatan nilai aktifitas dari 50,49 (SD 3,14) menjadi 55,08 ( 5,09). Hasil uji statistik berbeda bermakna (p=0,001). Pada kelompok kasus terjadi penurunan nilai dampak dari 50,47 (SD 4,12) menjadi 37,31 (4,27). Pada kelompok kontrol terjadi peningkatan nilai dampak dari 51,60 (SD 3,45) menjadi 56,36 ( 4,35). Hasil uji statistik berbeda bermakna (p=0,001). Pada kelompok kasus terjadi penurunan nilai total dari 50,02 (SD 3,24) menjadi 35,36 (4,44). Pada kelompok kontrol terjadi peningkatan nilai total dari 51,60 (SD 3,45) menjadi 56,36 ( 4,35). Hasil uji statistik berbeda bermakna (p=0,001). Pada penelitian ini dapat disimpulkan terjadi penurunan bermakna rerata nilai SGRQ pada kelompok kasus selama 4 minggu baik gejala, aktiviti, dampak dan total, dan peningkatan bermakna nilai SGRQ pada kelompok kontrol selama 4 minggu baik gejala, aktiviti, dampak dan total. Hal ini berarti terjadi peningkatan kualitas hidup pada kelompok kasus, dan penurunan kualitas hidup pada kelompok kontrol, karena perubahan minimal yang bermakna adalah bila terjadi perubahan nilai SGRQ sebesar 4 % 55.

Abidin A dkk, meneliti 53 penderita PPOK yang mendapatkan program rehabilitasi 6 dan 12 minggu terdapat perubahan kualitas hidup yang bermakna antara kelompok kasus dan kontrol (p=0,001)14. Finerty dkk mendapatkan perubahan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kontrol setelah dilakukan rehabilitasi paru 6 minggu (p<0,001)43. Garrod. R dkk. Melakukan penelitian rehabilitasi paru pada 51 penderita PPOK stabil didapatkan 39 orang (77 %) terjadi perubahan bermakna pada uji jalan 6 menit (p=0,002) dan kualitas hidup yang dinilai dengan SGRQ (p=0.03)55. Berry menjelaskan bahwa rehabilitasi paru akan menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen maksimum dan kapasitas kerja maksimum sehingga dapat meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup56. Lacasse dkk.

Menyatakan bahwa secara metaanalisis rehabilitasi paru akan menurunkan sesak dan meningkatkan kemampuan penderita sehingga kapasitas fungsional dan kulitas hidup akan meningkat49.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

Telah dilakukan penelitian kombinasi tindakan fisioterapi dada 2 kali seminggu dan olahraga ringan dengan latihan jalan kaki 5 hari dalam seminggu yang lamanya ditingkatkan tiap minggu selama 4 minggu pada 16 orang penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik stabil dengan hasil:

1. Didapatkan peningkatan nilai VEP1 namun secara statistik tidak bermakna.

2. Didapatkan peningkatan kapasitas fungsional yaitu terdapatnya peningkatan bermakna jarak jalan pada uji jalan 6 menit sebesar 69 m dibandingkan kelompok kontrol

3. Didapatkan peningkatan yang bermakna kualitas hidup dengan adanya perbaikan nilai gejala, aktifitas, dampak dan total St. George’s Respiratory Questionnaire (SGRQ)

5.2. SARAN

1. Program olahraga ringan dan fisioterapi dada sebaiknya diberikan secara berkelanjutan pada penderita PPOK stabil.

2. Penilaian kualitas hidup dan uji jalan 6 menit selalu dipakai dalam penatalaksanan penderita PPOK stabil yang rawat jalan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Buist AS, Anzueto A, Calverley P. Global strategy for the diagnosis, management, and prevention of chronic obstructive pulmonary disease, Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease, Am J Respir Crit Med 2001;163;1256-1276

2. Siafakas NM. Management of chronic obstructive pulmonary disease. Eur Resp Society 2006;11:1-6.

3. Stockley R, Rennard S, Rabe K, Celli B. Chronic obstructive pulmonary disease. 1st edition . Massachusetts: Blackwell; 2007.1-35.

4. Goldstein RS, Gort EH, Stubbing D, Avendano MA, Guyatt GH: Randomised kontrolled trial of respiratory rehabilitation. Lancet 1994; 344:1394–97

5. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). Global strategy for the diagnosis, management, and prevention of chronic obstructive pulmonary disease; updated 2009

6. American Thorachis Society : Standars for diagnosis and care of patients with COPD. Am J Respir Crit Care Med 1995;152:578-83

7. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), pedoman praktis diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia 2004 :1-17

8. Frownfelter DL. Chest physical therapy and airway care in: Barnes TA ed. Textbook of respiratory care practice. 1st edition. MoSDy Yearbook inc. 1994:199–222.

9. Zadai CF. Rehabilitation of the patient with chronic obstructive pulmonary disease. In: Irwin S, Tecklin eds. Cardiopulmonary physical therapy. 2nd edition, CV MoSDy Co. 1990: 491–504

10. Decramer M, Gosselink R, Troosters T, Verschueren M, Evers G. Muscle weakness is related to utilization of health care resources in COPD patients. Eur Respir J 1997;10: 417–423.

11. Reid LM. Chronic obstructive pulmonary disease. In: Fisman PA, Elias AJ, Fishman AJ, Grippi AM, Senior MR, Pack IA eds, Manual of pulmonary disease and disorders, New York;2002;3.645-709

13. Celli BR. Pulmonary rehabilitation for COPD. Postgraduate medicine 1998;103:1 – 9

14. Abidin A, Yunus F. Manfaat rehabilitasi paru dalam meningkatkan atau mempertahankan kapasitas fungsional dan kualitas hidup pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik di RSUP Persahabatan. J Respir Indo 2009;29. 70-8

15. Fábio P, Thierry T, Vanessa S. P, Daniel L. Are patients with COPD more active after pulmonary rehabilitation ? Available from : http://www.chestjournal.org/content/134/2/273.full.html Accessed on Juli 2009

16. Patricia MC, Vaz AP, Effect of chest physiotherapy on pulmonary function and blood gases in COPD. Available from : http://www.ersnet.org/learningresourcesplayer/abstractprint/files/206.pdf Accessed on Agust 2009

17. Permatasari A. Efek pemberian inhalasi salbutamol secara nebulisasi sesaat sebelum fisioterapi dada terhadap faal paru penderita PPOK stabil [ujiis]. Medan: Program Pendidikan Dokter Spesialis I Penyakit Paru FK USU. 2003.

18. Yunus F. Rehabilitasi penyakit paru obstruktif kronik. J Respir Indo 2001;21:138-40

19. Engelen KJ, Schols WJ, Does JD, Wouters FM. Skeletal muscle weakness is associated with muscle wasting of extremity fat-free mass but not with airflow obstruction in patients with chronic obstructive pulmonary disease Am J Clin Nutr 2000;71:733–8.

20. Wise RA, Chronic pulmonary disease : Epidemiology, pathofisiology, pathogenesis, clinical course, management and rehabilitation In: Fisman PA, Elias AJ, Fishman AJ, Grippi AM, Senior MR, Pack IA eds, Manual of pulmonary disease and disorders, New York;2002,(3).118-41

21. Fishman AP. Pulmonary rehabilitation research. Am J Respir Crit Care Med. 1994;149: 825–833.

22. Moser KM, Bokinsky GE, Savage RT. Results of a comprehensive rehabilitation program. Physiologic and functional effects on patients with chronic obstructive pulmonary disease. Arch Intern Med. 1980;140:1596- 1601

23. Rennard IS, Barnes JP. Pathogenesis of COPD in asthma and COPD (Basic mechanisms and Clinical Management), Academic Press, London: 2002:361-74

24. West BJ . Obstructive diseases. In: West BJ ed. Pulmonary pathofisiology, the essential, 2nd edition. Philadelphia: Williams & Wilkins;1982.59-61

25. Man SFP. Sin DD . Skeletal muscle weakness, reduced exercise tolerance, and COPD: is systemic inflammation the missing link? Thorax 2006;61:13

26. Celli BR. Barnes PJ. Systemic manifestations and comorbidities of COPD. Eur Respir J 2009; 33: 1165–1185

27. Takabatake N, Nakamura H, Minamihaba O. A novel pathophysiologic phenomenon in cachexic patients with chronic obstructive pulmonary disease. Am J Respir Crit Care Med 2001; 163:1289-1290

28. Agusti AGN, Noguera A, Sauleda J, Sala E, Pons J, Busquets X. Systemic effect of chronic obstructive pulmonary disease. Eur Respir J 2003;21:347-60.

29. Decrame M. Ramirez GG. The physiology of muscle in: Chronic Obstructive Pulmonary Disease.

Dokumen terkait